• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3.2 Hasil Penelitian Faktor-Faktor Terpilihnya

Wawancara dilakukan dengan model tatap muka empat mata tanpa pengaruh pihak lain atau pihak ketiga. Pengambilan sampel dilakukan dengan pertimbangan tertentu dalam menentukan kategori infoman dari berbagai unsur.

Dari hasil analisis wawancara terhadap informan dari dua jenis kelamin yang berbeda meskipun terdapat lebih banyak laki-laki dari pada perempuan dan semua informan ikut memilih pada pileg Aceh Tamiang tahun 2019 dengan karakteristik pemilih seperti pada tabel 12 sampai dengan tabel 18 ditemukan berbagai faktor-faktor yang menyebabkan terpilihnya anggota legislatif tersebut.

Dalam konteks demokrasi lokal, penelitian ini juga ingin menggali tingkat kesadaran masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang yang berkaitan dengan pemilihan legislatif yang dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

Tabel 4.21. Alasan Informan Ikut Memilih Dalam Kegiatan Pileg Tahun 2019 No Alasan Ikut Memilih Persentase (%)

1. Hak Sebagai Warga Negara 60

2. Kewajiban Sebagai Warga Negara 40

Jumlah 100

Pada waktu ditanyakan alasan untuk ikut memilih pada pemilihan legislatif tahun 2019 ada 60% informan menyatakan bahwa pemilihan legislatif adalah haknya, sedangkan sebanyak 40 persen menyatakan itu adalah kewajibannya sebagai warga negara. Dalam membangun konteks demokrasi lokal, dapat disimpulkan bahwa responden yang dengan sadar memilih karena memilih itu

adalah hak sudah mencapai 60 persen, Sisanya 40 persen menganggap pileg hanyalah kewajiban semata sebagai warga kabupaten Aceh Tamiang.

4.3.3. Modal Politik

Modal politik menjadi sangat sentral bagi semua pasangan calon. Dapat dipastikan bahwa jika modal politik tidak baik maka hasilnya juga tidak baik.

Dalam tulisan ini, faktor-faktor yang digolongkan sebagai modal politik adalah dukungan partai politik, kinerja tim sukses, dan kampanye.

4.3.3.1.Dukungan Partai Politik

Pada Pemilihan Legislatif Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2019, Partai Gerindra telah berhasil meloloskan 6 Calon Anggota Legislatif terpilih, Sesuai dengan instruksi Pimpinan Partai di tingkat Provinsi yang memerintahkan para kader partai untuk menjadikan Partai Gerindra sebagai partai pemenang dengan memperoleh kursi Ketua DPRK Aceh Tamiang dan memperoleh suara untuk Pilpres di atas 60% yang juga berhasil dicapai oleh Partai Gerindra Kabupaten Aceh Tamiang. Terpilihnya ke-enam caleg ini tidak terlepas dari dukungan partai politik.

Dukungan dari partai politik dimulai dari proses penjaringan, penetapan nomor urut, sampai ke dalam upaya memenangkan caleg tersebut, dan kontribusi partai tidak hanya sampai di situ, partai juga memfasilitasi saksi di tiap-tiap TPS yang telah dibiayai menggunakan dana partai, jadi para caleg hanya ditugaskan untuk mencari saksi luar TPS sebanyak-banyaknya guna untuk mendulang suara pribadi para caleg dan menjaga suaranya agar tetap aman.

Jauh sebelum pelaksanaan Pileg, para bakal calon anggota legislatif sudah berlomba mendapatkan dukungan partai politik agar dapat berafiliasi dan terdaftar dari partai tersebut serta diberikan nomor urut yang strategis oleh partai politik.

Apalagi karena partai politik ini menjadi satu-satunya syarat untuk dapat mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif agar dapat mengikuti kontestasi.

