54 2. Tahap pelaksanaan
HASIL PENELITIAN
f = frekuensi aktivitas siswa
N = Jumlah aktivitas keseluruhan siswa
Tabel Kriteria Waktu Ideal Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran
Aspek Pengamatan Aktivitas Siswa Persentase Kesesuaian (P) Waktu Ideal Toleransi • Mendengarkan, memperhatik
• an penjelasan guru atau teman kelompok • Membaca, memahami soal di LKS
• Membuat soal sesuai dengan informasi yang diberikan dan menjawabnya.
• Mengemukakan soal yang dibuat atau memahami soaldari kelompok lain.
• Bertanya atau menyampaikan pendapat/ide kepada guru dan teman
• Menarik kesimpulan suatu konsep atau prosedur • Perilaku yang tidak relevan dengan Kegiatan Belajar
Mengajar 13% 10% 27% 30% 10% 10% 0% 7%≤ ≤ 18% 5% ≤ ≤ 15% 22% ≤ ≤ 32% 25% ≤ ≤ 35% 5% ≤ ≤ 15% 5% ≤ ≤ 15% 0% ≤ ≤ 5% HASIL PENELITIAN
Analisis Hasil Tes Kemampuan Problem Posing Siswa
Analisis hasil tes problem posing siswa dilakukan untuk memperoleh informasi sejauh mana kemampuan siswa kelas VIII-3 SMP Negeri 8 Banda Aceh dalam membuat soal pada materi bangun ruang. Hal ini sesuai dengan salah satu tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui level problem posing siswa pada kelas VIII SMP 8 Negeri Banda Aceh.
Adapun level problem posing siswa dianalisis dengan mengkategorikan tingkat soal yang dibuat oleh siswa sesuai tingkat berfikir kreatif dari De Bono.
Tabel Level Problem Posing Siswa No Nama Siswa Level Jumlah 1 2 3 4 1 Subjek 1 - 1 1 - 2 2 Subjek 2 - 3 3 - 6 3 Subjek 3 - 2 - - 2 4 Subjek 4 - 3 1 - 4 5 Subjek 5 - 2 1 - 3 6 Subjek 6 - 2 2 4 7 Subjek 7 - 2 1 - 3 8 Subjek 8 - 2 2 - 4 9 Subjek 9 - 2 1 - 3 10 Subjek 10 - 3 3 - 6 11 Subjek 11 - 3 2 - 5 12 Subjek 12 - 1 1 - 2 13 Subjek 13 - 3 2 - 5 14 Subjek 14 - 3 2 - 5 15 Subjek 15 - 2 2 - 4 16 Subjek 16 - 3 2 - 5 17 Subjek 17 - 2 1 - 3 18 Subjek 18 - 3 2 - 5 19 Subjek 19 - 2 2 - 4 20 Subjek 20 - 3 2 - 5
Jumlah 0 47 33 0 80
Berdasarkan Tabel 1 diatas, maka hasil yang didapat tentang level problem posing siswa dapat diperhatikan pada tabel berikut.
Tabel .2 Hasil Level Problem Posing Siswa Level
Jumlah soal yang dibuat %
1 0 0
2 43 53,75
3 33 41,25
4 0 0
Jumlah 80 100
Berdasarkan data yang diperoleh di atas dari 20 siswa, mereka membuat soal sebanyak 80 soal. Dari soal yang terkumpul, tidak ada satupun soal yang berada pada level 1, dan sebanyak 43 soal (53,75%) berada pada level 2, 33 soal (41,25%) berada pada level 3.
Analisis Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran dengan Pendekatan Problem Posing Berdasarkan hasil pengamatan mengenai kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dengan menggunakan pendekatan problem posing pada materi bangun ruang pada tabel dibawah terlihat dari setiap aspek yang diamati dalam mengelola pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing pada materi bangun ruang, oleh pengamat menunjukkan bahwa nilai rata-rata yang diperoleh dalam setiap aspek berkisar antara 4 sampai 4,5, nilai ini berada dalam kategori baik dan sangat baik berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dengan pendekatan problem posing adalah baik. Analisis Aktivitas Siswa Selama Pembelajaran
Berdasarkan data aktivitas siswa selama pembelajaran yang dilakukan oleh dua orang pengamat diketahui bahwa aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung adalah aktif, semua aspek yang diamati dari siswa terlihat berada dalam batas toleransi waktu yang telah ditetapkan, diantaranya adalah aspek mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru/teman dengan jumlah rata 15,10%, membaca/memahami masalah di buku siswa atau LKS dengan jumlah rata-rata 17,18%, membuat soal dari informasi yang diberikan dengan jumlah rata-rata-rata-rata 26,04%, mengemukakan soal yang dibuatnya atau menjawab soal dari kelompok lain dengan jumlah rata-rata 19,79%, bertanya/menyampaikan pendapat/ide kepada guru atau teman sekelompok dengan jumlah rata-rata 8,33%, menarik kesimpulan suatu konsep yang ditemukan atau suatu prosedur yang dikerjakan dengan jumlah rata-rata 7,82%, perilaku yang tidak relavan dengan KBM (seperti: melamun, berjalan-jalan, di luar kelompok belajarnya, membaca buku/mengerjakan tugas mata pelajaran lain, bermain-main dengan teman dan lain-lain) degan jumlah rata-rata 5,73%. Rata-rata waktu yang banyak digunakan adalah waktu untuk membuat soal dari informasi yang diberikan dan mengemukakan soal yang dibuatnya atau menjawab soal dari kelompok lain. Sedangkan waktu yang paling sedikit digunakan adalah untuk perilaku yang tidak relavan dengan KBM. Semua aspek yang dinilai masih berada dalam toleransi waktu yang ditetapkan, sehingga dapat disimpulkan bahwa aktivitas siswa selama pembelajaran matematika menggunakan pendekatan problem posing pada materi bangun ruang untuk masing-masing RPP adalah aktif.
70
PEMBAHASAN
Kemampuan Problem Posing Siswa
Berdasarkan hasil yang diperoleh di atas dari 20 siswa, mereka membuat soal sebanyak 80 soal. Dari data yang terkumpul, tidak ada satupun soal yang berada pada level 1 dan level 4, berdasarkan analisis di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan problem posing siswa kelas VIII3
SMP Negeri 8 Banda Aceh siswa hanya mampu membuat soal yang berada pada level 2 dan level 3. Contoh soal yang dibuat siswa pada level 2 adalah sebagai berikut:
Dan contoh soal yang dibuat siswa pada level 3 adalah sebagai berikut:
Meskipun para ahli merumuskan level problem posing ada empat Namun kenyataannya kebanyakan siswa mengajukan soal berada pada level 2, hal ini terjadi karena siswa belum terbiasa membuat soal sendiri serta menyelesaikannya, juga merupakan salah satu kemungkinan penyebab kurangnya jumlah soal yang diajukan karena mereka takut tidak bisa menyelesaikan soal yang dibuatnya jika mereka membuat soal. Kondisi ini siswa lebih memilih aman dengan membuat soal hanya pada level 2 karena soal pada level ini lebih mudah dan tidak perlu berfikir mendalam dalam menyelesaikannya.
Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran Menggunakan pendekatan problem posing
Pada pertemuan pertama (RPP I) guru memotivasi siswa atau mengkomunikasikan tujuan pembelajaran pada materi bangun ruang melalui pendekatan problem posing dan mengaitkan materi pelajaran yang akan dipelajari dengan materi sebelumnya, kemudian menginformasikan
langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan pendekatan problem posing. Dalam pengamatan guru pembimbing pada pendahuluan pembelajaran termasuk dalam kategori baik.
Pada kegiatan inti guru menyediakan informasi sesuai dengan tujuan pembelajaran yaitu melalui kerja kelompok siswa dapat menghitung volume dengan menggunakan rumus kubus dan balok, kemudian guru mengarahkan, mengamati dan memotivasi siswa dalam membuat soal dan menjawab soal yang berhubungan dengan indikator pada RPP I. Setelah siswa membuat soal, guru mendorong siswa untuk mengemukakan soal yang telah dibuat atau menjawab soal dari kelompok lain hal ini supaya terciptanya interaksi yang optimal dalam belajar karena siswa dapat membandingkan jawaban sendiri dengan jawaban teman, dan bagi siswa yang belum mengerti bisa bertanya atau menukar pendapat dengan teman, kemudian guru mengarahkan siswa untuk menemukan sendiri dan menarik kesimpulan tentang konsep/prinsip definisi/teorema/rumus/prosedur matematika. Pada kegiatan ini yaitu kegiatan inti menurut pengamatan guru pembimbing secara keseluruhan termasuk kategori baik. Namun pada pertemuan pertama ini kemampuan guru dalam mengelola waktu diketagorikan cukup baik.
Pada kegiatan penutup guru menegaskan pada siswa hal-hal penting atau intisari yang berkaitan dengan pembelajaran, kemudian guru juga memberikan PR kepada siswa/menutup pelajaran, pada kegiatan ini menurut guru pembimbing termasuk dalam kategori baik. Dalam kemampuan mengelola waktu antusias siswa dengan guru juga dikategorikan baik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran melalui pendekatan problem posing pada pertemuan pertama (RPP I) adalah baik. Berdasarkan datai diperoleh kemampuan guru pada pertemuan ke dua (RPP II) dalam aspek pendahuluan tentang kemampuan memotivasi siswa/ mengkomunikasikan tujuan pembelajaran, mengaitkan materi pelajaran dengan materi sebelumnya, dan menginformasikan langkah-langkah pembelajaran masih sama dengan pertemuan pertama. Dalam pengamatan guru pembimbing termasuk dalam kategori baik. Pada kegiatan inti guru memberikan konsep baru tentang bagaimana memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan volume kubus dan kubus dalam kehidupan sehari-hari siswa(dikategorikan baik) dan siswa masih dalam kelompok belajar seperti pada pertemuan pertama serta mengoptimalkan interaksi sesama siswa agar siswa saling membandingkan antara soal atau jawaban sendiri dengan jawaban teman. Dalam pengamatan guru pembimbing termasuk dalam kategori baik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran melalui pendekatan problem posing pada dua kali pertemuan adalah baik.
Aktivitas Siswa Selama Pembelajaran dengan pendekatan Problem Posing
Pengamatan aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung menggunakan lembar observasi siswa yang dilakukan oleh satu orang pengamat (selain peneliti). Tiap pengamat melakukan kegiatan pengamatan terhadap satu kelompok sampel yang telah ditentukan jumlah siswanya yaitu sebanyak 6 orang siswa yang dipilih bervariasi berdasarkan tingkat kemampuan yaitu 2 siswa berkemampuan tinggi, 2siswa berkemampuan sedang, dan 2 siswa berkemampuan rendah.
Setelah dilakukan penelitian selama dua kali pertemuan, dapat disimpulkan bahwa salah satu pengaruh yang membuat siswa begitu aktif adalah karena siswa merasakan suasana belajar yang berbeda dari biasanya, yaitu suasana yang baru dimana selama ini model pembelajaran seperti ini belum pernah diperkenalkan oleh guru yang mengajar dikelas tersebut
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan problem posing siswa dkelas VIII SMP Negeri 8 Banda Aceh dalam proses pembelajaran pada materi bangun ruang, berada pada level 2.
Saran
Adapun saran-saran yang dapat penulis berikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Guru matematika hendaknya dapat menggunakan pendekatan problem posing pada materi bangun ruang karena dapat melatih dan meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami dan membuat
72
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian sebagai Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Darmawan, Masri. 2009. Pembelajaran Sistem Persamaan Linier dengan Pendekatan Problem Posing di Kelas X SMA Negeri 8 Banda Aceh. Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala. Hamalik, Oemar. 2003. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Nuharini, Dewi dan Tri Wahyuni. 2008. Matematika Konsep dan Aplikasinya: untuk SMP/MTs Kelas VIII. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
Rusman. 2012. Model-model pembelajaran mengembangkan profesionalisme guru. Jakarta. Rajawali Pers.
Siswono, 2008. Penjenjangan Kemampuan Berpikir Kreatif dan Identifikasi Tahap Berpikir Kreatif Siswa dalam Memecahkan dan Mengajukan Masalah Matematika. Jurnal Pendidikan Matematika “Mathedu”. ISSN 1858-344X, Volume 3 Nomer 1, januari 2008.
Sugiono. 2010. Metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif,kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suharta, Putu. 2001. Peningkatan Pemecahan Masalah Matematika Melalui Pengintegrasian Pengajuan Masalah (Problem Posing). IKIP Negeri Singaraja: Aneka Widya.
Surtini, S. 2004. Problem Posing dan Pembelajaran Operasi Hitung Bilangan Cacah Siswa SD. Jurnal Pendidikan, (Online), Volume 5, No 1, (Http:/pk.ut.ac.id/Scan Penelitian/Sri%2004.pdf.,
diakses 15 Februari 2013).
Wahyuni. 2012. Pembelajaran materi bangun ruang dengan metode improve melalui media interaktif di Kelas VIII SMP Negeri 6 RSBI Banda Aceh. Skripsi. Banda Aceh: FKIP Unsyiah.