BAB I PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode yuridis empiris, terutama untuk mengkaji tentang pelaksanaan talangan haji pada Bank Sumut Syariah. Metode penelitian hukum empiris adalah metode penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan data primer dan menemukan kebenaran dengan menggunakan metode berpikir induktif dan kriterium kebenaran koresponden serta fakta yang digunakan untuk melakukan proses induksi dan pengujian kebenaran secara koresponden adalah fakta yang mutakhir.
2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini berlokasi pada Bank Sumut Syariah Cabang Medan, karena dana talangan haji pada Bank Sumut Syariah tersebut banyak dimintai oleh para nasabah atau jemaah haji, hal itu disebabkan adanya discount fee ujrah yang
diberikan oleh Bank Sumut Syariah bagi nasabah yang bisa membayar cicilan lebih awal dari waktu yang ditentukan. Lokasi berikutnya di Departemen Agama Tingkat II yang mengurusi keberangkatan haji, serta pada Kantor Majelis Ulama Indonesia tingkat II di kota Medan, tujuannya untuk mengetahui pendapat para ulama di kota Medan mengenai dana talangan haji
3. Metode Pengumpulan Data dan Sumber Data
Metode yang digunakan untuk memperoleh data dalam penulisan ini, adalah dengan metode penelitian kepustakaan yaitu pengumpulan data dan informasi yang dilakukan penulis dengan membaca buku, majalah, peraturan perundang-undangan dan sumber-sumber bacaan lain yang berkaitan dengan materi penelitian. Pengumpulan data sekunder dengan menelaah bahan kepustakaan tersebut menjadi : a. Bahan hukum primer, berupa Al-Qur’an dan As-Sunnah, Undang-Undang
Nomor 21 Tahun 2008, tentang Perbankan Syariah, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992, tentang Perbankan, Undang-undang Nomor 3 Tahun 2004, tentang Bank Indonesia, Peraturan Bank Indonesia Nomor : 9/19/PBI/2007, Tentang Bank Umum Yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah, Fatwa Dewan Syariah Nasional.
b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan-bahan yang erat hubungannya dengan bahan hukum primer dan dapat membantu menganalisis dan memahami bahan hukum primer, seperti: Tafsir Al-qur’an, buku-buku, hasil penelitian, jurnal ilmiah, artikel ilmiah, dan makalah hasil seminar.
c. Bahan hukum tertier, yaitu bahan-bahan yang memberikan informasi tentang bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, berupa kamus-kamus seperti kamus bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab, serta kamus-kamus keilmuan seperti kamus istilah hukum, ekonomi, dan perbankan.
Di samping melakukan pengumpulan mengenai bahan hukum, juga dikumpulkan data primer yang dilakukan penulis dengan melakukan wawancara (interview) dengan narasumber. Wawancara dilakukan terhadap para pihak yang
terkait dalam dana talangan haji, seperti Bank Sumut Syariah, Depertemen Agama Tingkat II dan juga pada Kantor Majelis Ulama Indonesia Tingkat II.
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dikenal adalah studi kepustakaan dan wawancara (interview). Sesuai dengan sumber data seperti yang dijelaskan di atas,
maka dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan cara : a. Studi Kepustakaan
Terhadap data sekunder dikumpulkan dengan melakukan studi kepustakaan, yaitu dengan mencari dan mengumpulkan serta mengkaji Al-qur’an dan As-Sunnah
sebagai sumber hukum Islam, peraturan perundangan, rancangan undang-undang, hasil penelitian, jurnal ilmiah, artikel ilmiah, dan makalah seminar yang berhubungan dengan pembiayaan dana talangan haji pada perbankan syariah.
Terhadap data lapangan (primer) dikumpulkan dengan teknik wawancara tidak terarah (non-directive interview) atau tidak terstruktur (free flowing interview)
yaitu dengan mengadakan komunikasi langsung kepada informan, dengan menggunakan pedoman wawancara (interview guide) guna mencari jawaban atas
pelaksanaan akad pembiayaan dana talangan haji pada bank syariah di kota Medan.
