BAB 4. HASIL PENELITIAN
4.5 Hasil Wawancara dengan Komite Medik
Wawancara yang dilakukan dengan komite medik bahwa belum ada kebijakan dari pihak manajemen untuk pengelolaan rekam medis. Evaluasi juga belum dilakukan karena belum pernah ada laporan tertulis untuk kelengkapan rekam medis.
Selama ini komite medik kurang melakukan tugas dan fungsinya secara formal tetapi pendekatan yang dilakukan terhadapn dokter terutama dalam hal kelengkapan rekam medis lebih sering dilakukan dengan cara informal dan kekeluargaan. Perawat dan petugas rekam medis lebih sering mengingatkan dokter secara langsung untuk pengisian rekam medis.
Sanksi yang diterapkan kepada dokter belum perlu dilakukan karena mengingat kondisi rumah sakit yang sangat kekurangan tenaga dokter terutama
spesialis jika sanksi dilakukan ditakutkan membuat dokter spesialis tidak bersedia ditempatkan di RSU H Sahudin Kutacane.
4.5 Hasil Wawancara dengan Sekretaris Rumah Sakit
Sekretaris rumah sakit mengakui bahwa masih banyak terdapat ketidaklengkapan dalam pengisian rekam medis oleh dokter. Usaha untuk memberikan pemahaman terhadap pentingnya pengisian rekam medis selama ini memang masih kurang dilakukan oleh pihak manajemen kepada tenaga medis maupun paramedis.
Sekretaris mengatakan tidak tahu pasti apa yang menyebabkan dokter tidak mengisi dengan lengkap data rekam medis. Pihak manajemen mengalami kesulitan dalam meningkatkan sikap dan motivasi para dokter khususnya dokter spesialis untuk melengkapi pengisian rekam medis karena kelangkaan tenaga dokter spesialis yang bersedia ditugaskan di RSU H Sahudin Kutacane. Oleh karena itu untuk memberikan sanksi sulit untuk dilakukan.
Komite medis belum berperan dalam memotivasi para dokter dalam pengisian rekam medis. Selama ini, komite medis belum melakukan pengawasan ataupun pengecekkan langsung terhadap pengisian rekam medis. Walaupun sebagai rumah sakit pusat rujukan di Kutacane dan kabupaten sekitar rumah sakit ini belum memiliki lingkungan kerja yang standar dan masih kurang nyaman dan belum memiliki standar operasional prosedur untuk pengisian rekam medis.
BAB 5 PEMBAHASAN
5.1 Faktor Umur yang Memengaruhi Kinerja Dokter dalam Kelengkapan Pencatatan Rekam Medis Rawat Inap di RSU H Sahudin Kutacane
Hasil analisis umur diperoleh bahwa umur informan berkisar dari 28 tahun sampai 52 tahun. Menurut Azwar (2005) umur adalah salah satu faktor yang dapat menggambarkan kematangan seseorang baik kematangan fisik,psikis maupun sosial.
Andrew Mc Ghie (1996) mengatakan bahwa semakin tua umur seseorang akan mengalami perubahan kepribadian berkaitan dengan usia yang sebenarnya sehingga dapat dikatakan dokter yang semakin tua mempunyai kematangan, bertanggung jawab dan lebih teliti dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
Hal ini berbeda dengan pendapat Gibson (2006) bahwa pada umur 40-54 tahun merupakan tahap perawatan yang ditandai dengan usaha untuk stabilisasi dari hasil usaha masa lampau, pada tahap ini seseorang sangat memerlukan penghargaan mereka tidak lagi membutuhkan peningkatan karir. Mardiani (2013) mengatakan bahwa tidak ada perbedaan umur antara dokter tua dan dokter muda dalam kelengkapan pencatatan rekam medis dalam manajemen klaim pada pasien rawat inap di RSUD Dr. Zainal Abidin Banda Aceh.Hal ini sesuai dengan kenyataan hasil observasi yang dilakukan terhadap 100 berkas rekam medis bahwa umur informan tidak memengaruhi kinerja dokter dalam kelengkapan pencatatan rekam medis rawat inap di RSU H Sahudin Kutacane.
5.2 Faktor Jenis Kelamin yang Memengaruhi Kinerja Dokter dalam Kelengkapan Pencatatan Rekam Medis Rawat Inap di RSU H Sahudin Kutacane
Hasil analisa menunjukkan bahwa sebagian besar informan adalah laki-laki yaitu sebanyak 10 orang dan perempuan 3 orang. Gibson (1996) mengatakan bahwa jenis kelamin tidak memberikan pengaruh tidak langsung kepada kinerja individu.
