• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

B. Analisis Data

1. Hasil Tes Kemampuan Awal (TKA)

Banyak siswa yang mengikuti TKA ada 10 siswa dan banyak siswa yang diwawancari ada 5 siswa.

a. Indikator soal nomor 1 : Menentukan jenis sudut yang dibentuk dari dua garis sejajar yang dipotong oleh garis lain.

Soal nomor 1 : Perhatikan gambar di bawah ini!

Misalkan besar sudut 5 adalah 135o. Tentukan besar sudut dan jenis sudut pada pasangan sudut-sudut di bawah ini!

b. ∠1 dan ∠8 c. ∠3 dan ∠7

Tabel 4.4 Hasil-Hasil TKA Siswa Nomor 1

Siswa Hasil yang Dicapai Siswa

Siswa 1

Gambar 4.1 Jawaban Siswa 1 pada TKA Nomor 1 Siswa belum dapat menentukan besar dan jenis sudut yang dibentuk dari dua garis sejajar yang dipotong oleh garis lain. Terlihat dari lembar jawab, siswa hanya dapat menjawab secara tepat pada 1 pertanyaan yaitu pada soal poin a besar ∠2 (baca: sudut 2). Peneliti melihat bahwa siswa hanya berpaku pada sudut yang diketahui yaitu ∠5. Sehingga siswa mendapatkan jawaban yang tepat pada besar ∠2. Pada lembar jawab siswa, peneliti melihat

siswa belum dapat memahami hubungan antar dua sudut. Sehingga semua pertanyaan tentang jenis sudut, siswa tidak menjawab dengan tepat.

Siswa 2

Gambar 4.2 Jawaban Siswa 2 pada TKA Nomor 1 Pada lembar jawab, siswa hanya menuliskan jawaban seperti di atas. Siswa terlihat tidak memahami soal dengan baik. Sehingga siswa hanya menuliskan poin b yaitu ∠1 dan ∠8. Siswa tidak menjawab besar sudut dan jenis sudut.

Siswa 3

Gambar 4.3 Jawaban Siswa 3 pada TKA Nomor 1 Pada lembar jawab, siswa menjawab pertanyaan besar sudut dengan tepat. Namun siswa tidak menjawab pertanyaan tentang jenis sudut pada pasangan sudut-sudut yang diberikan pada soal. Dalam pekerjaan soal nomor 1, siswa sudah mampu dalam menentukan besar sudut.

Siswa 4

Gambar 4.4 Jawaban Siswa 4 pada TKA Nomor 1 Jawaban nomor 1, siswa sudah tepat dalam menentukan besar sudut dan jenis sudut pada pasangan sudut-sudut yang diberikan pada soal. Pada lembar jawab, siswa mengerjakan soal secara terperinci, bagaimana siswa mendapatkan jawaban dengan benar. Siswa sudah mampu memahami soal yang diberikan dengan menjawabnya secara tepat.

Hasil wawancara

Peneliti tidak tanyakan karena jawaban dari siswa benar. Siswa 5

Gambar 4.5 Jawaban Siswa 5 pada TKA Nomor 1 Pada lembar jawab, siswa hanya menuliskan jawaban

seperti di atas. Siswa mengerjakannya secara ragu-ragu, terlihat dari banyaknya coretan pada lembar jawab. Siswa terlihat tidak memahami soal dengan baik. Sehingga siswa hanya menuliskan poin b yaitu ∠1 dan ∠8. Siswa tidak menjawab besar sudut dan jenis sudut.

Siswa 6

Gambar 4.6 Jawaban Siswa 6 pada TKA Nomor 1 Pada lembar jawab, siswa hanya menuliskan langsung jawabannya. Namun jawaban yang diberikan siswa kurang tepat. Siswa tidak menjabarkan bagaimana mendapatkan besar ∠2 dan ∠6 adalah 55o

. Apabila jawaban tersebut dari 180o - 135o dan hasil yang didapat siswa adalah 55o, maka siswa kurang teliti dalam operasi pengurangan. Dalam pekerjaan siswa, terlihat bahwa siswa belum memahami soal sehingga siswa belum mampu menentukan jenis sudut yang dibentuk dari dua garis sejajar yang dipotong oleh garis lain. Hal ini terlihat karena siswa menjawab secara masing-masing sudut, yaitu sudut lancip dan sudut tumpul.

