• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

BAB I PENDAHULUAN

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

a. Menambah pengetahuan di bidang sosial melalui penelitian yang dilaksanakan sehingga memberikan kontribusi pemikiran bagi pengembangan ilmu administrasi khususnya.

b. diharapkan dari penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi akademisi atau pihak-pihak yang berkompeten dalam pencarian informasi atau sebagai referensi mengenai manajemen rumah sakit di tengah pandemi

a. Bagi Pihak Rumah Sakit

Diharapkan penelitian ini memberikan saran atau masukan dalam tata kelola manajemen Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji

b. Bagi Penulis

Memberikan kesempatan bagi penulis untuk mengaplikasikan ilmu dan teori yang dipelajari selama ini. Selain itu dapat menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman bagi masyarakat.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Berikut ini adalah penelitian terdahulu yang diikuti oleh penulis guna menjadi referensi untuk penelitian terkait Manajemen Rumah sakit Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji Dalam Penanganan Pasien COVID-19, yang dimana penelitian terdahulu ini akan dibandingkan dengan masalah yang akan dikembangkan oleh penulis.

No Nama Peneliti Judul Penelitian Hasil Penelitian 1 (Nugraha,

Berdasarkan hasil penelitian mengenai Pengaruh Pandemi COVID-19 terhadap pelayanan kesehatan bagian rekam medis di rumah sakit XX Cimahi ini memperoleh hasil yaitu berdasarkan hasil wawancara dengan N1, N2, N3 mengatakan bahwasannya dengan adanya pandemic COVID-19 ini petugas khususnya di bagian Rekam Medis juga memperketat protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, menggunakan sarung tangan dan sering mencuci tangan agar petugas dapat mencegah penularan Covid-19 yang mungkin saja dibawa oleh pasien yang sedang mendaftar ataupun yang menempel pada berkas rekam medis. Banyaknya kasus pasien control dan pasien umum menurun sedangkan pasien

Covid-19 meningkat sehingga meningkatkannya pasien yang harus di daftarkan di UGD.

2 (Utami , 2021) Evaluasi kesiapan

Kesiapan rumah sakit Bethesda dalam masa bencana non-alam Covid-19 dinilai sedang berdasarkan skor Hospital Safety Index dengan kategori B.

Manajemen bencana rumah sakit Bethesda Yogyakarta mengadopsi konsep surge capacity dan incident command system untuk mengantisipasi lonjakan pasien Covid-19 dalam masa pandemi. Faktor-faktor penentu manajemen bencana di rumah sakit Bethesda Yogyakarta berdasarkan aspek space adalah perubahan tata ruang, penyiapan dan penggunaan ruang isolasi, penyiapan eskalasi ruang, dan alur ke ruang isolasi. Faktor-faktor penentu berdasarkan aspek staff adalah kesediaan SDM, kriteria SDM, kompetensi SDM, perlindungan terhadap staf, skrining dan isolasi bagi staf yang terpapar Covid-19, dan upaya memotivasi staf untuk Emerald. Didapatkan sebanyak 19 artikel yang layak untuk dilakukan analisis terkait dampak pandemic COVID-19

terhadap pelayanan kesehatan rumah sakit di Indonesia.

Mayoritas artikel adalah penelitian kuantitatif (89%), artikel terbitan jurnal (79%) dan merupakan penelitian survei (84%). Terdapat 7 tema dampak pandemi COVID-19 terhadap pelayanan kesehatan rumah sakit di Indonesia, yaitu penurunan jumlah pasien, modifikasi pelayanan oleh tenaga kesehatan, perubahan penggunaan sarana dan prasarana rumah sakit, perubahan kualitas pelayanan kesehatan, penambahan beban kerja tenaga kesehatan, strategi manajerial bagi pelayanan kesehatan dan dampak psikologis.

Hasil penelitian ini menunjukan . IGD RS Siaga Raya pada masa pandemi COVID-19 telah melakukan skrining pada dengan dilakukannya pemeriksaan suhu, saturasi oksigen dan pertanyaan singkat, apabila ditemukan indikasi COVID-19, pasien langsung diarahkan ke rumah sakit rujukan, dan bila ada pasien yang akan direncanakan rawat inap, pasien dilakukan pemeriksaan PCR dan Laboratorium . Evaluasi dan monitoring manajemen klinis COVID-19 belum dilakukan.

Terdapat hambatan terkait pelaksanaan alur manajemen klinis dan SOP yang masih

belum ada, serta keterbatasan

Hasil penelitian mendapatkan dimensi mutu sebagai berikut:

reliability, rerata sebelum pandemi (89,60%) dan masa pandemi (88,27%) (p=0,008);

responsiveness, rerata sebelum pandemi (84,27%) dan masa pandemi (83,47%) (p=0,000);

assurance, rerata sebelum pandemic (95,47%) dan masa pandemi (95,73%) (p=0,157);

empathy, rerata sebelum pandemi (92,53%) dan masa pandemi (92,27%) (p=0,157);

tangible, rerata sebelum pandemi (78,53%) dan masa pandemi (84,40%) (p=0,000). Simpulan penelitian ini ialah terdapat perbedaan mutu pelayanan dalam dimensi reliability, responsiveness, dan tangible namun tidak terdapat perbedaan mutu dalam dimensi assurance dan empathy antara sebelum dan pada masa pandemi Covid-19 terhadap pasien di ruang Delima RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado.

Tabel 2.1: Penelitian Terdahulu

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan peneliti lakukan :

Pada penelitian Intan Nurhadiyati Nugraha, dkk (2021) terdapat perbedaan dengan penelitan yang akan penulis lakukan, perbedaan terletak pada hasil penelitian dalam penelitian tersebut membahas tentang pengaruh

pelayanan di rumah sakit di masa pandemi Covid-19 Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif.

Pada penelitian Yohana Puji Dyah Utami, dkk (2021) mengkaji tentang kesiapan rumah sakit dalam menghadapi pandemi Covid 19 yang sedang mewabah serta penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif

Pada penelitian Nina Sarasnita, dkk (2021) perbedaan penelitan ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan terdapat pada hasil penelitian, penelitian ini mengkaji pelayanan Kesehatan di Indonesia selama masa pandemi Covid-19

Penelitian RM Affandi Akbar (2021) pada penelitian ini terdapat penelitian dengan peneliti lakukan perbedaan tersebut yaitu penelitian ini menkaji tentang Manajemen Klinis UGD di rumah sakit Siaga raya pada masa pandemi.

Pada penelitian Dian Nurani, dkk (2021) perbedaan penelitian ini pada penelitian yang penulis lakukan terletak pada fokus penelitian, penelitian ini mengkaji tentang mutu pelayanan yang berfokus pada kemoterapi di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado

Dari uraian diatas penulis menyimpulkan perbandingan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis yaitu (1) manajemen rumah sakit menyikapi munculnya Covid-19 dan membentuk manajemen penanganan Covid di Ruah Sakit Umum Daerah Labuang Baji.

(2) Pada penelitian ini memfokuskan bagaimana mutu pelayanan dalam tahap perencanaan dan pelaksanaan penanganan pasien Covid-19 (3) Peran

teknologi digitalisasi dalam membantu keberhasilan manajemen penanganan Covid-19. (4) Pentingnya peran akuntabilitas serta kepatuhan dalam pengorganisasian manajemen rumah sakit dalam menangani Covid-19 B. Teori dan Konsep

1. Manajemen

a. Pengertian Manajemen

Perkembangan awal Manajemen Peradaban kuno pada bagian Barat Mesopotamia dan tulisan-tulisan orang-orang Mesir Kuno sekitar tahun 1200 sebelum masehi menunjukkan sudah adanya pengetahuan serta penggunaan manajemen untuk mengelola soal-soal politik (Winardi, 1990). Sejarah Yunani kuno dan kerajaan Romawi banyak memberikan bukti tentang pengetahuan manajemen terutama dalam pengelolaan persidangan di pengadilan, praktek pemerintahan, organisasi tentara, kesatuan usaha-usaha kelompok dan pelaksanaan otoritas. Demikian pula organisasi gereja telah menggunakan struktur organisasi sedunia yang menyusun otoritas sendiri sebagai bukti penerapan manajemen sampai pertengahan abad ke-18 juga menggunakan prinsip manajemen dalam meningkatkan produksi menurut Winardi dalam (Wijaya dan Rifa’i, 2016)

Manajemen berasal dari bahasa latin, yaitu dari asal kata manus yang berarti tangan dan agree yang berarti melakukan. Kata-kata itu digabung menjadi manajer yang artinya menangani. Managere diterjemahkan ke bahasa inggris to manage (kata kerja), management (kata benda), dan manajer untuk

orang yang melakukannya. Management diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi manajemen (pengelolaan)

Manajemen adalah suatu proses pengaturan dan pemanfaatan sumber daya yang dimiliki organisasi melalui kerjasama para anggota untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Berarti manajemen merupakan perilaku anggota dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuannya. Dengan kata lain, organisasi adalah wadah bagi operasionalisasi manajemen. Karena itu di dalamnya ada sejumlah unsur pokok yang membentuk kegiatan manajemen, yaitu: unsur manusia (men), barang-barang (materials), mesin (machines), metode (methods), uang (money) dan pasar atau (market). Keenam unsur ini memiliki fungsi masing-masing dan saling berinteraksi atau mempengaruhi dalam mencapai tujuan organisasi terutama proses pencapaian tujuan secara efektif dan efisien.

Menurut Guullick, Luther (1861-1896) dalam (U. Effendi, 2015) mengemukakan bahwa: manajemen adalah suatu bidang ilmu (science) yang dipelajari secara sistematis. (Maksudnya mempelajari manajemen dengan menitikberatkan pada unsur ilmunya dalam arti manajemen digunakan sebagai ilmu pengetahuan).

Menurut (Taufiqurokhman & Satispi, 2018) Manajemen merupakan suatu ilmu dan juga suatu seni. Sebagai suatu ilmu, manajemen harus memiliki landasan keilmuan yang kokoh. Sebagai seni, maka manajemen dipraktekkan berdasarkan keterampilan yang diterapkan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Dari batasan-batasan tersebut, dapat dikatakan bahwa

manajemen adalah ilmu dan seni yang mempelajari bagaimana mengelola manusia melalui orang lain

Menurut Follet, Mary Parker berpendapat bahwa: manajemen adalah sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. (Dia mengartikan manajemen yang menitikberatkan pada seninya, dimana praktik atau implementasi membauat system yang baik dan benar.

Menurut Koontz,Harold dan Cyril O’Donnel (mendefinisikan manajemen sebagai usaha mencapai suatu tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain, dengan demikian seorang manajer mengadakan koordinasi atas sejumlah aktivitas orang lain yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penempatan, pengarahan dan pengendalian.

Menurut Terry, George R. berpendapat bahwa manajemen adalah suatu proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya.

Menurut Sikula, Andrew F. menguraikan manajemen pada umumnya dikaitkan dengan aktivitas-aktivitas perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, penempatan, pengarahan, pemotivasian, komunikasi dan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh setiap organisasi dengan tujuan untuk mengkoordinasikan berbagai sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan sehingga akan dihasilkan suatu produk atau jasa secara efisien.

Mondy & Premeaux (1995) mengemukakan “management is the process of gettings thing done through the efforts of other people”. Dengan

demikian pada hakikatnya proses manajemen dilakukan para manajer di dalam suatu organisasi, dengan cara-cara atau aktivitas tertentu mereka mempengaruhi para personil atau anggota organisasi, pegawai, karyawan atau buruh agar mereka bekerja sesuai prosedur, pembagian kerja, dan tanggung jawab yang diawasi untuk mencapai tujuan bersama.

Clayton Reeser (1973) berpendapat bahwa manajemen adalah pemanfaatan sumber daya fisik dan manusia melalui usaha yang terkoordinasi dan diselesaikan dengan mengerjakan fungsi perencanaan, pengorganisasian, penyusunan staf, pengarahan dan pengawasan. Dalam pendapat ini disadari betul betapa pentingnya peranan sumber daya (resources) yang dimiliki organisasi, baik sumber daya manusia (human resources) maupun sumber daya material. Karena memanfaatkan kedua sumber daya tersebut oleh manajer dalam suatu organisasi secara efektif dan efisien akan mengoptimalkan pencapaian tujuan organisasi. Pemanfaatan sumber daya organisasi tersebut dimulai dari melakukan perencanaan yang tepat , pengorganisasian yang mantap, penyusunan staf yang tepat dan profesional, pengarahan dan pengawasan yang terkendali dengan baik akan menjamin berfungsinya proses manajerial.

Berdasarkan beberapa definisi yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa manajemen merupakan suatu tindakan yang dilakukan dengan menggunakan sumber dan jasa manusia lainnya dikaitkan dengan

aktivitas-aktivitas perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, penempatan, pengarahan, pemotivasian, komunikasi dan pengambilan keputusan oleh sebuah instansi maupun organisasi dalam mewujudkan suatu tujuan yang telah terencana.

b. Fungsi-fungsi Manajemen

Menurut Robbins dan Coulter menyebutkan bahwa fungsi-fungsi manajemen adalah perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengawasan.

1) Perencanaan, mencakup pendefinisian tujuan, penetapan strategi, dan mengembangkan rencana untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan.

2) Pengorganisasian, menentukan tugas apa saja yang dikerjakan, siapa yang mengerjakan, bagaimana tugas-tugas dikelompokkan, siapa melapor kepada siapa, dan pada tingkat mana keputusan harus dibuat.

3) kepemimpinan, meliputi kegiatan-kegiatan memotivasi bawahan, mengarahkan, menyeleksi saluran komunikasi yang paling efektif, dan memecahkan konflik. Pengendalian, meliputi pemantauan kegiatan-kegiatan untuk memastikan bahwa semua orang mencapai apa yang telah direncanakan dan mengoreksi penyimpangan-penyimpangan yang ada.

Menurut George R. Terry dalam bukunya Principles of Management membagi empat fungsi dasar manajemen, yaitu Planning (Perencanaan), Organizing (Pengorganisasian), Actuating (Pelaksanaan) dan Controlling (Pengawasan). Keempat fungsi manajemen ini disingkat dengan POAC

1) Perencanaan (planning), Perencanaan adalah pemilih fakta dan penghubungan fakta-fakta serta pembuatan dan penggunaan perkiraan-perkiraan atau asumsi-asumsi untuk masa yang akan datang dengan jalan menggambarkan dan merumuskan kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Ia juga mengemukakan planning sebagai penentuan tujuan-tujuan yang hendak dicapai selama suatu masa yang akan datang dan apa yang harus diperbuat agar dapat mencapai tujuan-tujuan itu. Planning (perencanaan), berarti menentukan suatu cara bertindak yang memungkinkan organisasi dapat mencapai tujuannya.

Planning (perencanaan) menurut Usman (2011: 66) merupakan

proses pengambilan keputusan atas sejumlah alternatif mengenai sasaran dan cara-cara yang akan dilaksanakan di masa yang akan datang guna mencapai tujuan yang dikehendaki serta pemantauan dan penilaiannya atas hasil pelaksanaannya, yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan.

2) Pengorganisasian (organizing), Pengorganisasian ialah penentuan, pengelompokkan, dan penyusunan macam-macam kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan, penempatan orang-orang (pegawai), terhadap kegiatan-kegiatan ini, penyediaan faktor-faktor fisik yang cocok bagi keperluan kerja dan penunjukkan hubungan wewenang, yang dilimpahkan terhadap setiap orang dalam hubungannya dengan pelaksanaan setiap kegiatan yang diharapkan. Terry juga mengemukakan tentang asas-asas organizing meliputi the objective atau tujuan,

departementation atau pembagian kerja, assign the personel atau

penempatan tenaga kerja, authority and responsibility atau wewenang dan tanggung jawab delegation of authority atau pelimpahan wewenang.

Organizing (pengorganisasian), berarti memobilisasi sumber daya

manusia dan sumber daya alam dari organisasi untuk mewujudkan rencana menjadi suatu hasil.

3) Pelaksanaan/Penggerakan (Actuating), adalah membangkitkan dan mendorong semua anggota kelompok agar supaya berkehendak dan berusaha dengan keras untuk mencapai tujuan dengan ikhlas serta serasi dengan perencanaan dan usaha-usaha pengorganisasian dari pihak pimpinan. Tercapainya tujuan bukan hanya tergantung kepada planning dan organizing yang baik, melainkan juga tergantung pada penggerakan dan pengawasan serta bergerak atau tidaknya seluruh anggota kelompok manajemen, mulai dari tingkat atas, menengah sampai kebawah. Segala kegiatan harus terarah kepada sasarannya, mengingat kegiatan yang tidak terarah kepada sasarannya hanyalah merupakan pemborosan

Motivating (pemberian motivasi), pemberian inspirasi, semangat

dan dorongan kepada bawahan agar melakukan kegiatan secara suka rela sesuai dengan tugas-tugasnya

4) Pengawasan (Controlling) Pengawasan dapat dirumuskan sebagai proses penentuan apa yang harus dicapai yaitu standard, apa yang sedang dilakukan yaitu pelaksanaan, menilai pelaksanaan, dan bilaman perlu melakukan perbaikan-perbaikan, sehingga pelaksanaan sesuai dengan

rencana, yaitu selaras dengan standard (ukuran). Control mempunyai peranan atau kedudukan yang penting sekali dalam manajemen, mengingat mempunyai fungsi untuk menguji apakah pelaksanaan kerja teratur tertib, terarah atau tidak. Walaupun planning, organizing, actuating baik, tetapi apabila pelaksanaan kerja tidak teratur, tertib dan

terarah, maka tujuan yang telah ditetapkan tidak akan tercapai. Dengan demikian control mempunyai fungsi untuk mengawasi segala kegiatan agar tertuju kepada sasarannya, sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai

Menurut Ricky W. Griffin (2004) mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efisien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.

1) Fungsi Perencanaan Dalam manajemen, perencanaan adalah proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi.

Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan fungsi-fungsi lain pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan tak akan dapat berjalan.

2) Fungsi Pengorganisasian Proses yang menyangkut bagaimana strategi dan taktik yang telah dirumuskan dalam perencanaan didesain dalam sebuah struktur organisasi yang tepat dan tangguh, sistem dan lingkungan organisasi yang kondusif, dan dapat memastikan bahwa semua pihak dalam organisasi dapat bekerja secara efektif dan efisien guna pencapaian tujuan organisasi.

3) Fungsi Pengarahan dan Implementasi Proses implementasi program agar dapat dijalankan oleh seluruh pihak dalam organisasi serta proses memotivasi agar semua pihak tersebut dapat menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh kesadaran dan produktivitas yang tinggi.

4) Fungsi Pengawasan dan Pengendalian Proses yang dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan, diorganisasikan dan diimplementasikan dapat berjalan sesuai dengan target yang diharapkan sekalipun berbagai perubahan terjadi dalam lingkungan dunia bisnis yang dihadapi.

Fungsi dan Proses Manajemen Pada umumnya manajemen dibagi menjadi beberapa fungsi, yaitu merencanakan, mengkoordinasikan, mengawasi dan mengendalikan kegiatan dalam rangka usaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan secara efisien dan efektif. Henry Fayol (2010) mengusulkan bahwa semua manajer paling tidak melaksanakan lima fungsi manajemen, yakni merancang, mengorganisasikan, memerintah, mengkoordinasikan, dan mengendalikan.

1. Perencanaan Perencanaan dapat diartikan sebagai suatu proses untuk menentukan tujuan serta sasaran yang ingin dicapai dan mengambil langkah-langkah strategis guna mencapai tujuan tersebut. Melalui perencanaan seorang manajer akan dapat mengetahui apa saja yang harus dilakukan dan bagaimana cara untuk melakukannya.

2. Pengorganisasian Pengorganisasian merupakan proses pemberian perintah, pengalokasian sumber daya serta pengaturan kegiatan secara terkoordinir kepada setiap individu dan kelompok untuk menerapkan rencana. Kegiatan-kegiatan yang terlibat dalam pengorganisasian mencakup tiga kegiatan yaitu (1) membagi komponen-komponen kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan dan sasaran dalam kelompok-kelompok, (2) membagi tugas kepada manajer dan bawahan untuk mengadakan pengelompokkan tersebut, (3) menetapkan wewenang di antara kelompok atau unit-unit organisasi.

3. Pengarahan Pengarahan adalah proses untuk menumbuhkan semangat (motivation) pada karyawan agar dapat bekerja keras dan giat serta membimbing mereka dalam melaksanakan rencana untuk mencapai tujuan yang efektif dan efisien. Melalui pengarahan, seorang manajer menciptakan komitmen, mendorong usaha-usaha yang mendukung tercapainya tujuan.

4. Pengendalian Bagian terakhir dari proses manajemen adalah pengendalian (controlling). Pengendalian dimaksudkan untuk melihat apakah kegiatan organisasi sudah sesuai dengan rencana sebelumnya.

Fungsi pengendalian mencakup empat kegiatan, yaitu (1) menentukan standar prestasi; (2) mengukur prestasi yang telah dicapai selama ini;

(3) membandingkan prestasi yang telah dicapai dengan standar prestasi; dan (4) melakukan perbaikan jika terdapat penyimpangan dari standar prestasi yang telah ditetapkan.

Berdasarkan beberapa definisi yang telah dijabarkan dapat ditarik kesimpulan bahwa fungsi- fungsi manajemen terdiri dari planning ( perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (pelaksanaan) serta controlling (pengendalian). Mengingat keadaan dapat mengalami perubahan sehingga dapat memberikan dampak jangka pendek atau jangka panjang baik individu maupun organisasi Sehingga fungsi- fungsi manajemen dalam usaha dapat membantu pengelolaan pengorganisasian untuk mencapai tujuan.

c. Tingkatan Manajemen

1) Manajemen Puncak (Top Management)

Manajer bertaggung jawab atas pengaruh yang ditimbulkan dari keputusan-keputusan manajemen keseluruhan dari organisasi. Misal:

Direktur, wakil direktur, direktur utama. Keahlian yang dimiliki para manajer tingkat puncak adalah konseptual, artinya keahlian untuk membuat dan merumuskan konsep untuk dilaksanakan oleh tingkatan manajer di bawahnya.

2) Manajemen Menengah (Middle Management)

Manajemen menengah harus memiliki keahlian interpersonal/manusiawi, artinya keahlian untuk berkomunikasi, bekerjasama dan memotivasi orang lain. Manajer bertanggungjawab melaksanakan reana dan memastikan tercapainya suatu tujuan. Misal:

manajer wilayah, kepala divisi, direktur produk.

3) Manajemen Bawah/Lini (Low Management)

Manager bertanggung jawab menyelesaikan rencana-rencana yang telah ditetapkan oleh para manajer yang lebih tinggi. Pada tingkatan ini juga memiliki keahlian yaitu keahlian teknis, artinya keahlian yang mencakup prosedur, teknik, pengetahuan dan keahlian dalam bidang khusus. Misal: supervisor/pengawas produksi, mandor.

4) Operative Menjalankan kegiatan-kegiatan implementatif sesuai yang ditugaskan oleh top manajemen melalui Middle managers dan First line managers (Para pekerja teknis).

2. Rumah Sakit

Rumah sakit adalah suatu organisasi yang unik dan kompleks karena merupakan institusi yang padat karya, mempunyai sifat-sifat dan ciri serta fungsi- fungsi yang khusus dalam proses menghasilkan jasa medik dan mempunyai berbagai kelompok profesi dalam pelayanan penderita. Rumah sakit adalah suatu organisasi yang melalui tenaga medis profesional yang terorganisir serta sarana kedokteran yang permanen menyelenggarakan pelayanan kesehatan, asuhan keperawatan yang berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan

penyakit yang diderita oleh pasien (Qauliyah, 2008:13). Rumah Sakit merupakan suatu tempat dan juga sebuah fasilitas, sebuah institusi dan organisasi yang menyediakan pelayanan pasien rawat inap. Rumah Sakit juga merupakan suatu tempat bekerja tenaga kesehatan yang berhubungan langsung dengan pasien dalam upaya pelayanan kesehatan. Untuk itu rumah sakit dapat dipandang bertanggung jawab atas kesalahan dan atau kelalaian tenaga kesehatan yang bekerja di dalamnya (Aditama, 2002:43).

Menurut (WHO, 2020), Rumah Sakit adalah institusi yang merupakan bagian integral dari organisasi kesehatan dan organisasi sosial, berfungsi menyediakan pelayanan kesehatan yang lengkap, baik kuratif maupun preventif bagi pasien rawat jalan maupun rawat inap, kegiatan pelayanan medis serta perawatan dan institusi pelayanan ini juga berfungsi sebagai tempat pelatihan personil dan riset kesehatan. Menurut UU RI.No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit pasal 5 mengatakan bahwa fungsi Rumah Sakit adalah :

1) Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis;

2) Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan Rumah Sakit;

3) Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan dan;

4) Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.

Dalam pelaksanaan tugasnya rumah sakit mempunyai fungsi menyelenggarakan pelayanan medis, penunjang medis dan non medis pelayanan dan asuhan keperawatan, pelayanan rujukan, pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan serta administrasi dan keuangan (Sahadia,

Dalam pelaksanaan tugasnya rumah sakit mempunyai fungsi menyelenggarakan pelayanan medis, penunjang medis dan non medis pelayanan dan asuhan keperawatan, pelayanan rujukan, pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan serta administrasi dan keuangan (Sahadia,

Dokumen terkait