SEMESTER I SDN 004 LOA JANAN
HASIL PENELITIAN Hasil Siklus I
Pada Siklus I dimulai dengan tahapan perencanaan adapun yang dilaksanakan dalam pertemuan 1 adalah peneliti membuat rencana persiapan pembelajaran, media pembelajaran,lembar kerja siswa dan lembar pengamatan siswa yang sesuai dengan materi pembelajaran untuk pertemuan pertama, materi yang disajikan adalah pokok bahasan sumber daya alam.
Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA dengan menerapkan Model pembelajaran model pembelajaran kooperatif example non example , hasil observasi untuk guru dan siswa, nilai tes siklus I adalah sebagai berikut :
Tabel. 1. Nilai Tes Siswa Siklus I
No Nama Siswa KKM Nilai Keterangan Tuntas Tidak Tuntas
1 Anita 65 75 Tuntas
2 Media H. 65 80 Tuntas
3 Keti Susini 65 70 Tuntas
4 Agus F 65 60 Tidak Tuntas
5 Hasrafuddin 65 65 Tuntas
6 Dinda T. 65 73 Tuntas
7 Faisal H 65 65 Tuntas
8 Rakha C. 65 85 Tuntas
9 Della Citra 65 80 Tuntas
10 M. Ainur 65 75 Tuntas
11 Euniske 65 65 Tuntas
12 Yohanes 65 65 Tuntas
13 Silvitri 65 80 Tuntas
14 Andrian D 65 55 Tidak Tuntas
15 Novia R. 65 65 Tuntas
16 Triliani 65 75 Tuntas
17 Rahayu 65 78 Tuntas
18 Sela Sintia 65 77 Tuntas
19 Aldi 65 75 Tuntas
20 Muzsalifah 65 65 Tuntas
21 Siska Putri 65 60 Tidak Tuntas
Jumlah 1488 18 3
Rata-rata 70.86
Prosentase Ketuntasan (%) 85.71 14.29
Nilai Tertinggi 85
Nilai Terendah 55
101 BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
Setelah dilaksanakan Tindakan Kelas pada siklus 1 selesai maka dapat diketahui adanya kenaikan hasil belajar siswa dari perolehan nilai sebelumnya (pra siklus). Dari hasi nilai evaluasi pada Pra Siklus, masih banyak siswa yang nilainya belum mencapai Keriteria Ketuntasan Minimal (KKM), KKM yang ditargetkan adalah 65. Dari 21 orang siswa terdapat 9 orang siswa yang nilainya belum mencapai KKM, jika dipersentasikan jumlah siswa yang nilainya mencapai KKM adalah 42, 86%. Setelah diadakan pada Tindakan Kelas pada siklus 1, ternyata ada peningkatan yaitu menjadi 3 orang siswa yang nilainya belum mencapai KKM. Jika dipersentasekan jumlah siswa yang mencapai KKM adalah 85%. Maka kenaikan persentase dari nilai evaluasi pra siklus ke siklus 1 yaitu 28,57%. Ini membuktikan ada peningkatan nilai siswa antar Pra Siklus dan Siklus1. Adapun hasil perolehan nilai hasil evaluasi pada pembelajaran Pra Siklus, dan Siklus 1 adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Perolehan Nilai Evaluasi Pra Siklus dan Siklus 1
No Nama Siswa Nilai
Pra siklus Siklus I
1 Anita 70 75
2 Media H. 75 80
3 Keti Susini 65 70
4 Agus F 55 60
5 Hasrafuddin 60 65
6 Dinda T. 68 73
7 Faisal H 60 65
8 Rakha C. 80 85
9 Della Citra 75 80
10 M. Ainur 70 75
11 Euniske 60 65
12 Yohanes 60 65
13 Silvitri 75 80
14 Andrian D 50 55
15 Novia R. 60 65
16 Triliani 70 75
17 Rahayu 73 78
18 Sela Sintia 72 77
19 Aldi 70 75
20 Muzsalifah 60 65
21 Siska Putri 55 60
Jumlah 1383 1488
Rata-rata 65.86 70.86
Prosentase Ketuntasan (%) 57.14 85.71
Nilai Tertinggi 75 85
Nilai Terendah 55 55
102
BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
Berdasarkan kumpulan data yang diperoleh dari kolaborasi dengan teman sejawat serta hasil observasi, tugas dan tes yang ada pada peneliti, ternyata presentase nilai hasil belajar siswa sudah memenuhi standar hasil belajar minimal yang ditetapkan oleh SDN 019 Loa Janan yaitu dilihat dari nilai siswa yang mencapai 65 atau lebih presentase siswa sudah mencapai 85 %seperti yang terlihat pada tabel 2. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan yang hendak dicapai sehubungan dengan pelaksanaan tindakan ini sudah tercapai tetapi masih ada 3 siswa yang belum tuntas maka peneliti sebagai pemantapkan merencanakan untuk melanjutkan ke siklus II.
Menurut pengamatan peneliti kegagalan 3 orang siswa tampak dengan jelas dalam memanfaatkan waktu. Siswa belum mampu memanfaatkan waktu sesuai dengan yang dialokasikan untuk setiap tahapan.Bila dicermati, penyebab dari kegagalan siswa dalam mengerjakan tugas saat proses pembelajaran bersumber dari hal-hal berikut:
Dari hasil evaluasi akhir siklus I dapat disimpulkan bahwa tidak tercapainya ketuntasan belajar secara klasikal disebabkan oleh beberapa hambatan ,berikut ini:
1. Pengalokasian waktunya kurang tepat.
2. Sebagian siswa tidak memahami langkah model pembelajaran yang disampaikan terutama membedakan gambar example dan non example.
3. Sebagian siswa belum berani bertanya secara langsung kepada guru khususnya siswa yang kemampuanya kurang. Siswa yang bertanya kebanyakan hanya siswa yang selama ini kemampuanya diatas rata-rata sedangkan siswa yang kurang kemampuanya , hanya bertanya kepada teman-temanya.
Berdasarkan permasalahan dan kegagalan di atas, maka peneliti mencarikan solusinya yaitu dengan memberikan arahan kembali kepada siswa tentang langkah-langkah model pembelajaran, sehingga kegiatan pada siklus berikutnya dapat berjalan dengan lancar seperti yang diharapkan.
Hasil Siklus II
Pelaksanaan kegiatan siklus II peneliti berusaha menyempurnakan cara mengajar dengan model pembelajaran kooperatif example non example berdasarkan hasil refleksi siklus satu, maka tindakan tambahan yang direncanakan pada siklus dua ini adalah: memberikan arahan kembali tentang langkah-langkah model pembelajaran kepada siswa, memberikan perhatian khusus kepada siswa yang belum tuntas dan diinformasikan topik pelajaran yang akan pertemuan berikutnya dengan tujuan agar siswa lebih siap lagi melakukan kegiatan pembelajaran.
Berkaitan dengan masalah penelitian ini sudah dirumuskan rencana tindakan yang akan dilaksanakan untuk memecahkan masalah dalam penelitian.
Rencana tindakan disusun berdasarkan hasil refleksi pada siklus I.
Tabel 3. Nilai Tes Siswa Siklus II
No Nama Siswa KKM Nilai Keterangan
Tuntas Tidak Tuntas
1 Anita 65 80 Tuntas
2 Media H. 65 85 Tuntas
3 Keti Susini 65 75 Tuntas
103 BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
4 Agus F 65 65 Tuntas
5 Hasrafuddin 65 70 Tuntas
6 Dinda T. 65 78 Tuntas
7 Faisal H 65 70 Tuntas
8 Rakha C. 65 90 Tuntas
9 Della Citra 65 85 Tuntas
10 M. Ainur 65 80 Tuntas
11 Euniske 65 70 Tuntas
12 Yohanes 65 70 Tuntas
13 Silvitri 65 85 Tuntas
14 Andrian D 65 60 Tidak Tuntas
15 Novia R. 65 70 Tuntas
16 Triliani 65 80 Tuntas
17 Rahayu 65 83 Tuntas
18 Sela Sintia 65 82 Tuntas
19 Aldi 65 80 Tuntas
20 Muzsalifah 65 70 Tuntas
21 Siska Putri 65 65 Tuntas
Jumlah 1593 20 1
Rata-rata 75.86
Prosentase Ketuntasan (%) 95.24 4.76
Nilai Tertinggi 90
Nilai Terendah 60
Berdasarkan tabel 3 perolehan nilai tes akhir siswa diperoleh nilai siwa yang tuntas dalam pembelajaran sebesar 95,24 % siswa atau 20 siswa tuntas dalam pembelajaran IPA hal ini menunjukan keberhasilan tindakan Tindakan Kelas yang dilakukan dan nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 75,86. Setelah memperbaiki kegiatan pembelajaran yang ada di siklus1maka pelaksanaan pada siklus2 sudah membuat rancangan yang lebih baik sehingga mengalami kemajuan dan peningkatan. Hal ini terbukti dengan perbandingan nilai evaluasi pada siklus 1 dan siklus 2.Adapun perolehan nilai evaluasi pada siklus 1 yang dibandingkan dengan perolehan nilai evaluasi siklus 2, dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4. Perolehan Nilai Evaluasi Siklus 1 dan Siklus 2
No Nama Siswa Nilai
Siklus I Siklus II
1 Anita 75 80
2 Media H. 80 85
3 Keti Susini 70 75
4 Agus F 60 65
5 Hasrafuddin 65 70
6 Dinda T. 73 78
7 Faisal H 65 70
8 Rakha C. 85 90
104
BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
9 Della Citra 80 85
10 M. Ainur 75 80
11 Euniske 65 70
12 Yohanes 65 70
13 Silvitri 80 85
14 Andrian D 55 60
15 Novia R. 65 70
16 Triliani 75 80
17 Rahayu 78 83
18 Sela Sintia 77 82
19 Aldi 75 80
20 Muzsalifah 65 70
21 Siska Putri 60 65
Jumlah 1488 1593
Rata-rata 70.86 75.86
Prosentase Ketuntasan (%) 85.71 95.24
Nilai Tertinggi 85 90
Nilai Terendah 55 60
Dari hasil perolehan siklus 1, ada 3 orang siswa yang belum mencapai KKM dari jumlah 21 siswa, atau 14,29 %. Sedangkan siswa yang telah mencapai KKM sebanyak 19 siswa, atau 4,76 %. Setelah diadakan tindakan Tindakan Kelas pada siklus 2, ternyata ada peningkatan nilai evaluasi siswa hanya 1 orang siswa yang belum mencapai KKM atau (4,76 %) dari jumlah 21 siswa. Sedangkan siswa yang telah mencapai KKM sebanyak 20 siswa atau (95,24 %). Persentase kenaikan dari nilai evaluasi siklus 1 ke siklus 2 yaitu 9%.
Untuk mengetahui peningkatan secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel perbandingan hasil keselurahan.Adapun perbandingan perolehan nilai evaluasi mulai dari pra siklus, siklus 1, siklus 2 dapat dilihat dari tabel di bawah ini.
Tabel 5. Rekafitulasi Perolehan Nilai Evaluasi pada Pra Siklus, Siklus 1 dan 2
No Nama Siswa Nilai
Pra Siklus Siklus I Siklus II
1 Anita 70 75 80
2 Media H. 75 80 85
3 Keti Susini 65 70 75
4 Agus F 55 60 65
5 Hasrafuddin 60 65 70
6 Dinda T. 68 73 78
7 Faisal H 60 65 70
8 Rakha C. 80 85 90
9 Della Citra 75 80 85
10 M. Ainur 70 75 80
105 BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
11 Euniske 60 65 70
Prosentase Ketuntasan (%) 57.14 85.71 95.24
Nilai Tertinggi 75 85 85
Nilai Terendah 55 55 55
Perincian tentang peningkatan hasil belajar tiap siklus ditampilan dalam grafik batang untuk memperlihatkan perbedaan tingkat nilai dari beberapa siklus dari hasil hitungan suatu data hasil belajar siswa. Adapun garafik peningkatan dapat dilihat pada grafik sebagai berikut:
Grafik 2. Grafik Perolehan Nilai Evaluasi pada Pra Siklus, Siklus 1, Siklus 2
Grafik 3. Grafik Persentase Pencapaian KKM Pra Siklus, Siklus 1, Siklus 2
0
106
BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
PEMBAHASAN
Penggunaan pembelajarandengan model kooperatif example non example,mempermudahkan siswa untuk mengingatmateri-materi yang bersangkutan dalam penyelesaian masalah. Karena siswadiberi kebebasan untuk menuangkan kreativitasnya pada saat merangkum danmenyelesaikan masalah.
Hal ini sesuai dengan pendapat Hamzah, (2005:113) yangmenyatakan bahwa model pembelajarankooperatif example non example dengan memusatkan perhatian siswa terhadap example dan non-example diharapkan akan dapat mendorong siswa untuk menuju pemahaman yang lebih dalam mengenai materi yang ada, dapat meningkatkandaya ingat siswa. Pemberian soal setiap pertemuannya juga membantu siswa untukterbiasa menyelesaikan masalah.
Meskipun pada awalnya mereka mengeluhkansoal yang diberikan tetapi karena menjadi kebiasaan, mereka pun senangmengerjakannya.Pembelajaran IPA dengan model pembelajarankooperatif example non example dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pembelajaran kemudian memberikanapersepsi dengan melakukan tanya jawab dengan siswa. guru mengingatkan siswapada materi sebelumnya dan menghubungkan antara pengetahuan yang telahdimiliki siswa sebelumnya dengan materi yang akan di pelajari. Kegiatan inibertujuan agar siswa lebih siap menghadapi pelajaran dan pelajaran lebihbermakna bagi siswa.
Hasil pelaksanaan pada siklus I, dan II dapat dinyatakan bahwa pembelajaran IPA pokok bahasan Sumber daya alam dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif example non examplesiswa kelas IV SDN 019 Loa Janan tahun pembelajaran 2015/2016, baik hasil belajar afektif maupun kognitif mengalami peningkatan.
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian pada hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran tipe pembelajaran modelkooperatif example non exampledapat meningkatkan hasil belajar IPA kelas IV SDN 019 Loa Janan. Hal tersebut tampak pada peningkatan hasil belajar siswa pada setiap siklus. yaitu dari pra siklus dengan rata-rata 65,9 meningkat menjadi 70,9 pada siklus I kemudian pada siklus II nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 75,9 begitupun persentase ketuntasan belajar meningkat dari pra siklus yang hanya 57,1 % menjadi 88,7 % pada siklus I, kemudian siklus II menjadi 95,2
% siswa.
SARAN
1. Kepala sekolah diharapkan memberikan dukungan sepenuhnya kepada guru yang menerapkan tipe pembelajaran kooperatifexample non example, karna model kooperatifexample nonexampledapat meningkatkan hasil belajar siswa dan dapat meningkatkan aktivitas siswa.
2. Guru sebaiknya lebih banyak menerapkan tipe-tipe belajar mengajar yang baru kepada siswa contohnya kooperatifexample non example, agar siswa memiliki ketertarikan terhadap materi-materi pelajaran IPA.
107 BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
3. Bagi peneliti selanjutnya agar dapat mengembangkan penelitian ini lebih mendalam lagi atau bahkan mengembangkan model pembelajaran lain sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa menjadi lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Akhmad, Kamarudin. 2008. Dasar-Dasar Penyusunan Portofolio Guru Pustaka Utama. Edisi Kelima. Yogyakarta.
Angkowo, R., & Kosasih, A. 2007. Optimalisasi Media Pembelajaran. Jakarta: PT.
Grasindo.
Anni, Catharina Tri. 2007. Psikologi Belajar. Semarang : UPT Unnes press.
Buehl. 1996. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru.
Jakarta: Rajawali Pers.
Departemen Pendidikan Nasional. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Djamarah. 2002. Psikologi Belajar. PT Rineka Cipta: Jakarta.
Hadi Haryono. 2007. Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung : Pustaka.
Kirana. 2007. Strategi Belajar Kelompok. Cendikia. Bandung.
Nana Sudjana, Ahmad Rivai. 2001. Media pengajaran. Bandung: CV. Sinar. Baru.
Nur, M. 2000. Strategi-Strategi Belajar. Surabaya : Universitas Negeri Surabaya, University Press.
Omar Hamalik. 2002. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem.
Bandung: Bumi Aksara
Rachmadi. 2004. Pembelajaran Kooperatif. Rineka Cipta. Jakarta.
Sadirman. 2001. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana.
Setyaningsih. 2001. Pembelajaran KooperatifRineka Cipta. Jakarta
Slamento. 2019. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengeruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Slavin, R. E. 1994. Educational Psychology Theory Into Practices. 4th ed.
Boston:Ally and Bacon Publishers.
Slavin, robert E. 2004. Cooperative Learning (Teori, Riset, Praktik). Bandung: Nusa Media.
Suharsimi Arikunto. 2019. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik Rineka Cipta. Jakarta
108
BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
Sutrisno, Leo 2007. Pengembangan Pembelajaran IPA SD Jakarta. Depdiknas.
Suyono. 2009. Strategi Pembelajaran.Jakarta: Jakarta : PT. Grasindo
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Invatif dan Progresif. Jakarta:
Kencana Prenada Group.
Udin S. Winataputra, et al, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: UniversitasTerbuka, 2008. cet ke 15
Wahyuni, Sri. 2001. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Investigasi Kelompok.
Jakarta:PT Bina Aksara.
Wasis. 2019. Pedoman Praktis Penelitian. Jakarta: EGC.
109 BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED