• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian

Dalam dokumen prosiding seminar nasional fkip unmus irim0 (Halaman 54-62)

BELAJAR KALKULUS Markus Palobo

3. Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Jurusan Pendidikan Matematika Universitas Musamus Merauke pada tanggal 22 Januari 2016 sampai 23 Februari 2016. Penelitian ini terdiri atas dua kelompok mahasiswa yaitu kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2. Kelompok eksperimen 1 adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika semester II yang belajar dengan model problem posing, sedangkan kelompok eksperimen 2 adalah

mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika semester II menggunakan model problem solving.

Perkuliahan di kelas problem posing dilaksanakan setiap hari senin dan kamis, sedangkan perkuliahan pada kelas problem solving dilaksanakan setiap hari selasa dan jumat. Sebelumnya dilakukan uji coba instrumen penelitian yang dilaksanakan pada mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika semester III Universitas Musamus Merauke pada tanggal 20 januari 2016.

Penelitian dirancang dalam 8 kali pertemuan untuk masing-masing kelas eksperimen dengan pembagian 1 pertemuan untuk pretest yang dilaksanakan selama dua hari, 6 pertemuan untuk pembelajaran, dan 1 pertemuan untuk posttest yang dilaksanakan selama dua hari. Pretest dilaksanakan pada awal pertemuan untuk kedua kelas eksperimen. Kegiatan pretest bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal mahasiswa sebelum diberikan perlakuan. Hasil analisis data diperoleh bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan berpikir kreatif dan prestasi belajar dari kedua kelas eksperimen. Perkuliahan kemudian dilaksanakan sesuai dengan silabus dan Satuan Acara Perkuliahan (SAP) yang telah disusun yakni sebanyak 6 pertemuan pembelajaran materi Kalkukus II yang terdiri atas 2 kompetensi dasar.

Data hasil tes kemampuan berpikir kreatif dikonversi ke dalam kategori sangat kreatif, kreatif, cukup kreatif, kurang kreatif, dan tidak kreatif. Berdasarkan hasil konversi dapat dikelompokkan proporsi mahasiswa yang tuntas dan yang tidak tuntas. Hal tersebut didasarkan pada capaian mahasiswa pada kategori minimal cukup kreatif. Distribusi frekuensi dan persentase kemampuan berpikir kreatif sebelum dan sesudah perlakuan disajikan pada Tabel 1 berikut.

Tabel 1. Distribusi Frekuensi dan Persentase Kemampuan Berpikir Kreatif pada Kelas Problem Posing dan Kelas Problem Solving

Kategori

Kelas Problem Posing Kelas Problem Solving

Pretest Posttest Pretest Posttest

% % % % Sangat Kreatif 2 11,11 3 15,79 Kreatif 3 16,67 6 31,58 Cukup 5 27,78 3 15,79 Kurang Kreatif 4 22,22 5 26,32 Tidak Kreatif 100 4 22,22 100 100 2 10,53 Dari Tabel 1 diketahui sebelum perlakuan

kategori kemampuan berpikir kreatif pada kelas

problem posing dan kelas problem solving

semuanya berada pada kategori tidak kreatif. Setelah mahasiswa diberi perlakuan diperoleh kemampuan berpikir kreatif mengalami peningkatan, mahasiswa yang berada pada ketegori tidak kreatif berkurang yakni kelas problem posing

tersisa 22,22% dan pada kelas problem solving

tersisa 10,53%. Jumlah mahasiswa yang memiliki kemampuan berpikir kreatif pada kategori sangat kreatif untuk kelas problem posing 2 orang, sedangkan untuk kelas problem solving 3 orang.

Pada kategori kreatif kelas problem solving lebih baik yakni 31,58% dibandingkan dengan dari kelas

problem posing yang hanya 16,67%. Jumlah mahasiswa yang berada pada kategori sedang lebih banyak pada kelas problem posing yaitu 5 orang dibandingkan kelas problem solving sebanyak 3 orang. Terakhir untuk kategori kurang kreatif, perbedaan kedua kelas tidaklah begitu besar, pada kelas problem posing sebanyak 22,22% dan kelas

problem solving sebanyak26,32%.

