Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 15 Banda Aceh pada tanggal 2 Desember 2014 sampai 17 Desember 2014. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri 15 Banda Aceh sedangkan sampelnya adalah dua kelas yang dipilih secara purposive sampling dari setiap guru yang bersangkutan yaitu kelas VIII1 yang terdiri dari 16 siswa dan kelas VIII2 yang terdiri dari 18 siswa. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara dokumentasi,tes dan wawancara. Untuk memperoleh data pengalaman mengajar guru digunakan dokumen daftar keadaan guru dan daftar pembagian tugas guru yang diperbarui setiap 3 bukan sekali. Dokumen daftar keadaan guru dan daftar pembagian tugas guru yang diperhatikan dalam penelitian ini adalah kualifikasi akademik, lama masa mengajar dan sertifikasi guru. Sedangkan data pelatihan/penataran guru digunakan dokumen kumpulan-kumpulan sertifikat yang diperoleh guru tersebut. Data dokumentasi pengalaman mengajar guru akan dianalisis secara diskriptif. Pengalaman mengajar guru dikatakan tinggi atau rendah apabila setiap aspek yang dinilai memenuhi kriteria sebagai berikut:
Tabel 3.1 Kriteria tinggi rendahnya pengalaman guru No. Pengalaman Kriteria
1 Lama masa mengajar guru ≥ 20 tahun
2 Sertifikasi Ada
3 Kualifikasi Akademik S1
4 Pelatihan/Penataran Selama masa mengajar
Tes digunakan satu kali tes, yaitu tes pada materi kelas VII semester genap. Banyak butir soal tes 40 item dalam bentuk pilihan ganda. Tes ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa setelah proses belajar mengajar oleh guru bersangkutan. Data yang diperoleh dari tes akan diuji dengan statistik uji-t pada taraf signifikan 5% α = 0,05. Namun sebelum data diuji dengan statistik uji-t terlebih dahulu diuji persyaratan analisis yaitu normalitas sebaran data. Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara bebas dan pedomannya tidak berstruktur. Hasil wawancara akan dianalisis dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peneliti sebagai pedoman wawancara.
4. Hasil dan Pembahasan
Dalam penelitian ini hasil penelitian yang dilaksanakan di SMP Negeri 15 Banda Aceh, yaitu tentang perbedaan prestasi belajar matematika siswa berdasarkan pengalaman mengajar guru di kelas VIII1 sebagai kelas dari G1 dan kelas VIII2 sebagai kelas dari G2 . Sesuai dengan metode pengolahan data yang telah ditentukan pada bab III, data akan diolah berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.
Adapun data yang diperoleh dari dokumentasi dapat dilihat seperti tertera di bawah ini. Tabel 4.1 data pengalaman mengajar guru
No. Pengalaman Kriteria G1 G2
1 Lama masa mengajar ≥ 20 tahun 30 tahun 6 tahun
2 Sertifikasi Sudah Sudah Belum
3 Kualifikasi Akademik S1 S1/IVb S1/IIIc 4 Pelatihan/penataran Selama masa
mengajar
1145 Jam
Pelajaran 225 Jam Pelajaran Dari tabel di atas terlihat bahwa G1 memenuhi kriteria yang diuji. Sedangkan G2 belum memenuhi kriteria yang diuji. Ini berarti bahwa G1 memiliki pengalaman yang tinggi dan G2
memiliki pengalaman yang kurang. Hal ini menyebabkan kelas VIII1 yaitu kelas dari G1 akan dijadikan sampel I dan kelas VIII2 yaitu kelas dari G2 akan dijadikan sampel II oleh peneliti.
Data prestasi belajar matematika siswa diperoleh dari hasil tes pada materi kelas VII semester genap. Tes ini dilakukan oleh kelas VIII1 dan kelas VIII2 sebagai sampel yang telah melalui proses belajar mengajar pada kelas VII. Adapun nilai yang diperoleh dari pemberian tes dapat dilihat seperti yang tertera di bawah ini.
Tabel 4.2 Nilai tes kelas VIII1 N
o.
