BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
penelitian.
F. Teknik Pengabsahan Data
Pengabsahan Data bentuk batasan berkaitan suatu kepastian, bahwa yang berukur benar-benar variabel yang ingin diukur. Keabsahan data dapat dicapai dengan pengumpulan data dengan cepat. Salah satunya dengan cara proses triangulasi sumber pemeriksaan keabsahan data untuk memanfaatkan sesuatu yang diluar data untuk keperluan serta sebagai pembanding terhadap data.
Salah satu cara yang digunakan oleh peneliti dalam pengujian kredibilitas data adalah dengan triangulasi. Triangulasi diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Triangulasi dipilih sebagai pengujian keabsahan data penelitian terkait Manajemen rumah sakit dalam penanganan pasien Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji Kota Makassar.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Objek Penelitian
1. Gambaran Umum Kota Makassar
Kota Makassar (Makassar: kadang dieja Macassar, Mangkasar;
dari 1971 hingga 1999 secara resmi dikenal sebagai Ujung Pandang atau Ujung Pandang) adalah sebuah kotamadya dan sekaligus ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan. Kotamadya ini adalah kota terbesar pada 5°8′S 119°25′E Koordinat: 5°8′S 119°25′E, di pesisir barat daya pulau Sulawesi, berhadapan dengan Selat Makassar.
Gambar 4.1: Peta lokasi Kota Makassar Sumber: https://duniapendidikan.co.id/kota-makassar
Kota Makassar adalah salah satu kota metropolitan di Indonesia dan sekaligus sebagai ibu kota provinsi Sulawesi Selatan. Kota Makassar merupakan kota terbesar keempat di Indonesia dan terbesar di Kawasan
Timur Indonesia. Sebagai pusat pelayanan di Kawasan Timur Indonesia (KTI), Kota Makassar berperan sebagai pusat perdagangan dan jasa, pusat kegiatan industri, pusat kegiatan pemerintahan, simpul jasa angkutan barang dan penumpang baik darat, laut maupun udara dan pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan.
Secara administrasi kota ini terdiri dari 14 kecamatan dan 143 kelurahan. Kota ini berada pada ketinggian antara 0-25 m dari permukaan laut. Penduduk Kota Makassar pada tahun 2000 adalah 1.130.384 jiwa yang terdiri dari lakilaki 557.050 jiwa dan perempuan 573.334 jiwa dengan pertumbuhan rata-rata 1,65 %.
Gambar 4.2: Gambaran pembagian lokasi 14 kecamatan di Kota Makassar
Sumber: https://peta-hd.com/peta-kota-makassar
2. Gambaran Khusus Lokasi Penelitian
a. Profil Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji
Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji Provinsi Sulawesi Selatan berlokasi di Kelurahan Labuang Baji Kecamatan Mamajang Kota Makassar, tepatnya di Jalan Dr. Ratulangi Nomor 81 Kota Makassar.
Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji didirikan oleh Zending Gereja Geroformat Surabaya, Malang dan Semarang sebagai Rumah Sakit Zending, yang diresmikan pada tanggal 12 Juni 1938 dengan kapasitas 25 buah tempat tidur.
Tahun 1946-1948 Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji mendapat bantuan dari Pemerintah Indonesia Timur (NIT), dengan merehabilitasi gedung-gedung yang hancur akibat perang, dan digunakan untuk penampungan korban akibat perang tersebut.
Pada tahun 1949-1951, Zending mendirikan bangunan permanen, sehingga kapasitas tempat tidur menjadi 170 buah. Pada tahun 1952-1955, oleh Pemerintah Daerah Kotapraja Makassar diberikan tambahan beberapa bangunan ruangan sehingga kapasitas tempat tidur menjadi 190 buah. Sejak tahun 1955 Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji dibiayai oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan. Pada tahun 1960 oleh Zending, Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji diserahkan dan menjadi milik Pemerintah Daerah Tingkat I Sulawesi
Selatan dan dikelola oleh Dinas Kesehatan Provinsi Dati I Sulawesi Selatan dengan klasifikasi Rumah Sakit Kelas C.
