Secara geografis Kabupaten Cianjur terletak di tengah Provinsi Jawa Barat, dengan jarak sekitar 65 km dari ibu kota Provinsi Jawa Barat (Bandung) dan 120 km dari ibu kota negara (Jakarta) dan terletak di antara 6º21’-7º25’ LS dan 106º42’-107º25’ BT. Kabupaten Cianjur yang luasnya 350.148 ha, terdiri dari 32 kecamatan, 354 desa dan 6 kelurahan yang mencakup 2.746 RW serta 10.384 RT. Jumlah penduduk Kabupaten Cianjur pada tahun 2011 adalah 2.740.779 jiwa terdiri dari 1.412.454 laki-laki dan 1.328.325 perempuan. Sebanyak 63.9% penduduk terkonsentrasi di wilayah utara dengan luas wilayah 30.8%, dan 19.1% mendiami berbagai kecamatan di wilayah tengah dengan luas wilayah 28.5% dan sisanya sebanyak 17.0% berada di berbagai kecamatan di wilayah selatan dengan luas wilayah 40.8% (ILLPD Kabupaten Cianjur 2011). Adapun batas-batas wilayah Kabupaten Cianjur adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Purwakarta
Sebelah Barat berbatasan denga wilayah Kabupaten Sukabumi Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia
Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut
Keadaan alam daerah Kabupaten Cianjur terletak di kaki Gunung Gede dengan ketinggian sekitar 7-2.962 m di atas permukaan laut. Secara geografis wilayah ini terbagi dalam 3 bagian, yaitu:
1. Cianjur bagian utara: merupakan dataran tinggi terletak di kaki Gunung Gede dengan ketinggian 2.962 m, sebagian besar ini merupakan daerah dataran tinggi pegunungan dan sebagian lagi merupakan dataran yang dipergunakan untuk areal perkebunan dan persawahan.
2. Cianjur bagian tengah: merupakan daerah yang berbukit-bukit kecil dikelilingi dengan keadaan struktur tanahnya labil sehingga sering terjadi tanah longsor, merupakan daerah gempa bumi, dataran lainnya terdiri dari areal perkebunan dan daerah persawahan.
3. Cianjur bagian selatan: merupakan dataran rendah akan tetapi terdapat banyak bukit-bukit kecil yang diselingi oleh pegunungan yang melebar sampai ke daerah pantai Samudera Indonesia, seperti halnya daerah Cianjur bagian tengah, bagian selatan pun tanahnya labil dan sering terjadi longsor
dan gempa bumi, disini terdapat pula areal untuk perkebunan dan persawahan tetapi tidak bagitu luas.
Kabupaten Cianjur secara geografis terbagi dalam 3 wilayah yaitu wilayah utara, tengah, dan selatan dengan jumlah kecamatan sebanyak 32 kecamatan dan 342 desa dan 6 kelurahan di kota Cianjur. Sebagai gambaran wilayah Kabupaten Cianjur dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6 Gambaran wilayah Kabupaten Cianjur
Wilayah Selatan Wilayah Tengah Wilayah Utara
Kecamatan Agrabinta, Kecamatan Leles, Kecamatan Sindang Barang, Kecamatan Cidaun, Kecamatan Naringgul, Kecamatan Cibinong, Kecamatan Cikadu Kecamatan Tanggeung, Kecamatan Pasir Kuda, Kecamatan Pegelaran, Kecamatan Kadupandak, Kecamatan Cijati, Kecamatan Takokak, Kecamatan Sukanegara, Kecamatan Campaka, Kecamatan Campaka Mulya
Kecamatan Cibeber, Kecamatan Bojongpicung, Kecamatan
Haurwangi, Kecamatan Ciranjang, Kecamatan Karang Tengah, Kecamatan Cianjur, Kecamatan Warung Kondang, Kecamatan Gekbrog, Kecamatan Cugenang, Kecamatan Pacet, Kecamatan Cipanas, Kecamatan Mande, Kecamatan Cikalongkulon, Kecamatan Sukaluyu, Kecamatan Sukaresmi
Karakteristik Sosial Ekonomi Rumah Tangga Contoh
Karakteristik sosial dan ekonomi rumah tangga contoh dilihat berdasarkan besar keluarga, tingkat pendidikan contoh dan suami, pekerjaan contoh dan suami, dan tingkat pendapatan keluarga.