Menurut pendapat Wasti Soemanto (2011) dalam Mardiani (2012) mengatakan bahwa yang membedakan antara laki-laki dan perempuan adalah dalam hal peranan dan perhatian terhadap sesuatu pekerjaan dan itupun merupakan akibat pengaruh kultural, hal ini bisa diartikan bahwa tidak ada perbedaan tanggung jawab dan beban kerja antara pria dan wanita. Sehingga dapat disimpulkan bahwa antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan mempunyai tanggung jawab yang sama dalam pengisian data rekam medis.
Pada hasil wawancara dan observasi yang dilakukan terhadap 100 berkas rekam medis jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap kinerja informan dalam pengisian kelengkapan rekam medis rawat inap, hal ini menunjukkan bahwa kinerja tidak tergantung pada jenis kelamin karena kinerja dalah kewajiban yang harus dilaksanakan berdasarkan standar prosedur yang telah ditentukan.
5.3 Faktor Lama Kerja yang Memengaruhi Kinerja Dokter dalam Kelengkapan Pencatatan Rekam Medis Rawat Inap di RSU H Sahudin Kutacane
Hasil wawancara menunjukkan bahwa masa kerja informan berkisar dari 4 bulan sampai dengan 15 tahun. Budi W (2005) mengatakan bahwa masa kerja adalah waktu mulai bekerja dimana pengalam kerja ikut menentukan kinerja seseorang.
Seseorang bekerja semakin lama disuatu tempat, artinya mereka sudah terbiasa sehingga hasil yang dikerjakan akan semakin baik, sehingga dapat disimpulkan bahwa responden yang telah lama bekerja akan semakin berpengalaman karena sudah terbiasa sehingga hasil yang dihasilkan akan semakin baik termasuk dalam melengkapi data rekam medis pasien. Gibson (1996) menyatakan bahwa pengalaman berpengaruh terhadap perilaku dan prestasi kerja individu. Hal ini tidak sesuai dengan hasil wawancara dan observasi terhadap 100 berkas rekam medis bahwa tidak ada perbedaan yang besar antara informan dengan masa kerja singkat dan lama dalam kelengkapan pencatatan rekam medis rawat inap di RSU H Sahudin Kutacane. Hal ini dapat dijelaskan bahwa masa kerja tidak berpengaruh terhadap kinerja dokter dalam kelengkapan pencatatan rekam medis rawat inap di RSU H Sahudin Kutacane.
Abdurrahman (2008) meneliti tentang lama kerja staf keperawatan terhadap sistem pendokumentasian menunjukkan bahwa staf lama kerja tidak memberi pengaruh terhadap kinerja perawat dalam membuat suatu pendokumentasian yang baik.Waruna (2003) usia,masa kerja, dan waktu dokter perhari yang tersedia di rumah sakit tidak berhubungan dengan persentase rekam medis yang diisi oleh dokter
.
5.4 Faktor Pengetahuan yang Memengaruhi Kinerja Dokter dalam Kelengkapan Pencatatan Rekam Medis Rawat Inap di RSU H Sahudin Kutacane
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 269/Menkes/Per/III/2008 tentang praktik kedokteran mengatakan bahwa dokter, dokter gigi diwajibkan membuat rekam medis
dengan sanksi pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp 50 juta jika tidak mengindahkannya dengan sengaja.
Pengetahuan informan terhadap kelengkapan pencatatan rekam medis dapat dilihat pada wawancara tentang peranan dokter dalam melengkapi dokumen rekam medis rawat inap, informasi dan instruksi tentang pengisian dokumen rekam medis rawat inap. Salah satu hasil wawancara dan observasi informan mengetahui bahwa mengisi rekam medis bukan mutlak tanggung jawab mereka semata, informan merasa bahwa tugas pokok mereka yang terutama hanya pada pelayanan saja “tugas kami yang utama khan pelayanan pasien kalu untuk status (rekam medis) bisa kerjasama dengan perawat dan bagian RM”.
Salah satu fungsi yang paling utama dari sebuah rumah sakit adalah untuk menyediakan perawatan berkualitas tinggi terhadap semua orang termasuk pasien.
