HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini peneliti membahas dua topik yaitu hasil penelitian dan pembahasan. Hasil penelitian berisi tentang partisipan penelitian, seting penelitian, dan deskripsi subjek penelitian. Sedangkan pembahasan berisi tentang problematika siswa yang mengalami kesulitan berhitung, dan persepsi guru terhadap siswa siswa yang mengalami kesulitan berhitung. Semua akan dijabarkan secara berurutan dibawah ini.
4.1. Hasil Penelitian
4.1.1. Partisipan dan Seting Penelitian
Partisipan penelitian ini terdiri dari partisipan awal yaitu dua siswa laki-laki di kelas IV, dan partisipan selanjutnya adalah beberapa guru yaitu guru kelas IV, guru kelas sebelumnya (kelas II dan III), Guru musik, guru agama, dan salah satu orang tua (ayah) siswa yang menjadi subjek penelitian. Waktu penelitian ini dimulai dari 6 Agustus 2014 sampai dengan 8 November 2014 pada tahun ajaran 2014/2015. Penelitian dilakukan tiga sampai empat kali seminggu di SD Nusantara dari pukul 08.00–12.00. Sedangkan di rumah subjek peneliti datang dua kali setiap hari minggu pukul 08.00–09.30.
Tempat penelitian ini terletak di salah satu Sekolah Dasar yang ada di kota Yogyakarta. SD Nusantara sangat strategis dan mudah dijangkau oleh kendaraan roda dua maupun roda empat karena letaknya di pinggir jalan lintas desa. Di halaman sekolah ini terdapat lapangan yang biasa digunakan untuk upacara dan
olahraga. Halaman sekolah berdampingan dengan kompleks taman kanak-kanak sehingga di halaman terdapat fasilitas bagi anak taman kanak-kanak seperti jungkat-jungkit, perosotan, kincir putar dan gantungan. SD Nusantara memiliki enam ruang kelas, ruang komputer, ruang guru dan ruang perpustakaan berada dalam satu ruangan yang sama. Jumlah guru di SD Nusantara adalah 13 guru yang terdiri dari enam guru kelas, satu guru musik, satu guru paduan suara, satu guru tari, satu guru TIK, satu guru Bahasa Inggris dan satu guru olahraga. Dari ke 13 guru tersebut terdapat tujuh guru yang mengajar di kelas IV yaitu guru kelas IV, guru musik, guru paduan suara, guru tari, guru TIK, guru Bahasa Inggris, dan guru olahraga. Keadaan ekonomi guru-guru yang ada di SD Nusantara dapat dikategorikan menengah-keatas. Sedangkan para orangtua siswa sebagian besar tergolong kalangan ekonomi menengah-kebawah.
4.1.2. Deskripsi Subjek Penelitian
4.1.2.1. Informan I (BG)
Latar belakang Informan I
Wawancara pertama dilakukan penulis dengan BG siswa kelas IV yang nilai matematikanya selalu buruk bahkan sering di bawah KKM sejak kelas I. BG adalah anak ke-3 dari tiga bersaudara yang lahir pada 16 Oktober 2004. Kedua kakknya tidak tinggal bersamanya, di rumah ia tinggal bersama ayah dan neneknya karena Ibunya sudah meninggalkannya sejak balita. Penulis melakukan wawancara dengan BG di ruang guru SD Nusantara pada hari, Senin 20 Oktober 2014 saat jam istirahat pertama pukul 09.00–09.45 WIB. Ketika wawancara BG
terkesan malu-malu ketika peneliti menanyakan beberapa pertanyaan. Saat BG ditanya “apakah kamu suka matematika?” ia menjawab “agak senang”. Ketika guru menjelaskan materi ia hanya menjawab “agak mudeng”. BG mengatakan bahwa ia bisa memahami materi jika dituntun pribadi olah gurunya. Hampir semua jawaban yang muncul selalu singkat. Saat dirumah ia mengatakan yang mendampingi belajar adalah kakak ketika pulang dan ayahnya, ia belajar ketika ayahnya pulang dari tempat kerja sekitar jam delapan malam. Jika ayahnya tidak bisa mengajarinya, ia belajar sendiri dan membaca-baca buku. Ia memiliki hobi bermain bola dan sering bermain bola dengan teman-temannya di sekolah dan di rumah. Selain main bola ia senang bermain drum. Drum adalah alat musik yang paling digemari BG. BG senang bermain drum karena drum termasuk alat musik ritmis dan tidak memiliki nada dasar. Namun ketika ia dihadapkan dengan notasi angka pada saat pelajaran musik, ia merasa kebinggungan karena BG sulit membedakan antara not satu dan not lainnya yang tidak berurutan.
