• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

B. Saran

Berikut ini saran dari peneliti yaitu diantaranya:

1. Teruntuk pihak berwenang dalam tatanan pemerintah bahwa prinsip keterbukaan dan transparansi dalam hal penyusunan perundang-undangan adalah salah satu wujud pengabdian oleh wakil rakyat terhadap pentingnya partisipasi publik. Saran peneliti agar kedepannya lebih mengutamakan hal-hal yang dianggap kecil tersebut tetapi memberikan pengaruh besar bagi beberapa kalangan masyarakat yang bersangkutan.

2. Kemudian teruntuk peneliti selanjutnya ialah agar kedepannya dapat menjadikan penelitian ini sebagai bahan referensi guna memajukan studi kebijakan publik. Sehubung dengan peneltian lebih lanjut tentang topik agenda setting untuk menggeneralisasikan temuan diluar parameter

peneltian yang sudah ada sebelumnya dan lebih berfokus pada tahapan agenda public dan agenda policy.

75

DAFTAR PUSTAKA

Alfiyani, N. 2020. Perbandingan Regulasi Ketenagakerjaan dalam Undang-Undang Ketengakerjaan dan Undang-Undang-Undang-Undang Cipta Kerja. Jurnal Hukum dan Kemasyarakatan, 14(2).

Agustina, T., & Irwansyah. (2017). Peran Agenda Setting Media Massa Dalam Kebijakan Penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) Beras oleh Pemerintah.

Jurnal Ilmu Politik Dan Komunikasi. 7(2): 227–236.

Anggara, S. (2018). Kebijakan Publik. Pustaka Setia.

Anggono, B. D. (2020). Omnibus Law Sebagai Teknik Pembentukan Undang-Undang: Peluang Adopsi dan Tantangannya Dalam Sistem Perundang-Undangan Indonesia. Jurnal Rechts Vinding: Media Pembinaan Hukum Nasional. 9(1): 17.

Arham, S., & Saleh, A., (2019). Omnibus Law Dalam Perspektif Hukum Indonesia.

Uit.E-Journal.Id. 7(2): 72–81.

Astuti. (2020). Paripurna Pengesahan RUU Cipta Kerja, Hanya 61 Anggota Dewan Hadir Langsung. https://news.detik.com. Diakses pada Tgl 10 Maret 2021.

Bechtel, K. L., Stanton, C. M., Smith, J. E., Eames, C. D., & Sweetser, K. D. (2021).

Policy aside: A framing study on policy change and its influence on the perception of an organization’s culture. Public Relations Review, 47(1): 1-7.

Bullock, O. M., Shulman, H. C. (2021). Utilizing Framing Theory to Design More Effective Health Messages about Tanning Behavior among College Women.

Communication Studies: 1–15.

Darmawan, A. (2020). Politik Hukum Omnibus Law Dalam Konteks. Jurnal Ilmu Hukum. 1(1): 14–25.

Elfrida, S. V. (2016). Proses Membangun Agenda Setting Kebijakan Pada Portal Berita Pemerintah dan Kesesuaiannya dengan Agenda Media Online The Process of Building Policy of Agenda Setting Through The Government Santhy. Jurnal Masyarakat Telematika Dan Informasi. 6(1): 13–26.

Handoyo, E. (2012). Kebijakan Publik. Semarang: Widya Karya.

Hartono, D. (2019). Analisis Framing Robert Entman Kasus Freddy Budiman di Harian Kompas Periode Bulan Juli – September 2016. Jurnal Ilmu Komunikasi Andalan. 2(2): 95–115.

Hermawida. (2020). Analisis Wacana Program Talkshow Mata Najwa Episode

“Nyala Papua” Di Trans 7. Skripsi. Universitas Sriwijaya.

Hernawati, R., & Suroso, J. T. (2020). Kepastian Hukum Dalam Hukum Investasi Indonesia Melalui Omnibus Law. Jurnal Ilmiah MEA. 4(1): 392–408.

Indah, P. (2016). Analisis Penyusunan Agenda Kebijakan Publik (Studi Kajian Agenda Penyusunan Kebijakan Penyelesaian Pelanggaran Rtrw Oleh Industri Cv. Evergreen Indogarment). Skripsi. Universitas Diponegoro.