5. Analisis Data.
Semua bahan yang diperoleh dari bahan pustaka serta data yang diperoleh dilapangan dianalisa secara kualitatif. Melalui metode deduktif, data sekunder yang telah diuraikan dalam tinjauan pustaka secara komparatif akan dijadikan pedoman dan dilihat pelaksanaannya dalam melihat pembiayaan dana talangan haji pada Bank Sumut Syariah di kota Medan. Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini dianalisa dengan cara kualitatif, selanjutnya dilakukan proses pengolahan data, setelah selesai pengolahan data baru ditarik kesimpulan dengan menggunakan metode deduktif.
BAB II
KONSEP PENGELOLAAN DANA TALANGAN HAJI DI BANK SUMUT SYARIAH CABANG MEDAN
A. Konsep Pengelolaan Dana
1. Pengertian Konsep Pengelolaan Dana Menurut Hukum Perbankan
Dalam pengelolaan dana bank, ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu aspek likuiditas (kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dana dengan segera dan dengan biaya yang sesuai), dan aspek rentabilitas (alat untuk menganalisis atau mengukur tingkat efisiensi usaha yang dicapai oleh bank yang bersangkutan), dan pengelolaan dua aspek ini sangat penting dalam pengelolaan dana bank syari’ah, karena disatu sisi bank harus memenuhi kewajibannya terhadap nasabah yang ingin menarik dana dan disisi lain bank juga perlu untuk mendapatkan keuntungan dari dana yang telah dihimpun dari masyarakat untuk membayarkan biaya bunga maupun biaya operasional dari bank itu sendiri.
Dalam pengelolaan dua aspek ini, bank harus siap untuk menanggung segala resiko yang mungkin timbul dari penghimpunan ataupun penyaluran dana yang dilakukan, dan dalam hal ini yang dapat dilakukan oleh bank yaitu dengan meminimalisir segala resiko yang mungkin terjadi bahkan jika mungkin bank harus bisa terhindar dari segala resiko operasional sehingga bank masih dapat mengambil keuntungan dari penyaluran dan penghimpunan dana tersebut. Dan disinilah
diperlukanAssetsdan Liability Management(pengelolaan resiko jangka pendek) dari
sebuah bank.35
Assets Liability Management(ALMA) adalah suatu proses pengelolaan aktiva
dan pasiva secara terpadu, berkesinambungan untuk mencapai keuntungan dalam situasi lingkungan usaha yang bergejolak atau secara ringkas dapat dikatakan bahwa
Assets Liability Management merupakan pengelolaan risiko jangka pendek aktiva
pasiva yaitu resiko likuiditas, resiko perubahan peningkatan suku bunga, resiko
pembatasan devisa suatu negara, resiko modal.36 Dan dalam keberhasilannya ALMA
memerlukan koordinasi serta partisipasi dari seluruh bagian yang terlibat dalam penanganan aktiva dan pasiva bank, dimana koordinasi seluruh bagian ini disebut denganALCO(Assets Liabilities Management Committee).37
ALCO adalah suatu wadah untuk menampung kebersamaan proses
manajemen untuk mencapai keberhasilan tujuan bank, tetapi dalam hal ini ALCO
hanya bertindak sebagai wadah penampung kebersamaan dalam mengelola kebijaksanaan, strategi, serta pengambilan keputusan dan bukan merupakan fungsi manajemen dariALMA.
Dalam Bank Syari’ah, pada dasarnya dalam pengelolaan keuangan baik modal ataupun pertanggungjawabannya masih sama dengan bank-bank pada umumnya. Namun, untuk bank syari’ah ada perbedaan mendasar dalam dominasi pembagian
35Slamet Riyadi, 2006. Banking Assets and Liability Management (Edisi Ketiga). Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2006, hal.30
36Imam Rusyamsi, Asset Liability Management (Strategi, Pengelolaan Aktiva Pasiva Bank. Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 1999, hal 54.
hasil atau keuntungan dalam pendistribusian uang tersebut. Dalam bank syari’ah itu sendiri lebih banyak bertumpu pada kualitas aset, dimana kualitas ini akan banyak
menarik perhatian dari nasabah untuk meng-investasikan dananya di bank syari’ah dan ini juga berarti bank tersebut juga meningkatkan pertanggungjawabannya. Dan dalam hal peningkatan kualitas modal ini kemampuan manajemen untuk melakukan fungsinya sebagai profesional investment manager akan menentukan kualitas modal
yang dikelolanya.