Siswa 7

Gambar 4.1 Jawaban Siswa 1 pada TKA Nomor 1 Pada lembar jawab siswa nomor 1 di poin a, siswa sudah menjawab dengan baik dan hanya kurang dalam pertanyaan besar ∠6. Namun siswa sudah dapat menentukan jenis pasangan ∠2 dan ∠6 dengan tepat. Pada lembar jawab poin b, siswa sudah menjawab secara tepat besar sudut yang ditanyakan. Namun dalam menentukan jenis sudut dari pasangan ∠1 dan ∠8, siswa kurang tepat saat menjawab. Pada lembar jawab poin c, siswa sudah menjawab secara tepat dalam menentukan besar sudut dan jenis sudut pada pasangan ∠3 dan ∠7. Secara keseluruhan siswa sudah mampu memahami soal dan hampir mencapai indikator.

Hasil wawancara

P : “Lupa dikit. Di sini di nomor satu, baik, bener nomornya. Tapi yang kurang yang b, yang b coba yang bertolak belakang sebenarnya yang kayak gimana?”

S7 : ”Bertolakbelakang. Hadap-hadapan. Gini..” P : “Iya bertolakbelakang kalau dari 1 sama...?” S7 : “Sama 4”

P : “4. Kalau dari 5?” S7 : “8”

P : “6?” S7 : “7”

P : “Nah pertanyaannya adalah 1 dan 8. 1 dan 8. Dia beda 4 berarti?”

S7 : “Sek, berapa ya? 3” P : “Luar?”

S7 : “Samping”

P : “Terus ini apa di atas sama bawah? Dia di atas dan dia di bawah”

S7 : “Bertolakbelakang” P : “Bukan bertolakbelakang” S7 : “Eh...”

P : “Ini dari sini ke sini. Luar dan? Apa kalau dari sini ke sini? Melewati satu garis”

S7 : “Lupa” P : “Berse...” S7 : “Bersepadu”

P : “Kalau kita mau melewati kan ini jalan, kamu di sini, kamu mau ke toko yang ini, kamu harus apa melewati itu apa namanya? Pakai zebra cross. Luar?”

S7 : “Luar berseberangan”

P : “Iya, luar berseberangan gitu”

Dengan bantuan pertanyaan dari peneliti, siswa mengganti jawabannya pada soal nomor 1 poin b dengan sudut luar berseberangan. Meskipun jawaban siswa sudah dia benarkan, namun siswa tersebut masih dikatakan belum memahami sifat-sifat dari garis dan sudut.

Kesimpulan

Siswa sudah dapat mengerjakan soal dengan baik. Walaupun hanya satu bagian yang salah, setelah diwawancari siswa dapat menjawab dengan benar.

Siswa 8

Gambar 4.8 Jawaban Siswa 8 pada TKA Nomor 1 Siswa belum dapat memahami soal dengan baik, terlihat dari pekerjaan siswa di lembar kerja. Dari semua poin yang diberikan, siswa hanya menjawab dengan benar di poin b. Namun dalam poin b siswa tidak memberikan jawaban jenis sudut. Siswa belum dapat menentukan besar sudut dan jenis sudut yang dibentuk dari dua garis sejajar yang dipotong oleh garis lain.

Hasil wawancara

P : “Nah, di sini ada yang namanya besar sudut menentukan besar sudut dan jenis sudut. Kamu bisa kan menentukan besar sudut dan jenis sudut?” S8 : “Ee..”

P : “Misalnya tadi, sudut dua dan ∠6 posisinya di mana? Sama-sama di?”

S8 : “Sama-sama di.. Iya.”

P : “Sama-sama menghadap kanan. Kalau ini kan ke kanan dan berada di atas garis c. Sama-sama menghadap ke tempat yang sama. Berarti hubungan antara ∠2 dan ∠6 adalah sudut?”

S8 : “Ee..” P : “Se..?” S8 : “Sehadap”

P : “Iya. Hubungannya adalah sudut sehadap. Nah, di sini kamu tidak ditulis, lupa ya? Ada penentuan tentukan besar sudut dan jenis sudutnya. Sudut pada pasangan. Sudut- sudut di bawah ini. Pasangan. Jenisnya apa. Kalau 2 dan 6 adalah sehadap, kalau 1 dan 8?”

P : “Berarti ada di mana? Dalam atau luar?” S8 : “Ee.. Luar.”

P : “Iya. Luar berseberangan. Sekarang yang c. ∠3 dan ∠7.”

S8 : “Sehadap.”

P : “Iya. Sehadap juga. Kalau besar sudutnya sekarang. Kalau ∠2 dan ∠6 kamu darimana dapatkannya? dapat 50 darimana?”

S8 : “Ngasal aja.”

P : “Coba dilihat ini adalah berapa derajat?” S8 : “135”

P : “Iya soalnya ini dari 135. Sudut enam ini berapa? Kalau di sini 135, ∠6 berapa? Bisa didapat dengan cara apa? Ini garis, besar sudut garis itu berapa?” S8 : “180. Iya, 180.”

P : “Iya. Jadi kalau di sini 180, di sini 135, sudut enamnya berapa?”

S8 : “100. Eh.. 45”

P : “Berapa? Kalau udah 100 berarti gak mungkin 100 lagi. Berarti?”

S8 : “45”

P : “Iya, 45. Nah, lagi di sini, ∠6 ada 45. Ada ∠2?” S8 : “Sama”

P : “Iya. Bener. Kenapa ragu? ∠2 bener jadinya sehadap karena 45 juga. ∠1 dan ∠8. Tadi bertolakbelakang nilai sudutnya berapa?”

S8 : “135”

P : “Iya, bener. Tapi tadi jenis sudutnya berseberangan udah bener tapi kurangnya di sini. Jadinya nilainya berkurang. Ada pertanyaan lagi. Nah, kalau ∠3 dan ∠7, kamu tadi jawab adalah sudut sehadap, besar sudutnya? Harusnya berapa? ∠3 dan ∠7?”

S8 : “Ya 45.”

Siswa mampu untuk menentukan jenis pasangan sudut setelah peneliti memberikan contoh sedikit. Siswa menjawab dengan benar, namun perlu diumpan terlebih dahulu dengan pertanyaan

Kesimpulan

soal yang berkaitan dengan besar sudut dan jenisnya. Siswa masih perlu bimbingan peneliti untuk mendapatkan pengetahuan tentang sudut.

Siswa 9

Gambar 4.9 Jawaban Siswa 9 pada TKA Nomor 1 Pada lembar jawab siswa nomor 1 di poin a, siswa sudah menjawab dengan tepat untuk pertanyaan besar ∠2 dan ∠6. Namun siswa belum dapat menentukan jenis pasangan ∠2 dan ∠6 dengan tepat. Siswa menuliskan jenis masing-masing sudut tersebut yaitu sudut lancip. Pada lembar jawab poin b, siswa belum menjawab secara tepat besar sudut yang ditanyakan. Siswa memberikan penjabaran yang kurang tepat dalam mendapatkan besar ∠1 dan ∠8. Selain itu, siswa masih belum dapat

menentukan jenis pasangan ∠1 dan ∠8. Pada lembar jawab poin c, jawaban yang diberikan sama seperti jawaban pada poin b. Siswa belum menjawab secara tepat besar sudut dan jenis sudut pada ∠3 dan ∠7.

Hasil wawancara

P : “Jadi kan ada soal yang hubungan antar dua sudut yang dibatasi oleh dua sudut dari dua garis sejajar yang dibatasi oleh, yang dipotongkan oleh atu garis lurus, garis lengkung jangan, masih garis lurus, itu bisa ngerjainnya?”

S9 : “Udah lupa”

P : “Udah lupa. Nah di sini kamu jawabnya ∠5. Gimana ∠5, yang ini ya?”

S9 : “Iya”

P : “135, yang ditanyakan adalah besar ∠2 dan besar ∠6.”

S9 : “Sudut 6.”

P : “Besar ∠2 yang mana?” S9 : “Yang ini..”

P : “Besar ∠6?” S9 : “Yang ini..”

P : “Bisa nggak mencari besar ∠2 dan ∠6? Di sini kamu mencarinya dengan 135o – 90o. Kenapa bisa 135o – 90o, alasannya seperti apa?”

S9 : “Tak kirain itu kan kayak sudut lancip gitu.”

P : “Iya, ini sudut lancip gitu. Ini juga sudut lancip. Nah ini sudut?”

S9 : “Suduuut ...” P : “Lancip?” S9 : “Bukan” P : “Apa?”

S9 : “Ehm apa namanya aku lupa. Tu, tumpul.”

P : “Iya sudut tumpul. Nah di sini ada sudut lancip dan sudut tumpul. 135 sudut tumpul karena lebih dari?” S9 : “90o.”

P : “90o Kalau sudut tumpul? Suduh lancip? Eh sudut tumpul lebih dari 90o, sudut lancip?”

S9 : “Kurang dari 90o.”

P : “Kurang dari 90o. Nah satu garis ini besar sudutnya berapa?”

P : “180o. Kalau garis ini 180o, sudut 5 sudah 135o, sudut 6 berapa?”

S9 : “45o

P : “Iya 45o. Tapi kenapa penjelasannya 135o – 90o? Benar 45o, cuman untuk mencari sudut 6 atau sudut 2 itu bukan dikurangi 90o. Tapi dari 180o – 135o S9 : “180o – 135o

P : “Nah di sini kalau sudut 1 dan 8?” S9 : “1 dan 8 tumpul.”

P : “Yang mana? Yang ini dan ini? Sudut 1 dan 8. Tapi kalau sudut tumpul di sini kamu 15o sudut tumpul atau sudut lancip?”

S9 : “Sudut lancip.”

P : “Sudut lancip. Padahal tadi kamu sudah jawab sudut tumpul. Jadi untuk mendapatkan 1 dan 8, besar sudut 1 dan 8 dari mana?”

S9 : “Jadi 180 dikurangi ...” P : “Dikurangi yang mana?” S9 : “Ini”

P : “Yang mana? Sudut?” S9 : “Tumpul”

P : “Kan yang ditanya sudut 8, sudut 8 itu tumpul, berarti 180o dikurangi yang mana?”

S9 : “Yang 8”

P : “Kan 8 belum diketahui, yang ditanyakan.” S9 : “Oh berarti 5.”

P : “5. Yang satu garis yang mana?” S9 : “Yang 6”

P : “Yang satu garis yang 6. Berarti 180o dikurangi besar sudut 6. Sudut 6 tadi berapa?”

S9 : “90o P : “Berapa?” S9 : “45o

P : “45o tadi dari 180o kurangi berapa?” S9 : “180o – 135o

P : “Iya untuk sudut 3 dan sudut 7 bisa juga?” S9 : “Lancip. 180o dikurangi ...”

P : “Yang mana? Mau yang 5 atau yang 8, iya kan?” S9 : “Iya”

P : “Karena bisa satu garis. Nah itu baru besar sudutnya. Kalau jenis sudutnya? Kalau jenis sudutnya bukan sudut lancip bukan sudut siku-siku. Tapi ... yang mana 2 dan 6. Sudut? 2 dan 6 ini namanya sudut apa?”

S9 : “Suduuut?”

S9 : “Ke atas.”

P : “Ke kanan kan, kanan dan atas. Posisinya sama ya di atas semua. Berarti nama sudutnya? Hubungan mereka berdua?”

S9 : “Lurus. “

P : “Garis lurus satu dan dua. Apa? Ke arah mana dia?”

S9 : “Kanan”

P : “Kanan semua kan, kalau kanan semua berarti? Se...?”

S9 : “Sejajar?”

P : “Sehadap. Masih ingat nggak sehadap? Iya kalau nomor 1 dan 8?”

S9 : “1 dan 8, ehmm apa, iih... “ P : “Luar?”

S9 : “Luar sehadap”

P : “Ayo sehadap apa? Satu kan di kiri delapan di kanan, berarti?”

S9 : “Luar bersebrangan”

P : “Iya luar bersebrangan gitu. Yang C, sudut 3 dan sudut 7? 3 dan 7?”

S9 : “Sehadap”

P : “Iya sehadap. Karena ke arah yang mana?” S9 : “Ke kiri.”

P : “Sudah ke kiri tempatnya sama di bawah garis c.” Dari hasil wawancara, siswa pada akhirnya sudah mampu menentukan besar sudut dan jenis sudut pada pasangan sudut. Siswa mampu memberikan jawaban dengan baik dari pertanyaan yang diberikan oleh peneliti.

Kesimpulan

Pada lembar kerja, siswa belum mampu memberikan jawaban secara tepat. Namun pada hasil wawancara, siswa sudah mampu untuk memahami dan menentukan besar sudut dan jenis sudut pada pasangan sudut.

Siswa 10

Gambar 4.10 Jawaban Siswa 10 pada TKA Nomor 1 Pada lembar jawab nomor 1, siswa sudah tepat dalam menentukan besar sudut dan jenis sudut pada pasangan sudut-sudut yang diberikan pada soal. Pada lembar jawab, siswa mengerjakan soal secara terperinci, bagaimana siswa mendapatkan jawaban dengan benar. Siswa sudah mampu memahami soal yang diberikan dengan menjawabnya secara tepat.

Hasil wawancara

P : “Coba kita lihat. Nomor 1? Udah benar tapi ada yang kurang. Sehadap luar. Sehadap luar itu apa sih? Adanya sehadap aja.”

S10 : “Oo iya..”

P : “Ada kah sehadap luar? Adanya sehadap aja.” S10 : “Iya ya”

P : “Terus satu tujuh juga.. Bisa nih dua enam ke arah kanan. Satu tujuh ke arah kiri. Tapi gak ada yang di luar gak ada yang di dalam. Kalau di luar dalam

itu kan berseberangan.”

Peneliti memastikan kepada siswa tentang adanya jenis sudut sehadap luar. Dari hasil wawancara siswa sadar bahwa tidak ada sudut yang namanya sudut sehadap luar. Kesimpulan

Siswa menyelesaikan soal dengan baik. Namun karena adanya kesalahan dalam menyebutkan nama jenis sudut, maka siswa salah sedikit pada soal nomor 1. Setelah wawancara siswa sadar bahwa tidak ada sudut sehadap luar.

Kesimpulan :

1) Banyak siswa yang dapat menentukan besar sudut secara tepat pada poin:

a) ada 5 orang = 50 % b) ada 6 orang = 60 % c) ada 4 orang = 40 %

2) Banyak siswa yang belum dapat menentukan besar sudut secara tepat pada poin:

a) ada 5 orang = 50 % b) ada 4 orang = 40 % c) ada 6 orang = 60 %

3) Banyak siswa yang dapat menentukan jenis sudut yang berpasangan secara tepat pada poin:

a) ada 3 orang = 30 % b) ada 2 orang = 20 % c) ada 3 orang = 30 %

4) Banyak siswa yang belum dapat menentukan jenis sudut yang berpasangan secara tepat pada poin:

a) ada 7 orang = 70 % b) ada 8 orang = 80 % c) ada 7 orang = 70 %

b. Indikator soal nomor 2 : Menentukan panjang salah satu sisi dari segitiga siku-siku apabila panjang sisi-sisi lainnya sudah diketahui.

Soal nomor 2 : Perhatikan gambar di bawah ini!

Panjang AB = 6 cm, AC = 8 cm, dan DC = 24 cm. Tentukan panjang BD! Tabel 4.5 Hasil-Hasil TKA Siswa Nomor 2

Siswa Hasil yang Dicapai Siswa

Siswa 1

Pada lembar jawab nomor 2, siswa menjawab kurang tepat. Konsep yang dipakai siswa sudah benar yaitu dengan dalil Pythagoras. Namun dalam penyelesaian soal ini, siswa belum mengaplikasikannya dengan benar. Siswa belum mampu menentukan panjang salah satu sisi dari segitiga siku-siku apabila panjang sisi-sisi lainnya sudah diketahui.

Siswa 2

Gambar 4.12 Jawaban Siswa 2 pada TKA Nomor 2 Siswa hanya menuliskan jawabannya seperti pada gambar di atas. Siswa tidak menggunakan dalil Pythagoras dalam menyelesaikan soal yang diberikan. Sehingga siswa terlihat belum mampu dalam menentukan salah satu panjang sisi dari segitiga siku-siku apabila panjang sisi-sisi lainnya diketahui.

Siswa 3

Gambar 4.13 Jawaban Siswa 3 pada TKA Nomor 2 Pada lembar jawab nomor 2, siswa secara tepat menjawab pertanyaan. Penjabaran yang diberikan sudah baik dan dapat dipahami. Dan hasil yang siswa peroleh melalui proses sudah tepat. Siswa sudah mampu dalam menentukan panjang sisi suatu segitiga dengan menggunakan dalil Pythagoras.

Siswa 4

Siswa secara tepat menjawab pertanyaan. Penjabaran yang diberikan sudah baik dan dapat dimengerti. Pada awalnya terlihat siswa kurang yakin, terlihat terdapat coretan. Namun hanya pada awal penulisan rumus, setelahnya selama dalam proses siswa sudah dengan lancar menjawabnya. Dan hasil yang siswa peroleh melalui proses sudah tepat. Siswa sudah mampu dalam menentukan panjang sisi suatu segitiga dengan menggunakan dalil Pythagoras.

Hasil wawancara

Tidak peneliti tanyakan karena sudah tepat dalam menentukan panjang BD.

Siswa 5

Gambar 4.15 Jawaban Siswa 5 pada TKA Nomor 2 Pada lembar jawab, siswa menentukan panjang BD tidak dengan dalil Pythagoras. Siswa menentukan panjang BD dengan menjumlahkan apa yang diketahui dalam soal. Terlihat bahwa siswa belum memahami konsep dari segitiga siku-siku yang dapat mengunakan dalil Pythagoras dalam menentukan panjang salah satu dari segitiga siku-siku apabila sisi lainnya diketahui. Sehingga

jawaban siswa pada nomor 2 tidak tepat. Siswa 6

Gambar 4.16 Jawaban Siswa 6 pada TKA Nomor 2 Pada lembar jawab, siswa menentukan panjang BD tidak dengan dalil Pythagoras. Siswa menentukan panjang BD dengan mengurangkan sisi DC oleh penjumlahan dari sisi AB dan sisi AC. Terlihat bahwa siswa belum memahami konsep dari segitiga siku-siku yang dapat mengunakan dalil Pythagoras dalam menentukan panjang salah satu dari segitiga siku-siku apabila sisi lainnya diketahui. Sehingga jawaban siswa pada nomor 2 tidak tepat.

Siswa 7

Gambar 4.17 Jawaban Siswa 7 pada TKA Nomor 2 Penyelesaian soal dari siswa pada nomor 2, siswa belum memahami konsep dari dalil Pythagoras. Jawaban siswa kurang tepat karena dalam proses menentukan panjang sisi BC tidak menguadratkan masing-masing suku. Sehingga panjang BD yang diminta pun kurang tepat.

Dalam penulisan besaran panjang, siswa belum paham, terlihat dari pemberian tanda kurung.

Hasil wawancara

P : “Nomor 2. Ini kenapa?” S7 : “Lupa”

P : “Pake apa seharusnya?” S7 : “Lupa akar kuadratnya.” P : “Berarti namanya pake apa?” S7 : “Pythagoras”

P : “Pythagoras. Nah di atas ini kok ada ini? Ini punya siapa ini? Punya S7 kan?”

S7 : “He em”

P : “S7 di atasnya aku melihat ada penghapus bekas penghapus nih, ada kuadrat-kuadrat”

S7 : “Itu salah”

P : “Oh salah ngitung, tapi ini ada kuadratnya sudah bener. Konsepnya pakai Pythagoras. Berarti? Sudah tahu ya kesalahannya. Kurang kuadrat. Jadi 8 untuk mencari BC sisi miring ditambah bener tapi kurang kuadrat. Yang BD ditambah juga kuadrat. Gak apa-apa, belajar. Jadi untuk yang garis singgung juga besok pakai Pythagoras. Jangan lupa diakar kuadratkan.”

Dari hasil wawancara, siswa belum mampu mengerjakan soal secara mandiri. Siswa hanya memberikan alasan bahwa dirinya lupa menggunakan dalil Pythagoras yang semestinya di tiap sisi diberikan kuadrat.

Kesimpulan

Siswa belum mampu menyelesaikan soal dengan menggunakan dalil Pythagoras. Siswa kurang teliti dalam pengerjaan soal sehingga dia melupakan pemberian kuadrat pada tiap panjang sisi saat mencari panjang sisi

lainnya. Siswa 8

Gambar 4.18 Jawaban Siswa 8 pada TKA Nomor 2 Pada lembar jawab, siswa menentukan panjang BD tidak dengan dalil Pythagoras. Siswa menentukan panjang BD dengan mengurangkan sisi DC oleh penjumlahan dari sisi AB dan sisi AC. Terlihat bahwa siswa belum memahami konsep dari segitiga siku-siku yang dapat menggunakan dalil Pythagoras dalam menentukan panjang salah satu dari segitiga siku-siku apabila sisi lainnya diketahui. Sehingga jawaban siswa pada nomor 2 tidak tepat.

