• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Hasil Penelitian

4.2.1 Hasil Penelitian Fakta Cerita

4.2.1.2 Hasil Penelitian Alur

4.2.1.2.1 Hasil Penelitian Alur (versi Widya)

Karakter Nadya

Nadya adalah adik santriwati sewaktu Nur masih di pesantren. Nadya hanya muncul sekali pada epilog versi Nur.

(K.114) Nadya

Tiba-tiba ia mendengar seseorang memanggilnya. “Mbak Nur, ya” (Simpleman, 2019: 246247).

(K.115) Nadya

Nur berbalik, dilihatnya sosok manis yang tengah berdiri, tangannya erat mengapit buku, ia tersenyum. “Nadya”, ucap Nur, gadis manis itu adalah santriwati saat Nur masih menempuh pendidikan di pondok pesantren ini (Simpleman, 2019: 247).

4.2.1.2 Hasil Penelitian Alur

Hasil penelitian alur dibagi menjadi dua yaitu hasil penelitian alur (versi Widya) dan hasil penelitian alur (versi Nur).

4.2.1.2.1 Hasil Penelitian Alur (versi Widya)

Hasil penelitian alur versi Widya dibagi menjadi tiga yaitu bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir.

Bagian Awal (versi Widya)

Bagian awal cerita dalam novel “KKN Di Desa Penari”, dimulai dengan memperkenalkan tokoh utama yaitu Widya. Ia adalah seorang mahasiswi di sebuah universitas di Jawa Timur. Ia akan melakukan KKN di sebuah desa yang terpencil. Selanjutnya menceritakan tentang kejadian-kejadian aneh yang dialami Widya mulai dari penampakan Badarawuhi dan Nur yang kerasukan.

(K.116)

Ia terlihat tengah menunggu seseorang, seakan apa yang ia tunggu akan segera datang, meski ia tidak bisa menyembunyikan kecemasan di raut wajahnya. Tiba-tiba kecemasannya teralihkan begitu getaran ponsel di

45

kantong sakunya ada. Ia segera meraih ponsel untuk mengangkat panggilan seseorang yang sangat dikenalnya. “Saya sudah mendapatkan tempat untuk kita KKN, Wid. Kamu sudah menghubungi Bu Anggi?” tanya seseorang di seberang sana. Perubahan wajah terlihat jelas pada perempuan itu. Kecemasannya berubah menjadi senyuman. Ia merasa lega, setidaknya, proposal yang ia ajukan kemarin sudah menemui kejelasan. Proposal pengajuan untuk melaksanakan tugas KKN yang ia kehendaki di sebuah desa tertinggal (Simpleman, 2019: 23).

(K.117)

“Widya Sastra Nindya,” kata seorang wanita yang menjadi penanggung jawab sekaligus pengawas lapangan. “Kamu benar mau mengambil tempat ini? Jauh sekali loh tempat ini.” “Iya, Bu,” jawab Widya mantap. Saat ini, Widya menjalankan tugasnya sebagai mahasiswi semester akhir, di sebuah universitas Jawa Timur. “Ya sudah, nanti saya pertimbangkan, tapi saya butuh laporan observasi sebelumnya. Selain itu jangan lupa kelengkapan surat dari pemerintah setempat, meliputi perangkat desa sampai jenjang terendah,” jawab wanita itu kemudian. Ada nada sedikit ragu saat ia mengetahui jawaban Widya. Tapi ia pun tidak punya hak untuk melarang mahasiswinya, apalagi menyangkut kegiatan KKN. “Ingat ya, di tempat KKN, kamu nggak cuma bawa badan, tapi juga bawa nama kampus, “ tutur Bu Anggi. Kemudian wanita itu mempersilahkan Widya pergi. “Terima kasih, Bu,” sahut Widya, tidak bisa menahan luapan semangat karena akhirnya dapat melaksanakan tugas ini bersama sahabatnya (Simpleman, 2019: 34).

