Agus Kichi Hermansyah
SOLUSI ALTERNATIF DISPARITAS BIAYA PENDIDIKAN
Ironinya, hal tersebut berlangsung pula hingga pendidikan tinggi. Wajar saja jika sekolah yang mempunyai status unggulan memungut biaya pendidikan yang setimpal dengan kualitasnya dan banyak dihuni oleh orang yang memiliki uang. Di sisi lain orang yang tidak mampu tersisihkan dalam hal pendidikan di lembaga berkualitas, padahal banyak dari mereka mungkin memiliki potensi yang besar dalam pendidikan.
SOLUSI ALTERNATIF DISPARITAS BIAYA PENDIDIKAN
Penyelesaian masalah pendidikan tidak semestinya dilakukan secara terkotak-kotak. Tetapi harus ditempuh dalam suatu tindakan yang menyeluruh. Misalnya jika pemerintah hanya menaikkan anggaran, tetapi sumber daya dan mutu pendidikan masih rendah, maka apa yang diharapkan tidak akan tercapai. Menyoal masalah biaya, jika semua pemangku pendidikan menjalankan program dengan benar, anggaran pendidikan di negara ini tidaklah kurang. Musyaddad [12] dalam tulisannya menyayangkan permainan oknum-oknum, segala hal menjadi kurang, pemerataan penerimaan dana pendidikan pun tidak seimbang.
Pemerintah telah menjamin bahwa setiap warga negaranya memperoleh pendidikan, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang. Pemerintah menjamin pula bahwa masyarakat bawah bisa mengakses pendidikan yang bermutu. Idealnya pendidikan di Indonesia harus dapat diterima oleh anak usia sekolah hingga pendidikan menengah atas atau yang sederajat. Pendidikan tidak memandang latar belakang anak tersebut berasal
dari keluarga kaya ataupun miskin, dan tidak menjadikan halangannya untuk mengakses pendidikan. Untuk mengatasi mahalnya biaya pendidikan, dapat dilakukan dengan tiga cara yakni: (1) mengembangkan konsep Community-Based Education (CBE), (2) meningkatkan subsidi, dan (3) membangkitkan peran serta masyarakat. Penjelasan lebih rinci sebagai berikut.
Pertama, mengembangkan konsep Community- Based Education (CBE). Dijelaskan oleh Mardiani [11] bahwa Negara ini dapat meniru atau belajar dari negara Jepang dan Australia yang telah mengembangkan CBE. Mardiani menyebutkan bahwa kedua Negara tersebut memiliki pengalaman bagus untuk membuat biaya pendidikan tidak mahal bagi masyarakat. Dengan mengembangkan konsep CBE maka pemerintah melibatkan tokoh masyarakat, kaum bisnis, pengusaha, dan kaum berduit lainnya dalam urusan pendidikan. Sebagai contoh, sekolah dapat menawarkan kepada mereka yang memiliki uang lebih untuk menjadi orang tua asuh siswa mereka. Dengan demikian, siswa dari kalangan bawah tetap dapat bersekolah sekalipun mereka bersekolah pada sekolah yang memungut biaya yang tinggi.
Kedua, meningkatkan subsidi. Dalam Pasal 49 ayat (1) UU Sisdiknas disebutkan bahwa dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20 persen dari APBN dan minimal 20 persen APBD [18]. Setiap sekolah, baik sekolah swasta maupun negeri mempunyai proporsi yang relatif sama dalam pengalokasian anggarannya. Sekolah dapat mengusulkan pengadaan sarana dan prasarana penunjang pendidikan di sekolah. Dengan memanfaatkan biaya pendidikan yang dianggarkan pemerintah tersebut, sekolah diharapkan tidak lagi membebankan biaya kepada orang tua siswa.
Ketiga, membangkitkan peran serta masyarakat. Pasal 56 dalam UU Sisdiknas tahun 2003 menyebutkan pada ayatnya yang kedua yakni dewan pendidikan sebagai lembaga mandiri dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengawasan pendidikan pada tingkat Nasional, Propinsi, dan Kabupaten/ Kota yang tidak mempunyai hubungan hirarkis [18]. Dengan memanfaatkan dukungan dari dewan pendidikan diharapkan mahalnya biaya pendidikan di Indonesia dapat ditangani, sehingga masyarakat dari kalangan bawah tetap dapat mengenyam pendidikan.
3. PENUTUP
Perbedaan biaya pendidikan seharunya tidak menjadi halangan atau batasan bagi anak usia sekolah untuk dapat mengakses pendidikan. Saat ini pemerintah telah mengalokasikan anggaran pendanaan untuk pendidikan yang tidak sedikit yakni minimal 20 persen dari APBN dan minimal 20 persen APBD selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan [2]. Masyarakat dengan perekonomian menengah kebawah dapat memanfaatkan program-program yang telah dibuat oleh pemerintah seperti PIP melalui KIP, BSM, maupun KKS untuk dapat memasukkan putra- putrinya ke sekolah. Sekolah sebagai pelaksana pendidikan kini juga telah mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah dengan memberikan BOS, pengadaan gedung baru, ruang kelas baru, praktik, maupun laboratorium. Sekolah dengan keterbatasan biaya yang ada dapat mengajukan permohonan pengadaan sarana dan prasarana sekolah sesuai dengan mekanismenya, sehingga tidak lagi membebankan biaya pendidikan kepada orang tua siswa.
Daftar Pustaka
[1]Black. B, Biaya Masuk SD Capai Jutaan Rupiah, (Online)
(http://www.hariansilampari.co.id/berita/biaya- masuk-sd-capai-jutaan-rupiah/) diakses tanggal 1 Agustus 2017.
[2]Direktorat Penyusunan APBN. Direktorat Jenderal Anggaran, Informasi APBN 2016; Mempercepat Pembangunan Infrastruktur untuk Memperkuat Pondasi Pembangunan yang Berkualitas, Jakarta: Direktorat Penyusunan APBN, Direktorat Jenderal Anggaran, 2016. [3]Doriza S., Purwanto D. Adi., Maulida E,
Desentralisasi Fiskal dan Disparitas Akses Pendidikan Dasar di Indonesia, Jurnal Ekonomi Pembangunan, Volume 14, Nomor 2, Desember 2013, hlm. 223-233, 2013.
[4]Fachrudin. Y, Manajemen Berbasis Sekolah: dan Praktik Pengembangnnya di MAN Insan Cendekia. Online
(http://www.academia.edu/5765472/Manajemen _Berbasis_Sekolah) diakses tanggal 1 Agustus 2017.
[5]Fattah. N, Ekonomi & Pembiayaan Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdkarya, 2004.
[6]Ghazali. A, Analisis Biaya Manfaat SMU dan SMK. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No. 022, tahun ke-5, Maret 2000.
[7]Ghazali. A., dkk. Analisis Biaya Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta:
Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Pendidikan Nasional, 2005.
[8]Hallak. J, Analisis Biaya dan Pengeluaran untuk Pendidikan, Jakarta: Bhratara Karya Aksara, 1985.
[9]Hendropriyono. D, Meningkatkan Daya Saing Bangsa dengan Membangun "Hard Skill" dan "Soft Skill". Online
(http://www.kompasiana.com/diaz.hendropriyon o/meningkatkan-daya-saing-bangsa-dengan- membangun-hard-skill-dan-soft-
skill_552a8ccf6ea8348437552cfe) diakses tanggal 29 Agustus 2017.
[10] Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Bantuan Operasinal Sekolah. Online
(http://www.dapo.dikdasmen.kemdikbud.go.id) diakses tanggal 1 Agustus 2017.
[11] Mardiani. D. Putri, Partisipasi Masyarakat dalam Kursus Bahasa Inggris Sebagai Upaya Mewujudkan Community-Based Education di Kampung Inggris Kecamatan Pare Kabupaten Kediri, E-Journal UNESA Vol. 01 Nomor 01 Tahun 2012, 0 - 216. Online
(http://ejournal.unesa.ac.id/article/10325/14/arti cle.pdf) diakses tanggal 2 Agustus 2017.
[12] Musyaddad. K, Problematika Pendidikan di Indonesia. Jurnal Edu-Bio. Vol. 4 Tahun 2013. (Online)
(http://download.portalgaruda.org/article.php?ar ticle=252710&val=6813&title=Problematika%2 0Pendidikan%20di%20Indonesia) diakses tanggal 10 Agustus 2017.
[13] Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
[14] Priyono. E, Permintaan Terhadap Pendidikan: Analisis Fungsi Probabilitas Bersekolah Menurut Strata Pendapatan. Perpustakaan Universitas Indonesia. Online (http://lib.ui.ac.id/opac/ui/detail.jsp?id=77270&l okasi=lokal) diakses tanggal 27 Agustus 2017. [15] Saputra. W., dkk, Pembiayaan Pendidikan
Indonesia: Menuju Millineum Development Goals (Mdgs) 2015. Jurnal online
(http://directory.umm.ac.id/penelitian/PKMI/pdf /PEMBIAYAAN%20PENDIDIKAN%20INDO NESIA.pdf) di akses tanggal 29 Agustus 2017. [16] Supriadi. D, Satuan Biaya Pendidikan
Dasar dan Menengah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004.
[17] Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
[18] Undang-Undang No. 23 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.