ANALISIS KUALITATIF FAKTOR – FAKTOR YANG MEMENGARUHI KINERJA DOKTER DALAM KELENGKAPAN PENCATATAN
REKAM MEDIS RAWAT INAP DI RSU H SAHUDIN KUTACANE ACEH TENGGARA
TESIS
Oleh YOSI ELISA 117032065/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2014
ANALISIS KUALITATIF FAKTOR – FAKTOR YANG MEMENGARUHI KINERJA DOKTER DALAM KELENGKAPAN PENCATATAN
REKAM MEDIS RAWAT INAP DI RSU H SAHUDIN KUTACANE ACEH TENGGARA
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Minat Studi Administrasi Rumah Sakit pada Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara
Oleh YOSI ELISA 117032065/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2014
Judul Tesis : ANALISIS KUALITATIF FAKTOR – FAKTOR YANG MEMENGARUHI KINERJA DOKTER DALAM KELENGKAPAN PENCATATAN REKAM MEDIS RAWAT INAP DI RSU H SAHUDIN KUTACANE ACEH TENGGARA Nama Mahasiswa : Yosi Elisa
Nomor Induk Mahasiswa : 117032065
Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi : Administrasi Rumah Sakit
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Dr. Ir. Erna Mutiara, M.Kes) (dr. Fauzi, S.K.M
Ketua Anggota
)
Dekan
(Dr. Drs. Surya Utama, M.S)
Tanggal Lulus : 11 Pebruari 2014
Telah Diuji
pada Tanggal : 11 Pebruari 2014
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Dr. Ir. Erna Mutiara, M.Kes Anggota : 1. dr. Fauzi, S.K.M
2. dr. Heldy BZ. M.P.H
3. Siti Khadijah Nasution, S.K.M., M.Kes
PERNYATAAN
ANALISIS KUALITATIF FAKTOR – FAKTOR YANG MEMENGARUHI KINERJA DOKTER DALAM KELENGKAPAN PENCATATAN
REKAM MEDIS RAWAT INAP DI RSU H SAHUDIN KUTACANE ACEH TENGGARA
TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, Juli 2014
Yosi Elisa 117032065/IKM
ABSTRAK
Rekam Medis merupakan bukti tertulis tentang proses pelayanan yang diberikan oleh dokter dan tenaga kesehatan lainnya kepada pasien dalam rangka penyembuhan pasien. Rekam medis mencatumkan nilai administrasi, legal, finansial, riset, edukasi, dokumen, akurat, informatif dan dapat dipertanggung jawabkan Rekam Medis harus dibuat secara tertulis, lengkap dan jelas atau secara elektronik.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor–faktor yang memengaruhi kinerja dokter dalam kelengkapan pencatatan rekam medis pasien rawat inap di RSU H Sahudin Kutacane. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yaitu suatu proses penelitian yang memungkinkan penulis untuk memahami permasalahan individu secara mendalam dan kompleks. Informan dipilih berdasarkan dengan permasalahan dan tujuan penelitian yaitu semua dokter umum, dokter spesialis.
Analisis dengan membuat sejumlah narasi mengenai temuan yang berkaitan dengan faktor-faktor yang memengaruhi kinerja dokter dalam kelengkapan pencatatan rekam medis di RSU H Sahudin Kutacane Aceh Tenggara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor motivasi,pengetahuan,sikap dan kepemimpinan memengaruhi kinerja dokter dalam kelengkapan pencatatan rekam medis pasien rawat inap di RSU H Sahudin Kutacane. Angka ketidaklengkapan rekam medis pasien rawat inap masih tinggi. Pengawasan yang masih rendah dari pihak manajemen tentang pengelolaan rekam medis.
Disarankan bagi pihak manajemen RSU H Sahudin Kutacane untuk membuat SOP (Standar Operasional Prosedur) yang jelas bagi semua personil untuk memudahkan pekerjaan dan pelaksanaan proses kelengkapan pengisian rekam medis serta evaluasinya, mensosialisakan secara terus menerus terhadap semua komponen rumah sakit terutama dokter untuk menanamkan bahwa pengisian rekam medis merupakan kewajiban yang harus dijalankan, perlu adanya pertemuan rutin untuk mengkordinasikan unit satu dengan yang lainnya dan bersama-sama mengevaluasi hasil temuan penyebab rekam medis yang tidak lengkap dan mencari jalan keluar yang baik.
Kata Kunci : Kinerja, Rekam Medis, Kualitatif
ABSTRACT
Medical record is written evidence about the process of servicing by doctors and health care providers on patients in order to cure them. It specifies administrative record which is legal, financial, studied, educational, documentary, accurate, informative, and responsible. It has to be done in a written, complete, clear, and electronic form.
The objective of the research was to find out some factors which influenced the performance of doctors in the completionof inpatients’ medical records in RSU H.
Sahudin, Kutacane. The type of the research was qualitative, a process of a research which enabled the researcher to understand individual problem deeply and complexly. The informants were selected based on the problems, and the objects of the research were all general practitioners and specialists. The data were analyzed by making a number of narrations about the findings, related to some factors which influenced doctors in the completion of medical records in RSU H. Sahuddin, Kutacane, Aceh Tenggara.
The result of the research showed that the factors of motivation, knowledge, attitude, and leadership influenced the performance of doctors in the completion of inpatients’ medical records in RSU H. Sahudin, Kutacane, that the incompletion rate of medical records was still high, and that the management’s supervision on the medical record management was also low.
It is recommended that the management of RSU H. Sahuddin, Kutacane, make clear Standard Operational Procedure (SOP) for all personnel in order to simplify the job and the implementation of the completion process of filling out medical records and its evaluation, socialize the filling out of medical records continuously to all hospital components, especially to doctors about the obligation of filling out medical records. It is also recommended that regular meetings be conducted in order to coordinate one unit to other units and collectively evaluate the cause of incomplete medical records and find out the wayout.
Keywords: Performance, Medical Records, Qualitative
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya ucapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan ridho-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan tesis ini dengan judul “ Analisis Kualitatif Faktor-faktor yang Memengaruhi Kinerja Dokter dalam Kelengkapan Pencatatan Rekam Medis Pasien Rawat Inap di RSU H.
Sahudin Kutacane “.
Penulisan tesis ini merupakan salah satu persyaratan akademik untuk menyelesaikan pendidikan pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Administrasi Rumah Sakit Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Penulis dalam menyusun tesis ini mendapat bantuan, dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada :
1. Prof. Dr. Dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K) selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Dr. Drs. Surya Utama, M.S, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
3. Dr. Ir. Evawany Y Aritonang, M.Si., selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
4. Dr. Ir. Erna Mutiara, M.Kes., selaku Ketua Komisi Pembimbing dan dr.
Fauzi, S.K.M., selaku Anggota Komisi Pembimbing yang dengan penuh perhatian dan kesabaran membimbing, mengarahkan dan meluangkan waktu untuk membimbing penulis mulai dari proposal hingga penulisan tesis selesai.
5. dr. Heldy BZ. M.P.H., dan Siti Khadijah Nasution, S.K.M., M.Kes selaku komisi penguji yang telah banyak memberikan arahan dan masukan demi kesempurnaan penulisan tesis ini.
6. Direktur RSU H Sahudin Kutacane dr. Irawaty Desky dan Budi Afrizal, S.K.M., M.K.M selaku Sekretaris RSU H Sahudin Kutacane yang memberikan saran dan masukan dalam melakukan penelitian.
7. Dosen dan staf di lingkungan Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
8. Ayahanda Drs. Samudin Selian dan Ibunda Masitah dan Papa H. Darmansyah Daulay, Bsc(An) dan Ibunda Hj. Dra. Nuraini Harahap atas segala jasanya sehingga penulis selalu mendapat pendidikan terbaik.
9. Suami dr. Ahmad Idris Daulay dan anak-anak tercinta Khalisa Fikratuha Daulay, Mhd. Arkaansyah Daulay yang telah memberikan motivasi dan dukungan penulis selama mengikuti pendidikan.
Penulis menyadari atas segala keterbatasan untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tesis ini dengan harapan
semoga tesis ini bermanfaat bagi pengambil kebijakan di bidang kesehatan dan pengembangan ilmu penngetahuan bagi penelitian selanjutnya.
Medan, Juli 2014
Yosi Elisa 117032065/IKM
RIWAYAT HIDUP
Yosi Elisa, lahir di Medan pada tanggal 4 Maret 1985, anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Drs. Samudin Selian dan Masitah.
Pendidikan formal penulis dimulai dari pendidikan Sekolah Dasar Negeri Pulolatong Kutacane tahun 1990-1996, pendidikan SLTPN 1 Kutacane pada tahun 1996-1999, pendidikan SLTAN 1 Kutacane pada tahun 1999-2002, pendidikan sarjana di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara 2002-2007.
Penulis mengikuti pendidikan lanjutan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara sejak tahun 2011 hingga saat ini.
Mulai bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di RSU H Sahudin Kutacane Aceh Tenggara 2008-sekarang.
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR MATRIKS ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Permasalahan... 9
1.3 Tujuan Penelitian ... 9
1.4 Manfaat Penelitian ... 9
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 10
2.1 Kinerja ... 10
2.1.1 Faktor-faktor yang Memengaruhi Kinerja ... 10
2.1.2 Indikator Kinerja Rumah Sakit ... 11
2.2 Rumah Sakit ... 12
2.2.1 Pengertian Rumah Sakit ……… ... 12
2.3 Rekam Medis ... 15
2.3.1 Tujuan Rekam Medis……… ... 17
2.3.2 Isi Rekam Medis……… ... 20
2.3.3 Ringkasan Pulang……… ... 22
2.4 Peran Dokter dalam Pengisian Rekam Medis ... 23
2.5 Landasan Teori ... 27
2.6 Kerangka Pikir ... 27
BAB 3. METODE PENELITIAN ... 28
3.1 Jenis Penelitian ... 28
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 28
3.3 Informan ... 28
3.4 Definisi Istilah ... 29
3.5 Metode Pengukuran ... 29
3.6 Instrumen Penelitian... 30
3.7 Metode Analisa Data ... 30
3.8 Tehnik Pemeriksaan Keabsahan Data ... 30
BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 31
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 31
4.1.1 Gambaran Umum RSU H Sahudin Kutacane ... 31
4.1.2 Visi dan Misi ... 31
4.1.2.1. Visi ... 31
4.1.2.2. Misi ... 31
4.2 Karakteristik Informan ... 32
4.3 Hasil Wawancara tentang Faktor-faktor yang Memengaruhi Kinerja Dokter dalam Kelengkapan Pencatatan Rekam Medis Rawat Inap di RSU H Sahudin Kutacane ... 34
4.3.1 Pengetahuan Dokter dalam Kelengkapan Pencatatan Rekam Medis Rawat Inap di RSU H Sahudin Kutacane ... 34
4.3.1.1 Lembaran yang Harus Dilengkapi Oleh Dokter ... 34
4.3.1.2. Kriteria Kelengkapan Rekam Medis ... 38
4.3.1.3 Kewajiban Mengisi Nama dan Nomor Rekam Medis ... 41
4.3.1.4 Penulisan Resume Medis untuk Pasien Keluar ... 44
4.3.2 Sikap Dokter dalam Kelengkapan Pencatatan Rekam Medis Rawat Inap di RSU H Sahudin Kutacane ... 47
4.3.2.1. Angka Ketidaklengkapan Rekam Medis Rawat Inap di Rumah Sakit ... 47
4.3.2.2 Peran Dokter dalam Melengkapi Rekam Medis ... 50
4.3.3 Motivasi Dokter dalam Kelengkapan Pencatatan Rekam Medis Rawat Inap di RSU H Sahudin Kutacane ... 54
4.3.3.1 Pemberian Sanksi untuk Tenaga Medis yang Lupa dalam Pengisian Rekam Medis . 54 4.3.4 Kepemimpinan dalam Kelengkapan Pencatatan Rekam Medis Rawat Inap di RSU H Sahudin Kutacane ... 57
4.3.4.1 Pemberitahuan untuk Mengisi Rekam Medis yang Tidak Lengkap Secara Lisan Atau Catatan ... 57
4.3.4.2 Instruksi tentang Pengisian Rekam Medis .. 60
4.3.4.3 Informasi tentang Instruksi Pengisian Rekam Medis ... 63
4.4 Hasil Wawancara dengan Kepala Ruangan Rekam Medis ... 65
4.5 Hasil Wawancara dengan Komite Medik ... 66
4.6 Hasil Wawancara dengan Sekretaris Rumah Sakit ... 67
BAB 5 PEMBAHASAN ... 68
5.1 Faktor Umur yang Memengaruhi Kinerja Dokter dalam Kelengkapan Pencatatan Rekam Medis Rawat Inap di RSU H Sahudin Kutacane ... 68
5.2 Faktor Jenis Kelamin yang Memengaruhi Kinerja Dokter dalam Kelengkapan Pencatatan Rekam Medis Rawat Inap di RSU H Sahudin Kutacane ... 69
5.3 Faktor Lama Kerja yang Memengaruhi Kinerja Dokter dalam Kelengkapan Pencatatan Rekam Medis Rawat Inap di RSU H Sahudin Kutacane ... 69
5.4 Faktor Pengetahuan yang Memengaruhi Kinerja Dokter dalam Kelengkapan Pencatatan Rekam Medis Rawat Inap di RSU H Sahudin Kutacane ... 70
5.5 Faktor Sikap yang Memengaruhi Kinerja Dokter dalam Kelengkapan Pencatatan Rekam Medis Rawat Inap di RSU H Sahudin Kutacane ... 73
5.6 Faktor Motivasi yang Memengaruhi Kinerja Dokter dalam Kelengkapan Pencatatan Rekam Medis Rawat Inap di RSU H Sahudin Kutacane ... 89
5.7 Faktor Kepemimpinan yang Memengaruhi Kinerja Dokter dalam Kelengkapan Pencatatan Rekam Medis Rawat Inap di RSU H Sahudin Kutacane ... 90
BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 93
6.1 Kesimpulan ... 93
6.2 Saran ... 94
DAFTAR PUSTAKA ... 95 LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman 1.1 Jumlah Tenaga Medis RSU H Sahudin Tahun 2012 ... 7 4.1 Distribusi Karakteristik Informan ... 32 4.2 Angka Kelengkapan Rekam Medis Berdasarkan Kegiatan Dokter
pada Pasien Rawat Inap ... 33
DAFTAR MATRIKS
Nomor Judul Halaman 4.1 Matriks Jawaban Wawancara dengan Informan tentang Angka
Ketidaklengkapan Rekam Medis Rawat Inap ... 34 4.2 Matriks Jawaban Wawancara dengan Informan tentang Peran
Dokter dalam Melengkapi Rekam Medis ... 38 4.3 Matriks Jawaban Wawancara dengan Informan tentang Lembaran
yang harus dilengkapi ... 41 4.4 Matriks Jawaban Wawancara dengan Informan tentang Kriteria
Kelengkapan Rekam Medis Rawat Inap ... 44 4.5 Matriks Jawaban Wawancara dengan Informan tentang Kewajiban
Mengisi Nama dan Nomor Rekam Medis ... 48 4.6 Matriks Jawaban Wawancara dengan Informan tentang Resume
Medis untuk Pasien Keluar ... 51 4.7 Matriks Jawaban Wawancara dengan Informan tentang
Pemberitahuan Mengisi Rekam Medis ... 54 4.8 Matriks Jawaban Wawancara dengan Informan tentang Instruksi
Pengisian Rekam Medis ... 58 4.9 Matriks Jawaban Wawancara dengan Informan tentang Informasi
Instruksi Pengisian Rekam Medis ... 60 4.10 Matriks Jawaban Wawancara dengan Informan tentang Pemberian
Sanksi dalam Pengisian Rekam Medis ... 63
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman 2.1. Kerangka Pikir ... 27
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Judul Halaman
1. Surat Izin Penelitian dari FKM ... 98
2. Surat Izin Penelitian dari RSU H Sahudin Kutacane... 99
3. Pedoman Wawancara Mendalam... 100
4. Hasil Wawancara Mendalam ... 104
ABSTRAK
Rekam Medis merupakan bukti tertulis tentang proses pelayanan yang diberikan oleh dokter dan tenaga kesehatan lainnya kepada pasien dalam rangka penyembuhan pasien. Rekam medis mencatumkan nilai administrasi, legal, finansial, riset, edukasi, dokumen, akurat, informatif dan dapat dipertanggung jawabkan Rekam Medis harus dibuat secara tertulis, lengkap dan jelas atau secara elektronik.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor–faktor yang memengaruhi kinerja dokter dalam kelengkapan pencatatan rekam medis pasien rawat inap di RSU H Sahudin Kutacane. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yaitu suatu proses penelitian yang memungkinkan penulis untuk memahami permasalahan individu secara mendalam dan kompleks. Informan dipilih berdasarkan dengan permasalahan dan tujuan penelitian yaitu semua dokter umum, dokter spesialis.
Analisis dengan membuat sejumlah narasi mengenai temuan yang berkaitan dengan faktor-faktor yang memengaruhi kinerja dokter dalam kelengkapan pencatatan rekam medis di RSU H Sahudin Kutacane Aceh Tenggara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor motivasi,pengetahuan,sikap dan kepemimpinan memengaruhi kinerja dokter dalam kelengkapan pencatatan rekam medis pasien rawat inap di RSU H Sahudin Kutacane. Angka ketidaklengkapan rekam medis pasien rawat inap masih tinggi. Pengawasan yang masih rendah dari pihak manajemen tentang pengelolaan rekam medis.
Disarankan bagi pihak manajemen RSU H Sahudin Kutacane untuk membuat SOP (Standar Operasional Prosedur) yang jelas bagi semua personil untuk memudahkan pekerjaan dan pelaksanaan proses kelengkapan pengisian rekam medis serta evaluasinya, mensosialisakan secara terus menerus terhadap semua komponen rumah sakit terutama dokter untuk menanamkan bahwa pengisian rekam medis merupakan kewajiban yang harus dijalankan, perlu adanya pertemuan rutin untuk mengkordinasikan unit satu dengan yang lainnya dan bersama-sama mengevaluasi hasil temuan penyebab rekam medis yang tidak lengkap dan mencari jalan keluar yang baik.
Kata Kunci : Kinerja, Rekam Medis, Kualitatif
ABSTRACT
Medical record is written evidence about the process of servicing by doctors and health care providers on patients in order to cure them. It specifies administrative record which is legal, financial, studied, educational, documentary, accurate, informative, and responsible. It has to be done in a written, complete, clear, and electronic form.
The objective of the research was to find out some factors which influenced the performance of doctors in the completionof inpatients’ medical records in RSU H.
Sahudin, Kutacane. The type of the research was qualitative, a process of a research which enabled the researcher to understand individual problem deeply and complexly. The informants were selected based on the problems, and the objects of the research were all general practitioners and specialists. The data were analyzed by making a number of narrations about the findings, related to some factors which influenced doctors in the completion of medical records in RSU H. Sahuddin, Kutacane, Aceh Tenggara.
The result of the research showed that the factors of motivation, knowledge, attitude, and leadership influenced the performance of doctors in the completion of inpatients’ medical records in RSU H. Sahudin, Kutacane, that the incompletion rate of medical records was still high, and that the management’s supervision on the medical record management was also low.
It is recommended that the management of RSU H. Sahuddin, Kutacane, make clear Standard Operational Procedure (SOP) for all personnel in order to simplify the job and the implementation of the completion process of filling out medical records and its evaluation, socialize the filling out of medical records continuously to all hospital components, especially to doctors about the obligation of filling out medical records. It is also recommended that regular meetings be conducted in order to coordinate one unit to other units and collectively evaluate the cause of incomplete medical records and find out the wayout.
Keywords: Performance, Medical Records, Qualitative
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam rangka upaya peningkatan serta efisiensi pelayanan kesehatan di rumah sakit, perlu adanya dukungan dari berbagai faktor yang terkait. Salah satu faktor yang ikut mendukung keberhasilan upaya tersebut adalah terlaksananya penyelenggaraan rekam medis yang sesuai dengan standar yang berlaku.
American Hospital Association di tahun1987 menyatakan bahwa rumah sakit adalah suatu institusi yang fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan kepada pasien (diagnostik dan terapeutik) untuk berbagai penyakit dan masalah kesehatan baik yang bersifat bedah maupun non bedah. Rumah sakit harus bangun dilengkapi dan dilengkapi dan dipelihara dengan baik untuk menjamin kesehatan dan keselamatan pasiennya dan harus menyediakan fasilitas yang lapang , tidak berdesak- desakan dan terjamin sanitasinya bagi kesembuhan pasien (Aditama, 2006).
Rumah sakit merupakan lembaga dalam mata rantai Sistem Kesehatan Nasional dan mempunyai peran yang penting dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada seluruh masyarakat. Pelayanan kesehatan yang diberikan oleh rumah sakit sangat tergantung pada kapasitas dan kualitas tenaga Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai suatu organisasi.
Undang-Undang Kesehatan nomor 44 tahun 2009 tentang rumah sakit menyatakan bahwa rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat
dengan karateristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan, kemajuan teknologi, dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang harus tetap mampu meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh masyarakat agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Merujuk pendapat yang dikemukakan Handoko (2001),” Sumber daya terpenting suatu organisasi adalah sumber daya manusia atau orang-orang yang memberikan tenaga, bakat, kreativitas dan usaha mereka kepada organisasi.” Dari pendapat tersebut dapat dikemukakan bahwa kinerja yang tinggi sangat diperlukan dalam setiap usaha kerja pegawai untuk mencapai tujuan.
Menurut Gibson (1996) ada tiga perangkat variabel yang memengaruhi kinerja yaitu : (1) variabel individual, terdiri dari kemampuan dan keterampilan mental dan fisik, latar belakang keluarga, tingkat sosial, pengajian, demografis, umur, asal usul, jenis kelamin (2) variabel organisasional terdiri dari sumber daya, kepemimpinan, imbalan, struktur, desain pekerjaan, dan (3) variabel psikologis terdiri dari persepsi, sikap, kepribadian, belajar, motivasi. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa kepemimpinan merupakan salah faktor yang memengaruhi kinerja.
Salah satu parameter untuk menentukan mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit adalah data atau informasi rekam medis yang baik dan lengkap. Mutu pelayanan sangat menentukan untuk memenangkan persaingan dalam memenuhi kebutuhan konsumen. Mutu pelayanan merupakan suatu hal yang sangat penting untuk tetap menjaga keberadaan rumah sakit (Elynar, 2008).
Tenaga kesehatan sebagai Sumber Daya Manusia (SDM) didalam menjalankan pelayanan kesehatan merupakan sumber daya yang penting dan sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan rumah sakit. Sebaliknya sumber daya manusia juga mempunyai berbagai macam kebutuhan yang ingin dipenuhinya. Manajemen rumah sakit harus bisa menciptakan suatu iklim organisasi yang harmonis dan mendorong karyawannya untuk bekerja lebih baik dan harus mengetahui apa saja yang menjadi kebutuhan dan harapan karyawannya dalam suatu organisasi.Menurut Depkes RI (2000) pelayanan kesehatan yang baik dan berkualitas tidak terlepas dari peran sumberdaya manusia, yaitu tenaga medis dan non medis di rumah sakit. Salah satu tenaga medis diantaranya adalah tenaga dokter.
Rekam medis pasien merupakan himpunan data dan informasi tentang pasien yang terkait dengan administrasi, proses-proses klinis medis dan penunjang medis, manajemen mutu serta out come dari proses-proses itu yang didokumentasikan dan disimpan secara sistematis dan aman untuk dapat digunakan oleh pihak-pihak yang berhak dan berkepentingan (Wijono, 2000). Rekam Medis merupakan bukti tertulis tentang proses pelayanan yang diberikan oleh dokter dan tenaga kesehatan lainnya kepada pasien dalam rangka penyembuhan pasien, rekam medis mencatumkan nilai administrasi, legal, finansial, riset, edukasi, dokumen, akurat, informatif dan dapat dipertanggung jawabkan Rekam Medis harus dibuat secara tertulis, lengkap dan jelas atau secara elektronik (Hatta, 2003). Rekam medis disebut lengkap apabila rekam medis tersebut telah berisi seluruh informasi tentang pasien termasuk resume medis,
keperawatan dan seluruh hasil pemeriksaan penunjang serta telah diparaf oleh dokter yang bertanggung jawab.
Salah satu komponen yang memegang peranan penting dalam pengisian rekam medis sesuai dengan UU No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 269/Menkes/Per/III/2008 tentang Rekam Medis adalah dokter dan dokter gigi. Permenkes RI No. 269 ini menggantikan PerMenkes sebelumnya yakni No. 749a/Menkes/Per/XII/1989 tentang Rekam Medis.
Dalam pasal 5 Permenkes No. 269/2008 dinyatakan bahwa setiap dokter dan dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran wajib membuat rekam medis.
Pembuatan rekam medis dilaksanakan melalui pencatatan dan pendokumentasian hasil pemeriksaaan, pengobatan, tindakan, dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien. Pada pasal 6 dinyatakan bahwa dokter, dokter gigi dan atau tenaga kesehatan tertentu bertanggung jawab atas catatan atau dokumen yang dibuat pada rekam medis.
Kedisiplinan praktisi kesehatan dalam melengkapi informasi medis sesuai dengan jenis pelayanan yang telah diberikan kepada pasien merupakan kunci terlaksananya kegunaan rekam medis. Namun kenyataannya masih banyak dokter dan perawat yang tidak mengisi rekam medis dengan benar karena alasan terbatasnya waktu dan anggapan bahwa hanya penting untuk keperluan administrasi rumah sakit (Anggraini, 2007). Foster dan Seeker (2001) mengutarakan bahwa, “Kinerja adalah hasil yang dicapai seseorang menurut ukuran yang berlaku untuk pekerjaan yang bersangkutan”. Menurut (Suryadi, 2002) ”Kinerja adalah hasil kerja yang dapat
dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral dan etika”.
Rekam medis yang lengkap dan legal merupakan ciri yang mencerminkan mutu pelayanan medis yang baik kepada pasien (Huffman, 1999). Salah satu parameter pelayanan yang baik adalah kepatuhan terhadap standar yang ditetapkan tentang cara pengisian rekam medis yang lengkap.Kinerja karyawan dalam suatu organisasi baik secara individu maupun kelompok memengaruhi seberapa banyak mereka memberi kontribusi dalam mencapai tujuan organisasi (Ilyas, 2002). Dalam kondisi demikian maka terjadi interaksi yang kompleks dalam organisasi yaitu iklim organisasi yang meliputi manajemen rumah sakit terhadap sejumlah individu yang dapat memengaruhi pencapaian kinerja yang optimal.
Survei Anggraini di RSUD dr. Djasamen Saragih pada tahun 2007 mencatat dari 100 sampel berkas yang diambilnya untuk dianalisis sebanyak 34,1 % berkas tidak diisi dengan lengkap 59,3% tidak dikembalikan tepat waktu dan 56,1% tidak diisi secara tepat. Purnamawati (2008) di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik menunjukkan ketidaklengkapan rekam medis yang masih tinggi di RS tersebut antara lain disebabkan ketidaksesuain penulisan diagnosa waktu masuk dan diagnosa pada saat keluar nama dan tanda tangan dokter tidak tercantum. Hal ini menunjukan bahwa kinerja dokter dalam pengisian rekam medis belum baik. Syahrial (2009) menunjukan bahwa terdapat pengaruh gaya kepemimpinan dan kemampuan kepala
bidang terhadap kinerja pegawai pelayanan keperawatan jiwa di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara.
Penelitian Wijayanti (1999) mencatat dari 306 dokumen rekam medis rawat inap di Rumah Sakit Ongkomulyo Jakarta didapatkan 80 dokumen tanpa tanda tangan dan nama jelass dokter yang merawat. Sementara itu di RSUD Pasar Rebo seperti yang diteliti Ningrum (2001) didapatkan dari 500 berkas rekam medis, 70 berkas tidak terisi nomor catatan medis dan 95 resemu medis tidak terisi lengkap pada pasien rawat inap.
Rumah Sakit Umum H. Sahudin Kutacane (RSU H. Sahudin Kutacane) dibangun pada tahun 1978 dan difungsikan sejak tahun 1982. RSU mempunyai Luas 28.562 M dan masih menyandang predikat klas D, namun secara operasionalnya sudah berpedoman pada Struktur Organisasi Rumah Sakit klas C, hal ini dilakukan guna mempersiapkan peningkatan kerja untuk mencapai predikat Rumah Sakit klas C, adapun perihal nama Rumah Sakit Umum H. Sahudin Kutacane berdasarkan hasil Rapat Gabungan Komisi Sepakat memberi nama RSU Kutacane menjadi “ BPK (Badan Pelayanan Kesehatan-RSU H. Sahudin Kutacane” yang dituangkan dalam Keputusan DPRD Tk.II Aceh Tenggara No.172/269/DPRD/2005 tanggal 2 Mei 2005.
Pada tahun 2005, berdasarkan SK Menkes RI No.109/menkes/SK/2005 tanggal 30 Januari 2005 Rumah Sakit Umum Kutacane ditingkatkan dari klas D menjadi klas C yang diresmikan pada tanggal 24 Juli 2005 (Setiawan,2012).
Tabel 1.1 Jumlah Tenaga Medis RSU H. Sahudin Dirinci menurut Pendidikan dan Status KepegawaianTahun2012
No. Jenis Ketenagaan Status
PNS/CPNS PTT/PPDS 1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
Dokter Umum Dokter Spesialis Paru Dokter Spesialis Bedah
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Dokter Spesialis Kebidanan/Kandungan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Dokter Spesialis Radiologi
Dokter Spesialis Anastesi Dokter Gigi
Dokter Spesialis Mata Dokter Spesialis Syaraf
Dokter Spesialis Patologi Anatomi Dokter Spesialis Anak
5 1 0 0 2 1 0 0 1 0 0 0 0
8 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0
Rumah Sakit Umum H. Sahudin Kutacane merupakan satu-satunya rumah sakit yang berada di Kutacane Kabupaten Aceh Tenggara. Dari survei awal yang dilakukan terdapat berbagai masalah penyebab ketidaklengkapan pengisian rekam medis terutama pada pasien rawat inap. Salah satu penyebab yang paling banyak dijumpai adalah pengembalian berkas rekam medis kepada bagian rekam medis yang sangat lama dan masih banyak dijumpai berkas yang tidak lengkap pengisiannya serta banyak rekam medis pasien rawat inap yang hilang di tangan dokter atau perawat sehingga menyebabkan lambatnya pelayanan kepada pasien apabila ingin melakukan kunjungan ulang. Hal ini berdampak juga terhadap pihak manajemen rumah sakit karena mengakibatkan meningkatnya anggaran pembuatan rekam medis khususnya kepada pasien rawat inap.
Dari 100 berkas yang diperiksa secara acak, berkas yang tidak lengkap mencapai 50% dan menurut waktu maksimal pengembalianya ke bagian rekam medis untuk pasien rawat inap adalah 2 x 24 jam dengan standar kelengkapan pengisian rekam medis 100% (Depkes RI, 2007) adalah hanya sebesar 20%.
Keterlambatan pengambilan berkas rekam medis mengakibatkan tertundanya data yang harus dikumpulkan dan dilaporkan sehingga seringkali mendapat surat peringatan mengenai keterlambatan data yang harus dilaporkan baik dari pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten ataupun Dinkes Propinsi. Wawancara pendahuluan dengan dokter didapatkan pernyataan tentang ketidakjelasan instruksi pengisian rekam medis yang dimiliki rumah sakit. Berdasarkan observasi pendahuluan yang telah dilakukan terdapat ketidakjelasan dalam hal alur penerimaan rekam medis pasien rawat inap.
Ketidaklengkapan dan keterlambatan pengisian berkas rekam medis dan keterlambatan pengembalian berkas rekam medis diduga terkait dengan kurangnya kemampuan manajemen rumah sakit mengelola rekam medis.Rekam medis yang tidak lengkap dan terlambat berkecenderungan menimbulkan kerugian dan menyebabkan meningkatnya pembiayaan yang harus dibayar oleh manajemen rumah sakit (Hatta,2003). Kerugian dan meningkatnya pembiayaan di akibatkan karena sering bertambahnya berkas rekam medis yang harus dimiliki pasien rawat inap lebih dari 1 (satu) rekam medis pada saat akan melakukan kunjungan ulang karena rekam medis pasien masih belum kembali ke bagian rekam medis.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti hendak melakukan penelitian untuk mengetahui“ Faktor-faktor yang memengaruhi Kinerja Dokter dalam Kelengkapan Pencatatan Rekam Medis Rawat Inap di RSU H Sahudin Kutacane Aceh Tenggara”.
1.2 Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas maka perumusan masalah penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang memengaruhi kinerja dokter dalam kelengkapan pencatatan rekam medis rawat inap di RSU H Sahudin Kutacane.
1.3 Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kinerja dokter dalam kelengkapan pencatatan rekam medis pasien rawat inap di RSU H Sahudin Kutacane.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis dan praktis sebagai berikut :
1. Penelitian dapat memberikan masukan bagi manajemen RSU H Sahudin Kutacane dalam pengambilan kebijakan tentang kinerja dokter dalam pengisiaan rekam medis di rumah sakit.
2. Untuk kepentingan pengembangan ilmu Administrasi dan Kebijakan Kesehatan khususnya Administrasi Rumah Sakit.
3. Sebagai bahan referensi bagi penelitian selanjutnya
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kinerja
Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing- masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika (Ilyas,2002 dan Suryadi, 1999).
2.1.1Faktor-faktor yang Memengaruhi Kinerja
Menurut Ilyas (2002), faktor yang berhubungan dengan kinerja adalah :
1. Faktor Psikologis, merupakan faktor yang berhubungan dengan kejiwaan pegawai seperti minat, intelegensi, pendidikan, sikap terhadap kerja, bakat dan keterampilan.
2. Faktor Sosial, merupakan faktor yang berhubungan dengan interaksi sosial antara tenaga kerja dengan atasan maupun sesama pegawai.
Secara teoritis ada tiga kelompok variabel yang memengaruhi perilaku kerja dan kinerja individu yaitu variabel individu, variabel organisasi dan variabel psikologis (Gibson, et al, 1996). Kelompok variabel individu terdiri dari variabel kemampuan dan keterampilan, latar belakang pribadi dan demografis. Variabel kemampuan dan keterampilan merupakan faktor utama yang memengaruhi perilaku kerja dan kinerja individu sedangkan variabel demografis mempunyai pengaruh yang
tidak langsung. Kelompok variabel psikologis terdiri dari variabel persepsi, sikap, kepribadian, belajar dan motivasi. Variabel ini banyak dipengaruhi oleh keluarga, sosial, pengalaman kerja sebelumnya dan variabel demografis. Kelompok variabel organisasi terdiri dari variabel sumber daya, kepemimpinan, imbalan struktur dan desain pekerjaan.
2.1.2 Indikator Kinerja Rumah Sakit
Penerapan suatu indikator harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : nama indikator,dimensi kinerja,tujuan indikator,rational,definisi terminologi yang digunakan dan standar,periode dilakukan analisis,numerator,denominator,sumber data numeratoe dan denimerator. Ke 12 indikator kinerja yang disepakati telah memenuhi persyaratan tersebut menurut Depkes RI (2005) :
1. Rerata jam pelatihan per karyawan pertahun 2. Persentase tenaga terlaatih di unit khusus 3. Kecepatan penanganan penderita gawat darurat 4. Waktu tunggu sebelum operasi efektif
5. Angka kematian ibu karena persalinan (Perdaharan,preeklamsia/eklampsia dan sepsis, khusus untuk kasus nonrujukan)
6. Angka infeksi nosokomial
7. Kelengkapan pengisian rekam medis 8. Prosentase kepuasan pasien (survei) 9. Prosentase kepuasan karyawan (survei) 10. Baku mutu limbah cair
11. Status keuangan rumah sakit 12. Status keuangan rumah sakit
13. Prosentase penggunaan obat generik
Berdasarkan beberapa teori di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan hasil kerja yang dapat dicapai pegawai dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab yang diberikan organisasi dalam upaya mencapai visi, misi, dan tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika.
2.2 Rumah Sakit
2.2.1 Pengertian Rumah Sakit
Menurut Aditama (2006), Rumah sakit adalah organisasi unik karena merupakan paduan antara organisasi padat karya dan padat modal sehingga pengelolaan rumah sakit menjadi disiplin ilmu tersendiri yang mengedepankan dua hal sekaligus yaitu teknologi dan perilaku manusia di dalam organisasi.
Rumah sakit juga merupakan suatu institusi yang fungsi utamanya memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Untuk menjalankan dan menyelenggarakan upaya-upaya tersebut dan mengelola rumah sakit agar tetap dapat memenuhi kebutuhan pasien dan masyarakat yang dinamis, maka setiap komponen yang ada di rumah sakit harus terintegrasi dalam satu sistem.
Aditama mengemukakan terdapat tiga ciri khas rumah sakit yang membedakannya dengan industri lainnya yaitu :
1. Kenyataan bahwa bahan baku dari industri jasa kesehatan adalah manusia. Dalam industri rumah sakit seyogyanya tujuan utamanya adalah melayani kebutuhan manusia bukan semata-mata menghasilkan produk dengan proses dan biaya yang seefien mungkin. Perbedaan ini mempunyai dampak penting dalam manajemen khususnya menyangkut pertimbangan etika dan nilai kehidupan manusia.
2. Pada industri rumah sakit yang disebut sebagai pelanggan tidak selalu mereka yang menerima pelayanan. Pasien adalah mereka yang diobati di rumah sakit.
Akan tetapi kadang-kadang bukan mereka sendiri yang menentukan di rumah sakit mana mereka harus dirawat, contohnya pada karyawan di tentukan oleh kebijaksanaan kantornya. Jenis tindakan medis yang akan dilakukan dan pengobatan yang diberikan juga tidak tergantung pada pasiennya tetapi tergantung dari dokter yang merawatnya. Ini sangat berbeda dengan bisnis restoran dimana pelangganlah yang menentukan menunya yang akan dibeli.
3. Kenyataan menunjukan bahwa pentingnya profesional tenaga kesehatan termasuk dokter, perawat, ahli farmasi, fisioterapi, ahli gizi dan lain-lain. Para profesional ini sangat banyak sekali jumlahnya di rumah sakit. Hal yang perlu mandapat perhatian adalah kenyataan bahwa para profesional cenderung sangat otonom dan berdiri sendiri. Tidak jarang misi kerjanya tidak sejalan dengan misi kerja manajemen organisasi secara keseluruhan tetapi bekerja dengan standar profesi yang dianutnya. Akibat ada kesan bahwa fungsi manajemen dianggap kurang penting.
Adapun yang menjadi fungsi rumah sakit adalah : menyediakan dan menyelenggarakan pelayanan medik, pelayanan penunjang medik, pelayanan perawatan, pelayanan rehabilitasi, pencegahan dan peningkatan kesehatan,tempat pendidikan dan pelatihan tenaga medik dan paramedik serta tempat penelitiaan dan pengembangan ilmu dan teknologi bidang kesehatan.
Dalam menjalankan fungsinya pencatatan proses pelayanan kepada pasien merupakan aktivitas yang melekat dalam setiap kegiatan pelayanan di rumah sakit.
Pencatatan yang saat ini dikenal dengan rekam medis merupak aktivitas yang sangat penting untuk mengingatkan kembali dokter dan keadaan, hasil pemeriksaan dan pengobatan yang telah diberikan bila pasien datang kembali untuk berobat pulang.
Sejalan dengan perkembangan peranan rekam medis tidak lagi terbatas pada asumsi yang digunakan lebih luas dari catatan atau jembatan untuk mengingat kembali (Hanafiah dan Amir, 1999).
Sesuai dengan Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 pembedaan tingkatan menurut kemampuan unsur pelayanan kesehatan yang disediakan, ketenagaan, fisik dan peralatan maka rumah sakit umum pemerintah pusat dan daerah diklasifikasikan menjadi :
1. Rumah Sakit Umum Klas A adalah rumah sakit yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik luas dan subspesialistik luas.
2. Rumah Sakit umum Klas B adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis sekurang-kurangnya 11 spesialistik luas dan subspesialistik terbatas.
3. Rumah Sakit umum Klas C adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik dasar.
4. Rumah Sakit umum Klas D adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis dasar.
Berdasarkan klasifikasi rumah sakit yang diukur dari kemampuan unsur pelayanan kesehatan yang dapat disediakan ketenagaan, fisik , peralatan maka RSU H Sahudin Kutacane termasuk dalam Rumah Sakit Umum Klas C.
2.3 Rekam Medis
Rekam medis merupakan kumpulan fakta tentang kehidupan seseorang dan riwayat penyakitnya, termasuk keadaan sakit, pengobatan saat ini dan saat lampau yang ditulis oleh para praktisi kesehatan dalam upaya mereka memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien (Hatta,2003).
Menurut Hanafiah dan Amir (1999), rekam medis adalah kumpulan keterangan tentang identitas, hasil anamnesis, pemeriksaan dan catatan segala kegiatan para pelayanan kesehatan atas pasien dari waktu ke waktu. Catatan ini dapat berupa tulisan maupun gambar, rekaman elektronik seperti komputer, mikrofilm dan rekaman suara.
Secara sederhana pengertian rekam medis adalah kumpulan keterangan tentang identitas, hasil anamnesis, pemeriksaan dan catatan segala kegiatan petugas kesehatan atas pasien dari waktu ke waktu. Dalam PERMENKES No.269/MenKes/PER/III/2008 tentang rekam medis disebut pengertian rekam medis
adalah : berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, permeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan.
Untuk mendapatkan catatan data medis yang baik, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh dokter dan ahli-ahli dibidang kesehatan lainnya, yaitu mencatat data tepat waktu, mencatat data yang up to date, mencatat data secara cermat dan lengkap, membuat catatan yang dapat dipercaya dan menurut kenyataan, memilih data yang berkaitan dengan masalahnya dan mencatat data secara obyektif (Samil, 1994).
Sesuai dengan pasal 5 Peraturan Menteri Kesehatan RI No.269/MenKes/
PER/III/2008 tersebut dinyatakan, setiap dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran wajib membuat rekam medis, setelah pasien mendapatkan pelayanan. Pembuatan rekam medis dilaksanakan melalui pencatatan dan pendokumentasian hasil pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien. Setiap pencatatan ke dalam rekam medis harus dibubuhi nama, waktu dan tanda tangan dokter, dokter gigi atau tenaga kesehatan tertentu yang memberikan pelayanan kesehatan secara langsung. Selanjutnya dalam pasal 6 dikatakan, dokter, dokter gigi dan / atau tenaga kesehatan tertentu bertanggung jawab atas catatan dan/ atau dokumen yang dibuat pada rekam medis.
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 269/MenKes/Per/III/2008 merupakan peraturan pelaksana dari UU RI No. 29 Tahun 2004 tentang praktik kedokteran, berdasarkan UU tersebut, dokter dan dokter gigi diwajibkan membuat rekam medis
dengan sanksi pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp 50 Juta jika tidak mengindahkannya dengan sengaja.
2.3.1 Tujuan Rekam Medis
Menurut Hanafiah dan Amir (1999), ada delapan kegunaan rekam medis di rumah sakit yang disebut sebagai CIALFRED, yaitu :
C : Comunication use
Sebagai alat komunikasi antara dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang ikut ambil bagian dalam memberikan pelayanan, pengobatan dan perawatan pasien.
I : Information use
Merupakan dasar untuk perencanaan pengobatan dan perawatan yang harus diberikan kepada pasien. Segala instruksi kepada perawat atau komunikasi sesama dokter ditulis agar rencana pengobatan dapat dilaksanakan.
A : Administrative use
Adanya nilai administrasi dalam suatu rekam medis dikarenakan bahwa isinya menyangkut tindakan-tindakan berdasarkan wewenang dan tanggung jawab sebagai tenaga medis dengan paramedis dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan.
L : Legal use
Hal ini menyangkut masalah adanya jaminan kesehatan hukum (legal) atas dasar keadilan dalam rangka usaha menegakkan serta persediaan bahan tanda bukti untuk menegakkan keadilan.
F : Financial use
Rekam medis ini mempunyai nilai keuangan (financial) karena isinya dapat dijadikan sebagai bahan untuk menetapkan biaya pembayaran pelayanan medis di rumah sakit, tanpa adanya catatan tindakan pelayanan maka pembayaran tidak dapat dipertanggungjawabkan.
R : Research use
Nilai penelitian dalam suatu berkas rekam medis dikarenakan bahwa isinya mengandung data atau informasi yang dapat dipergunakan sebagai aspek penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan.
F : Education use
Suatu berkas rekam medis yang mempunyai nilai pendidikan adalah isinya menyangkut data atau informasi tentang perkembangan kronologis dari kegiatan pelayanan medik yang diberikan kepada pasien. Informasi tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan referensi pengajaran dibidang profesi bagi di pemakai.
D : Documentary use
Nilai dokumentasi dalam rekam medis ini berdasarkan isi yang menjadi sumber ingatan yang harus didokumentasikan dan dipakai bahan pertanggungjawaban dan pelaporan rumah sakit.
Adapun tujuan utama dari rekam medis terjadi dalam 5 (lima) kepentingan, yaitu :
1. Pasien, rekam kesehatan merupakan alat bukti utama yang mampu membenarkan adanya pasien dengan identitas yang jelas dan telah mendapatkan berbagai pemeriksaan dan pengobatan disarana pelayanan kesehatan dengan segala hasil serta konsekuensi biayanya.
2. Pelayanan pasien, rekam kesehatan mendokumentasikan pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan, penunjang medis dan tenaga lain yang bekerja dalam berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Dengan demikian rekaman itu membantu pengambilan keputusan tentang terapi, tindakan dan penentuan diagnosis pasien. Rekam medis juga sebagai sarana komunikasi antar negara lain yang sama-sama terlibat dalam menangani dan merawat pasien. Rekaman yang rinci dan bermanfaat menjadi alat penting dalam menilai dan mengelola risiko manajemen. Selain itu rekam medis setiap pasien juga berfungsi sebagai tanda bukti sah yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Oleh karena itu rekam medis yang lengkap harus setiap saat tersedia dan berisi data/ informasi tentang pemberian pelayanan kesehatan secara jelas.
3. Manajemen pelayanan, rekam medis yang lengkap memuat segala aktivitas yang terjadi dalam manajemen pelayanan sehingga digunakan dalam menganalisis berbagai penyakit, menyusun pedoman praktik, serta untuk mengevaluasi mutu pelayanan yang diberikan.
4. Menunjang pelayanan, rekam medis yang rinci akan mampu menjelaskan aktivitas yang berkaitan dengan penanganan sumber-sumber yang ada pada organisasi pelayanan di RS, mengananlisis kecenderungan yang terjadi dan mengkomunikasikan informasi di antara klinik yang berbeda.
5. Pembiayaan, rekam medis yang akurat mencatat segala pemberian pelayanan kesehatan yang diterima pasien. Informasi ini menentukan besarnya pembayaran yang harus dibayar, baik secara tunai atau melalui asuransi.
2.3.2 Isi Rekam Medis
Menurut Hanafiah dan Amir (1999), di rumah sakit ada 2 jenis rekam medis : yakni rekam medis untuk pasien rawat jalan dan rekam medis untuk pasien rawat inap. Namun dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 269/Menkes/Per/III/2008 tentang rekam medis, selain dua rekam medis tersebut, ada rekam medis untuk pasien gawat darurat.
Isi rekam medis untuk pasien rawat jalan sekurang-kurangnya memuat : a. Identitas pasien ;
b. Tanggal dan waktu;
c. Hasil anamnesis, mencakup sekurang-kurangnya keluhan dan riwayat penyakit ; d. Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medik;
e. Diagnosa;
f. Rencana penatalaksanaan;
g. Pengobatan dan/atau tindakan;
h. Pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien ;
i. Untuk pasien kasus gigi dilengkapi dengan odontogram klinik ; dan j. Persetujuan tindakan bila diperlukan.
Adapun isi rekam medis untuk pasien rawat inap dan perawatan satu hari sekurang-kurangnya memuat :
a. Identitas pasien;
b. Tanggal dan waktu;
c. Hasil anamnesis, mencakup sekurang-kurangnya keluhan dan riwayat penyakit ; d. Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medik;
e. Diagnosa;
f. Rencana penatalaksanaan;
g. Pengobatan dan/atau tindakan;
h. Persetujuan tindakan bila diperlukan;
i. Catatan observasi klinis dan hasil pengobatan;
j. Ringkasan pulang (discharger summary)
k. Nama dan tanda tangan dokter, dokter gigi atau tenaga kesehatan tertentu yang memberikan pelayanan;
l. Pelayanan lain yang dilakukan oleh tenaga kesehatan tertentu; dan m. Untuk pasien kasus gigi dilengkapi dengan odotogram klinik.
Selanjutnya isi rekam medis untuk pasien gawat darurat, sekurang-kurangnya memuat :
a. Identitas pasien;
b. Kondisi saat pasien tiba di sarana pelayanan kesehatan;
c. Identitas pengantar pasien;
d. Tanggal dan waktu;
e. Hasil anamnesis, mencakup sekurang-kurangnya keluhan dan riwayat penyakit;
f. Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medik;
g. Diagnosis;
h. Pengobatan dan/ atau tindakan;
i. Ringkasan kondisi pasien sebelum meninggalkan pelayanan unit gawat darurat dan rencana tindak lanjut;
j. Nama dan tanda tangan dokter, dokter gigi atau tenaga kesehatan tertentu yang memberikan pelayanan kesehatan;
k. Sarana trasnsportasi yang digunakan bagi pasien yang akan dipindahkan ke sarana pelayanan kesehatan lain; dan
l. Pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien 2.3.3 Ringkasan Pulang
Ringkasan pulang merupakan ringkasan dari seluruh masa perawatan dan pengobatan pasien sebagaimana yang telah diupayakan oleh para tenaga kesehatan dan pihak terkain (Hatta, 2003). Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
269/ Menkes/ Per/ III/ 2008, ringkasan pulang dibuat oleh dokter atau dokter gigi yang melakukan perawatan pasien. Isi ringkasan pulang sekurang-kurangnya memuat:
a. Identitas pasien;
b. Diagnosa masuk dan indikasi pasien dirawat;
c. Ringkasan hasil pemeriksaaan fisik dan penunjang, diagnosa akhir, pengobatan dan tindak lanjut;dan
d. Menurut Hatta (2003) Nama dan tanda tangan dokter atau dokter gigi yang memberikan pelayanan.Kegunaan dari ringkasan riwayat pulang , adalah untuk :
1) Menjaga kelangsungan perawatan di kemudian hari dengan memberikan tembusannnya kepada dokter utama pasien, dokter yang merujuk dan konsultan yang membutuhkan.
2) Memberikan informasi untuk menunjang kegiatan komite telaahan staf medis.
3) Memberikan informasi kepada pihak ketiga yang berwenang.
4) Memberikan informasi kepada pihak pengirim pasien ke RS
2.4 Peran Dokter dalam Pengisian Rekam Medis
Tanggung jawab utama akan kelengkapan rekam medis terletak pada dokter yang merawat. Tanpa memperdulikan ada atau tidaknya bantuan yang diberikan kepadanya dalam melengkapi rekam medis dan staf lain di rumah sakit, dia mengemban tanggung jawab terakhir akan kelengkapan dan kebenaran isi rekam medis. Disamping itu untuk mencatat beberapa keterangan medis seperti riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, dan ringkasan keluar (resume), kemungkinan bisa dilegalisikan pada co assisten, asisten ahli, atau dokter lainnya (Samil 1994).
Data ini harus dipelajari kembali, dikoreksi dan ditandatangani juga oleh dokter yang merawat. Pada saat ini banyak rumah sakit, menyediakan staf bagi dokter untuk melengkapi rekam medis, namun demikian tanggung jawab utama dan isi rekam medis tetap berada padanya. Nilai ilmiah dari suatu rekam medis adalah sesuai dengan taraf pengobatan dan perawatan yang tercatat. Oleh karena itu ditinjau dan beberapa segi, rekam medis sangat bemilai penting karena : Bagi pasien, untuk kepentingan penyakitnya di masa sekarang maupun di masa yang akan datang.
1. Dapat melindungi rumah sakit maupun dokter dalam segi hukum (medicolegal).
Bilamana rekam medis tidak lengkap dan tidak benar, maka kemungkinan akan merugikan bagi pasien, rumah sakit maupun dokter sendiri.
2. Dapat digunakan untuk penelitian medik maupun administratif. Personil rekam medis hanya dapat mempergunakan data yang diberikan kepadanya.
Bilamana diagnosanya tidak benar dan tidak lengkap maka kode penyakit pun tidak tepat, sehingga indeks penyakit mencerminkan kekurangannya, hal ini berakibat riset akan mengalami kesulitan. Oleh karena itu data statistik dan laporan hanya dapat secermat informasi dasar yang benar.
Formulir yang digunakan biasanya dalam bentuk kartu pemeriksaan pasien, anamnese, diagnosa dan tindakan yang dilakukan terhadap pasien, tetapi dicatat di dalam kartu tersebut. Untuk rawat jalan periu di dalam lembar ringkasan poliklinik yang lazim disebut identitas dan ringkasan poliklinik. Lembaran ini sebagai dasar dalam menyiapkan kartu identitas utama pasien (KIUP) yang berisi data pasien serta ringkasan poliklinik (Basbeth, 2005).
Rekam medis adalah catatan aiau berkas yang mengandung informasi tentang penyakit dan pengobatan pasien yang ditujukan untuk menjaga dan meningkatka".
mutu pelayanan kesehatan. Rekam medis adalah milik institusi kesehatan yang membuatnya dan disimpan oleh institusi pelayanan kesehatan tersebut. Disamping kerahasiaannya serta dapat digunakan sebagai alat bukti hukum apabila terdapat penyimpangan dalam pelayanan kesehatan (Samil, 1994).
Menurut Hanafiah dan Amir (1999), akhir-akhir ini keluhan masyarakat terhadap para dokter makin sering terdengar, antara lain mengenai kurangnya waktu dokter yang disediakan untuk pasiennya, kurang lancamya komunikasi, kurangnya informasi yang diberikan dokter kepada pasien atau keluarganya, tingginya biaya pengobatan dan sebagainya. Hal ini disebabkan meningkatnya taraf pendidikan dan kesadaran hukum masyarakat, dimana masyarakat lebih menyadari akan haknya seiring dengan munculnya kepermukaan masalah-masalah hak asasi manusia diseluruh dunia, Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) sekarang ini hanya berisi kewajiban-kewajiban dokter dan belum memuat hak dokter, demikian juga belum memuat semua hak dan kewajiban pasien.
Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK) lahir untuk memperoleh perlindungan atas kerugian yang diderita atas transaksi suatu barang dan jasa. UUPK menjamin adanya kepastian hukum bagi konsumen. Tujuan dan undang-undang tersebut adalah:
1. Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri.
2. Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari akses negatifpemakaian barang atau jasa.
3. Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen.
4. Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi.
5. Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha.
Dalam pedoman pengolahan rekam medis rumah sakit di Indonesia disebutkan bahwa rumah sakit sebagai salah satu sarana pelayanan kesehatan yang melakukan pelayanan rawatjalan maupun inap, wajib membuat atau mengisi rekam medis. Petugas yang membuat atau mengisi rekam medis adalah dokter dan tenaga kesehatan lainnya meliputi:
1. Dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi dan dokter gigi spesialis yang melayani pasien di rumah sakit.
2. Dokter tamu yang merawat pasien rumah sakit.
3. Residen yang sedang melaksanakan kepaniteraan klinik.
4. Tenaga para medis keperawatan dan tenaga para medis non keperawatan yang langsung terlibat di dalam diantara lain perawat, perawat gigi, bidan, tenaga laboratorium klinik, gizi, anestesi, penataroentgen, rehabilitasi medis dan lain sebagainya.
5. Dalam hal kedokteran luar negeri melakukan alih teknologi kedokteran, yang berupa tindakan atau konsultasi kepada pasien yang membuat rekam medis adalah dokter yang ditujukan oleh direktur rumah sakit
2.5 Landasan Teori
Kinerja secara teoritis dalam penelitian ini mengacu pada teori Gibson dkk (1996) sedangkan kinerja dokter dalam penelitian ini mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008, tentang pengisian rekam medis yaitu pengetahuan,sikap,motivasi,kepemimpinan,umur,jenis kelamin,masa kerja.
2.6 Kerangka Pikir
Kerangka pikir yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Umur
Jenis kelamin Lama kerja
Pengetahuan Kinerja dalam Kelengkapan RM
Sikap Motivasi Kepemimpinan
Gambar 2.1 Kerangka Pikir
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yaitu suatu proses penelitian yang memungkinkan penulis untuk memahami permasalahan individu secara mendalam dan kompleks. Penelitian kualitatif merupakan metode yang didalamnya penelitiannya tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak membuat prediksi tetapi menggambarkan pengamatan secara langsung dan melukiskan gejala berdasarkan fakta-fakta yang ada dan bagaimana adanya tanpa adanya interprestasi daari peneliti (Hamidi,2010).
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum H. Sahudin Kutacane Aceh Ternggara dengan pertimbangan bahwa terdapat banyak faktor yang memengaruhi kinerja dokter dalam pengisian rekam medis terutama pada pasien rawat inap.
Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Mei 2013 sampai Februari 2014.
3.3 Informan
Informan dipilih berdasarkan dengan permasalahan dan tujuan penelitian yaitu semua dokter umum, dokter spesialis, Sekretaris RSU H Sahudin Kutacane, Kepala Ruangan Rekam Medis, Komite Medik berjumlah 13 orang.
3.4 Definisi Istilah
Pengetahuan adalah suatu hasil dari tahu dokter dalam melakukan pencatatan kelengkapan rekam medis rawat inap di RSU H Sahudin Kutacane.
Sikap dapat diartikan sebagai kecenderungan dokter untuk melakukan atau tidak melakukan pencatatan kelengkapan rekam medis rawat inap di RSU H Sahudin Kutacane.
Motivasi adalah sebab-sebab yang menjadi dorongan tindakan dokter dalam melakukan pencatatan kelengkapan rekam medis rawat inap di RSU H Sahudin Kutacane.
Kepemimpinan adalah kemampuan manajer RSU H Sahudin Kutacane untuk memengaruhi dokter untuk melakukan pencatatan kelengkapan rekam medis rawat inap di RSU H Sahudin Kutacane.
Umur dapat diartikan sebagai suatu tahapan atau tingkatan perkembangan dokter.
Jenis Kelamin adalah perbedaan antara dokter laki-laki dan dokter perempuan di RSU H Sahudin Kutacane.
Lama Kerja adalah perbedaan waktu mulai bekerja dokter di RSU H Sahudin Kutacane.
3.5 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan wawancara mendalam (in-depth interview), yaitu melakukan tanya jawab dengan informan dan observasi atau pengamatan.
3.6 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian dalam penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri menggunakan pedoman wawancara mendalam berupa pertanyaan yang sesuai dengan faktor-faktor yang memengaruhi kinerja dokter dalam kelengkapan pencatatan rekam medis.
3.7 Metode Analisis Data
Data yang telah terkumpul dianalisis secara manual, yaitu dengan menuliskan hasil penelitian dalam bentuk transkrip hasil wawancara mendalam, kemudian meringkasnya dalam bentuk matriks yang disusun sesuai bahasa baku jawaban informan. Ringkasan ini kemudian diuraikan kembali dalam bentuk narasi dan melakukan penyimpulan terhadap analisis yang telah didapat secara menyeluruh.
3.8 Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
Untuk menjaga keabsahan data yang telah dikumpulkan, dilakukan triangulasi metode dan triangulasi sumber :
1. Triangulasi metode dilakukan dengan membandingkan informasi hasil wawancara mendalam yang direkam dengan hasil pengamatan melalui foto dokumentasi di lokasi penelitian dan teori yang ada.
2. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan kebenaran informasi informan manajer (sekretaris, komite medik, kepala ruangan rekam medis).
BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum RSU H Sahudin Kutacane
Rumah Sakit Umum H. Sahudin Kutacane dibangun pada tahun 1978 dan difungsikan sejak tahun 1982. RSU mempunyai Luas 28.562 M2 dan masih menyandang predikat kelas D, namun secara operasionalnya sudah berpedoman pada Struktur Organisasi Rumah Sakit kelas C, hal ini dilakukan guna mempersiapkan peningkatan kerja untuk mencapai predikat Rumah Sakit kelas C, adapun perihal nama Rumah Sakit Umum H. Sahudin Kutacane berdasarkan hasil Rapat Gabungan Komisi Sepakat memberi nama RSU Kutacane menjadi “BPK-RSU H. Sahudin Kutacane” yang dituangkan dalam Keputusan DPRD Tk.II Aceh Tenggara No.172/269/DPRD/2005 tanggal 2 Mei 2005.
Pada tahun 2005, berdasarkan SK Menkes RI No.109/Menkes/SK/2005 tanggal 30 Januari 2005 Rumah Sakit Umum Kutacane ditingkatkan dari kelas D menjadi kelas C yang diresmikan pada tanggal 24 Juli 2005.
4.1.2Visi dan Misi 4.1.2.1 Visi
Memandirikan masyarakat untuk hidup sehat dengan penekanan kepada pentingnya pelayanan kesehatan khususnya rumah sakit.
4.1.2.2 Misi
1. Mewujudkan pelayanan paripurna pada seluruh lapisan masyarakat.
2. Meningkatkan kualitas pembelajaran profesional disemua tingkatan untuk menghasilkan sumber daya kesehatan yang beriman dan bertaqwa serta berilmu pengetahuan dengan teknologi.
3. Meningkatkan produktivitas kerja dan pelayanan dengan satu komitmen
4. Meningkatkan fungsi manajemen secara efektif dan efisien sesuai Tugas pokok dan fungsi RS.
5. Memantapkan kesejahteraan bagi seluruh pegawai rumah sakit.
6. Mewujudkan sarana dan prasarana yang berkualitas
4.2 Karakteristik Informan
Pada penelitian ini dilakukan indepth interview hanya terhadap 13 informan yaitu 5 informan dokter umum, 5 informan dokter spesialis, 1 informan sekretaris RSU H Sahudin Kutacane, 1 informan Komite Medik, 1 informan Kepala Ruangan Rekam Medis.
Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik Informan No.
Informan Jabatan Pendidikan Jenis
Kelamin Usia Masa Kerja 1 Dokter Ruangan Dokter Laki-laki 28 tahun 1 tahun 2 Dokter Ruangan Dokter Perempuan 29 tahun 3 tahun 3 Dokter Ruangan Dokter Perempuan 26 tahun 1 tahun 4 Dokter Ruangan Dokter Laki-laki 29 tahun 2 tahun 5 Dokter Ruangan Dokter Laki-laki 33 tahun 4 tahun 6 Dokter Spesialis Spesialis Paru Laki-laki 52 tahun 15 tahun 7 Dokter Spesialis Spesialis
Penyakit Dalam
Laki-laki 37 tahun 4 bulan
8 Dokter Spesialis Spesialis Kebidanan &
Obstetri
Laki-laki 40 tahun 13 tahun
Tabel 4.1 (Lanjutan) No.
Informan Jabatan Pendidikan Jenis
Kelamin Usia Masa Kerja 9 Dokter Spesialis Spesialis Kulit
& Kelamin
Laki-laki 44 tahun 6 tahun 10 Dokter Spesialis Spesialis Bedah Laki-laki 38 tahun 2 bulan 11 Sekretaris RS Magister
Kesehatan
Laki-laki 40 tahun 3 tahun 12 Komite Medis Spesialis Kulit
& Kelamin
Laki-laki 44 tahun 6 tahun 13 Kepala Ruangan
Rekam Medis
Analisis Lingkungan
Perempuan 30 tahun 7tahun
Tabel 4.1 memperlihatkan karakteristik 13 informan RSU H Sahudin Kutacane terdiri dari 3 orang perempuan dan 10 orang laki- laki, berkisar dari umur 28 tahun sampai 52 tahun, dengan pendidikan dari analisis sampai spesialis serta lama bekerja sekitar 4 bulan sampai 15 tahun.
Tabel 4.2 Angka Kelengkapan Rekam Medis dari 100 Berkas Rekam Medis Rawat Inap yang di Periksa secara Acak
Item pada Rekam Medis Sesuai dengan Permenkes
No.269 Tahun 2008
Jumlah RM yang Lengkap Mengisi
Item (%)
Jumlah RM yang Tidak Lengkap Mengisi Item (%)
Tanggal Masuk 90 10
Waktu Masuk 85 15
Anamnese 75 25
Pemeriksaan Fisik 85 15
Diagnosis 75 25
Pengobatan/Tindakan 60 40
Persetujuan Tindakan 90 10
Catatan Observasi Klinis Ringkasan Pulang
Nama & Tanda Tangan Dokter
90 60 85
10 30 15
Tabel diatas menunjukan bahwa pada pengobatan, diagnosa dan anamnese awal dan pulang banyak yang tidak tercantum pada rekam medis.
4.3 Hasil Wawancara tentang Faktor-faktor yang Memengaruhi Kinerja Dokter dalam Kelengkapan Pencatatan Rekam Medis Rawat Inap di RSU H Sahudin Kutacane
4.3.1 Pengetahuan Dokter dalam Kelengkapan Pencatatan Rekam Medis Rawat Inap di RSU H Sahudin Kutacane
4.3.1.1 Lembaran yang Harus Dilengkapi Oleh Dokter
Melalui wawancara mendalam disimpulkan bahwa menurut informan tanggung jawab dokter dalam pengisian kelengkapan rekam medis hanya lembaran yang dirasa menjadi kewajiban mereka seperti resume medis, instruksi dokter, Surat Keterangan Bebas Narkoba untuk pasien NAPZA dan informed consent bila terjadi tindakan.
Matriks 4.1 Jawaban Wawancara dengan Informan tentang Lembaran yang Harus Dilengkapi oleh Dokter
Informan 1
Tanya Jawab Hasil
Wawancara Topik Keterangan Catatan Lembaran apa saja
menurut dokter harus dilengkapi
Oo itu sama yang saya bilang tadi halaman yang harus diisi itu informent consent,perintah dokter sama tanda tangan jangan lupa
Ketidaktahuan tentang
pengisian rekam medis
Pengisian rekam medis masih hanya pada yang medis saja
Informan 2
Tanya Jawab Hasil
Wawancara Topik Keterangan Catatan Lembaran apa saja
menurut dokter harus dilengkapi
Kayak yang saya bilang tadi kewajiban aja yang diisi kayak informed
consent,SKBN, perintah dokter trus tanda tangan
Ketidaktahuan tentang
pengisian rekam medis
Pengisian rekam medis masih hanya pada yang medis saja
Informan 3
Tanya Jawab Hasil
Wawancara Topik Keterangan Catatan Lembaran apa saja
menurut dokter harus dilengkapi
Instruksi dokter, informend
consent kalau ada tindakan,resume medis
Ketidaktahuan tentang
pengisian rekam medis
Pengisian rekam medis masih hanya pada yang medis saja
Informan 4
Tanya Jawab Hasil
Wawancara Topik Keterangan Catatan Lembaran apa saja
menurut dokter harus dilengkapi
Resume medis, informent
consent kalo da tindakan trus sama tanda tangan kadang-
kadang juga da ngisi SKBN
Ketidaktahuan tentang
pengisian rekam medis
Pengisian rekam medis masih hanya pada yang medis saja