BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018 ISSN 1858-3105
Diterbitkan oleh
Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Kalimantan Timur
Penanggung Jawab Mohamad Hartono Ketua Penyunting Tendas Teddy Soesilo Wakil Ketua Penyunting Andrianus Hendro Triatmoko
Penyunting Pelaksana/Mitra Bebestari
Prof.Dr.Dwi Nugroho Hidayanto, M.Pd., Prof.Dr.Husaeni Usman, M.Pd., Dr.Edi Rachmad, M.Pd., Drs.Masdukizen, Dra.Pertiwi Tjitrawahjuni, M.Pd., Dr.Sugeng, M.Pd., Dr.Usfandi Haryaka, M.Pd., Dr.Rita Zahra, M.Pd., Samodro, M.Si.,
Dr.Sonja V. Lumowa, M.Kes., Dr.Hj. Widyatmike Gede, M.Hum., Sukriadi, S.Pd.M.Pd.
Sirkulasi Umi Nuril Huda
Sekretaris Abdul Sokib Z.
Tata Usaha
Martanto Nugroho,Sunawan
Alamat Penerbit/Redaksi : Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Kalimantan Timur, Jl. Cipto Mangunkusumo Km 2 Samarinda Seberang, PO Box 218
• Borneo, Jurnal Ilmu Pendidikan diterbitkan pertama kali pada Juni 2007 oleh LPMP Kalimantan Timur
• Penyunting menerima sumbangan tulisan yang belum pernah diterbitkan dalam media lain. Naskah dalam bentuk soft file dan print out di atas kertas HVS A4 spasi ganda lebih kurang 12 halaman, dengan format seperti tercantum pada halaman kulit dalam belakang
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmat serta hidayah-Nya, Borneo Jurnal Ilmu Pendidikan LPMP Kalimantan Timur dapat diterbitkan.
Borneo Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018 ini merupakan edisi khusus yang diharapkan terbit untuk memenuhi harapan para penulis.
Tujuan utama diterbitkannya jurnal Borneo ini adalah memberi wadah kepada pendidik dan tenaga kependidikan di Provinsi Kalimantan Timur untuk mempublikasikan hasil pemikirannya di bidang pendidikan, baik berupa telaah teoritik, maupun hasil kajian empirik lewat penelitian. Publikasi atas karya mereka diharapkan memberi efek berantai kepada para pembaca untuk melahirkan gagasan- gagasan inovatif untuk memperbaiki mutu pendidikan melalui pembelajaran dan pemikiran. Perbaikan mutu pendidikan ini merupakan titik perhatian utama tujuan LPMP Kalimantan Timur sebagai lembaga penjaminan mutu pendidikan.
Jurnal Borneo edisi khusus Nomor 29, Oktober 2018 ini memuat tulisan Kepala Sekolah, Guru dan Pengawas yang berasal dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Kartanegara, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur dan Kementerian Agama Kabupaten Kutai Kartanegara. Jurnal ini diterbitkan sebagai apresiasi atas semangat untuk memajukan dunia pendidikan melalui tulisan yang dilakukan oleh para pendidik dan tenaga kependidikan di Provinsi kalimantan Timur. Untuk itu, terima kasih kami sampaikan kepada para penulis artikel sebagai kontributor sehingga jurnal Borneo edisi khusus ini dapat terbit.
Ucapan terima kasih dan selamat kami sampaikan kepada pengelola jurnal Borneo yang telah berupaya keras untuk menerbitkan Borneo edisi ini. Apa yang telah mereka sumbangkan untuk menerbitkan jurnal Borneo mudah-mudahan dicatat sebagai amal baik oleh Alloh SWT.
Kami berharap, semoga kehadiran jurnal Borneo ini memberikan nilai tambah, khususnya bagi LPMP Kalimantan Timur sendiri, maupun bagi upaya perbaikan mutu pendidikan pada umumnya.
Redaksi
DAFTAR ISI
BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018 ISSN : 1858-3105
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv
1 Implementasi Metode Pembelajaran Group Investigation (GI) dalam Pelaksanaan Tata Cara Penyelenggaraan Jenazah pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 3 Samarinda Tahun Ajaran 2017/2018
Julinah
1
2 Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning dalam Pembelajaran Matematika dalam Kurikulum 2013
Wartono
11
3 Peningkatan Hasil Belajar dengan Menggunakan Metode Demonstrasi dalam pembelajaran IPA Pokok Bahasan Sifat dan Perubahan Wujud Benda Pada Kelas III Semester I SDN 004 Loa Janan
Asriah
21
4 Peningkatan Hasil Belajar Matematika Materi Bangun Datar Melalui Media Benda Konkret di Kelas II SD Negeri 019 Loa Janan Tahun Pelajaran 2017/2018
Damirah
35
5 Peningkatan Hasil Belajar IPA tentang Mengenal Benda Langit Melalui Media Kartu Kata dan Gambar pada Siswa Kelas I SDN 004 Loa Janan Tahun Pelajaran 2016/2017
Kasmu
53
6 Peningkatan Hasil Belajar IPA pada Pokok Bahasan Struktur dan Fungsi Bagian Tumbuhan dengan Menggunakan Model Pembelajaran Cooperative Script di Kelas VI SDN 023 Loa Janan Kalimantan Timur Tahun Pelajaran 2015/2016
Lenti Sitorus
71
7 Meningkatkan Kemampuan Menghitung Luas Bangun Ruang melalui Benda Konkrit Siswa Kelas VI SD Negeri 004 Loa Janan
Mukromin
81
8 Peningkatkan Hasil Belajar IPA tentang Sumber Daya Alam dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Example Non Example Siswa Kelas Iv Sdn 019 Loa Janan Tahun Pelajaran 2015/2016
Sunarti
95
9 Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ipa Siswa Kelas VI SD Negeri 004 Loa Janan Sumartin
109
10 Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Menyusun Perencanaan Pembelajaran Melalui Pembinaan Kolaboratif Bagi Guru di Sdn 023 Loa Janan Tahun Pelajaran 2017/2018
Dahlina
123
11 Peningkatan Efektivitas Guru dalam Pengelolaan Waktu Belajar dengan Menggunakan Ceklis Waktu di SDN 029 Loa Janan Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun Pelajaran 2017/2018
Fahrurozi
143
12 Pelaksanaan Teknik Supervisi Individual untuk Peningkatan Kemampuan Guru dalam Proses Pembelajaran di SDN 017 Loa Janan Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun Pelajaran 2017/2018
Hasan Effendi
155
13 Meningkatkan Kompetensi Guru dalam Pengelolaan Pembelajaran melalui Model Pembinaan CLCK (Contoh, Latihan, Control, Kerja Mandiri) di SDN 001 Loa Janan Kabupaten Kutai Kartanegara dalam Pengelolaan Tahun Pelajaran 2016/2017
Sri Mulyani
169
14 Pengaruh Supervisi Akademik BerSERI dleh Kepala Sekolah untuk Meningkatkan Mutu Kinerja Guru dalam Pembelajaran di SDN 027 Loa Janan Tahun Pelajaran 2016/2017
M. Tahan
185
15 Peningkatan Hasil Belajar IPA tentang Pengaruh Matahari Bagi Bumi dengan Media Gambar pada Siswa Kelas II di SDN 004 Loa Janan Tahun Pembelajaran 2016/2017
Rawasia
193
16 Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas II SDN 004 Loa Janan Pada Materi Konsep Perkalian melalui Alat Peraga Rak Telur Rainbow Plus Bijian-Bijian Tahun Pembelajaran 2016/2017
Tik Ami
207
1 BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
IMPLEMENTASI METODE PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION (GI) DALAM PELAKSANAAN TATA CARA PENYELENGGARAAN
JENAZAH PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 3 SAMARINDA TAHUN AJARAN 2017/2018
Julinah
Guru di SMA Negeri 3 Kota Samarinda ABSTRAK
Metode pembelajaran group investigation merupakan metode pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru untuk meningkatkan peran siswa dan motivasi dalam suasana pembelajaran. Metode pembelajaran group investigation yang diterapkan guru adalah pemutaran film atau video dengan evaluasi akhir pembelajaran yaitu menyimpulkan secara bersama inti sari yang terkandung di dalam film atau video tersebut.
Penelitian Tindakkan Kelas ini bertujuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi guru dalam proses belajar mengajar diantaranya:
Mendeskripsikan penerapan metode group investigation dalam pembelajaran tata cara penyelenggaraan jenazah. Untuk mengetahui keaktifan siswa dengan melihat aspek minat dan perhatian, partisipasi dan tingkat percaya diri siswa serta untuk megetahui ada atau tidaknya peningkatan hasil belajar siswa kelas XI IPS-2 SMA Negeri 3 Samarinda.
Penelitian ini bersifat kualitatif . Pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan observasi partisipatif, wawancara secara mendalam, dokumentasi dan tes obyektif. Analisis data meliputi analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Penerapan metode group investigation pada siswa kelas XI IPS-2 SMA Negeri 3 Samarinda dilakukan sebanyak dua siklus yang dilaksanakan sesuai prosedur dengan baik dan benar yaitu mulai dari menyeleksi materi, menginvestigasi, presentasi, dan evaluasi. (2) Ada peningkatan kemampuan siswa meliputi;
a) Aspek minat dan perhatian, siswa lebih antusias dan lebih siap menerima pelajaran. b) Aspek partisipasi siswa lebih baik, hal ini dibuktikan kondisi kelas yang aktif, secara keseluruhan siswa sudah menyumbangkan ide-idenya untuk memecahkan permasalahan yang ada.
c) Aspek percaya diri, siswa lebih percaya diri dalam mengungkapkan pendapat, menjawab, bertanya maupun menyanggah pendapat temannya.
(3). Kualitas keaktifan siswa mengalami peningkatan dari pra siklus yang berada dikategori kurang, meningkat di siklus I dengan kategori cukup dan pada siklus II meningkat berada di kategori baik. Hasil belajar siswa setiap siklus meningkat, fakta; pada pra siklus rerata sebesar 65,80 pada siklus I rerata sebesar 77,41 dan pada siklus II sebesar 81,97.
Kata Kunci: Metode Group Investigation (GI), Pembelajaran Merawat Jenazah
2
BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan kunci utama untuk membuka masa depan yang cerah dan interaksi manusiawi yang ditandai keseimbangan antara kedaulatan subyek didik dengan kewibawaan pendidik untuk menghadapi lingkungan dalam mengalami perubahan yang semakin pesat. Pendidikan yang digunakan haruslah yang mampu menyiapkan peserta didik untuk menghadapi dunia luar atau nyata.
Metode dan alat pendidikan mempunyai peranan penting sebab merupakan jembatan yang menghubungkan pendidikan dengan anak didik.Metode pembelajaran saat ini masih perlu dikembangkan untuk meningkatkan motivasi, hasil belajar, dan keaktifan siswa selama di dalam kelas.
Pemutaran film atau video menjadi pilihan metode pembelajaran utama oleh guru dalam proses kegiatan belajar mengajar, sehingga siswa hanya diminta untuk mengamati dan menyimpulkan film atau video yang telah diputar. Media elektronika bagi kalangan remaja sangat menarik minat belajar, tetapi ketika media yang seperti ini dilakukan secara terus-menerus, maka siswa akan memandang strategi selain resume (terhadap pemutaran film atau video dengan menggunakan alat bantu berupa media elektronika) tidak menarik dan tidak meningkatkan minat belajar. Pendidikan Agama Islam merupakan mata pelajaran penting dalam struktur kurikulum. Merupakan mata pelajaran yang bertujuan untuk membangun pondasi akhlah dan moral siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, pemilihan metode pembelajaran yang tepat diperlukan oleh setiap guru Pendidikan Agam Islam untuk mengembangkan.
Salah satu materi pokok dalam Pendidikan Agama Islam yang menjadi penelitian tindakan kelas ini adalah perawatan jenazah, hal ini dikarenakan perawatan jenazah sangat penting aplikasinya di dalam kehidupan bermasyarakat.
Oleh sebab itu, pengetahuan akan perawatan jenazah perlu dipelajari sejak dini, agar mereka benar-benar menguasai konsep perawatan jenazah dengan baik dan ketika mereka sudah berada di tengah-tengah masyarakat, mereka sudah bisa mempraktekkan hal tersebut.
Metode group investigation adalah salah satu metode yang paling komplek untuk dilaksanakan dalam pembelajaran yang kooperatif. Dari sini, guru agama mencoba menerapkan metode tersebut dalam mengatasi permasalahan yang ada.
Metode ini menuntut siswa lebih aktif dalam mengikuti pelajaran, sehingga diharapkan siswa akan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam aspek minat dan perhatian, partisipasi, percaya diri maupun dalam meningkatkan hasil belajar.
Berdasarkan hasil telaah, peneliti dengan ini mengembangkan strategi yang biasa digunakan yaitu pembelajaran dengan alat bantu berupa media elektronika menggunakan metode group investigation, dengan harapan dapat menyelesaikan masalah yang selama ini ada.
KAJIAN PUSTAKA
Metode Gorup Investigation
Investigasi kelompok merupakan model pembelajaran kooperatif yang dikembangkan pertama kalinya oleh Thelan, yang kemudian diperluas dan dipertajam oleh Sharan dari Universitas Tel Aviv. Dalam penggunaan group investigation harus melalui beberapa tahap di antaranya: 1) Seleksi materi
3 BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
bahasan, 2) Merancang bersama-sama, 3) Pelaksanaan, 4) Analisis dan Sintesis, 5) Presentasi, dan 6) Evaluasi.
Sedangkan menurut Robert, E. Slavin yang hampir senada dengan pendapat Sharan, maka dalam group investigation siswa mengalami kemajuan dalam enam tahap, yakni:
a. Tahap 1: Mengidentifikasi topik dan mengorganisir siswa ke dalam kelompok.
1) Siswa mengamati sumber, mengusulkan dan mengumpulkan saran.
2) Siswa bergabung dengan kelompok yang mempelajari topik pilihannya.
3) Komposisi kelompok berdasarkan minat, keheterogenan dan tingkat kemampuan.
4) Guru membantu mengumpulkan informasi dan keanekaragaman.
b. Tahap 2: Merencanakan tugas-tugas belajar.
1) Apa yang dipelajari siswa ?
2) Bagaimana kita belajar ? Siapa belajar tentang apa ? c. Tahap 3: Melaksanakan investigasi.
1) Siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data dan menyimpulkan informasi.
2) Setiap anggota menyumbang ide pada kelompoknya.
3) Siswa berdiskusi, menjelaskan dan mensintesa.
d. Tahap 4: Mempersiapkan laporan akhir.
1) Anggota kelompok menentukan pesan penting proyek mereka.
2) Anggota kelompok merencanakan sesuatu yang akan dilaporkan.
e. Tahap 5: Menyajikan laporan.
1) Presentasi ditujukan ke seluruh kelompok.
2) Setiap presentasi harus melibatkan semua siswa aktif.
f. Tahap 6: Evaluasi.
1) Presentasi memberi umpan balik tentang topik, tentang karya yang dibuat.
2) Guru dan siswa bekerjasama dalam menilai pembelajaran siswa.
Penilaian belajar harus menilai tingkat belajar lebih tinggi.
Dari berbagai pendapat para ahli tentang langkah metode group investigation dapat disimpulkan bahwa:
1. Para siswa mengusulkan dan menentukan sub topik bahasan yang akan dikaji.
2. Pendidik membagi siswa menjadi 5 kelompok kecil dengan jumlah anggota kelompok sebanyak 5-6 siswa. Berdasar atas keheterogenan, ketertarikan dan tingkat kemampuan siswa.
3. Guru membagi lembar kerja siswa dengan sub pokok bahasan yang berbeda- beda kepada setiap kelompok.
4. Setiap kelompok merencanakan mengenai; pembagian tugas tiap anggota dan menentukan tujuan investigasi.
5. Setiap kelompok berdiskusi kecil untuk mengidentifikasi atau mengerjakan lembar kerja siswa yang sudah dibagikan oleh guru.
6. Setiap anggota kelompok mencatat hal-hal penting yang terkait dengan sub pokok bahasan yang telah didiskusikan.
7. Setiap kelompok melaporkan atau mempresentasikan hasil diskusinya kepada seluruh kelompok besar di depan kelas.
8. Setiap kelompok melakukan Diskusi antar kelompok
4
BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
9. Klarifikasi dari guru dan siswa mengenai proses pembelajaran.
Dengan demikian, hakekat pembelajaran group investigation adalah untuk mendorong siswa lebih aktif mengikuti proses pembelajaran dengan mengeluarkan seluruh pengetahuan atau kemampuan yang dimiliki. Serta siswa didorong untuk merumuskan hasil yang telah didiskusikan melalui sajian lisan dan tulis. Pembelajaran ini menekankan pentingnya pengaktifan struktur kognitif siswa, agar dapat mengetahui makna dari apa yang dipelajari yang nantinya akan berdampak positif terhadap Pembelajaran Siswa dalam Pelaksanaan Tata Cara Penyelenggaraan Jenazah.
Peran guru dalam melaksanakan proyek group investigation adalah sebagai nara sumber dan fasilitator. Disamping guru membagi siswa dalam beberapa kelompok, guru juga berkeliling, untuk melihat bahwa mereka bisa mengelola tugasnya atau tidak, dan membantu setiap kesulitan yang mereka hadapi dalam interaksi kelompok, termasuk masalah dalam kinerja terhadap tugas-tugas khusus yang berkaitan dengan proyek pembelajaran.
Tata Cara Penyelenggaraan Jenazah
Perawatan jenazah merupakan suatu cara untuk memuliakan jasad manusia yang telah meninggal dunia. Dalam syari’at Islam sangat jelas diterangkan bagaimana perawatan jenazah yang semestinya, dan karena dianggap penting sebagai bentuk penghormatan terakhir manusia yang telah meninggal, maka pemerintah mencantumkan perawatan jenazah sebagai materi pembelajaran pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah.
Perawatan jenazah meliputi enam perkara; memandikan, mengkafani, menshalatkan, menguburkan, ta'ziah dan ziarah kubur. Akan tetapi, bagi jenazah yang mati syahid tidak usah dimandikan dan dikafani. Hukum pengurusan jenazah adalah fardlu kifayah, yakni kewajiban yang bersifat kolektif bagi umat Islam pada suatu tempat.
METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian
Prosedur atau langkah-langkah penelitian yang dilakukan terbagi dalam bentuk siklus kegiatan yang mengacu pada model yang diadopsi dari Hopkins 1993 dimana setiap siklus terdiri dari empat kegiatan yang berupa : perencanaan, tindakan pelaksanaan, observasi dan refleksi. Empat kegiatan ini berlangsung secara simultan yang urutannya dapat mengalami modifikasi. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Desain Penelitian Tindakan Kelas mengikuti desain model Lewin yang ditafsirkan oleh Kemmis, dimana tahapan penelitian adalah 1. Refleksi
2. Perencanaan Tindakkan 3. Pelaksanaan tindakkan
4. Observasi, refleksi, dan evaluasi Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan pada minggu ketiga bulan Maret hingga minggu ketiga bulan April 2018. Penelitian bertempat di SMA Negeri 3 Samarinda. Jalan Ir. H.
Juanda No. 20 Kelurahan Air Putih, Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda.
5 BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
Subjek Penelitian
Sampel peneletian adalah siswa kelas XI IPS-2 dengan jumlah sampel sebanyak 36 siswa.
Teknik Pengumpulan Data
Data penelitian dikumpulkan dan disusun melalui teknik pengumpulan data meliputi : sumber data, jenis data, teknik pengumpulan data, dan instrument yang digunakan. Teknik pengumpulan data dapat dilihat pada Tabel berikut ini di bawah ini :
Tabel 1 Sumber, Jenis Dan Teknik Pengumpulan Data No Sumber
Data
Jenis Data Teknik
Pengumpulan
Instrumen 1.
2.
3.
1.
Siswa
Guru Guru dan Siswa
Jumlah siswa yang dapat menjawab benar
soal pre test dan post test Langkah-langkah
Pembelajaran
Aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran berlangsung
Melaksanakan test tertulis.
Observasi dan Dokumentasi Observasi
Soal Test
Pedoman Observasi Pedoman Observasi
Teknik Analisis Data
Bersumber pada hasil yang diperoleh dari pre test dan post test yang mencerminkan pemahaman siswa pada konsep yang diajarkan diharapkan adanya perubahan peningkatan pemahaman ssesuai nilai yang diperoleh masing-masing siswa. Setidaknya minimal 75 % dari jumlah siswa dapat mencapai nilai KKM yang sudah ditetapkan sekolah. Minimal 75 % dari jumlah siswa termotivasi belajar dengan menggunakan metode Investagition Group (IG) atau Investigasi Kelompok. Adapun rumus yang digunakan adalah:
𝒑 =𝒇 × 𝟏𝟎𝟎 % 𝑵 Keterangan:
p = Persentase keberhasilan produk f = Frekuensi
N = Jumlah siswa
Nilai rerata keberhasilan siswa dalam menyelesaikan post test dihitung dengan persamaan:
𝑿̅ =∑ 𝒇𝑿 𝑵 Keterangan:
X = Nilai rerata f = Frekuensi
6
BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
X = Nilai
N = Jumlah siswa
HASIL PENELITIAN
Berdasarkan hasil penelitian tindakkan kelas metode Group Investigation (GI) dengan hasil observasi menggunakan aspek minat dan perhatian, siswa lebih antusias dan lebih siap menerima pelajaran, aspek partisipasi siswa lebih baik, hal ini dibuktikan kondisi kelas yang aktif, secara keseluruhan siswa sudah menyumbangkan ide-idenya untuk memecahkan permasalahan yang ada dan aspek percaya diri, siswa lebih percaya diri dalam mengungkapkan pendapat, menjawab, bertanya maupun menyanggah pendapat temannya untuk menilai keaktifan dan hasil belajar siswa pada pra siklus, siklus I, dan siklus II adalah sebagai berikut :
a. Pra Siklus
Tabel 2. Lembar Observasi Pra Siklus Keaktifan Siswa Dalam Belajar No. Aktivitas Belajar Siswa Banyak Siswa
yang Aktif ( % )
Kualitas Keaktifan 1. Suasana kelas selama proses
pembelajaran berlangsung 20 1
2. Minat dan perhatian siswa dalam
proses pembelajaran 20 1
3. Partisipasi siswa dalam proses
pembelajaran 20 1
4. Kepercayaan diri siswa selama
proses pembelajaran 27 2
5. Siswa belajar berkelompok 21 2
JUMLAH 108 7
Skor Rata-Rata 21.6 1,8
b. Siklus I
Tabel 3. Lembar Observasi Siklus 1 Keaktifan Siswa Dalam Belajar No. Aktivitas Belajar Siswa
Banyak Siswa yang
Aktif ( %)
Kualitas Keaktifan 1. Suasana kelas selama proses
pembelajaran berlangsung 60 3
2. Minat dan perhatian siswa dalam
proses pembelajaran 55 3
3. Partisipasi siswa dalam proses
pembelajaran 60 3
7 BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
4. Kepercayaan diri siswa selama
kegiatan pembelajaran 60 3
5. Siswa belajar secara berkelompok 55 3
JUMLAH 290 15
Skor Rata-Rata 58 3
c. Siklus II
Tabel 4. Lembar Observasi Siklus II Keaktifan Siswa Dalam Belajar No. Aktivitas Belajar Siswa Banyak Siswa
yang Aktif %
Kualitas Keaktifan 1. Suasana kelas selama proses
pembelajaran kelas berlangsung 80 4
2. Minat dan perhatian siswa dalam
proses pembelajaran 80 4
3. Partisipasi siswa dalam proses
pembelajaran 75 4
4. Kepercayaan diri siswa selama
kegiatan pembelajaran 70 4
5. Siswa belajar secara berkelompok 80 4
JUMLAH 385 20
Skor Rata-Rata 77 4
d. Hasil Belajar siswa pra siklus, silus I, dan siklus II
Tabel 5. Nilai Post Test Pada Pra Siklus, Siklus I, dan Siklus II
No. Nama Siswa Pra Siklus Siklus I Siklus II
1 ALYA ROSALIN 83 88 90
2 ANDI M.SYAHRUL RAMADHAN
67 76 86
3 ARIF BILLAH 57 56 76
4 ARIF MAULANA RAMDHANI 63 85 87
5 ARINDA TRISNASARI 57 59 75
6 ANANDA GAMAS OCTAVIA 77 86 90
7 AMELIA KARMENITA 77 89 90
8 ARI STIQFARRY R 57 76 80
9 ARYA PERMANA 57 78 78
10 BINTANG RAFIQ ICHASANI 67 85 85
11 DEA VIKE PERMATASARI 63 82 85
12 DIAN PUTRI JULIANTI 80 89 90
13 DWITA AUDYA ISWARA 57 66 75
14 DEA ADELLA 57 68 78
8
BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
15 DELLA YULIA PUTRI 70 85 86
16 ELYSA MAISARAH 63 82 86
17 ELYSA DESY ADINDA 60 69 76
18 FRISCA MARINDAYANTI 67 81 86
19 FAKHRI RAMADHAN 50 71 75
20 INTHAN AZZAHRA 73 79 80
21 MUHAMMAD RAFI MUSYAFFA
80 89 92
22 MUHAMMAD VIKRY AKBAR 57 66 66
23 MUHAMMAD IRFAN ZAKY 57 78 75
24 M. RIEKY FACHLIZA 63 75 75
25 MARLIANA SARI 63 78 78
26 NOR AZIZAH 60 69 70
27 NUR SYIFA 67 73 86
28 PUTRI FAJAR AYU HENDRAYAN
57 72 75
29 ROBBY UL AKBAR 77 89 90
30 ROSIANA ERNANDA 77 86 86
31 RANDY ISMAIL SUNNY 80 69 75
32 RIZKY BAGUS PRAMANA 57 76 74
33 SYHELFA RASETHY 53 78 86
34 SITI MAISARAH 63 85 86
35 VIVIED NANDA B 63 75 75
36 WAHYUNDA RAMDANI 57 79 74
Rerata 65,80 77,41 81,97
e. Perbandingan Nilai rata-rata dan Jumlah Ketuntasan Siswa Pada Pra Siklus Siklus I dan Siklus II
Gambar 1. Grafik Perbandingan Nilai rata-rata dan Jumlah Ketuntasan Siswa Pada Pra Siklus, Siklus I, dan Siklus II
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan dalam dua siklus kegiatan pelaksanaan pada Siklus 1 hasil tindakan kelas diperoleh data bahwa aktivitas atau keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dengan menggunakan
9 BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
metode Group Investigation pada materi Pelaksanaan Tata Cara Penyelenggaran Jenazah mengalami kenaikan. Pada Siklus I presentase keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan mencapai 41-60 % sedangkan pada siklus ke II mencapai 61- 80%. Hal ini disebabkan karena pada siklus II, guru memberikan reward kepada siswa yang berpartisipasi dalam sebuah presentase dan diskusi diberi pita. Pita berwarna hijau jika siswa mampu memberikan argumentasi, pertanyaan, jawaban atau sanggahan dianggap sangat baik, dan pita berwarna kuning untuk katagori baik, dan merah jika dianggap cukup. Sementara hasil observasi pada kualitas keaktifan siswa mendapatkan skor rata rata 4 yang artinya kualitas keaktifan siswa pada siklus II ini sudah masuk dalam kategori baik. Pada Pembelajaran Siswa dalam merawat jenazah juga menunjukan peningkatan jumlah siswa yang tuntas belajar. Jika pada pra siklus siswa yang mendapatkan nilai yang sesuai dengan SKM yaitu sebanyak 8 siswa setelah diberikan metode group investigation pada siklus I mengalami peningkatan sebanyak 25 siswa dan pada siklus ke II meningkat menjadi 34 siswa yang mendapatkan nilai sesuai dengan SKM. Dari hasil pengamatan, hasil nilai dan wawancara pada siklus I, Metode Group Investigation secara efektif dapat meningkatkan Pembelajaran Siswa dalam merawat jenazah dalam menganalisis Pembelajaran merawat jenazah di Kelas XI IPS-2 SMA Negeri 3 Samarinda Tahun Pelajaran 2017/2018.
Penggunaan model pembelajaran yang baik dapat menghasilkan pembelajaran yang efektif dan mampu mengoptimalkan kemampuan siswa.
Berbagai model dan metode pembelajaran yang dapat diimplementasikan pada pembelajaran kurikulum 2013, misalnya model pembelajaran Group Investigation (GI) dan Think Pair Share (TPS). Model pembelajaran GI merupakan model pembelajaran kooperatif yang mengharuskan siswa untuk aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran dengan cara menggali/mencari informasi/materi yang akan dipelajari secara mandiri dengan bahan-bahan yang tersedia. Adanya metode pembelajaran tersebut membuat siswa belajar dengan aktif, mencari informasi penting, dan mandiri dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya.
Proses membangun pengetahuan secara mandiri melatih siswa untuk menggali sebuah fakta, melakukan generalisasi dan mengorganisasikan ide yang didapatkan. Hal ini akan memberikan dampak yang baik pada kemampuan berpikir kritis siswa.
Hal ini diungkapkan dalam penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Faticha Rizky Nur I pada tahun 2015 dan Fitriana tahun 2010 menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa dan kemandirian mahasiswa yang menggunakan model pembelajaran Group Investigation (GI) lebih efektif dibandingkan penggunaan model pembelajaran Jigsaw dan STAD.
KESIMPULAN
1. Hasil Belajar siswa pada pra siklus rata-rata memiliki nilai 65,80 meningkat di siklus I setelah diberikan metode group investigation dengan rata-rata memiliki nilai 77,41 dan meningkat di siklus II dengan rata-rata nilai 81,97.
2. Perkembangan siswa pada setiap siklus, rerata meningkat mulai dari minat dan perhatian, partisipasi dan percaya diri.
10
BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
DAFTAR PUSTAKA
DepDikBud. 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, edisi II, cet.IV.
Depag RI. 1996. Al-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung: J-ART.
Fahmi Latifah. 2007. “Penggunaan Strategi Pembelajaran Group Investigation Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPA (Fisika) Siswa di SMP N 1 Seyegan”. Skripsi, Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Cibeber.
Hajar, Ibnu. 1996. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif Dalam Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, cet. I.
Karim, Abdul. 2006. Petunjuk Merawat Jenazah Dan Shalat Jenazah, Jakarta:
AMZAH, cet. IV.
