BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian tersebut pada bagian ini membahas mengenai hasil wawancara dengan informan pendukung yang kemudian akan dikaitkan dengan hasil analisis framing pada progrm tv Mata Najwa. Adapun teori Everett Rogers dan James Dearing (Elfrida, 2016) yang dijadikan sebagai landasan berpikir berpandangan bahwa agenda setting merupakan proses yang terdiri dari tiga tahapan yaitu media agenda, public agenda, dan policy agenda.
Penelitian ini berpedoman pada tahapan pertama yaitu media agenda pada teori tersebut yang diartikan sebagai tahapan dalam penentuan prioritas isu yang dimuat dan ditayangkan oleh sebuah media massa. Berikut aspek-aspek yang terlibat dalam pembentukan media agenda diantaranya yaitu:
1. Visibility dalam media agenda diartikan sebagai besarnya frekuensi dari berita atau topik yang dimunculkan pada Program Mata Najwa “Mereka-Reka Cita Kerja”. Visibility pada program tv Mata Najwa terlihat dengan banyaknya atensi dari pubik khususnya dalam penayangan episode
“Mereka-Reka Cipta Kerja”. Beberapa faktor-faktor menjadikan program tersebut jelas berpengaruh dalam menarik frekuensi penonton, faktor tersebut dalam hal ini ialah perangkaian judul yang mampu menggiring opini dan ketertarikan publik hingga pada kepiawaian Najwa sebagai tuan rumah dalam memantik perdebatan antar tamu diskusi guna membahas topik yang sedang hangat-hangatnya menjadi perbincangan serius akan dampaknya untuk seluruh elemen masyarakat. Aspek visibility ini berkaitan dengan elemen framing yaitu define probem dan diagnose causes. Terlihat
dari cara Mata Najwa guna menarik publik dengan menyampaikan sembrawut polemik dalam pembahasan omnibus law cipta kerja. Dimulai dari pengesahan yang dinilai dilakukan secara terburu-buru, kurang melakukan konsultasi kepada publik, masalah internal pemerintah, alasan pembentukan karena ingin membuka investasi yang sebenrnya tidak bermasalah, hingga berbagai masalah maupun sumber masalah dari kebijakan tersebut. Sangat jelas bahwa perdebatan akan topik cipta kerja menggerakkan opini publik untuk mengetahui omnibus secara lebih mendalam dengan melihat berbagai sudut pendang yang dihadirkan dalam program tv tersebut.
2. Audience Salience dalam media agenda menyangkut relevansi dari isi berita yang ditayangkan pada Program Tv Mata Najwa terhadap kebutuhan dari publik. Audience Salience pada program tv Mata Najwa ialah isi penayangan “Mereka-Reka Cita Kerja” menimbulkan banyak sudut pandang penilaian yang dianggap timpang tindih untuk kebutuhan publik.
Relevansi isu yang diberitakan tidaklah sesuai dengan implmentasi yang terjadi di lapangan dalam hal penerapan omnibus law khususnya seputar cipta kerja. Sampai saat ini masih banyak kasus pekerja yang mendapatkan kerugian dengan adanya kebijakan tersebut. Janji-janji dan solusi yang diutarakan pemerintah dalam program tv itu dinilai hanyalah bualan semata atau lip service dari pihak otoritas untuk meredam gejolak dan besarnya gerakan suara perlawanan publik terhadap ketimpangan yang ada. Adapun aspek audience salience berkaitan dengan elemen framing yaitu define
probem dan make moral judgment. Hal ini terlihat dengan adanya argumen
di program tv tersebut yang mengutarakan bahwa omnibus law ini ada guna singkronisasi regulasi dinilai tumapang tindih dan pemanfaatan investasi yang sebenarnya bukanlah masalah besar karena investasi Indonesia yng dinggap baik-baik saja. Adapun berdasar komentar tertinggi yang mencapai hingga 18 ribu komentar, ketenagakerjaan bukanlah masalah prioritas negara untuk diperbaharui. Akan tetapi yang patut untuk diperhatikan ialah lemahnya regulasi memberantas koruptor yang masih mengakar di Indonesia dan menjadi permasalahan semua sektor kehidupan yang ada.