Data kemampuan berpikir kreatif disajikan juga berdasarkan rata-rata, skor maksimal, dan skor minimal pada Tabel 2.

Tabel 2. Rata-rata, Skor Minimal, Skor Maksimal dan Kriteria Kemampuan Berpikir Kreatif Sebelum dan Sesudah perlakuan

Deskripsi Kelas Problem Posing Kelas Problem Solving

Pretest Posttest Pretest Posttest

Jumlah Responden 18 18 19 19

Rata-rata 6,94 64,72 7,63 69,47

Standar Deviasi 5,46 11,691 6,09 12

Skor Minimal Ideal 0 0 0 0

Skor Maksimal Ideal 100 100 100 100

Skor Minimal yang dicapai 0 45 0 50

Skor Maksimal yang dicapai 20 85 20 85

Kriteria Tidak kreatif Cukup kreatif Tidak kreatif Cukup kreatif

Dari Tabel 2 diketahui sebelum perlakuan rata-rata kemampuan berpikir kreatif mahasiswa untuk kelas

problem posing sebesar 6,94 termasuk kategori tidak kreatif, meningkat menjadi 64,72 setelah perlakuan yang temasuk kategori cukup kreatif. Skor terendah yang diperoleh mahasiswa sebelum perlakuan sebesar 0 dan skor tertinggi sebesar 20. Setelah perlakuan skor terendah mahasiswa menjadi 45 sedangkan skor tertinggi 85. Nilai rata- rata mahasiswa yang diajar dengan model problem solving sebelum perlakuan 7,63 mengalami perubahan setelah perlakuan menjadi 69,47. Skor

terendah mahasiswa kelas problem solving sebelum perlakuan 0 dan skor tertingginya 20. Setelah diberikan pembelajaran Kalkulus dengan model

problem solving diperoleh nilai terendah mahasiswa sebesar 50 dan nilai tertinggi sebesar 85.

Data hasil tes kemampuan berpikir kreatif sebelum dan sesudah perlakuan juga disajikan berdasarkan aspek-aspek kemampuan berpikir kreatif pada Tabel 3.

Tabel 3. Nilai Rata-Rata dan Skor Maksimum Ideal Sebelum dan Sesudah Perlakuan pada Kelas Problem Posing dan Kelas Problem Solving ditinjau dari Aspek-aspek Kemampuan Berpikir Kreatif Aspek Kemampuan Berpikir Kreatif Skor Maksimum Ideal

Rata-rata Kelas Problem Posing

Rata-rata Kelas Problem Solving

Pretest Posttest Pretest Posttest

Fluency 20 1,94 16,1 1,55 16,85

Flexibility 60 5 43,61 6,05 46,05

Novelty 20 0 5 0 6,03

Total 100 6,94 64,72 7,63 69,47

Pada Tabel 3 diperoleh informasi bahwa sebelum perlakuan aspek flexibility menjadi aspek penunjang nilai untuk kemampuan berpikir kreatif pada kedua kelas yakni masing-masing dengan rata-rata 5 dan 6,05. Aspek fluency kelas problem posing lebih tinggi yakni 1,95 dibandingkan dengan kelas problem solving yakni 1,55 serta kedua kelas tidak memiliki aspek novelty. Setelah perlakuan terjadi peningkatan rata-rata pada kedua kelas untuk semua aspek kemampuan berpikir kreatif. Pada aspek fluency diperoleh kelas problem posing

sebesar 16,1 dan kelas problem solving sebesar 16,85. Kelas problem solving masih lebih baik dibandingkan kelas problem posing untuk aspek

flexibility yakni 46,05 lebih tinggi dari 43,61. Sedangkan untuk aspek novelty kedua kelas tidak berbeda signifikan, kelas problem posing dengan

rata-rata 5 dan kelas problem solving memiliki rata- rata 6,03. Secara keseluruhan diperoleh bahwa kelas rata-rata kelas problem solving lebih tinggi dibandingkan kelas problem posing ditinjau dari semua aspek kemampuan berpikir kreatif