Besar Keluarga
Besar keluarga akan mempengaruhi konsumsi rumah tangga. Menurut Suhardjo (1996) jumlah keluarga akan berpengaruh terhadap konsumsi keluarga tersebut, semakin banyak anggota keluarga, maka makanan untuk setiap orang berkurang. Adapun data sebaran besar/jumlah anggota keluarga dapat dilihat dalam tabel 7.
Tabel 7 Sebaran contoh berdasarkan besar keluarga
Besar keluarga n %
Kecil (≤4) 72 47.1
Sedang (5-6) 62 40.5
Besar (≥7) 19 12.4
Total 153 100
Tabel 7 menunjukkan bahwa besar keluarga contoh umumnya kategori kecil (≤4 orang), yaitu sebesar 47.1% dan, kategori sedang (5-6 orang) sebesar
40.5%, dan besar keluarga dengan kategori besar hanya 12.4%. Dengan demikian meskipun kategori keluarga di daerah Cianjur lebih banyak termasuk ke dalam keluarga kecil, hal ini bukan merupakan satu-satunya faktor yang membuat konsumsi keluarga contoh disana baik, ada faktor lain yang berpengaruh terhadap konsumsi pangan rumah tangga di wilayah tersebut. Adapun faktor lainnya adalah pendapatan. Semakin besar pendapatan maka konsumsi pangan rumah tangga itu akan semakin baik begitupun sebaliknya, semakin kecil pendapatan maka konsumsi pangan rumah tangga pun akan semakin berkurang.
Pendidikan dan Pekerjaan Contoh dan Suami
Seseorang yang berpendidikan tinggi cenderung memilih makanan yang murah tetapi kandungan gizinya tinggi, sesuai jenis pangan yang tersedia dan kebiasaan makan sejak kecil sehingga kebutuhan zat gizi dapat terpenuhi dengan baik. Oleh karena itu, tingkat pendidikan contoh akan berpengaruh terhadap pendapatan keluarga dan selanjutnya pendapatan keluarga akan mempengaruhi pola konsumsi keluarga. Dibawah ini merupakan data tingkat pendidikan contoh dan suami.
Tabel 8 Sebaran contoh dan suami berdasarkan tingkat pendidikan
Pendidikan Terakhir Contoh Suami
n % n % Tidak sekolah 5 3.3 2 1.3 Tidak tamat SD 42 27.5 41 26.8 SD 94 61.4 79 51.6 SLTP 6 3.9 11 7.2 SLTA 3 2.0 8 5.2 D3/PT 3 2.0 4 2.6 (n. a.) * 0 0.0 8 5.2 Total 153 100 153 100 Keterangan :
(n. a.) * not available (cerai/meninggal)
Tabel di atas menunjukan bahwa tingkat pendidikan contoh paling besar presentasinya berada pada sebaran sekolah dasar yaitu sebanyak 61.4% dan tidak tamat sekolah dasar yaitu 27.5%. Hal ini menunjukan bahwa pendidikan belum menjadi prioritas untuk contoh dan suami, terlihat dari presentasi tingkat pendidikan yang masih rendah. Sebagian besar pendidikan suami adalah rendah yaitu sebesar 51.6% tingkat pendidikannya adalah SD. Persentasi pendidikan suami contoh yang tidak tamat SD juga cukup banyak, yaitu 26.8% dan ada pula suami contoh yang sama sekali tidak merasakan pendidikan formal meskipun
persentasinya kecil yaitu 1.3%. Secara umum tingkat pendidikan contoh cenderung lebih rendah dibandingkan dengan tingkat pendidikan suami. Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak semakin besar yang nantinya akan mempengaruhi sosial ekonominya. Adapun sebaran pekerjaan suami contoh dapat dilihat pada tabel 9.
Tabel 9 Sebaran contoh dan suami berdasarkan jenis pekerjaan
Jenis Pekerjaan Contoh Suami
n % n % Petani 3 2.0 5 3.3 Nelayan 0 0.0 0 0.0 Pedagang 10 6.5 16 10.5 Buruh tani 24 15.7 68 44.4 Buruh nelayan 0 0.0 0 0.0 PNS/ABRI 3 2.0 5 3.3 Lainnya 0 0 51 33.3 IRT 113 73.9 0 0 (n. a.) * 0 0.0 8 5.2 Total 153 100.0 153 100.0 Keterangan :
(n. a.) * not available (cerai/meninggal)
Pekerjaan contoh akan menentukan pendapatan yang diterima, dengan semakin besarnya pendapatan contoh maka kehidupan ekonomi suatu rumah tangga itu pun akan semakin baik. Sebagian besar contoh bekerja sebagai ibu rumah tangga yaitu sebanyak 73.9% dan sebagian besar suami 44.4% bekerja sebagai buruh tani. Sebanyak 33.3% suami bekerja sebagai lainnya yaitu tukang ojeg, supir, ustad, bengkel, ketua RT, buruh pabrik, wiraswasta, mandor, guru honorer, pegawai desa, dan buruh bangunan. Pekerjaan suami contoh sebagian besar adalah buruh. Jenis pekerjaan ini merupakan implikasi dari pendidikan contoh dan suami yang masih rendah, dengan begitu maka kemungkinan pendapatan yang diterima suami contohpun terbatas sehingga akan berpengaruh pada konsumsi pangan keluarga.
Pendapatan Keluarga
Pendapatan keluarga adalah jumlah semua hasil perolehan yang didapat oleh anggota keluarga dalam bentuk uang sebagai hasil atau upah dari pekerjaannya yang dinyatakan dalam pendapatan perkapita. Pendapatan merupakan indikator kesejahteraan ekonomi rumah tangga. Garis kemiskinan propinsi Jawa Barat di daerah pedesaan yang ditetapkan oleh badan pusat statistik (BPS) Jabar 2012 yaitu Rp. 231.438/kap/bulan.
Tabel 10 Sebaran rumah tangga berdasarkan pendapatan keluarga Pendapatan keluarga n % Miskin (< 1GK) 112 73.2 Hampir miskin (1GK-2GK) 25 16.3 Menengah Atas (>2GK) 16 10.5 Total 153 100.0 Min-max (Rp) 10.000-1.933.333 Rataan±SD (Rp) 193.224 ± 252.660
Tabel di atas menunjukkan bahwa sebaran rumah tangga berdasarkan pendapatan keluarga/kapita/bulan. Pendapatan keluarga/kapita terletak pada rentang Rp 10.000,- sampai Rp 1.933.333,-. Sebagian besar contoh (73.2%) mempunyai pendapatan keluarga <1GK atau berada pada tingkat ekonomi miskin, sebesar 16.3% keluarga contoh tergolong hampir miskin, dan hanya 10.5% keluarga contoh dengan tingkat ekonomi menengah atas. Rata-rata pendapatan per kapita keluarga contoh berada di bawah garis kemiskinan yaitu Rp 193.224,- dengan standar deviasi yang cukup besar yaitu Rp 252.660,-. Selain menjadi indikator kesejahteraan ekonomi keluarga, pendapatan juga merupakan indikator yang menentukan kuantitas dan kualitas makanan yang dikonsumsi. Semakin tinggi pendapatan maka semakin besar peluang untuk memilih pangan yang baik.
Dibandingkan dengan tingkat pendidikan dan pekerjaan contoh dan suami maka pendapatan keluarga contoh sebagian besar adalah rendah. Ketika pendidikan contoh dan suami itu rendah maka sebagian besar jenis pekerjaan suami adalah buruh, sehingga pendapatan yang diperolehpun rendah. Pendapatan yang rendah tersebut akan berpengaruh terhadap konsumsi pangan yang belum mencukupi dan hal ini akan berpengaruh terhadap status gizi anggota rumah tangga khususnya status yodium rumah tangga.
Usia Contoh dan Suami
Contoh yang diambil dalam penelitian ini merupakan pengasuh siswa/siswi sekolah dasar yang duduk di kelas 4 atau kelas 5 di 6 sekolah dasar terpilih Kabupaten Cianjur. Jumlah contoh yang diambil sebanyak 153 orang ibu atau pengasuh. Usia contoh dan suami akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan dalam kehidupan rumah tangga, termasuk ke dalam keputusan dalam memilih jenis pangan atau makanan. Adapun sebaran usia contoh dan suami dapat dilihat pada tabel 11.
