• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketertarikan Lalat Buah terhadap Perangkap Beratraktan

Hasil percobaan di lapangan menunjukkan bahwa jumlah tangkapan lalat buah jantan pada perangkap yang diberi atraktan dengan berbagai perlakuan menunjukkan hasil yang berbeda nyata pada setiap perlakuannya. Perlakuan penambahan esens dalam metil eugenol terbukti mampu meningkatkan jumlah tangkapan lalat buah dibandingkan perlakuan tunggal atraktan metil eugenol atau esens (Tabel 1).

Tabel 1. Pengaruh Atraktan Metil Eugenol, Esens Buah Jambu dan Esens Buah Jambu + Metil Eugenol terhadap Jumlah Tangkapan Lalat Buah Jantan

Perlakuan Rata-Rata Ketertarikan Lalat Buah Jantan/5 bulan ± SD

Metil eugenol 0,2 ml 2610 ± 252,7 b

Esens jambu 0,4 ml 11 ± 1,1 a

Metil eugenol 0,2 ml + esens jambu 0,2 ml 3224 ± 332,9 c Metil eugenol 0,2 ml + esens jambu 0,4 ml 3389 ± 509,9 cd Metil eugenol 0,2 ml + esens jambu 0,6 ml 2925 ± 287,7 bc Metil eugenol 0,2 ml + esens jambu 0,8 ml 3786 ± 270,7 d

Keterangan: Angka rata-rata pada satu kolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf nyata 5%

Berdasarkan data pada Tabel 1, hasil percobaan di lapangan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pemberian esens dalam metil eugenol untuk menarik lalat buah jantan. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya notasi huruf yang berbeda di belakang angka pada setiap perlakuannya. Metil eugenol merupakan senyawa yang besifat atraktan sebagai penarik serangga terutama terhadap lalat buah (Kardinan, 2011). Meskipun begitu, berdasarkan data pada tabel, perlakuan tunggal penggunaan metil eugenol sebagai atraktan tidak menunjukkan hasil tangkapan tangkapan lalat buah jantan tertinggi. Perlakuan penambahan esens dengan berbagai konsentrasi dalam metil eugenol 0,2 ml menunjukkan hasil tangkapan berkisar antara 300-1000 ekor lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan penambahan metil eugenol

tunggal dan 300 kali lipat lebih tinggi dibandingkan penggunaan atraktan tunggal esens buah jambu. Sementara itu, perlakuan metil eugenol 0,2 ml + esens buah jambu 0,8 ml sebagai atraktan menunjukkan hasil tangkapan tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya.

Tingginya jumlah tangkapan pada perlakuan metil eugenol 0,2 ml + esens buah jambu 0,8 ml mengindikasi bahwa penggunaan kombinasi dua jenis atraktan, metil eugenol dan esens buah jambu memiliki sifat sinergis dalam menarik lalat buah jantan. Pengaruh sinergis dari metil eugenol dan esens mengakibatkan terjadinya peningkatan kemampuan pada kedua senyawa sebagai zat penarik (atraktan). Jumlah tangkapan lalat buah betina menunjukkan hasil yang sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah tangkapan lalat buah jantan (Tabel 2)

Tabel 2. Pengaruh Atraktan Metil Eugenol, Esens Buah Jambu dan Esens Buah Jambu + Metil Eugenol terhadap Jumlah Tangkapan Lalat Buah Betina Perlakuan Jumlah Ketertarikan Lalat Buah

Betina/5 bulan

Metil eugenol 0,2 ml 0

Esens jambu 0,4 ml 1

Metil eugenol 0,2 ml + esens jambu 0,2 ml 9 Metil eugenol 0,2 ml + esens jambu 0,4 ml 21 Metil eugenol 0,2 ml + esens jambu 0,6 ml 13 Metil eugenol 0,2 ml + esens jambu 0,8 ml 26

Penambahan esens buah terhadap metal eugenol memberikan respon yang baik. Hal tersebut ditunjukkan dengan setidaknya ada lalat buah betina yang

tertangkap pada setiap perlakuan yang menggunakan tambahan esens jambu.