Data tes prestasi belajar Kalkulus II yang belajar dengan menerapkan model problem posing

dan problem solving dikonversi kedalam kategori sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah atau tidak lulus. Berdasarkan hasil konversi dapat dikelompokkan proporsi mahasiswa yang tuntas dan yang tidak tuntas. Hal tersebut didasarkan pada capaian mahasiswa pada kategori minimal sedang. Distribusi frekuensi dan persentase prestasi belajar mahasiswa sebelum dan sesudah perlakuan disajikan pada Tabel 4 berikut. Tabel 4. Distribusi Frekuensi dan Persentase Prestasi Belajar pada Kelas Problem Posing dan Kelas

Problem Solving Kategori

Kelas Problem Posing Kelas Problem Solving

Pretest Posttest Pretest Posttest

% % % % Sangat Tinggi 0 0 3 16,67 0 0 2 10,53 Tinggi 0 0 0 0,00 0 0 7 36,84 Sedang 0 0 10 55,56 0 0 4 21,05 Rendah 0 0 3 16,67 0 0 4 21,05 Tidak Lulus 18 100 2 11,11 100 100 2 10,53 Pada Tabel 4 diperoleh informasi data

kategori prestasi belajar sebelum perlakuan baik kelas problem posing maupun kelas problem solving semuanya tidak lulus karena 100% mahasiswa berada pada kategori sangat rendah. Setelah mahasiswa diberi perlakuan diperoleh prestasi belajar mengalami peningkatan, mahasiswa yang berada pada ketegori tidak lulus berkurang yakni kelas problem posing tersisa 11,11% dan pada kelas problem solving tersisa 10,53%. Jumlah mahasiswa yang memiliki prestasi belajar pada kategori sangat tinggi untuk kelas problem posing 3 orang, sedangkan untuk kelas problem solving 2 orang. Pada kategori tinggi kelas problem solving

lebih baik yakni 36,84% dibandingkan dengan dari

kelas problem posing yang tidak memiliki mahasiswa pada kategori tersebut. Jumlah mahasiswa yang berada pada kategori sedang lebih banyak pada kelas problem posing yaitu 10 orang dibandingkan kelas problem solving sebanyak 4 orang. Mahasiswa untuk kategori rendah kelas

problem solving masih cukup banyak yakni 21,5% dibandingkan kelas problem posing yang tersisa 16,67%.

Data prestasi belajar mahasiswa pada kelas

problem posing dan kelas problem solving disajikan berdasarkan ketuntasan prestasi belajar mahasiswa sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu minimal kategori sedang.

Data prestasi belajar disajikan juga berdasarkan rata-rata, skor maksimal, dan skor

minimal pada Tabel 5.

Tabel 5. Rata-rata, Skor Minimal, Skor Maksimal dan Kriteria Prestasi Belajar Sebelum dan Sesudah Perlakuan

Deskripsi Kelas Problem Posing Kelas Problem Solving

Pretest Posttest Pretest Posttest

Jumlah Responden 18 18 19 19

Rata-rata 22,22 65,92 23,5 68,59

Standar Deviasi 6,67 11,74 7,3 11,77

Skor Minimal Ideal 0 0 0 0

Skor Maksimal Ideal 100 100 100 100

Skor Minimal yang dicapai 10 46,67 10 46,67 Skor Maksimal yang dicapai 33,3 86,67 36,67 86,67 Kriteria Tidak lulus Sedang Tidak lulus Sedang

Pada Tabel 5 diperoleh data rata-rata prestasi belajar sebelum perlakuan kelas problem posing sebesar 22,22 termasuk kategori tidak lulus, meningkat menjadi 65,92 setelah perlakuan yang temasuk kategori sedang. Skor terendah yang diperoleh mahasiswa sebelum perlakuan sebesar 10 dan skor tertinggi sebesar 33,3. Setelah perlakuan skor terendah mahasiswa menjadi 46,67 sedangkan skor tertinggi 86,67. Pada mahasiswa yang menggunakan model problem solving nilai rata-rata prestasi belajar sebelum perlakuan 23,5 meningkat setelah perlakuan menjadi 68,59. Skor terendah mahasiswa sebelum perlakuan 10 dan skor tertingginya 36,67. Setelah diberikan pembelajaran Kalkulus dengan model problem solving diperoleh nilai terendah mahasiswa sebesar 46,67 dan nilai tertinggi sebesar 86,67. Secara terjadi peningkatan rata-rata pada kedua kelas setelah perlakuan, yang menunjukkan bahwa kedua model dapat memberikan konstribusi positif terhadap prestasi belajar mahasiswa.