Mahfudz, Ali, dkk., 2001. Fatwa “Faham, Terampil dan Taqwa”, Surakarta: PT.
Obor Sewu Mandiri.
Mahjuddin. 2007. Masailul Fiqhiyah, Jakarta: Kalam Mulia, cet. VI.
Margiono, dkk. 2005. Agama Islam Lentera Kehidupan, Jakarta: Yudhistira.
Majid, Abdul dan Dian Andayani. 2005. Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi (Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004), Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.
Moleong, Lexy, J., Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005.
Mustaqim. 2004. Psikologi Pendidikan, Cibeber: Pustaka Pelajar, cet. III.
Muthahhari, Murtadha. 2005. Konsep Pendidikan Islami, Jakarta: Iqra Kurnia Gemilang,
Nawawi, Hadari. 1998. Metode Penelitian Bidang Sosial, Cibeber: Gadjah Mada University Press, cet. VIII.
Nurhayati, Indra. 2007. "Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Group Investigation untuk Meningkatkan Motivasi dan Pembelajaran Siswa dalam merawat jenazah pada Mata Diklat Akuntansi” (Studi Kasus SMK "Ardjuna"
01 Malang).
11 BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM KURIKULUM 2013
Wartono
MTs Negeri 3 Kutai Kartanegara ABSTRAK
Dalam kegiatan belajar mengajar yang berlangsung antara guru dan peserta didik , akan terjadi hubungan timbal balik antara keduanya yang beraneka ragam, dan itu akan menjadikan terbatasnya waktu guru untuk mengontrol bagaimana pengaruh tingkah lakunya terhadap motivasi belajar peserta didik. Selama pelajaran berlangsung guru sulit menentukan tingkah laku mana yang berpengaruh positif terhadap motivasi belajar peserta didik, misalnya gaya mengajar mana yang memberi kesan positif pada diri peserta didik selama ini, strategi mana yang dapat membantu kejelasan konsep selama ini, metode dan model pembelajaran mana yang tepat untuk dipakai dalam menyajikan suatu pembelajaran sehingga dapat membantu mengaktifkan peserta didik dalam belajar. Model pembelajaran discovery learning menempatkan guru sebagai fasilitator. Guru membimbing peserta didik dimana ia diperlukan.
Dalam model ini, peserta didik didorong untuk berpikir sendiri, menganalisis sendiri sehingga dapat ”menemukan” prinsip umum berdasarkan bahan atau data yang telah disediakan guru.
Kata kunci: model pembelajaran discovery learning
PENDAHULUAN
Pendekatan ilmiah (pendekatan scientific) merupakan pendekatan dalam proses pembelajaran yang diamanatkan dalam kurilulum 2013. Dalam Permendikbud Nomor 22 tTahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar Dan Menengah dinyatakan bahwa Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah selanjutnya disebut Standar Proses merupakan kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan satuan pendidikan dasar menengah untuk mencapai kompetensi lulusan. Lebih lanjut Standar Proses adalah kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan. Standar Proses dikembangkan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi yang telah ditetapkan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Standar Kompetensi Lulusan memberikan kerangka konseptual tentang sasaran pembelajaran yang
12
BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
harus dicapai. Standar Isi memberikan kerangka konseptual tentang kegiatan belajar dan pembelajaran yang diturunkan dari tingkat kompetensi dan ruang lingkup materi. Sasaran pembelajaran mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dielaborasi untuk setiap satuan pendidikan.
Tiga ranah kompetensi memiliki lintasan perolehan (proses psikologis) yang berbeda. Sikap diperoleh melalui aktivitas “menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan”. Pengetahuan diperoleh melalui aktivitas
“mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, mencipta”.
Keterampilan diperoleh melalui aktivitas “mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta”. Karakteristik kompetensi beserta perbedaan lintasan perolehan turut serta mempengaruhi karakteristik standar proses.
Karakteristik model pembelajaran Discovery Learning ini sesuai dengan kurikulum 2013 yang karakterisktiknya yaitu dalam proses pembelajaran berpusat pada peserta didik, peserta didik yang mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, dan unsur 5M (Mengamati, Menanya, Mengumpulkan informasi, Mengolah informasi, dan Mengkomunikasikan).
PEMBAHASAN
Karakteristik Model Pembelajaran Discovery Learning
Ciri utama belajar menemukan yaitu: (1) mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan;
(2) berpusat pada peserta didik; (3) kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada. Ada sejumlah ciri-ciri proses pembelajaran yang sangat ditekankan oleh teori konstruktivisme, yaitu:
1. Menekankan pada proses belajar, bukan proses mengajar
2. Mendorong terjadinya kemandirian dan inisiatif belajar pada peserta didik.
3. Memandang peserta didik sebagai pencipta kemauan dan tujuan yang ingin dicapai.
4. Berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses, bukan menekan pada hasil.
5. Mendorong peserta didik untuk mampu melakukan penyelidikan.
6. Menghargai peranan pengalaman kritis dalam belajar.
7. Mendorong berkembangnya rasa ingin tahu secara alami pada peserta didik.
8. Penilaian belajar lebih menekankan pada kinerja dan pemahaman peserta didik.
9. Mendasarkan proses belajarnya pada prinsip-prinsip kognitif.
10. Banyak menggunakan terminilogi kognitif untuk menjelaskan proses pembelajaran; seperti prediksi, inferensi, kreasi dan analisis.
11. Menekankan pentingnya “bagaimana” peserta didik belajar.
12. Mendorong peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam dialog atau diskusi dengan peserta didik lain dan guru.
13. Sangat mendukung terjadinya belajar kooperatif.
14. Menekankan pentingnya konteks dalam belajar.
15. Memperhatikan keyakinan dan sikap peserta didik dalam belajar.
16. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membangun pengetahuan dan pemahaman baru yang didasari pada pengalaman nyata.
13 BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
Berdasarkan ciri-ciri pembelajaran kontruktivisme tersebut, maka dalam penerapannya didalam kelas sebagai berikut:
1. Peserta didik terlibat secara aktif dalam dialog atau diskusi dengan guru atau peserta didik lainnya.
2. Mendorong kemandirian dan inisiatif peserta didik dalam belajar.
3. Guru mengajukan pertanyaan terbuka dan memberikan kesempatan beberapa waktu kepada peserta didik untuk merespon.
4. Mendorong peserta didik berpikir tingkat tinggi.
5. Peserta didik terlibat dalam pengetahuan yang mendorong dan menantang terjadinya diskusi.
Dari teori belajar kognitif serta ciri dan penerapan teori kontruktivisme tersebut dapat melahirkan strategi pembelajaran discovery learning. Model pembelajaran discovery learning ini menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar. Bagi peserta didik yang kurang pandai, akan mengalami kesulitan abstrak atau berfikir atau mengungkapkan hubungan antara konsep- konsep, yang tertulis atau lisan, sehingga pada gilirannya akan menimbulkan frustasi. Model pembelajaran discovery learning ini tidak efisien untuk mengajar jumlah peserta didik yang banyak, karena membutuhkan waktu yang lama untuk membantu mereka menemukan teori atau pemecahan masalah lainnya.
Tahapan Model Pembelajaran Discovery Learning
Tahap-tahap penggunaan model belajar penemuan dalam pembelajaran menurut Amien (1987) dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Tahap pertama adalah diskusi. Pada tahap ini guru memberikan pertanyaan kepada peserta didik untuk didiskusikan secara bersama-sama sebelum lembaran kerja peserta didik diberikan kepada peserta didik. Tahap ini dimaksudkan untuk mengungkap konsep awal peserta didik tentang materi yang akan dipelajari.
2. Tahap kedua adalah proses. Pada tahap ini peserta didik mengadakan kegiatan laboratorium sesuai dengan petunjuk yang terdapat dalam lembar kerja peserta didik guna membuktikan sekaligus menemukan konsep yang sesuai dengan konsep yang benar.
3. Tahap ketiga merupakan tahap pemecahan masalah. Setelah mengadakan kegiatan laboratorium peserta didik diminta untuk membandingkan hasil diskusi sebelum kegiatan laboratorium dengan hasil setelah laboratorium sesuai dengan lembaran kerja peserta didik hingga menemukan konsep yang benar tentang masalah yang ingin dipecahkan.
Strategi-strategi Model Pembelajaran Discovery Learning
Di dalam model penemuan ini, guru dapat menggunakan strategi penemuan yaitu secara induktif, deduktif atau keduanya.
1. Strategi Induktif
Strategi ini terdiri dari dua bagian, yakni bagian data atau contoh khusus dan bagian generalisasi (kesimpulan). Data atau contoh khusus tidak dapat digunakan sebagai bukti, hanya merupakan jalan menuju kesimpulan. Mengambil kesimpulan (penemuan) dengan menggunakan strategi induktif ini selalu mengandung resiko, apakah kesimpulan itu benar atau tidak. Karenanya
14
BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
kesimpulan yang ditemukan dengan strategi induktif sebaiknya selalu menggunakan perkataan “barangkali” atau “mungkin”.
Sebuah argumen induktif meliputi dua komponen, yang pertama terdiri dari pernyataan/fakta yang mengakui untuk mendukung kesimpulan dan yang kedua bagian dari argumentasi itu (Cooney dan Davis, 1975: 143). Kesimpulan dari suatu argumentasi induktif tidak perlu mengikuti fakta yang mendukungnya.
Fakta mungkin membuat lebih dipercaya, tergantung sifatnya, tetapi itu tidak bisa membuktikan dalil untuk mendukung. Sebagai contoh, fakta bahwa 3, 5, 7, 11, dan 13 adalah semuanya bilangan prima dan masuk akal secara umum kita buat kesimpulan bahwa semua bilangan prima adalah ganjil tetapi hal itu sama sekali
“tidak membuktikan“. Guru beresiko di dalam suatu argumentasi induktif bahwa kejadian semacam itu sering terjadi. Karenanya, suatu kesimpulan yang dicapai oleh induksi harus berhati-hati karena hal seperti itu nampak layak dan hampir bisa dipastikan atau mungkin terjadi. Sebuah argumentasi dengan induktif dapat ditandai sebagai suatu kesimpulan dari yang diuji ke tidak diuji. Bukti yang diuji terdiri dari kejadian atau contoh pokok-pokok.
Penalaran induktif dibagi menjadi 3 bagian yaitu generalisasi, analogi dan sebab-akibat Menurut Sumarmo (1987, h.39):
1. Generalisasi merupakan proses penalaran yang berdasarkan pada pemeriksaan hal-hal secukupnya kemudian memperoleh kesimpulan untuk semuanya atau sebagian besar hal-hal tadi. Untuk matematika tingkat lanjutan, untuk memeriksa kebenaran hasil yang diperoleh dalam penyimpulan, maka dilakukan pemeriksaan dengan induksi matematika. Hal ini dimaksudkan untuk membuktikan apakah penyimpulan yang diperoleh berlaku untuk semua.
Sebagai contoh: Ani peserta didik SMA berseragam putih abu-abu, Edi peserta didik SMA berseragam putih abu-abu, Badu peserta didik SMA berseragam putih abu-abu Yanti peserta didik SMA berseragam putih abu-abu. Jadi kesimpulannya mungkin semua peserta didik SMA berseragam putih abu-abu.
2. Analogi merupakan penalaran dari satu hal tertentu kepada satu hal lain yang serupa kemudian menyimpulkan apa yang benar untuk satu hal juga akan benar untuk hal lain. Gambaran di bawah ini adalah contoh analogi:
Jawaban untuk pertanyaan di atas adalah hubungan antara 14 dengan segitiga PQR analog dengan hubungan antara 20 dengan luas segi empat ABCD.
Sebab 14 merupakan luas segitiga PQR dan 20 merupakan luas segi empat ABCD.
3. Sebab-akibat, pengertian sebab-akibat hampir sama dengan penalaran generalisasi induktif hanya saja pada pengambilan kesimpulannya berdasarkan pada karakteristik objek yang memungkinkan terjadinya keserupaan atau ketidakserupaan objek.
Contoh sebab-akibat: Louis Pasteur seorang ilmuwan meneliti beberapa macam penyakit yang disebabkan oleh kuman, baru-baru ini terdapat penemuan yang sangat penting yakni penyakit kanker paru-paru yang disebabkan oleh rokok.
4. Strategi Deduktif. Dalam matematika metode deduktif memegang peranan penting dalam hal pembuktian. Karena matematika berisi argumentasi
15 BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
deduktif yang saling berkaitan, maka metode deduktif memegang peranan penting dalam pengajaran matematika. Dari konsep matematika yang bersifat umum yang sudah diketahui peserta didik sebelumnya, peserta didik dapat diarahkan untuk menemukan konsep-konsep lain yang belum ia ketahui sebelumnya. Sebagai contoh, untuk menentukan rumus luas lingkaran, peserta didik dapat diarahkan untuk membagi kertas berbentuk lingkaran menjadi n buah sector yang sama besar, kemudian menyusunnya sedemikian rupa sehingga berbentuk seperti persegi panjang dan rumus keliling lingkaran yang sudah diketahui sebelumnya, peserta didik akan dapat menemukan rumus luas lingkaran.
5. Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu pernyataan diperoleh sebagai akibat logis kebenaran sebelumnya, sehingga kaitan antara pernyataan dalam matematika bersifat konsisten. Berarti dengan strategi penemuan deduktif , kepada peserta didik dijelaskan konsep dan prinsip materi tertentu untuk mendukung perolehan pengetahuan matematika yang tidak dikenalnya dan guru cenderung untuk menanyakan suatu urutan pertanyaan untuk mengarahkan pemikiran peserta didik ke arah penarikan kesimpulan yang menjadi tujuan dari pembelajaran.
Metode ini tepat digunakan apabila: 1) peserta didik telah mengenal atau mempunyai pengalaman yang berhubungan dengan pokok bahasan yang akan diajarkan, 2) yang akan diajarkan berupa keterampilan komunikasi antara pribadi, sikap, pemecahan dan pengambilan keputusan, dan 3) guru mempunyai keterampilan fleksibel, terampil mengajukan pertanyaan, terampil mengulang pertanyaan dan sabar. (Martinis Yamin, 2004: 78).
Proses induktif-deduktif dapat digunakan untuk mempelajari konsep matematika. Namun demikian, pembelajaran dan pemahaman suatu konsep dapat diawali secara induktif melalui peristiwa nyata atau intuisi. Kegiatan dapat dimulai dengan beberapa contoh atau fakta yang teramati, membuat daftar sifat yang muncul (sebagai gejala), memperkirakan hasil baru yang diharapkan, yang kemudian dibuktikan secara deduktif. Dengan demikian, cara belajar induktif dan deduktif dapat digunakan dan sama-sama berperan penting dalam mempelajari matematika. Dengan penjelasan di atas metode penemuan yang dipandu oleh guru ini kemudian dikembangkan dalam suatu model pembelajaran yang sering disebut model pembelajaran dengan discovery learning. Pembelajaran dengan model ini dapat diselenggarakan secara individu atau kelompok. Model ini sangat bermanfaat untuk mata pelajaran matematika sesuai dengan karakteristik matematika tersebut. Guru membimbing peserta didik jika diperlukan dan peserta didik didorong untuk berpikir sendiri sehingga dapat menemukan prinsip umum berdasarkan bahan yang disediakan oleh guru dan sampai seberapa jauh peserta didik dibimbing tergantung pada kemampuannya dan materi yang sedang dipelajari.
Dengan model pembelajaran discovery learning ini peserta didik dihadapkan kepada situasi dimana peserta didik bebas menyelidiki dan menarik kesimpulan.
Terkaan, intuisi dan mencoba-coba (trial and error) hendaknya dianjurkan dan guru sebagai penunjuk jalan dan membantu peserta didik agar mempergunakan
16
BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
ide, konsep dan keterampilan yang sudah mereka pelajari untuk menemukan pengetahuan yang baru. Dalam model pembelajaran dengan discovery learning, peran peserta didik cukup besar karena pembelajaran tidak lagi terpusat pada guru tetapi pada peserta didik. Guru memulai kegiatan belajar mengajar dengan menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan peserta didik dan mengorganisir kelas untuk kegiatan seperti pemecahan masalah, investigasi atau aktivitas lainnya.
Pemecahan masalah merupakan suatu tahap yang penting dan menentukan. Ini dapat dilakukan secara individu maupun kelompok. Dengan membiasakan peserta didik dalam kegiatan pemecahan masalah dapat diharapkan akan meningkatkan kemampuan peserta didik dalam mengerjakan soal matematika, karena peserta didik dilibatkan dalam berpikir matematika pada saat manipulasi, eksperimen, dan menyelesaikan masalah.
Langkah-Langkah Pelaksanaan Model Pembelajaran Discovery Learning 1. Langkah Persiapan Metode Discovery Learning :
a. Menentukan tujuan pembelajaran.
b. Melakukan identifikasi karakteristik peserta didik (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya).
c. Memilih materi pelajaran.
d. Menentukan topik-topik yang harus dipelajari peserta didik secara induktif (dari contoh-contoh generalisasi).
e. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari peserta didik.
f. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik.
g. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar peserta didik.
2. Pelaksanaan
Menurut Syah (2004:244) dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning di kelas, ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum sebagai berikut:
a. Stimulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan)
Pertama-tama pada tahap ini peserta didik dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Disamping itu guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu peserta didik dalam mengeksplorasi bahan. Dalam hal ini Bruner memberikan stimulation dengan menggunakan teknik bertanya yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan peserta didik pada kondisi internal yang mendorong eksplorasi. Dengan demikian, seorang Guru harus menguasai teknik-teknik dalam memberi stimulus kepada peserta didik agar tujuan mengaktifkan peserta didik untuk mengeksplorasi dapat tercapai.
17 BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
b. Problem Statement (Pernyataan/ Identifikasi Masalah)
Setelah dilakukan stimulasi langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah) (Syah 2004:244), sedangkan menurut permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis, yakni pernyataan (statement) sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan. Memberikan kesempatan peserta didik untuk mengidentifikasi dan menganalisis permasasalahan yang mereka hadapi, merupakan teknik yang berguna dalam membangun peserta didik agar mereka terbiasa untuk menemukan suatu masalah.
c. Data Collection (Pengumpulan Data)
Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244).
Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis.
Dengan demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan narasumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya. Konsekuensi dari tahap ini adalah peserta didik belajar secara aktif untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi, dengan demikian secara tidak disengaja peserta didik menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
d. Data Processing (Pengolahan Data)
Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para peserta didik baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua informai hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah, 2002:22).
Data processing disebut juga dengan pengkodean coding / kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut peserta didik akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis.
e. Verification (Pembuktian)
Pada tahap ini peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004:244). Verification menurut Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman
18
BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau tidak.
f. Generalization (Menarik Kesimpulan/Generalisasi)
Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah, 2004:244). Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip- prinsip yang mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan, peserta didik harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu.
3. Sistem Penilaian
Dalam Model Pembelajaran Discovery Learning, penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan tes maupun nontes, sedangkan penilaian yang digunakan dapat berupa penilaian kognitif, proses, sikap, atau penilaian hasil kerja peserta didik. Jika bentuk penialainnya berupa penilaian kognitif, maka dalam model pembelajaran discovery learning dapat menggunakan tes tertulis.
Jika bentuk penilaiannya menggunakan penilaian proses, sikap, atau penilaian hasil kerja peserta didik, maka pelaksanaan penilaian dapat dengan pengamatan.
Kelebihan dari Model Pembelajaran Discovery Learning
Kelebihan dari model pembelajaran discovery learning adalah sebagai berikut (Marzano; 1992):
1. Peserta didik dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang disajikan.
2. Menumbuhkan sekaligus menanamkan sikap inquiry (mencari-temukan).
3. Mendukung kemampuan problem solving peserta didik.
4. Memberikan wahana interaksi antar peserta didik, maupun peserta didik dengan guru, dengan demikian peserta didik juga terlatih untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
5. Materi yang dipelajari dapat mencapai tingkat kemampuan yang tinggi dan lebih lama membekas karena peserta didik dilibatkan dalam proses menemukanya.
6. Peserta didik belajar bagaimana belajar (learn how to learn).
7. Belajar menghargai diri sendiri.
8. Memotivasi diri dan lebih mudah untuk mentransfer.
9. Pengetahuan bertahan lama dan mudah diingat.
10. Hasil belajar discovery mempunyai efek transfer yang lebih baik dari pada hasil lainnya.
11. Meningkatkan penalaran peserta didik dan kemampuan untuk berpikir bebas.
12. Melatih keterampilan-keterampilan kognitif peserta didik untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.
19 BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
Kelebihan dari Model Pembelajaran Discovery Learning
1. Guru merasa gagal mendeteksi masalah dan adanya kesalahpahaman antara guru dengan peserta didik.
2. Menyita waktu banyak. Guru dituntut mengubah kebiasaan mengajar yang umumnya sebagai pemberi informasi menjadi fasilitator, motivator, dan pembimbing peserta didik dalam belajar. Untuk seorang guru ini bukan pekerjaan yang mudah karena itu guru memerlukan waktu yang banyak. Dan sering kali guru merasa belum puas kalau tidak banyak memberi motivasi dan membimbing peserta didik belajar dengan baik.
3. Untuk materi tertentu, waktu yang tersita lebih lama.
4. Tidak semua peserta didik dapat mengikuti pelajaran dengan cara ini. Di lapangan, beberapa peserta didik masih terbiasa dan mudah mengerti dengan model ceramah.
5. Tidak semua topik cocok disampaikan dengan model ini. Umumnya topik- topik yang berhubungan dengan prinsip dapat dikembangkan dengan Model Pembelajaran Discovery Learning.
Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning Dalam Kurikulum 2013 Dengan diberlakukannya kurikulum 2013, guru harus kreatif dalam mengembangkan metode-metode pembelajaran. Guru harus mengurangi metode ceramah karena itu adalah metode konvensional yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan K-13 ini, dalam mengajar matematika guru tidak boleh langsung "rumus, contoh soal, latihan". Haruslah ada pemberian masalah yang relevan dengan kehidupan sehari-hari di awal kegiatan pembelajaran.
Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum 2013 ini adalah Model Pembelajaran Discovery Learning. Dalam model pembelajaran ini, peserta didik dihadapkan kepada situasi dimana peserta didik bebas menyelidiki dan menarik kesimpulan. Terkaan, intuisi dan mencoba-coba (trial and error) sangat dianjurkan dan guru sebagai penunjuk jalan dan membantu peserta didik agar mempergunakan ide, konsep dan keterampilan yang sudah mereka pelajari untuk menemukan pengetahuan yang baru. Dalam model pembelajaran dengan discovery learning, peran peserta didik cukup besar karena pembelajaran tidak lagi terpusat pada guru tetapi pada peserta didik. Guru memulai kegiatan belajar mengajar dengan menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan peserta didik dan mengorganisir kelas untuk kegiatan seperti pemecahan masalah, investigasi atau aktivitas lainnya. Pemecahan masalah merupakan suatu tahap yang penting dan menentukan. Ini dapat dilakukan secara individu maupun kelompok. Dengan membiasakan peserta didik dalam kegiatan pemecahan masalah dapat diharapkan akan meningkatkan kemampuan peserta didik dalam mengerjakan soal matematika, karena peserta didik dilibatkan dalam berpikir matematika pada saat manipulasi, eksperimen, dan menyelesaikan masalah.
Karakteristik model pembelajaran Discovery Learning ini sesuai dengan kurikulum 2013 yang karakterisktiknya yaitu dalam proses pembelajaran berpusat pada peserta didik, peserta didik yang mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, dan unsur 5M (Mengamati, Menanya, Mengumpulkan informasi, Mengolah informasi, dan Mengkomunikasikan).
20
BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
Selain itu, dalam penilaian juga Model Pembelajaran Discovery Learning dapat dilakukan dengan menggunakan tes maupun nontes, sedangkan penilaian yang digunakan dapat berupa penilaian kognitif, proses, sikap, atau penilaian hasil kerja peserta didik. Jika bentuk penilaiannya berupa penilaian kognitif, maka dalam model pembelajaran discovery learning dapat menggunakan tes tertulis.
Jika bentuk penilaiannya menggunakan penilaian proses, sikap, atau penilaian hasil kerja peserta didik, maka pelaksanaan penilaian dapat dengan pengamatan.
Dalam K-13 juga tidak menitikberatkan bidang kognitif saja, tetapi sikap dan keterampilan juga ikut menjadi bagian penting didalamnya.
DAFTAR PUSTAKA
Berbagi Pengetahuan. Model Pembelajaran Discovery (Penemuan). 24 Oktober 2014.
Faiq, Muhammad. Model Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning) Dalam Implementasi Kurikulum 2013. 24 Oktober 2014.
Fajar, Ibnu. Model Discovery Learning. 24 oktober 2014 . http://ibnufajar75.wordpress.com/2014/05/31/model-model-pembelajaran- yang-sesuai-dengan-kurikulum-2013/
http://nosalmathedu10.blogspot.com/2012/07/model-pembelajaran-discovery- learning.html
http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2014/06/model-pembelajaran- discovery-learning-kurikulum-2013.html
https://docs.google.com/document/d/1lY3rKYKB785ddheIO8PzspODRmSpECO nXLnbC1e3VGo/edit?pli=1
https://www.academia.edu/6644958/Model_Pembelajaran_Discovery_Learning Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan 2013. Model Pembelajaran Penemuan
(Discovery Learning). 24 Oktober 2014.
Nosal, Agustian. Belajar Dan Pembelajaran Matematika Model Pembelajaran Discovery Learning. 24 Oktober 2013.
21 BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
PENINGKATAN HASIL BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI DALAM PEMBELAJARAN IPA POKOK BAHASAN SIFAT DAN PERUBAHAN WUJUD BENDA PADA KELAS III
SEMESTER I SDN 004 LOA JANAN
Asriah
SD Negeri 004 Loa Janan ABSTRAK
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas III di SDN 004 Loa Janan, Pokok bahasan dalam penelitian ini adalah sifat dan perubahan wujud benda menggunakan metode demonstrasi. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak tiga siklus setiap siklus 2 kali pertemuan. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas III berjumlah 21 siswa dan obyek penelitian ini adalah metode demonstrasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi untuk mengetahui nilai hasil belajar , observasi untuk mengetahui aktivitas siswa dan guru, teknik tes untuk mengetahui nilai rata-rata dan hasil belajar siswa. Penelitian dilakukan sebanyak tiga siklus, siklus I sebanyak 2 kali pertemuan dengan 2 kali tes di akhir pertemuan , siklus II sebanyak 2 kali pertemuan dengan 2 kali tes di akhir pertemuan, dan siklus III terdiri dari 2 kali pertemuan dengan 2 kali tes di akhir pertemuan, teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif berupa rata-rata, presentase dan grafik.
Yang bertindak sebagai pelaksana dalam pembelajaran adalah peneliti dan dibantu oleh teman sejawat sebagai obsevator. Hasil Penelitian menunjukan bahwa pada siklus I terjadi peningkatan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa yaitu diperoleh nilai siswa yang berkategori sangat baik dan baik sebanyak 47,62 % Pada Siklus II terjadi peningkatan aktivitas siswa menjadi kategori baik dan hasil belajar siswa menjadi 69,52 berkategori sangat baik dan 23,81 berkategori baik. Pada Siklus III terjadi peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa yaitu nilai hasil belajar siswa terdapat 95,21 % siswa termasuk dalam kategori sangat baik dan baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada kelas IIISDN 004 Loa Janan dan metode demonstrasi dapat dijadikan salah satu alternatif dalam rangka perbaikan proses pembelajaran IPA.
Kata Kunci: Peningkatan, Hasil Belajar, Demonstrasi.
PENDAHULUAN
Pada hakekatnya kegiatan belajar mengajar adalah suatu proses interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa dalam satuan pembelajaran.
22
BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 29, Oktober 2018
Guru sebagai salah satu komponen dalam proses belajar menganjar merupakan pemegang peran yang sangat penting. Guru bukan hanya sekedar penyampai materi saja, tetapi lebih dari itu guru dapat dikatakan sebagai sentral pembelajaran.Sebagai pengatur sekaligus pelaku dalam proses belajar mengajar, gurulah yang mengarahkan bagaimana proses belajar mengajar itu dilaksanakan.
Karena itu guru harus dapat membuat suatu pengajaran menjadi lebeh efektif juga menarik sehingga bahan pelajaran yang disampaikan akan membuat siswa merasa senang dan merasa perlu untuk mempelajari bahan pelajaran tersebut.
Guru mengemban tugas yang berat untuk tercapainya tujuan pendidikan nasional yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia, manusia seutuhnya yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani, juga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta terhadap tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial. Sejalan dengan itu pendidikan nasional akan mampu mewujudkan manusia-manusia pembangunan dan membangun dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
Berhasilnya tujuan pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor diantaranya adalah faktor guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, karena guru secara langsung dapat mempengaruhi, membina dan meningkatkan kecerdasan serta keterampilan siswa. Untuk mengatasi permasalahan di atas dan guna mencapai tujuan pendidikan secara maksimal, peran guru sangat penting dan diharapkan guru memiliki cara/model mengajar yang baik dan mampu memilih model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan konsep-konsep mata pelajaran yang akan disampaikan. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
“Bagaimana penggunaan metodedemonstrasi untuk meningkatkan hasil belajar IPA materi Sifat dan perubahan wujud bendakelas III SDN 004 Loa Janan Tahun pelajaran 2014/2015?”
KAJIAN PUSTAKA
Pengertian Metode Demonstrasi
Menurut Syah (1995:209) Pendekatan metode demonstrasi adalah metode pengajaran dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan dan urutan melaksanakan suatu kegiatan, baik secara langsung menggunakan media yang relavan dengan pokok bahasan atau materi yang disajikan. Menurut Mulyani Sumantri dan Johar Permana ( 2000: 114 ) Metode adalah cara – cara yang ditempuh guru untuk menciptakan situasi pengajaran yang benar-benar menyenangkan dan mendukung bagi kelancaran proses belajar dan tercapainya prestasi belajar anak yang memuaskan. Metode adalah cara yang digunakan guru untuk mengajar dengan berbagai aktifitas supaya tercipta kegiatan belajar yang kondusif dan menyenangkan dan siswa mendapatkan pemahaan dengan jelas.
Metode Demonstrasi menurut Mulyani Sumantri dan Johar Permana (2001:
133) yaitu: Metode demonstrasi diartikan sebagai cara penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada peserta didik suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik dalam bentuk sebenarnya maupun