Untuk mendapatkan keuntungan besar dari segala pengelolaan modal dan pertanggungjawabannya, bank harus mampu menangani segala resiko yang mungkin muncul selama proses pengelolaan dana nasabah dan investor tersebut. Berikut ini resiko-resiko yang mungkin timbul dari penempatan dana yang dilakukan oleh bank, antara lain:
a. Liquidity Risk(resiko likuiditas)
b. Interest Rate Risk(Resiko perubahan peningkatan suku bunga)
c. Credit Risk(resiko kredit/pembiayaan)
d. Management Risk(resiko manajemen)
e. Exchange Risk(resiko perubahan nilai tukar)
f. Sovereign Risk((resiko pembatasan devisa di suatu negara)
g. Legal Risk(resiko dari pelanggaran hukum yang berkaitan dengan aspek yuridis)
h. Market Risk(resiko yang timbul dalam proses operasional dilapangan)
Dari berbagai resiko yang timbul diatas, hal ini sama-sama mungkin untuk dialami oleh semua bank baik itu bank syari’ah atau konvensional. Tetapi, tentu saja ada perbedaan yang mendasar dalam pengelolaan modal dan pertanggungjawaban dari bank syari’ah untuk mencapai tingkat likuiditas dan rentabilitas. Berikut adalah beberapa karakteristik yang membedakan pengelolaan Bank syari’ah dengan Bank konvensional, antara lain:38
1. Bank Syari’ah menjamin pembayaran kembali nominal simpanan giro dan tabungan (Wadi’ah), tetapi tidak menjamin pembayaran kembali nilai nominal
dari deposito dan juga tidak menjamin keuntungan atas deposito. Sehingga mekanisme pengaturan pembagian keuntungan atas deposito bergantung pada kinerja bank. Berbeda dengan sistem yang digunakan oleh bank konvensional yang menjamin pembayaran keuntungan deposito atas bunga tertentu.
2. Sistem operasional bank syari’ah berdasarkan prinsip Equity, dalam hal ini
semua modal memiliki resiko, sehingga hubungan bank dengan nasabah (investor) berdasarkan prinsip bagi hasil dan berbagai resiko.
3. Tingkat likuiditas bank syari’ah tergantung pada tingkat kelabilan deposito nasabah, kepercayaan dana-dana pada non-PLS (Profit Loss Sharing),
kompetensi teknis yang berhubungan dengan pengaturan struktur tanggung jawab, ketersediaan modal yang siap dikonversikan menjadi kas dan akses pada pasar antar bank dan sumber dana lainnya.
4. Dalam bank konvensional, tingkat likuiditasnya bergantung pada ada tidaknya pengendalian likuiditas yaitu perhatian pada biaya yang ditimbulkan dalam pengendalian likuiditas, arus dana masuk dan keluar dan tingkat suku bunga.
Didalam sebuah badan seperti bank, ada yang namanya pembiayaan yang di berikan oleh pihak pengelola untuk nasabah. Pembiayaan tersebut di berikan bank guna untuk membantu nasabah yang membutuhkan dana dengan bentuk tagihan yang mana dalam jangka waktu tertentu dengan kesepakatan atau persetujuan antara pihak bank dan nasabah.
Dalam arti sempit, pembiayaan dipakai untuk mendefinisikan pendanaan yang dilakukan oleh lembaga pembiayaan seperti bank syariah kepada nasabah. Pembiayaan secara luas berarti financing atau pembelanjaan yaitu pendanaan yang
dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun dikerjakan oleh orang lain.
Sedangkan menurut UU N0. 10 tahun 1998 tentang Perbankan menyatakan :39 “Pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.”
Menurut Muhammad Syafi’i Antonio, Pembiayaan atau financing, yaitu pendanaan yang diberikan oleh suatu pihak kepada pihak lain untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun lembaga. Dengan kata lain, pembiayaan adalah pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah direncanakan.
Dalam pelaksanaan pembiayaan, bank syariah harus memenuhi beberapa aspek, diantaranya:40
1. Aspek Syar’i, berarti dalam setiap realisasinya pembiayaan kepada para nasabah, bank syariah harus tetap berpedoman pada syariat islam (antara lain tidak mengandung unsur maisir, gharar dan ribaserta bidang usahanya harus
halal).
2. Aspek Ekonomi, berarti disamping mempertimbangkan hal-hal syariah bank syariah tetap mempertimbangkan perolehan keuntungan baik bagi bank syariah maupun bagi nasabah bank syariah.
Pelaksanaan pembiayaan pada bank syariah dicakup bagian pemasaran, yaitu sebagai aparat manajemen yang ditugaskan untuk membantu direksi dalam menangani tugas-tugas khususnya yang menyangkut bidang marketing dan
pembiayaan. Beberapa tugas pokok bidang pemasaran adalah:41
1. Melakukan koordinasi setiap pelaksanaan tugas–tugas pemasaran dan pembiayaan.
2. Melakukan pengamatan,evaluasi,dan pengawasan
3. Bertindak sebagai komite pengambilan keputusan pembiayaan. 4. Melayani, menerima tamu secara aktif (calon nasabah atau nasabah).
Menurut Muhammad Syafi’i Antonio Ada empat kelompok petugas-petugas yang menjalankan aktivitas pembiayaan pada bank syariah, mulai dari yang
40Joko Adi Yulianto, Pengertian Kredit dan Pembiayaan, http://boeink-494.blogspot.com/2009/06/pengertian-dan-jenis-pembiayaan-di-bank.html, diakses pada 22 Maret 2012
41
menawarkan produk bank syariah sampai pada petugas yang melakukan penanganan pembiayaan macet. Petugas-petugas tersebut adalah:42
1. Account Officer(A/O)
A/O atau pembina pembiayaan bertugas memproses calon nasabah pembiayaan. Selanjutnya membina nasabah tersebut agar memenuhi kesanggupan terutama dalam pembayaran kembali pinjamannya. Dengan demikian jauh hari sebelum menjadi nasabah perlu dilakukan penanggulangan kemungkinan terjadi masalah, sehingga sejauh mungkin dihindari dengan carapreventif(penanggulangan).
2. Bagiansupport(pendukung) pembiayaan
Bersama dengan A/O mengadakan penilaian pemohon pembiayaan sehingga memenuhi kreteria dan persyaratannya. A/O dalam memproses calon nasabah dari segi keandalannya, sedangkan bagian pendukung dari segi keabsahannya, seperti kebenaran lampiran, usaha maupun penggunaan pembiayaan, taksasi jaminan,
keabsahan jaminan,dan lain-lain. 3. Bagian Administrasi
Di dalam proses pembiayaan terdapat administrasi yang ditangani oleh A/O atau pun bagian support pembiayaan. Disamping itu setelah pemohon menjadi
nasabah mulai dari pencairan dananya sampai pelunasan ataupun pembayaran debitur akan ditangani oleh bagian administrasi pembiayaan.
4. Bagian Pengawasan Pembiayaan
Bagian pengawasan pembiayaan bertugas untuk memantau pembiayaan antara lain membuat surat-surat peringatan kepada nasabah, penagihan-penagihan. Disamping itu juga mengadministrasikan jaminan ataupun mengurusi data nasabah.
Untuk memantapkan performa kerjanya, pejabat bank syariah sebagai suatu profesi perlu menjunjung tinggi kode etik pejabatan pembiayaan bank syariah, yaitu: 1. Patuh pada perundang-undangan dan peraturan pembiayaan
2. Memperhitungkan dampak dari setiap kebiajakan terhadap ekonomi, sosial, dan lingkungan.
3. Menjaga kerahasian nasabah dan banknya
Menurut Rivai dan Vaithzal, analisis pembiayaan atau penilaian pembiayaan dilakukan oleh Account Officer atau bahkan dapat pula berupa Committee
(tim) yang ditugaskan untuk menganalisis permohonan pembiayaan. Account officer dituntut memiliki keahlian dan keterampilan, baik teknis maupun operasional, serta memiliki penguasaan pengetahuan yang bersifat teoritis.43
Account officer yang baik telah terbiasa dengan berbagai barang yang lazim
digunakan untuk menganalisis, mengetahui cara-cara menganalisis, memiliki pengetahuan yang memadai tentang aspek ekonomi keuangan, manajemen, hukum, dan teknis, serta memiliki wawasan yang luas mengenai prinsip-prinsip pembiayaan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu
43Rivai dan Veithzal, Islamic Financial Management, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta 2008, hal. 345
memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”44
Tujuan utama dalam melakukan analisis pembiayaan adalah menilai seberapa besar kemampuan dan kesediaan debitur mengembalikan pembiayaan yang mereka pinjam dan membayar keuntungan dan bagi hasil sesuai dengan isi perjanjian pembiayaan. Berdasarkan penilaian ini, bank dapat memperkirakan tinggi rendahnya risiko yang akan ditanggung. Dengan demikian, pihak bank dapat memutuskan apakah permintaan pembiayaan yang diajukan ditolak, diteliti lebih lanjut atau diluluskan (kalau perlu dengan memasukkan syarat-syarat khusus kedalam perjanjian pembiayaan).
2. Pengertian Konsep Pengelolaan Dana Talangan Haji Menurut Hukum Islam.
Pembiayaan dana talangan haji merupakan suatu proses penyerahan dari pihak bank yang memberikan dana talangan haji kepada nasabah yang ingin mendaftarkan haji di Kementerian Agama, tetapi dananya belum mencukupi untuk membayar BPIH untuk mendapatkan porsi haji, kemudian bank syariah yang memberikan dana talangan haji itu kepada nasabah untuk mendapat waiting list (porsi haji) di
Kementerian Agama.
Pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berupa : transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah. Akad syariah yang dapat dipergunakan dalam kegiatan penyaluran dana berupa pembiayaan disebutkan, antara lain, dalam ketentuan Pasal 3 huruf b Peraturan Bank Indonesia Nomor 9/19/PBI/2007 yang menetapkan bahwa :
Dalam kegiatan penyaluran dana berupa pembiayaan dengan mempergunakan, antara lain akad mudharabah, musyarakah, murabahah, salam, istishna, ijarah, ijarah mumtahiyah bittamlikdanqardh.45
Dalil pensyariatanal-qardh(pinjaman) adalah hadits dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang membantu seorang mukmin terhadap kesusahan dari kesusahan dunia, niscaya Allah SWT membantunya terhadap segala kesusahan hari kiamat. Dan barang siapa yang memberi kemudahan kepada orang yang kesusahan, niscaya Allah SWT memberi kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat. Dan barang siapa yang menutup (aib) seorang muslim niscaya Allah SWT menutupi (kesalahannya) di dunia dan akhirat. Dan Allah SWT selalu menolong hamba selama hamba itu selalu menolong saudaranya.”(HR. Muslim).46
Hadist di atas menunjukkan bahwa pinjaman disyariatkan dalam rangka saling membantu diantara umat muslim. Selayaknya umat Islam memperhatikan syariat pinjaman (al-qardh) dengan semangat membantu saudaranya sesama muslim, tanpa
mengharap imbalan (tambahan) dari saudaranya yang berhutang kepadanya. Syari’at menjelaskan bahwa al-qardh tidak membolehkan adanya tambahan pengembalian,
sebagaimana qaidah ushuliyah menyebutkan: “Setiap pinjaman yang mensyaratkan
tambahan hukumnya haram”.
Dasar hukum talangan haji yang terdapat dalamAl-qur’anyang berbunyi :
”apakah mereka membagikan rahmat tuhanmu? Kami yang membagikan penghidupan diantara mereka dalam kehidupan dunia ini. Dan kami tinggikan sebagian dari yang lain beberapa tingkat, agar sebagian itu dapat membantu yang lain (si kaya membantu yang miskin dan yang kuat membantu
45Evi Isretno, Pembiayaan Mudharabah Dalam Sistem Perbankan Syariah, Cintya Press, Jakarta, 2011,hal.20.
46Anita Yuniar, Dana Talangan Haji, http://adiseko.wordpress.com , diakses pada 14 Mei 2012.
yang lemah).dan rahmat tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.47
Juga terdapat dalam suratAl-qashash (28: 26)yang berbunyi :
”salah seorang dari kedua wanita itu berkata, wahai bapakku! Angkatlah ia menjadi karyawan. Sesungguhnya yang baik engkau angkat menjadi karyawan ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”48
”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”.49
Adanya perbankan syariah di Indonesia dipelopori oleh berdirinya Bank Muamalat Indonesia yang diprakarsai oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) dengan tujuan mengakomodir berbagai aspirasi dan pendapat di masyarakat terutama masyarakat Islam yang banyak berpendapat bahwa bunga bank itu haram karena termasuk riba dan juga untuk mengambil prinsip kehati-hatian.
