• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh: NURUL HAVIVA. Nomor Induk Mahasiswa :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Oleh: NURUL HAVIVA. Nomor Induk Mahasiswa :"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

COVID-19 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LABUANG BAJI KOTA MAKASSAR

Oleh:

NURUL HAVIVA

Nomor Induk Mahasiswa : 105611119917

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2022

(2)

COVID-19 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LABUANG BAJI KOTA MAKASSAR

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Studi dan Memperoleh Gelar Sarjana Administrasi Publik (S.AP)

Disusun dan Diajukan Oleh:

NURUL HAVIVA

Nomor Induk Mahasiswa : 10561 11199 17

Kepada

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2022

(3)
(4)
(5)
(6)

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Manajemen Rumah sakit dalam Penanganan Pasien Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji”, sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1) Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Politik dan Ilmu Sosial Universitas Muhammadiyah Makassar.

Selama penelitian dan penulisan skripsi ini banyak sekali hambatan yang penulis alami, namun berkat bantuan, dorongan serta bimbingan dari berbagai pihak, akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak mungkin terselesaikan tanpa adanya dukungan, bantuan, bimbingan, dan nasehat dari berbagai pihak selama penyusunan skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih setulus-tulusnya kepada:

1. Ayahanda Talha Malaka dan Ibunda Erni T di rumah yang selalu memberikan kasih sayang, doa, dukungan moril serta materi, nasihat dan semuanya dari hal kecil sampai besar dari yang nampak maupun tak nampak. Penulis ucapkan banyak terima kasih.

2. Dr. Abdul Mahsyar, M.Si selaku dosen Pembimbing I, yang telah memberikan bimbingan, arahan, dorongan kepada penulis sehingga penyusunan skripsi ini berjalan dengan baik.

3. Dr. Abdi, M.Pd selaku dosen Pembimbing II atas segala bimbingan, motivasi, dan saran kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

4. Staf dan dosen yang telah memberikan ilmu dan pengetahuan kepada penulis selama mengikuti studi.

5. Saudara saudariku, Fildayani, S.IP, Muh Aidil, Muhammad Alauddin Al- Giffari adik bungsu imut menggemaskan. Tak lupa juga keponakan gantengku

(7)
(8)

ABSTRAK

Nurul Haviva, Abdul Mahsyar dan Abdi 2021. Manajemen Rumah sakit dalam Penanganan Pasien Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji

Masuknya coronavirus disease atau Covid-19 di Indonesia membawa perubahan yang cukup signifikan pada hampir seluruh bidang terutama bidang kesehatan. Hal tersebut tentu saja mempengaruhi manajemen penanganan pasien di Rumah Sakit karena pasien yang terkontaminasi terhadap Virus Covid-19 membutuhkan penanganan yang berbeda dari pasien pada umumnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Manajemen Rumah Sakit Dalam Penanganan Pasien Covid-19 Di Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji Kota Makassar, dilaksanakan selama kurang lebih tiga bulan di RSUD Labuang Baji. Jenis penelitian menggunakan penelitian kualitatif dengan tipe studi kasus. Informan berjumlah 5 orang berasal dari bagian humas yang dianggap mengetahui tentang manajemen rumah sakit dalam penanganan pasien, perawat selaku anggota tim Covid-19, pasien dan keluarga pasien Covid-19. Data penelitian ini dikumpul melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan media review. Pengabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber lalu dianalisis melalui teknik reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen rumah sakit dalam penanganan pasien Covid-19 telah sesuai dengan fungsi-fungsi manajemen berdasarkan teori George Terry yaitu planning (perencanaan) mencakup tata cara yang akan dilakukan dalam mencapai tujuan pada RSUD Labuang Baji dilakukan pembentukan tim covid-19, organizing (pengorganisasian) pembentukan tim Covid yang mana dilakukan oleh pimpinan mengeluarkan SK kemudian perekrutan anggota tim Covid dilakukan oleh masing-masing kepala bidang, actuating (pelaksanaan) pelaksanaan penanganan pasien dimulai dari diagnosa awal penyakit kemudian, perawatan, pemberian edukasi mengenai virus Covid-19, dan controlling (pengawasan dan evaluasi) paramedik yang melakukan evaluasi terhadap pasien dengan dua cara yaitu evaluasi proses dan evaluasi akhir.

Kata Kunci: Manajemen, Rumah sakit, Covid-19

(9)

DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN UJIAN AKHIR ... i

HALMAN PERSETUJUAN TIM ... ii

HALAMAN PERNYATAAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

ABSTRAK ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7

A. Penelitian Terdahulu ... 7

B. Konsep Manaejemen. ... 12

C. Kerangka Pikir ... 29

D. Fokus Penelitian ... 30

E. Deskripsi Fokus Penelitian ... 31

BAB III METODE PENELITIAN ... 33

A. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 33

B. Jenis dan Tipe Penelitian ... 33

C. Informan ... 34

D. Pengumpulan Data ... 34

E. Teknik Analisis Data ... 35

F. Pengabsahan Data ... 36

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 37

A. Objek Penelitian ... 37

B. Hasil Penelitian ... 47

C. Pembahasan Penelitian ... 59

BAB V PENUTUP ... 68

A. Kesimpulan ... 68

B. Saran ... 69

DAFTAR PUSTAKA ... 70

LAMPIRAN ... 72

(10)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Pikir ... 29

Gambar 4.1 Peta lokasi Kota Makassar ... 37

Gambar 4.2 Gambaran pembagian lokasi 14 kecamatan di Kota Makassar ... 38

Gambar 4.3 Lokasi Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji ... 40

Gambar 4.4 Denah Rumah Sakit... 40

Gambar 4.5 Struktur Organisasi RSUD Labuang Baji ... 44

Gambar 4.6 Data Sebaran Covid Se-Kota Makassar ... 58

Gambar 4.6 Ilustrasi uraian manajemen penanganan pasien Covid ... 60

Gambar 4.8 Grafik pasien Covid-19 yang meninggal di RSUD Labuang Baji tahun 2021 ... 61

Gambar 4.9 Data kasus suspect dan confirm pasien covid-19 di RSUD Labuang Baji tahun 2020-2021 ... 65

Gambar 4.10 Grafik pelayanan vaksinasi di RSUD Labuang Baji ... 69

(11)

A. Latar Belakang

Manajemen merupakan suatu ilmu/ seni yang berisi kegiatan perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), serta pengendalian (controlling) dalam menuntaskan seluruh urusan dengan menggunakan seluruh sumberdaya yang terdapat pada orang lain supaya mencapai tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Manajemen berfungsi menerangkan, kejadian-kejadian, gejala-gejala yang terjadi dalam suatu organisasi dengan memberi penjelasan-penjelasan.

Manajemen dapat diartikan sebagai suatu proses penerapan ilmu dan seni untuk menyusun rencana, mengimplementasikan rencana, mengkoordinasikan dan menyelesaikan aktivitas-aktivitas pelayanan demi terciptanya tujuan pelayanan.

Hal ini berarti masyarakat semakin sadar akan apa yang menjadi hak dan kewajibannya sebagai warga negara dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Ramli, 2013).

Pelaksanaan pelayanan publik pada prinsipnya ditujukan kepada manusia.

Sudah menjadi kodratnya setiap manusia membutuhkan pelayanan, bahkan secara ekstrim dapat dikatakan bahwa pelayanan tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Masyarakat setiap waktu selalu menuntut pelayanan publik yang berkualitas dari birokrat, meskipun tuntutan tersebut sering tidak sesuai dengan harapan karena secara empiris pelayanan publik yang terjadi selama ini masih bercirikan hal-hal seperti berbelit-belit, lamban, mahal, melelahkan, ketidakpastian.

(12)

“melayani” bukan yang dilayani (Mahsyar, 2011).

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan menyebutkan bahwa Pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk menjamin setiap warga negara memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan.

Sebagai suatu kebutuhan dasar, setiap individu bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya, sehingga pada dasarnya pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap kesehatan adalah tanggung jawab setiap warganegara.

Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Prof. dr. Abdul Kadir, Ph.D, Sp.

THT-KL (K), MARS menjelaskan masa pandemi Covid-19 menuntut pelayanan cepat, tepat dengan tetap menjaga mutu pelayanan. “Pimpinan Rumah Sakit harus mampu mengambil keputusan dan tindakan yang bersifat extraordinary namun tetap dalam koridor ketentuan. sehingga pada kondisi ini dewan pengawas sangat berperan dalam mengawal akuntabilitas dan kepatuhan Rumah Sakit,” Tak hanya itu, Prof. Kadir mengingatkan strategi lainnya bahwa rumah sakit bekerja berdasarkan data, menggunakan teknologi digitalisasi, ketangkasan manajemen dalam merespon perubahan eksternal, menjaga akuntabilitas maupun kepatuhan

Menurut Ridwan dan Sudrajat (2009:103), setiap penyelenggaraan pelayanan publik harus memiliki standar pelayanan dan dipublikasikan sebagai jaminan adanya kepastian bagi penerima pelayanan. Standar pelayanan adalah ukuran yang diberlakukan dalam penyelenggaraan pelayanan yang wajib ditaati oleh pemberi dan atau penerima pelayanan. adapun standar pelayanan yakni meliputi sebagai

(13)

termasuk pengaduan, waktu penyelesaian yang ditetapkan sejak saat pengajuan permohonan sampai dengan penyelesaian pelayanan termasuk pengaduan, termasuk rincian yang ditetapkan dalam proses pemberian pelayanan, hasil pelayanan yang akan diterima sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan, penyedian sarana dan prasarana pelayanan yang memadai oleh penyelenggaraan pelayanan publik, kompetensi petugas pemberi pelayanan harus ditetapkan dengan tepat berdasarkan pengetahuan, keahlian, keterampilan, sikap, dan perilaku yang dibutuhkan demi terciptanya mutu pelayanan baik.

Reputasi serta prestasi yang baik merupakan perihal yang mau dicapai oleh industri lewat kegiatan kehumasan. Bila industri memiliki citra yang baik hingga hendak berdampak baik pula pada perkembangan industri. Membangun, melindungi, dan meningkatkan citra industri memang tidaklah suatu pekerjaan yang gampang, diperlukan strategi khusus untuk menggapai semua itu. Citra dan reputasi yang baik tidak didapatkan dengan sendirinya oleh suatu sebuah industri. Sokongan serta kepercayaan dari mitra industri dan masyarakatlah yang menghasilkan anggapan yang baik serta citra positif bagi lembaga ataupun industry (Zulfikar, 2017).

Hal ini dapat optimal dilaksanakan dengan fungsi-fungsi manajemen Menurut Terry dalam (Aulia, 2019) manajemen dilakukan dalam empat langkah, yaitu (1) planning (perencanaan) merupakan proses pengambilan keputusan atas sejumlah alternatif mengenai sasaran dan cara-cara yang akan dilaksanakan di masa yang akan datang guna mencapai tujuan yang dikehendaki serta pemantauan dan penilaiannya atas hasil pelaksanaannya, yang dilakukan secara sistematis dan

(14)

daya manusia dan sumber daya alam dari organisasi untuk mewujudkan rencana menjadi suatu hasil, (3) actuating (pelaksanaan) adalah membangkitkan dan mendorong semua anggota kelompok agar supaya berkehendak dan berusaha dengan keras untuk mencapai tujuan dengan ikhlas serta serasi dengan perencanaan dan usaha-usaha pengorganisasian dari pihak pimpinan, dan (4) controlling (pengawasan dan evaluasi) pengawasan), berarti pemantauan (monitoring) rencana untuk menjamin agar dikemudikan dengan tepat. Teori ini sering juga disebut dengan POAC.

Menurut Permana, 2019 rumah sakit rujukan khusus Covid-19 harus memberikan asuhan penanganan yang baik, memberikan pelayanan yang aman, bermutu, dan efektif dalam upaya mempertahankan pelayanan yang sesuai dengan standar pelayanan yang sudah ditentukan, salah satunya adalah dengan melakukan kegiatan pencegahan dan pengendalian infeksi atau lebih dikenal sebagai PPI.

Sebagaimana pencapaian penanganan Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji dilansir pada kanal youtube Koran Fajar menyebutkan bahwa meskipun pasien Covid-19 meningkat namun di Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji memiliki angka kesembuhan tertinggi. Dalam sehari 5 hingga 10 pasien dinyatakan sembuh.

Selain menjadi salah satu rumah sakit rujukan Covid-19, Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji pernah mencapai 0 (nol) pasien Covid-19 dalam sepekan (Safitri, 2021).

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka saya sebagai penulis ingin melakukan penelitian lebih dalam dan membahas mengenai Manajemen Rumah

(15)

COVID-19.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka yang menjadi rumusan masalah pada penelitian ini yaitu bagaimana Manajemen Rumah Sakit Dalam Penanganan Pasien Covid-19 Di Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji Kota Makassar.

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah maka tujuan penelitian ini untuk mengetahui Manajemen Rumah Sakit Dalam Penanganan Pasien Covid-19 Di Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji Kota Makassar.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

a. Menambah pengetahuan di bidang sosial melalui penelitian yang dilaksanakan sehingga memberikan kontribusi pemikiran bagi pengembangan ilmu administrasi khususnya.

b. diharapkan dari penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi akademisi atau pihak-pihak yang berkompeten dalam pencarian informasi atau sebagai referensi mengenai manajemen rumah sakit di tengah pandemi

(16)

a. Bagi Pihak Rumah Sakit

Diharapkan penelitian ini memberikan saran atau masukan dalam tata kelola manajemen Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji

b. Bagi Penulis

Memberikan kesempatan bagi penulis untuk mengaplikasikan ilmu dan teori yang dipelajari selama ini. Selain itu dapat menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman bagi masyarakat.

(17)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Berikut ini adalah penelitian terdahulu yang diikuti oleh penulis guna menjadi referensi untuk penelitian terkait Manajemen Rumah sakit Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji Dalam Penanganan Pasien COVID-19, yang dimana penelitian terdahulu ini akan dibandingkan dengan masalah yang akan dikembangkan oleh penulis.

No Nama Peneliti Judul Penelitian Hasil Penelitian 1 (Nugraha,

2021)

Pengaruh pandemi Covid-19 terhadap pelayanan

Kesehatan bagian rekam medis di rumah sakit xx cimahi

Berdasarkan hasil penelitian mengenai Pengaruh Pandemi COVID-19 terhadap pelayanan kesehatan bagian rekam medis di rumah sakit XX Cimahi ini memperoleh hasil yaitu berdasarkan hasil wawancara dengan N1, N2, N3 mengatakan bahwasannya dengan adanya pandemic COVID-19 ini petugas khususnya di bagian Rekam Medis juga memperketat protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, menggunakan sarung tangan dan sering mencuci tangan agar petugas dapat mencegah penularan Covid-19 yang mungkin saja dibawa oleh pasien yang sedang mendaftar ataupun yang menempel pada berkas rekam medis. Banyaknya kasus pasien control dan pasien umum menurun sedangkan pasien

(18)

Covid-19 meningkat sehingga meningkatkannya pasien yang harus di daftarkan di UGD.

2 (Utami , 2021) Evaluasi kesiapan

rumah sakit

menghadapi bencana non-alam: studi kasus Covid-19 di rumah sakit bethesda

yogyakarta

Kesiapan rumah sakit Bethesda dalam masa bencana non-alam Covid-19 dinilai sedang berdasarkan skor Hospital Safety Index dengan kategori B.

Manajemen bencana rumah sakit Bethesda Yogyakarta mengadopsi konsep surge capacity dan incident command system untuk mengantisipasi lonjakan pasien Covid-19 dalam masa pandemi. Faktor-faktor penentu manajemen bencana di rumah sakit Bethesda Yogyakarta berdasarkan aspek space adalah perubahan tata ruang, penyiapan dan penggunaan ruang isolasi, penyiapan eskalasi ruang, dan alur ke ruang isolasi. Faktor- faktor penentu berdasarkan aspek staff adalah kesediaan SDM, kriteria SDM, kompetensi SDM, perlindungan terhadap staf, skrining dan isolasi bagi staf yang terpapar Covid-19, dan upaya memotivasi staf untuk pelayanan Covid.

3 (N. Effendi &

Widiastuti, 2021)

Dampak pandemi covid-19 terhadap pelayanan

Kesehatan rumah sakit di indonesia

Kajian literatur ini mendapatkan 1.002 artikel dari basis data Google Scholar, Pubmed dan Emerald. Didapatkan sebanyak 19 artikel yang layak untuk dilakukan analisis terkait dampak pandemic COVID-19

(19)

terhadap pelayanan kesehatan rumah sakit di Indonesia.

Mayoritas artikel adalah penelitian kuantitatif (89%), artikel terbitan jurnal (79%) dan merupakan penelitian survei (84%). Terdapat 7 tema dampak pandemi COVID-19 terhadap pelayanan kesehatan rumah sakit di Indonesia, yaitu penurunan jumlah pasien, modifikasi pelayanan oleh tenaga kesehatan, perubahan penggunaan sarana dan prasarana rumah sakit, perubahan kualitas pelayanan kesehatan, penambahan beban kerja tenaga kesehatan, strategi manajerial bagi pelayanan kesehatan dan dampak psikologis.

4 (Akbar , 2021) Pelaksanaan

Manajemen Klinis di Instalasi Gawat Darurat di RS

Siaga Raya Pada Masa Pandemi COVID-19

Hasil penelitian ini menunjukan . IGD RS Siaga Raya pada masa pandemi COVID-19 telah melakukan skrining pada dengan dilakukannya pemeriksaan suhu, saturasi oksigen dan pertanyaan singkat, apabila ditemukan indikasi COVID-19, pasien langsung diarahkan ke rumah sakit rujukan, dan bila ada pasien yang akan direncanakan rawat inap, pasien dilakukan pemeriksaan PCR dan Laboratorium . Evaluasi dan monitoring manajemen klinis COVID-19 belum dilakukan.

Terdapat hambatan terkait pelaksanaan alur manajemen klinis dan SOP yang masih

(20)

belum ada, serta keterbatasan ruangan IGD.

5 (Nurani, 2021) Dampak Pandemi Coronavirus Disease- 19 terhadap Mutu Pelayanan Kemoterapi di Ruang Delima RSUP Prof. Dr. R. D.

Kandou Manado

Hasil penelitian mendapatkan dimensi mutu sebagai berikut:

reliability, rerata sebelum pandemi (89,60%) dan masa pandemi (88,27%) (p=0,008);

responsiveness, rerata sebelum pandemi (84,27%) dan masa pandemi (83,47%) (p=0,000);

assurance, rerata sebelum pandemic (95,47%) dan masa pandemi (95,73%) (p=0,157);

empathy, rerata sebelum pandemi (92,53%) dan masa pandemi (92,27%) (p=0,157);

tangible, rerata sebelum pandemi (78,53%) dan masa pandemi (84,40%) (p=0,000). Simpulan penelitian ini ialah terdapat perbedaan mutu pelayanan dalam dimensi reliability, responsiveness, dan tangible namun tidak terdapat perbedaan mutu dalam dimensi assurance dan empathy antara sebelum dan pada masa pandemi Covid-19 terhadap pasien di ruang Delima RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado.

Tabel 2.1: Penelitian Terdahulu

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan peneliti lakukan :

Pada penelitian Intan Nurhadiyati Nugraha, dkk (2021) terdapat perbedaan dengan penelitan yang akan penulis lakukan, perbedaan terletak pada hasil penelitian dalam penelitian tersebut membahas tentang pengaruh

(21)

pelayanan di rumah sakit di masa pandemi Covid-19 Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif.

Pada penelitian Yohana Puji Dyah Utami, dkk (2021) mengkaji tentang kesiapan rumah sakit dalam menghadapi pandemi Covid 19 yang sedang mewabah serta penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif

Pada penelitian Nina Sarasnita, dkk (2021) perbedaan penelitan ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan terdapat pada hasil penelitian, penelitian ini mengkaji pelayanan Kesehatan di Indonesia selama masa pandemi Covid-19

Penelitian RM Affandi Akbar (2021) pada penelitian ini terdapat penelitian dengan peneliti lakukan perbedaan tersebut yaitu penelitian ini menkaji tentang Manajemen Klinis UGD di rumah sakit Siaga raya pada masa pandemi.

Pada penelitian Dian Nurani, dkk (2021) perbedaan penelitian ini pada penelitian yang penulis lakukan terletak pada fokus penelitian, penelitian ini mengkaji tentang mutu pelayanan yang berfokus pada kemoterapi di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado

Dari uraian diatas penulis menyimpulkan perbandingan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis yaitu (1) manajemen rumah sakit menyikapi munculnya Covid-19 dan membentuk manajemen penanganan Covid di Ruah Sakit Umum Daerah Labuang Baji.

(2) Pada penelitian ini memfokuskan bagaimana mutu pelayanan dalam tahap perencanaan dan pelaksanaan penanganan pasien Covid-19 (3) Peran

(22)

teknologi digitalisasi dalam membantu keberhasilan manajemen penanganan Covid-19. (4) Pentingnya peran akuntabilitas serta kepatuhan dalam pengorganisasian manajemen rumah sakit dalam menangani Covid-19 B. Teori dan Konsep

1. Manajemen

a. Pengertian Manajemen

Perkembangan awal Manajemen Peradaban kuno pada bagian Barat Mesopotamia dan tulisan-tulisan orang-orang Mesir Kuno sekitar tahun 1200 sebelum masehi menunjukkan sudah adanya pengetahuan serta penggunaan manajemen untuk mengelola soal-soal politik (Winardi, 1990). Sejarah Yunani kuno dan kerajaan Romawi banyak memberikan bukti tentang pengetahuan manajemen terutama dalam pengelolaan persidangan di pengadilan, praktek pemerintahan, organisasi tentara, kesatuan usaha-usaha kelompok dan pelaksanaan otoritas. Demikian pula organisasi gereja telah menggunakan struktur organisasi sedunia yang menyusun otoritas sendiri sebagai bukti penerapan manajemen sampai pertengahan abad ke-18 juga menggunakan prinsip manajemen dalam meningkatkan produksi menurut Winardi dalam (Wijaya dan Rifa’i, 2016)

Manajemen berasal dari bahasa latin, yaitu dari asal kata manus yang berarti tangan dan agree yang berarti melakukan. Kata-kata itu digabung menjadi manajer yang artinya menangani. Managere diterjemahkan ke bahasa inggris to manage (kata kerja), management (kata benda), dan manajer untuk

(23)

orang yang melakukannya. Management diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi manajemen (pengelolaan)

Manajemen adalah suatu proses pengaturan dan pemanfaatan sumber daya yang dimiliki organisasi melalui kerjasama para anggota untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Berarti manajemen merupakan perilaku anggota dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuannya. Dengan kata lain, organisasi adalah wadah bagi operasionalisasi manajemen. Karena itu di dalamnya ada sejumlah unsur pokok yang membentuk kegiatan manajemen, yaitu: unsur manusia (men), barang-barang (materials), mesin (machines), metode (methods), uang (money) dan pasar atau (market). Keenam unsur ini memiliki fungsi masing-masing dan saling berinteraksi atau mempengaruhi dalam mencapai tujuan organisasi terutama proses pencapaian tujuan secara efektif dan efisien.

Menurut Guullick, Luther (1861-1896) dalam (U. Effendi, 2015) mengemukakan bahwa: manajemen adalah suatu bidang ilmu (science) yang dipelajari secara sistematis. (Maksudnya mempelajari manajemen dengan menitikberatkan pada unsur ilmunya dalam arti manajemen digunakan sebagai ilmu pengetahuan).

Menurut (Taufiqurokhman & Satispi, 2018) Manajemen merupakan suatu ilmu dan juga suatu seni. Sebagai suatu ilmu, manajemen harus memiliki landasan keilmuan yang kokoh. Sebagai seni, maka manajemen dipraktekkan berdasarkan keterampilan yang diterapkan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Dari batasan-batasan tersebut, dapat dikatakan bahwa

(24)

manajemen adalah ilmu dan seni yang mempelajari bagaimana mengelola manusia melalui orang lain

Menurut Follet, Mary Parker berpendapat bahwa: manajemen adalah sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. (Dia mengartikan manajemen yang menitikberatkan pada seninya, dimana praktik atau implementasi membauat system yang baik dan benar.

Menurut Koontz,Harold dan Cyril O’Donnel (mendefinisikan manajemen sebagai usaha mencapai suatu tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain, dengan demikian seorang manajer mengadakan koordinasi atas sejumlah aktivitas orang lain yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penempatan, pengarahan dan pengendalian.

Menurut Terry, George R. berpendapat bahwa manajemen adalah suatu proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya.

