alama Sampul
PROSIDING
SEMINAR NASIONAL KEPENDIDIKAN
“
Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran Dalam Rangka Percepatan Pembangunan di Daerah Pinggiran”
06 Oktober 2017
PKM Universitas Musamus, Merauke
PROSIDING
Seminar Nasional Kependidikan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Musamus Merauke
Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran dalam Rangka Percepatan Pembangunan di Daerah Pinggiran
ISBN: 978-602-51096-0-7
PENGARAH: Dr. Philipus Betaubun, M.T
PENANGGUNGJAWAB: Yenni Pintauli Pasaribu, ST., M.Si
KETUA PANITIA: Martha Loupatty,S.Pd., M.T
REVIEWER:
Yenni Pintauli Pasaribu, ST., M.Si Dr. Maria V.I. Herdjiono, SE., M.Si Dr. Basilius R. Werang, S.Sos., JCL Henie Poerwandar A. S.Si., M.Si
Martha Loupatty, S.Pd., M.T
EDITOR DAN LAYOUT: Markus Palobo, S.Pd., M.Pd Afif Khoirul Hidayat, S.Pd., M.Or
Oswaldus Dadi, S.Pd., M.Sc Nataniel Reinold Marwa, S.Si
Halaman Editor
Penerbit:
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Musamus Merauke Jl. Kamizaun Mopah Lama - Merauke
Telp 0971-325923
Email: [email protected]
Cetakan pertama, Oktober 2017
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
PROSIDING
Seminar Nasional Kependidikan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Musamus Merauke
Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran dalam Rangka Percepatan Pembangunan di Daerah Pinggiran
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Musamus
KATA SAMBUTAN
Dekan FKIP Universitas Musamus
Salam sejahtera untuk kita semua.
Atas nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, dengan Bangga saya
menyampaikan selamat kepada semua peserta pada Seminar Nasional
Kependidikan tahun 2017 tanggal 6 oktober 2017.
Terima kasih juga saya sampaikan kepada para pembicara utama yaitu
Prof. Dr. H. Arismunandar, M. Pd (Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan FIP
Universitas Negeri Makasar), Drs. H. Moctar Marhum, M. Ed., Ph.D (Dosen
Program Studi Bahasa Inggris Universitas Tadulako), Dr. Melania Suweni
Muntini, M. T (Dosen Program Studi Fisika Institut Teknologi Sepuluh
November), Dr. Totok Bintoro, M. Pd ( Ketua LP3M Universitas Negeri Jakarta
dan Dosen Program Studi Luar Biasa Universitas Negeri Jakarta).
Seminar Nasional ini adalah Seminar Nasional pertama yang dilaksanakan
oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Musamus. Pihak
Universitas musamus sebagai salah satu PTN di tapal batas NKRI tidak
henti-hentinya mendorong segenap civitas akademika termasuk FKIP Universitas
Musamus untuk mempublikasikan hasil penelitian dan pemikiran kritisnya untuk
kemajuan pendidikan di daerah pinggiran, trans Papua dan Indonesia pada
Umumnya.
Semoga kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang besar kepada kita semua
dan bangsa Indonesia.
Sekali lagi, saya ucapkan selamat datang dan terima kasih. Selamat melaksanakan
seminar. Terimalah semboyan kami, “Jangan tanya Kerja Kami, tapi lihat Hasil
kami Nanti.
“ Izakod Bekai Izakod Kai, Satu Hati Satu Tujuan”
Ketua Panitia Seminar Nasional Kependidikan 2017
Salam sejahtera untuk kita smua.
Seminar nasional Kependidikan merupakan suatu kegiatan penyamapian karya
ilmiah tentang pendidikan, yang memiliki peranan penting dalam kemajuan
pendidikan sehingga dapat memberikan suatu inovasi dalam dunia pendidikan.
Tema utama dalam Seminar Nasiona
l Kependidikan β017 ini yakni “ Inovasi
Pendidikan dan Pembelajaran dalam Rangka Percepatan Pembangunan di Daerah
Pinggiran.
Seminar Nasional Kependidikan 2017 ini merupakan seminar nasional pertama
yang dilaksanakan oleh FKIP Universitas Musamus. Seminar nasional ini
merupakan salah satu forum nasional bagi para pemerhati pendidikan untuk
saling berbagi pengetahuan dan pengalaman terhadap hasil penelitian dan
pemikiran kritis untuk kemajuan pendidikan dan pembelajaran dalam
mempercepat pembangunan didaerah pinggiran. Seminar Nasional Kependidikan
2017 ini diharapkan peserta yang berasal dari beberapa perguruan tinggi dan
instansi lain dapat berpartisipasi dan berkontribusi sesuai dengan keahlian
masing-masing dalam mengatasi dan menyelesaikan percepatan pembangunan di
daerah pinggiran.
Panitia penyelenggara Seminar nasional Kependidikan 2017 mengucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya epada para pemkalah dan seluruh peserta dan kepada
panitia Seminar Nasional Kependidikan 2017 dapat terselenggara.
Salam
Ketua panitia Seminar Nasional Kependidikan 2017
UCAPAN TERIMA KASIH
Panitia
Seminar
Nasional
Kependidian
Universitas
Musamus
2017
menyampaikan ucapan Terima kasih dan penghargaan kepada Pimpinan
Universitas Musamus, Pimpinan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Bapak/
Ibu Ketua jurusan, Bapak/Ibu Dosen, Panitia Seminar Nasional Kependikan
Universitas Musamus, atas dukungannya dalam bentuk dana, fasilitas, dan
lain-lainnya, untuk terselenggaranya Seminar Nasional ini.
Panitia Seminar Nasional Kependikan Universitas Musamus 2017 secara khusus
mengucapkan terima kasih kepada:
1.
Direktur Pembelajaran Direktorat Jenderal BELMAWA
2.
Rektor Universitas Musamus
3.
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
4.
Semua Ketua Jurusan di Lingkungan FKIP
DAFTAR ISI
Halaman Sampul ... ii
Halaman Editor ... iii
KATA SAMBUTAN ... v
Dekan FKIP Universitas Musamus ... vi
Ketua Panitia Seminar Nasional Kependidikan 2017 ... vii
DAFTAR ISI ... ix
STRATEGI PERCEPATAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI DAERAH
PINGGIRAN ... 1
Arismunandar ... 1
INOVASI PEMBELAJARAN IPA TERPADU ... 7
Melania Suweni Muntini
1), Iim Fatimah
2), Diky Anggoro
3), Sudarsono
4)... 7
INOVASI PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN DALAM RANGKA
PERCEPATAN PEMBANGUNAN DI DAERAH PINGGIRAN ... 12
Prof. Sofendi, M.A., Ph.D. ... 12
PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE
GROUP INVESTIGATION(GI) SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN HASIL
BELAJAR EKONOMI SISWA KELAS XI ... 16
A Abriani Nur ... 16
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN ATLETIK MELALUI
PERMAINAN BERBASIS ALAM PADA SEKOLAH DASAR DAERAH
PERBATASAN RI-PNG ... 24
Adi Sumarsono
1), Zem Santo
2), Afif Khoirul Hidayat
3)... 24
KOMPARASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING DAN
PROBLEM POSING DITINJAU DARI KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF
DAN PRESTASI BELAJAR KALKULUS... 34
Markus Palobo ... 34
DESKRIPSI TINGKAT BERPIKIR GEOMETRI DALAM MEMECAHKAN
MASALAH DITINJAU DARI PERBEDAAN GAYA KOGNITIF SISWA SMP
NEGERI URUMB ... 46
Andi Saparuddin Nur
1), Evy Nurvitasari
2)... 46
Ranta Butar-Butar ... 56
EFEKTIVITAS MODEL
COOPERATIVE LEARNINGTIPE
TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION(TAI) DAN MODEL
COOPERATIVE LEARNINGTIPE
THINK TALK WRITE
(TTW) TERHADAP KEMAMPUAN PEMAHAMAN
MATEMATIS SISWA PADA MATERI TRANSFORMASI”
... 64
Mayawi
1), H. In Hi. Abdullah
2), Nurma Angkotasan
3)... 64
PENGARUH
EKSPLOSIF POWER, KELENTUKAN
DAN MOTIVASI
TERHADAP KETERAMPILAN LOMPAT JAUH PADA SISWA SMPN 1
BAJENG KABUPATEN GOWA ... 74
Hendra Jondry Hiskya... 74
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT
UNTUK
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS VB MI DDI
LAMPU SATU MERAUKE TAHUN PELAJARAN 2016/2017 ... 78
Umi Muslihatun
1), Martha Loupatty
2), I. D. Palittin
3)... 78
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN METODE
PEMBELAJARAN
TALKING STICKPADA MATERI GAYA KELAS VIII F
SMP NEGERI 3 MERAUKE ... 85
Martha Loupatty
1), Lay Riwu
2)... 85
IMPLEMENTASI TEKNIK RETRIVAL DALAM PEMBELAJARAN BAHASA
INDONESIA DI SMP ... 88
Tobias Nggaruaka ... 88
FIELD TRIP TEACHING STRATEGY IN FRANK McCOURT’S
TEACHERMAN
AND E. R. BRAITHWAITE’S
TO SIR WITH LOVE... 97
Sri Winarsih ... 97
KARAKTERISTIK PEMECAHAN MASALAH MAHASISWA KATEGORI
TINGGI DALAM PHYSICS PROBLEM SOLVING ... 105
Supriyadi, S.