Pokok Permasalahan
Berdasarkan hasil wawancara pada Informan I peneliti menyimpulkan bahwa Informan I tidak menyukai pelajaran matematika dan tidak begitu mengerti tentang matematika serta sering kebingungan ketika dihadapkan dengan notasi-notasi angka. Di rumah Informan I tidak selalu mendapatkan bimbingan dari orangtuanya, karena orangtuanya bekerja hingga larut malam.
4.1.2.2 Informan II (BD)
Latar belakang Informan II
Wawancara kedua dilakukan penulis dengan BD. BD adalah anak pertama dari empat bersaudara. Wawancara ini dilakukan di ruang guru SD Nusantara pada hari, Senin 20 Oktober 2014 disaat jam istirahat pertama pukul 09.00–09.45 WIB. BD terlihat agak tertutup ketika di wawancarai, ia hanya diam saja dan tidak mau senyum bahkan menatap saya, BD juga hanya menjawab pertanyaan seperlunya seperti “iya; tidak” dan menganggukkan kepala atau menggelengkannya ketika ditanya. BD memiliki hobi bermain bola, ia sering bermain bola dengan teman-temannya disekolah. BD menyukai pelajaran Bahasa Indonesia karena mudah menurutnya, nilai-nilainya baik ia selalu mendapatkan nilai 70 bahkan hampir 100. Selain Bahasa Indonesia ia menyukai mata pelajaran IPA, namun BD tidak suka dengan matematika karena sulit saat mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru. Selain itu, ketika guru sedang menjelaskan ia sering bertanya pada gurunya karena ia belum mengerti tentang materi yang disampaikan. Ia mengatakan bahwa ia kesulitan ketika dihadapkan dengan materi pecahan, namun sudah mengerti ketika dihadapkan dengan materi perkalian. BD merasa bingung ketika dihadapkan dengan perhitungan pembagian.
Di rumah, ibunya selalu mendampingi belajar dengan membantunya mengerjakan pekerjaan rumah dan mengulan materi pelajaran, setiap sore ia belajar bersama Ibu ataupun bapak. Di rumah BD tinggal bersama orangtua, ketiga adiknya, dan neneknya. Saat ditanya mengenai nilai rapor ia mengatakan bahwa nilai yang paling bagus adalah nilai IPA, ia mendapatkan nilai 94 pada
mata pelajaran tersebut. Sedangkan nilai yang paling jelek yang BD peroleh adalah matematika. Pada mata pelajaran ini ia mendapatkan nilai 50. Nilai yang jauh dibawah KKM yaitu 65.
Topik Permasalahan
Berdasarkan wawancara pada Informan II peneliti menyimpulkan bahwa BD tidak menyukai mata pelajaran matematika karena susah menurutnya. Pada mata pelajaran matematika nilainyapun dibawah KKM yaitu 50. Sedangkan pada mata pelajaran yang ia sukai nilainya baik dan ia merasa mudah dalam memahaminya.