Gambar 4.3: Lokasi Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji Sumber: Olahan Penulis
Adapun Denah Tata Ruang Gedung Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 4.4: Denah Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji
Sumber: ppid.sulselprov.go.id
3. Visi Misi Tujuan, Motto dan Falsafah Rumah Sakit Labuang Baji
Setiap perusahaan tentunya memiliki visi misi yang digunakan sebagai pegangan dalam menjalankan usaha agar tetap pada jalur yang benar sesuai dengan tujuan awal perusahaan. Berikut visi misi, tujuan, motto dan falsafah Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji.
a. Visi
Menjadi Rumah sakit Unggulan Provinsi yang Inovatif dan Kompetitif Tahun 2023"
b. Misi
1) Mewujudkan pelayanan Prima yang Inovatif 2) Mewujudkan Profesional SDM yang Kompetitif 3) Mewujudkan sarana dan prasarana yang berkualitas
4) Meningkatkan Efektifitas dan Efisiensi Anggaran Rumah Sakit c. Tujuan
Memberikan kepuasan kepada semua pelanggan agar tercipta citra baik Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji
d. Motto
SIPAKABAJI": siap dengan pelayanan komunikatif, bermutu, aman, jujur dan ikhlas
e. Falsafah
Bahwa kesehatan jasmani maupun rohani merupakan hak setiap orang; oleh karena itu rumah sakit berusaha untuk memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik kepada masyarakat, baik bersifat penyembuhan, pemulihan, pencegahan maupun peningkatan serta ditunjang oleh kualitas daya manusia yang memadai.
f. Instalasi Rawat Intensif
Pelayanan Anestesi diberikan selama 24 jam dengan jenis pelayanan:
1. Pelayanan Anestesi/Analgesia di kamar bedah, ruang bersalin dan ruang diagnostik
2. Pengelolaan ruang perawatan/terapi intensif
3. Melakukan bantuan resusitasi kasus gawat di ruang darurat atau bangsal yang membutuhkan
4. Memberikan terapi inhalasi
5. Menanggulangi nyeri di poliklinik maupun di bangsal Ruang dan peralatan yang tersedia:
Ruang peralatan yang terpisah dari ruang operasi dan jalan masuk terpisah dari pasien yang menunggu giliran operasi
1. Ruangan induksi 2. Ruangan pulih sadar 3. Anestesi
Alat-alat intubasi: Laryngoscope, Kantung napas, Sungkup muka, pipa tracheal dan pipa oropharynx
Sumber gas oksigen dan N2O
Tabung oksigen, penghisap lendir elektrik/manual Alat-alat Resusitasi
Tenaga yang ada:
1. Dokter Spesialis Anestesi : 3 orang 2. Penata Anestesi : 5 orang 3. Perawat Anestesi : 2 orang
Sumber: profil Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji tahun 2020
Berikut bagan susunan organisasi badan Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji
Gambar 4.5 Struktur Organisasi RSUD Labuang Baji
BidangPe
Adapun pemangku jabatan susunan organisasi badan Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji terdiri atas:
1) Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji: drg. Abdul Haris Nawawi, M.Kes.
2) Wakil Direktur Medik dan Keperawatan: Dr. H. Darwis Sp.M, M.Kes 3) Wakil Direktur Umum, Sumber Daya Manusia & Pendidikan: Dra.
Rahmawati, Apt., M.A.R.S.
4) Wakil Direktur Keuangan H Harmin S.E., M.M.
5) Kepala bidang Pelayanan Medik Dra. Faridah, Apt.
6) Kepala bidang Pelayanan Keperawatan: drg. Rosmiati, M.Kes.
7) Kepala Bidang Fasilitas Medik dan Keperawatan Hj. Wahida, S.K.M., M.Kes.
8) Kepala Bagian Umum Naskah Filailah, Pd.Dipl.Sc., M.Si 9) Kepala Bagian Sumber Daya Manusia ST. Mariani, S.E., M.M.
10) Kepala Kepala bagian Pendidikan dan Penelitian Muhammad Hardi S.STP 11) Kepala Kepala Bagian Perencanaan dan Anggaran Rahmat Jaya, S.K.M.,
M.Kes.
12) Kepala Bagian Perbendaharaan dan Mobilisasi dana H. Muh. Ilham S.Sos., M.M.
13) Kepala Bagian Akuntansi Dra. Andi Astini Mutmainna Datu , M.Adm.S.D.A.
4. Tugas dan Fungsi a) Tugas
Menyelenggarakan urusan di bidang penyelenggaraan upaya penyembuhan dan pemulihan kesehatan yang dilaksanakan secara serasi, terpadu dan berkesinambungan dengan upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan dan menyelenggarakan pendidikan, pelatihan dan penelitian berdasarkan asas desentralisasi, dekonsentrasi dan pembantuan.
b) Fungsi
Perumusan kebijakan teknis di bidang pelayanan medic, pelayanan keperawatan, fasilitas medis dan keperawatan, umum sumber daya manusia, pendidikan dan penelitian, perencanaan dan anggaran, perbendaharaan dan mobilisasi dana dan akuntansi.
Penyelenggaraan urusan pelayanan medis, pelayanan keperawatan, fasilitas medic dan keperawatan, umum, sumber daya manusia, pendidikan dan penelitian, perencanaan dan anggaran, perbendaharaan dan mobilisasi dana dan akuntansi.
Pembinaan dan penyelenggaraan di bidang pelayanan medic, pelayanan keperawatan, fasilitas medic dan keperawatan, umum, sumber daya manusia, pendidikan dan penelitian, perencanaan dan anggaran, perbendaharaan dan mobilisasi dana dan akuntansi.
Penyelenggaraan tugas lain yang diberikan Gubernur sesuai dengan tugas dan fungsinya.
B. Hasil Penelitian
1. Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji Dalam Penanganan Pasien Covid-19
Dalam Penelitian ini mengkaji manajemen penanganan Covid Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji di Kota Makassar. Manajemen yang dilakukan berupa melakukan pembentukan tim Covid-19 .hal senada disampaikan oleh Pak Zainuddin selaku Ketua Tim Humas.
“jadi dalam penanganan Covid-19 di Rumah Sakit Ini pimpinan rumah sakti terlebih dahulu melakukan rapat pimpinan yang mana didalamnya sudah termasuk membahas tentang pembentukan tim Covid-19 serta mengeluarkan SK yang kemudian dijadikan acuan oleh kepala bidang dalam menentukan pegawai yang akan menjadi anggota tim covid (Wawancara pada tanggal 12 Agustus 2021).
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat dilihat bahwa Rumah sakit Labuang Baji telah melakukan manajemen melalui pembentukan tim Covid-19 yang disetakan dengan SK dalam penugasannya.selanjutnya disampaikan juga oleh Ibu Rahmawati selaku Perawat
“sesuai dengan yang di ungkapkan oleh bapak zainuddin selaku humas rumah sakit Labuang Baji dalam penanganan Covid paramedik diberikan SK serta panduan dalam penangananan Covid 19 kerana jika tidak ada SK maka sama hal nya dengan melanggar aturan hukum yang berlaku”. (Wawancara pada tanggal 17 Agustus 2021)
Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji dalam melakukukan manajemen penanganan Covid-19 dilakukan dengan beberapa tindakan yaitu, pembentukan tim Covid, pembuatan SK serta panduan asihan klinik. Hal tersebut dilakukan agar dalam penangangan pasien berjalan dengan semestinya serta tidak meelanggar aturan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji, berikut uraian indikator kajian yang digunakan dalam menjawab rumusan masalah penelitian terkait manajemen Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji.
1) Perencanaan
perencanaan adalah upaya untuk memilih dan menghubungkan fakta-fakta dan membuat serta menggunakan asumsi-asumsi mengenal masa yang akan datang dengan jalan mengambarkan dan merumuskan kegiatan-kegiatan yang di perhatikan untuk mencapai hasil yang di inginkan.Dalam manajemen rumah sakit sesuai dengan pedoman tata laksana.
Dalam penelitian ini yang dimaksudkan dengan perencanan yaitu perencanaan yang dilakukan rumah sakit Labuang Baji di kota makassar dalam penanganan Covid-19. Perencanaan dalam manajemen Rumah Sakit Labuang Baji sesuai dengan hasil wawancara terhadap Bapak Zainuddin selaku Ketua tim Humas dan Pengadaan, Kepala Seksi Perencanaaan dan Pengembangan serta Sekretaris Komite Korelasi Pendidikan Pelayanan dan Keperawatan. Terkait penetapan strategi, tujuan sasaran, koordinasi dan Mutu
“Covid dimulai pada akhir bulan 3 tahun 2020 namanya juga wabah yah, memang kita sudah ada tim penanganan wabah seperti itu, maka dengan wabah seperti ini Rumah Sakit Labuang Baji ditunjuk dari Kementerian Kesehatan untuk menjadi rumah sakit rujukan pelayanan Covid.Oleh karena itu rencananya tentu pertama adalah kami membentuk tim, jadi ada tim penanganan Covid lalu kemudian disiapkan sarana dan prasarananya termasuk penyiapan SDM. SDM utama itu mulai dari SDM medis SDM keperawatan SDM
pendukung-pendukung laboran tenaga radiologi dan tenaga-tenaga lainnya yang terkait terutama PPI (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi) jadi ada bagian-bagian pemulasaran jenazah kalau ada yang meninggal Lalu ada juga bagian gizi ada ada bagian CSSD (Central Sterile Supply Department) ada bagian laundry Ini semua adalah sdm-sdm yang di dalamnya” . (Wawancara pada tanggal 12 Agustus 2021).