1), Mansyur, J.
2), Rizal, M.
3)... 105
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR FISIKA DASAR I BERBASIS
KOMPUTER ... 111
Syamsul Bahri
1), Kaharuddin Arafah
2), Muhammad Arsyad
3)... 111
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS
POWERPOINT(PPT) INTERAKTIF PADA MATERI BENTUK MOLEKUL ... 118
Toinmilatul Kodariyah
1), Yenni Pintauli Pasaribu
2), Henie Poerwandar
SISWA KELAS XI IPA SMA NEGERI 2 MERAUKE TAHUN AJARAN
2014/2015 ... 126
Syamsudin ... 126
PENGARUH
EMOTIONAL QUOTIENT(EQ) DAN KREATIVITAS
TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS XI
MIA SMA NEGERI 1 MERAUKE ... 132
Risasi Febriani Ganda
1), Inggrid Marlissa
2), Maria Fransina Veronica
Ruslau
3)... 132
PENGARUH METODE PETA KONSEP TERHADAP PRESTASI BELAJAR
MATEMATIKA PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 13 MERAUKE 142
Anastasia Reginaldis Nay Jogo
1), Andi Saparuddin Nur
2), Hariani Fitrianti
3)142
MENUMBUHKAN KETERAMPILAN BERTANYA SISWA DALAM
PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA ... 150
Agustinus Gereda ... 150
KARAKTERISTIK ASTAXANTHIN SEBAGAI ANTIOKSIDAN ... 159
Leonardo Aisoi ... 159
DISPARITAS BIAYA PENDIDIKAN ... 166
Agus Kichi Hermansyah... 166
IDENTIFIKASI PROFIL LULUSAN BEBERAPA PROGRAM STUDI DI ITB
DENGAN PENDEKATAN ANALISIS KORESPONDENSI ... 172
Khumaeroh Dwi Nur’aini
... 172
PERFORMANSI MATEMATIKA DASAR MAHASISWA PAPUA CALON
GURU SEKOLAH DASAR ... 178
Murni Sianturi
1), Dessy Rizki Suryani
2)... 178
MEMBANGUN KREATIVITAS ANAK MELALUI
PERMAINAN
TRADISIONAL ... 191
Yonarlianto Tembang
1), Trinovianto G.R. Hallatu
2)... 191
STRATEGI KEBIJAKAN INOVASI PENDIDIKAN DI WILAYAH
PERBATASAN... 197
Fitriani ... 197
MACAM
–
MACAM KREASI UNIK DARI BAHAN DASAR AMPAS KOPI
... 203
Umar Latifui ... 203
Godefridus Samderubun, SS., M.Si ... 213
PENGARUH STRATEGI KONFLIK KOGNITIF DITINJAU DARI
KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN SELF CONCEPT PADA MATERI
NILAI MUTLAK SISWA SMA ... 220
Inggrid Marlissa
1), Kamariah
2)... 220
ISTILAH
PELEBERMAKNA MAKIAN YANG DIGUNAKAN DALAM
INTERAKSI MASYARAKAT KOTA MERAUKE ... 229
Margaretha Febriany Narahawarin ... 229
PENDEKATAN EVEN ORGANIZER PADA PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN JASMANI DALAM MENINGKATKAN KUALITAS DAN
DAYA SAING SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS ... 234
Afif Khoirul Hidayat ... 234
KEUNIKAN BILANGAN 9 “DALAM PERKALIAN DAN PEMBAGIAN
BILANGAN”
... 245
Budi Sutomo, S.Pd ... 245
PEMANFAATAN TEKNOLOGI
MOBILE LEARNINGBERBASIS ANDROID
UNTUK MENDUKUNG PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS ... 247
Sri Murniani Angelina Letsoin
1), Stanley H. D Loppies
2)... 247
SINTESIS SILIKA- AMINOBENZIMIDAZOL TERLAPIS PADA BAHAN
MAGNETIK PASIR BESI ... 252
Abraham Laurens Rettob ... 252
PERANCANGAN PROTOTIPE SISTEM APLIKASI LABORATORIUM
PRAKTIKUM FISIKA... 260
Izak Habel Wayangkau
1),
Martha Lopuatty
2)... 260
PENCERMINAN AFFIN ... 265
Nurhayati... 265
PEMANFAATAN TUMBUHAN SARANG SEMUT SEBAGAI MEDIA
PEMBELAJARAN IPA DI SMA ... 271
Yenni P. Pasaribu
1), Yorinda Buyang
2), I. D. Palittin
3)... 271
PERMAINAN TRADISIONAL SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN UNTUK
MEMBANGUN KETERAMPILAN SOSIAL ANAK SD ... 276
Ratna Purwanty ... 276
Nasrawati
1), Yorinda Buyang
2)... 283
USING WALL CHART AS A MEDIUM FOR DEVELOPING STUDENTS
VOCABULARY MASTERY ... 286
Marni Bawawa... 286
MENIGKATKAN KECERDASAN VISUAL SPASIAL ANAK MELALUI
KEGIATAN MENGGAMABAR BEBAS DI KELOMPOK B TK ISLAM
TERPADU PERMATA BUNDA MERAUKE ... 292
Ruyanah
1), Basilius R. Werang
2), Kamariah
3)... 292
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MATERI GAYA PADA SISWA
KELAS IV SD IMPERS KAMPUNG BARU MERAUKE DENGAN
MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN PICTURE AND PICTURE
... 293
Apolinaris Mopkat
1), Martha Loupatty
2), Nova Suryawati Monika
3)... 293
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA DENGAN
MEMBERIKAN LATIHAN TERSTRUKTUR MATERI GARIS SINGGUNG
PADA SISWA KELAS VIII SMP ... 299
PEMBICARA UTAMA
Prof. Dr. Arismunandar, M.Pd.
Pembicara I:
Strategi Percepatan Pembangunan
Pendidikan di Daerah Pinggiran
Drs. H. Moctar Marhum, M. Ed
Pembicara II:
Strategi Menghadapi Mea Pada
Bidang Pendidikan
Dr. Totok Bintoro, M. Pd
Pembicara IV:
Pengenbangan Profesional Guru
Dr.Melania Suweni Muntini, M.T
Pembicara III:
Inovasi Pembelajaran IPA Terpadu
STRATEGI PERCEPATAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI DAERAH
PINGGIRAN
Arismunandar
1) Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar
Jl. A Pangerang Pettarani Makassar Email : [email protected])
Abstrak
Tulisan ini mengkaji permasalahan pendidikan yang dihadapi di daerah pinggiran, terutama daerah terpencil dan daerah terkebelakang di Indonesia. Terdapat fenomena di daerah tersebut berupa belum terjadinya pemerataan pendidikan dilihat dari rendahnya angka partisipasi murni (APM) khususnya pada jenjang SLTP dan SLTA. Di samping itu juga terdapat fakta bahwa di daerah-daerah tersebut kualitas pendidikannya masih rendah terutama dilihat dari indikator indeks pembangunan, ujian nasional dan kompetensi guru. Ada beberapa strategi percepatan untuk mengatasi masalah tersebut yaitu: Pertama, peningkatan cakupan pendidikan layanan khusus (PLK) untuk meningkatkan pemerataan pendidikan melalui pengembangan sekolah kecil, sekolah terbuka, sekolah darurat, dan sekolah terintegrasi. Kedua, peningkatan kualitas pendidikan melalui program afirmasi lulusan SLTA untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, pengembangan pendidikan berasrama (boarding) pada jenjang SLTP, SLTA, dan jenjang perguruan tinggi, dan pengembangan pendidikan vokasi sesuai dengan potensi alam dan lingkungan di daerah pinggiran. Berdasarkan strategi tersebut, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, perguruan tinggi, dan dunia usaha perlu berkolaborasi dalam mengatasi masalah pendidikan di daerah pinggiran.
Kata kunci: Strategi, percepatan, pendidikan, daerah pinggiran.
1. Pendahuluan
Pembangunan pendidikan di daerah pinggiran masih menjadi isu besar dalam pembangunan negara-negara berkembang di dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa pendidikan harus menjadi instrumen pembangunan negara bangsa dan karena itu harus dirasakan oleh semua anak. Deklarasi
“Pendidikan untuk Semua” telah menyadarkan dunia terhadap pentingnya pemenuhan pendidikan dasar dan komitmen berbagai negara terhadap peningkatan akses pendidikan bagi semua anak [1].