Uji normalitas multivariat dilakukan dengan uji Mahanolobis terhadap data sebelum dan sesudah perlakuan pada kedua kelas perlakuan. Hasil uji normalitas multivariat dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Hasil Uji Normalitas Multivariat

B erdas arka n Tabe l 6, untuk data sebelum dan setelah perlakuan , pada kelas problem posing diperoleh persentase nilai yang lebih kecil dari yaitu 2,365 adalah berturut-turut 44,46% dan 44,46%. Hal ini mengindikasikan bahwa data sebelum dan setelah

perlakuan untuk kelas problem posing memenuhi asumsi distribusi normal multivariate. Persentase data sebelum dan setelah perlakuan pada kelas

problem solving diperoleh persentase nilai yang lebih kecil dari adalah berturut-turut 42,10% dan 36,84%. Hal ini mengindikasikan bahwa data sebelum dan setelah perlakuan untuk kelas problem solving tidak memenuhi asumsi distribusi normal multivariat. Meskipun demikian menurut Stevens data hasil penelitian dapat diasumsikan berdistribusi normal karena jumlah sampelnya banyak, sehingga pengujian statistik tetap menggunakan uji statistik parametik yakni uji MANOVA [15].

Uji Normalitas Univariat Sebelum Perlakuan

Uji normalitas univariat dilakukan dengan uji Kolmogorov-Smirnov Z dengan menggunakan bantuan SPSS 20.0 for windows.

Secara rinci hasil perhitungan normalitas multivariat sebelum perlakuan dapat dilihat pada Tabel 7 berikut ini.

Tabel 7. Hasil Uji Normalitas Univariat Sebelum Perlakuan Kelas Kolmogorov-Smirnov Z Kemampuan Berpikir Kreatif Prestasi Belajar Problem Posing 0,826 0,516 Problem Solving 1,072 0,616 Berdasarkan Tabel 7 tersebut, nilai signifikansi data sebelum perlakuan pada variabel kemampuan berpikir kreatif dan prestasi belajar untuk kelas problem posing dan kelas problem solving lebih besar dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa data sebelum perlakuan berasal dari populasi Kelas Sebelum Perlakuan Setelah Perlakuan Problem Posing 44,46% 44,46% Problem Solving 42,10% 36,84%

berdistribusi normal, sehingga asumsi normalitas univariat terpenuhi.

Uji Normalitas Univariat Setelah Perlakuan Secara rinci hasil perhitungan uji normalitas univariat dengan uji Kolmogorov- Smirnov Z menggunakan bantuan SPSS 20.0 for windows pada data setelah perlakuan dapat dilihat pada Tabel 8 berikut ini.

Tabel 8. Hasil Uji Normalitas Univariat Setelah Perlakuan Kelas Kolmogorov-Smirnov Z Kemampuan Berpikir Kreatif Prestasi Belajar Problem Posing 0,667 0,922 Problem Solving 0,683 0,566 Pada Tabel 8 diperoleh nilai signifikansi data setelah perlakuan pada ketiga variabel penelitian untuk kelas problem posing dan kelas

problem solving lebih besar dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa data setelah perlakuan bersasal dari populasi berdistribusi normal, sehingga asumsi normalitas univariat terpenuh

Uji homogenitas multivariat matriks kovarians terhadap data sebelum dan sesudah perlakuan menggunakan uji Box’s M dengan bantuan program SPSS 20.0 for windows. Hasil uji homogenitas multivariat data sebelum dan sesudah perlakuan disajikan pada Tabel 9 berikut.