Tabel 11 Sebaran rumah tangga berdasarkan pendapatan keluarga
Usia Contoh Suami
n % n % Dewasa dini 109 71.2 73 47.7 Dewasa madya 43 28.1 68 44.4 Dewasa lanjut 1 0.7 4 2.6 (n. a.) * 0 0 8 5.2 Total 153 100 153 100 Keterangan :
(n. a.) * not available (cerai/meninggal)
Usia contoh dan suami sebagian besar berada pada kategori dewasa dini yaitu sebanyak 71.2% untuk contoh dan 47.7% untuk suami. Namun demikian untuk suami rentang usia pada kategori dewasa madya jumlahnya pun tergolong tinggi yaitu 44.4%. Contoh yang sebagian besar tergolong dalam usia dewasa dini, cenderung memiliki pengalaman berumah tangga yang masih terbatas. Dengan demikian pengalaman berumah tangga yang masih terbatas ini menyebabkan rata-rata pengetahuan, sikap, dan praktik gizi contoh masih tergolong rendah (Tabel 13, 15, dan 17).
Pengetahuan, Sikap dan Praktik Gizi Ibu Pengetahuan Gizi Ibu
Pengetahuan gizi menjadi landasan penting yang menentukan konsumsi pangan rumah tangga. Individu yang berpengetahuan gizi baik akan mempunyai kemampuan untuk menerapkan pengetahuan gizinya didalam pemilihan maupun pengolahan pangan sehingga konsumsi pangan yang mencukupi bisa lebih terjamin (Khomsan 2000). Adapun sebaran contoh yang menjawab benar pada tingkat pengetahuan gizi disajikan pada tabel 12.
Tabel 12 Sebaran contoh yang menjawab dengan benar pada tingkat pengetahuan gizi
No. Pernyataan pengetahuan gizi n %
1 Penyakit gondok disebabkan karena kurang makan telur 85 55.6
2 Ikan laut kaya akan gizi yodium 47 30.7
3 Kurang yodium dapat menyebabkan anak tidak cerdas 34 22.2
4 Garam krosok lebih baik daripada garam beryodium 78 51.0
5 Terlalu banyak makan kol (kubis) dapat menyebabkan gondok 88 57.5
6 Gondok adalah penyakit berbahaya sehingga harus di cegah dan diobati
12 7.8 7 Gangguan yang dapat ditimbulkan akibat kekurangan yodium adalah
cebol, kerdil, gondok, dan bodoh
39 25.5 8 Kekurangan yodium dapat dicegah dengan makan makanan yang
berasal dari laut dan mengonsumsi garam beryodium
33 21.6
9 Penyakit gondok hanya dapat terjadi pada anak-anak 78 51.0
10 Kita dianjurkan untuk mengonsumsi garam beryodium sebanyak 1 sendok teh per hari
54 35.3
dijawab benar oleh contoh yaitu meliputi pernyataan penyakit gondok bukan disebabkan karena kurang makan telur, garam krosok lebih baik daripada garam beryodium, terlalu banyak makan kol (kubis) dapat menyebabkan gondok dan penyakit gondok tidak hanya dapat terjadi pada anak-anak. Sebagian besar contoh lebih banyak mengetahui tentang gangguan akibat kurang yodium (GAKY) dibandingkan dengan garam beryodium itu sendiri. Hal ini dikarenakan contoh mendapatkan informasi GAKY lebih banyak dibandingkan dengan informasi tentang garam beryodium itu sendiri. Contoh mendapatkan informasi GAKY dan yodium dari beberapa media diantaranya adalah televisi dan posyandu. Ketika diketahui bahwa contoh kurang mengetahui akan yodium maka diharapkan ahli gizi dapat melakukan penyuluhan tentang yodium di Kabupaten Cianjur. Dari pertanyaan-pertanyaan maka dapat diketahui tingkat pengetahuan gizi contoh. Adapun tingkat pengetahuan gizi contoh adalah sebagai berikut.