Pengalaman Tinggi Kelas VIII1
Nama Siswa Nilai
1 MPF 60 2 RMF 57,5 3 PS 50 4 MSM 45 5 MSF 40 6 SSH 40 7 ARI 37,5 8 ASR 35 9 VD 30 10 ASM 32,5 11 ADP 30 12 TRFU 27,5 13 GA 22,5 14 LA 20 15 ZR 12,5 16 FA 7,5 Jumlah 16
Berdasarkan rekapitulasi nilai tersebut, data disusun dalam bentuk distribusi frekuensi serta menghasilkan rata-rata ̅= 35,18 dan ̅= 30,61 serta simpangan baku = 13,60 dan = 12,31. Selanjutnya dilakukan uji normalitas pada kedua kelas tersebut dengan menggunakan uji
chi kuadrat dengan kriteria pengujiaannya menurut Sudjana (2005:273) adalah tolak H0 jika
χ
2hitung ≥
χ
2tabel dengan α = 0.05 dalam hal ini H0 diterima. Setelah data dianalisis diperoleh kelas VIII1 menghasilkan hitung = 0,063 dan tabel = 9,49. Oleh karena < yaitu0,063 < 9,49 maka dapat disimpulkan bahwa sebaran data hasil tes kelas VIII1 berdistribusi normal. Selanjutnya kelas VIII2 menghasilkan hitung = 0,38 dan tabel = 9,49. Oleh karena
< yaitu 0,38 < 9,49 maka dapat disimpulkan bahwa sebaran data hasil tes kelas
VIII2 berdistribusi normal.
Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah:
H0: µ1 = µ2 Tidak terdapat perbedaan prestasi belajar Matematika siswa berdasarkan pengalaman mengajar guru SMP Negeri 15 Banda Aceh
H1: µ1 ≠ µ2 Terdapat perbedaan prestasi belajar Matematika siswa berdasarkan pengalaman mengajar guru SMP Negeri 15 Banda Aceh
Table 4.3 Nilai Tes kelas VIII2
N o
Pengalaman Kurang Kelas VIII2
Nama Siswa Nilai
1 AR 52,5 2 AN 47,5 3 AHPB 45 4 AU 42,5 5 BA 40 6 CRN 35 7 CHM 32,5 8 FW 30 9 HM 30 10 MTW 30 11 MS 30 12 MRFA 27,5 13 MHHB 25 14 MRK 20 15 NW 20 16 NA 15 17 PEN 7,5 18 RH 5 Jumlah 18
28
Karena pengujian ini adalah pengujian dua pihak, maka menurut Sudjana (2005:239) kriteria pengujian “terima H0 jika –t1-1/2α < t < t1-1/2α, di mana t1-1/2α didapat dari daftar distribusi t dengan dk = (n1 + n2 -2) dan peluang (t1-1/2α), untuk harga-harga t lainnya H0 ditolak”. Dengan taraf signifikan α = 0,05 dan derajat kebebasan dk = (n1 + n2 - 2) = 32 dengan cara interpolasi diperoleh t0,975)(32) = 2,03. Sehingga –ttabel < thitung < ttabel, maka H0 diterima pada taraf signifikan α = 0,05 berarti dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan prestasi belajar matematika siswa berdasarkan pengalaman mengajar guru.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan prestasi belajar matematika siswa berdasarkan pengalaman mengajar guru di SMP Negeri 15 Banda Aceh. Prestasi belajar matematika siswa erat kaitannya dengan pengalaman mengajar guru. Pengalaman mengajar guru merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa dan juga mempunyai peranan yang penting dalam proses belajar mengajar. Ini berarti berkualitas tidaknya prestasi belajar siswa, pengalaman mengajar guru ikut menentukan selain ditentukan oleh faktor-faktor lainnya seperti lingkungan, keluarga, fasilitas dan inteligensi.
Perhatikan diagram berikut ini!