4.1.2.3 Informan III (Guru Kelas IV)
Latar belakang Informan III
Wawancara dengan Guru Kelas IV dilaksanakan pada hari Rabu 29 Oktober 2014 di ruang guru SD Nusantara saat jeda mengajar. Guru kelas IV bernama Ibu SR, ia berumur 53 tahun. Bu SR adalah lulusan D2 PGSD dan sudah memiliki pengalaman mengajar selama 33 tahun. Bu Siti selalu ditempatkan dikelas V, selain itu ia juga pernah mengampu kelas I ketika Ia berada di sekolah sebelumnya. Di SD Nusantara Bu SR menjadi wali kelas IV. Di kelasnya sekarang ia mengatakan bahwa ada beberapa anak yang mengalami kesulitan belajar. Kesulitan-kesulitan yang dialami siswa tersebut adalah kesulitan menghitung matematika, yang disebabkan kurangnya bimbingan belajar di rumah dengan orangtuanya atau karena memang ia malas. Selain itu ada pula kasus siswa yang sudah ditinggal orang tuanya pergi untuk mencari nafkah. Bu SR
mengenal siswa yang mengalami kesulitan belajar matematika ketika mereka berada di kelas IV. Bu SR mendapat tambahan informasi tentang keadaan siswa sebelumnya dari guru kelas bawah yaitu guru kelas tiga, dua, dan satu. Setelah lebih jauh mengenal anak tersebut ternyata benar apa yang dikatakan guru kelas sebelumnya karena Bu SR sudah membuktikannya sendiri ada beberapa anak yang sulit untuk mengikuti pelajaran, khususnya pelajaran matematika. Pada pelajaran matematika Bu SR sudah mengajarkan dan membebaskan anak untuk memecahkan soal-soal dengan berbagai cara yang penting jawabannya bisa terpecahkan, namun walaupun cara yang paling mudah saja sudah diajarkan masih ada saja siswa yang sulit untuk memahaminya.
Di kelas IV terdapat dua anak laki-laki menurut Ibu SR yang mengalami kesulitan dalam perhitungan matematika. Ia bernama BG dan BD. Bu SR menambahkan bahwa BD masih mau berusaha saat menyelesaikan soal matematika walaupun mengalami kesulitan. Pada materi pecahan, BD sering bingung untuk membedakan pembilang dan penyebut. Sedangkan BG ia lebih mengalami kesulit lagi dibandingkan dengan BD, terlebih jika BG sudah malas ia tidak mau berpikir lagi. Menurut Bu SR interaksi di kelas dengan teman-teman tidak ada masalah, mereka seperti anak-anak lainnya. Bu SR mengatakan bahwa orang tua BD kurang telaten dalam membimbing belajarnya karena saat ia bertanya dengan BD siapa yang mendampingi belajar, BD menjawab bahwa ia hanya belajar sendiri.
Jika ada anak yang belum jelas tentang materi yang disampaikan, Bu SR melakukan bimbingan pribadi kepada anak yang membutuhkan. Bimbingan
dilakukan di kelas dengan mengajari satu persatu anak hingga ia mengerti. BG adalah anak yang paling sering mendapatkan bimbingan pribadi karena Ia kurang memahami materi pelajaran. Sedangkan BD sangat jarang, karena terkadang ia takut untuk bertanya terlebih mata pelajaran matematika, untuk mata pelajaran lain tidak ada masalah nilainya cukup baik. Namun, pada BG hampir semua nilainya tidak bisa memenuhi KKM. Bu SR mengatakan saya hanya bisa membantu semaksimal saya, karena jika dipaksapun tidak bisa, terlebih pada matematika yang membutuhkan waktu untuk menghitung.
Berdasarkan wawancara pada Informan III peneliti menyimpulkan bahwa di kelas IV terdapat dua anak laki-laki yang mengalami kesulitan belajar khususnya matematika. BG adalah anak yang paling sulit pemahamannya tentang matematika, nilainya selalu dibawah KKM. Sedangkan BD ia sangat tidak menyukai matematika namun kemampuannya masih diatas BG selain itu nilai-nilai lain sangatlah baik. Menurut Bu SR BG dan BD tidak memiliki bakat lain akademik maupun non akademik. Bu SR menambahkan ia harus ekstra kesabaran untuk menghadapi anak-anak seperti mereka.
Topik Permasalahan
Berdasarkan wawancara pada Informan III yaitu guru kelas IV peneliti menyimpulkan bahwa terdapat dua anak laki-laki yang mengalami kesulitan belajar matematika, menurut Ibu SR penyebabnya adalah kurangnya bimbingan dari orang tua di rumah. Kedua anak laki-laki yang mengalami kesulitan belajar itu adalah BG dan BD. BG mengalami kesulitan hampir di semua pelajaran,
namun yang paling buruk matematika, karena nilainya sering tidak mencapai KKM. Sedangkan BD tidak menyukai matematika namun nilainya berada di atas BG, selain itu pada mata pelajaran lain nilainya sangat baik
4.1.2.4 Informan IV (Guru Kelas III)
Latar belakang Informan IV
Wawancara dengan guru kelas III dilakukan saat jeda mengajar pada hari Kamis 30 Oktober 2014 di ruang guru pada pukul 08.45–09.20. Guru kelas III bernama Ibu LL yang berusia 52 tahun, Ibu LL adalah lulusan SPG yang memiliki pengalaman mengajar selama 10 tahun di SD Nusantara. Bu LL mengenal BG sebagai siswa di kelas I dan II sedangkan BD kebetulan adalah tetangganya. Saat berada di kelas III BG adalah anak yang sangat bermasalah dengan semua pelajaran tapi untuk BD ia bisa, masalahnya hanya di matematika karena nilai pelajaran lain selalu di atas KKM. BG selain nakal di kelas ia seperti tidak memiliki motivasi belajar di kelas pun hanya sesekali mendengarkan selebihnya main sendiri hingga pernah Bu LL memintanya untuk tidur di kelas karena mengganggu temannya dan BG pun tidur nyenyak di kelas tersebut. Ketika di minta untuk mengerjakan soal matematika ia selalu menggunakan jarinya untuk menghitung, namun seringkali jawabannya tidak ketemu.
Nilai-nilai BG sangat pas-pasan, nilai mata pelajaran yang paling buruk memang matematika karena ia selalu tidak lolos KKM, untuk mata pelajaran lain juga kurang dari KKM, tetapi tuntutan sekolah yang memang harus pas KKM sehingga dibuat pas KKM. Sedangkan BD yang tidak lolos hanya matematika
saja. Jika dibandingkan antara BG dan BD dalam bidang matematika BG adalah anak yang paling lemah dalam memahami matematika, jika diminta mengerjakan soal BG hanya mencoret-coret tanpa mengerjakan satupun dari beberapa soal yang diberikan. Sedangkan BD mengerjakan namun hasilnya masih kurang benar karena pemahaman BD pada materi perkalian dan pembagian kurang lancar. BG seringkali mencoba menghitung dengan menggunakan jari, namun sering tidak ketemu jawabannya.
Dalam pemahaman akan simbol dalam matematika tidak ada masalah dengan BG dan BD. Mereka hanya bingung bagaimana cara mengerjakan soal matematika saja. Jika BG sudah malas ia hanya menulis soal dan mencoret-coretnya tanpa mengerjakan soal tersebut. Dari batas nilai KKM 65 BG mendapatkan nilai 30 dan BD 50. Untuk interaksi di kelas dengan teman-temannya di kelas mereka tidak memiliki masalah. Bu LL sering memberikan motivasi kepada mereka juga bagi anak-anak yang lain seperti memberikan uang jika mereka bisa menjawab soal dengan benar.
Topik permasalahan
Berdasarkan wawancara pada Informan IV peneliti menyimpulkan bahwa saat BG dan BD di kelas III mereka mengalami kesulitan belajar matematika. Dari kedua anak tersebut BG adalah anak yang memiliki kemampuan dalam berhitung, semua dapat dilihat dari nilai mereka. Selain itu BG sering tidak mengerjakan soal yang diberikan guru, ia hanya menulisnya dan mencoret-coret soal tersebut tanpa mengerjakannya satupun. Sedangkan BD jika dihadapkan soal matematika ia
mampu mengerjakannya walaupun terkadang sudah panjang caranya namun jawabannya kurang tepat.
4.1.2.5 Informan V (Guru Kelas II)
Latar belakang Informan V
Wawancara dengan guru kelas II dilakukan di ruang guru saat jeda mengajar hari, Kamis 30 Oktober 2014 pukul 08.00–08.30 WIB. Guru kelas II bernama Ibu MR yang berusia 51 tahun. Ia adalah lulusan SPG dan sudah hampir 30 tahun mengajar dan 5 tahun mengajar di SD Nusantara. Di sekolah sebelumnya Bu MR mengajar di kelas atas, dan di sekolah ini Ia mengajar di kelas bawah. Bu MR mengenal BG dan BD saat mereka berada di kelas II. Menurut Bu MR saat BG berada di kelas II tidak seperti teman-teman yang lain, kemampuan berpikir kurang begitu bagus dan pemalas, sedangkan BD adalah anak yang pendiam susah diajak komunikasi, namaun kemampuan akademiknya tidak ada masalah dan tidak ketinggalan dengan teman-teman lainnya.