Tabel 13 Sebaran contoh berdasarkan tingkat pengetahuan gizi
Pengetahuan Gizi n % Kurang 34 22.2 Sedang 76 49.7 Baik 43 28.1 Total 153 100.0 min-max 0-100 Rata-rata ± st dev 64.2±19.6
Dapat dilihat dari tabel di atas bahwa sebagian besar contoh memiliki pengetahuan gizi yang sedang yaitu sebanyak 49.7% dengan nilai minimum adalah 0 dan nilai maksimum adalah 100. Rata-rata pengetahuan gizi contoh berada pada kisaran 64.2 dengan standar deviasi sebesar 19.6. Banyaknya pengetahuan gizi contoh dalam kategori sedang disebabkan karena dari 10 pertanyaan yang diajukan ada 4 pertanyaan banyak dijawab benar oleh contoh. Namun disamping sebagian besar pengetahuan gizi contoh termasuk kedalam kategori sedang adapula contoh yang masih memiliki pengetahuan gizi yang kurang. Ketika banyak contoh yang pengetahuan gizinya kurang maka ini merupakan ancaman untuk terjadinya GAKY, menurut Suhardjo (1989) menyatakan penyebab lain gangguan gizi adalah kurangnya pengetahuan tentang gizi atau kurangnya kemampuan menerapkan informasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga pengetahuan gizi contoh tersebut masih harus terus ditingkatkan dengan upaya melakukan penyuluhan atau pendidikan gizi agar resiko untuk terjadinya GAKY menjadi sedikit.
Sikap Gizi Ibu
Menurut Prandji (1988) sikap belum merupakan suatu perbuatan (action), tetapi dari sikap seseorang dapat diramalkan perbuatannya. Dibawah ini disajikan data sebaran contoh yang menjawab dengan benar pada tingkat sikap gizi.
Tabel 14 Sebaran contoh yang menjawab dengan benar pada tingkat sikap gizi
No. Pernyataan sikap gizi n %
1 Penyakit gondok adalah penyakit karena kutukan 102 66.7
2 Sering mengonsumsi ikan laut adalah baik untuk mencegah gondok 106 69.3
3 Anak tidak cerdas tidak apa-apa yang penting sehat 57 37.3
4 Garam beriodium harus tersedia di dapur setiap hari 147 96.1
5 Makan sayuran penting agar sehat dan buang air besar (BAB) lancer
147 96.1
6 Sumber protein hewani (daging, telur, dan ikan) tidak perlu ada dalam menu makanan sehari-hari
74 48.4
7 Bila ada keluarga yang terkena gondok, harus segera dibawa ke dokter
146 95.4
8 Garam beryodium terasa kurang asin dibandingkan dengan garam krosok
38 24.8
9 Garam beryodium lebih mahal dibandingkan dengan garam krosok 118 77.1
10 Garam beryodium lebih banyak manfaatnya dibandingkan dengan garam krosok
139 90.8
Tabel di atas menunjukkan pernyataan tentang sikap gizi contoh cukup baik (dapat menjawab 6 dari 10 pertanyaan), 6 pernyataan tersebut meliputi penyakit gondok adalah penyakit karena kutukan, sering mengonsumsi ikan laut adalah baik untuk mencegah gondok , garam beriodium harus tersedia di dapur setiap hari, makan sayuran penting agar sehat dan buang air besar (BAB) lancar, bila ada keluarga yang terkena gondok, harus segera dibawa ke dokter, garam beryodium lebih mahal dibandingkan dengan garam krosok, garam beryodium lebih banyak manfaatnya dibandingkan dengan garam krosok. Secara umum sikap gizi contoh tersebut terlihat cukup baik namun sebenarnya jika di lihat dari hasil jawaban dari masing-masing contoh maka sebagian besar contoh masih terkategori memiliki sikap gizi yang negatif. Banyaknya sikap negatif tersebut disebabkan oleh banyaknya contoh yang menjawab ragu-ragu pada beberapa pertanyaan. Keraguan sikap contoh tersebut dikarenakan pengetahuan gizi contohpun masih belum baik, sehingga dapat dimengerti jika sikap gizi contoh pun negatif. Sikap negatif ini dapat menumbuhkan praktik yang negatif. Praktik negatif ini adalah menolak, menjauhi, meninggalkan, bahkan sampai hal-hal yang merusak. Adapun pada disajikan sebaran contoh berdasarkan tingkat sikap gizi untuk mengetahui banyaknya contoh yang memiliki sikap gizi negatif
adalah sebagai berikut.
Tabel 15 Sebaran contoh berdasarkan tingkat sikap gizi
Sikap Gizi n % Positif 67 43.8 Negatif 86 56.2 Total 153 100.0 min-max 40-100 Rata-rata ± st dev 72.2 ± 13.4
Sebaran sikap gizi ibu tersebut menunjukkan bahwa sikap gizi ibu yang negatif lebih banyak dibandingkan dengan sikap gizi ibu yang positif. Sebanyak 56.2% sikap gizi ibu adalah negatif dan 43.8% sikap gizi ibu adalah positif. Banyaknya contoh yang memiliki sikap negatif ini dikarenakan ada faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, media massa, institusi atau lembaga pendidikan dan lembaga agama, serta faktor emosi dalam diri individu. Faktor pengaruh yang lebih dominan pada contoh adalah pengalaman pribadi contoh yang menganggap garam beryodium terasa kurang asin dibandingkan dengan garam krosok. Hal inilah yang menyebabkan sikap gizi contoh masih negatif.