Diagram di atas menunjukkan kumpulan sertifikat-sertifikat pelatihan/penataran yang diperoleh selama masa kerja menurut jam pelajaran masing-masing guru yang bersangkutan. Baik itu pelatihan/penataran pemerintah maupun non-pemerintah. Dibandingkan dengan guru berpengalaman kurang yang lama masa mengajar hanya baru 6 tahun, guru yang berpengalaman tinggi yang lama masa mengajar 30 tahun sudah sewajarnya banyak mengikuti pelatihan/penataran karena lama masa mengajarnya yang sudah lama. Oleh karena itu guru yang telah mengajar selama 30 tahun diharapkan mempunyai kinerja yang sangat bagus. Tingginya prestasi belajar siswa salah satunya dapat diwujudkan melalui kinerja guru yang bagus. Menurut Handayani (2007:34) “Lama masa mengajar guru mempunyai hubungan yang positif terhadap kinerja guru”. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa semakin lama masa mengajar guru maka semakin baik kinerjanya. Itu berarti kemungkinan besar prestasi matematika siswapun semakin meningkat. Guru yang berpengalaman mengajar bertahun-tahun akan dapat memperbaiki keterampilan mengajarnya. Dikarenakan guru tersebut memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan diri. Akan tetapi, guru yang berpengalaman kurang dengan lama masa mengajar hanya 6 tahun belum tentu tidak memiliki kinerja yang sangat bagus. Pada zaman sekarang guru-guru muda dapat memiliki keterampilan mengajar dengan model-model pembelajaran yang baru. Guru-guru muda juga sering mengakses di internet tentang model-model pembelajaran terbaru, hal-hal terbaru yang bersangkutan dengan guru ataupun dengan mata pelajaran matematika, dan juga dapat menguasai teknologi-teknologi pendukung pembelajaran matematika dengan sangat baik yang dapat membuat siswa aktif dalam proses belajar mengajar, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar
matematika siswa. Sedangkan guru yang telah mengajar selama 30 tahun cenderung menggunakan cara belajar konvensional. Dengan alasan pada umur, guru lama cenderung tidak ingin mempelajari cara-cara mengajar yang baru. Cara mengajar yang dapat membuat siswa aktif dalam proses belajar mengajar. Hal ini mengakibatkan banyak siswa yang pasif saat proses belajar mengajar berlangsung sehingga tidak dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa. Dari penjelasan tersebut, guru yang berpengalaman tinggi maupun berpengalaman kurang belum tentu mempunyai kinerja yang bagus dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
Ada beberapa hal yang ditemukan peneliti saat melakukan penelitian yaitu kurangnya karakter dan minat belajar pada anak. Mereka tidak memperhatikan pelajaran saat proses belajar mengajar sedang berlangsung. Mereka cenderung membuat keributan bahkan tidur disaat jam pelajaran masih berlangsung. Hal ini bukan disebabkan oleh guru yang mempunyai kinerja yang tidak bagus. Bahkan sebaliknya, guru sudah sangat berusaha keras untuk mengubah karakter dan meningkatkan minat belajar mereka. Kurangnya karakter dan minat anak untuk belajar tidak akan memperbaiki prestasi belajar mereka, karena tidak adanya kesadaran mereka terhadap diri mereka sendiri sebagai individu, walaupun mereka diajari oleh guru yang mempunyai pengalaman tinggi sekalipun.
5. Kesimpulan
Bedasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan adalah: Tidak terdapat perbedaan prestasi belajar matematika siswa berdasarkan pengalaman mengajar guru SMP Negeri 15 Banda Aceh dan guru yang berpengalaman tinggi maupun kurang belum tentu mempunyai kinerja yang bagus dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa serta kurangnya karakter dan minat anak untuk belajar tidak akan memperbaiki prestasi belajar mereka, karena tidak adanya kesadaran mereka terhadap diri mereka sendiri sebagai individu, walaupun mereka diajari oleh guru yang mempunyai pengalaman tinggi sekalipun.
Daftar Pustaka
Abdurrahman, Mulyono. 1999. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta
Arikunto, Suharsimi. 2005. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
---. 2010. Prosedur Penelitian Suati Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta
Barker dan Pophan. 1992. Bagaimana Maengajar Secara Sistematis (Terjemahan). Jakarta: Erlangga
Dalyono. 1997. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:Rineka Cipta Djamarah, Syaiful. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:Rineka Cipta
Drost. 2003. Proses Pembelajaran Sebagai Proses Pendidikan. Jakarta: PT. Gramedia
Durkaya, Merve. 2011. Secondary School Mathematics Teachers Approaches to Students Possible Mistakes. (Jurnal). Erzurum: Ataturk University
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala. 2012. Pedoman Penulisan Skripsi. Banda Aceh.
Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Handayani, Susi. 2007. Hubungan Antara Pengalaman Mengajar Guru Ekonomi SMA Negeri Kota Banda Aceh. (Skripsi). Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala
Mansor, Rosnidar.2010. Teachers Knowledge That Promote Students Conceptual Understanding. (Jurnal). Tanjung Malim: Universiti Pendidikan Sultan Idris
Margono. 1997. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Muslich, Masnur. 2007. Sertifikasi Guru Menuju Profesionalisme Pendidik. Jakarta: PT. Bumi Aksara
30
Purwanto, Ngalim. 2005. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya
Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta Sudijono, Anas. 2006. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT. Grafindo Persada Sudjana. 2002. Metode Statistika. Bandung: Trasito
Suhirman. 2008. Pengaruh Pendidikan, Pelatihan dan Pengalaman Mengajar terhadap Profesionalisme Guru. (Online), (http://ilmiah-pendidikan.blogspot.com diakses 23 Agustus 2014)
Suratno. 1985. Profesional Pendidik. Jakarta: Rineka Cipta
Suryosubroto. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta Tirtarahardja, Umar. 1995. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud. Usman, Uzer. 2006. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Analisis Kemampuan Representasi Matematis Siswa Kelas IX SMPN 6 Banda Aceh dalam Menyelesaikan
Soal Kontes Literasi Matematika (KLM) Ellianti1, Rahmah Johar2, dan Asmaul Husna3
1 Program studi pendidikan Matematika FKIP Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh Email: [email protected]
2 Dosen Program studi pendidikan Matematika FKIP Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
3 Dosen Program studi pendidikan Matematika FKIP Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
Abstrak. Peringkat Indonesia di ajang evaluasi berskala internasional seperti PISA masih rendah, salah satu penyebabnya adalah banyaknya materi yang diujikan dalam PISA tidak terdapat dalam kurikulum Indonesia, sehingga untuk menyosialisasikan soal-soal PISA diadakan evaluasi matematika berskala nasional yaitu Kontes Literasi Matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kemampuan representasi matematis siswa dalam menyelesaikan soal Kontes Literasi Matematika (KLM) tahun 2013 pada kelas IX SMPN 6 Banda Aceh tahun ajaran 2014/ 2015. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data penelitian diperoleh melalui tes tulis dan wawancara. Analisis data dilakukan secara deskriptif terhadap hasil tes tulis dan wawancara siswa yang mengacu pada pedoman penilaian kemampuan representasi matematis siswa. Kriteria pemilihan subjek penelitian adalah keunikan jawaban siswa pada saat tes tulis dan kesediaan siswa untuk diwawancarai. Materi yang diujikan mencakup change and relationship, quantity serta space and shape. Penyelesaian masalah pada Kontes Literasi Matematika dalam bentuk gambar, model matematika, tabel atau kata-kata. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa kemampuan representasi matematis siswa dalam menyelesaikan soal Kontes Literasi Matematika pada seleksi tingkat Rayon tahun 2013 termasuk rendah. Dari hasil tes terhadap 4 konteks yang diambil dari soal KLM 2013 untuk mengukur kemampuan representasi matematis siswa yaitu candi Borobudur, tarif taksi, hasil pertandingan sepak bola dan calung menunjukkan bahwa kemampuan representasi matematis siswa paling lemah pada konteks calung. Kendala yang dihadapi siswa dalam menyelesaikan soal-soal tersebut adalah kesulitan siswa dalam menemukan kata kunci dan memahami informasi dalam soal, ketidakmampuan siswa mengaitkan informasi dengan konsep matematika yang sesuai, lemahnya kemampuan siswa dalam membuat model matematika dan kurangnya ketelitian dalam melakukan perhitungan.
Kata kunci: literasi matematika, representasi matematis, kontes literasi matematika, model matematika, sosialisasi soal PISA
1. Pendahuluan
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib dipelajari bagi jenjang pendidikan dasar dan menengah. Hal ini sesuai dengan UU RI nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Badan Standar Nasional Pendidikan (2006:140) dalam Standar Isi menyatakan bahwa tujuan dari pelajaran matematika untuk semua jenjang pendidikan tingkat dasar dan menengah agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep tersebut dan mampu mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah,
32
2. menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika, 3. memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model
matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh,
4. mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah,
5. memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Untuk mengetahui pencapaian yang dilakukan siswa selama mempelajari matematika, dibutuhkan evaluasi secara berkala. Hal ini dapat membantu pemerintah untuk terus memperbaiki mutu pendidikan Indonesia sehingga mampu bersaing ditingkat internasional. Evaluasi yang berskala internasional contohnya adalah PISA (Programme for International Student Assessment) yang mengukur kemampuan literasi matematika siswa. PISA merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiap 3 tahun dan diikuti oleh negara-negara yang menjadi anggota OECD (Organization for Economic Cooperation and Develompment) dan bertujuan untuk mengembangkan pemahaman yang baik bagi siswa sehingga dapat meningkatkan kualitas dan pengaruh dari hasil belajar, hak semua siswa untuk memperoleh kesempatan belajar, efektivitas dan efisiensi dari proses pembelajaran yang telah dilakukan (OECD: 2010). Sebenarnya PISA juga menguji kemampuan lain yaitu kemampuan membaca dan juga sains yang diperuntukkan bagi anak yang berusia 15 tahun.