Kurniawan, E. 2021. Problematika Pembentukan Ruu Cipta Kerja Dengan Konsep Omnibus Law Pada Klaster Ketenagakerjaan Pasal 89 Angka 45 Tentang RUU Cipta Kerja. Rechstaat Nieuw. 5(1): 22–29.

Mayasari, I. (2020). Kebijakan Reformasi Regulasi Melalui Implementasi Omnibus Law Di Indonesia. Jurnal Rechts Vinding: Media Pembinaan Huku Nasional.

9(1): 1-15.

Mukaromah, V. F. (2020). Sederet Fakta Rapat Paripurna Pengesahan Omnibus Law UU Cipta Kerja, dari Interupsi hingga Walk-Out. http://kompas.com.

Diakses pada Tgl 20 Februari 2020.

Novelino, A. (2020). Buruh Demo Omnibus Law Bawa Keranda: Rasa Keadilan Mati. http://m.cnnindonesia.com. Diakses pada Tgl 21 Februari 2020.

Novita Ika. (2021). Konstruksi Realitas Media (Analisis Framing Pemberitaan UU Cipta Kerja Omnibus Law dalam Media Online Vivanews dan Tirto.id).

Journal of Chemical Information and Modeling. 2(1): 71–84.

Permana, D. 2021. Pengaruh Menonton Program Talkshow Mata Najwa Terhadap Persepsi Mahasiswa Tentang Uu Cipta Kerja (Survei Pada Mahasiswa Kpi Iain Syekh Nurjati Cirebon Semester 6 Dan 8 Yang Menonton Program Talkshow Mata Najwa Episode “Cipta Kerja: Mana Fakta Mana Dusta”). Thesis.

Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwahn Islam, IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Petra, C., & May, G. (2016). Representasi Ideologi Dalam Tuturan Santun Para Pejabat Negara Pada Talk Show Mata Najwa. Seloka: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia. 5(1).

Prabowo, A. S., Triputra, A. N., & Junaidi, Y. (2020). Politik Hukum Omnibus Law di Indonesia. Pamator Journal. 13(1): 1–6.

Prawoto Jati, I. P., & Santi Rahayu, D. B. (2020). Media Agenda Setting as Strengthening Environmental Awareness and Concern in Youth. Advances in Social Science and Humanities Research. 389(Icstcsd 2019): 25–28.

Rachma, A., Susanto, dkk. (2020). Mengupas Omnibus Law Bkin Ga(k) Law.

Kajian 5 Jilid 1. Dewan Mahasiswa Justicia Fakultas Hukum UGM.

Rafikoh. (2021). Asas Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan dalam Konsep Omnibus Law Perspektif Pendekatan Sistem Jasse Auda. Skripsi.

Institus Agama Islam Negeri Purwokerto.

Ramdhani, A., & Ramdhani, M. A. (2017). Konsep Umum Pelaksanaan Kebijakan Publik. Jurnal Publik. 11(1): 1–12.

Ritonga, E. Y. (2018). Teori Agenda Setting dalam Ilmu Komunikasi. Jurnal Sombolika: Research and Learning in Communication Study. 4(1): 32.

Salsabila, J. 2021. The Construction Mata Najwa Program on Episode "Gerabak Gerebuk Urus Pegebluk" in Trans 7. Jurnal of communication. 1(2): 73.

Santoso, A. (2016). Persepsi Mahasiswa Terhadap Program Talkshow Mata Najwa Di Metro Tv (Study Deskriptif Kuantitatif Pada Mahasiswa LPM Pabelan UMS Terhadap Mata Najwa Periode 18 November 2015 - 15 Maret 2016).

Skripsi.

Suntoro, A. (2021). Implementasi Pencapaian Secara Progresif dalam Omnibus Law Cipta KerJA (The Implementation of Progressive Realization at Omnibus Law). Jurnal HAM, 12(1): 1-18.

Suriadinata, V. (2019). Penyusunan Undang-Undang Di Bidang Investasi: Kajian Pembentukan Omnibus Law Di Indonesia. Jurnal Ilmu Hukum. 4(1): 115–132.