(K.118)

Widya, Ayu, Nur, Bima, Wahyu, dan Anton bersiap menuju desa yang akan dijadikan tempat melaksanakan KKN selama satu setengah bulan ke depan. Mengabdikan diri, membantu, dan mengedukasi kehidupan masyarakat agar menjadi lebih baik, degan sarana dan prasarana penunjang proker (Program Kerja) mereka yang telah selesai dikerjakan.

Kelompok Widya masuk ke mobil yang akan mengantarkan mereka. Perbekalan yang sudah mereka siapkan jauh-jauh hari juga sudah tertata rapi di bagasi mobil. Setelah semua siap, mobil melaju menuju tempat di mana mereka nanti akan tinggal, di sebuah desa di pelosok Jawa (Simpleman, 2019: 89).

(K.119)

Motor masih melaju kencang, tapi Widya masih bisa mendengar tabuhan gamelan itu. Suaranya terasa mendayu-dayu semakin kencang terdengar oleh telinga. Seakan gamelan tersebut dimainkan hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempatnya menembus medan jalan. Aneh, dari jauh Widya melihat sesososk manusia temgah menelungkup, seakan memasang pose sedang menari. Ia berlenggak-lenggok mengikuti irama musik gamelan yang terus ditabuh dengan ritme yang cepat. Widya berusaha menatapnya dengan saksama, lalu dibuat terperangah dengan pemandangan itu, sebelum akhirnya bayangan itu perlahan menghilang (Simpleman, 2019: 18).

46 (K.120)

“Sini, sini, perkenalkan, ini adalah Pak Prabu. Beliau nanti yang akan membantu kita mengerjakan proker kita bersama warga. Beliau kepala desa di sini” ucap Ayu bangga. Widya dan yang lain langsung ikut mendekati, menyalami, dan memohon bantuannya selama mereka tinggal di sini (Simpleman, 2019: 20).

(K.121)

“Cah Ayu, kancamu bakal onok sing gak slamet nek kelakuane jek pancet, rungokno aku, kandanono mumpung gorong kebablasan, keblowok tambah jeru maneh, soale tingakhe bakal nyeret kabeh menungso nang kene.” (Anak cantik, akan ada temanmu yang tidak akan selamat bila ia tidak berhenti melakukan tindakan dosanya. Dengarkan saya, beritahu dia sebelum dia terperosok semakin jauh, melewati batas yang akan membuat semua urusan ini semakin dalam hingga mencelakai semua orang yang ada di sini). Setelah mengatakan itu, Nur berteriak keras sekali. Setelahnya ia jatuh tersungkur di depan Widya. Nur tak sadarkan diri (Simpleman, 2019: 95).

Bagian Tengah (versi Widya)

Bagian tengah cerita merupakan bagian terpenting karena pada bagian ini ditemukanlah inti cerita. Cerita berlanjut pada bagian tengah cerita, tanpa terasa Widya dan kawan-kawan sudah tinggal di desa selama tiga minggu. Semuanya semakin serius mengejar proker mereka. Namun beberapa hari yang lalu, Anton bercerita tentang Bima yang berkelakuan aneh dan mencurigakan.

(K.122)

“Bima suka mengurung diri dalam kamar kalau menjelang sore. Awalnya tak kira istirahat, tapi anehnya kok setiap hari menjelang sore pasti langsung masuk kamar. Tidak cuma itu, ia seperti menyembunyikan sesuatu, tapi aku gak tahu apa itu,” kata Anton, lantas ia kemudian melanjutkan ceritanya. “Pernah karena aku sudah curiga, ia tak tungguin dari luar kamar. Demi Tuhan, ada suara perempuan dari dalam kamarnya. Bila ia sampai melakukan tindakan asusila di posko ini, aku bisa perpanjang urusan ini. Yang dia bawa bukan cuma namanya saja, tapi nama kampus juga,” tukas Anton kesal saat bercerita kepada Widya.

“Terus waktu kamu tunggu, siapa yang keluar dari sana?” tanya Widya penuh selidik. “Nah itu, masalahnya gak ada siapa-siapa yang keluar, cuma dia saja. Terus jendelanya juga ada kayu datarnya, bukan jendela yang bisa dilompati orang seenaknya, kecuali kayu itu dibongkar” (Simpleman, 2019: 99100).