Meskipun begitu, jumlah tangkapan lalat buah jantan dan betina menunjukkan

Prosiding Plant Protection Day II (2): 15-22 Penambahan Esens Jambu pada....

perbedaan yang sangat nyata dengan jumlah tangkapan lalat buah jantan lebih tinggi dibandingkan lalat buah betina.

Jumlah tangkapan lalat buah jantan yang sangat tinggi ini diduga karena adanya metil eugenol yang digunakan sebagai atraktan pada perangkap.

Pada perlakuan penggunaan metil eugenol tunggal sebagai atraktan tidak menunjukkan adanya ketertarikan lalat buah betina terhadap atraktan tersebut.

Ketidak tertarikan lalat buah betina terhadap atraktan metil eugenol karena metil eugenol merupakan senyawa yang hanya dibutuhkan oleh lalat buah jantan saja. Metil eugenol dibutuhkan lalat buah jantan untuk menarik lalat buah betina dan melakukan perkawinan. Senyawa metil eugenol yang dikonsumsi selanjutnya diproses dalam tubuh lalat buah jantan dan disimpan dalam bentuk feromon seks.

Rendahnya jumlah tangkapan lalat buah betina yang tertarik pada perangkap beratraktan esens buah jambu dan esens buah jambu + metil eugenol diduga disebabkan oleh penguapan yang terjadi di lapangan.

Berdasarkan karakteristik dari esens tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa rendahnya jumlah tangkapan lalat buah betina yang tertangkap pada percobaan ini, disebabkan oleh senyawa esens yang digunakan sebagai atraktan memiliki laju penguapan tinggi di lapangan. Penguapan inilah yang menyebabkan penurunan kemampuan esens dalam menarik lalat buah betina.

Pengaruh Ketersediaan Inang terhadap Jumlah Tangkapan Lalat Buah

Pola keberadaan tanaman inang bagi serangga ada dua, yaitu tanaman inang yang keberadaan buah berdasarkan musim dan tanaman inang yang keberadaan buahnya ada sepanjang tahun.

Kedua pola keberadaan tanaman inang tersebut juga akan memberikan pola yang berbeda terhadap fluktuasi populasi lalat buah (Susanto, 2010b). Ketersediaan inang akan berpengaruh terhadap kelimpahan populasi lalat buah (Peck &

McQuate, 2004).

Tabel 3. Hubungan Antara Jumlah Tangkapan Lalat Buah dengan Faktor Ketersediaan Inang Desember 2015-April 2016

Faktor Biotik Persamaan Regresi df R2 Koefisien

Korelasi P

Tabel 3 menjelaskan hasil analisis regresi linear sederhana, korelasi antara fluktuasi populasi lalat buah dengan faktor biotik yaitu ketersediaan buah. Hasil analisis menunjukan bahwa ketersediaan buah berpengaruh secara nyata dan memiliki hubungan yang positif terhadap jumlah tangkapan lalat buah. Dilihat dari angka signifikansi (P) < 0,05 maka hubungan antara ketersediaan buah dan jumlah tangkapan signifikan. Nilai koefisien korelasi sebesar 0,909 atau mendekati angka 1 menunjukkan adanya kolerasi yang sangat kuat. Nilai koefisien korelasi ini menunjukkan kekuatan hubungan antara ketersediaan buah dengan jumlah tangkapan lalat buah.

Hasil analisis regresi menunjukan bahwa ketersediaan buah memberikan

pengaruh secara nyata terhadap perkembangan lalat buah di lapangan, hal ini ditunjukan dengan persamaan analisis regresi linear sederhana (Y = 19,240x + 5381,288 ; R2= 0,825; P=0,033).

Persamaan menunjukan adanya hubungan positif antara populasi lalat buah dengan ketersediaan buah, artinya setiap peningkatan ketersediaan buah di lapangan akan selalu diikuti oleh kenaikan jumlah populasi juga.

Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa tingginya jumlah populasi lalat buah mencapai 20511 ekor.

Hal ini sesuai dengan ketersediaan buahnya, dimana buah sangat berlimpah di lapangan sehingga selaras dengan kenaikan jumlah populasi lalat buah tersebut.Pada saat ketersediaan buah

tanaman jambu sedang berlimpah maka memberikan peluang bagi lalat buah untuk tempat berkembangbiak, begitu pula sebaliknya apabila ketersediaan buah berkurang maka akan mengecilkan peluang lalat buah untuk berkembangbiak.

Hal ini selaras dengan penelitian Susanto (2010b) dimana ketersediaan buah mangga mempunyai korelasi yang positif dan signifikan dengan hasil tangkapan lalat buah jantan baik di Sumedang maupun Majalengka.

Gambar 1 Korelasi Ketersediaan Inang dengan Jumlah Tangkapan Lalat Buah

Hasil Identifkasi Lalat buah Tangkapan Identifikasi 100 sampel spesimen lalat buah jantan dan seluruh specimen lalat buah betina. Identifiksi yang dilakukan untuk membedakan jenis kelamin lalat buah, dapat dilakukan dengan cara melihat morfologi lalat buah yakni adanya ovipositor berbentuk runcing

yang terdapat pada bagian ujung abdomen lalat buah betina, sementara bagian ujung abdomen jantan berbentuk tumpul (Indriyanti dkk., 2014). Perbedaan antara lalat buah jantan dan betina dapat dilihat pada Gambar 2

(a) (b)

Gambar 2 Abdomen Lalat Buah Jantan (a) dan Abdomen Lalat Buah Betina (b) Identifikasi jenis lalat buah dapat

dilakukan dengan melihat corak yang terdapat pada abdomen lalat buah, mengukur panjang kelamin (aedeagus) lalat buah atau dengan melakukan

pengukuran pada sayap lalat buah. Adapun cara identifikasi yang digunakan dalam percobaan ini yakni dengan cara melihat corak pada abdomen lalat buah.

Ketersedian buah (kg)

Prosiding Plant Protection Day II (2): 15-22 Penambahan Esens Jambu pada....

(a) (b)

Gambar 3 Abdomen B. carambolae (a) dan Abdomen B. dorsalis (b)

Hasil identifikasi lalat buah pada pertanaman jambu menunjukan bahwa lalat buah pada pertanaman tersebut didominasi oleh spesies Bactrocera dorsalis yang merupakan sibling dari spesies Bactrocera dorsalis Kompleks. Hal ini ditunjukan oleh hasil pengamatan 100 spesimen sampel yang digunakan sebagai dasar penentuan spesies dominan dalam suatu pertanaman. Dari 100 spesimen lalat buah jantan yang diamati, 64%

diantaranya merupakan spesies Bactrocera dorsalis, sedangkan 36% merupakan spesies Bactrocera carambolae. Dari total keseluruhan lalat buah betina yang diamati, 60% diantaranya merupakan spesies Bactrocera dorsalis, sedangkan 40% merupakan spesies Bactrocera carambolae.

KESIMPULAN

Penambahan esens jambu pada metil eugenol berpengaruh terhadap jumlah tangkapan lalat buah jantan dengan perbedaan jumlah tangkapan berkisar antara 300-1000 ekor lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan penambahan metil eugenol tunggal. Akan tetapi, tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah tangkapan lalat buah betina.

Perlakuan dengan konsentrasi 0,2 ml metil eugenol + 0,4 esens jambu dan 0,2 ml metil eugenol + 0,8 esens jambu merupakan kombinasi atraktan yang tertinggi dalam menarik lalat buah jantan di lapangan, sedangkan perlakuan esens jambu tunggal dan pencampuran esens jambu tidak efektif dalam menarik lalat buah betina