Dalam sosialisasi Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Dana Haji (RUUPDH) pemerintah mengusulkan dikelola dengan model Badan layanan Umum (BLU) dengan demikian persepsi negatif selama ini dalam pengelolaan dana haji bisa dihindari. Abdul Ghofur Jawahir, Sekretaris Direktorat Jenderal (Ditjen) Haji dan Umrah Kementerian Agama, menganggap model BLU dirasakan sangat tepat dengan demikian dana haji dapat dikelola secara profesional.
Dana haji diakui olehnya sangat besar maka sangat diperlukan pemanfaatan yang benar dan mampu digunakan dalam pemberdayaan masyarakat. Abdul Ghofur
47Al-qur’ansuratAz-Zukhruf(43: 32). 48Al-qur’an, suratAl-qashash (28: 26.)
Jawahir sangat iri melihat Malaysia dengan kosep tabungan haji-nya dimana sejauh ini mampu diberdayakan untuk sektor riil. Sedangkan Sofyan Safrii Harahap, menolak tegas jika dana haji dikelola dengan cara BLU, ia memilih agar dana haji dikelola oleh lembaga independen seperti lembaga keuangan tapi non bank. Dengan demikian ia menyakini lembaga tersebut bisa bekerja secara profesional.50
Meski Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Dana haji (RUUPDH) belum mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), tapi penempatan dana haji di instrumen Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Sukuk tidak bertentangan
terhadap Undang-Undang (UU). Dengan demikian sukuk dana haji yang telah
diterbitkan oleh pemerintah hingga empat kali tersebut dinyatakan legal.
Demikian pernyataan, Abdul Ghofur Jawahir, sekretaris Direktorat Jenderal (Ditjen) Haji dan Umrah Kementerian Agama, saat berbicara dalam seminar sosialisasi RUU Pengelolaan Dana Haji di hotel Borobudur – Jakarta, Kamis (17/3). Menurutnya, penempatan dana haji di sukuk sebagai upaya pemerintah untuk
memproteksi penyalahgunaan dana tersebut dan menyelamatkannya jika terjadi krisis keuangan.51
Sejak tahun 2004, Kementerian Agama memberlakukan sistem pembayaran setoran awal untuk BPIH. Para calon jamaah (calhaj) menyetorkan dana mereka ke 27 bank penerima setoran (BPS) awal. Hingga akhir Februari, ditaksir jumlah dana
50Choir,Usul Pemerintah Soal Pengelolaan Dana Haji, http://zonaekis.com, diakses pada 13 April 2012.
51Choir,Penempatan Dana Haji di Sukuk Tak Menyalahi UU,http://zonaekis.com, diakses pada 13 April 2012.
setoran itu terkumpul Rp 38.000.000.000.000 (tiga puluh depalan triliun rupiah). Sebagian BPS menggulirkan program dana talangan BPIH. Calhaj diberi kemudahan oleh sejumlah lembaga keuangan resmi berupa dana talangan. BPIH calhaj dipenuhi oleh lembaga yang bersangkutan agar mendapat nomor antrian. Di kemudian harinya, nasabah tersebut membayarnya dengan mengangsur52.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan kemakmuran rakyat Indonesia bukanlah isapan jempol belaka. Salah satu indikasi kemakmuran itu adalah semakin banyak warga yang menunaikan haji. Saat ini, telah tercatat 1.700.000 (satu juta tujuh ratus ribu) orang yang masuk daftar tunggu haji. Pertumbuhan ekonomi kita semakin membaik kedepannya.53
Pada akhir-akhir ini semakin banyak umat muslim yang mendaftarkan beribadah ke Tanah Suci. Laporan yang telah di terima, hingga 13 Maret 2012 di Kementerian Agama telah tercatat 1.700.000 (satu juta tujuh ratus ribu) calon haji. Kedepan akan semakin banyak lagi yang mendaftar haji. Presiden juga mengatakan