• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

Framing Robert N. Entman dalam empat elemen pada Tayangan

Program Tv Mata Najwa Episode Mereka-Reka Cipta Kerja, diantaranya sebagai berikut:

1. Define Problem (Pendefinisian Masalah)

Define Probem merupakan elemen pertama dan berperan sebagai

tahapan pendefinisian masalah. Define Problem yang ingin ditampilkan dalam tayangan Mata Najwa pada Episode Mereka-Reka Cipta Kerja ialah polemik yang timbul dari adanya kebijakan omnibus law beserta dampaknya bagi publik. Selain itu juga Define Problem yang ditemukan yaitu upaya pemerintah dalam pengesahan kebijakan omnibus law yang dinilai terburu-buru dan kurang transparansi di tengah-tengah kasus covid-19 yang melonjak. Hal tersebut diungkapkan dalam pernyataan berikut:

“Perdebatan hingga aksi turun ke jalan mewarnai perdebatan soal Undang- Undang Cipta kerja yang disahkan dalam sidang paripurna DPR RI dua hari lalu. Publik mungkin bertanya-tanya, ada apa dibalik proses kilat omnibus law ini dan apa dampaknya (Najwa Shihab dalam tayangan Mata Najwa Mereka-Reka Cipta Kerja, pada menit ke 2:13)”.

Berdasarkan pernyataan tersebut, diketahui bahwa Najwa Shihab sebagai pembawa acara dalam Program Tv Mata Najwa secara lugas membuat statement akan kebingungan dari publik mengenai pengesahan kebijakan omnibus law yang dinilai dilakukan oleh pemerintah secara tiba-tiba dan mendadak sehingga mengakibatkan penolakan keras dari kalangan publik dengan melakukan demonstrasi secara besar-besaran. Adapun

masalah lainnya dilihat dari pernyataan salah satu Anggota Baleg dari Fraksi PKS yaitu Ledia Hanifah sebagai berikut:

“Ini persoalan yang sangat penting, karena kemudian mengatur, mengelola 79 UU ini gak gampang Mbak Nana, karena banyak hal yang harus terkait satu sama lain, bersinergi dan lain sebagainya.

Memang menjadi kesulitan yang besar buat kita semua, karena misalnya kita di dalam Rapat Pembahasan Tingkat I, pengambilan keputusan belum juga menerima draft bersihnya pada saat sebelum membuat pandangan fraksi (Ledia Hanifa, Anggota Baleg DPR dalam tayangan Mata Najwa Mereka-Reka Cipta Kerja pada menit ke 3:40)”.

Melalui pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa menurut Ledia Hanifah salah satu masalah yang ditemukan ialah sampai tahapan pembahasan rancangan undang-undang omnibus law, para anggota baleg belum juga menerima draft bersih dari DPR RI sehingga menurutnya, hal itu menjadi indikator kesulitan dalam menjalankan tugasnya. Dari puluhan undang-undang yang termuat dalam omnbus law memerlukan kejelian dan ketelitian yang penuh sehingga meminimalisir pasal yang mungkin saja bisa terlewat dalam tahapan pembahasan.

“Kita merasa ini masih perlu lebih banyak lagi konsultasi-konsultasi dalam waktu dimana terjadi pandemi covid ini memang menjadi kesulitan, keterbatasan karena ada 79 UU. Maka harus diakui bahwa konsultasi publiknya juga minimal dilakukan setidaknya 79 kali, karena dalam satu isu itu sebetulnya harus lebih dari itu. Merasa tidak dilibatkan wajar kalau merasa suara suaranya tidak didengar (Ledia Hanifa, Anggota Baleg DPR dalam tayangan Mata Najwa Mereka-Reka Cipta Kerja pada menit ke 18:09)”.

Lebih lanjut diketahui bahwa satu hal lainnya yang menjadi masalah dalam pembahasan omnnibus law ialah keterbatasan dalam melakukan konsultas-konsultasi kepada publik terhadap keseluruhan undang-undang yang termuat dalam omnibus law. Hal tersebut dikarenakan kondisi covid

yang masih intensnya melanda Indonesia, sehingga menimbulkan perdebatan dari masyarakat akan perasaan minimnya keterlibatan mereka dalam hal penyusunan kebijakan tersebut.

“yah, ini sebetulnya adalah fraud legislation process, jadi kecurangan proses legislasi. Kenapa sejak awal tidak memenuhi prinsip-prinsip, tata cara penyusunan peraturan perundang-undangan. Kita punya aturan- aturan hukum, aturan main soal itu.

Salah satunya soal harus berkonsultasi, naskah akademik harus ada, mengukur faktor sosiologi, mengukur nilai yang harus digali dan itu harus turun ke masyarakat dan itu harus ketemu dengan para ahli dan itu harus mengumbar, harus royal, membagi-bagikan apa namanya naskahnya, idenya, mengambil dari masyarakat. Yang terjadi adalah sampai beberapa bulan sejak mulai diluncurkan bahwa akan ada ide soal omnibus law, yang muncul adalah ketertutupan (Hariz Azhar, Direktur Eksekutif Lokataru dalam tayangan Mata Najwa Mereka-Reka Cipta Kerja pada menit ke 5:37)”.

Hariz Ashar, Direktur Eksekutif Lokataru kemudian berpendapat bahwa omnibus law ada karena adanya kecurangan proses legislasi dari pihak pemerintah. Hal tersebut diungkapkan karena kemunculan omnibus law yang dilakukan secara tiba-tiba, naskah yang kejelasannya bersifat

tertutup dan konsultasi-konsutasi kepada publik yang dianggap masih kurang. Menurutnya, suara rakyat sudah tidak dianggga dan didengar lagi oleh pemerintah terbukti dengan minimnya keterbukaan selama proses penyusunan omnibus law.

Berdasarkan beberapa pernyataan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa yang menjadi define problem melalui tayangan Mata Najwa dalam episode “Mereka-Reka Cipta Kerja” adalah ha-hal yang dianggap oleh publik tidak terbuka dalam penyusunan kebijakan omnibus law. Hal tersebut yakni minimnya keterbukaan pemerintah, keterlibatan masyarakat yang

dianggap masih kurang perihal konsultasi pasal yang termuat dalam kebijakan tersebut, dan konflik internal pemerintah yang memicu munculnya kecurigaan akan adanya kepentingan dalam proses penyusunan omnibus law yang dianggap terburu-buru dalam situasi pandemi saat itu.

2. Diagnose Causes (Memperkirakan Masalah yang Ada)

Diagnose Causes merupakan elemen yang digunakan untuk

membingkai siapa saja yang dianggap sebagai aktor dan memiliki keterlibatan di dalamnya. Disamping itu juga ini merupakan elemen dalam memperkirakan masalah apa yang ada dan dari mana sumber masalah tersebut berasal. Diagnose Causes yang ingin ditampilkan dalam tayangan Mata Najwa pada Episode Mereka-Reka Cipta Kerja ialah pemerintah, Joko Widodo selaku Presiden RI beserta DPR RI yang turut andil dalam mengusulkan serta membuat dan mengesahkan kebijakan omnibus law.

Keputusan tersebutlah yang menimbulkan sembrawut pro dan kontra dari berbagai elemen masyarakat. Hal tersebut diungkapkan dalam pernyataan berikut:

“Sama saya tidak ingin mencampuri urusan penyusunan undang-undang. Karena ini adalah inisiatif pemerintah di wilayah domainnya pemerintah untuk menjelaskan itu. Kami di badan legislasi di tingkat panja itu terkait dengan pembahasan. Oleh karena itu saya ingin menyampaikan terlebih dahulu apresiasi kepada Presiden Jokowi yang telah dengan berani mengambil sebuah metode atau yang kita kenal dengan omnibus law. Dalam rangka mengharmonisasi dan sinkronisasi terhadap keseluruhan regulasi kita yang memang di berbagai macam produk undang-undang di sektor-sektor kl itu, itu saling tumpang tindih dan ini adalah sebuah pengakuan yang jujur dari negara bahwa selama ini proses legislasi kita dari tahap perencanaan itu hanya kurang lebih kita berpikir sektoral. Oleh karena itu, momentum ini saya apresiasi maka saya

mengajak kepada Presiden Jokowi untuk memulai bahkan saya sudah sampaikan Kemenkumham bersama dengan badan legislasi untuk kita menginisiasi omnibus-omnibus berikutnya karena ini adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan sengkarut perencanaan politik hukum nasional kita dalam perbankan sektor yang saya katakan (Supratman Andi Agtas, Ketua Baleg DPR dalam tayangan Mata Najwa Mereka-Reka Cipta Kerja pada menit ke 7:38)”.