Dari keterangan para informan yang berasal dari kategori anggota legislatif terpilih, mereka tidak dikenakan biaya kompensasi untuk partai dan juga gratis untuk penetapan nomor partai, dikarenakan nomor partai ditetapkan berdasarkan loyalitas kader, integritas, kapabilitas, serta kemampuan finansial para caleg.

Dalam upaya memenangkan seluruh calon anggota legislatif peranan partai politik tidak dapat diabaikan karena masing-masing punya peranan tersendiri. Hal ini karena partai-lah yang mengusung mereka sebagai calon anggota legislatif, ini berarti bahwa partai juga ikut bekerja untuk memenangkan mereka melalui jaringan struktur partai yang ada hingga ke desa-desa. Bahkan rakyat melihat bahwa keseriusan saat melakukan proses di internal partai hingga ditetapkan menjadi calon oleh partai tersebut sangat mempengaruhi animo masyarakat. Bagi masyarakat jika sudah lolos sebagai calon dari suatu partai politik, maka yang bersangkutan benar-benar sudah cukup layak sebagai calon yang ikut kontestasi Pileg.

Pada pileg tahun 2019 Partai Gerindra berhasil menyumbangkan suara partai sebanyak 2.551 suara sah atau setara dengan 1 kursi Dewan Pimpinan Rakyat Kabupaten Aceh Tamiang, tentu itu jumlah suara yang sangat signifikan, meningat suara partai dari partai politik lain yang terbanyak tidak sampai setengahnya dari perolehan suara Partai Gerindra, yakni Partai Demokrat dengan perolehan suara partai sebanyak 1.225 suara sah.

4.3.3.2.Kinerja Tim Sukses

Berbeda dengan partai politik yang kehadirannya sudah diperebutkan jauh sebelum pencalonan pasangan calon, kehadiran tim sukses ini biasanya dibentuk menjelang diadakannya Pileg. Tim sukses Pileg dapat berasal dari struktural partai politik pengusung tetapi juga dapat berasal dari luar partai politik pengusung atau kombinasi keduanya. Dalam menghadapi Pileg tahun 2019, berdasarkan wawancara dua informan dari kategori anggota legislatif terpilih yakni Suprianto, ST, dan Fitriadi mengutarakan bahwa keduanya membentuk tim sukses yang berasal dari partai politik dan dari luar partai politik. Tokoh masyarakat yang bukan kader partai “dirangkul” menjadi bagian dari tim suksesnya.

Suprianto, ST sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Kabupaten Aceh Tamiang membentuk tim sukses secara berjenjang. Tim sukses induk dari struktural partai dibentuk untuk bertanggung jawab di setiap Kecamatan yang dipimpin oleh berbagai Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) yaitu; Usman Puteh (Manyak Payed), Ponijan (Banda Mulia), Samsul (Bendahara), Irianto (Seruway), Cut (Karang Baru), Poniman (Rantau), M. Ali (Kuala Simpang),

Abdul Hamid (Sekrak), Usman (Tamiang Hulu), Suherman (Tenggulun), Arif (Kejuruan Muda), dan Erwin (Bandar Pusaka), selanjutnya Ketua PAC tersebut membawahi tim sukses desa yang bekerja hingga wilayah Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan mengkoordinir seluruh saksi yang berjaga di tiap-tiap TPS.

Untuk tim sukses yang berasal dari luar Partai Gerindra dibentuk secara perseorangan oleh masing-masing caleg, seperti tim sukses yang dibentuk oleh Fitriadi antara lain sebagai berikut: Feri, Riadi, Zainal, Heri, Wanda, Franco, Marjuki, dan Rusli yang bertugas sebagai koordinator lapangan di tiap-tiap desa dan membawahi para saksi yang bertugas di TPS.

Tim sukses dibentuk berdasarkan tingkat loyalitas yang tinggi, dikenal, dan populer di kalangan masyarakat, tim sukses itu sendiri dipilih dari berbagai kalangan yang dianggap mewakili di setiap titik-titik fokus yang ditargetkan menjadi lumbung suara seperti : tokoh agama, tokoh kelompok pertanian/perkebunan, perangkat desa, hingga sanak saudara yang dianggap memiliki kompetensi dalam menggalang suara, melakukan sosialisasi, dan kampanye ke masyarakat.

Saat mewawancarai informan dari kategori pemilih, ketiga informan mengutarakan bahwa ajakan tim sukses saat masa kampanye berlangsung maupun dari jauh-jauh hari sebelum Pileg diselenggarakan sangat mempengaruhi mereka (pemilih) untuk memilih calon yang tim sukses sosialisasikan, dikarenakan para tim sukses memperkenalkan para caleg dengan citra-citra positifnya serta menjanjikan akan mengawal aspirasi para calon pemilih.

4.3.3.3.Kampanye

Sudah menjadi kebiasaan dan sesuai dengan tahapan Pileg, sebelum berlangsungnya pemungutan suara, masing-masing caleg diberikan kesempatan melakukan kampanye yang dijadwalkan oleh KPU/KIP dimulai pada tanggal 23 September 2018 hingga 13 April 2019 untuk bersosialisasi, mengutarakan program kerja, serta menyerap aspirasi kepada calon pemilih, kampanye dilakukan dengan slogan, pembicaraan/dialog, barang cetakan, penyiaran barang rekaman berbentuk gambar atau suara, dan simbol-simbol.

Kampanye bersamaan antara Caleg DPR-RI yaitu Ir. T.A. Khalid untuk DPR-RI dari Partai Gerindra yang merupakan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Gerindra Aceh yang kini telah berhasil menjadi Anggota Legislatif, dan H.

Jauhari Amin, SH, MH, untuk DPRA tingkat Provinsi yang juga telah berhasil mendapatkan kursi di Dewan Pimpinan Rakyat Aceh, serta para caleg-caleg dari Partai Gerindra Kabupaten Aceh Tamiang ada beberapa kali dilakukan untuk mendulang suara lebih banyak dan agar lebih efektif dalam pengumpulan massa dalam waktu yang bersamaan dan lebih efisien dalam penggunaan dana kampanye.

Janji-janji politik yang ditawarkan dalam program kerja oleh caleg-caleg dari Partai Gerindra yakni : Suprianto, ST dan Calon Anggota Legislatif lainnya relatif sama antara lain sebagai berikut :

1. Rehabilitasi atau pembangunan sarana dan prasarana tempat ibadah 2. Pembinaan syariat islam, pengadaan baju wirid, dan pengadaan Al-Qur’an 3. Pengadaan dan pembangunan sarana dan prasarana pemerintahan

4. Pembangunan saluran drainase/gorong-gorong 5. Pembangunan jalan dan jembatan desa

6. Pembangunan sumur bor 7. Pembangunan rumah dhuafa

8. Peningkatan produksi hasil peternakan dan perikanan 9. Pemberdayaan rumah tangga dan kerajinan bidang pangan 10. Rehabilitasi rumah tidak layak huni

11. Rehabilitasi sarana dan prasarana tempat olahraga.

Program kerja tersebut akan dijadikan sebagai bekal bagi calon pemilih dalam menenentukan pilihannya nanti pada saat pencoblosan, idealnya program kerja yang ditawarkan para caleg merupakan tolok ukur dalam menentukan seperti apa kira-kira kelak kinerja caleg tersebut jika berhasil menang. Para pemilih yang mencoblos dan mendukung Suprianto, ST dan Fitriadi tidak terlalu mendengarkan materi kampanye saat disosialisasikan, dikarenakan dari pengalaman para pemilih banyak dari caleg-caleg yang sudah terpilih tetapi tidak menepati janji-jani saat masa kampanye hingga tidak pernah lagi berkunjung ke daerah-daerah yang dulunya pernah dikunjungi saat masa kampanye berlangsung, karena itu

masyarakat lebih cenderung mencari tahu rekam jejak dan bagaimana keseharian caleg tersebut sebelum maju dalam kontestasi Pileg.