Isu tersebut juga sangat terasakan di Indonesia yang memiliki wilayah geografis dan sosiologis di lokasi pinggiran. Istilah daerah pinggiran atau marjinal bisa ditafsirkan sebagai wilayah dimana bermukim masyarakat yang terpinggirkan baik baik secara ekonomi, sosial, maupun geografis. Kelompok masyarakat ini dapat kita temukan bukan hanya di daerah terpencil atau terbelakang, tetapi juga di daerah perkotaan. Dalam konteks geografis, pemerintah menggunakan istilah daerah 3T (terluar, terdepan, dan tertinggal) yang senafas dengan daerah pinggiran. Namun demikian daerah 3T tidak selalu tertinggal apalagi terkebelakang. Istilah yang mendekati konotasi daerah pinggiran adalah istilah yang disebutkan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 131 Tahun 2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015-2019 [2]. Menurut Perpres tersebut, suatu daerah
ditetapkan sebagai Daerah Tertinggal berdasarkan kriteria: (a) perekonomian masyarakat; (b) sumber daya manusia; (c) sarana dan prasarana; (d) kemampuan keuangan daerah; (e) aksesibiltas; dan (f) karakteristik daerah. Berdasarkan Perpres tersebut, jumlah daerah tertinggal di Indonesia sebanyak 122 dari sekitar 515 kabupaten/kota. Jumlah ini cukup besar berkisar 23,69 persen. Sementara itu, dari 122 kabupaten/kota tertinggal, 103 atau 84,4% terletak di Kawasan Timur Indonesia (KTI) [3].
kelompok masyarakat yang kurang beruntung secara ekonomi yang dicirikan oleh: (1) jumlah pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimal; (2) mempunyai akses terbatas pada kegiatan ekonomi; (3) secara sengaja ataupun tidak sengaja menjadi korban tindak kejahatan sosial,
dan/atau (4) keadaan tertentu lainya yang menyebabkan kekurangan ekonomi. Beberapa sumber lain juga membuat kriteria yang relatif sama dengan kriteria di atas.
Dalam perspektif itu, pendidikan nasional Indonesia dewasa ini menghadapi setidaknya dua tantangan besar. Pertama, perlunya sistem pendidikan nasional menjamin pemerataan kesempatan pendidikan bagi semua anak usia sekolah di seluruh Indonesia tanpa kecuali. Kedua, perlunya peningkatan kualitas pendidikan secara merata pada seluruh wilayah di Indonesia. Tantangan pertama tampak pada data Badan Pusat Statistik yang menunjukkan masih rendahnya angka partisipasi murni (APM) anak usia sekolah di Indonesia, terutama pada jenjang SLTP sebesar 77,89; SLTA lebih rendah lagi yaitu 59,85 dan paling rendah adalah perguruan tinggi sebesar 17,91. Data tersebut menunjukkan belum adanya kesempatan yang sama bagi semua anak usia sekolah mengenyam pendidikan sampai ke perguruan tinggi. Apabila dilihat per provinsi, APM terendah pada lima provinsi di Indonesia sebagaimana tabel berikut ini. Khusus untuk jenjang SLTP, APM terendah adalah Papua (42,86), Papua Barat (64,93), Bangka Belitung (68,12), Nusa Tenggara Timur (69,67), dan Sumatera Selatan (69,77). Tabel tersebut menunjukkan belum meratanya pendidikan pada provinsi tersebut. Bahkan kelima provinsi yang terendah dalam APM SLTP tersebut masih mengalami kesenjangan baik dengan APM nasional (76,29) maupun dengan target Program Wajib Belajar 9 Tahun.
Tabel 1. APM SD-SM Provinsi Terendah di Indonesia 2016/2017
Wilayah SD SLTP SM
Papua 72,30 42,86 33,24
Papua Barat 93,86 64,93 56,68 Bangka Belitung 93,95 68,12 51,37
NTT 93,66 69,67 56,91
Sumatera Selatan 94,03 69,77 58,10 Indonesia 93,73 76,29 61,20 Sumber: Kemdikbud, 2017 [5].
Tantangan kedua berkaitan dengan kualitas pendidikan yang belum merata juga secara nyata terlihat pada beberapa provinsi di Indonesia. Beberapa indikator dapat menunjukkan rendahnya mutu pendidikan pada provinsi tertentu seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM), kompetensi guru dan nilai ujian nasional. Berikut ini dikemukakan tabel 2 yang memuat gambaran singkat
peencapaian beberapa indikator mutu tersebut pada lima
provinsi “terbawah” di Indonesia. Dari tabel tersebut
tampak bahwa ditinjau dari IPM, indeks terendah adalah Provinsi Papua (58,05), menyusul Papua Barat (62,21), Nusa Tenggara Timur (63,13), Sulawesi Barat (63,60), dan Nusa Tenggara Barat (65,81). IPM kelima provinsi tersebut berada jauh di bawah rata-rata nasional (70,18). Sementara ditinjau dari skor uji kompetensi guru, kelima provinsi tersebut juga memiliki kecenderungan skor yang rendah dalam uji kompetensi guru yaitu Provinsi Papua (49,09), Papua Barat (49,47), Nusa Tenggara Timur (50,34), Sulawesi Barat (50,15), dan Nusa Tenggara Barat (52,38). Skor UKG ini jauh di bawah skor rata-rata nasional yaitu 56,69. IPM yang masih rendah tersebut menunjukkan rendahnya pencapaian rata-rata pendidikan penduduk dan harapan lama sekolah yang bahkan berada di bawah rata-rata nasional (70,18). Demikian pula dengan Ujian Nasional (UN) yang secara umum menggambarkan posisi kelima provinsi tersebut yang masih rendah dan cenderung di bawah rata-rata skor nasional.
Tabel 2. Indikator Mutu Pendidikan beberapa Provinsi 2016
Wilayah IPM UKG UN SMP
Papua 58,05 49,09 54,9
Papua Barat 62,21 49,47 64,5
NTT 63,13 50,34 52,0
Sulawesi Barat 63,60 50,15 49,2
NTB 65,81 52,38 53,5
Indonesia 70,18 56,69 58,6 Sumber: BPS [6]; Kemdikbud [7]
Fenomena tersebut menunjukkan adanya kesenjangan pendidikan antar-daerah dan antar-kelompok sosial masyarakat. Hal ini harus dapat diatasi segera untuk memberikan jaminan pendidikan bagi semua anak Indonesia. Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan dengan jelas bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan yang bermutu tanpa kecuali dari manapun asal, golongan, dan daerahnya [8]. Bahkan diatur pula bahwa warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. Demikian pula dengan warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus.
Dengan dasar itu, kajian berikutnya akan menganalisis faktor penyebab atau penghambat dan merumuskan strategi percepatan pembangunan pendidikan di daerah pinggiran.
2. Pembahasan
pertama adalah keadaan geografis daerah pinggiran. Pada umumnya daerah pinggiran merupakan daerah yang terpisah di pula-pulau kecil atau di daerah-daerah terpencil, meskipun bisa saja ditemukan di daerah perkotaan. Indonesia adalah negara kepulauan dengan jumlah pulau sebanyak 17.504 di mana 16.056 pulau telah dibakukan namanya di PBB hingga Juli 2017 [9]. Sebagian di antaranya adalah pulau-pula kecil dengan populasi penduduk yang juga kecil sehingga secara ekonomi sulit dilayani oleh pendidikan dasar atau menengah apalagi pendidikan tinggi.
Sebagai konsekuensi dari itu banyak lokasi pulau yang tidak memenuhi standar kelayakan untuk membangun sekolah terutama sekolah menengah. Akibatnya banyak lulusan SLTP di pulau tidak dapat melanjutkan pendidikan karena jarak ke lokasi sekolah menengah terlalu jauh atau sulit dijangkau. Sebagian pulau yang memiliki sekolah menengah atas juga menunjukkan keadaan yang kurang memuaskan. Hasil penelitian di SMA di salah satu pulau di Provinsi Aceh menunjukkan bahwa sekolah pada umumnya belum memenuhi delapan standar pendidikan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan dan masalah kurang disiplinnya guru untuk mengajar karena faktor jarak dan alasan lainnya [10].
Faktor kedua adalah faktor sosial. Daerah pinggiran biasanya juga terbentuk dari kelas sosial yang pada umumnya tergolong rendah. Hal ini sering membawa masalah karena cenderung tertutup dari kehidupan masyarakat pada umumnya. Keberadaan kelas sosial yang rendah ini juga mempengaruhi kondisi psikologis kelompok masyarakat ini. Salah satu pengaruh psikologis yang muncul adalah rendahnya percaya diri dan ketidakmampuan mengidentifikasi diri dalam konteks pergaulan dengan kelompok masyarakat lainnya.
Faktor lainnya adalah: (1) ekonomi, (2) kurangnya layanan pendidikan khusus, dan (3) belum maksimalnya program pemberdayaan masyarakat marjinal [11]. Ketiga faktor tersebut dikemukakan berikut ini.
a. Ekonomi
Faktor ekonomi merupakan salah satu faktor yang menyebabkan pendidikan bukan menjadi prioritas dalam sebuah keluarga. Anak-anak yang seharusnya duduk di bangku sekolah harus ikut membantu orang tua mereka untuk mencari nafkah buat keluarga. Akibatnya, pendidikan tidak lagi dianggap menjadi suatu hal yang penting. Memenuhi kebutuhan keluarga melalui pekerjaan yang tidak tetap menjadi keharusan seluruh anggota keluarga termasuk anak-anak usia sekolah. Banyak juga keluarga memilih tidak menyekolahkan anak mereka dengan pertimbangan jarak sekolah yang jauh dari rumah. Letak sekolah yang jauh berkonsekuensi pada kebutuhan biaya yang lebih besar antara lain untuk transportasi dan makanan atau jajanan.