Perilaku BG jika di kelas agak nakal, dan usil suka mencolek-colek temannya. Ia sering mengganggu teman-temannya sedangkan BD tidak begitu, ia normal seperti teman yang lain. Untuk nilai di kelas II BD lebih baik dibandingkan dengan BG, namun BD jika diminta mengerjakan tugas mengambar ia tidak pernah mengumpulkannya. Saat di kelas II BG tidak mau menulis dan selama berada di sekolah ia hanya bermalas-malasan, ia mau menulis jika teman-temannya sudah pulang sehingga Ibu MR memberikan bimbingan khusus kepada BG sepulang sekolah. Menurut Bu MR nilai yang paling baik hanya nilai
olahraga, nilai lain dalam pembelajaran banyak yang dibawah KKM. Bu MR mengatakan bahwa kakak BG adalah anak yang memiliki prestasi disekolahnya.
Saat di kelas, interaksi dengan teman-teman tidak ada masalah kecenderungannya hanya pada BG yang jail. BG pernah tinggal kelas dan Bu MR menjadi wali MRid setelah BG mengulang kelas I, di kelas sebelumnya BG tidak mau menulis setelah dipegang Bu MR ia perlahan-lahan mau belajar menulis. Jika diminta untuk mengerjakan soal, BG hanya menulisnya saja lalu mengumpulkan tanpa mengerjakannya. Motivasi sudah sering diberikan dengan memberikan hadiah jika bisa mengerjakan soal dan memberikan pujian-pujian.
Topik permasalahan
Berdasarkan wawancara pada Informan V peneliti menyimpulkan bahwa di kelas II BG mengalami kesulitan untuk menulis dan nilai-nilai lain rendah bahkan dibawah KKM, terlebih pada pelajaran matematika. Selain itu BG adalah anak yang nakal dan usil di kelas, ia sering mengganggu teman-temannya. Sedangkan BD tidak begitu bermasalah ia dapat mengikuti pembelajaran dengan baik, hanya saja jika diminta untuk mengumpulkan tugas mengambar ia tidak pernah mengumpulkan.
4.1.2.6 Informan VI (Guru Musik)
Latar belakang Informan VI
Wawancara dengan guru musik dilakukan di ruang guru SD Nusantara pada hari Sabtu 08 November 2014 pukul 11.00–11.30 WIB. Guru musik di SD Nusantara bernama Bu FR yang sudah berusia 65 tahun. Beliau adalah sarjana
muda di sekolah tinggi kesejahteraan sosial di Bandung dan sudah memiliki banyak pengalaman mengajar seperti menjadi kepala sekolah di SD, SLB, dan SMK.
Bu FR mengajar musik dari TK hingga kelas VI SD. Selama mengajar musik Bu FR sering menemukan kesulitan seperti kurang bisa berkonsentrasi, banyak bicara sehingga sangat menghambat. Saat ditanya tentang BG dan BD Bu FR mengatakan telah mengenal mereka sudah sejak di kelas bawah. Dalam belajar BD lebih mudah memahami sedangkan BG agak susah dikendalikan jika dilihat sepertinya memang kurang bisa memahami.
Di kelas IV materi yang diberikan adalah seni musik, dalam pembelajaran sering dihadapkan dengan notasi angka, memainkan alat musik dan menyanyi. BD saat menyanyi lebih pada suara pas-pasan, sedangkan BG Fals dan untuk membaca not ia sangatlah kurang, sering sering mengalami kesalahan. Jika not berurutan tidak ada masalah namun jika not di bolak-balik BG merasa kebingungan. Saat pembelajaran BG perhatiannya jarang sekali fokus ia sering main sendiri bahkan tertawa-tertawa sendiri.
Cara yang Bu FR berikan adalah membimbing dengan telaten dan memberikan contoh sehingga lebih mudah didipahami. Jika dilihat dari nilai mereka BD lebih baik terlebih untuk teori musik dan disarankan untuk ikut Ekskul Paduan Suara. Selain suaranya fals kemampuannya memang kurang.
Topik permasalahan
Berdasarkan wawancara pada Informan VI peneliti menyimpulkan bahwa pada mata pelajaran music, BG sulit memahami notasi angka dan suaranya fals. Selain itu perilakunya di kelas sering tidak memperhatikan saat guru sedang menjelaskan. Pada BD saat pelajaran musik tidak ada masalah serius yang nampak, sesekali saja ia hanya merasa bosan.
4.1.2.7. Informan VII (Guru Agama)
Latar belakang Informan VII
Wawancara dengan guru agama dilakukan pada hari Senin 03 November 2014 di seminari tinggi pada pukul 16.30–16.50 WIB. Wawancara dilakukan di seminari tinggi karena yang mengajar agama di SD Nusantara adalah seorang frater bernama YL dan ia tidak bisa ditemui di sekolah karena hanya datang 1 minggu sekali, ketika saya akan wawancara ia sudah buru-buru pulang karena akan ada acara sehingga wawancara dilaksanakan di seminari.
Dari hasil wawancara dengan Frater Yuli ia mengenal BG dan BD karena saat mengajar mereka menjadi orang-orang yang menonjol dalam membuat keramaian dan jalan-jalan. Yang sering jalan-jalan adalah BG sedangkan BD tidak seberapa ia masih duduk di bangkunya hanya terkadang saja membuat gaduh. Dapat dikatakan yang paling rendah di kelas IV adalah BG walaupun nilainya masih berada di atas KKM. Sedangkan nilai BD masih di atas nilai BG. BG sering terlambat dalam mengumpulkan tugas padahal sudah diberi waktu tambahan dan ditakuti dengan mengurangi nilainya jika telat mengumpulkan tugas.
Saat Ujian Tengah Semester (UTS) BG mendapatkan nilai 78 dan itu nilai terendah. Motivasi sudah sering diberikan seperti memberikan perhatian lebih khususnya pada pribadi mereka dan pendampingan khusus selain itu memberikan tanggung jawab kepada mereka di kelas agar mereka sadar dan percaya bahwa ia dipercaya. Untuk interaksi di kelas BG sangat dominan artinya teman-teman lain agak takut atau segan dengannya atau mungkin sudah kesal dengan perilakunya di kelas. Ia sering mencari perhatian dengan berjalan-jalan di kelas, bersembunyi di pojokan, padahal tidak terlalu penting. Saat guru menjelaskan BG tidak pernah mendengarkan dan memperhatikan hanya sesekali saja. Untuk BD lebih bisa di ingatkan diberitahu mungkin ia ramai di kelas karena pengaruh teman-temannya saja.
Topik pembahasan
Berdasarkan wawancara pada Informan VII peneliti menyimpulkan bahwa saat pelajaan agama BG sering tidak memperhatikan dan hanya bermain sendiri, ia sering mencari perhatian dengan tingkah-tingkah yang tidak begitu penting. Sedangkan BD tidak ada masalah khusus yang nampak saat pembelajaran.Dilihat dari nilai-nilainya BG adalah anak yang memiliki nilai agama paling rendah di kelas IV yaitu 78 sedangkan BD nilainya di atas BG.
4.1.2.8 Informan VIII (Ayah Subjek)
Latar belakang Informan VIII
Wawancara dengan Ayah BG dilakukan pada hari Minggu 02 November 2014 di rumahnya pada pukul 08.00 – 08.45. Wawancara dilakukan pada hari
minggu karena di hari lain beliau sibuk bekerja sebagai buruh dan saat pulang kerja sudah petang. Ayah BG bernama PR ia berusia 64 tahun.
Pekerjaan pak PR adalah buruh bangunan, ia memiliki tiga anak, dua laki-laki dan satu perempuan. Anak pertama laki-laki-laki-laki dan sekarang sudah bekerja di