4.3.4. Modal Sosial

Modal sosial adalah bagian dari apa yang harus dimiliki oleh seorang calon pemimpin. Melalui modal sosial yang dimiliki, para pemilih bisa melakukan penilaian apakah pasangan yang ada itu benar-benar layak untuk dipilih atau tidak.

Dalam tulisan ini, faktor-faktor yang digolongkan sebagai modal sosial adalah rekam jejak, peranan tokoh agama dan tokoh masyarakat, dukungan media massa/pers, dan primordial.

4.3.4.1.Rekam Jejak

Suprianto, ST memiliki modal sosial yang relatif baik di daerah pemilihannya dan lumayan dikenal di Kabupaten Aceh Tamiang dikarenakan beliau sudah berkecimpung di dunia politik melalui Partai Gerindra mulai dari Tahun 2013 sebagai kader dan dilantik sebagai Ketua DPC Partai Gerindra pada tahun 2016, Suprianto sudah cukup dikenal di daerah pemilihannya sebagai Pengusaha di Kota Medan yang sering berkontribusi untuk pembangunan Desa dengan menggunakan dana pribadi, seperti rutin setiap tahunnya menyumbangkan hewan untuk dikurban pada Hari Raya Idul Adha, santunan anak yatim, memberi sarung dan jelbab untuk pengajian-pengajian yang sering dihadiri dan pimpinan pengajian dan para ustadznya akrab dengan beliau serta pelatihan membuat kue untuk ibu-ibu agar bisa lebih produktif, dan itu semua dilakukan jauh-jauh hari sebelum masa penetapan bakal calon anggota legislatif.

Suprianto juga dicitrakan oleh masyarakat sebagai pribadi yang rendah hati, tidak berjarak dengan masyarakat, selalu menghadiri setiap undangan yang diberikan oleh masyarakat, dan lebih sering menjadi pendengar dari pada berbicara saat berkumpul dengan masyarakat dan Suprianto juga dikenal sebagai sosok pengayom yang mampu menempatkan dirinya sebagai pemimpin bagi semua kalangan tanpa membedakan agama dan suku. Meski di daerah pemilihannya mayoritas bersuku Aceh dan Suprianto sendiri bersuku jawa tidak menjadi halangan baginya dalam memilih tim sukses dan merangkul konstituen, banyak pemilih dan

tim suksesnya bersuku Aceh. Hal ini membuat stabilitas dan keharmonisan yang senantiasa kondusif di dapil tersebut.

Kepopuleran Suprianto tidak terlepas karena orang tuanya merupakan imam Masjid di kampung tersebut dan transmigran yang sudah cukup lama menduduki daerah Aceh Tamiang bahkan sebelum pemekaran pada tahun 2002. Orang tua beliau adalah tokoh agama yang cukup berperan terhadap pembangunan desa dan pembinaan syariat islam.

Sedangkan Fitriadi, Anggota Legislatif yang terpilih dari Dapil 3 adalah pengusaha asal Kota Medan yang pindah ke Kabupaten Aceh Tamiang pada tahun 2008 dan merintis usaha di Kecamatan Tenggulun pada dengan usaha pakaian dan bisnis sewa-menyewa ruko yang berhasil sukses di perantauan dan dikenal luas oleh masyarakat kecamatan tersebut dikarenakan beliau menggunakan masyarakat tersebut sebagai pekerjanya dan memulai debut politiknya di Partai Gerindra pada Tahun 2018 dilantik sebagai Ketua Pimpinan Anak Cabang di Kecamatan Tenggulun, pengangkatan tersebut tidak terlepas dari rekam jejak fitriadi yang sudah dianggap tokoh masyarakat dan saudagar yang dermawan oleh masyarakat setempat. Terbukti karena beliau sangat berkontribusi untuk di lingkungannya tinggal dan desa sekitarnya seperti rutin menyumbangkan perangkat shalat untuk pondok pengajian dan menyumbangkan hewan kurban dan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan oleh masjid di daerah tersebut.