Faktor kemiskinan juga merupakan penyebab anak usia sekolah tidak melanjutkan pendidikan. Saat ini meskipun terdapat bantuan operasional sekolah dan beasiswa untuk orang miskin, tapi tampaknya belum dapat memecahkan
masalah kebutuhan biaya keluarga. Karena itu banyak anak usia sekolah terpaksa bekerja untuk menghidupi keluarga yang serba kekurangan.
b. Masih kurangnya layanan pendidikan khusus
Selain akses pendidikan, masih kurangnya layanan pendidikan khusus yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat pinggiran juga merupakan persoalan bagi kaum marjinal dalam rangka memperbaiki kualitas hidup mereka melalui sektor pendidikan. Kebutuhan pendidikan masyarakat marjinal sifatnya sangat spesifik, apalagi jika dikaitkan dengan entry behavior yang mereka miliki dan tantangan kebutuhan hidup mereka ke depan.
Kesesuaian jenis layanan pendidikan dengan kebutuhan masyarakat pinggiran juga menjadi salah satu faktor penghambat. Banyak masyarakat yang beranggapan bahwa layanan pendidikan yang ada sekarang dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan mereka yang menyebabkan minat untuk melanjutkan sekolah menjadi rendah. Mereka memiliki banyak alasan, seperti untuk apa bersekolah kalau merasa bukan ilmu dan pengetahuan yang diberikan yang mereka butuhkan. Dari sisi kebijakan dan program, pemerintah belum memberikan layanan khusus secara masif untuk masyarakat pinggiran seperti pendidikan kecakapan hidup yang diperlukan untuk mencari pekerjaan atau berwirausaha.
c. Program Pemberdayaan Masyarakat Marjinal yang Belum Maksimal.
Program pemberdayaan masyarakat di daerah pinggiran sebenarnya telah ada, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Namun persoalan akan timbul jika program pemberdayaan yang diprakarsai oleh pemerintah sifatnya sentralistik dan cenderung menyeragamkan kebutuhan masyarakat marjinal secara nasional. Padahal, karakteristik dan kebutuhan pemberdayaan masyarakat marjinal juga ditentukan oleh kondisi geografi, ekonomi, dan sosial dimana masyarakat marjinal itu berada. Akibatnya, program pemberdayaan masyarakat marjinal yang dilakukan tidak akan memberikan hasil yang maksimal karena kurang tepat sasaran dan tidak sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masyarakat marjinal tersebut.
Untuk menjawab permasalahan kedua yaitu strategi percepatan pendidikan di daerah pinggiran, berikut ini dikemukakan dua strategi, yaitu program yang berorientasi kepada pemerataan pendidikan dan program yang berorientasi kulaitas pendidikan.
a. Program Pemerataan Pendidikan
(PLK). Program ini diatur melalui Perturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 72 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Layanan Khusus [4]. PLK memberikan layanan peserta didik di daerah: (1) terpencil atau terbelakang; (2) masyarakat adat yang terpencil; (3) yang mengalami bencana alam; (4) yang mengalami bencana sosial; dan/atau (5) yang tidak mampu dari segi ekonomi. Menurut Permen tersebut program ini dalam bentuk satuan pendidikan dan/atau program layanan pendidikan. Program satuan pendidikan meliputi sebagai berikut .
1) sekolah kecil adalah sekolah yang menyelenggarakan layanan pendidikan untuk jumlah peserta didik minimal 3 (tiga) orang;
2) sekolah terbuka adalah sekolah yang menyelenggarakan layanan pendidik kunjung dari sekolah induk;
3) Sekolah darurat adalah sekolah yang menyelenggarakan layanan pada saat situasi bencana alam dan/atau bencana sosial;
4) sekolah terintegrasi adalah sekolah yang menyelenggarakan pendidikan yang dilaksanakan antar jenjang pendidikan dalam satu lokasi, yang juga biasa disebut sekolah satu atap.
Sementara itu, program layanan meliputi antara lain: 1) pemindahan peserta didik ke daerah lain dengan
fasilitas bantuan pendanaan dan/atau asrama;
2) bantuan dana tranportasi;
3) kunjungan pendidik;
4) pendidikan jarak jauh yang menyelenggarakan
layanan pendidikan tertulis, radio, audio, video,
TV, dan/atau berbasis IT; dan/atau
5) layanan lain yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
2. Program Peningkatan Kualitas Pendidikan
a. Afirmasi Pendidikan Tinggi
Program afirmasi sudah lama dikenal dalam dunia pendidikan. Program ini pada umumnya ditujukan bagi pembukaan akses bagi anak-anak yang kurang beruntung baik secara ekonomi, sosial, maupun geografis. Isu-isu kelas ekonomi anak buruh versus majikan, ketidaksetaraan gender, warna kulit, anak normal versus anak berkebutuhan khusus merupakan fenomena yang seringkali dijadikan dasar bagi perlunya program afirmasi. Di Amerika Serikat istilah afirmasi seringkali berkaitan dengan kebijakan yang sering disebut dengan
istilah “affirmative action” yang menurut Stanford Encyclopedia Philosophy berarti langkah-langkah positif untuk meningkatkan keterwakilan perempuan dan kaum minoritas dalam bidang pekerjaan, pendidikan, dan budaya [12]. Dalam konteks tulisan ini program afirmasi diartikan sebagai pemberian kesempatan lebih besar kepada warga yang kurang beruntung secara ekonomi, sosial, dan geografis untuk mendapatkan akses ke
perguruan tinggi yang karena persyaratan akademik membuat mereka sulit diterima.
Program afirmasi untuk mahasiswa dari kalangan keluarga kurang mampu dan kurang beruntung sudah memiliki landasan hukum. Undang-Undang No 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, pasal 74 ayat (1) menyebutkan bahwa perguruan tinggi negeri wajib mencari dan menjaring calon mahasiswa yang memiliki potensi akademik tinggi, tetapi kurang mampu secara ekonomi dan calon mahasiswa dari daerah terdepan, terluar, dan tertinggal untuk diterima paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari seluruh mahasiswa baru yang diterima dan tersebar pada semua Program Studi [13]. Berdasarkan UU tersebut, pemerintah telah melaksanakan program afirmasi pendidikan tinggi namun masih terfokus pada daerah tertinggal dan masyarakat miskin dengan kuota yang masih sangat terbatas. Berdasarkan hal tersebut dipandang penting adanya perluasan program afirmasi bagi masyarakat dari daerah terpencil dan terbelakang agar mendapat peluang lebih untuk memasuki perguruan tinggi di daerah lebih maju melalui jalur penerimaan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan jalur penerimaan mahasiswa baru Bidik Misi. Implementasi kedua jenis program tersebut selama ini sudah berjalan dengan baik namun kuotanya masih perlu ditingkatkan setiap tahun karena jumlah peminat beasiswa Bidik Misi jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah kuota yang disiapkan pemerintah.
Pengalaman Universitas Negeri Makassar (UNM) dalam memperluas cakupan program afirmasi menunjukkan perkembangan yang menarik dalam mendorong kualitas pendidikan di daerah terpencil dan terkebelakang. Dalam beberapa tahun terakhir UNM membuat kebijakan afirmasi dengan memberikan kuota 25 persen bagi mahasiswa baru dari Kawasan Timur Indonesia (KTI) [14]. Meskipun faktanya belum mencapai angka 25 persen namun ada kecenderungan terjadi peningkatan akses masuk dari KTI seperti ditunjukkan dalam tabel berikut.
Tabel 3. Mahasiswa Baru UNM berdasarkan asal Propinsi/Pulau.
Asal Provinsi 2014/2015 2015/2016
Jml % Jml %
Sulsel 3.587 85.02 3.845 82.39
KTI 597 14.15 765 16.39
KBI 28 0.66 49 1.05
Lainnya 7 0.17 8 0.17
Jumlah 4.219 100 4.667 100
Sumber: Biro PSI UNM, 2015.
Sulawesi Selatan. Hal tersebut ditunjukkan oleh menurunnya jumlah persentasi mahasiswa baru yang berasal dari Sulawesi Selatan dari 85.02 persen menjadi 82.30 persen yang artinya bahwa pada 2015/2016 telah terjadi peningkatan jumlah mahasiswa dari luar Sulawesi Selatan, khususnya dari KTI sebesar 16,39 persen. Meskipun masih jauh dari sasaran kuota 25 persen tetapi sudah menunjukkan kecenderungan yang meningkat. Selain program afirmasi tersebut, UNM juga telah menerima mahasiswa Program Afirmasi Pendidikan (ADIK). Program ini juga menyasar secara khusus alumni SLTA dari Propinsi Papua dan Papua Barat dan beberapa provinsi lainnya untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri pilihannya. Meskipun jumlahnya masih terbatas, tetapi peminat dan yang diterima cukup baik. Jika tahun 2013/2014 yang diterima di UNM baru mencapai 13 orang maka pada 2015/2016 telah mencapai 34 orang.
