• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

D. Manfaat Penelitian

Melalui penelitian ini akan memberikan manfaat kepada berbagai pihak baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu sebagai berikut:

1. Manfaat Praktis

Melalui penelitian ini, hasilnya dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi bagi pemerintah terkhusus dalam proses pelaksanaan alur dari tahapan agenda setting sebuah kebijakan.

2. Manfaat Teoritis

Berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan sebagai salah satu penunjang proses dari tahapan agenda setting sebuah kebijakan khususnya pada Kebijakan Omnibus law UU Cipta Kerja.

9 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu diuraikan dengan tujuan untuk dijadikan sebagai dasar pendukung dalam penelitian ini sekaligus sebagai bahan pembanding hasil penelitian berikutnya. Penelitian terdahulu dalam hal ini tentunya yang berkaitan dengan kebijakan omnibus law diantaranya sebagai berikut:

1. Penelitian dari Matompo & Izziyana (2020) pada hasilnya menunjukkan bahwa omnibus law menjadi undang-undang yang menitikberatkan pada penyederhanaan jumlah regulasi dengan fungsi untuk mengkonsolidasi berbagai tema, materi, subjek, dan peraturan perundang-undangan pada setiap sektor yang berbeda menjadi produk hukum besar dan holistik.

Pemerintah berupa penerapan omnibus law salah satunya untuk cipta lapangan kerja. Tetapi tidak diimbangi dengan substansi regulasi yang mampu menghindari konflik yang ada. RUU Cipta Kerja masih memiliki banyak kelemahan yang berpotensi membuat masalah baru di kalangan masyarakat seperti halnya pada perubahan ketentuan cuti, pemberian pesangon dan lainnya. Secara yuridis perubahan tersebut semakin mempersempit ruang gerak para buruh untuk memperjuangkan hak-haknya dan memberikan dominasi kaum pengusaha untuk melakukan eksploitasi terhadap buruh.

2. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Prabowo et al. (2020) diketahui bahwa Omnibus Law menjadi suatu terobosan dalam upaya penyederhanaan

peraturan yang ada di Indonesia. Keberadaan undang-undang omnibus law dapat menimbulkan aturan hukum yang baru dimana hal tersebut kemungkinan akan mengganti, menghilangkan, dan memodifikasi aturan hukum yang lama. Ada tiga arah pembentukan kebijakan tersebut diantaranya UU Cipta Kerja, UU Perpajakan, dan UU Pemberdayaan UMKM. Pembentukannya dalam hal ini haruslah sesuai dengan ketentuan pembentukan peraturan perundang-undangan dengan tetap memperhatikan faktor-faktor yang menjadi hambatan dalam pembentukannya seperti pro-kontra di kalangan DPR RI.

3. Penelitian oleh Mayasari (2020) dengan judul “Kebijakan Reformasi Regulasi Melalui Implementasi Omnibus law di Indonesia” yang hasilnya menyatakan bahwa omnibus law merupakan metode penyusunan payung hukum terkait regulasi yang dapat mencakup lebih dari satu materi substantif dengan tujuan menciptakan ketertiban, kepastian hukum, dan kemanfaatannya. Melalui omnibus law, akan terbentuk suatu peraturan yang bersifat khusus yakni terkait perizinan berusaha yang akan menyelesaikan panjangnya rantai birokrasi, peraturan yang tumpang tindih, dan sejumlah regulasi yang tidak harmonis. Omnibus law dapat dijadikan sebagai terobosan hukum pemerintah guna mengatasi obesitas regulasi khususnya berkaitan dengan perizinan berusaha dengan tujuan sebagai upaya pertumbuhan ekonomi melalui peningkatkan iklim berinvestasi di Indonesia.

4. Hasil penelitian yang berjudul “Asas Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan dalam Konsep Omnibus law Perspektif Pendekatan Sistem Jasse Auda” oleh Rafikoh (2021) diketahui bahwa omnibus law tidak akan memberikan gangguan pada hierarki peraturan perundang-undangan sebagaimana diatur dalam Pasal 7 UU No.12 Tahun 2011 jo. UU No. 15 Tahun 2019. Sejatinya bahwa omnibus law merupakan metode, dilahirkan dan merupakan produk hukum yang keberadaannya sudah ada sejak lama.

Omnibus law menjadi jawaban atas persoalan-persoalan komplek serta

tumpang tindihnya aturan atau regulasi yang ada di Indonesia. Walaupun dari segi teori perundang-undangan Indonesia perihal konsep omnibus law belum diatur, kemudian jika ditarik benang merahnya, bahwa keberadaan omnibus law tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan

yang sudah ada. Sepanjang omnibus law tersebut dibuat dengan jelas, kemudian taat akan hirarki aturan dan menjamin kepastian hukum.

5. Omnibus law menjadi suatu terobosan baru dalam rangka upaya menyederhanakan peraturan yang ada di Indonesia. Hal tersebut menurut penelitian (Hernawati & Suroso, 2020) yang lebih lanjut dikemukakan bahwa omnibus law yang dijelaskan oleh Presiden Jokowi memiliki jangkauan yang begitu luas sehingga diperlukan kajian lebih mendalam dan prosestrial. Terlebih lagi omnibus law akan menggugurkan sekitar 72-74 pasal yang dianggap bermasalah terkhusus di sektor lapangan kerja dan perpajakan. Diperlukan konsolidasi kepada masyarakat hingga asas kebermanfaatan dari produk hukum ini harus jelas dan sampai ke publik.

Berdasarkan beberapa uraian hasil penelitian terdahulu tersebut maka dapat disimpulkan bahwa omnibus law muncul dengan menuai kontradiksi dan pemaknaan yang salah dalam masyarakat dikarenakan sejumlah faktor seperti halnya pro-kontra di lingkup internal DPR RI dan kurangnya transparansi.

Tetapi omnibus law tetap hadir dan disahkan di tengah kondisi kehidupan masyarakat saat ini sebagai sebuah produk kebijakan dengan tujuan agar penyederhanaan regulasi yang sejauh ini masih saja tumpang tindih antar satu sama lain.

B. Agenda Setting

1. Pengertian Agenda Setting

Kebijakan publik merupakan strategi pemerintah dalam menyelesaikan suatu masalah yang ada dalam lingkungan masyarakat.

Menurut W.I. Jenkins (Wahab, 2016) kebijakan publik merupakan serangkaian keputusan yang diambil oleh seorang atau kelompok aktor politik dengan tujuan yang telah ditetapkan beserta dengan cara pencapaiannya dalam suatu situasi. Menurut Ramdhani & Ramdhani (2017) kebijakan publik merupakan suatu hal yang ditetapkan oleh para pihak (stakeholders) termasuk pemerintah dengan berorientasi pada pemenuhan kebutuhan serta kepentingan masyarakat.

Selain itu, Anggara (2018) berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kebijakan publik ialah suatu keputusan yang bersifat mengikat bagi banyak orang dalam tatanan strategis atau bersifat garis besar yang dibuat

oleh otoritas. Dalam kebijakan publik terdapat beberapa tahapan kebijakan publik salah satunya yaitu agenda setting (penyusunan agenda).

Berikut ini beberapa pendefinisian agenda setting (Ritonga, 2018) yaitu diantaranya:

a. Menurut Maxwell E. McCombs dan Donald L. Shaw

Diketahui bahwa agenda setting melalui media massa memiliki kemampuan dalam mentransfer hal agar lebih menonjol yang dimiliki sebuah berita dari news agenda kemudian menjadi public agenda. Media massa mampu membuat apa yang penting menurutnya,

menjadi penting pula bagi masyarakat.

b. Menurut Bernard C. Cohen

Agenda setting theory merupakan teori yang menyatakan

bahwa media massa merupakan pusat penentuan kebenaran melalui kemampuannya untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa.

c. Menurut Stephen W. Littlejohn dan Karen A. Foss

Mengemukakan bahwa agenda setting theory adalah teori yang menyatakan bahwa media membentuk gambaran atau isu yang penting dalam pikiran masyarakat. Hal tersebut dikarenakan media harus selektif dalam melaporkan berita. Saluran berita sebagai gerbang informasi membuat pilihan tentang apa yang harus dilaporkan dan

bagaimana cara melaporkannya hingga masyarakat tahu akan informasi yang sampaikan atau diberitakan.

Teori agenda setting diajukan oleh Mccombs dan Donald Shaw berdasarkan tulisan Agustina & Irwansyah (2017) bahwa isu yang dianggap penting di media massa pastinya dianggap penting pula oleh publik. Melalui teori tersebut masyarakat akan tahu tentang isu-isu apa saja dan bagaimana isu-isu itu disusun sesuai dengan tingkat kepentingannya. Lebih lanjut disampaikan bahwa agenda setting melukiskan kekuasaan, pengaruh dari media yang memberikan efek atau dampak kuat dalam mempengaruhi opini masyarakat terhadap suatu peristiwa.

Lebih lanjut menurut McComb dan Shaw (Prawoto Jati & Santi Rahayu, 2020) bahwa khalayak tidak hanya belajar bagaimana peristiwa besar terjadi dan diberitakan oleh suatu media, tetapi juga belajar betapa pentingnya suatu isu atau tema dari cara media menekankan isu yang ada.

Komunikasi massa, media berkomunikasi melalui pemberitaan yang dalam hal ini pemberitaan memiliki dua peran yaitu public setting dan policy agenda. Pertama, pemberitaan yang berulang dalam kurun waktu tertentu

dapat mempengaruhi tingkat kepentingan suatu isu publik. Kedua, pemberitaan media memiliki kemampuan untuk mendeskripsikan suatu masalah dengan cara yang berbeda, yang selanjutnya akan mempengaruhi cara berpikir publik dan pembuat kebijakan tentang suatu masalah.

2. Aliran-Aliran dalam Agenda Setting

Agenda merupakan pola dari tindakan pemerintah yang berisfa spesifik.

Diartikan sebagai suatu analisis mengenai bagaimana masalah itu dapat dikembangkan, kemudian didefinisikan, lebih lanjut diformulasikaan, dan terakhir dibuat pemecahnnya. Apabila dalam penyusunan agenda itu dilakukan secara terbuka maka akan memberikan keuntungan bagi kelompok-kelompok yang kuat. Akan tetapi apabila dilakukan secara tertutup akan menimbulkan bias atau kelemahan-kelemahan di mata publik.

Agenda setting di dalamnya terdapat isu-isu kebijakan sebagai hasil dari

adanya silang pendapat diantara para aktor tentang arah dari suatu tindakan yang kemudian akan ditempuh oleh pemerintah. Isu kebijakan itu ada dikarenakan telah terjadi konflik atau diketahui terdapat perbedaan presepsional diantara baik itu para aktor atau pun suatu situasi problematik yang dihadapi oleh masyarakat di waktu-waktu tertentu.

Pandangan John W. Kiingdon (Indah, 2016) terdapat tiga aliran dalam tahapan agenda setting yaitu sebagai berikut:

a. Aliran masalah (problem stream)

Pembuat kebijakan haruslah mencari, menemukan dan juga menentukan identitas dari suatu masalah kebijakan secara tepat dan benar. Pengenalan pada masalah-masalah nantinya akan menjadi faktor yang sangat berperan penting khususnya di dalam proses kebijakan publik. Mengenali serta mengidentifikasi masalah publik akan menjadi faktor krusial dalam tahapan dan proses kebijakan publik. Sebuah isu

akan menjadi embrio awal bagi munculnya masalah-masalah publik dan bila masalah tersebut mendapatkan perhatian yang lebih, maka akan dapat masuk ke dalam agenda kebijakan.

b. Aliran kebijakan (policy steram)

Setelah mendefinisikan masalah-masalah tersebut, langkah selanjutnya ialah para aktor penyususn kebijakan publik haruslah membuat solusi dalam pemecahan masalah tersebut. Kriteria yang harus digunakan meliputi kelayakan teknis, kongruensi dengan nilai-nilai aggota masyarakat, dan mengantisipasi kendala masa depan diantaranya kendala anggaran, penerimaan oleh publik, serta penerimaan politisi.

Proposal yang dinilai layak yaitu sesuai dengan nilai-nilai komunikasi kebijakan dan tidak akan menelan biaya melebihi anggaran.

c. Aliran politik (political stream)

Suatu isu akan menjadi agenda kebijakan karena ada dan dipengaruhi oleh proses politik dimana terjadi distribusi kekuasaan.

Dalam aliran politik terdapat orang yang berkelakuan dan bertindak politik yang diorganisasikan secara politik oleh sekelompok kepentingan. Berusaha untuk mempengaruhi para pembuat kebijakan dalam menyusun dan melaksanakan kebijakan yang bias mengangkat kepentingannya dan mengesampingkan kepentingan kelompok lain.

Aliran politik dalam hal ini mempengaruhi terbentuknya agenda seperti halnya terdiri atas situasi daerah, opini dan iklim publik, kekuatan

organisasi politik, perubahan proses kebijakan dan wilayah kewenangan serta upaya pembentukan konsensi.

Kimber, Salesbury, Sandbach, Hogwooddan Gunn dalam sejumlah literature (Indah, 2016) menyatakan bahwa suatu isu nantinya akan cenderung

untuk memperoleh respon dari pembuat kebijakan guna lebih lanjut dijadikan agenda kebijakan publik apabila memenuhi sejumlah kriteria, diantaranya:

a. isu telah mencapai titik kritis tertentu sehingga bisa lagi diabaikan, atau telah dipersepsikan sebagai suatu ancaman yang serius dan akan jauh lebih hebat di masa yang akan datang;

b. isu tersebut telah menjadi partikularitas tertentu yang bisa menimbulkan efek serta dampak yang bersifat dramatik;

c. isu tersebut menyangkut akan emosi tertentu yang dilihat dari sudut kepentingan orang banyak, bahkan umat manusia umumnya dan mendapatkan dorongan berupa liputan media massa yang luas;

d. isu tersebut mempermasalahkan akan kekuasaan serta keabsahan (legitimasi) dalam kehidupan masyarakat;

e. isu tersebut menyangkut suatu perihal yang fasionable, memiliki posisi yang sulit saat dijelaskan tapi mudah untuk dirasakan kehadirannya.

Adapun pendapat John (Anggara, 2018) bahwa tidak semua dari masalah itu bisa dijadikan sebagai masalah publik, tidak semua pula masalah publik bisa menjadi isu, tidak semua isu bisa tampil dan tergolong masuk dalam agenda pemerintahan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa masalah publik akan mudah menjadi kebijakan publik, ketika:

a. dukungan dan sikap terhadap masalah publik dapat dikumpulkan;

b. masalah atau isu tersebut dianggap penting;

c. masalah publik (issue) itu dapat untuk dipecahkan.

Adapun menurut Walker dalam tulisan yang sama bahwa suatu masalah dapat tampil dan dijadikan sebagai masalah publik, apabila:

b. memberikan dampak yang besar dan meluas kepada masyarakat;

c. terdapat bukti yang meyakinkan sehingga lembaga legislatif memberikan perhatian terhadap masalah tersebut sebagai masalah yang serius;

d. adanya pemecahan masalah yang mudah untuk dipahami terhadap masalah yang sementara diperhatikan.

3. Penyusunan Agenda Kebijakan

Pandangan Anggara (2018) agenda setting (penyusunan agenda) dalam kebijakan publik merupakan langkah pertama dalam memformulasikan ialah terlebih dahulu merumuskan masalah kebijakan. Agenda setting merupakan kegiatan membuat sebuah masalah menjadi masalah kebijakan. Lebih lanjut bahwa tahapan proses dalam penyusunan agenda kebijakan menurut Anderson yaitu sebagai berikut:

a. Privat problem yaitu masalah-masalah yang terbatas atau hanya melibatkan satu atau sejumlah kecil orang.

b. Public problem yaitu masalah yang berkembang dari masalah privat kemudian melibatkan khalayak ramai.

c. Issue atau masalah publik yaitu masalah yang menimbulkan akibat secara luas, termasuk berdampak pada orang atau pihak-pihak yang tidak terlibat secara langsung.

d. Systemic agenda yaitu isu yang dirasakan oleh para anggota masyarakat politik yang patut mendapatkan perhatian publik dan berada dalam yurisdiksi kewenangan pemerintah.

e. Institusional agenda yaitu serangkaian masalah yang secara tegas memerlukan pertimbangan yang serius dan aktif dari otoritas pembuat keputusan yang sah.

Menurut Darwin (Anggara, 2018), agenda adalah suatu kesepakatan umum yang belum tentu tertulis tentang adanya masalah publik yang perlu menjadi perhatian secara bersama serta menuntut adanya campur tangan dari pemerintah guna menyelesaikannya. Sedang agenda pemerintah merupakan sejumlah daftar masalah dari pejabat publik, yang kemudian memberikan perhatian serius di waktu tertentu. Menurut Cobb dan Elder (Anggara, 2018) bahwa agenda pemerintah dibedakan atas dua macam yaitu sebagai berikut:

a. Agenda Sistemis

Semua isu yang dirasakan oleh anggota masyarakat politik yang tentunya patut untuk mendapatkan perhatian dari publik dan berada dalam yurisdiksi kewenangan pemerintah.

b. Agenda institusional

Serangkaian masalah yang secara tegas memerlukan pertimbangan lebih aktif dan serius dari para pembuat keputusan yang sah atau otoritas.

Pandangan Everett Rogers dan James Dearing (Elfrida, 2016) agenda setting merupakan proses liner yang terdiri dari tiga tahapan diantaranya:

a. Media Agenda yaitu penentuan prioritas isu-isu yang dimuat dan ditayangkan oleh media massa. Aspek-aspek dalam pembentukan media agenda diantaranya; visibility (vasibilitas), audience salience

(penonjolan) dan valance (valensi).

b. Public Agenda yaitu hasil dari agenda media yang kemudian telah memengaruhi atau berinteraksi dengan apa yang menjadi pikiran publik.

Adapun asek-aspek yang mempengaruhi dalam pembentukan pubic agenda diantaranya; familiarity (keakraban), personal salience

(penonjolan pribadi) dan favorability (kesenangan).

c. Policy Agenda yaitu hasil dari agenda publik yang berinteraksi sedemikian rupa dengan apa yang dinilai penting oleh para pengambil kebijakan khususnya pemerintah. Aspek-aspek yang mempengaruhi diantaranya; support (dukungan), likelihood of action (kemungkinan kegiatan) dan freedom of action (kebebasan bertindak).

C. Framing

1. Pengertian Framing

Pandangan beberapa ahli dalam Bechtel et al. (2021) bahwa teori framing berawal pada tahun 1974 ketika Goffman menggambarkannya

sebagai cara mengatur informasi untuk menentukan makna dan mengkontekstualisasikan dunia. Selanjutnya definisi framing terus berkembang, bergerak dari menjelaskan makna, menjadi mendeskripsikan bagaimana media dapat menghasilkan pesan yang berpengaruh hal tersebut berdasarkan pandangan dari Gitlin. Gitlin lebih jauh menyatakan bahwa media menyebarkan ideologi; membuat dan mendistribusikannya melalui framing untuk khalayak.

Menurut Eriyanto (Novita Ika, 2021) framing merupakan suatu cara bagaimana peristiwa yang ada kemudian disajikan oleh media, baik itu dari sisi yang menonjolkan aspek tertentu, menekankan pada bagian tertentu, maupun caranya dalam bercerita mengenai realitas atau peristiwa tersebut dibentuk. Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa analisis framing menurut Robert M Entman (Novita Ika, 2021) terdiri atas empat elemen penting diantaranya sebagai berikut:

a. Definite problems yaitu tahapan pendefinisian masalah.

b. Diagnose causes yaitu tahapan mencari tahu dan memperkirakan masalah atau sumber masalah.

c. Make moral judgement yaitu tahapan membuat keputusan moral.

d. Treatment recommendation yaitu tahapan dalam memberikan penekanan akan solusi penyelesaian terkait suatu peristiwa.

Entman (Hartono, D. 2019) mengatakan bahwa framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita.

Berdasarkan konsep framing Entman diketahui pula bahwa framing pada dasarnya merujuk pada pemberian definisi, penjelasan, mengevaluasi, dan merekomendasikan dalam suatu wacana guna memberikan penekanan kerangka berpikir akan peristiwa yang diwacanakan.

Framing menurut Cacciatore (Bullock & Shulman, 2021) mengacu

pada penyajian informasi yang dilakukan secara strategis sedemikian rupa oleh media massa sehingga menarik perhatian masyarakat terhadap aspek informasi yang diberitakan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa terdapat dua strategi framing yaitu emphasis frames dan equivalency frames. Emphasis frames mengacu pada perbedaan dalam informasi apa yang disajikan,

sedangkan equivalency frames berfokus pada perbedaan bagaimana informasi itu disajikan.

2. Mekanisme Efek Framing

Gambar 1 Ilustrasi Teori Framing (Sumber: Bullock & Shulman, 2021)

Berdasarkan gambar 1 diketahui bahwa mekanisme dari penggunaan analisis framing diantaranya:

a. Availability (Ketersediaan)

Accessible

Available Applicable

Framed Message Message-consistent

Attitude

Mekanisme pertama dalam teori framing mengusulkan bahwa agar efek framing terjadi, seseorang harus memiliki keyakinan tentang subjek, topik, atau objek yang tersedia.

b. Accessibility (Aksesibilitas)

Setelah adanya ketersediaan topik, mekanisme selanjutnya ialah dapat diakses. Aksesibilitas diteorikan dapat meningkat melalui frekuensi dan kemutakhiran penggunaan, yang berarti bahwa paparan rutin dan berulang-ulang terhadap suatu keyakinan tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi suatu masalah.

c. Applicability (Penerapan)

Setelah ketersediaan dan aksesibilitas, mekanisme terakhir dalam teori framing adalah penerapan. Teori framing menurut Chong &

Druckman (Bullock & Shulman, 2021), di antara sekumpulan keyakinan dapat diakses yang ditargetkan dengan pesan berbingkai, hanya beberapa yang dinilai relevan, atau dapat diterapkan, untuk evaluasi yang ada.

Teori pembingkaian menyarankan bahwa individu menentukan informasi apa yang dapat diterapkan melalui proses musyawarah untuk menimbang keyakinan yang bersaing dan memutuskan mana yang paling sesuai dengan konteks saat ini. Beberapa faktor yang meningkatkan kemungkinan informasi dianggap berlaku dan menarik ialah dengan memuat kualitas atau logika argumentasi, kredibilitas sumber, dan relevansi pesan.

D. Omnibus law

1. Pengertian Omnibus law

Omnibus law juga dikenal dengan omnibus bill sering digunakan di

negara yang menerapkan sistem common law dalam pembuatan regulasinya seperti Negara Amerika. Konsep ini membuat regulasi dengan pembentukan satu undang-undang baru untuk mengamandemen beberapa undang-undang sekaligus. Menurut Darmawan (2020) omnibus law merupakan upaya pemerintah guna peningkatan investasi di Indonesia dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Menurut Suriadinata (2019) omnibus law atau omnibus bill merupakan satu undang-undang yang dibuat

untuk bisa mengubah banyak undang-undang.

Menurut Rachma et al., (2020) dalam Black’s Law Dictionary Eleventh Edition, omnibus law dapat dimaknai sebagai suatu penyelesaian

terhadap berbagai pengaturan dari sebuah kebijakan tertentu yang kemudian tercantum dalam berbagai kumpulan undang-undang, ke dalam satu undang-undang payung. Memiliki makna multidimensional, membukukan hukum sehingga secara logika, omnibus merupakan suatu draf peraturan hukum yang membawahi beberapa substansi dalam kerangka landasan sektoral berbeda.

Berdasarkan beberapa pandangan tersebut dapat diketahui bahwa omnibus law merupakan sebuah langkah yang dilakukan oleh pemerintah

dalam menyikapi adanya aturan yang berbelit atau pemborosan undang yang kemudian disederhanakan dan disatukan dalam satu

undang-undang yang bersifat multisektoral atau dalam hal ini memayungi beberapa undang-undang penting diantaranya UU Cipta Kerja, UU Perpajakan, dan UU Pemberdayaan UMKM. Selain dengan tujuan tersebut keberadaan omnibus law juga diharapkan dapat memberikan peluang perizinan

berusaha yang lebih terbuka sehingga memberikan dampak yang baik bagi perekonomian Indonesia

2. Karakteristik Omnibus law

Karakteristik umum dari omnibus law menurut pandangan Suriadinata (2019) dibagi menjadi dua yaitu:

a. Akselerasi Proses Legislasi

Penerapan omnibus law di dalamnya harus terdapat karakteristik akselerasi proses legislasi. Hal tersebut dikarenakan pada prinsipnya omnibus law ini dipilih guna mewujudkan efisiensi dan efektivitas

dalam proses legislasi. Proses legislasi tak jarang dari awal hingga diundangkan membutuhkan waktu yang berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Keberadaan omnibus law dapat mempersingkat alur legislasi sehingga sebuah UU akan lebih cepat untuk selesai.

b. Kompleksitas Permasalahan

Banyak atau beragamnya permasalahan yang diatur dalam satu UU hal itu disebut kompleksitas permasalahan. Berarti jika dalam suatu UU hanya mengatur satu jenis permasalahan saja dan meskipun di dalamnya terdapat akselerasi proses legislasi maka UU tersebut tidak bisa dinamakan sebagai omnibus law, begitu pun sebaliknya.

Dijelaskan pula terdapat dua karakteristik khusus dari omnibus law diantaranya sebagai berikut:

a. Berbentuk Kodifikasi

Kodifikasi adalah suatu bentuk hukum yang yang dibuat secara tertulis, yang mana pembuatnya atau legislatif memberikan suatu bentuk yurisdiksi khusus yang berisikan rumusan asas-asas dan dibuat secara tertulis sebagai suatu standar operasi berlakunya ketentuan dalam kodifikasi. Keberadaan kodifikasi bertujuan untuk mencapai kepastian hukum dan memperoleh penyederhanaan hukum serta kesatuan hukum.

Hal tersebut sejalan dengan prinsip dari omnibus law yang lebih mengedepankan faktor efisiensi dan efektivitas.

b. Gaya atau Motif Politik

b. Gaya atau Motif Politik

Dokumen terkait