4.3.4.2.Peranan Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat

Dalam upaya pemenangan para caleg peranan tokoh agama dan tokoh masyarakat cukup signifikan karena dilibatkan dalam melakukan sosialisasi terhadap program kerja, citra pribadi, dan rekam jejak. Ada beberapa tokoh agama yang dilibatkan secara langsung ke dalam tim sukses seperti; Ustadz Basyir yang merupakan Imam Masjid dan Penceramah di berbagai pengajian, Hamdani (Pimpinan BKM Masjid), serta dari tokoh masyarakat yaitu: Masyuri (Kepala Lorong), Putra (Ketua Laskar LMP), Dian (Pelatih Pencak Silat) dan ada pula yang tidak terdaftar sebagai tim sukses dikarenakan beberapa tokoh agama hanya ingin terlibat dalam memberikan doa saja tetapi tidak ingin terlibat langsung dalam politik praktis, namun tidak semua anjuran tokoh masyarakat maupun tokoh agama

yang serta merta dituruti oleh calon pemilih. Sebab kadang-kadang mereka diperhadapkan kepada situasi yang membuat mereka sendiri menjadi bingung dalam menentukan pilihannya. Ada juga tokoh agama atau tokoh masyarakat yang

“memberikan” dukungannya kepada lebih dari satu pasangan calon dengan cara mendoakan atau mengkampanyekannya, hal ini sudah pasti membingungkan para jemaat atau masyarakat yang notabene adalah calon pemilih.

4.3.4.3.Dukungan Media Massa dan Pers

Bagi Suprianto, media massa dan pers merupakan “rekan” yang sangat banyak membantu, baik dalam memberikan masukan, memberikan kritikan, dan memberitakan aktifitas kampanye yang dilakukan, maupun memberitakan program-programnya saat kampanye. Tetapi dalam konteks Pileg, peran pers tidak signifikan dalam memberitakan program-program, mayoritas masyarakat masih kurang meminati berita dan tidak sempat mencari informasi-informasi yang disajikan, karena kegiatan masyarakat sebagai petani dan nelayan sudah sangat menyita waktu keseharian mereka. Walaupun Suprianto lebih memprioritaskan kunjungan dan dialog tatap muka tetapi beliau memaksimalkan peran pers untuk kampanyenya melalui media online seperti Facebook dan portal berita dari media lokal yang juga diminati oleh masyarakat.

4.3.4.4.Primordial

Banyak pihak mengatakan bahwa faktor suku mempengaruhi dalam menentukan keterpilihan seseorang dalam pemilu, karena suku dapat diartikan kekerabatan dan persekutuan dari orang-orang yang dianggap bergaris keturunan sama, kesamaan budaya, bahasa, dan agama.

Dalam konteks pileg tahun 2019 khususnya di dapil Suprianto, faktor primordial tidak terlalu dominan lagi seperti pileg periode sebelum-sebelumnya.

Informan dari kategori pemilih semuanya bersuku Aceh dan mengutarakan bahwa di periode sebelumnya mereka selalu memilih caleg yang berasal dari Partai Aceh yang notabene seluruhnya adalah suku Aceh dan didominasi oleh mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Para pemilih berpaling ke caleg Partai Gerindra dikarenakan faktor primordial tidak menentukan komitmen-komitmen caleg saat masa kampanye akan

dituntaskan jika sudah terpilih, banyak dari caleg yang mereka pilih berdasarkan suku yang sama tetapi tidak merealisasikan program kerja dan kontrak-kontrak politik yang dibuat saat masa kampanye, bahkan ada beberapa caleg yang tidak pernah menyambangi kembali daerah-daerah yang pernah dikunjunginya dan menjadi basis suaranya saat masa kampanye. Pada akhirnya pemilih lebih tertarik kepada rekam jejak dan citra kandidat para caleg yang menurut para pemilih faktor tersebut lebih meyakinkan terhadap bagaimana seorang caleg jika sudah terpilih dari pada hanya memilih berdasarkan suku.