Tabel 9. Hasil Uji Homogenitas Multivariat Sebelum Perlakuan Setelah Perlakuan M Box’s 3,622 13,477 F 0,574 2,036 Sig 0,773 0,57

Dari Tabel 9 diketahui bahwa data sebelum perlakuan memiliki nilai F tes adalah 0,547 dengan nilai signifikan Box’s M diperoleh 0,773 lebih besar dari 0,05. Sedangkan untuk data setelah perlakuan memiliki nilai F-test adalah 2,036 dengan nilai signifikan Box’s M diperoleh 0,57 lebih besar dari 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa varians kovarians populasi untuk data sebelum dan setelah perlakuan adalah sama, sehingga asumsi homogenitas varians kovarians terpenuhi.

Uji Homogenitas Univariat Sebelum Perlakuan Uji homogenitas univariat data sebelum perlakuan menggunakan uji levene dengan bantuan

program SPSS 20.0 for windows disajikan pada Tabel 10 berikut.

Tabel 10. Hasil Uji Homogenitas Univariat Sebelum Perlakuan Variabel F Df1 Df2 Sig. Kemampuan Berpikir Kreatif 0,589 1 35 0,448 Prestasi Belajar 0,016 1 35 0,901 Berdasarkan Tabel 10 diketahui bahwa nilai signifikan uji Lavene lebih besar dari 0,05. Hal ini mengindikasikan bahwa asumsi homogenitas univariat terpenuhi untuk semua data sebelum perlakuan.

Uji Homogenitas Univariat Setelah Perlakuan Uji homogenitas univariat data setelah perlakuan menggunakan uji levene secara detail disajikan pada Tabel 11 berikut.

Tabel 11. Hasil Uji Homogenitas Univariat Setelah Perlakuan Variabel F Df1 Df2 Sig. Kemampuan Berpikir Kreatif 0,343 1 35 0,562 Prestasi Belajar 0,468 1 35 0,498 Hasil pengujian diperoleh bahwa nilai signifikan uji Lavene lebih besar dari 0,05. Hal ini mengindikasikan bahwa asumsi homogenitas univariat terpenuhi untuk semua data setelah perlakuan.

Uji multivariat atau uji MANOVA untuk menguji hipotesis ke dua yakni menentukan ada tidaknya perbedaan keefektifan model problem posing dan problem solving ditinjau dari ketiga variabel yang diteliti yakni kemampuan berpikir kreatif, dan prestasi belajar. Data yang diuji adalah data sebelum perlakuan dan setelah perlakuan. Sebelum Perlakuan

Uji perbedaan rata-rata kemampuan berpikir kreatif dan prestasi belajar mahasiswa sebelum perlakuan dilakukan untuk menentukan jenis uji yang akan digunakan untuk uji perbedaan keefektifan kedua model. Jika tidak ada perbedaan rata-rata kemampuan awal mahasiswa maka uji perbedaan keefektifan menggunakan rata-rata data setelah perlakuan.

Uji beda rata-rata kemampuan awal mahasiswa menggunakan uji MANOVA dengan bantuan program SPSS 20 for windows. Hipotesis Statistik uji perbedaan sebagai berikut:

Secara rinci hasil uji beda rata-rata kemampuan awal mahasiswa dalam penelitian ini disajikan dalam Tabel 12 berikut.

Tabel 12. Hasil Uji MANOVA Sebelum Perlakuan

Data Sebelum Perlakuan

F Sig.

Hotelling’s Trace 0,206 0,892 Dari Tabel 12 diperoleh informasi bahwa nilai signifikansi F sebelum perlakuan sebesar 0,892 lebih besar dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa diterima atau dengan kata lain tidak ada perbedaan keefektifan model problem posing dan

problem solving ditinjau dari kemampuan berpikir kreatif dan prestasi belajar sebelum perlakuan. Setelah Perlakuan

Uji beda rata-rata setelah perlakuan menggunakan uji MANOVA dengan bantuan program SPSS 20 for windows. Hipotesis Statistik uji perbedaan sebagai berikut:

Hasil uji beda rata-rata setelah perlakuan dalam penelitian ini disajikan dalam Tabel 13 berikut.

Tabel 13. Hasil Uji MANOVA Setelah Perlakuan

Data Sebelum Perlakuan

F Sig. Hotelling's Trace 8,156 0,000

Pada Tabel 13 diperoleh informasi bahwa nilai signifikan F setelah perlakuan 0,00 lebih kecil dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa ditolak atau dengan kata lain terdapat perbedaan keefektifan model problem posing dan problem solving ditinjau dari, kemampuan berpikir kreatif dan prestasi belajar.

Uji Perbandingann Keefektifan Model Problem Posing dan Problem Solving

Pengujian ini untuk menentukan model pembelajaran mana yang lebih efektif ditinjau dari kemampuan berpikir kreatif, dan prestasi belajar. Uji Univariat dilakukan terhadap data-data yang diperoleh setelah perlakuan. Uji yang digunakan adalah uji t univariat yakni uji independent sample

t-test dengan bantuan program SPSS 20 for windows.

1) Perbandingan keefektifan model problem posing dan problem solving ditinjau dari kemampuan berpikir kreatif.

Hipotesis yang dirumuskan sebagai berikut:

Secara rinci hasil uji independent sample t-test dapat dilihat pada Tabel 14 berikut ini.

Tabel 14. Hasil Uji Independent Sample t-test Kemampuan Berpikir Kreatif

Variabel Beda Rata- rata Sig. (2- tailed) Kemampuan Berpikir Kreatif 1,126 4,488 0,068 Pada Tabel 14 diperoleh informasi bahwa t hitung sebesar 1,126 dengan nilai signifikan setelah dibagi dua yaitu 0,034 lebih kecil dari 0,0166 berarti ditolak. Hal ini berarti bahwa pada taraf signifikan 5% model

problem solving lebih efektif dibandingkan dengan model problem posing ditinjau dari kemampuan berpikir kreatif.

2) Perbandingan keefektifan model problem posing dan problem solving ditinjau dari prestasi belajar.

Hipotesis yang dirumuskan sebagai berikut:

Deskripsi hasil uji independent sample t- test dapat diperhatikan pada Tabel 15 berikut. Tabel 15. Hasil Uji Independent Sample t-test Prestasi Belajar Variabel Beda Rata- rata Sig. (2- tailed) Prestasi Belajar -0,69 -2,66 0,495 Dari Tabel 15 diperoleh bahwa t hitung sebesar - 0,69 dengan nilai signifikan setelah dibagi dua yaitu 0,2975 lebih besar dari 0,0166 berarti diterima. Hal ini berarti bahwa pada taraf signifikan 5% model problem posing tidak lebih efektif dibandingkan dengan model problem solving

ditinjau dari prestasi belajar. PEMBAHASAN

Perbandingan Keefektifan Model Problem Posing dan Model Problem Solving Ditinjau dari Kemapuan Berpikir Kreatif

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa model problem solving lebih efektif dibandingkan model problem posing ditinjau dari kemampuan berpikir kreatif. Dapat dilihat secara deskriptif bahwa rata-rata kemampuan berpikir kreatif pada kelas problem solving justru lebih tinggi dibandingkan kelas problem posing. Mahasiswa pada kelas problem solving dilatih kemampuan berpikir kreatifnya dengan menyelesaikan masalah- masalah yang disajikan dalam LKM dengan berbagai metode. Pada kelas problem posing juga dilakukan kegiatan yang mendorong perkembangan kreativitas mahasiswa dengan latihan menyusun soal kemudian menyelesaikannya. Peningkatan lebih tinggi terjadi pada kelas problem solving, dibandingkan pada kelas problem posing

Perbandingan Keefektifan Model Problem Posing dan Model Problem Solving Ditinjau dari Prestasi belajar

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model problem posing tidak lebih efektif dibandingkan model problem solving ditinjau dari prestasi belajar Kalkulus II. Kedua kelas memiliki rata-rata prestasi belajar yang berbeda namun tidak signifikan. Pada kelas problem solving diperoleh rata-rata sebesar 68,59 yang justru lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata kelas problem posing yaitu 65,92. Langkah-langkah pembelajaran pada kedua kelas terbukti berhasil meningkatkan prestasi belajar mahasiswa pada mata kuliah Kalkulus II. Hal ini dapat dilihat pada peningkatan proporsi ketuntasan mahasiswa pada prestasi belajar sesuai dengan KKM yang ditetapkan. Secara deskriptif dapat dilihat bahwa jumlah mahasiswa yang tuntas pada model problem posing

lebih banyak dibandingkan pada kelas problem solving.

4. Kesimpulan

Hasil penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

a. Terdapat perbedaan keefektifan antara model

problem posing dan model problem solving

ditinjau dari kemampuan berpikir kreatif dan prestasi belajar mahasiswa Universitas Musamus pada mata kuliah Kalkulus II.

b. Model problem solving lebih efektif dibandingkan dengan model problem posing

ditinjau dari kemampuan berpikir kreatif mahasiswa Universitas Musamus pada mata kuliah Kalkulus II

c. Model problem solving tidak lebih efektif dibandingkan dengan model problem posing

ditinjau dari prestasi belajar mahasiswa Jurusan

Pendidikan Matematika Universitas Musamus pada mata kuliah Kalkulus II.

Berdasarkan simpulan dan dengan memperhatikan keterbatasan penelitian, maka saran yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut: a. Perlunya waktu yang cukup bagi mahasiswa

untuk menyesuaikan dengan model pembelajaran yang baru, sehingga sebaiknya untuk penerapan model pembelajaran baru dilakukan dalam waktu yang relatif lama sehingga memberikan hasil yang maksimal. b. Bagi dosen yang ingin meningkatkan

kemampuan berpikir kreatif dan prestasi belajar mahasiswa, dapat menerapkan model problem solving.

Daftar Pustaka

[[1] Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2014). Buku kurikulum pendidikan tinggi. Jakarta: Kemendikbud.

[2] Brown, S.I. & Walter, M.I. (2005). The art of problem posing (3rd ed). Mahwah, New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Inc.

[3] Akay, H., & Boz, N. (2010). The effect of problem posing oriented analisis-II course on attitude toward mathematics and mathematics self-efficacy of elementary prospective mathematics teacher.

Australian Journal of Teacher Education,

35 (1), 60-75.

[4] Haylock, D. & Thangata, F. (2007). Key concepts in teaching primary mathematics. London: SAGE Publication Ltd

[5] Killen, R. (2009). Effective teaching strategies: lessons from research and practice (5th

ed.). South Melbourne: Cengange Learning.

[6] Siswono, T.Y.E. (2008). Identifikasi proses berpikir kreatif siswa dalam pengajuan masalah (problem posing) matematika berpandu dengan model wallas dan creative problem solving (CPS). Buletin Pendidikan Matematika, 6 (2), 1-16. [7] Slameto. (2013). Belajar: Faktor-faktor yang

mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

[8] Oon-seng, Tang (2009). Problem based learning and creativity. Shenton: Cengage Learning.

[9] Munandar, U. (1987). Pengembangan kreativitas anak berbakat. Jakarta: Gramedia

[10] Sanjaya, Wina (2008). Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Grouf [11] Soesilo, T.D. (2014). Pengembangan

kreativitas melalui pembelajaran.

Yogyakarta: Penerbit Ombak

[12] Lovat, T. (2010). The new values education: a

pedagogical imperative for student

wellbeing. Dalam Lovat, T., Toomey, R.,

& Clement, N. (Eds.). International

research handbook of values education and student wellbeing (pp.3-18). New York: Springer.

[13] Syah, M. (2013). Psikologi pendidikan: suatu model baru. Bandung: Rosdakarya. [14] Narmadha, U. & Chamundeswari, S. (2013).

Attitude towards learning of science and academic achievement in science among

students at the

secondary level. Journal of Sociological Research, 4 (2), 114-124.

[15] Stevens, J. P. (2009). Applied multivariate statistics for the social sciences (4th ed.)

New York: Routlege Taylor & Francis

Group.

DESKRIPSI TINGKAT BERPIKIR GEOMETRI DALAM MEMECAHKAN MASALAH

Dalam dokumen prosiding seminar nasional fkip unmus irim0 (Halaman 54-62)