Praktik Gizi Ibu
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (cover behavior). Di antara sikap dan tindakan ada variabel antara yaitu praktik. Sebaran contoh yang menjawab dengan benar pada tingkat praktik dapat dilihat pada tabel 16.
Tabel 16 Sebaran contoh yang menjawab dengan benar pada tingkat praktik gizi
No. Pernyataan praktik n %
1 Sumber informasi mengenai garam beryodium 4 2.6
2 Jenis lauk-pauk yang sering dikonsumsi 146 95.4
3 Konsumsi ikan laut pada rumah tangga 13 8.5
4 Konsumsi kol pada rumah tangga 69 45.1
5 Konsumsi singkong pada rumah tangga 10 6.5
6 Setiap hari keluarga ibu mengonsumsi garam beryodium 118 77.1
7 Jumlah garam beryodium yang dihabiskan oleh rumah tangga dalam 1 bulan
86 56.2
8 Alasan ibu membeli garam beryodium 72 47.1
9 Tempat ibu membeli garam beryodium 153 100.0
10 Cara menggunakan garam beryodium saat memasak 46 30.1
11 Cara mengetahui bahwa yang dibeli adalah garam beryodium 71 46.4
12 Penanganan jika ada anggota keluarga atau tetangga yang terkena gondok
Tabel di atas menunjukkan bahwa dari 12 pernyataan, pernyataan yang dijawab benar ada 4 pernyataan. Jenis-jenis praktik gizi yang sering dilakukan oleh contoh adalah pemilihan jenis lauk-pauk yang sering dikonsumsi, konsumsi garam beryodium, jumlah garam beryodium yang dihabiskan oleh rumah tangga dalam 1 bulan, tempat membeli garam beryodium, penanganan jika ada anggota keluarga atau tetangga yang terkena gondok. Hasil tersebut menunjukkan praktik gizi contoh masih kurang terlihat dari banyaknya pertanyaan rata-rata yang mampu dijawab oleh contoh. Hal ini dapat terjadi dikarenakan ada factor yang mempengaruhinya. Faktor tersebut diantaranya adalah pengetahuan dan sikap gizi yang masih kurang, selain itu belum adanya tokoh masyarakat disana yang menjadi teladan, kurangnya sarana dan prasarana untuk distribusi akses pangan sumber yodium yang memadai. Adapun sebaran contoh berdasarkan praktik gizi dapat dilihat pada tabel 17.
Tabel 17 Sebaran contoh berdasarkan praktik gizi
Praktik Gizi n % Kurang 87 56.9 Sedang 65 42.5 Baik 1 0.7 Total 153 100.0 min-max 33.3-83.3 Rata-rata ± st dev 58.3±9.6
Terlihat dari data di atas bahwa hanya 0.7% ibu yang memiliki praktik gizi baik, sebanyak 56.9% ibu memiliki praktik gizi yang kurang dan sebanyak 42.5% ibu memiliki praktik gizi sedang. Banyaknya praktik gizi contoh yang masih kurang dapat disebabkan karena praktik yang dilakukan oleh contoh adalah masih berada dalam tahap praktik mekanis. Pengertian praktik mekanis ini adalah ketika seseorang mempraktikan sesuatu secara otomatis, contohnya adalah penanganan ketika ada keluarga atau tetangga yang terkena gondok.
Frekuensi Konsumsi Pangan Sumber Yodium
Defisiensi yodium dapat terjadi pada saat penerimaan yodium dibawah atau kurang dari 50 µg perhari. Masukan yodium pada manusia berasal dari makanan dan minuman yang berasal dari alam sekitarnya. Di Indonesia, sejak tahun 1780 telah ditemukan prevalensi gondok yang cukup tinggi terutama didataran pulau Jawa dan Sumatra (92.5%) serta daerah pegunungan lainnya. Hal ini disebabkan karena makanan yang dikonsumsi masyarakat tersebut sangat tergantung dari produksi makanan setempat yang tumbuh atau hidup
pada kondisi tanah dengan kadar yodium yang rendah (Brody 1999).