Dari pernyataan tersebut dapat dilihat bahwa dalam penanganan pasien Covid sebelumnya dibentuk tim Covid yang mana pembentukan tim tersebut dilakukan oleh pimpinan rumah sakit sesuai dengan pernyataan informan kunci sebagai berikut
“pembetukan tim Covid diawali dengan kebijakan pimpinan menghasilkan standar operasional,selanjutnya di arahkan kepada masing-masing kepala bidang sebelum pembentukan panduan asuhan klinik yang menjadi acuan paramedik dalam melakukan peangnanan terhadap pasien Covid-19”. (Wawancara pada tanggal 24 Agustus 2021).
Selanjutnya hal yang senada di sampaikan oleh Ibu Rahmawati selaku perawat yang turut andil dalam pelaksanaan penagnanan pasien Covid-19.
“Setelah adanya SK tim Covid-19 yang masing-masing diatur oleh kepala bidang selanjutnya di turunkan kepada bahawahan yang dimaksud dengan bawahan yaitu Dokter,perawat dan Pasien.perencanaan yang dilakukan seseuai dengan pedoman tata laksana penanganan Covid 19 bentuk penanganannya dialakukan Tracing terlebih dahulu sebelum pasien di nyatakan terkontaminasi Covid-19 apabila di terkontaminasi maka dilakukan tes PCR untuk mamastikan pasien serta melihat gejala yang dialami pasien apakah ringan berata atau komplikasi mi baru kemudian dilakukan tindakan seperti isolasi mandiri ataupun di rawat inap di rumah sakit, rs ini juga kan ada tempat isolasinya di asrama haji sudiang”. (Wawancara pada tanggal 17 Agustus 2021)
Sementara hal yang disampaikan oleh salah satu informan yang pernah menjadi pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji juga juga mengatkan hal yang sama
“kalau saya sendiri karena sering di sekitar rumah sakit terus adami gejala-gejala virus kurasa akhirnya pergika cek dan ternyata positif tapi kebetulan gejalanya ringan, dan disuruhji isoman karena kebetulan full ki ruangan itu hari” (Wawancara pada tanggal 15 Oktober 2021).
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa indikator perencanaaan dalam menejemen Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji dalam penangangan pasien Covid-19 sudah berjalan dapat dilihat bahwa Ketua tim Humas dan Pengadaan, Kepala Seksi Perencanaaan dan Pengembangan serta Sekretaris Komite Korelasi Pendidikan Pelayanan Keperawatan telah melalukan pelayanan dengan baik hal tersebut terlihat dari pembetukan tim Covid melalui rapat pimpinan selanjutnya SK dan panduan asuhan klinik dalam memudahkan serta membantu penanganan pasien Covid-19
2) Pengorganisasi (Organization)
Pengorganisasian adalah aktivitas yang terlibat dalam suatu struktur organisasi yang sesuai, memberi tugas kepada pekerja serta membentuk hubungan yang berguna di antara pekerja dan tugas-tugas. Dalam penelitian ini yang dimaksud desngan pengorganisasian yaitu pembentukan tim penanganan pasien Covid-19 hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh bapak Zainuddin selaku kepala tim humas merangkap dua jabatan lainnya.
“nama-namanya kesini untuk di usulkan di SK kan dan ditempatkan ke ruang isolasi-isolasi itu tadi dengan tentu beberapa persyaratan yaitu, Tidak dalam keadaan hamil, Sehat jasmani dan rohani, Cerdas dan Bersedia ditempatkan. Kalau untuk medisnya diatur di bagian pelayanan medik, kalau untuk tenaga pendukung itu diatur dibagian bidang terkait itu dibidangi oleh bagian bidang pelayanan fasilitas medik dan ada juga di bidangi oleh bagian umum seperti itu penempatan tenaganya jadi yang mau saya garis bawahi bahwa untuk medis itu sepengathuan saya dia terutama dia adalah spesialis ahli paru atau spesialis paru kemudian spealis penyakit dalam dan semua spesialis lainnya yang terkait ketika pasien-pasien Covid itu komorbit-komorbit misalnya contoh pasien Covid dengan ada kelainan jantung mereka ahli jantungnya masuk, pasien Covid berkaitan dengan bedah, ahli bedahnya juga ini dokter DPJP (Dokter Penanggung Jawab Pasien), yang bertanggung jawab disitu mengkonsul kebagian bedah seperti itu pengaturan-pengaturan ketenagaan untuk medisnya dan diawal itu kita ada menempatkan dokter umum untuk jaga sift di ruangan itu ketika ada hal, dan khusus untuk di pasien Covid dengan kegawatan begitu ditangani oleh dokter khusus untuk spesialis-spesialis anestesi begitu dengan bekerjasama dengan dokter bjdpnya yang merawat pasien seperti itu jadi terkait dengan ketenagaan-ketenagaan ini diatur jadwalnya oleh bidang-bidang terkait tadi, kalau khusus untuk spesialis mereka sudah bagi perhari jaga untuk DPJP misal hari ini besok dan seterusnya”. (Wawancara pada tanggal 12 Agustus 2021).
Berdasarkan hasil wawncara di atas dapat dilihat bahwa indikator perorganiasian dalam manajemen rumah sakit dalam penanganan pasien 19 telah melakukan perorganisasian melalui di bentuknya tim Covid-19 dalam penanganan Covid-Covid-19 diserta kan SK penempatan dengan syarat-syarat yang telah di tentuka oleh rumah sakit Labuang Baji Kota Makassar serta penempatan disetiap bidang untuk medisnya diatur di bagian pelayanan medik, untuk tenaga pendukung itu diatur dibagian bidang terkait itu dibidangi oleh bagian bidang pelayanan fasilitas medik dan bidang bagian umum serta dokter umuum,dokter spesialis paru dan penyakit dalam dan paramedik.
“Nah itu tadi yang saya jelaskan bahwa penentuan hubungan wewenang dalam merawat pasien itukan, jadi yang saya mau jelaskan bahwa ada beberapa pemberi asuhan disana terutama ada dokter DPJP pemberi asuhan medik, pemberi asuhan keperawatan, pemberi asuhan gizi dan farmasi ini ada empat besar pemberi asuhan dan ini saling terkait sesuai dengan tupoksinya masing-masing”. (Wawancara pada tanggal 12 Agustus 2021).
Hal senada juga disampaikan oleh Ibu Rahmawati selaku salah satu perawat yang ikut andil dalam penanganan pasien Covid-19.
“sebelum penanganan pasien kita sebagai perawat terlebih dahulu membaca SOP serta panduan asuhan klinik dan tentunya berkoordinasi dengan dokter yang menangani pasien sebelum melakukan tindakan karena kita tidak bisa secara langsung melakukan tindakan asal tanpa ada panduan, itu bisa saja termasuk dalam tindak kejahatan yang dapat ditempuh melalui jalur hukum apabila ada yang dirugikan”. (Wawancara pada tanggal 17 Agustus 2021).
Sementara hal yang disampaikan oleh salahsatu informan yang pernah menjadi pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji juga juga mengatkan hal yang sama
“biasanya dokter masuk periksa baru ada perawat na temani tapi, lebih banyak perawat yang masuk kalau anu misalnya waktu minum obatmi, waktu makan sama kadang kalau tiba-tiba nda enak ku rasa adami itu perawat masuk sama dokter, baru waktu mau ma sembuh tidak boleh ki bede dulu keluar-keluar rumah sama jaga jarak beng”
(Wawancara pada tanggal 15 Oktober 2021)
hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa pengorganisasian pada manajemen rumah sakit dalam penanganan pasien Covid-19 telah terlaksana sesuai dengan indikator teori manajemen menurut Terry yaitu pembentukan,penyusunan serta pembagian tugas. Dimulai dari pimpinan yang membentuk tim Covid-19 dilanjutkan dengan pembagian
SK serta pedoman oleh kepala bidang ke paramedik yang melakukan pemberian tindakan secara langsung kepada pasien Covid-19.
3) Pelaksanaan (Actuating)
Indikator pelaksanaan pada manjaemen rumah sakit Labuang Baji dapat dilihat dari penggunaan pedoman asuhan serta penerapan SOP dalam penanganan pasien Covid-19 seperti yang diungkapkan oleh bapak Zainuddin.
“Teknisnya seperti, pasien datang di Labuang Baji ini apakah itu datang sendiri atau datang dengan rujukan, jika pasien datang sendiri itu kami ada screening di bagian rawat jalan dan ada screening di bagian triase itu kalau pasien datang sendiri yah jadi lewat screening, kalau pasien itu ada riwayat kontak ada gejal-gejala Covid maka langsung diarahkan ke bagian HRD untuk dilakukan pemeriksaan swab antigen disana juga dilakukan berbagai pemeriksaan phototoraks nanti kalau hasilnya positif maka dia dikirim atau dirawat di RI ruang isolasi nah itu seperti itu, ketika kalau dia pasien rujukan dia sudah pasti Covid, misal rujukan dari puskesmas rujukan dari paskes lainnya atau rujukan dari dokter-dokter klinik atau dari rs lain dengan sudah terkonfirmasi Covid-19 maka kita langsung menyiapkan ruangan isolasi jadi begitu dia datang kita langsung masuk ke ruang isolasi untuk penatalaksanaan kasusnya seperti itu secara teknis”. (Wawancara pada tanggal 12 Agustus 2021).
Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat dilihat bahwa indikator pelaksanaan pada manajemen rumah sakit Labuang Baji dalam penanganan pasien Covid-19 dilakukan diagnosis terhadap gejala yang dialami pasien selanjutnya pengambilan tindakan untuk perawatan jenis perawatan serta penanganan oleh dokter spesialis yang terkait dengan gejala yang diderita oleh pasien.
Sementara menurut ibu Ramawati pada saat sesi wawancara beliau mengungkapkan bahwa.
“Setiap kita melakukan tindakan apapun kita menggunakan SOP, segala tindakan kecil berdasarkan SOP, jadijika memasuki ranah hukum kita tidak akan bermasalah, jadi setiap kita melakukan tindakan tidak asal seperti misalnya, saya langsung menyuntik tangan pasien. Tidak seperti itu, sebelum kita memulai maka kita memberikan info contohnya memberi pasien info kurang nafsu makan, lemah dan segala macam maka ini kami akan memasang infus sesuai sop pemasangan infus yng pertama menyiapkan cairan, gunting, perban bahan dan alat yang dibutuhkan sesuai standar, bukan asal ka ta bangka ki itu pasien kalau langsung-langsung ki, harus ada instruksi dokternya baru pasang infus”
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa seluruh elemen rumah sakit telah ikut andil dalam pelaksanaan penanganan pasien Covid dilihat dari pembentukan tim Covid-19 terbentuk dari perumusan pimpinan, pembagian SK oleh kepala bidang selanjutnya penerapan SOP serta penerapan panduan asuhan klinik oleh dokter dan paramedik dalam menangani pasien Covid-19.
Tentu dalam sebuah pelaksanaan terkadang ada saja kendala tak terduga yang terjadi begitu pula pada pelaksanaan manajemen penanganan Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji seperti yang dikatakan pak Zainuddin.
“tentu saja ada hambatan dan kendala terutama itu adalah hambatan-hambatannya yang pertama karena ini pandemi ruangan kita atau sarana dan prasarana kita hanya disiapkan kurang lebih 60 tempat tidur sehingga saat ini pimpinan kami membuka isoman
kedua termasuk adalah kita punya tenaga ada beberapa yang terdapat atau kena Covid sehingga sehingga kekurangan-kekurangan tenaga ada saja sehingga pernah kita pada saat pernah kita di bulan 12 akhir masuk Januari Februari itu kami membuka relawan khususnya tenaga medis dan tenaga tenaga keperawatan kemudian kita juga logistiknya terutama APD begitu kita seharusnya safety Ya seharusnya level 3 oke deh karena logistiknya kadang-kadang masih kurang begitu”. (Wawancara pada tanggal 12
kedua termasuk adalah kita punya tenaga ada beberapa yang terdapat atau kena Covid sehingga sehingga kekurangan-kekurangan tenaga ada saja sehingga pernah kita pada saat pernah kita di bulan 12 akhir masuk Januari Februari itu kami membuka relawan khususnya tenaga medis dan tenaga tenaga keperawatan kemudian kita juga logistiknya terutama APD begitu kita seharusnya safety Ya seharusnya level 3 oke deh karena logistiknya kadang-kadang masih kurang begitu”. (Wawancara pada tanggal 12