Hasil wawancara

P : “Nomor 2 kamu mengerjakannya.. BD didapat dari AC, dikuadratkan dikurangi AB kuadrat? Apakah benar?”

S8 : “Tidak.”

P : “Tidak. Coba, di sini sisi miringnya untuk mencari BD harus diketahui apa? Ini gambar bangun datar apa sih?”

S8 : “Segitiga.”

P : “CBD segitiga apa?” S8 : “Ee.. Siku-siku.”

P : “Iya. Siku-siku. Kalau segitiga siku-siku memakai rumus?”

S8 : “Pythagoras.”

pernah denger? Kalau rumus Pythagoras sepertinya bisa ya? Kayak gimana?”

S8 : “Ee..”

P : “Coba disebutkan. rumus Pythagoras? Siku-sikunya di C, berarti? Sudut terpanjangnya adalah? Termiring.”

S8 : “BD”

P : “Atau DB. Berarti DB? Coba ditulis.. Coba dikerjakan di sini.. Untuk mencari BD seperti apa? Pythagoras? BD2 sama dengan? Alasnya yang mana sih untuk siku-siku ini?”

S8 : “BC”

P : ”Iya, tingginya yang CB. Kalau gitu, untuk mencari DB? BD?”

S8 : “Ee.. DC2 + CB2

P : “Iya. Nah, yang belum diketahui lagi kan CB, yang diketahui kan apa? Masih CD kan? 242 yang belum diketahui lagi kan adalah CB. CB didapat dari mana? Segitiga ABC. Coba. Di sini CB didapat dari apa?”

S8 : “CA2 + BA2?”

P : “Sama dengan CB2. Coba dihitung yuk! Coba di sini CB2 sama dengan CA2. CA2 berapa?”

S8 : “Delapan”

P : “Delapan kuadrat?” S8 : “Enam puluh empat” P : “Iya. BA?”

S8 : “Tiga puluh enam” P : “64 + 36?”

S8 : “Seratus”

P : “Mudahkan angkanya? 100. Di sini kan angkanya CB2. Nah dapat nih CB2 100. 242, coba pake cara yang tadi, kan cepet tuh. Yang kotak-kotak.“

S8 : “Lima ratus..”

P : “576 + 100 berapa?”

S8 : “Enam ratus tujuh puluh enam.” P : “Coba diakarin 676.”

S8 : “Dua puluh enam.”

P : “Iya, makanya mudahkan 26? 26 cm untuk DB jadinya Pythagoras. Seperti ini. Untuk panjang garis singgungnya lagi juga pake Pythagoras. Tadi aku lihat kuisnya masih kurang kuadratnya ya? Kalau tambah sisi paling panjang ditambahin sama dengan penjumlahan itu bisa cuma kurang kuadrat.”

Siswa perlahan siswa mampu untuk menghitung panjang BD, namum siswa memerlukan langkah dari peneliti terlebih dahulu. Siswa belum dapat mengerjakan soal secara mandiri dan rata-rata yang mengerjakan adalah hasil dari arahan peneliti.

Siswa belum memahami konsep dari segitiga siku-siku dengan baik, sehingga untuk pengerjaaan soal yang agak rumit, siswa belum dapat mencapai indikator yang ada. Siswa 9

Gambar 4.19 Jawaban Siswa 9 pada TKA Nomor 2 Siswa sudah dapat menerapkan dalil Pythagoras dalam pengerjaan soal. Untuk menentukan panjang BD siswa hampir tepat dalam menjawab. Terlihat bahwa siswa kurang teliti dalam berhitung. Siswa menuliskan bahwa 242 = 570 yang seharusnya jawaban yang tepat adalah 576. Siswa sudah mampu dalam menentukan salah satu

panjang sisi segitiga siku-siku dengan menggunakan dalil Pythagoras, hanya siswa perlu ketelitian dalam perhitungannya.

Hasil wawancara

P : “Sekarang nomor 2. Konsepnya sudah bener, perhitungannya coba. Sampai BC, sudah?”

S9 : “Sudah.” P : “Bener.” S9 : “Bener.”

P : “Kalau sampai D, BD? 242 + 102, dioret-oret.” S9 : “Salah”

P : “Salah di mana?”

Dokumen terkait