Berdasarkan hasil wawancara mendalam tentang tanggung jawab dokter dalam mengisi rekam medis dapat didapatkan hasil pengetahuan informan belum memahami secara benar akan lembaran-lembaran yang harus diisi oleh dokter dantanggung jawab dalam melengkapi rekam medisseperti yang dikutip pada salah satu hasil wawancara “Kewajiban kami mengisi halaman di status mengisi resume medis, instruksi dokter, informed consent ditanda tangani kadang ada juga mengisi SKBN”.
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 269/Menkes/Per/III/2008 bahwa isi rekam medis untuk pasien rawat inap dan perawatan satu hari sekurang-kurangnya memuat identitas pasien, tanggal dan waktu, hasil anamnesis mencakup sekurang–
kurangnya keluhan dan riwayat penyakit, hasil pemeriksaan fisik dan penunjang
medik, diagnosa, rencana penatalaksanaan, pengobatan dan/atau tindakan persetujuan tindakan bila diperlukan, catatan observasi klinis dan hasil pengobatan, ringkasan pulang (discharger summary), nama dan tanda tangan dokter, dokter gigi atau tenaga kesehatan tertentu yang memberikan pelayanan, pelayanan lain yang dilakukan oleh tenaga kesehatan tertentu dan untuk pasien kasus gigi dilengkapi dengan odotogram klinik. Jawaban yang diperoleh selama wawancara atau pun observasi sebagian besar informan hanya mengisi informed consent, instruksi dokter, resume medis disertai dengan tanda tangan.
Dalam mengukur kinerja pada penelitian ini peneliti melakukannya dengan memeriksa berkas rekam medis pasien yang seyogyannya lengkap diisi oleh dokter sebagaimana yang diamanahkan oleh UU Praktek Kedokteran No.29/2004 dan Preturan Menteri Kesehatan RI No. 269/Menkes/Per/III/2008 dan dapat dilihat dari tabel 4.2. diatas dapat diketahui bahwa rekam medis pasien rawat inap tidak lengkap terutama pada lembaran diagnosa,anamnese awal dan akhir dan resume keluar .
Pengukuran dengan cara memeriksa berkas ini menunjukkan performance yang sebenarnya dari dokter dalam pengisian rekam medis sehingga ketika dihubungkan dengan jawaban mereka atas pertanyaan yang terdapat pada wawancara mendalam semuanya dapat diketahui.
Lembaran yang tidak lengkap disebabkan karena dokter terburu-buru, banyak pasien,sibuk ini tidak sesuai dengan hasil observasi peneliti bahwa pasien tidak terlalu banyak dan tidak ada RS lain di kutacane selain RSU H Sahudin Kutacane dan hanya praktek swasta pada sore hari.
Pada hasil wawancara tentang pengetahuan dokter dalam mengisi rekam medis khususnya dalam hal identitas pasien dan resume medis untuk pasien keluar diketahui bahwa pengetahuan informan masih kurang pada pasien rawat inap.
Menurut Depkes RI (2007) resume telah ditulis pada saat pasien pulang dalam keadaan apapun.
Ilyas (2002) mengatakan bahwa pengetahuan salah satu faktor yang memengaruhi kinerja, ini sesuai dengan hasil penelitian bahwa pengetahuan yang kurang mengakibatkan kinerja dokter dalam memahami peranannya dalam melengkapi dokumen rekam medis baik juga kurang.
5.5 Faktor Sikap yang Memengaruhi Kinerja Dokter dalam Kelengkapan Pencatatan Rekam Medis Rawat Inap di RSU H Sahudin Kutacane
Penyelenggaraan pelayanan kesehatan di rumah sakit menuntut terselenggaranya tertib administrasi karena dengan tertibnya administrasi merupakan salah satu faktor baik buruknya pelayanan tersebut. Pengelolaan rekam medis merupakan salah satu unsur yangpenting menuju tertib administrasi.Tanpa didukung dengan rekam medis yang tepat dan benar, upaya menuju tertib administrasi rumah sakit akan kurang berhasil sebagaimana yang diharapkan, seperti yang diketahui rekam medis mempunyai kegunaan yang sangat luas, mencakup aspek administrasi, legal, finansial, riset, edukasi dan dokumentasi. Oleh karena itu sudahselayaknya penyelenggaraan rekam medis mendapat perhatian khusus.