Pada kegiatan PISA, siswa dihadapkan pada soal yang bersifat kontekstual yang mengukur kemampuan dan kecakapan mereka dalam mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam pemecahan masalah dalam kehidupan nyata. PISA pertama kali diselenggarakan pada tahun 2000. Indonesia telah berpartisipasi dalam PISA sejak pertama kali diselenggarakan. Namun, peringkat yang diperoleh Indonesia sungguh memprihatinkan. Berikut adalah peringkat Indonesia berdasarkan studi PISA dibandingkan dengan negara-negara lain:
Tabel 1. Peringkat Indonesia dalam PISA Tahun Studi Mata Pelajaran Skor rata-rata Indonesia Skor rata-rata Internasional Peringkat Indonesia Jumlah Negara Peserta Studi 2000 Matematika 367 500 39 41 2003 Matematika 360 500 38 40 2006 Matematika 391 500 50 57 2009 Matematika 371 500 61 65
(Sumber: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Penelitian Dan Pengembangan, 2011) Dari tabel 1 dapat dilihat bahwa peringkat Indonesia sering kali menempati urutan bawah. Misalnya pada tahun 2009 Indonesia memperoleh peringkat 5 terendah dari 65 negara peserta dalam kemampuan literasi matematika dengan nilai rata-rata hanya 371. Hal ini terjadi karena siswa Indonesia hanya mampu menjawab soal dalam kategori rendah dan sangat sedikit bahkan hampir tidak ada siswa yang mampu menjawab soal tingkat tinggi. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan siswa Indonesia masih di bawah rata-rata (Putri, 2013:2).
Perolehan ini mengindikasikan bahwa kemampuan siswa di Indonesia khususnya dalam bidang matematika masih sangat rendah. Oleh karenanya, Indonesia bekerjasama dengan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) mengadakan Kontes Literasi Matematika (KLM) yang bertujuan untuk menyosialisasikan soal-soal tipe PISA terhadap siswa dan guru sehingga mereka dapat mengenal dengan baik soal-soal tipe PISA yang diujikan di skala Internasional. Seperti halnya PISA, KLM juga mengukur kemampuan pelajar berumur 15 tahun, tapi khusus di bidang matematika. Adapun soal-soal KLM dibuat oleh tim PMRI dengan mengacu pada situasi nyata
mencakup konteks pribadi (personal), konteks pekerjaan (occupational), konteks sosial (social) dan konteks ilmu pengetahuan (scientific). Kemampuan proses yang diukur oleh PISA dan KLM berdasarkan kerangka penilaian literasi matematika salah satunya adalah kemampuan representasi Matematis (Wardhani, 2011: 17-18).
Kemampuan representasi merupakan cara yang digunakan siswa untuk mengomunikasikan ide, gagasan atau pemecahan masalah. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan Hudiono (Aryanti, 2013:2) bahwa kemampuan representasi dapat mendukung siswa dalam memahami konsep-konsep matematika yang dipelajari dan keterkaitannya untuk mengkomunikasikan ide-ide atau gagasan matematika siswa, untuk lebih mengenal keterkaitan (koneksi) diantara konsep-konsep matematika, ataupun menerapkan matematika pada permasalahan matematik realistik melalui pemodelan. Kemampuan representasi matematis mengarahkan siswa dalam menemukan dan membuat suatu alat berpikir dalam menyampaikan informasi matematis dari hal yang bersifat abstrak menuju hal konkret sehingga lebih mudah untuk dimengerti oleh siswa (Effendi, 2012:2). OECD (2009:33) menyatakan bahwa perubahan konsep matematis dari satu representasi ke representasi lainnya adalah kemampuan yang paling mendasar untuk keberhasilan pemecahan masalah matematis.
Johar dalam Seminar Matematika dan Terapan (SiManTap) (2013:13) menyebutkan bahwa hanya ada 5 (lima) siswa yang dapat menuliskan model matematika dari masalah yang diajukan, padahal ada 93 siswa SMP yang mengikuti KLM 2013 di Banda Aceh tersebut. Rata-rata siswa mengalami kesulitan dalam mengomunikasikan permasalahan yang diberikan ke dalam model matematika dengan benar. Siswa diminta untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan, namun ada beberapa siswa yang justru membuat cerita baru dari permasalahan tersebut.
Hal ini juga disampaikan dalam laporan hasil Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) (Pratiwi, 2013:3) yang menyebutkan bahwa kemampuan siswa dalam merepresentasikan ide atau konsep matematis dalam beberapa materi tertentu tergolong rendah. Berdasarkan uraian permasalahan di atas, rumusan masalah dalam tulisan ini adalah: bagaimana kemampuan representasi matematis siswa kelas IX SMPN 6 Banda Aceh dalam menyelesaikan soal Kontes Literasi Matematika (KLM)?
2. Tinjauan Pustaka
Menurut OECD (Kamaliyah, dkk., 2013:4), definisi literasi matematika adalah sebuah kapasitas individual untuk mengidentifikasi dan memahami peran matematika dalam kehidupan yang membantu seseorang dalam membuat sebuah keputusan berdasarkan fakta yang ada. Jadi mempelajari konsep matematika penting untuk dilakukan, namun menerapkannya dalam kehidupan untuk membantu memecahkan masalah sehari-hari jauh lebih penting. Sedangkan menurut Wardhani, literasi matematika adalah kemampuan seseorang untuk merumuskan, menerapkan dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks, termasuk kemampuan melakukan penalaran secara matematis dan menggunakan konsep, prosedur, dan fakta untuk menggambarkan, menjelaskan atau memperkirakan fenomena/kejadian (Wardhani, 2011: 12) Secara garis besar, National Council of Teachers Mathematics (NCTM) menyatakan literasi matematika memuat lima standar keterampilan proses yang harus dikuasai oleh siswa (2000:7) yaitu: pemecahan masalah matematis (mathematical problem solving), komunikasi matematis (mathematical communication), penalaran matematis (mathematical reasoning), koneksi matematis (mathematical connection), dan representasi matematis (mathematical representation). Salah satu keterampilan proses adalah kemampuan representasi matematis. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), representasi adalah perbuatan mewakili, keadaan diwakili, apa yang
34
mewakili, atau perwakilan. Pendapat lain mengatakan bahwa Kemampuan representasi matematis adalah salah satu keterampilan proses yang berkaitan dengan kemampuan siswa menyampaikan laporan, gagasan, dan ide (Yuniawatika, 2011:12). Sedangkan menurut Pratiwi (2013:2), kemampuan representasi matematis adalah kemampuan seseorang untuk menyatakan sesuatu dalam bentuk tertentu, baik berupa gambar, simbol, persamaan matematis, maupun kata-kata, sehingga dapat dipahami bahwa representasi matematis adalah menciptakan bentuk matematis dari suatu pernyataan agar lebih mudah dipahami.
Selanjutnya menurut Cai, Lane dan Jakabcsin (dalam Suryana, 2012:4) representasi merupakan cara yang digunakan seseorang untuk mengemukakan jawaban atau mengomunikasikan gagasan matematis yang bersangkutan dari bentuk abstrak ke bentuk konkret. Representasi yang sering digunakan dalam mengomunikasikan matematika antara lain tabel, gambar, grafik, ekspresi atau notasi matematis, serta menulis dengan bahasa sendiri, baik formal maupun informal. NCTM (Haji, 2014:2) dalam standar representasi meyakinkan bahwa mengekspresikan ide-ide dan hubungan matematika dengan penggunaan simbol-simbol, diagram, grafik, memanipulasi, dan diagram adalah metode tepat. NCTM juga menetapkan kemampuan representasi matematis berupa program pembelajaran dari pra-taman kanak-kanak sampai kelas 12 yang mengarahkan siswa untuk: (1) menciptakan dan menggunakan representasi untuk mengorganisir, mencatat, dan mengomunikasikan ide-ide matematis; (2) memilih, menerapkan, dan menerjemahkan representasi matematis untuk memecahkan masalah; dan (3) menggunakan representasi untuk memodelkan dan menginterpretasikan fenomena fisik, sosial, dan fenomena matematis.
Dapat disimpulkan bahwa kemampuan representasi matematis mengarahkan siswa dalam menemukan dan membuat suatu alat berpikir dalam menyampaikan informasi matematis dari hal yang bersifat abstrak menuju hal konkret sehingga lebih mudah untuk dimengerti oleh siswa