Wahab, S. A. (2016). Analisis Kebijakan. PT Bumi Aksara.

Widiyani, R. (2020). Soal RUU Omnibus Law Indonesia: Kontroversi, Pro Kontra, Kapan Disahkan? https://news.detik.com. Diakses pada Tgl 30 Maret 2021.

78

L A M

P

I

R

A

N

Lampiran 1. Dokumentasi Wawancara

Gambar 7

Wawancara dengan Informan H (Sumber: Olahan Peneliti)

Gambar 8

Wawancara dengan Informan H (Sumber: Olahan Peneliti)

Gambar 9

Wawancara dengan Informan H (Sumber: Olahan Peneliti)

Gambar 10

Wawancara dengan Informan H (Sumber: Olahan Peneliti)

Gambar 11

Wawancara dengan Informan R (Sumber: Olahan Peneliti)

Gambar 12

Wawancara dengan Informan R (Sumber: Olahan Peneliti)

Gambar 13

Wawancara dengan Informan A (Sumber: Olahan Peneliti)

Gambar 14

Wawancara dengan Informan A (Sumber: Olahan Peneliti)

Lampiran 2. Persuratan Penelitian

Lampiran 3. Transkrip

TRANSKRIP PROGRAM TV MATA NAJWA EPISODE “MEREKA-REKA CIPTA KERJA”

(Rabu, 07 Oktober 2020 Pukul 20.00 WIB di Trans 7)

SEGMEN 1 (00:34)

Najwa Shihab : Selamat malam, selamat datang di Mata Najwa. Saya Najwa Shihab, tuan rumah Mata Najwa. Hiruk perdebatan dan aksi jalanan terjadi lagi karena omnibus law yang memantik polemik berapi. Proses penyusunan yang istimewa kecepatannya, menghidupkan curiga dari berbagai elemen warga. Apalagi fase-fase akhir menuju pengesahan dilakukan ketika pandemi masih gila-gilaan. Terjadilah sengkarut informasi tentang pasal- pasal transparansi yang dikeluhkan diam-diam dijegal. Walau tak mudah menjernihkan problem undang-undang Cipta kerja. Mari kita tetap mendiskusikannya secara terbuka. Inilah Mata Najwa, Mereka-Reka Cipta kerja.

Sumber: Mata Najwa (2:13)

Najwa Shihab : Perdebatan hingga aksi turun ke jalan mewarnai perdebatan soal Undang- Undang Cipta kerja yang disahkan dalam sidang paripurna DPR RI dua hari lalu. Publik mungkin bertanya-tanya,

ada apa dibalik proses kilat omnibus law ini dan apa dampaknya.

Malam ini, Mata Najwa akan membahasnya dan sudah bergabung lewat video call Ketua Badan Legislasi DPR Supratman Andi Agtas bergabung juga Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo Hariyadi Sukamdani. Selamat malam bapak, terima kasih sudah bergabung di Mata Najwa. Saya juga telah terhubung dengan Direktur Eksekutif Lokataru Haris Azhar, Ekonomi Faisal Basri dan Anggota Badan Legislasi DPR dari Fraksi PKS Ledia Hanifa, selamat malam.

Sumber: Mata Najwa

Selamat malam, terima kasih sudah bergabung di Mata Najwa.

Ada banyak hal yang ingin saya bahas malam ini dan memang sengaja mengundang 3 lawan 3. Karena saya tau, yang 3 tentunya Pro atau yang terlibat langsung dalam undang-undang ini dan yang 3 yang kerap kali menyuarakan penolakan nya. Saya ingin mulai membahas sebelum masuk substansi. Saya ingin membahas soal proses prosedur awal mula bagaimana kemudian undang-undang ini disorot publik. Saya ingin ke Bu Ledia, yang jelas

dinilai tidak terbuka, cepat, kilat, dadakan.n Anda kan mengalami dan mengamati dari dekat langsung terlibat langsung, apakah penilaian itu tepat?