3. Valance dalam media agenda adalah cara dari media program tv Mata Najwa mengolah pemberitaan omnibus law dengan memunculkan episode
“Mereka-Reka Cipta Kerja” sehingga dianggap menarik oleh publik.
Valance pada program tersebut yaitu penonjolan akan daya unggul yang
dimiliki Mata Najwa sebagai salah satu talkshow unggulan. Beberapa keunggulan tersebut yaitu pemunculan dan pemilihan topik yang sedang hangat-hangatnya menjadi perbincanan publik perihal omnibus law cipta kerja, survey dan penelitian yang dilakukan sebaga data pendukung dalam diskusi, tamu-tamu yang dihadirkan mampu memantik minat publik serta kemahiran Najwa Shihab dalam menggiring tiap opini tamu untuk saling berdebat mempertahankan argumennya. Aspek valance berkaitan dengan elemen framing yaitu treatment recommendation, dalam hal ini terihat dari bagaimana Mata Najwa memberikan argumen penutup bahwa menyusun sebuah undang-undang yang memiliiki dampak luas kepada masyarakat
haruslah dilakukan secara lebih terbuka agar dapat dipelajari secara seksama dan hal ini guna meminimalisir terjadinya pertentangan dari kalangan masyarakat. Penekanan dalam treatment recommendation ini menjadi satu dari sekian keunggulan dari program tv Mata Najwa yang menjadi ciri khas dan keunikan tersendiri dalam memikat publik untuk menontonnya hingga di penghujung acara.
Omnibus Cipta Kerja diatur dalam UU No. 11 Tahun 2020 tentang
pengaturan ketenagakerjaan yang dirumuskan pada Bab VI antara Pasal 81 hingga Pasal 84. Pengaturan ini secara khusus memiliki konsep untuk mengubah, menyisipkan, dan menghapus serta menetapkan pengaturan baru yang bersinggungan dengan empat UU sebelumnya diantaranya: (1) UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; (2) UU No 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional; (3) UU No 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial; dan (4) UU No. 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia.
Berdasar akan hasil analisis terhadap omnibus law Cipta Kerja khususnya pada rana substansi materi seputar ketenagakerjaan, diperoleh bahwa terdapat beberapa rumusan pasal yang justru memperlihatkan kelemahan dan menurunkan standar serta jaminan terhadap hak untuk memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi para pekerja dan buruh dan dianggap sebagai pasal yang catat karena tidak memanusiakan pekerja, beberapa pasal tersebut diantaranya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4
Pasal Bermasalah dalam Omnibus Law Cipta Kerja
Pasal Pengaturan Aspek
Penilaian Pasal 81 Menghapus Pasal 43 dan 44 UU No. 13
Tahun 2003 yang mana pasal ersebut mengatur tentang urgensitas penggunaan tenaga kerja asing, jangka waktu, pendamping di Indonesia, standar kompetensi, kriteria jabatan dan jabatan dalam struktur perusahaan.
Diskriminasi Terhadap Akses Ketersediaan
Pekerjaan
Pasal 81 Meskipun menghidupkan kembali Pasal 59 UU 13/2003 yang sebelumnya membatasi pekerjaan kontrak hanya pada pekerjaan (a) sekali selesai; (b) diperkirakan waktunya sebentar; (c) musiman dan (d) jenis atau sifat tidak tetap. Akan tetapi dengan menghapuskan pasal lainnya yaitu Pasal 59 ayat (4) UU No. 13/2003 yang membatasi waktu lamanya PKWT (kontrak) yakni paling lama 2 tahun dan hanya boleh diperpanjang 1 kali untuk jangka waktu paling lama tahun, mengakibatkan tidak adanya batas waktu kontrak diberikan dengan demikian tetap saja kontrak bagi
Pasal 81 Mengenai pengaturan cuti dan hak istirahat, dalam UU No. 13 Tahun 2003 lebih memberikan perlindungan, akan tetapi dalam omnibus law salah satunya mengenai cuti panjang setelah bekerja 6 (enam) tahun bukan sebagai hak normatif kembali akan tetapi didasarkan pada persetujuan perusahaan.
Akseptabilitas dan mutu
Pasal 81 Pengupahan yang kurang melindungi buruh/pekerja, indikasi tersebut diantaranya melalui pengupahan ditetapkan hanya oleh Gubernur, minim keterlibatan perwakilan buruh dan akan menyulitkan dalam
Ancaman Terhadap Kondisi Kerja
Layak dan
penetepannya karena kondisi antar kabupaten/kota berbeda, pengaturan upah minimum padat karya dan upah minimum UMKM, sehingga akan terjadi disparitas mengenai upah buruh.
Adil berkaitan dengan Upah
Pasal 81 Mengatur pemutusan hubungan kerja lebih mudah dibanding dengan UU 13/2003 karena menghapuskan ketentuan Pasal 151 ayat (2) yang mengatur bahwa pemutusan hubungan kerja harus dirundingkan terlebih dahulu dengan serikat buruh/serikat, penghapusan ketentuan dalam Pasal 155 yang mengatur bahwa PHK harus terlebih dahulu mendapatkan penetapan dari lembaga perselisihan, penghapusan ketentuan dalam Pasal 161 yang mengatur mekanisme bertahap sebelum pemutusan hubungan kerja dengan pemberian surat peringatan.
Pasal 81 Mengatur persoalan kemunduran perlindungan terhadap serikat buruh/serikat bekerja, indikasi tersebut dimulai dari ketentuan tidak perlunya perundingan dalam proses PHK dengan serikat buruh/serikat pekerja, adanya perubahan sifat hubungan kerja menjadi PKWT (kontrak) dan alih daya, dampaknya dalam jangka panjang adalah menghambat penguatan serikat buruh.
Menyikapi beberapa pasal bermasalah dalam omnibus law Cipta Kerja, pernyataan yang disampaikan oleh ke-tiga stakeholders dalam program Mata Najwa diantaranya Supratman Andi Agtas, Bahlil Lahadahlia, dan Hariadi Sukamdani tertuang janji untuk menyelesaikan problematika keresahan buruh dan pekerja dengan mengembalikan pasal-pasal bermasalah tersebut sesuai yang diatur pada UU No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Janji tersebut
hingga saat ini dinilai belum direalisasikan, terbukti dengan masih saja timbulnya keresahan akibat dampak yang didapatkan oleh pekerja sejak direalisasikannya regulasi tersebut.
Ke-tiga stakeholders lainnya yaitu Ledia Hanifah, Haris Azhar, dan Faisal Basri sebagai kubu yang tetap menilai cipta kerja ini sebagai regulasi yang kurang tepat dikarenakan pasal-pasal bermasalah tersebut dan disamping itu juga akibat keterlibatan publik yang dinilai masihlah minim. Berdasar akan hal tersebut pemerintah dan DPR seharusnya sudah mengetahui bahwa adanya sebuah hukum yang berlaku itu, hendaklah memberikan rasa keadilan dan bisa memberikan rasa kebahagiaan terhadap masyarakat. Namun dilain sisi, pemerintah juga tetap bertugas, berusaha dan konsisten dalam membangun dan meningkatkan perekonomian masyarakat sebagai suatu jalan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial.
John W. Kiingdon (Indah, 2016) beranggapan ada tiga aliran dalam tahapan agenda setting yaitu Aliran masalah (problem stream), Aliran kebijakan (policy steram), dan Aliran politik (political stream). Jika kebijakan omnibus law cipta kerja dikaitkan dengan ketiga hal tersebut, maka diketahui
bahwa dalam merumuskan cipta kerja aliran yang paling menonjol ialah aliran politik. Dalam aliran politik terdapat pihak yang berkelakuan dan bertindak politik berusaha untuk mempengaruhi para pembuat kebijakan lainnya dalam menyusun dan melaksanakan kebijakan yang bias mengangkat kepentingannya dan mengesampingkan kepentingan kelompok lain. Pembiasan yang ada dalam
perumusan hingga pengesahan cipta kerja menimbulkan kendala masa depan yakni kurangnya penerimaan oleh publik hingga saat ini.
Kimber, Salesbury, Sandbach, Hogwooddan Gunn (Indah, 2016) berpendapat yaitu suatu isu nantinya akan cenderung untuk memperoleh respon dari pembuat kebijakan guna lebih lanjut dijadikan agenda kebijakan publik apabila memenuhi kriteria seperti isu telah mencapai titik kritis tertentu sehingga tidak bisa lagi diabaikan; isu tersebut telah menjadi partikularitas tertentu yang menimbulkan dampak yang bersifat dramatik; isu tersebut menyangkut akan emosi tertentu yang dilihat dari sudut kepentingan orang banyak, bahkan umat manusia umumnya dan mendapatkan dorongan berupa liputan media massa yang luas. Teori tersebut tidaklah sejalan, omnibus law cipta kerja sendiri menjadi masalah publik setelah ditetapkan menjadi sebuah regulasi yakni UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Berdasar akan hal itu maka kecacatan dalam kebijakan tersebut ada dalam tahapan pembuatannya yang dinilai gagal dalam mendefinisikan masalah publik yang sebenar-benarnya untuk dijadikan skala prioritas penyelesaian oleh aktor kebijakan hingga pada partisipasi masyarakat yang dianggap minim.
Teori agenda setting oleh Mccombs dan Donald Shaw dalam Agustina
& Irwansyah (2017) bahwa isu yang dianggap penting di media massa pastinya dianggap penting pula oleh publik. Melalui teori tersebut masyarakat akan tahu tentang isu-isu apa saja dan bagaimana isu-isu itu disusun sesuai dengan tingkat kepentingannya. Jika kita kaitkan dengan kebijakan omnibus law cipta kerja, hingga saat ini pemberitaannya tidaklah surut dan tetap diperdebatkan oleh
publik karena buruh dan tenaga kerja merasa kebijakan itu tidaklah memanusiakan mereka dalam menjalankannya. Produk kebijakan perihal ketenagakerjaan dari UU No. 13 Tahun 2003 menjadi omnibus law cipta kerja/
UU No. 11 Tahun 2020 terus menerus diberitakan yang mana saat ini kebijakan tersebut ditetapkan inkonstitusional bersyarat berdasarkan putusan MK pada 25 November 2021 dikarenakan banyaknya penolakan-penolakan dari para tenaga kerja dan buruh. Hal tersebut mencerminkan bahwa isu omnibus law cipta kerja merupakan kebijakan yang patut untuk diperhatikan oleh publik.
Berdasarkan hasil penelitian dan framing yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa agenda setting yang ingin ditampilkan pada program tv mata najwa ialah mengetahui adanya silang pendapat antar aktor kebijakan dalam merumuskan masalah publik yang timbul hingga efek dari pengesahan kebijakan yang ada. Keberadaan media memberikan dampak kuat dalam mempengaruhi opini masyarakat untuk lebih terbuka dalam mengkritik pemerintah terhadap kebijakan omnibus law cipta kerja yang dianggap merugikan publik. Melalui program tersebut pertanyaan-pertanyaan yang selama ini bersarang dalam benak masyarakat perihal kebijakan omnibus diharapkan bisa terjawab melalui keberadaan pihak-pihak yang dianggap memiliki keterlibatan langsung dengan omnibus baik itu baik dari pihak pemerintah sendiri maupun dari pihak pemerhati buruh dan pekerja.
73 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Sesuai dengan hasil penelitian yang telah disusun mengenai media agenda pada agenda setting kebijakan omnibus law dalam perspektif framing
program tv mata najwa bahwa aspek-aspek pada tahapan tersebut terdiri dari 3 (tiga) aspek yang termuat di dalamnya berdasarkan pandangan Everett Rogers dan James Dearing (Elfrida, 2016) yakni visibility (frekuensi isu), audience salience (relevnsi terhadap kebutuhan pubik), dan valance (cara pengelolaan
isu). Dapat disimpulkan sebagai berikut:
Pertama Visibility, tayangan Mata Najwa terlihat dari isu omnibus law sebagai topik hangat yang diperbincangkan dua hari setelah pengesahannya yang memicu banyak perdebatan dari berbagai kalangan masyarakat. Pemilihan omnibus law sebagai bahan perbincangan ini sangatlah menarik atensi publik
hingga program tersebut meraup jumlah penonton hingga 5,4 juta kali ditonton pada penayangan ulangnya di akun yotube chanel mata najwa.
Kedua Audience Salience, tayangan Mata Najwa terlihat dari relevansi isu yang diberitakan dengan kebutuhan masyarakat. Omnibus law cipta kerja yang diberitakan pada tayangan tersebut menampilkan sejumlah sudut pandang pakar mulai dari pihak yang kurang setuju akan kebijakan cipta kerja yang memperbudak buruh dan pekerja serta lebih mementingkan keuntungan pengusaha. Adapun yang sangat setuju karena keberadaan omnibus law ini mampu untuk menyelesaikan sengkarut regulasi yang
berlebihan dalam pemerintahan dan membuka lapangan pekerjaan melalui jalur investasi.
Ketiga Valance, tayangan Mata Najwa terlihat dari pengelolaan topik yang diberitakan oleh Mata Najwa hingga mampu memberikan kesan tersendiri kepada publik. Perdebatan sengit yang terjadi antara pihak yang pro dan kontra terhadap omnibus law cipta kerja menjadi salah satu daya tarik program tersebut serta kepiawaian Najwa Shihab dalam menggiring opini tiap tamu diskusi untuk sama-sama tetap mempertahankan argumennya.
B. Saran
Berikut ini saran dari peneliti yaitu diantaranya:
1. Teruntuk pihak berwenang dalam tatanan pemerintah bahwa prinsip keterbukaan dan transparansi dalam hal penyusunan perundang-undangan adalah salah satu wujud pengabdian oleh wakil rakyat terhadap pentingnya partisipasi publik. Saran peneliti agar kedepannya lebih mengutamakan hal-hal yang dianggap kecil tersebut tetapi memberikan pengaruh besar bagi beberapa kalangan masyarakat yang bersangkutan.
2. Kemudian teruntuk peneliti selanjutnya ialah agar kedepannya dapat menjadikan penelitian ini sebagai bahan referensi guna memajukan studi kebijakan publik. Sehubung dengan peneltian lebih lanjut tentang topik agenda setting untuk menggeneralisasikan temuan diluar parameter
peneltian yang sudah ada sebelumnya dan lebih berfokus pada tahapan agenda public dan agenda policy.
75
DAFTAR PUSTAKA
Alfiyani, N. 2020. Perbandingan Regulasi Ketenagakerjaan dalam Undang-Undang Ketengakerjaan dan Undang-Undang-Undang-Undang Cipta Kerja. Jurnal Hukum dan Kemasyarakatan, 14(2).
Agustina, T., & Irwansyah. (2017). Peran Agenda Setting Media Massa Dalam Kebijakan Penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) Beras oleh Pemerintah.
Jurnal Ilmu Politik Dan Komunikasi. 7(2): 227–236.
Anggara, S. (2018). Kebijakan Publik. Pustaka Setia.
Anggono, B. D. (2020). Omnibus Law Sebagai Teknik Pembentukan Undang-Undang: Peluang Adopsi dan Tantangannya Dalam Sistem Perundang-Undangan Indonesia. Jurnal Rechts Vinding: Media Pembinaan Hukum Nasional. 9(1): 17.
Arham, S., & Saleh, A., (2019). Omnibus Law Dalam Perspektif Hukum Indonesia.
Uit.E-Journal.Id. 7(2): 72–81.
Astuti. (2020). Paripurna Pengesahan RUU Cipta Kerja, Hanya 61 Anggota Dewan Hadir Langsung. https://news.detik.com. Diakses pada Tgl 10 Maret 2021.
Bechtel, K. L., Stanton, C. M., Smith, J. E., Eames, C. D., & Sweetser, K. D. (2021).
Policy aside: A framing study on policy change and its influence on the perception of an organization’s culture. Public Relations Review, 47(1): 1-7.
Bullock, O. M., Shulman, H. C. (2021). Utilizing Framing Theory to Design More Effective Health Messages about Tanning Behavior among College Women.
Communication Studies: 1–15.
Darmawan, A. (2020). Politik Hukum Omnibus Law Dalam Konteks. Jurnal Ilmu Hukum. 1(1): 14–25.
Elfrida, S. V. (2016). Proses Membangun Agenda Setting Kebijakan Pada Portal Berita Pemerintah dan Kesesuaiannya dengan Agenda Media Online The Process of Building Policy of Agenda Setting Through The Government Santhy. Jurnal Masyarakat Telematika Dan Informasi. 6(1): 13–26.
Handoyo, E. (2012). Kebijakan Publik. Semarang: Widya Karya.
Hartono, D. (2019). Analisis Framing Robert Entman Kasus Freddy Budiman di Harian Kompas Periode Bulan Juli – September 2016. Jurnal Ilmu Komunikasi Andalan. 2(2): 95–115.
Hermawida. (2020). Analisis Wacana Program Talkshow Mata Najwa Episode
“Nyala Papua” Di Trans 7. Skripsi. Universitas Sriwijaya.
Hernawati, R., & Suroso, J. T. (2020). Kepastian Hukum Dalam Hukum Investasi Indonesia Melalui Omnibus Law. Jurnal Ilmiah MEA. 4(1): 392–408.
Indah, P. (2016). Analisis Penyusunan Agenda Kebijakan Publik (Studi Kajian Agenda Penyusunan Kebijakan Penyelesaian Pelanggaran Rtrw Oleh Industri Cv. Evergreen Indogarment). Skripsi. Universitas Diponegoro.
Kurniawan, E. 2021. Problematika Pembentukan Ruu Cipta Kerja Dengan Konsep Omnibus Law Pada Klaster Ketenagakerjaan Pasal 89 Angka 45 Tentang RUU Cipta Kerja. Rechstaat Nieuw. 5(1): 22–29.
Mayasari, I. (2020). Kebijakan Reformasi Regulasi Melalui Implementasi Omnibus Law Di Indonesia. Jurnal Rechts Vinding: Media Pembinaan Huku Nasional.
9(1): 1-15.
Mukaromah, V. F. (2020). Sederet Fakta Rapat Paripurna Pengesahan Omnibus Law UU Cipta Kerja, dari Interupsi hingga Walk-Out. http://kompas.com.
Diakses pada Tgl 20 Februari 2020.
Novelino, A. (2020). Buruh Demo Omnibus Law Bawa Keranda: Rasa Keadilan Mati. http://m.cnnindonesia.com. Diakses pada Tgl 21 Februari 2020.
Novita Ika. (2021). Konstruksi Realitas Media (Analisis Framing Pemberitaan UU Cipta Kerja Omnibus Law dalam Media Online Vivanews dan Tirto.id).
Journal of Chemical Information and Modeling. 2(1): 71–84.
Permana, D. 2021. Pengaruh Menonton Program Talkshow Mata Najwa Terhadap Persepsi Mahasiswa Tentang Uu Cipta Kerja (Survei Pada Mahasiswa Kpi Iain Syekh Nurjati Cirebon Semester 6 Dan 8 Yang Menonton Program Talkshow Mata Najwa Episode “Cipta Kerja: Mana Fakta Mana Dusta”). Thesis.
Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwahn Islam, IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
Petra, C., & May, G. (2016). Representasi Ideologi Dalam Tuturan Santun Para Pejabat Negara Pada Talk Show Mata Najwa. Seloka: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia. 5(1).
Prabowo, A. S., Triputra, A. N., & Junaidi, Y. (2020). Politik Hukum Omnibus Law di Indonesia. Pamator Journal. 13(1): 1–6.
Prawoto Jati, I. P., & Santi Rahayu, D. B. (2020). Media Agenda Setting as Strengthening Environmental Awareness and Concern in Youth. Advances in Social Science and Humanities Research. 389(Icstcsd 2019): 25–28.
Rachma, A., Susanto, dkk. (2020). Mengupas Omnibus Law Bkin Ga(k) Law.
Kajian 5 Jilid 1. Dewan Mahasiswa Justicia Fakultas Hukum UGM.
Rafikoh. (2021). Asas Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan dalam Konsep Omnibus Law Perspektif Pendekatan Sistem Jasse Auda. Skripsi.
Institus Agama Islam Negeri Purwokerto.
Ramdhani, A., & Ramdhani, M. A. (2017). Konsep Umum Pelaksanaan Kebijakan Publik. Jurnal Publik. 11(1): 1–12.
Ritonga, E. Y. (2018). Teori Agenda Setting dalam Ilmu Komunikasi. Jurnal Sombolika: Research and Learning in Communication Study. 4(1): 32.
Salsabila, J. 2021. The Construction Mata Najwa Program on Episode "Gerabak Gerebuk Urus Pegebluk" in Trans 7. Jurnal of communication. 1(2): 73.
Santoso, A. (2016). Persepsi Mahasiswa Terhadap Program Talkshow Mata Najwa Di Metro Tv (Study Deskriptif Kuantitatif Pada Mahasiswa LPM Pabelan UMS Terhadap Mata Najwa Periode 18 November 2015 - 15 Maret 2016).
Skripsi.
Suntoro, A. (2021). Implementasi Pencapaian Secara Progresif dalam Omnibus Law Cipta KerJA (The Implementation of Progressive Realization at Omnibus Law). Jurnal HAM, 12(1): 1-18.
Suriadinata, V. (2019). Penyusunan Undang-Undang Di Bidang Investasi: Kajian Pembentukan Omnibus Law Di Indonesia. Jurnal Ilmu Hukum. 4(1): 115–132.
Wahab, S. A. (2016). Analisis Kebijakan. PT Bumi Aksara.
Widiyani, R. (2020). Soal RUU Omnibus Law Indonesia: Kontroversi, Pro Kontra, Kapan Disahkan? https://news.detik.com. Diakses pada Tgl 30 Maret 2021.
78
L A M
P
I
R
A
N
Lampiran 1. Dokumentasi Wawancara
Gambar 7
Wawancara dengan Informan H (Sumber: Olahan Peneliti)
Gambar 8
Wawancara dengan Informan H (Sumber: Olahan Peneliti)
Gambar 9
Wawancara dengan Informan H (Sumber: Olahan Peneliti)
Gambar 10
Wawancara dengan Informan H (Sumber: Olahan Peneliti)
Gambar 11
Wawancara dengan Informan R (Sumber: Olahan Peneliti)
Gambar 12
Wawancara dengan Informan R (Sumber: Olahan Peneliti)
Gambar 13
Wawancara dengan Informan A (Sumber: Olahan Peneliti)
Gambar 14
Wawancara dengan Informan A (Sumber: Olahan Peneliti)
Lampiran 2. Persuratan Penelitian
Lampiran 3. Transkrip
TRANSKRIP PROGRAM TV MATA NAJWA EPISODE “MEREKA-REKA CIPTA KERJA”
(Rabu, 07 Oktober 2020 Pukul 20.00 WIB di Trans 7)
SEGMEN 1 (00:34)
Najwa Shihab : Selamat malam, selamat datang di Mata Najwa. Saya Najwa Shihab, tuan rumah Mata Najwa. Hiruk perdebatan dan aksi jalanan terjadi lagi karena omnibus law yang memantik polemik berapi. Proses penyusunan yang istimewa kecepatannya, menghidupkan curiga dari berbagai elemen warga. Apalagi fase-fase akhir menuju pengesahan dilakukan ketika pandemi masih gila-gilaan. Terjadilah sengkarut informasi tentang pasal- pasal transparansi yang dikeluhkan diam-diam dijegal. Walau tak mudah menjernihkan problem undang-undang Cipta kerja. Mari kita tetap mendiskusikannya secara terbuka. Inilah Mata Najwa, Mereka-Reka Cipta kerja.
Sumber: Mata Najwa (2:13)
Najwa Shihab : Perdebatan hingga aksi turun ke jalan mewarnai perdebatan soal Undang- Undang Cipta kerja yang disahkan dalam sidang paripurna DPR RI dua hari lalu. Publik mungkin bertanya-tanya,
ada apa dibalik proses kilat omnibus law ini dan apa dampaknya.
Malam ini, Mata Najwa akan membahasnya dan sudah bergabung lewat video call Ketua Badan Legislasi DPR Supratman Andi Agtas bergabung juga Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo Hariyadi Sukamdani. Selamat malam bapak, terima kasih sudah bergabung di Mata Najwa. Saya juga
Malam ini, Mata Najwa akan membahasnya dan sudah bergabung lewat video call Ketua Badan Legislasi DPR Supratman Andi Agtas bergabung juga Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo Hariyadi Sukamdani. Selamat malam bapak, terima kasih sudah bergabung di Mata Najwa. Saya juga