4.3.5. Modal Ekonomi

Semua caleg membutuhkan sejumlah dana/uang untuk mengikuti kompetisi dalam Pileg. Pemilu secara langsung jelas membutuhkan biaya yang besar. Modal yang besar tidak hanya dipakai untuk membiayai kampanye, tetapi juga untuk membangun relasi dengan para calon pendukungnya, termasuk di dalamnya adalah modal untuk memobilisasi dukungan pada saat menjelang dan berlangsungnya masa kampanye.

Tidak dapat dipungkiri bahwa caleg dari Partai Gerindra Aceh Tamiang juga membutuhkan dana yang cukup besar untuk upaya memenangkan Pileg, bahkan dalam penjaringan bakal calon anggota legislatif yang dilakukan oleh DPC Partai Gerindra Aceh Tamiang menjadikan kemampuan dana menjadi syarat mutlak di samping kapasitas dan rekam jejak para bakal calon agar dapat menjadi caleg dari Partai Gerindra. Seperti yang diutarakan oleh informan dari kategori anggota legislatif terpilih yakni Fitriadi yang berasal dari dapil 3, sekurang-kurangnya menghabiskan dana Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) dari sebelum dimulainya masa kampanye hingga selesai masa kampanye dan berbeda sedikit nominalnya dengan Ketua DPRK terpilih yakni Suprianto, sebanyak Rp.

800.000.000,-.

Dana yang besar mereka perlukan mulai dari proses penentuan menjadi calon dari internal partai, kampanye, menghadapi sengketa, hingga pelantikan.

Dana tersebut digunakan untuk beragam kepentingan, antara lain untuk biaya mencetak alat peraga, biaya transportasi tim sukses, biaya memobilisasi massa saat kampanye, biaya konsumsi tim sukses dan massa calon pendukung, dan berbagai

keperluan lainnya. Menurut Suprianto, dana politik proses awal hingga berakhir masa kampanye sangat besar. Tetapi meski besar, hal ini wajib dilaksanakan karena sekaligus merupakan sosialisasi dalam rangka memperkenalkan diri sebagai seorang bakal calon. Sebab tidak mungkin seseorang bersedia datang nantinya saat kampanye kalau belum kenal dengan calon yang berkampanye, apalagi mendukungnya. Proses penentuan calon dari partai ini juga merupakan tahapan dalam pembentukan tim kampanye atau tim sukses.

Sesuai pengakuan dari caleg terpilih saat wawancara, mereka tidak menggunakan uang sebagai hadiah atau politik uang saat masa kampanye, dikarenakan mereka menggunakan metode perawatan konstituen dengan cara menjalin kedekatan emosional kepada konstituen-konstituen yang sudah lama dikenal dan memberikan pelatihan memasak kue serta kegiatan-kegiatan sebelum masa kampanye dimulai dan juga memberi fasilitas seperti perlengkapan memasak, perlengkapan pelatihan, serta perlengkapan beribadah, dan uang dan susu untuk anak-anak dari para konstituen dan itu dilakukan jauh sebelum pergelaran Pileg dimulai.

Namun juga ada beberapa hal yang sangat disayangkan ada beberapa masyarakat yang sudah terbiasa diberikan hadiah oleh caleg-caleg, jadi masyarakat terbiasa menjadi pragmatis dan terkesan menjual suara dari pada memilih karena rekam jejak dan citra kandidat, tentu hal ini harus dihilangkan dengan dimulai dengan mereduksi hal-hal negatif tersebut yang mengarah ke money politic.