(3:40)

Ledia Hanifa : Ada beberapa hal, yah betul terlalu cepat karena juga kalau menurut kami, ada beberapa hal yang masih kurang yaitu mengambil masukan masukan secara umum dari masyarakat secara umum, pakar dan semacamnya. Sudah dilakukan, tetapi masih kurang banyak karena itu sangat penting, krusial. Karena di masa resis lalu, kami tidak ikut pembahasan omnibus ini karena kami ingin mengambil banyak masukan dari masyarakat kemudian dalam hal ini konstituen kami. karena kan resis tujuannya untuk mengambil aspirasi secara umum. Ini persoalan yang sangat penting, kaena kemudian mengatur, mengelola 79 UU ini gak gampang Mbak Nana, karena banyak hal yang harus terkait satu sama lain, bersinergi dan lain sebagainya. Memang menjadi kesulitan yang besar buat kita semua, karena misalnya kita di dalam kita di dalam Rapat Pembahasan Tingkat I, pengambilan keputusan belum juga menerima draft bersihnya pada saat sebelum membuat pandangan fraksi. Jadi sebenarnya saya khawatir, hoax kemarin itu ada banyak sekali, lebih memang karena gak megang draftnya itu.

(4:54)

Najwa Shihab : Anda sampai sekarang belum juga memegang draftnya bu?

Bahkan anggota baleg belum dapat daftnya?

(5:05)

Ledia Hanifa : Saya sampai tadi siang sudah minta tapi belum dapat. Karena katanya masih dirapikan dalam hal-hal teknisnya, yang apa beberapa hal teknisnya belum.

(5:26)

Najwa Shihab : Tadinya saya pikir mungkin karena media belum dapat, kalau

bahkan anggota balegnya sendiri juga belum dapat maka itu perlu dijawab nanti. Tapi sebelum dijawab oleh ketua baleg, saya ingin ke Bang Haris Azhar. Bang Haris, anda ada menyebut undang-undang Cipta kerja kecurangan legislatif, kenapa anda sampai memakai kata itu, kecurangan legislatif?

(5:37)

Haris Azhar : yah, ini sebetulnya adalah fraud legislation process, jadi kecurangan proses legislasi. Kenapa sejak awal tidak memenuhi prinsip-prinsip, tata cara penyusunan peraturan perundang-undangan. Kita punya aturan- aturan hukum, aturan main soal itu.

Salah satunya soal harus berkonsultasi, naskah akademik harus ada, mengukur faktor sosiologi, mengukur nilai yang harus digali dan itu harus turun ke masyarakat dan itu harus ketemu dengan para ahli dan itu harus mengumbar harus royal, membagi-bagikan apa namanya naskahnya, idenya, mengambil dari masyarakat.

Yang terjadi adalah sampai beberapa bulan sejak mulai diluncurkan bahwa akan ada ide soal omnibus law, yang muncul adalah ketertutupan. Bahkan kami mendapat informasi dari dalam tim pemerintah itu jika mereka membagi-bagikan draft, itu justru mereka yang dikejar-kejar atau dapat mendapat hukuman dalam pemerintahan di bawah omnibus law ini . Jadi artinya, kalau sampai hari ini orang masih belum tahu draft yang mana yang harus dibaca, ya karena memang dari awal ini sudah cacat, sudah bermasalah. Itu menunjukkan bahwa pembahasan undang-undang Ini mengandung banyak kecurangan ketidakjujuran dan akhirnya menghasilkan sesuatu yang membahayakan buat bangsa ini kedepannya.

(7:35)

Najwa Shihab : Saya mau langsung lempar ketua baleg. Bang Supratman untuk menanggapi, bagaimana Bang Supratman silakan.

(7:38)

Supratman : Sama saya tidak ingin mencampuri urusan penyusunan undang-undang. Karena ini adalah inisiatif pemerintah di wilayah domainnya pemerintah untuk menjelaskan itu. Kami di badan legislatif di tingkat panja itu terkait dengan pembahasan. Oleh karena itu saya ingin menyampaikan terlebih dahulu apresiasi kepada Presiden Jokowi yang telah dengan berani mengambil sebuah metode atau yang kita kenal dengan omnibus law. Dalam rangka mengharmonisasi dan sinkronisasi terhadap keseluruhan regulasi kita yang memang di berbagai macam produk undang-undang di sektor-sektor KL itu, itu saling tumpang tindih dan ini adalah sebuah pengakuan yang jujur dari negara bahwa selama ini proses legislasi kita dari tahap perencanaan itu hanya kurang lebih kita berpikir sektoral. Oleh karena itu, momentum ini saya apresiasi maka saya mengajak kepada Presiden Jokowi untuk memulai bahkan saya sudah sampaikan Kemenkumham bersama dengan badan legislasi untuk kita menginisiasi omnibus-omnibus berikutnya karena ini adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan sengkarut perencanaan politik hukum nasional kita dalam perbankan sektor yang saya katakan.

(9:01)

Najwa Shihab : Anda kan merasa puas dan mengusulkan ada omnibus omnibus lainnya?

(9:09)

Supratman : Saya tidak berbicara substansi. Tapi saya patut memberi apresiasi ditahap itu.

(9:15)

Najwa Shihab: Bang Supratman, bagaimana dengan kritikan-kritikan yang tadi didengarkan bahkan menuduh bahkan ada tudingan bahwa ini kan ada kecurangan legislatif, prosesnya tidak terbuka, kilat bahkan sampai sekarang berasap yang sudah disahkan di sidang pun belum dipegang oleh anggota baleg sendiri?

(9:38)

Supratman : Mbak Nana, saya bersyukur malam ini karena yang dihadirkan itu Mbak Ledia. Kenapa, karena kalau anggota DPR yang lain yang tidak ikut serta dalam pembahasan itu justru akan fraud hasilnya, jadi mudah kami saling mengkonfirmasi. Jangan lupa saya sebagai ketua panja bahkan mempercayakan kepada Mbak Ledia bersama dengan Pak Andreas untuk secara dengan teliti betul karena saya tahu dia itu orangnya detail jangan sampai ada penyelundupan penyelundupan pasal ataupun penyelundupan orang bahkan di awal tim kecil yang dibentuk di tim perumus, kami bahkan saya meminta khusus kepada Mbak Ledia., Mbak Ledia bantu saya kritisi tolong catatan-catatan yang selama ini kita putuskan di tingkat panja jangan lewatkan.

(10:27)

Najwa Shihab : Mohon ditahan dulu Bang Supratman, supaya bisa langsung ditanggapi. Silahkan Mbak Ledia.

(10:29)

Ledia Hanifah: Terima kasih kepercayaan yang sudah diberikan sama ketua, karena memang pada dasarnya kita juga melakukan pengecekan cuma memang karena keterbatasan nggak memungkinkan dalam tim perumus untuk melakukan penyisiran apalagi ada banyak UU di dalam sana, bahkan menyebabkan memang masih ada kelolosan-kelolosan. Yang terjadi pada saat pembicaraan tingkat 1, saya mengawali pandangan fraksi mengawali bahwa lazimnya memang draft itu seharusnya sudah diberikan dulu. Meskipun diamanahkan kepada 2 orang nggak akan bisa selesai. Karena hal ini seharusnya dilakukan oleh banyak orang, karena mengandung banyak sektor UU itu sendiri. Karenanya memang menurut saya ini menjadi bagian pelajaran juga sih buat kita pak ketua karena problem teknis gini dikhawatirkan saya tidak membicarakan bahwa nanti ada yang hilang atau tidak. Tai bahkan untuk

melakukan sinergi satu dengan yang lain ya tersendiri menjadi kerumitan kita sendiri. Kemudian bicara apapun soal omnibus law juga itu menjadi pr besar.

(11:47)

Najwa Shihab : Kita lanjutkan sesudah pariwara setelah ini karena kemudian menjadi menarik. Karena tadi yang bahkan ditugaskan begitu untuk merumuskan saja mengatakan waktunya terlalu mepet untuk merumuskan dan untuk mengsinkronisasi berbagai pasal yang jumlahnya luar biasa banyak itu, bagaimana kita bisa tahu kualitasnya akan sesuai? Setelah priwara, tetap disini.

SEGMEN 2

Sumber: Mata Najwa (12:55)

Najwa Shihab : Ok, saya mau langsung ke Bang Haris Azhar, saya ingin minta tanggapan Anda karena, ketua Badan Legislasi atau baleg DPR Bang Supratman yang juga hadir bersama kita malam ini mengatakan proses pembahasan nya itu terbuka, transparan karena disiarkan langsung oleh TV Parlemen, bisa diakses lewat media sosial parlemen. Apakah itu indikator bahwa ini memang sudah terbuka dan transparan?

(13:17)

Haris Azhar : Yah itu indikator kesempitan berpikirnya mereka aja. Kita kan

bukan anggota parlemen dan sisi di parlemen itu bukan alat untuk menguji, pertanyaan saya nak akademisnya mana? konsultasi publik nya mana? konsultasi tematik yang sektoral yang terkait dengan profesi-profesi tertentu itu ke mana? itu yang nggak ada.

A orang minta dokumen nggak dikasih itu. Kalau dia hanya bicara soal kepentingan parlemennya atau partainya dia atau gengnya dia aja ya silahkan aja. UU ini gak berlaku untuk dirinya saja, ini berlaku buat 260 juta lebih orang yang ada.

(14:03)

Najwa Shihab : Bang supratman silakan.

(14:05)

Supratman : Satu.kalau Bang Haris ini kan memang semua nggak ada yang pernah benar. Jadi kita gak usah terlalu apakah yang kita lakukan pun yang benar pasti nggak akan pernah ada yang benar, itu satu.

Yang kedua, sabar dong, sabar dong, dengar dulu.Ini yang aku bilang, kalau Bang Haris ini asal benar aja sendiri. Tenang dulu, kita berbicara soal prosedurnya dulu, bukan berbicara soa substantif. Bukan aku membela diri, kalau kita berbicara soal substantif nda boleh kritik, kita bicara yang lain aku mau bicara soal prosedurnya. Satu. dulu DPR itu selalu dikritik selalu tertutup.

Mbak Nana boleh anda catat, boleh anda buka dokumentasi mulai parlemen ini berdiri, inilah pertama kalinya dalam sebuah rapat panja dari awal hingga akhir kami bukan. Tugas kami menyampaikan, menyediakan media untuk publik bisa akses, bukan saya menghubungi 1 orang 2 orang untuk mengakses itu kan itu nggak lojig cara berpikirnya, tuh satu. Yang kedua, terkait dengan konsultasi publik, Badan Legislasi kami melakukan itu, yang kedua seluruh fraksi di awal kami meminta karena ndak mungkin semuanya kita bisa lakukan di baleg. pasti saya selaku ketua meminta kepada fraksi-fraksi untuk untuk melakukan konsultasi publik. Silakan Anda cantumkan ke timnya yang benar

pasti akan kita masukkan, dan itu menjadi kesepakatan kita. Itu semua menjadi keterbukaan yang luar biasa yang kami lakukan belum pernah terjadi, entah itu mau diapresiasi oleh publik atau tidak. Ayo kita nilai secara objektif kita belum masuk substansi ya tapi dari sisi dari itu saya ingin dengar inilah pertama kalinya.

(16:32)

Najwa Shihab : 2 poin itu sudah saya tangkap, Bang Supratman. Saya ingin minta tanggapan Bang Haris. Berkaca dari 2 poin tadi, bagaimana Harris?

(16:35)

Haris Azhar : Begini, kita punya standar soal standar tanda bahwa tata cara penyusunan peraturan perundang-undang itu ada peraturannya.

Dia lari pake berlindung di balik wajahnya Jokowi memuji Jokowi mau ketemu yasonna laoly, semuanya mau di omnibus khan. Jelaskan prosedurnya. Bagaimana, anda yang baleg kita ini rakyat maka kita yang harus dilakukan kerjanya balik harusnya bagaimana. Jelaskan dulu prosedurnya bagaimana, sesuai perundang-undangan atau tidak.

(17:06)

Supratman : Dalam hal penyusunan itu bukan kerjanya baleg karena ini inisiatif pemerintah, kalau soal penyusunannya tanya ke pemerintah, jangan tanya proseduralnya kepada kami, itu satu.

Yang kedua, kalau anda ingin mempertanyakan soal apakah baleg sesuai prosedur perundang- undangan, saya pastikan sudah sesuai ke dalam mekanisme pembahasan.

(17:06)

Haris Azhar : Tadi anda memuji Jokowi, sekarang anda melimpahkan kepada pemerintah. Seharusnya anda jelaskan satu-satu, anda jangan langsung seperti itu.

(17:37)

Najwa Shihab : Bapak-bapak, Bang Supratman, Haris Azhar. Saya minta untuk tenang dulu saya tidak akan mematikan mic anda berdua, karena

anda berdua tetap berhak untuk ngomong, sama saya juga mengundang anda. Tetapi saya ingin minta sekarang kalau begitu tanggapan dari Mbak Ledia yang juga badan legislasi DPR tetapi yang justru menolak yang pada akhirnya menolak undang-undang ini silakan.

(18:09)

Ledia Hanifah : Mbak Nana kalau buat PKS, pertama ketika kita bicara terus bagaimana kita membahas soal UU ada menerima atau menolak itu sudah biasa. Pertama, ketika kita berbicara soal prosedur, seperti tadi kita berbicara. Kita merasa ini masih perlu lebih banyak lagi konsultasi-konsultasi dalam waktu dimana terjadi pandemi covid ini memang menjadi kesulitan, keterbatasan karena ada 79 UU. Maka harus diakui bahwa konsultasi publiknya juga minimal dilakukan setidaknya 79 kali, karena dalam satu isu itu sebetulnya harus lebih dari itu. Merasa tidak dilibatkan wajar kalau merasa suara suaranya tidak didengar.

(18:51)

Najwa Shihab : Jadi Mbak Ledia, memang mengakui konsultasi publik nya ini kurang dalam hal jadi Jadi wajar kalau kemudian publik merasa tidak dilibatkan, wajar kalau publik merasa suara suaranya tidak didengar itu Anda mengakui?

(19:01)

Ledia Hanifah : Iya betul, itu mungkin bisa terjadi. Karena ada banyak hal yang kekurangan waktu itu, tapi juga kita juga melihat bahwa pemerintah tidak terdengar melakukan konsultasi publik yang justru dalam penyusunan awalnya kan yang tadi disampaikan ketua baleg. Seharusnya melakukan konsultasi lebih banyak dan kami sebagai wakil rakyat itu melakukan bagian-bagian yang bisa kami lakukan. Hanya dengan keterbatasan itu jadi gak cukup.

(19:33)

Najwa Shihab : Kalau begitu saya mau lemarr kepada Kepala BKPM, Pak Bahlil

mewakili pemerintah malam ini di Mata Najwa. Konsultasi publik tidak dilakukan maksimal? Silahkan Pak Bahlil.

(19:42)

Bahlil Lahadalia : Baik Mbak Nana. Saya ingin menjelaskan dulu, saya pikir di sini hanya untuk asuransi tapi ternyata prosedur mekanisme pun ikut membantu Pak Supratman ini. Jadi gini Mbak Nana, kalau kita mau berbicara tentang sosialisasi mendengar masukan dari rakyat pada prinsipnya tim itu sudah melakukan bahwa dalam proses itu kemudian ada yang belum puas ia wajar aja kita memahami. Tetapi kita sudah melakukan apa yang dimaksudkan untuk melakukan konsultasi publik dan proses awal.. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah Apakah ada sebuah keharusan untuk harus kami memberikan kepuasan 263 juta penduduk rakyat Indonesia. Itu juga soal Mbak, yang kedua banana kita tahu semua ini kan

Bahlil Lahadalia : Baik Mbak Nana. Saya ingin menjelaskan dulu, saya pikir di sini hanya untuk asuransi tapi ternyata prosedur mekanisme pun ikut membantu Pak Supratman ini. Jadi gini Mbak Nana, kalau kita mau berbicara tentang sosialisasi mendengar masukan dari rakyat pada prinsipnya tim itu sudah melakukan bahwa dalam proses itu kemudian ada yang belum puas ia wajar aja kita memahami. Tetapi kita sudah melakukan apa yang dimaksudkan untuk melakukan konsultasi publik dan proses awal.. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah Apakah ada sebuah keharusan untuk harus kami memberikan kepuasan 263 juta penduduk rakyat Indonesia. Itu juga soal Mbak, yang kedua banana kita tahu semua ini kan

Dokumen terkait