Berdasarkan pernyataan tersebut diketahui bahwa Supratman Andi Agtas selaku Ketua Badan Legislasi DPR RI mengatakan secara lugas bahwa kebijakan omnibus law merupakan ide dari Presiden Jokowi dengan keterlibatan DPR RI selaku badan legslatif dalam rangka mengharmonisasi dan sinkronisasi terhadap keseluruhan regulasi yang dalam sektor-sektor tertentu saling tumpang tindih melalui pembentukan undang-undang baru.

Pernyataan itu sejalan dengan penelitian Rafikoh (2021) bahwa omnibus law menjadi jawaban atas persoalan-persoalan komplek serta tumpang

tindihnya aturan atau regulasi yang ada di Indonesia.

“…Setelah covid sekarang saudara-saudara kita yang tidak beruntung mendapat phk, data kurang lebih sekitar 7 juta. Hampir sekitar 16 juta lebih Mbak Nana yang sekarang siap rakyat Indonesia untuk mencari lapangan pekerjaan. Pertanyaan berikut adalah, 16 juta lebih membutuhkan pekerjaan termasuk anak-anak mahasiswa baru selesai kuliah ini, apakah PNS atau pegawai BUMN atau TNI Polri saya pikir nggak akan cukup. Maka instrumen masuk untuk menciptakan lapangan pekerjaan itu adalah investasi. Namun, atas dasar evaluasi total kondisi objektif kita sekarang kan yang pertama investasi masuk itu kan problem kita itu adalah terjadi apa yang disebut dengan ego sektoral. Harus kita akui bahwa terjadi ego sektoral antar kementerian lembaga. Aturannya tumpang tindih antara kabupaten, kota, provinsi dan persoalan lahan dan mohon maaf harga upah, buruh yang memang tingkat kenaikannya per tahun tinggi. Tapi Itu nggak masalah bisa kita bicarakan, itu salah satu kenapa undang-undang omnibus law cipta lapangan kerja.

Undang-undang ini melakukan sinkronisasi lewat norma standar pelayanan yang ada mbak... (Bahlil Lahadalia, Kepala BKPM dalam tayangan Mata Najwa Mereka-Reka Cipta Kerja pada menit ke 30:37)”.

Melalui pernyataan tersebut diketahui bahwa menurut Bahlil Lahadalia selaku Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal atau BPKM beranggapan omnibus law ada untuk membuka lapangan pekerjaan melalui peluang investasi sebesar-besarnya di Indonesia. Dengan adanya omnibus law akan diperoleh kemudahan dalam perizinan karena melalui kebijakan

tersebut akan terjalin singkronisasi norma standar pelayanan yang sebelumnya saling tumpang tindih kemudian lebih dipermudah. Pernyataan tersebut sejalan penelitian Mayasari (2020) yaitu omnibus law dijadikan sebagai terobosan hukum pemerintah mengatasi obesitas regulasi berkaitan dengan perizinan berusaha dengan tujuan sebagai upaya pertumbuhan ekonomi melalui peningkatkan iklim berinvestasi di Indonesia.

“Kalau harus berbicara memuaskan seluruh rakyat dengan materi yang sangat rakus sampai 70 lebih dimasukkan ke dalam sini yaitu memang harus harus membahas memuaskan semua orang. Jangan menganggap enteng, terus mengatakan bahwa ini karena covid, justru karena covid harusnya energinya dibuang ke sana. Bukan memaksakan omnibus Memukul orang supaya disweeping, memukul orang supaya diam di rumah nggak bisa keluar tapi DPR nya diam-diam apa namanya menyelundupkan berbagai pembahasan tiba-tiba mengesahkan prosedur yang kotor akan menghasilkan materi yang jelek dan kotor dan rakus, itu yang terjadi sama omnibus hari ini (Haris Azhar, Direktur Eksekutif Lokataru dalam tayangan Mata Najwa Mereka-Reka Cipta Kerja pada menit ke 21:25)”.

Bertentangan dengan pendapat ketua baleg, Haris Azhar selaku Direktur Eksekutif Lokataru mengungkapkan bahwa penyusunan undang-undang hingga pengesahan yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini DPR RI pada masa pandemi covid merupakan suatu hal yang dianggap kurang tepat yang seharusnya pemerintah lebih berfokus pada penanganan

sembrawut masalah covid. Beliau beranggapan bahwa pemerintah memanfaat situasi tersebut untuk mengesahkan omnibus law yang dinilainya sebagai kebijakan yang tidak transparan dan menghasilkan materi jelek, rakus bahkan kotor.

“Begini Nana, kita nggak pernah kita dan nggak ada dasar hukum untuk membahas omnibus ya. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang tata cara pembentukan peraturan perundang-undangan tidak mengakomodir tata cara pembuatan itu. Jadi sebetulnya kalau memang mau membahas omnibus ya perbaiki dulu alat masaknya maka itu di undang-undang 12 tahun 2011 tersebut. Terus itu hari ini malam ini detik- detik beberapa detik yang lalu kita dengarkan dari apa yang dijelaskan Bang Supratman, lempar ke Bu Ledia, praktik ini 70 ini, udah konsultasi ya sampai acara malam ini pun nggak bisa dijelaskan bagaimana repotnya mana dan hasilnya mana.

Nah itu kenapa, karena memang alat masaknya gak ada. Yang kedua omnibus ini tidak berangkat dari gagasan, tetapi dari satu kepanikan negara mengelola negaranya, pemerintahannya akhirnya maka muncullah omnibus ini yang dimunculkan di sidang umum MPR (Hariz Azhar, Direktur Eksekutif Lokataru dalam tayangan Mata Najwa Mereka-Reka Cipta Kerja pada menit ke 29:08)”.

Lebih lanjut Haris Azhar bahwa berdasarkan pernyataan tersebut diketahui yang menjadi sumber banyaknya masalah yang timbul akibat perdebatan mengenai omnibus law ialah dikarenakan pembentukannya yang tidak sesuai dengan regulasi yang ada sebelumnya. Bahwasanya uu tersebut dibentuk tidaklah sesuai dengan UU No.12 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku di Indonesia.

Beliau beranggapan munculnya omnibus law ini muncul bukan karena matangnya sebuah gagasan menyelesaikan masalah publik akan tetapi ada dikarenakan bentuk perwujudan kepanikan dalam mengelola negara.

3. Make Moral Judgement (Membuat Pilihan Moral)

Make Moral Judgement merupakan elemen yang digunakan untuk

membenarkan dan memberi argumentasi pada pendefinisian masalah yang telah dibuat sebelumnya. Make Moral Judgement yang ingin ditampilkan dalam tayangan Mata Najwa pada Episode Mereka-Reka Cipta Kerja ialah pembelaan Supratman Andi Agtas dari pernyataan yang dilontarkan oleh Najwa Shihab bahwa politik hukum tidak menempatkan buruh pada marwahnya dalam kebijakan omnibus law dan terkait kepercayaan masyarakat kepada wakilnya di pemerintah yang mulai goyah karena diterpa isu Cipta Kerja. Pembelaan yang dilontarkan ialah:

“Kami melahirkan sebuah kesepakatan bahwa kami dengan bersungguh-sungguh akan mempertahankan semua yang menjadi tuntutan buruh. Tuntutan buruh itu sederhana Bagaimana undang-undang 13 itu tetap dipertahankan Dan itu menjadi komitmen kami semua di seluruh anggota Panja karena ketika tim perumus dan seluruh perwakilan fraksi saya undang masing-masing kapoksi untuk hadir, itu satu. Yang kedua, dari seluruh 9 bahkan kalau kita kerucutkan menjadi 7 masalah utama soal isi masalah buruh, 95%

itu tetap seperti undang-undang yang diatur dalam undang-undang 13. Apa itu Mbak Nana yang kita sepakati pertama yang menjadi tuntutan kawan- kawan buruh soal rptka rencana penggunaan tenaga kerja asing yang katanya sekarang lewat omnibus tenaga asing itu bebas masuk sama sekali tidak benar. Karena yang terkait dengan rencana penggunaan tenaga kerja asing itu kembali ke undang-undang 13. Kedua terkait dengan sanksi pidana tapi di tingkat panjang kembali ke undang-undang existing undang-undang nomor 13 terkait dengan PKWT maupun outsourcing sebagian besar itu kembali kepada apa yang telah menjadi Putusan Mahkamah Konstitusi. Oke berikutnya terkait dengan adanya Usulan pemerintah yang mengenal dikenal dengan istilah upah minimum Padat Karya di dalam rancangan undang-undang omnibus law itu ada buruh meminta itu dihapus kami hapuskan. Berikutnya terkait dengan Upah Minimum Kabupaten Kota di mana rancangan undang-undang omnibus law yang hanya mengenal satu jenis pepaya upah minimum provinsi kami tidak setuju dengan pemerintah dan mengembalikan Upah Minimum Kabupaten Kota

itu tetap ada dengan formula yang baru.... (Supratman Andi Agtas, Ketua Baleg DPR dalam tayangan Mata Najwa Mereka-Reka Cipta Kerja pada menit ke 48:24)”.

Berdasarkan pernyataan tersebut diketahui bahwa Supratman Andi Agtas mengungkapkan beberapa pasal terkait ketenagakerjaan dalam omnbus law yang sebelumnya sangat tidak diterima oleh publik khsusnya

dalam hal ini kalangan buruh dan pekerja, berkomitmen akan tetap dikembalikan ke uu asalnya yaitu UU No. 13 Tahun 2003. Seperti halnya aturan tentang pengunaan tenaga kerja asing yang dalam omnibus law diberikan kebebasan untuk masuk, aturan tersebut tidak dibenarkan dan dikembalikan ke aturan yang ada dalam UU Ketenagakerjaan seperti pada pasal 42 UU No. 13 Tahun 2003 dengan UU Cipta Kerja No. 11 Tahun 2020 pasal 81 No.4 atas perubahan pada pasal 42 tersebut. Lebih lanjut pernyataan ketua baleg sebagai berikut:

“Saya yakin kan kepada seluruh lapisan masyarakat, bahwa justru karena kali ini kita membahas sebuah undang-undang yang sangat luar biasa, seluruh masukkan itu pasti kami dengar, itu yang pertama.

Yang kedua, saya ingin menanggapi hal yang disampaikan oleh Pak Faisal Basri tadi. Saya pastikan korban pertama omnibus law ini adalah para birokrat birokrat yang selama ini menikmati kesenangan di dalam perizinan usaha. Saya pastikan itu, karena dengan perizinan perusahaan yang kita buat di dalam omnibus law yang akan menyerang mereka. Yang kedua, daerah-daerah yang pembagian kekuasaan pemerintah pusat dan pemerintahan daerah sama sekali nggak ada yang dihilangkan. Semua kewenangan di dalam omnibus law dibingkai dalam negara kesatuan Republik Indonesia (Supratman Andi Agtas, Ketua Baleg DPR dalam tayangan Mata Najwa Mereka-Reka Cipta Kerja pada menit ke 1:05:03)”.

Supratman Andi Agtas lebih lanjut berpendapat dalam argumen tersebut sehingga diketahui bahwa selain memberikan jaminan bahwa regulasi ketenagakerjaan dikembalikan sesuai UU No. 13, juga berkomitmen bahwa dengan adanya omnibus law akan mengurangi penyimpangan dalam birokrasi-birokrasi pemerintah dan masukan-masukan dari publik pasti akan terus didengarkaan.

Make Moral Judgement lainnya yang ingin ditampilkan dalam

tayangan Mata Najwa pada Episode Mereka-Reka Cipta Kerja ialah pembelaan Bahlil Lahadalia dari pernyataan yang disampaikan oleh Faisal Basri bahwa TKA yang masuk ke Indonesia bukan menggunakan visa kerja melainkan visa kunjungan sehingga memberikan kerugian bagi negara dan lapangan pekerjaan untuk tenaga kerja sendiri. Adapun pembelaan yang dilontarkan ialah:

“Jadi, yang pertama saya ingin mengatakan bahwa uu cipta lapangan pekerjaan ini tujuannya adalah bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan untuk tenaga kerja dalam negeri bukan untuk tenaga kerja luar negeri. Perintah dari Presiden, jelas bahwa ini untuk menciptakan lapangan pekerjaan sekitar 16 sampai 17 juta yang sekarang siap untuk mencari lapangan pekerjaan, biar clear kita. Yang kedua, adapun tenaga kerja asing, sekarang Mbak Nana aturan kesepakatan bersama antara BKPM tenaga kerja kemenkumham, tenaga kerja asing sekarang maksuk lewat BKPM.

Saya yakin dan percaya bahwa Bang Faisal tahu tentang adiknya karena beliau guru saya sejak tahun 2000 waktu saya di Papua.

InsyaAllah bang ketika saya di sini, komitmen saya untuk tidak membuka ruang yang seperti selama ini yang dianggap mungkin kurang pas dilakukan, insyaAllah bang. Jadi komitmen saya itu (Bahilil Lahadalia, Kepala BKPM dalam tayangan Mata Najwa Mereka-Reka Cipta Kerja pada menit ke 56:47)”.

Berdasarkan pernyataan tersebut diketahui bahwa Bahil Lahadalia selaku kepala BKPM telah memberikan komitmennya terhadap masalah

tenaga kerja asing. Beliau menjanjikan bahwa tenaga kerja asing yang sebelumnya dianggap bebas masuk di Indonesia saat ini akan dipersemit dari sebelumny melalui BKPM. Selain itu keberadaan omnibus law cipta apangan kerja ada untuk menciptakan lapangan pekerjaan untuk tenaga kerja dalam negeri bukan untuk para tenaga kerja asing.

4. Treatment Recommendation (Menekankan Penyelesaian)

Treatment Recommendation merupakan elemen yang digunakan

untuk melakukan penilaian terhadap apa yang dikehendaki dan jalan apa yang dipilih untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Treatment Recommendation yang diberikan Mata Najwa adalah polemik perdebatan

Undang-Undang Cipta Kerja menjadi pelajaran berharga bagi tata politik Indonesia. Selain itu juga, dalam proses penyusunan perundang-undangan yang memiliki sebuah dampak besar hendaklah proses penyusunannya harus dilakukan dengan lebih terbuka agar dapat dipelajari secara seksama.

Hal tersebut diutarakan dalam redaksi Najwa Shihab menutup Program Mata Najwa sebagai berikut:

“Sengkarut sengit dari penyusunan undang-undang cipta kerja menjadi pelajaran berharga bagi tata politik kita. Jangan ada lagi peraturan yang vital dan amat penting, disusun dengan tergesa melewati banyak pintu samping. Makin besar dampak sebuah perundang-undangan proses penyusunannya justru makin butuh keterbukaan. Biarkanlah perdebatan alok disuburkan sejak semula, buka semua rancangan agar bisa dipelajari seksama. Tak akan ada tekanan lewat aksi-aksi di jalanan jika aspirasi semua pihak bisa diakomidasikan. Tidakkah melelahkan jika saling curiga terus-terusan, jarak antara publik dan negara harus terus didekatkan (Najwa Shihab dalam tayangan Mata Najwa Mereka-Reka Cipta Kerja pada menit ke 1:07:08)”.

Selain dari hasil Framing Robert N. Entman dalam empat elemen pada Tayangan Program Tv Mata Najwa Episode Mereka-Reka Cipta Kerja, peneliti juga melakukan wawancara dengan beberapa pihak yang dianggap mampu mendukung hasil analisis tersebut. Omnibus law merupakan produk pemerintah berupa produk kebijakan yang dibuat sebagai pemersatu regulasi lainnya yang bersifat multisektoral. Dari wawancara yang telah dilakukan diperoleh hasil penelitian mengenai pendapat informan terkait omnibus law sebagai berikut:

Menurut A selaku Junior Researcher dan sekaligus staff administrasi LSKP berpendapat bahwa:

“saya menganggap bahwa omnibus law cipta kerja ini sebenarnya adalah sebuah rangkuman bagaimana membuat begitu banyak undang-undang terkait buruh, ketenagakerjaan, dan sumber daya yang ada di indonesia ini dirangkum menjadi satu regulasi yang mengaturnya. Itu luar biasa kalau misalnya dengan durasi yang diberikan oleh dpr kurang lebih 100 hari untuk membahas uu ini itu spektakuler sekali ketika dpr bisa menjalankan fungsinya sebagai lembaga legislatif juga merangkum aspirasi masyarakat dengan waktu sesempit itu. Meskipun dalam kebijakan ini ternyata masih terdapat miskomunikasi antara pihak eksekutif dengan publik luas dan aspirasi masyarakat yang digaungkan tak dianggap seperti itu (Hasil wawancara dengan informan A)”.

Melalui pernyataan tersebut diketahui bahwa menurut informan A omnibus law cipta kerja merupakan salah satu produk kerja DPR dalam

Melalui pernyataan tersebut diketahui bahwa menurut informan A omnibus law cipta kerja merupakan salah satu produk kerja DPR dalam

Dokumen terkait