Melalui wawancara tentang sikap dokter dalam menyikapi angka ketidaklengkapan rekam medis, kriteria lengkap tidaknya dokumen rekam medis
rawat inap yang harus diisi, dapat diketahui tentang sikap dokter. Salah satu wawancara yang dilakukan oleh peneliti“ pastinya berapa angkanya saya kurang tau tapi pasti tinggi karena sering jadi masalah waktu pengklaiman jasa” didapatkan kesimpulan bahwa dokter mengetahui angka kelengkapan rekam medis masih tinggi tetapi tidak mengetahui secara jelas dan pasti berapa jumlah angka kelengkapan tersebut. Hal ini didukung oleh penyataan pihak manejer rumah sakit bahwa angka kelengkapan rekam medis di RSU H Sahudin Kutacane masih sangat tinggi.
Chairunnisa (2000) mengatakan bahwa salah satu indikator pelayanan yang baik adalah kepatuhan terhadap standar yang ditetapkan termasuk cara pengisian rekam medis yang lengkap dan legal. Rekam medis yang lengkap adalah mencerminkan mutu pelayanan medis yang diberikan kepada pasien (Huffman,Edna K,1994). Berdasarkan hasil survei pendahuluan yang dilakukan pada 100 berkas rekam medis secara acak berkas yang tidak lengkap mencapai 50% dengan menurut waktu maksimal pengembaliannya kebagian rekam medis untuk pasien rawat inap adalah 2 x 24 jam dengan standar kelengkapan pengisian rekam medis 100% (Depkes RI,2007) adalah hanya sebesar 20%. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 269/Menkes/Per/III/2008 bahwa isi rekam medis untuk pasien rawat inap dan perawatan satu hari sekurang-kurangnya memuat identitas pasien, tanggal dan waktu, hasil anamnesis mencakup sekurang–kurangnya keluhan dan riwayat penyakit, hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medik, diagnosa, rencana penatalaksanaan, pengobatan dan/atau tindakan persetujuan tindakan bila diperlukan, catatan observasi klinis dan hasil pengobatan, ringkasan pulang (discharger summary), nama dan tanda tangan dokter, dokter gigi atau tenaga kesehatan tertentu yang memberikan
pelayanan, pelayanan lain yang dilakukan oleh tenaga kesehatan tertentu dan untuk pasien kasus gigi dilengkapi dengan odotogram klinik.
Hasil observasi dan pengamatan didapatkan bahwa pada diagnosa, hasil anamnese awal dan pulang, tanda tangan dan ringkasan pulang banyak yang tidak tercantum. Hal ini sesuai dengan penelitian Purnamawati (2008) di RSUP H Adam Malik Medan menunjukkan ketidaklengkapan rekam medis yang masih tinggi di RS tersebut disebabkan ketidaksesuaian penulisan diagnosa waktu masuk dan diagnosa keluar serta tanda tangan dokter yang tidak tercantum. Hasil wawancara mendalam hal-hal yang menyebabkan rekam medis tidak lengkap antara lain karena sibuk, tidak ada waktu, pasien yang menumpuk, dan pergantian dokter yang sering terjadi di RSU H Sahudin Kutacane terutama pada ruangan penyakit dalam, bedah dan kebidanan.
Pihak manajer rumah sakit juga mengetahui hal ini tetapi berdasarkan pengamatan dan hasil wawancara mendalam “Bila ditanya angka saya tidak tahu tapi dari hasil beberapalaporan dan pengamatan saya masih cukup tinggi”dapat disimpulkan bahwa tidak pernah ada laporan secara tertulis baik dari pihak rekam medis maupun komite medis sehingga angka kelengkapan rekam medis tidak pernah ada laporan secara tertulis sehingga angka kelengkapannya tidak pasti. Syahrial (2009) menunjukkan bahwa terdapat pengaruh gaya kepemimpinan dan kemampuan kepala bidang terhadap kinerja pegawai pelayanan keperawatan jiwa di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara.
Rekam medis yang tidak lengkap dan terlambat berkecenderungan menimbulkan kerugian dan menyebabkan meningkatnya pembiayaan yang harus
dibayar oleh manajemen rumah sakit (Hatta,2003). Kerugian dan meningkatnya pembiayaan di akibatkan karena sering bertambahnya berkas rekam medis yang harus dimiliki pasien rawat inap lebih dari 1 (satu) rekam medis pada saat akan melakukan kunjungan ulang karena rekam medis pasien masih belum kembali ke bagian rekam medis. Diakui oleh Sekretaris RSU H Sahudin Kutacane bahwa efek dari tidak lengkapnya berkas rekam medis adalah sulitnya rumah sakit melakukan klaim jasa pelayanan. Hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa angka kelengkapan rekam medis masih cukup tinggi tetapi belum pernah dilakukan penelitian ataupun laporan tentang angka ketidaklengkapan tersebut. Dalam hal ini sikap dokter dalam memahami angka ketidaklengkapan rekam medis, penyebab akan terjadinya hal itu dan peranan dokter dalam kelengkapan pencatatan rekam medis rawat inap kurang baik sehingga memengaruhi kinerja dokter dalam kelengkapan pencatatan rekam medis rawat inap di RSU H Sahudin Kutacane.
Kelengkapan rekam medis rawat inap di RSU H Sahudin Kutacane masih kurang dapat berdasarkan hasil observasi terhadap 100 berkas rekam medis seperti dibawah ini :
a. Tanggal Masuk Pasien
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa kelengkapan rekam medis menurut tanggal masuk pasien rawat inap lengkap sebanyak 90 rekam medis (100%).
Pengisian tanggal masuk diisi oleh petugas bagian tempat penerimaan pasien rawat inap atau sering disebut sentral opname tetapi dari hasil observasi terkadang
dapat diisi juga oleh perawat diruangan. Berdasarkan wawancara mendalam terhadap informan bahwa pengisian diisi oleh perawat.
Kelengkapan pengisian tanggal masuk pasien pada lembar rekam medis sangat penting untuk menentukan kapan pasien masuk, tindakan apa saja yang sudah dilakukan dan berapa lama di rawat, karena hal ini berkaitan dengan pembiayaan atau biaya administrasi yang akan ditanggung oleh keluarga pasien, karena dapat dihitung dengan mengetahui tanggal pasien masuk kebagian rawat inap.
b. Waktu Masuk
Pengisian waktu masuk diisi oleh petugas bagian tempat penerimaan pasien rawat inap atau sering disebut sentral opname. Setelah dilakukan wawancara terhadap perawat penyebab tidak lengkapnya pengisian waktu masuk pasien rawat inap, petugas menyatakan kurang mengerti pentingnya mengisi kolom waktu masuk dan petugas mempunyai tugas rangkap yaitu sebagai tenaga medis sekaligus tenaga administrasi dan kadang-kadang lupa untuk mengisi waktu masuk pasien.
Berdasarkan hasil wawancara informan menyatakan bahwa waktu masuk bukanlah kewajiban mereka untuk diisi yang dikutip dari salah satu hasil wawancara “Kalau poli biasanya nomor dan nama dah diisi sama petugas RM kalo rawat inap perawat yang isiin nama dan identitas pasien karena semua status udah dikasih nomor sama petugas RM “ dan hasil ini dibandingkan dengan wawancara dan observasi dengan perawat diketahui perawat kurang mengerti kegunaan pengisian waktu masuk pasien rawat inap sebagai bagian kelengkapan rekam medis yang digunakan sebagai bahan pertanggungjawaban dan laporan rumah sakit.
Hal ini tidak berbeda dengan penelitian yang dilakukan Pamungkas dkk tahun 2010 di rumah sakit PKU Muhammdiyah Yogyakarta bahwa tanggal masuk pasien yang lengkap sebesar 94 rekam medis (100%) sedangkan pengisian waktu masuk pasien rawat inap yang lengkap sebesar 51 rekam medis (54,61%) dan tidak lengkap 43 rekam medis (45,39%).
Pengisian waktu masuk pasien rawat inap harus diisi dengan jelas, dan petugas yang mengisi berkas rekam medis harus bisa membedakan cara penulisan waktu masuk pasien, jika pasien diterima atau masuk siang sampai malam hari, maka penulisan waktu masuknya harus 13.00 WIB-24.00 WIB. Namun jika pasien rawat inap masuk subuh sampai dengan siang hari maka penulisannya menggunakan cara 01.00 WIB-12.00 WIB. Jika pengisian waktu masuk salah pasien masuk malam hari misal jam 20.15 WIB ternyata dalam penulisan dalam berkas rekam medis pasien rwat inap tertulis 08.15 WIB. Hal ini dapat menyebabkan kerugian bagi pihak rumah sakit seharusnya pasien sudah mengalami perawatan lebih dari 12 jam.
Jadi penulisan waktu masuk harus jelas karena dari catatan ini dapat diketahui kapan, jam berapa pasien masuk dan berapa lama pasien menjalani rawat inap. Hal ini erat kaitannya dengan pembiayaan yang akan ditanggung oleh pasien/keluarganya.
c. Anamnese
Berdasarkan anamnese pasien rawat inap yang lengkap sebesar 75% dan tidak lengkap sebesar 15%.Pengisian anamnese pasien rawat inap dilakukan oleh dokter/tenaga kesehatan di ruang perawatan. Setelah dilakukan wawancara dengan informan tidak lengkapnya pengisian anamnese pasien rawat inap, disebabkan
laporan antara si pasien ataupun yang mengantar pasien untuk dirawat yang kurang jelas, banyak pertanyaan yang diajukan menyebabkan ketidak mampuan pasien untuk menjawab dengan benardisebabkan kondisi pasien yang tidak memungkin untuk menjawab semua pertanyaan.
Beberapa hal yang menyebabkan pasien tidak mampu menjawab pertanyaan antara lain pasien dalam keadaan gawat darurat, pasien dalam keadaan tidak sadar yang membutuhkan pertolongan segera. Jika pasien tidak mampu menjawab pertannyaan yang diajukan, bisa ditanyakan kepada keluarga pasien atau yang merujuk pasien ke rumah sakit untuk dirawat inap, karena pihak keluarga pasien yang lebih mengetahui kondisi pasien sebelum dibawa ke rumah sakit.Hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan Ratmanasuci (2008) di RSUD Kota Semarang dimana anamnese rekam medis pasien rawat inap yang tidak lengkap sebesar 56,47 % dan lengkap sebesar 43,53%.
Anamnese pasien rawat inap harus dilakukan, karena anamnese pasien merupakan inforekam medisasi yang dibutuhkan untuk melakukan tindakan pelayanan kesehatan yang diberikan ke pasien. Tujuan pokok data anamnese diperlukan untuk memberikan bahan pelengkap bagi dokter untuk menetapkan diagnosis yang menjadi dasar tindakan pengobatan terhadap seorang pasien. Hal lain yang mendukung anamnese pasien rawat inap adalah diperlukan hasil pemeriksaan laboratorium maupun hasil rontgen yang dilakukan terhadap pasien sehingga didapat
diagnose yang tepat. Dengan lengkapnya anamnese pasien rawat inap memudahkan dokter untuk memberikan jenis obat, jenis perawatan dan sebagainya.
d. Pemeriksaan Fisik
Berdasarkan pemeriksaan fisik pasien rawat inap yang lengkap sebesar 85%
dan tidak lengkap sebesar 15%. Pengisian kolom pemeriksaan fisik dilakukan oleh dokter yang menangani pasien. Setelah dilakukan wawancara kepada dokter tidak lengkapnya pemeriksaan fisik pasien rawat inap, ketidaklengkapan pemeriksaan fisik ini disebabkan dokter memiliki waktu terbatas untuk memeriksa pasien terutama dokter spesialis karena hanya jumlah dokter spesialis sangat sedikit tidak memiliki ruang tunggu bagi dokter, sehingga dokter tidak sempat mengisi berkas rekam medis pasien.
Hasil wawancara lain dokter menyatakan lembar berkas rekam medis terlalu banyak sehingga butuh waktu untuk mengisinya terutama berkas pemeriksaan fisik, sedang dokter sendiri sudah memiliki beban kerja yang cukup tinggi.
Pertanyaan yang diajukan terhadap dokter yang mengisi berkas rekam medis dilakukan secara rinci tentang manfaat pemeriksaaan fisik pasien menyatakan mengetahui manfaat pengisian pemeriksaan fisik secara lengkap. Hasil wawancara terhadap dokter/dokter spesialis yang mengisi pencatatan rekam medis pasien, menyatakan masih kurangnya perhatian dari pihak managemen rumah sakit terhadap dokter/dokter spesialis yang mengisi secara lengkap berkas rekam medis secara lengkap.
Hasil wawancara yang dilakukan dengan pihak managemenRSU H Sahudin Kutacane, jika pemeriksaan fisik pasien tidak diisi dengan lengkapoleh dokter/dokter spesialis, apakah ada upaya dari pihak managemen untuk meningkatkan sikap dokter/dokter spesialis agar dalam mengisi berkas rekam medis pasien rawat inap harus diisi secara lengkap, tepat dan benar sehingga berkas rekam medis tersebut
Hasil wawancara yang dilakukan dengan pihak managemenRSU H Sahudin Kutacane, jika pemeriksaan fisik pasien tidak diisi dengan lengkapoleh dokter/dokter spesialis, apakah ada upaya dari pihak managemen untuk meningkatkan sikap dokter/dokter spesialis agar dalam mengisi berkas rekam medis pasien rawat inap harus diisi secara lengkap, tepat dan benar sehingga berkas rekam medis tersebut