Untuk mengatasi masalah ekonomi lulusan SLTA yang akan memasuki PT, pemerintah juga telah mendorong pemberian besiasiswa bidik misi dalam bentuk biaya pendidikan dan biaya hidup. Program ini memberikan harapan yang cukup besar bagi masyarakat yang terpinggirkan secara ekonomi. Sebagai ilustrasi, terjadi peningkatan porsi beasiswa pemerintah sebagaimana tercermin dalam contoh di UNM yang juga berusaha memenuhi sasaran paling kurang 20 persen. Gambaran pencapaian sasaran dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4. Perkembangan Mahasiswa Baru Penerima Beasiswa Bidik Misi UNM
Mahasiswa Baru
Tahun Akademik
2011/2012 2013/2014 2015/2016
Total
Mahasiswa 5.550 6.325 4.667
Bidik Misi 600 755 955
Persen BM 10,81 11,94 20,46
Sumber: Biro AAK UNM, 2015.
Tabel tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan jumlah penerima beasiswa bidik misi di UNM dalam lima tahun. Pada tahun akademik 2015/2016 dengan segenap perjuangan, sasaran 20 persen sesuai undang-undang dapat tercapai yang jika memungkinkan akan ditambah lagi di masa yang akan datang.
b. Sekolah berasrama
Sekolah (dan perguruan tinggi) berasrama merupakan program yang sangat strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah pinggiran. Jika akses anak terutama ke jenjang sekolah menengah dan perguruan tinggi semakin meningkat maka secara otomatis pemerataan pendidikan juga meningkat. Banyak bukti penelitian yang menunjukkan bahwa layanan pendidikan pada sekolah berasrama lebih baik di banding dengan sekolah konvensional sepanjang dikelola dengan baik. Di beberapa negara alasan peningkatan kualitas
merupakan salah satu alasan pendirian sekolah berasrama (boarding school). Salah satu bentuknya adalah sekolah berasrama untuk menyiapkan siswa sekolah menengah mengikuti tes masuk perguruan tinggi ternama [15]. Namun demikian di berbagai negara lain sekolah berasrama juga digunakan untuk tujuan menampung anak-anak dari daerah terpencil, pedesaan, dan daerah-daerah yang mengalami masalah geografis dan ekonomi seperti di Cina [16] dan Australia [17]. Di Cina, sekolah berasrama sudah sangat meluas, bahkan sampai pada jenjang SD [16]. Sebagai ilustrasi, di Provinsi Shaanxi terdapat 10 sekolah dasar berasrama yang menyebar di daerah pegunungan dan perkotaan untuk menampung anak-anak yang kurang beruntung.
Berbagai kajian menunjukkan manfaat dan keuntungan sekolah berasrama. UNESCO misalnya, mengemukakan keuntungan sekolah berasrama sebagai berikut: (1) meningkatkan akses ke persekolahan terutama bagi masyarakat yang kurang beruntung; (2) menjaga keseimbangan rasio jenis kelamin siswa, khususnya bagi anak perempuan yang kurang beruntung ke sekolah menengah; (3) memberikan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak; (4) meningkatkan prestasi akademik anak; (5) memberikan proteksi dan keamanan bagi anak; (6) melindungi anak dari keadaan darurat, seperti bencana alam; (7) membantu memenuhi kebutuhan nutrisi anak; (8) membantu mensosialisakan anak ke lingkungan yang lebih luas; (8) merupakan media yang efektif menghubungkan antara kelompok masyarakat kurang beruntung dengan masyarakat yang lebih luas; dan (9) relative lebih efisien terutama dalam operasionalnya [18]. Dengan memahami keuntungan tersebut maka seyogianya program serupa dapat lebih masif dilakukan oleh pemerintah Indonesia.
c. Pendidikan Vokasi
Pendidikan vokasi merupakan salah satu strategi dalam melakukan percepatan pendidikan di daerah pinggiran. Pendidikan vokasi dipandang layak diterapkan dengan alasan, yaitu pertama, keadaan ekonomi yang terbatas pada sebagian masyarakat di daeerah pinggiran sehingga menyebabkan lebih memilih jalan yang cepat untuk mendapat keterampilan kerja melalui sekolah kejuruan atau politeknik/diploma. Kedua, pendidikan vokasi dapat disesuaikan dengan potensi daerah pinggiran baik itu potensi laut, potensi wisata, maupun potensi alam lainnya. Ketiga, fakta yang menunjukkan bahwa penduduk di pedesaan masih didominasi oleh pekerja yang berpendidikan sekolah dasar [19].
vokasi di Indonesia dapat dilakukan baik melalui jalur pendidikan formal maupun jalur pendidikan nonformal.
3. Penutup/Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang dikemukakan di atas maka dapat disimpulkan bahwa terdapat lima penyebab terjadinya ketimpangan pemerataan dan kualitas pendidikan di daerah pinggiran, yaitu geografi, sosial, ekonomi, belum memadainya layanan pendidikan khusus, dan belum memadainya program pemberdayaan masyarakat di daerah pinggiran. Untuk mengatasi hal tersebut, dikemukakan dua strategi untuk melakukan percepatan pendidikan, yaitu: (1) perluasan cakupan pendidikan layanan khusus (PLK) dalam rangka pemerataan pendidikan yang meliputi pengembangan sekolah kecil, sekolah terbuka, sekolah darurat, dan sekolah terintegrasi; dan (2) peningkatan kualitas pendidikan khususnya di sekolah menengah dan perguruan tinggi melalui perluasan program afirmasi lulusan SLTA untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, pengembangan pendidikan berasrama (boarding) pada jenjang SLTP, SLTA, dan jenjang perguruan tinggi, dan pengembangan pendidikan vokasi kepada para pemuda sesuai dengan potensi alam dan lingkungan di daerah pinggiran. Untuk mewujudkan strategi tersebut, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, perguruan tinggi, dan dunia usaha perlu berkolaborasi dalam mengatasi masalah pendidikan di daerah pinggiran.
Daftar Pustaka
[1] Education Forum, “The Dakar Framework for Action,” Unesco, no. April, pp. 26–28, 2000.
[2] Presiden Republik Indonesia, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 131 Tahun 2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015-2019. 2015, pp. 2–4. [3] Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal,
“Membangun Kawasan γ T, Membangun Beranda Indonesia,” β017. [Online]. Available:
http://ditjenpdt.kemendesa.go.id/news/read/170113/389-membangun-kawasan-3-t--membangun-beranda-indonesia. [Accessed: 22-Sep-2017].
[4] Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Layanan Khusus, vol. 2010. 2013.
[5] Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, “APK dan APM
PAUD, SD, SMP, dan SM (termasuk Madrasah dan
sederajat) Tahun β016/β017,” β017.
[6] Badan Pusat Statistik, “Indeks Pembangunan Manusia menurut Provinsi, 2010-2016 (Metode Baru),” β017.
[Online]. Available:
https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/1211. [7] S. K. PASKA, “Neraca Pendidikan Daerah,” β017. [Online].
Available: http://npd.data.kemdikbud.go.id/.
[8] U.-U. R. Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2003.
[9] Wikipedia, “Daftar Pulau di Indonesia,” β017. [Online]. Available:
https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_pulau_di_Indonesia.
[10] Z. Adlim, Gusti, “Permasalahan dan Solusi Pendidikan di Daerah Kepulauan (Studi kasus di SMA Negeri 1 Pulau
Aceh, Kabupaten Aceh Besar),” J. Pencerahan, vol. 10, no. September, pp. 48–61, 2016.
[11] Arismunandar, “Pendidikan bagi Masyarakat Marginal. Makalah Disajikan pada Konvensi Nasional Pendidikan VI 17-19 November β008 di Hotel Aston Denpasar,” β008. [12] “Stanford Encyclopedia Phylosophy,” β015. [Online].
Available: http://plato.stanford.edu/entries/affirmative-action/.
[13] Menteri Pendidikan Nasional, “Undang -Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan
Tinggi,” pp. 1–97, 2012.
[14] Arismunandar, “Afirmasi untuk Mendorong Multikulturalisme di PT. Disajikan pada Peluncuran Buku
Multikulturalisme, Malang β015,” Malang, β015.
[15] B. J. W. Wickenden, P. Drucker, and P. Drucker, “Creating
the Future: New Challenges for Boarding Schools,” no.
October 1994, pp. 1–12, 1995.
[16] A. Yue et al., “Dormitory management and boarding
students in China’s rural primary schools,” China Agric. Econ. Rev., vol. 6, no. 3, pp. 523–550, 2014.
[17] J. Hodges, J. Sheffield, and A. Ralph, “Home away from
home? Boarding in Australian schools,” Aust. J. Educ., vol. 57, no. 1, pp. 32–47, 2013.
[18] F. E. Bista, Min B.; Cosstick, “Providing education to girls
from remote and rural areas: advocacy brief.,” β005.
[19] S. Dharma et al., Tantangan Guru SMK Abad 21. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013. [20] C.-E. Society, “Vocational Education In remote area –
Chanakya-Educational Society,” 1996. [Online]. Available: http://wes.eletsonline.com/2015/vocational-education-in-remote-area-chanakya-educational-society/. [Accessed: 04-Oct-2017].
Biodata Penulis
INOVASI PEMBELAJARAN IPA TERPADU
Melania Suweni Muntini
1), Iim Fatimah
2), Diky Anggoro
3), Sudarsono
4)Departemen Fisika, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, 60111
Abstrak
Tantangan yang dihadapi oleh pengajar IPA adalah para siswa menganggap ilmu pengetahuan alam adalah sulit dan menakutkan. Untuk mengatasi hal tersebut para siswa perlu diberi abstraksi pelajaran ilmu pengetahuan alam yang memadahi, salah satunya melalui Praktikum. Salah satu kendala kegiatan observasi secara langsung atau praktikum adalah keterbatasan sarana dan prasana. Untuk mengetasi hal tersebut diperlukan inovasi pelaksanaan praktikum olehpara guru terutama untuk ipa terpadu. Inovasi pembelajaran IPA terpadu yang telah dikembangkan dengan memanfaatkan laboratorium alam di beberapa sekolah telah meningkatkan ketertarikan siswa pada mata pelajaran IPA dengan adanya keinginan manambah jumlah jam pelajaran IPA dan termasuk materi Fisika. Materi yang diberikan meliputi gerak, manfaat bahan magnetik alam dan pemanfaatan GPS (Global Positioning System) untuk menghitungbluasan taman.
Kata kunci: pelajaran IPA terpadu, percobaan, laboratorium alam, luas taman, magnetik, GPS.
Pendahuluan
Para pembelajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) memiliki tantangan tersendiri ketika harus memberi pemahaman tentang fenomena alam. Hal ini karena Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis, dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam. Perkembangan IPA selanjutnya tidak hanya ditandai oleh adanya kumpulan fakta saja, tetapi juga munculnya
“metode ilmiah” (scientific methods) yang terwujud
melalui suatu rangkaian ”kerja ilmiah” (working scientifically), nilai dan “sikap ilmiah” (scientific attitudes). Sehingga dapat dikatakan bahwa, IPA merupakan suatu rangkaian konsep yang saling berkaitan dengan bagan-bagan konsep yang telah berkembang sebagai suatu hasil eksperimen dan observasi, dan selanjutnya akan bermanfaat untuk eksperimentasi dan observasi lebih lanjut.
Untuk memberikan pemahaman tentang IPA secara utuh diperlukan pemahaman yang mendalam dan kompehensif tentang materi IPA. Inovasi pembelajaran juga diperlukan untuk pemahaman IPA yang lebih baik. Pendekatan konsep abstrak melalui percobaan dan pengamatan fenomena alam harus dan perlu dilakukan. Kegiatan ini bermanfaat
untuk membangun kepercayaan dan pembuktian ilmu pengetahuan alam ke benak para siswa, yang pada akhirnya akan meningkatkan ketertarikan siswa pada ilmu pengetahuan alam itu sendiri.
Hal baik yang dapat disampaikan ke siswa adalah adanya urutan pengamatan yang berkesinambungan sehingga tidak ada yang terputus antara fenomena alam
sederhana dan kecanggihan teknologi yang dirasakan oleh siswa dalam kehidupan sehari hari.
Dalam benak pengelola sekolah dan guru pengamatan/observasi, percobaan, dan pekerjaan laboratorium seringkali dikaitkan dengan peralatan yang banyak dan mahal, ruangan yang luas dan lain-lain. Laboratorium IPA dengan memanfaatkan alam yang ada di sekitar kita baik yang asli maupun buatan manusia sering terabaikan untuk kegiatan praktikum.
Kemajuan teknologi termasuk penggunaan
penyampaian materi ajar sangat diperlukan oleh inovator.
Dengan analisis tersebut, sangat diharapkan adanya optimalisasi pemahaman materi IPA oleh para siswa melalui sumber daya alam sekitar dan teknologi yang sudah ada di masyarakat secara umum.
Studi Literatur
Kurikulum yang berlaku di Indonesia untuk sekolah dasar dan menengah mengedepankan IPA secara terpadu. Dalam kurikulum 2013 secara eksplisist juga disampaikan tentang pembelajaran IPA secara terpadu dan diharapkan dapat menggunakan inovasi pembelajaran IPA secara terpadu. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik dalam memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. IPA yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia melalui dapat diidentifikasikan. Untuk tingkat SMP/MTs diharapkan ada penekanan pembelajaran Salingtemas (Sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) secara terpadu yang diarahkan pada pengalaman belajar. Pengalaman belajar dari alam membawa manfaat yang besar bagi para siswa dan pemanfaatan laboratorium alam penting dikembangkan oleh sekolah.
Merujuk pada pengertian IPA di atas, maka hakikat IPA meliputi empat unsur, yaitu: (1) produk: berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum; (2) proses: yaitu prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; metode ilmiah meliputi pengamatan, penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen, percobaan atau penyelidikan, pengujian hipotesis melalui eksperimentasi; evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan; (3) aplikasi: merupakan penerapan metode atau kerja ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari; (4) sikap: yang terwujud melalui rasa
ingin tahu tentang obyek, fenomena alam, makhluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru namun dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar. Oleh karena itu, IPA bersifat open ended karena selalu berkembang mengikuti pola perubahan dinamika dalam masyarakat.
Pengembangan inovasi pembelajaran IPA dicontohkandengan melalui langkah-langkah (1) mengacu pada materi pelajaran yang ada di SMP/MTs, (2) Sebagai rujukan akan ditinjau terlebih dahulu materi IPA di SMP/MTs. Materi tersebut meliputi materi makhluk Hidup dan Proses Kehidupan yangdi dalamnya siswa diajak belajar tentang objek IPA, klasifikasi makhluk hidup, organisasi kehidupan, energi dalam kehidupan, interaksi makhluk hiup dengan lingkungannya, pencemaran lingkungan, pemanasan global, sistem gerak pada manusia, struktur tumbuhan, sistem pencernaan, sistem ekskresi, sistem reproduksi, hereditas, dan perkembangan penduduk. Objek dari materi pelajaran IPA juga meliputi Benda/zat/Bahan dan Sifatnya yang meliputi karakteristik zat, sifat bahan, bahan kimia, atom, ion,dan molekul. (3) dipilih materi yang menarik dan sesuai yang ada di alam sekitar.
peningkatan kompetensi secara terus menerus. Peningkatan kemampuan memahami IPA melalui program inovasi pembelajaran harus melalui proses assesmen yang sesuai untuk mengukur pengetahuan dan konsep, keterampilan proses, dan penalaran tingkat tinggi (berpikir kritis, logis, kreatif) kemampuan kerja ilmiah selama pembelajaran IPA dalam rentang waktu tertentu. Untuk assesmen juga dapat dilakukan dengan mengadopsi bentuk tipe soal yang mampu mendorong PBM yang berkontribusi pada peningkatan literasi IPA siswa dan sekaligus menggali kemampuan berpikir ilmiah, kritis, kreatif, dan inovatif. Penilaian juga harus memberikan pengalaman secara langsung yang dinilai berdasarkan hasil observasi dan hasil kegiatan kepada siswa, sekaligus dimintai alasan mengapa kira-kira hasilnya serupa itu.
Pembahasan
Beberapa materi IPA yang bisa memanfaatkan laboratorium alam untuk inovasi pelajaran ipa terpadu diantaranya menghitung luas taman, sifat bahan, dan tekanan fluida. Beberapa materi praktikum telah diujikan dibeberapa sekolah diantaranya SMPN 5 Tulungagung yang dilaksanakan pada padaOktober 2015. Kegiatan praktikum melibatkan guru IPA dan para siswa kelas VIII. Dengan total peserta 52 orang. Praktikum yang dilaksanakan meliputi praktikum gerak parabola, sifat dan bahan magnetik dan GPS (Global Positioning System).
Materi praktikum yang menarik misalkan Praktikum Gerak Parabola, tujuan Percobaan adalah mengetahui pengaruh sudut (yang disimbolkan ɵ) terhadap jarak (yang disimbolkan x) jatuhnya air. Gerak parabola adalah gerak yang membentuk sudut tertentu terhadap bidang horizontal dengan menggunakan persamaan
(1) Percobaan dilakukan pada daerah mendatar ataupun daerah yang memiliki kemiringan atau lereng. Dengan demikian pemahaman gerak dan pada garis lurus maupun lengkungan dapat diperoleh dari percobaan ini. Lintasan dapat berupa air yng dapat digunakan secara berulang-ulang. Pemilihan air sebagai benta yang bergerak juga dapat dikombinasikan dengan percobaan lain misalkan sifat dan tekanan fluida.
Dari persamaan(1) dan dari lintasan yang terjadi, siswa dapat menghitung dan membuktikan persamaan tersebut bawa pada = 450. Selain itu juga dapat melakukan pengamatan terkait dengan
tekanan fluida. Pada Gambar (1) diperlihatkan keasikan parasiswa ketika melakukan percobaan di luar ruangan.
Gambar 1. Percobaan di luar kelas.
Praktikum Sifat dan Bahan Magnet juga dilakukan untuk mengetahui sifat magnet suatu bahan. Bentuk mainan yang lucu-lucu seperti sayur-sayuran, buah-buahan, binatang dan lain-lain sering kita jumpai pada pintu kulkas merupakan bahan magnetik.
Gambar 2. Mainan yang dapat menempel di dinding kulkas
Kebanyakan mainan yang dapat menempel di pintu kulkas, disebabkan adanya magnet yang ditempelkan pada bagian belakang mainan dan kemudian ditempelkan dipintu kulkas, jadi mainan yang menempel tersebut bekerja menggunakan magnet. Magnet digunakan bukan hanya pada mainan saja tetapi secara luas dapat digunakan juga dalam kehidupan sehari-hari, misalnya pada bel sekolah, tape recorder, TV, HP, motor listrik, generator listrik, dan lain-lain. Sehingga dari penjelasan tersebut dapat kita simpulkan bahwa kemampuan suatu benda untuk menarik benda lain yang berada didekatnya disebut kemagnetan dan bendanya disebut magnet.
GPS adalah sistem navigasi yang menggunakan satelit yang didesain agar dapat menyediakan posisi secara instan. Kecepatan dan informasi waktu di hampir semua tempat di muka bumi, setiap saat dan dalam kondisi cuaca apapun. Sedangkan alat untuk menerima sinyal satelit yang dapat digunakan oleh pengguna secara umum. Fungsi GPS untuk Sistem Informasi Geografis digunakan untuk keperluan sistem informasi geografis, seperti untuk pembuatan peta, mengukur jarak perbatasan, atau bisa dijadikan sebagai referensi pengukuran suatu wilayah.Sebagai contoh telah dilakukan pengukuran luas beberapa taman kota di Surabaya. Aktifitas ini ini juga dapat mengenalkan teknologi satelit sejak dini kepada pelajar dan masyarakat dengan lokasi taman Surabaya.
Pengoperasian GPS dapat digunakan oleh semua orang secara bersamaan tanpa bergantung pada batas politik dan alam. Skema cara kerja dari GPS diperlihatkan seperti pada Gambar 3.
Gambar 3. Skema Cara Kerja GPS
Penghitungan luas taman dengan menggunakan GPS dapat dilakukan dengan terlebih dahulu menentukan taman yang akan dihitung luasnya. Misalkan akan dihitung luas sebuah taman di Surabaya dan dalam salah satu aplikasi tampak seperti pada Gambar 4. Selanjutnya polygon yang terbentuk dalam aplikasi ditandai, sehingga dapat dibuat beberapa segitiga.
Gambar 4. Taman yang akan dihitung luasnya dalam aplikasi
Dengan menggunakan Teorema Heron, dapat dihitung luas dari suatu segitiga sembarang. a, b dan c adalah ketiga sisi segitiga, dengan menggunakan hubungan bahwa keliling segitiga S adalah setengah dari keliling segitiga tersebut, yang selanjutnya dalam persamaan dinyatakan sebagai
(2) Menurut Teorema Heron, hubungan antara luas segitiga sembarang (L) dan keliling segitiga dinyatakan sebagai
……….(γ)
dengan a,b, c masing-masing adalah panjang sisi segitiga sembarang yang sudah ditandai seperti pada Gambar 4. Selanjutnya hubungan antar kaki segitiga, dinyatakan dalam rumus cosinus yang dinyatakan sebagai :
cos a = cos b cos c + sin b sin c cos A. cos b = cos c cos a + sin c sin a cos B cos c = cos a cos b + sin a sin b cos C.
Cara menentukan luas taman adalah dengan terlebih dahulu menentukan lokasi taman yangkemudian ditandai pada GPS. Selanjutnya koordinat dari GPS untuk lokasi tersebut dimasukkan ke google earth. Selanjutnya Gambar polygon pada google earth dibagi menjadi gambar bentuk segitiga. Kemudian hitung luas segitiga dalam poligon dan jumlahkan.
Dari Gambar 4 diperoleh bahwa penanda gambar adalah 6 dengan masing-masing koordinat seperti pada tabel 1.
a
b c
b2 a2
a3
c3 b4
a4
1
2
Tabel1. Titik koordinat dan posisi masing-masing titik koordinat.
point S E
1 07 17' 27.5" 112 44' 21.0" 2 07 17' 30.4" 112 44' 21.1" 3 07 17' 30.5" 112 44' 24.7" 4 07 17' 29.6" 112 44' 25.9" 5 07 17' 28.6" 112 44' 26.1" 6 07 17' 28.0" 112 44' 25.6" Selanjutnya dilakukan penghitungan panjang sisi segitiga yang masing-masing adalah a, b, dan c. Dengan menggunakan Teorema Heron, diperoleh panjang keliling dan luas segitiga seperti diperlihatkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Panjang sisi segitiga, panjangkeliling dan luas masing-masing.
Se gi tig a
a (m)
b (m)
c (m)
s (m)
L (m2) 1
89,7 7
110,
51 146,64 173,46
4950,5 7 2
142, 0
82,1
2 146,64 185,38
5672,0 4 3
46,1 6
82,1
2 50,35 89,32
1039,4 8 4
24,0 8
31,5
4 50,35 52,98 294,29
Σ Luas Taman 11956,38
Luas yang diperoleh dari pemanfaatn tekologi GPS yang sudah terpasang di HP dan taman yang ditentukan adalah 11956,38 m2
.
Hasil ini cukup baik bila dibandingkandengan pengukuran konvesional yang ada di data BPN yaitu 12100 m2sehingga ada selisih 1%.
Kesimpulan
Pembekalan materi-materi untuk inovasi pembelajaran IPA utamanya IPA terpadu dengan memanfaatkan laboratorium alam telah dilakukan di beberapa sekolah. Dari kegiatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini sangat diminati oleh guru maupun siswanya. Dari angket yang dibagikan rata-rata siswa menginginkan penambahan jam belajar menjadi hampir 2 kali lipat dari jam semula.
Daftar Pustaka
1] Alonso & Finn,"Fundamental University Physics", Addison Wesley Pub Comp Inc,13`.ed, Calf, 1990
2] Giancoli, DC., (terj, Yuhilza H), 'Fisika, jilid 1', Ertangga, Jakarta, 2001
3] Petunjuk praktikum Fisika Dasar , Dosen-dosen Fisika ITS, Surabaya, 2008
4] Panduan Kurikulum SMP, Diknas, 2012 5] Tipler, PA,(ted. L Prasetio dan R.W.Adi),
"Fisika : untuk Sains dan Teknik, Jilid 1", Erlangga, Jakarta, 1998
INOVASI PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN DALAM RANGKA PERCEPATAN
PEMBANGUNAN DI DAERAH PINGGIRAN
Prof. Sofendi, M.A., Ph.D.
Universitas Sriwijaya
Abstrak
Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan menjadi visi pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla . Berbagai permasalahan yang muncul dalam pendidikan di perbatasan seperti masalah guru, siswa, kurikulum, fasilitas, dan lingkup sosial masyarakat merupakan masalah yang terjadi dalam pengembangan pendidikan di daerah perbatasan, Beberapa masalah yang menyebabkan rendahnya kualitas pendidikan di daerah perbatasan/pinggiran, adalah rendahnya kualitas sarana fisik, rendahnya kualitas guru, rendahnya kesejahteraan guru, kurangnya pemerataan kesempatan pendidikan. beberapa model inovasi pendidikan yang bisa digunakan diantaranya , yaitu sekolah-sekolah filial, sarjana mengajar, pengembangan lesson study, dan/atau pengembangan sekolah vokasi berbasis keunggulan daerah. Dengan adanya beberapa terobosan/inovasi pendidikan yang dilaksanakan daerah pinggiran, diharapkan akan terjadi percepatan pembangunan yang berbasis keunggulan sumber daya alam daerah dengan tetap memperhitungkan sustainibilas, konektivitas dengan sektor lain, serta bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat.
Kata kunci: Pemodelan, retakan, ledakan, visualisasi.
1. Pendahuluan
Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan menjadi visi pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Visi tersebut tertuang dalam Nawacita ketiga. Komitmen tersebut sekaligus mencerminkan perhatian pemerintahan saat ini yang memprioritaskan pembangunan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Daerah tertinggal, terdepan, dan terluar adalah wajah depan Indonesia yang harus diperbaiki dan didorong kemajuannya sebagai perwujudan bahwa negara hadir dan melindungi segenap warga [2].
Terdapat berbagai isu penting di pinggiran antara lain: Isu Batas Negara Pertahanan dan Keamanan Daerah Perbatasan, Isu Kelembagaan, Isu Perekonomian Masyarakat, Isu Pendidikan, Isu Infrastruktur, Isu Potensi Daerah. Keberadaan berbagai isu tersebut sebenarnya telah terjadi sekian lama, akan tetapi sampai sekarang isu-isu tersebut masih relevan di kawasan perbatasan dan menjadi bahan permasalahan yang tidak kunjung terselesaikan. Diperlukan suatu inovasi untuk
mempercepat penyelesaian permasalahan-permasalahan yang ada [3].
Berdasarkan berbagai isu yang ada, masalah pendidikan merupakan masalah dasar dan prioritas dalam pembangunan daerah perbatasan/pinggiran. Pada kenyataannya pendidikan di kawasan perbatasan kondisinya sangat memprihatinkan. Dengan kata lain, sebagai gerbang terdepan Indonesia, pendidikan didaerah perbatasan keadaannya jauh dari ideal.
2. Permasalahan Pendidikan di Daerah Pinggiran.
kualitas pendidikan di daerah perbatasan/pinggiran, adalah :
a. Rendahnya Kualitas Sarana Fisik
Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media pembelajaran yang rendah, buku perpustakaan tidak lengkap bahkan tidak ada. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.
b. Rendahnya Kulaitas Guru
Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum professional untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat. Bukan itu saja, sebagian guru di daerah perbatasan/pinggiran bahkan dinyatakan tidak layak mengajar. Kelayakan mengajar itu jelas berhubungan dengan tingkat pendidikan guru tersebut. Bagi daerah perbatasan jika pendidikan guru dijadikan sebagai kalayakan mengajar, maka akan menambah banyaknya sekolah yang tidak punya guru karena tidak adanya SDM yang tersedia. Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi sebagai cermin kualitas. Tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Kualitas guru yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru. c. Rendahnya Kesejahteraan Guru
Rendahnya kesejahteraan guru berperan dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan di daerah perbatasan/pinggiran. Dengan pendapatan rendah banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan. Misalnya, ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, atau lainnya. Dengan adanya UU Guru dan Dosen, barangkali kesejahteraan guru dan dosen (PNS) agak lumayan, yaitu dalam Pasal 10 kelayakan hidup. Di dalam pasal itu disebutkan guru dan dosen akan mendapat penghasilan yang pantas dan memadai, antara lain meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji,
tunjangan profesi, dan/atau tunjangan khusus serta penghasilan lain yang berkaitan dengan tugasnya. Mereka yang diangkat pemkot/pemkab bagi daerah khusus juga berhak atas rumah dinas.
d. Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan
Kesempatan memperoleh pemerataan pendidikan masih terbatas pada tingkat sekolah dasar. Hal ini disebabkan karena hanya tingkat pendidikan itu saja yang tersedia. Selain itu, faktor sosial budaya masyarakat juga cukup berperan. Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Dengan demikian, diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut.
Jurang perbedaan yang demikian lebar tersebut walaupun sangat sulit untuk dihilangkan, paling tidak dipersempit melalui terobosan-terobosan yang kreatif dan inovatif dengan tetap merpertimbangkan secara bijak faktor-faktor strategis seperti faktor politik, ekonomi, sosial, budaya, dan faktor lainnya. e. Inovasi Sebagai Kata Kunci untuk
Percepatan
Kata inovasi seringkali dikaitkan dengan perubahan tapi tidak setiap perubahan dapat dikategorikan sebagai inovasi. Rogers memberikan batasan yang dimaksud dengan inovasi adalah suatu gagasan, praktek, atau objek benda yang dipandang baru oleh seseorang atau kelompok adopter lain. Kata "baru" bersifat sangat relatif, bisa jadi karena seseorang baru mengetahui, bisa juga karena baru mau menerima meskipun sudah lama tahu. Lebih lanjut Rogers mengemukakan karakteristik yang dikandung oleh suatu inovasi mencakup [4] : a. Adanya keunggulan relatif: sejauh mana inovasi
dianggap lebih baik dari gagasan sebelumnya. Biasanya tolok ukurnya adalah faktor ekonomi, sosial, kepuasan, dan kenyamanan peneriman. b. Kesesuaian: merujuk kepada bagaimana suatu
inovasi dipandang konsisten dengan nilai-nilai yang ada, pengalaman yang lalu, dan sejauh mana dapat mengatasi kebutuhan calon penerima (adapter).
dan apakah tingkat kesulitan tersebut seimbang dengan kegunaannya.
d. Trialabilitas: aspek ini berkaitan dengan bagaimana tingkat ketercobaannya. Apakah inovasi tersebut mudah untuk diujicobakan. e. Observabilitas: merujuk kepada bagaimana
manfaat (hasil) inovasi dapat dilihat oleh masyarakat terutama masyarakat sasaran. Berdasarkan batasan dan penjelasan Rogers tersebut, dapat dikatakan bahwa munculnya inovasi karena ada permasalahan yang harus diatasi, dan upaya mengatasi permasalahan tersebut melalui inovasi (seringkali disebut dengan istilah "pembaharuan" meskipun istilah ini tidak identik dengan inovasi). Inovasi ini harus merupakan hasil pemikiran yang original, kreatif, inovatif, dan tidak konvensional. Penerapannya harus praktis di mana di dalamnya terdapat unsur-unsur kenyamanan dan kemudahan. Semua ini dimunculkan sebagai suatu upaya untuk memperbaiki situasi/keadaan yang berhadapan dengan permasalahan.
Kualitas pendidikan sangat dipengaruhi oleh keberadaan sarana dan prasarana pendidikan yang ada berikut kelengkapannya. Peran pendidikan sebagai prima mover dalam proses pembangunan (Mardiana, 2006:12). Secara fisik, pendidikan berhasil memenuhi kebutuhan tenaga kerja dari segala strata dan segala bidang bagi pembangunan. Sedangkan dari aspek non-fisik, pendidikan berhasil menanamkan semangat dan jiwa modern, yang diwujudkan dalam bentuk kepercayaan yang
tinggi pada “akal” dan teknologi, demi menciptakan
masa depan yang didambakan (Zamroni, 2003 dalam Brahmantiyo, 2007). Selain para guru, Zakso juga menyebutkan bahwa orang tua dan masyarakat perlu dilibatkan dalam proses pembaharuan pendidikan. Bentuk utama dari keterlibatan orang tua mencakup [5]: (1) Keterlibatan langsung di sekolah (seperti sebagai sukarelawa atau asisten), (2) Keterlibatan orang tua dalam aktivitas pembelajaran anak di rumah, (3) Relasi sekolah orang tua atau masyarakat, dan (4) Badan penasehat pendidikan. Sejalan dengan itu, Wahyudi (2014) menyebutkan bahwa pada hakekatnya hubungan sekolah dengan masyarakat dapat ditinjau dari dua dimensi, yaitu kepentingan sekolah dan kebutuhan masyarakat.
Proses pembaharuan secara sederhana digambarkan Fulan [5] ke dalam tiga tahapan, yaitu:
1. Inisiasi
Pada tahapan ini ada 8 hal yang perlu mendapat perhatian, yakni: eksistensi dan kualitas inovasi;
akses terhadap inovasi; advokasi dinas pendidikan; advokasi para guru; agen-agen pembaharuan eksternal; tekanan masyarakat; kebijakan baru termasuk pendanaan baik pada level pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten, serta; pemecahan masalah dan orientasi birokratis Proses inisiasi dalam pembaharuan pendidikan dilakukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor: relevansi, kesiapan dan ketersediaan sumber-sumber. Idealnya proses inisiasi ini didasarkan atas ketiga hal tersebut, bukan salah satu atau beberapa di antaranya.
2. Implementasi
Proses pelaksanaan program inovasi bersifat lebih intriktis karena melibatkan banyak pihak dan karena pembaharuan itu sendiri. Banyak kebijakan yang inovatif hanya bagus pada tataran konseptual, namun sulit diimplementasikan. pada tataran konseptual, namun sulit diimplementasikan.
3. Difusi (Penyebaran)
Konsep diffusion sering kali digunakan secara sinonim dengan konsep dissemination, tetapi di sini diberikan konotasi yang berbeda satu dengan lain. Definisi diffusion menurut Roger (1962) adalah
“penyebaran suatu ide baru dari sumber
invention-nya kepada pemakai atau penyerap yang terakhir”. Kalau istilah diffusion adalah netral dan betul-betul memaksudkan penyebaran suatu pembaharuan,
dissemination digunakan di sini untuk menunjukkan suatu pola difusi yang terencana, yang di dalamnya beberapa biro (agency) mengambil langkah-langkah khusus untuk menjamin agar suatu pembaharuan akan mencapai jumlah pengadopsi (penyerapan pembaharuan) paling banyak (Wijaya, 1992:12). Lebih lanjut Roger (1987) mengemukakan ada beberapa ciri suatu pembaharuan yang relevan untuk diterima, yaitu:
1) Secara relatif lebih menguntungkan dari pada praktik atau kebiasaan yang sudah ada.
2) Sepadan dengan nilai-nilai yang ada dan pengalaman potensi adopsi masa lalu.
3) Tidak terlalu rumit.
4) Disesuaikan dengan daya serap adopter, atau dapat didemonstrasikan pada suatu basis tertentu.
6) Secara relatif pengaruh personal diri orang-orang terkemuka lebih kuat bagi yang mengikuti kemudian.
f. Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran di wilayah Pinggiran
Dalam UU No. 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah Pasal 361 disebutkan bahwa Pemerintah Pusat