Perhitungan konsumsi yodium dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara kuantitatif dan secara kualitatif, pada penelitian ini digunakan penelitian secara kualitatif dengan metode food frequency (FFQ) untuk mengetahui pola konsumsi rumah tangganya. Adapun beberapa bahan pangan sumber yodium yang dilihat pola konsumsinya disajikan dalam tabel 18.
Tabel 18 Sebaran contoh berdasarkan frekuensi konsumsi pangan sumber yodium Pangan Sumber Yodium Frekuensi Sering (9-30x/bln) Jarang (1-8x/bln) Sangat jarang (<1x/bln) Tidak pernah (0x/bln) n % n % n % n % Hati Sapi 0 0.0 24 15.7 49 32.0 80 52.3 Ikan asin 105 68.6 35 22.9 0 0.0 13 8.5 Ikan Pindang 21 13.7 120 78.4 2 1.3 10 6.5 Ikan laut 4 2.6 64 41.8 30 19.6 55 35.9 Kerang 0 0.0 8 5.2 8 5.2 137 89.5 Udang 2 1.3 38 24.8 17 11.1 96 62.7 Telur 102 66.7 47 30.7 4 2.6 0 0.0 Susu 67 43.8 70 45.8 5 3.3 11 7.2 Agar-agar 1 0.7 7 4.6 5 3.3 140 91.5 Bayam 27 17.6 106 69.3 2 1.3 18 11.8
Tabel di atas menunjukkan bahwa hati sapi (52.3%) termasuk ke dalam jenis bahan pangan yang tidak pernah dikonsumsi oleh sebagian besar contoh sedangkan ikan asin (68.6%) termasuk ke dalam pangan yang sering dikonsumsi oleh contoh. Ikan pindang (78.4%) termasuk ke dalam jenis bahan pangan yang jarang dikonsumsi begitupun dengan konsumsi Ikan laut (41.8%). Kerang (89.5%) termasuk ke dalam jenis bahan pangan yang tidak pernah dikonsumsi oleh sebagian besar contoh begitu pula sama halnya dengan konsumsi udang (62.7%). Telur (66.7%) termasuk kedalam jenis bahan pangan yang sering dikonsumsi oleh contoh sedangkan susu (45.8%) termasuk pula kedalam jenis bahan pangan yang jarang dikonsumsi juga oleh contoh. Agar-agar (91.5%) termasuk ke dalam jenis bahan pangan yang tidak pernah dikonsumsi oleh sebagian besar contoh. Bayam (69.3%) termasuk ke dalam jenis bahan pangan yang jarang dikonsumsi oleh contoh.
Adapun beberapa jenis bahan pangan yang persentasinya besar untuk bahan pangan yang tidak pernah dikonsumsi seperti hati sapi. kerang. udang. dan agar-agar. Djokomoeljanto (1993) dan Astawan (2003) mengatakan bahwa
seafood merupakan pangan sumber yodium alamiah yang cukup tinggi. Hal ini disebabkan karena yodium dalam tanah dapat terbawa pada saat banjir menuju sungai dan pada akhirnya ke laut. sehingga bahan pangan seperti rumput laut; berbagai jenis ikan laut; kepiting; udang dan sampai pada tanaman lain yang kebetulan tumbuh dan hidup pada daerah sekitar pantai termasuk sumber air minum yang dimiliki mempunyai kandungan yodium yang tinggi (Picauly 2004). Namun terlihat bahwa pangan yang merupakan sumber yodium tersebut pada daerah penelitian konsumsinya sangat sedikit, hal ini dikarenakan lokasi tempat penelitian berada di pegunungan sedangkan pangan-pangan tersebut diperoleh dari laut, disini dapat dilihat faktor distribusi dan lokasi yang menentukan.
Konsumsi Garam
Garam beryodium adalah garam natrium klorida (NaCl) yang diproduksi melalui proses iodisasi yang memenuhi standar nasional indonesia (SNI) dan mengandung yodium antara 30-80 ppm untuk konsumsi manusia atau ternak. pengasinan ikan dan bahan penolong industri kecuali pemboran minyak, chlor alkali plan (CAP) dan industri kertas pulp. Depkes (2000) menyebutkan bahwa SNI garam konsumsi diterapkan secara wajib terhadap produsen dan distributor