Menurut Sikula, Andrew F. menguraikan manajemen pada umumnya dikaitkan dengan aktivitas-aktivitas perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, penempatan, pengarahan, pemotivasian, komunikasi dan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh setiap organisasi dengan tujuan untuk mengkoordinasikan berbagai sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan sehingga akan dihasilkan suatu produk atau jasa secara efisien.

(25)

Mondy & Premeaux (1995) mengemukakan “management is the process of gettings thing done through the efforts of other people”. Dengan

demikian pada hakikatnya proses manajemen dilakukan para manajer di dalam suatu organisasi, dengan cara-cara atau aktivitas tertentu mereka mempengaruhi para personil atau anggota organisasi, pegawai, karyawan atau buruh agar mereka bekerja sesuai prosedur, pembagian kerja, dan tanggung jawab yang diawasi untuk mencapai tujuan bersama.

Clayton Reeser (1973) berpendapat bahwa manajemen adalah pemanfaatan sumber daya fisik dan manusia melalui usaha yang terkoordinasi dan diselesaikan dengan mengerjakan fungsi perencanaan, pengorganisasian, penyusunan staf, pengarahan dan pengawasan. Dalam pendapat ini disadari betul betapa pentingnya peranan sumber daya (resources) yang dimiliki organisasi, baik sumber daya manusia (human resources) maupun sumber daya material. Karena memanfaatkan kedua sumber daya tersebut oleh manajer dalam suatu organisasi secara efektif dan efisien akan mengoptimalkan pencapaian tujuan organisasi. Pemanfaatan sumber daya organisasi tersebut dimulai dari melakukan perencanaan yang tepat , pengorganisasian yang mantap, penyusunan staf yang tepat dan profesional, pengarahan dan pengawasan yang terkendali dengan baik akan menjamin berfungsinya proses manajerial.

Berdasarkan beberapa definisi yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa manajemen merupakan suatu tindakan yang dilakukan dengan menggunakan sumber dan jasa manusia lainnya dikaitkan dengan

(26)

aktivitas-aktivitas perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, penempatan, pengarahan, pemotivasian, komunikasi dan pengambilan keputusan oleh sebuah instansi maupun organisasi dalam mewujudkan suatu tujuan yang telah terencana.

b. Fungsi-fungsi Manajemen

Menurut Robbins dan Coulter menyebutkan bahwa fungsi-fungsi manajemen adalah perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengawasan.

1) Perencanaan, mencakup pendefinisian tujuan, penetapan strategi, dan mengembangkan rencana untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan.

2) Pengorganisasian, menentukan tugas apa saja yang dikerjakan, siapa yang mengerjakan, bagaimana tugas-tugas dikelompokkan, siapa melapor kepada siapa, dan pada tingkat mana keputusan harus dibuat.

3) kepemimpinan, meliputi kegiatan-kegiatan memotivasi bawahan, mengarahkan, menyeleksi saluran komunikasi yang paling efektif, dan memecahkan konflik. Pengendalian, meliputi pemantauan kegiatan-kegiatan untuk memastikan bahwa semua orang mencapai apa yang telah direncanakan dan mengoreksi penyimpangan-penyimpangan yang ada.

Menurut George R. Terry dalam bukunya Principles of Management membagi empat fungsi dasar manajemen, yaitu Planning (Perencanaan), Organizing (Pengorganisasian), Actuating (Pelaksanaan) dan Controlling (Pengawasan). Keempat fungsi manajemen ini disingkat dengan POAC

(27)

1) Perencanaan (planning), Perencanaan adalah pemilih fakta dan penghubungan fakta-fakta serta pembuatan dan penggunaan perkiraan- perkiraan atau asumsi-asumsi untuk masa yang akan datang dengan jalan menggambarkan dan merumuskan kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Ia juga mengemukakan planning sebagai penentuan tujuan-tujuan yang hendak dicapai selama suatu masa yang akan datang dan apa yang harus diperbuat agar dapat mencapai tujuan-tujuan itu. Planning (perencanaan), berarti menentukan suatu cara bertindak yang memungkinkan organisasi dapat mencapai tujuannya.

Planning (perencanaan) menurut Usman (2011: 66) merupakan

proses pengambilan keputusan atas sejumlah alternatif mengenai sasaran dan cara-cara yang akan dilaksanakan di masa yang akan datang guna mencapai tujuan yang dikehendaki serta pemantauan dan penilaiannya atas hasil pelaksanaannya, yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan.

2) Pengorganisasian (organizing), Pengorganisasian ialah penentuan, pengelompokkan, dan penyusunan macam-macam kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan, penempatan orang-orang (pegawai), terhadap kegiatan-kegiatan ini, penyediaan faktor-faktor fisik yang cocok bagi keperluan kerja dan penunjukkan hubungan wewenang, yang dilimpahkan terhadap setiap orang dalam hubungannya dengan pelaksanaan setiap kegiatan yang diharapkan. Terry juga mengemukakan tentang asas-asas organizing meliputi the objective atau tujuan,

(28)

departementation atau pembagian kerja, assign the personel atau

penempatan tenaga kerja, authority and responsibility atau wewenang dan tanggung jawab delegation of authority atau pelimpahan wewenang.

Organizing (pengorganisasian), berarti memobilisasi sumber daya

manusia dan sumber daya alam dari organisasi untuk mewujudkan rencana menjadi suatu hasil.

3) Pelaksanaan/Penggerakan (Actuating), adalah membangkitkan dan mendorong semua anggota kelompok agar supaya berkehendak dan berusaha dengan keras untuk mencapai tujuan dengan ikhlas serta serasi dengan perencanaan dan usaha-usaha pengorganisasian dari pihak pimpinan. Tercapainya tujuan bukan hanya tergantung kepada planning dan organizing yang baik, melainkan juga tergantung pada penggerakan dan pengawasan serta bergerak atau tidaknya seluruh anggota kelompok manajemen, mulai dari tingkat atas, menengah sampai kebawah. Segala kegiatan harus terarah kepada sasarannya, mengingat kegiatan yang tidak terarah kepada sasarannya hanyalah merupakan pemborosan

Motivating (pemberian motivasi), pemberian inspirasi, semangat

dan dorongan kepada bawahan agar melakukan kegiatan secara suka rela sesuai dengan tugas-tugasnya

4) Pengawasan (Controlling) Pengawasan dapat dirumuskan sebagai proses penentuan apa yang harus dicapai yaitu standard, apa yang sedang dilakukan yaitu pelaksanaan, menilai pelaksanaan, dan bilaman perlu melakukan perbaikan-perbaikan, sehingga pelaksanaan sesuai dengan

(29)

rencana, yaitu selaras dengan standard (ukuran). Control mempunyai peranan atau kedudukan yang penting sekali dalam manajemen, mengingat mempunyai fungsi untuk menguji apakah pelaksanaan kerja teratur tertib, terarah atau tidak. Walaupun planning, organizing, actuating baik, tetapi apabila pelaksanaan kerja tidak teratur, tertib dan

terarah, maka tujuan yang telah ditetapkan tidak akan tercapai. Dengan demikian control mempunyai fungsi untuk mengawasi segala kegiatan agar tertuju kepada sasarannya, sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai

Menurut Ricky W. Griffin (2004) mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efisien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.

1) Fungsi Perencanaan Dalam manajemen, perencanaan adalah proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi.

Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan fungsi-fungsi lain pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan tak akan dapat berjalan.

(30)

2) Fungsi Pengorganisasian Proses yang menyangkut bagaimana strategi dan taktik yang telah dirumuskan dalam perencanaan didesain dalam sebuah struktur organisasi yang tepat dan tangguh, sistem dan lingkungan organisasi yang kondusif, dan dapat memastikan bahwa semua pihak dalam organisasi dapat bekerja secara efektif dan efisien guna pencapaian tujuan organisasi.

3) Fungsi Pengarahan dan Implementasi Proses implementasi program agar dapat dijalankan oleh seluruh pihak dalam organisasi serta proses memotivasi agar semua pihak tersebut dapat menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh kesadaran dan produktivitas yang tinggi.

4) Fungsi Pengawasan dan Pengendalian Proses yang dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan, diorganisasikan dan diimplementasikan dapat berjalan sesuai dengan target yang diharapkan sekalipun berbagai perubahan terjadi dalam lingkungan dunia bisnis yang dihadapi.

Fungsi dan Proses Manajemen Pada umumnya manajemen dibagi menjadi beberapa fungsi, yaitu merencanakan, mengkoordinasikan, mengawasi dan mengendalikan kegiatan dalam rangka usaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan secara efisien dan efektif. Henry Fayol (2010) mengusulkan bahwa semua manajer paling tidak melaksanakan lima fungsi manajemen, yakni merancang, mengorganisasikan, memerintah, mengkoordinasikan, dan mengendalikan.

(31)

1. Perencanaan Perencanaan dapat diartikan sebagai suatu proses untuk menentukan tujuan serta sasaran yang ingin dicapai dan mengambil langkah-langkah strategis guna mencapai tujuan tersebut. Melalui perencanaan seorang manajer akan dapat mengetahui apa saja yang harus dilakukan dan bagaimana cara untuk melakukannya.

2. Pengorganisasian Pengorganisasian merupakan proses pemberian perintah, pengalokasian sumber daya serta pengaturan kegiatan secara terkoordinir kepada setiap individu dan kelompok untuk menerapkan rencana. Kegiatan-kegiatan yang terlibat dalam pengorganisasian mencakup tiga kegiatan yaitu (1) membagi komponen-komponen kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan dan sasaran dalam kelompok-kelompok, (2) membagi tugas kepada manajer dan bawahan untuk mengadakan pengelompokkan tersebut, (3) menetapkan wewenang di antara kelompok atau unit-unit organisasi.

3. Pengarahan Pengarahan adalah proses untuk menumbuhkan semangat (motivation) pada karyawan agar dapat bekerja keras dan giat serta membimbing mereka dalam melaksanakan rencana untuk mencapai tujuan yang efektif dan efisien. Melalui pengarahan, seorang manajer menciptakan komitmen, mendorong usaha-usaha yang mendukung tercapainya tujuan.

4. Pengendalian Bagian terakhir dari proses manajemen adalah pengendalian (controlling). Pengendalian dimaksudkan untuk melihat apakah kegiatan organisasi sudah sesuai dengan rencana sebelumnya.

(32)

Fungsi pengendalian mencakup empat kegiatan, yaitu (1) menentukan standar prestasi; (2) mengukur prestasi yang telah dicapai selama ini;

(3) membandingkan prestasi yang telah dicapai dengan standar prestasi; dan (4) melakukan perbaikan jika terdapat penyimpangan dari standar prestasi yang telah ditetapkan.

Berdasarkan beberapa definisi yang telah dijabarkan dapat ditarik kesimpulan bahwa fungsi- fungsi manajemen terdiri dari planning ( perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (pelaksanaan) serta controlling (pengendalian). Mengingat keadaan dapat mengalami perubahan sehingga dapat memberikan dampak jangka pendek atau jangka panjang baik individu maupun organisasi Sehingga fungsi- fungsi manajemen dalam usaha dapat membantu pengelolaan pengorganisasian untuk mencapai tujuan.

c. Tingkatan Manajemen

1) Manajemen Puncak (Top Management)

Manajer bertaggung jawab atas pengaruh yang ditimbulkan dari keputusan-keputusan manajemen keseluruhan dari organisasi. Misal:

Direktur, wakil direktur, direktur utama. Keahlian yang dimiliki para manajer tingkat puncak adalah konseptual, artinya keahlian untuk membuat dan merumuskan konsep untuk dilaksanakan oleh tingkatan manajer di bawahnya.

(33)

2) Manajemen Menengah (Middle Management)

Manajemen menengah harus memiliki keahlian interpersonal/manusiawi, artinya keahlian untuk berkomunikasi, bekerjasama dan memotivasi orang lain. Manajer bertanggungjawab melaksanakan reana dan memastikan tercapainya suatu tujuan. Misal:

manajer wilayah, kepala divisi, direktur produk.

3) Manajemen Bawah/Lini (Low Management)

Manager bertanggung jawab menyelesaikan rencana-rencana yang telah ditetapkan oleh para manajer yang lebih tinggi. Pada tingkatan ini juga memiliki keahlian yaitu keahlian teknis, artinya keahlian yang mencakup prosedur, teknik, pengetahuan dan keahlian dalam bidang khusus. Misal: supervisor/pengawas produksi, mandor.

4) Operative Menjalankan kegiatan-kegiatan implementatif sesuai yang ditugaskan oleh top manajemen melalui Middle managers dan First line managers (Para pekerja teknis).

2. Rumah Sakit

Rumah sakit adalah suatu organisasi yang unik dan kompleks karena merupakan institusi yang padat karya, mempunyai sifat-sifat dan ciri serta fungsi- fungsi yang khusus dalam proses menghasilkan jasa medik dan mempunyai berbagai kelompok profesi dalam pelayanan penderita. Rumah sakit adalah suatu organisasi yang melalui tenaga medis profesional yang terorganisir serta sarana kedokteran yang permanen menyelenggarakan pelayanan kesehatan, asuhan keperawatan yang berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan

(34)

penyakit yang diderita oleh pasien (Qauliyah, 2008:13). Rumah Sakit merupakan suatu tempat dan juga sebuah fasilitas, sebuah institusi dan organisasi yang menyediakan pelayanan pasien rawat inap. Rumah Sakit juga merupakan suatu tempat bekerja tenaga kesehatan yang berhubungan langsung dengan pasien dalam upaya pelayanan kesehatan. Untuk itu rumah sakit dapat dipandang bertanggung jawab atas kesalahan dan atau kelalaian tenaga kesehatan yang bekerja di dalamnya (Aditama, 2002:43).

Menurut (WHO, 2020), Rumah Sakit adalah institusi yang merupakan bagian integral dari organisasi kesehatan dan organisasi sosial, berfungsi menyediakan pelayanan kesehatan yang lengkap, baik kuratif maupun preventif bagi pasien rawat jalan maupun rawat inap, kegiatan pelayanan medis serta perawatan dan institusi pelayanan ini juga berfungsi sebagai tempat pelatihan personil dan riset kesehatan. Menurut UU RI.No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit pasal 5 mengatakan bahwa fungsi Rumah Sakit adalah :

1) Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis;

2) Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan Rumah Sakit;

3) Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan dan;

(35)

4) Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.

Dalam pelaksanaan tugasnya rumah sakit mempunyai fungsi menyelenggarakan pelayanan medis, penunjang medis dan non medis pelayanan dan asuhan keperawatan, pelayanan rujukan, pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan serta administrasi dan keuangan (Sahadia, 2011:32).

a. Manajemen Rumah Sakit Sebelum COVID-19

Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit adalah sebuah sistem komputer yang memproses dan mengintegrasikan seluruh alur proses bisnis layanan kesehatan dalam bentuk jaringan koordinasi, pelaporan dan prosedur administrasi untuk memperoleh informasi secara cepat, tepat dan akurat. Saat ini Sistem Informasi Manajemen (SIM) berbasis komputer rumah sakit (SIMRS) merupakan sarana pendukung yang sangat penting, bahkan bisa dikatakan mutlak untuk mendukung pengelolaan operasional rumah sakit

Dalam membangun SIMRS kita perlu mempertimbangkan banyak faktor diantaranya adalah:

1) Kebutuhan Pasien Harapan pasien dari sebuah pelayanan kesehatan adalah diberikannya layanan yang cepat, nyaman dan berkualitas. Tingkat mobilitas pasien yang tinggi menuntut adanya komunikasi dan pelayanan yang cepat antara pasien dan institusi kesehatan, yang selanjutnya antara pasien dengan dokter. Pasien akan sangat tertolong bila sistem rumah sakit

(36)

mampu menyediakan kemudahan mendaftar ke dokter seperti lewat SMS, atau lewat website

2) Rumah sakit. Sesungguhnya bagi pasien alat komunikasi apa tidaklah penting karena faktor kecepatan, kenyamanan serta kebenaran data yang didokumentasikan itulah yang terpenting.

3) Kebutuhan Pengelola Rumah Sakit Dari sudut pengelola rumah sakit tentu saja menginginkan sebuah sistem yang ideal, istimewa, yang mampu mengelola semua transaksi yang ada secara akurat, efisien dan cepat, sehingga tak ada kata ‘terlambat’ pada pembuatan laporan masing-masing unit pelayanan medik karena setiap laporan akan tercetak otomatis dan terkirim secara otomatis pula. Bilamana ini dapat terjadi dan sistem mampu mengelola dan menyajikan data secara benar-benar, maka pengelola akan banyak diuntungkan, karena banyak mengurangi beban kerja semua komponen di rumah sakit dan itu berarti efisiensi (penghematan dana). Pengelola RS dapat mengalokasikan penghematan dana tersebut untuk pengembangan SDM, pengembangan fasilitas rumah sakit dan peningkatan kesejahteraan karyawan.

Program Menjaga Mutu (Quality Assurance Program) dalam Ilmu Administrasi Kesehatan diantaranya:

1) Program menjaga mutu adalah suatu upaya yang berkesinambungan, sistematis dan objektif dalam memantau dan memadai pelayanan yang diselenggarakan dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan, serta

(37)

menyelesaikan masalah yang ditemukan untuk memperbaiki mutu pelayanan (Maltos dan Keller, 1988)

2) Program menjaga mutu adalah suatu upaya, mengkaji secara periodik berbagai kondisi yang mempengaruhi pelayanan, melakukan pemantauan terhadap pelayanan, serta menelusuri yang dihasilkan sedemikian rupa sehingga berbagai kekurangan dan penyebab kekurangan dapat diketahui serta upaya perbaikan dapat dilakukan, kesemuanya untuk lebih menyempurnakan taraf kesehatan dan kesejahteraan (Donabedian, 1988).

b. Manajemen Rumah Sakit Sesudah COVID-19

Pelayanan kesehatan saat ini mengikuti Pedoman Pencegahan Coronavirus Disease-19 edisi pertama menurut Kementerian Kesehatan Indonesia (Indonesia, Kementerian Kesehatan 2020). Kepuasan pasien dapat dipengaruhi oleh adanya protokol kesehatan dan alur pelayanan triage Covid- 19 . Dorongan kepada masyarakat agar tetap menjaga jarak pada saat berkunjung ke rumah sakit, aturan untuk memakai masker selama di rumah sakit, serta adanya identifikasi awal serta pengendalian sumber infeksi berdampak pada perubahan alur pelayanan kepada pasien dapat membuat pasien merasa tidak nyaman.

Menurut Pujiyanto, Syaifudin, & Susi (2020) dalam Widya Astari, Noviantani, & Simanjuntak, (2021), diperlukan suatu tata kelola asuhan keperawatan yang berkualitas di era pandemi Covid-19. Semua belum ada pengalaman, panduan maupun tatakelola yang baku yang sudah teruji dan dapat diimplementasikan. Profesi keperawatan mendapat tantangan untuk

(38)

belajar, inovatif dan kreatif dalam memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas kepada pasien, secara khusus pasien Covid-19. Pendidikan tata kelola asuhan keperawatan berkualitas dari perspektif pengalaman pandemi Covid-19 harus diberikan di fasilitas pelayanan kesehatan primer dan sekunder, dan pendidikan tinggi keperawatan bagi para dosen dan mahasiswa keperawatan.

Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan mengubah banyak perilaku konsumen yang berdampak pada berbagai bisnis menjadi anjlok, tak terkecuali rumah sakit akibat pengaruh PSBB ini. Masyarakat enggan untuk berobat ke rumah sakit dan lebih memilih menggunakan aplikasi kesehatan berbasis telematik. Hal ini menyebabkan biaya pemasukan rumah sakit berkurang dibandingkan pengeluaran untuk pasien Covid sangat tinggi dikarenakan dibutuhkan APD khusus, belum lagi adanya rumor proses klaim Covid baik ke asuransi, perusahaan atau pemerintah yang tidak terlalu mulus dan masih banyak perdebatan.

Kondisi yang berkepanjangan ini tentunya tidak baik bagi kesehatan keuangan RS. Untuk itu sudah saatnya pihak rumah sakit berlomba lomba untuk mengubah atau menerapkan strategi yang baru tim marketing dan tim finance harus bisa melakukan inovasi dan mencari cara yang untuk mengembalikan kepercayaan dan mewujudkan “new normal versi Rumah sakit” berbagai macam sosial media seperti instagram, facebook, dan tiktok pun digunakan untuk kembalikan kepercayaan dan menciptakan persepsi RS yang aman, inovasi- inovasi kecil seperti Telekonsultasi, Pelayanan obat

(39)

Antar, laboratorium drive true telah dilakukan, inovasi besar pun mulai digalakan seperti penggunaan robotic surgery. Gontina, (2020)

Berdasarkan beberapa penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa apabila pengendalian administratif yang dicoba dengan pas, semacam pola penatalaksanaan penerimaan penderita dikala pandemi Covid- 19, bisa menjamin kenyamanan serta keamanan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada warga tanpa penularan. Perihal ini dapat dijadikan pedoman kalau pengelolaan pelayanan yang baik bisa senantiasa dicoba meski dalam masa pandemi COVID- 19. Implementasi regulasi yang sudah diresmikan oleh pemerintah, pengelolaan penerimaan penderita, pemberian pembelajaran kesehatan kepada penderita tentang pergantian prosedur pelayanan, dan terjaminnya keamanan serta kenyamanan penderita jadi bagian yang krusial.

C. Kerangka Pikir

Berdasarkan uraian di atas, sebelum melakukan penelitian terlebih dahulu penulis merumuskan kerangka pikir sebagai dasar dalam penelitian ini. Menurut George G Terry, kegiatan manajemen atau proses manajemen harus dibagi menjadi fungsi-fungsi yang sistematis meliputi kegiatan merencanakan (planning), mengorganisasikan (organizing), pelaksanaan/penggerak (anctuating), dan mengendalikan (controlling) kegiatan yang menggunakan sumber daya tertentu untuk mencapai tujuan organisasi tertentu dengan efisien dan efektif. Sehingga Untuk mengetahui manajemen rumah sakit yang efektif pada manajemen Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Bji maka digunakan teori George G Terry dengan melihat empat aspek yang telah disebutkan oleh penulis.

(40)

Gambar 2.1 kerangka pikir Sumber: olahan penulis

D. Fokus Penelitian

Dalam penelitian ini, yang menjadi fokus penelitian adalah untuk mengetahui manajemen rumah sakit dalam penanganan pasien Covid-19 pada salah satu rumah sakit rujukan Covid-19 yaitu Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji di Kota Makassar.

Manajemen Rumah Sakit Dalam Penanganan Pasien Covid-19 Di Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji Kota Makassar

Perencanaan (planning)

• Penetapan strategi

• Tujuan sasaran

• Koordinasi kegiatan

• Mutu pelayanan

Organisasi (organizing)

• Penempatan Pegawai

• penyusunan tugas

• Penentuan hubungan wewenang

Pelaksanaan (actuating)

• Pengarahan sasaran

• Penggerakan dan pengawasan

• Motivasi anggota

• Ketangkasan manajemen

pengendalian (controlling)

• Pengawasan pelaksamaam

• Evaluasi kegiatan

• Pemenuhan standar

Ketertataan Manajemen rumah sakit yang efektif

(41)

E. Deskripsi Fokus

Dalam penelitian ini, yang menjadi deskripsi fokus penelitian adalah sebagai berikut:

1. Perencanaan berarti kegiatan menetapkan strategi, tujuan, pengkoordinasian kegiatan organisasi dan memilih cara yang terbaik demi terciptanya mutu pelayanan yang baik dalam penanganan pasien Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji.

2. Pengorganisasian sebagai kegiatan mengkoordinasi sumber daya, Penempatan Pegawai, penyusunan tugas dan Penentuan hubungan wewenang otoritas di antara anggota organisasi agar tujuan organisasi dapat dicapai dengan cara yang efisien dan efektif serta ketangkasan manajemen dalam merespon perubahan yang terjadi.

3. pengarahan meliputi kegiatan memberi pengarahan sasaran, menggerakkan dan mengawasi serta memotivasi anggota demi menjaga akuntabilitas serta kepatuhan dalam penanganan pasien Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji.

4. Pengendalian bertujuan melakukan pengawasan pelaksanaan, evaluasi kegiatan meliputi perbaikan maupun penilaian serta pemenuhan standar penanganan pasien Covid guna melihat keberhasilan manajemen rumah sakit dalam menangani pasien Covid-19

(42)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Waktu yang digunakan peneliti untuk penelitian ini dalam kurun waktu kurang lebih dua bulan terhitung setelah pelaksanaan seminar proposal dan dikeluarkannya izin penelitian pada bulan Juli sampai bulan Agustus Tahun 2021.

Lokasi penelitian ini dilakukan pada Rumah Sakit Umum Daerah yaitu Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji Kota Makassar.

B. Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis Penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif karena menjelaskan dan menggambarkan manajemen penanganan pasien Covid-19 Di Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji di Kota Makassar

2. Tipe Penelitian

Tipe penelitian ini adalah fenomenologi dimaksudkan untuk memberi gambaran secara jelas mengenai masalah-masalah yang diteliti berdasarkan pengalaman yang dialami oleh informan. Adapun yang ingin diteliti adalah mengenai manajemen penanganan pasien Covid-19 Di Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji di Kota Makassar

(43)

C. Informan

Adapun informan dalam penelitian ini berjumlah 5 orang yang dipilih secara purposive, informan penelitian sebagai berikut:

1. Tim manajemen penanganan Covid-19 2. Perawat

3. Pasien Covid-19 4. Keluarga Pasien

Informan dipilih karena dianggap sebagai birokrat yang paling mengetahui masalah manajemen penanganan ditengah pandemik pada Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji. Data yang dapat diperoleh dari informan yaitu catatan yang ada pada informan mengenai Manajemen rumah sakit dalam penanganan pasien Covid-19 serta sumber-sumber yang relevan dengan objek penelitian dan seperangkat informasi dalam bentuk dokumen, laporan-laporan, dan informasi tertulis lainnya yang berkaitan dengan peneliti.

D. Teknik Pengumpulan Data

Pada dasarnya dalam sebuah penelitian dibutuhkan data-data yang menunjang kredibilitas penelitian kita, maka dari itu didalam penelitian ini peneliti menggunakan dan menggabungkan berbagai teknik pengumpulan data untuk mendapatkan data yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah

1. Wawancara

Penelitian akan melakukan wawancara langsung secara mendalam kepada informan yang menjadi objek dari penelitian yang berkaitan dengan

(44)

Manajemen rumah sakit dalam penanganan pasien Covid-19 di RSUD Labuang Baji Kota Makassar. Studi Dokumentasi dilakukan dimana penulis mengambil benda yang dianggap bukti ril yang bersangkutan dengan apa yang menjadi masalah pada penelitian ini. Dokumentasi terdiri dari dokumen- dokumen, tupoksi dan struktur organisasi yang ada di Kelurahan Padang Sappa Kecamatan Ponrang Kab. Luwu

2. Media review

Melakukan review terhadap pemberitaan, baik cetak maupun online yang berkaitan dengan manajemen rumah sakit dalam penanganan pasien Covid-19 di RSUD Labuang Baji Kota Makassar

3. Observasi

Melakukan observasi langsung di lokasi penelitian secara berulang terhadap suatu objek pengamatan pada tempat yang sama ataupun berbeda.Observasi difokuskan pada pengamatan langsung terhadap rumah sakit dalam penanganan pasien Covid-19 di RSUD Labuang Baji Kota Makassar.

E. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah langkah selanjutnya untuk mengelola data, dimana data yang diperoleh dikerjakan dan dimanfaatkan sedemikian rupa untuk menyimpulkan persoalan yang diajukan dalam menyusun hasil penelitian.

adapun teknik analisis data yang digunakan meliputi tiga tahapan. Pertama, reduksi data (data reduction), yakni merangkum, memilih hal-hal pokok, dan memfokuskan pada hal-hal penting dari sejumlah data lapangan yang telah diperoleh lalu mencari polanya. dengan demikian, data yang telah direduksi

(45)

akan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang Manajemen Rumah Sakit dalam penanganan pasien Covid-19 di RSUD Labuang Baji.

Kedua, penyajian (data display), mampu menampilkan data yang telah direduksi, yang sudah dikelola dan dapat dipahami.

Ketiga, penarikan kesimpulan dan verifikasi (Conclusion Drawing and Verification), yakni akumulasi dari kesimpulan awal yang disertai dengan

bukti- bukti yang valid dan konsisten (kredibel), sehingga kesimpulan yang dihasilkan dalam penelitian ini diarahkan untuk menjawab permasalahan penelitian.

F. Teknik Pengabsahan Data

Pengabsahan Data bentuk batasan berkaitan suatu kepastian, bahwa yang berukur benar-benar variabel yang ingin diukur. Keabsahan data dapat dicapai dengan pengumpulan data dengan cepat. Salah satunya dengan cara proses triangulasi sumber pemeriksaan keabsahan data untuk memanfaatkan sesuatu yang diluar data untuk keperluan serta sebagai pembanding terhadap data.

Salah satu cara yang digunakan oleh peneliti dalam pengujian kredibilitas data adalah dengan triangulasi. Triangulasi diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Triangulasi dipilih sebagai pengujian keabsahan data penelitian terkait Manajemen rumah sakit dalam penanganan pasien Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji Kota Makassar.

(46)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Objek Penelitian

1. Gambaran Umum Kota Makassar

Kota Makassar (Makassar: kadang dieja Macassar, Mangkasar;

dari 1971 hingga 1999 secara resmi dikenal sebagai Ujung Pandang atau Ujung Pandang) adalah sebuah kotamadya dan sekaligus ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan. Kotamadya ini adalah kota terbesar pada 5°8′S 119°25′E Koordinat: 5°8′S 119°25′E, di pesisir barat daya pulau Sulawesi, berhadapan dengan Selat Makassar.

Gambar 4.1: Peta lokasi Kota Makassar Sumber: https://duniapendidikan.co.id/kota-makassar

Kota Makassar adalah salah satu kota metropolitan di Indonesia dan sekaligus sebagai ibu kota provinsi Sulawesi Selatan. Kota Makassar merupakan kota terbesar keempat di Indonesia dan terbesar di Kawasan

(47)

Timur Indonesia. Sebagai pusat pelayanan di Kawasan Timur Indonesia (KTI), Kota Makassar berperan sebagai pusat perdagangan dan jasa, pusat kegiatan industri, pusat kegiatan pemerintahan, simpul jasa angkutan barang dan penumpang baik darat, laut maupun udara dan pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan.

Secara administrasi kota ini terdiri dari 14 kecamatan dan 143 kelurahan. Kota ini berada pada ketinggian antara 0-25 m dari permukaan laut. Penduduk Kota Makassar pada tahun 2000 adalah 1.130.384 jiwa yang terdiri dari lakilaki 557.050 jiwa dan perempuan 573.334 jiwa dengan pertumbuhan rata-rata 1,65 %.

Gambar 4.2: Gambaran pembagian lokasi 14 kecamatan di Kota Makassar

Sumber: https://peta-hd.com/peta-kota-makassar

(48)

2. Gambaran Khusus Lokasi Penelitian

a. Profil Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji

Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji Provinsi Sulawesi Selatan berlokasi di Kelurahan Labuang Baji Kecamatan Mamajang Kota Makassar, tepatnya di Jalan Dr. Ratulangi Nomor 81 Kota Makassar.

Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji didirikan oleh Zending Gereja Geroformat Surabaya, Malang dan Semarang sebagai Rumah Sakit Zending, yang diresmikan pada tanggal 12 Juni 1938 dengan kapasitas 25 buah tempat tidur.

Tahun 1946-1948 Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji mendapat bantuan dari Pemerintah Indonesia Timur (NIT), dengan merehabilitasi gedung-gedung yang hancur akibat perang, dan digunakan untuk penampungan korban akibat perang tersebut.

Pada tahun 1949-1951, Zending mendirikan bangunan permanen, sehingga kapasitas tempat tidur menjadi 170 buah. Pada tahun 1952- 1955, oleh Pemerintah Daerah Kotapraja Makassar diberikan tambahan beberapa bangunan ruangan sehingga kapasitas tempat tidur menjadi 190 buah. Sejak tahun 1955 Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji dibiayai oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan. Pada tahun 1960 oleh Zending, Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji diserahkan dan menjadi milik Pemerintah Daerah Tingkat I Sulawesi

(49)

Selatan dan dikelola oleh Dinas Kesehatan Provinsi Dati I Sulawesi Selatan dengan klasifikasi Rumah Sakit Kelas C.

Gambar 4.3: Lokasi Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji Sumber: Olahan Penulis

Adapun Denah Tata Ruang Gedung Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.4: Denah Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji

Sumber: ppid.sulselprov.go.id

(50)

3. Visi Misi Tujuan, Motto dan Falsafah Rumah Sakit Labuang Baji

Setiap perusahaan tentunya memiliki visi misi yang digunakan sebagai pegangan dalam menjalankan usaha agar tetap pada jalur yang benar sesuai dengan tujuan awal perusahaan. Berikut visi misi, tujuan, motto dan falsafah Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji.

a. Visi

Menjadi Rumah sakit Unggulan Provinsi yang Inovatif dan Kompetitif Tahun 2023"

b. Misi

1) Mewujudkan pelayanan Prima yang Inovatif 2) Mewujudkan Profesional SDM yang Kompetitif 3) Mewujudkan sarana dan prasarana yang berkualitas

4) Meningkatkan Efektifitas dan Efisiensi Anggaran Rumah Sakit c. Tujuan

Memberikan kepuasan kepada semua pelanggan agar tercipta citra baik Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji

d. Motto

SIPAKABAJI": siap dengan pelayanan komunikatif, bermutu, aman, jujur dan ikhlas

(51)

e. Falsafah

Bahwa kesehatan jasmani maupun rohani merupakan hak setiap orang; oleh karena itu rumah sakit berusaha untuk memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik kepada masyarakat, baik bersifat penyembuhan, pemulihan, pencegahan maupun peningkatan serta ditunjang oleh kualitas daya manusia yang memadai.

f. Instalasi Rawat Intensif

Pelayanan Anestesi diberikan selama 24 jam dengan jenis pelayanan:

1. Pelayanan Anestesi/Analgesia di kamar bedah, ruang bersalin dan ruang diagnostik

2. Pengelolaan ruang perawatan/terapi intensif

3. Melakukan bantuan resusitasi kasus gawat di ruang darurat atau bangsal yang membutuhkan

4. Memberikan terapi inhalasi

5. Menanggulangi nyeri di poliklinik maupun di bangsal Ruang dan peralatan yang tersedia:

Ruang peralatan yang terpisah dari ruang operasi dan jalan masuk terpisah dari pasien yang menunggu giliran operasi

1. Ruangan induksi 2. Ruangan pulih sadar 3. Anestesi

(52)

Alat-alat intubasi: Laryngoscope, Kantung napas, Sungkup muka, pipa tracheal dan pipa oropharynx

Sumber gas oksigen dan N2O

Tabung oksigen, penghisap lendir elektrik/manual Alat-alat Resusitasi

Tenaga yang ada:

1. Dokter Spesialis Anestesi : 3 orang 2. Penata Anestesi : 5 orang 3. Perawat Anestesi : 2 orang

(53)

Sumber: profil Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji tahun 2020

Berikut bagan susunan organisasi badan Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji

Gambar 4.5 Struktur Organisasi RSUD Labuang Baji

BidangPe layanan

Medik

Bidang Pelayana

n Keperaw

Bidang Fasilitas

Medik dan

Bagian Umum

Bagian Sumber

Daya Manusia

Bagian Pendidik an dan Penelitia

Bagian Perencan

aan dan Anggaran

Bagian Perbendahar

aan dan Mobilisasi

Dana

Bagian Akuntans

i

Seksi Perencanaan

dan Pengembang an Pelayanan

Seksi Perencanaan

dan Pengembang an Pelayanan

Seksi Perencanaan

dan Pengembang

an Fasilitasi

Sub Bagian Tata Usaha

Sub Bagian Perencanaa

n dan Pengemban

Sub Bagian Perencanaa

n dan Pengemban

Sub Bagian Penyusunan Program dan Anggaran

Sub Bagian Perbendaha

raan

Sub Bagian Akuntansi Keuangan

Seksi Monitoring

dan Evaluasi

Seksi Monitoring

dan Evaluasi

Seksi Monitoring

dan Evaluasi

Sub Bagian Rumah Tangga

Sub Bagian Mutasi dan Kesejahtera

an

Sub Bagian Monitoring danEvaluasi

Sub BagianEvalu asidanPelap

oran

Sub Bagian Mobilisasi

Dana

Sub Bagian Akuntansi Manajemen

dan

WAKIL DIREKTUR MEDIK DAN KEPERAWATA

WAKIL DIREKTUR UMUM, SDM

DAN PENDIDIKAN

WAKIL DIREKTUR KEUANGAN

Komi te Med ik

Kom ite Etik dan

Komi te Kepe

ra- Komi tePe nge m-

Satu an Pem erik-

Staf Medik Fungsi onal

DIREKTUR

INSTA

LASI

INSTA

LASI

INSTA LASI

(54)

Adapun pemangku jabatan susunan organisasi badan Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji terdiri atas:

1) Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji: drg. Abdul Haris Nawawi, M.Kes.

2) Wakil Direktur Medik dan Keperawatan: Dr. H. Darwis Sp.M, M.Kes 3) Wakil Direktur Umum, Sumber Daya Manusia & Pendidikan: Dra.

Rahmawati, Apt., M.A.R.S.

4) Wakil Direktur Keuangan H Harmin S.E., M.M.

5) Kepala bidang Pelayanan Medik Dra. Faridah, Apt.

6) Kepala bidang Pelayanan Keperawatan: drg. Rosmiati, M.Kes.

7) Kepala Bidang Fasilitas Medik dan Keperawatan Hj. Wahida, S.K.M., M.Kes.

8) Kepala Bagian Umum Naskah Filailah, Pd.Dipl.Sc., M.Si 9) Kepala Bagian Sumber Daya Manusia ST. Mariani, S.E., M.M.

10) Kepala Kepala bagian Pendidikan dan Penelitian Muhammad Hardi S.STP 11) Kepala Kepala Bagian Perencanaan dan Anggaran Rahmat Jaya, S.K.M.,

M.Kes.

12) Kepala Bagian Perbendaharaan dan Mobilisasi dana H. Muh. Ilham S.Sos., M.M.

13) Kepala Bagian Akuntansi Dra. Andi Astini Mutmainna Datu , M.Adm.S.D.A.

(55)

4. Tugas dan Fungsi a) Tugas

Menyelenggarakan urusan di bidang penyelenggaraan upaya penyembuhan dan pemulihan kesehatan yang dilaksanakan secara serasi, terpadu dan berkesinambungan dengan upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan dan menyelenggarakan pendidikan, pelatihan dan penelitian berdasarkan asas desentralisasi, dekonsentrasi dan pembantuan.

b) Fungsi

Perumusan kebijakan teknis di bidang pelayanan medic, pelayanan keperawatan, fasilitas medis dan keperawatan, umum sumber daya manusia, pendidikan dan penelitian, perencanaan dan anggaran, perbendaharaan dan mobilisasi dana dan akuntansi.

Penyelenggaraan urusan pelayanan medis, pelayanan keperawatan, fasilitas medic dan keperawatan, umum, sumber daya manusia, pendidikan dan penelitian, perencanaan dan anggaran, perbendaharaan dan mobilisasi dana dan akuntansi.

Pembinaan dan penyelenggaraan di bidang pelayanan medic, pelayanan keperawatan, fasilitas medic dan keperawatan, umum, sumber daya manusia, pendidikan dan penelitian, perencanaan dan anggaran, perbendaharaan dan mobilisasi dana dan akuntansi.

Penyelenggaraan tugas lain yang diberikan Gubernur sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Referensi

Dokumen terkait

Jadi, selama ini nadzir yang bertugas di Kecamatan Sayung Kabupaten Demak tidak pernah menjalankan tugas-tugasnya yang tercantum dalam KHI pasal 220 ayat 2 yaitu kewajiban

Dengan nama Retribusi Izin Trayek dipungut Retribusi sebagai pembayaran atas pelayanan izin trayek kepada orang pribadi atau badan untuk menyediakan pelayanan

Bali memiliki banyak nama yang populer, salah satunya adalah Pulau Seribu Pura. Keberadaan Pura tidak dapat dipisahkan dan tidak dapat terlepas dari kepercayaan

Keadaan ini secara tidak langsung membuktikan bahawa persepsi pengguna terhadap potensi produk inovasi Gummy Madu Kelulut dalam pasaran terhadap ciri- ciri

Pada jurnal AHA (2020) mengemukakan bahwa penanganan pasien Covid-19 di IGD rumah sakit menggunakan penanganan IHCA yaitu penanganan pasien Covid-19 yang terkena

Yang dimaksudkan dengan pihak yang mengutarakan komplain adalah seluruh pihak yang berkepentingan dengan Departemen Ilmu Hubungan Internasional mencakup civitas akademika

Mortalitas tertinggi terjadi pada itik kelompok C sebesar 5,56% sedang pada kelompok A dan B masing-masing hanya 1,01% dan 1,26% dan nilai R/C terbaik yang dihasilkan dari

Alhamdulillahirobil’alamin segala puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkah kesehatan, rakhmat, dan limpahan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan