• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III Bentuk Pengawasan Dana Talangan Haji di Bank Sumut

B. Hasil Wawancara Dengan Para Ulama Pada Majelis

Berdasarkan hasil wawancara dengan para ulama di Majelis Ulama Indonesia Tingkat II Medan, terdapat beberapa pandangan yang dikemukakan tentang dana talangan haji, antara lain:

1. Bahwa dana talangan haji yang ada pada bank-bank syariah itu dibolehkan dengan alasan-alasan sebagai berikut :124

a. Dengan dana talangan haji ini, berarti dapat membantu atau memberi kemudahan kepada calon jamaah haji yang ingin naik haji lebih cepat.

b. Bahwa dana talangan haji yang diberikan bank syariah kepada para nasabah atau para jamaah haji itu sifatnya harus dilunasi terlebih dahulu, kemudian setelah semua dana pinjaman itu kita lunasi, baru bisalah para calon jamaah

123Ibid

124Wawancara kepada Bapak Pagar Hasibuan (salah satu Ulama di Majelis Ulama Indonesia Tingkat II di Kota Medan) pada tanggal 24 April 2012.

itu naik haji. Kalau dana talangan itu belum di lunasi, maka calon jamaah haji itu pun tetap belum bisa untuk naik haji.

c. Berdasarkan Al-qur’an dan hadits, di wajibkan naik haji bagi semua umat Islam yang mampu atau sudah sanggup, dan mampu disini bisa diartikan juga mampu dengan melunasi dana talangan haji pada bank syariah, bisa juga mampu disini adalah mampu dengan sendirinya tanpa menggunakan dana talangan haji yang ada pada bank syariah., dan bisa juga mampu disini diartikan sebagai mampu dengan bantuan orang lain, contohnya : di talangi dulu oleh bank, kemudian calon jammah haji itu wajib mencicilnya kepada bank, setelah lunas baru bisa berangkat haji, atau dengan cara dibayari oleh orang lain secara cuma-cuma atau pun secara gratis. Karena Allah tidak pernah mengatakan mampu yang mana, Allah cuma mengatakan, kalau seseorang itu sudah mampu, maka dia wajib untuk menunaikan rukun Islam yang ke-lima itu.

2. Ketua Fatwa Majelis Ulama Indonesia Kota Medan, beliau berpendapat bahwa dana talangan haji itu dibolehkan dengan alasan-alasan sebagai berikut :125

a. berdasarkan ayat Al-qur’an Surat Az-Zukhruf ayat 32, yang intinya menekankan kepada saling tolong menolonglah kamu, bagi orang yang kuat menolong yang lemah, bagi orang yang memiliki harta yang berlebih agar dapat menolong orang yang susah. Sehingga berdasarkan isi surat Az-Zukhruf itu lah, beliau mengatakan

125 Wawancara kepada Bapak Ahmad Zuri (salah satu Ulama di Majelis Ulama Indonesia Tingkat II di Kota Medan) pada tanggal 25 April 2012.

bahwa dengan adanya dana talangan haji pada bank-bank syariah itu sah dan dibolehkan untuk membantu para calon jamaah haji yang sudah berkeinginan untuk menunaikan rukun Islam yang ke-lima itu. Tetapi dengan syarat bahwa calon jamaah haji yang menggunakan dana talangan haji itu harus bisa untuk melunasi hutangnya kepada bank, sebelum dia naik haji. Jadi tetap harus lunas terlebih dahulu baru bisa berangkat haji.

b. Beliau juga mengatakan mengenai aqad yang digunakan dalam dana talangan haji ini harus menggunakan 2 akad sekaligus, yaitu akad Al-qardh(pinjaman) dan akad A l-ijarah (jasa). Dimana dengan akad Al-qardh, bank syariah dapat memberikan pinjaman kepada calon jamaah haji yang ingin berangkat haji, dan kemudian dengan adanya akad Al-ijarah, bank dapat menerima upah atau ujrah atas jasa pengurusan ibadah haji calon jamaah haji tersebut, dan besarnya ujrah itu tidak bergantung kepada besar kecilnya uang yang dipinjam.

c. Akad-akad yang digunakan dalam dana talangan haji pada bank-bank syariah itu harus merupakan akad yang halal dan harus ada kata sepakat antara bank syariah dan calon nasabah yang ingin menggunakan dana talangan haji tersebut. Artinya bahwa akad yang telah disepakati itu tidak bersifat memaksa dan tidak ada para pihak yang merasa di zalimi antara satu dengan yang lainnya.

d. Ketua Komisi Fatwa kota Medan ini juga mengatakan bahwa secara formal di Majelis Ulama Indonesia belum pernah ada ulama yang menolak akan adanya dana talangan haji yang ada pada bank-bank syariah. Jadi pada dasarnya semua ulama yang ada di Majelis Ulama Indonesia itu kebanyakan menerima adanya dana talangan haji.

3. Ulama selanjutnya yang merupakan salah satu Ketua bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia di kota Medan juga mengatakan bahwa dana talangan haji ini hukumnya dibolehkan tapi tidak diharuskan, hanya sekedar dibolehkan saja. Adapun alasannya adalah sebagai berikut :126

a. Hal ini dikarenakan dana talangan haji pada bank syariah tersebut merupakan sesuatu yang sifatnya berutang terlebih dahulu kepada bank, meskipun dikemudian hari sebelum keberangkatan haji harus dilunasi, tapi dana talangan haji ini tidak diharuskan untuk digunakan calon jemaah haji yang ingin menunaikan ibadah haji. b. Mengenai masalah haji yang harus diperhatikan disini adalah bahwa syarat haji nya

harus sesuai dengan firman Allah Swt, yaitu hanya diwajibkan bagi orang yang mampu, kemudian yang harus diperhatikan lagi yaitu mengenai rukun haji yang dikerjakan pada saat ditanah suci, seperti : tawaf, sa’i, wakaf di Arafah, dan seterusnya. Jika syarat dan rukun haji itu telah dilaksanakan sesuai perintah Allah, maka haji nya sah.

c. Beliau juga mengatakan dengan adanya dana talangan haji ini setidaknya dapat membantu para calon jemaah haji yang ingin berangkat haji menjadi terbuka kesempatan dan peluangnya, meskipun sebenarnya ia belum sanggup secara keuangan untuk berangkat haji, tapi niatnya sudah ada. Kata sanggup disini bisa diartikan kedalam 3 makna, yaitu : sanggup dengan sendirinya, sanggup dengan cara berutang (dengan dana talangan haji), dan sanggup karena dibiayai oleh orang lain.

126 Wawancara kepada Bapak Muhammad Nizar Syarif (salah satu Ulama di Majelis Ulama Indonesia Tingkat II di Kota Medan) pada tanggal 26 April 2012.

Beliau juga merupakan salah seorang yang sering diberangkatkan haji oleh pemerintah dalam jabatannya sebagai Ketua Kelompok Bimbingan Ibadah Haji Medan, artinya dia tidak mengeluarkan uang pribadinya untuk berangkat haji. Ini juga haji nya sah, karena sah atau tidaknya ibadah haji itu tergantung pada syarat dan rukun haji itu sendiri, apabila syarat dan rukun haji nya sudah terpenuhi semua, maka hajinya juga sah.

4. Salah seorang Ustad yang merupakan ulama di Majelis Ulama Indonesia di Kota Medan, beliau juga setuju dengan adanya dana talangan haji dari bank-bank syariah, khususnya dari Bank Sumut Syariah. Karena dengan adanya dana talangan haji ini dapat memberikan kesempatan dan peluang bagi calon jemaah haji yang ingin berangkat haji, tapi dananya belum mencukupi, dapat segera menunaikan ibadah haji dengan cara menggunakan dana talangan haji dari bank Sumut Syariah.127

5. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara, juga menyetujui adanya dana talangan haji ini, dengan alasan-alasan sebagai berikut :128

a. Dana talangan haji ini sudah dikeluarkan fatwanya, yaitu Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor: 29/DSN-MUI/VI/2002 tentang Pembiayaan Pengurusan Haji oleh Lembaga Keuangan Syariah.

b. Dengan adanya dana talangan haji ini dapat membantu umat Islam yang berniat menunaikan ibadah haji ke tanah suci jadi cepat terealisasi.

c. Akad yang digunakan pada dana talangan haji ini ada dua yaitu, akad qard

(pinjaman) dan akadijarah(jasa). Dalam peminjaman dana talangan, tidak ada yang 127Wawancara kepada Ustad Hasan Matsum (salah satu Ulama di Majelis Ulama Indonesia Tingkat II di Kota Medan) pada tanggal 27 April 2012.

128 Wawancara kepada Bapak Abdullah Syah (Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Kota Medan), pada tanggal 22 Mei 2012.

namanya penambahan biaya pada saat pengembalian uang yang dipinjamkan oleh bank, tetapi hanya adaujrah(upah) yang dikenakan bank kepada nasabah yang telah menggunkan jasa bank syariah tersebut, dan besarnya upah itu tidak didasarkan kepada besarnya uang yang ditalangi oleh bank.

C. Pendapat Mayoritas Ulama Mengenai Dana Talangan Haji di Bank Syariah