• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II URAIAN TEORITIS

2.5 Hipotesis

Hipotesis adalah proposisi yang akan diuji keberlakuannya atau suatu jawaban sementara atas pernyataan penelitian (Prasetyo & Jannah, 2005: 76).

Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Ho : Tidak ada pengaruh antara logo “Sir Salon”cabang Setiabudi Medan terhadap citra perusahaan di mata pelanggan.

Ha : Adanya pengaruh logo “Sir Salon”cabang Setiabudi Medan terhadap citra perusahaan di mata pelanggan.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Metode dalam pembuatan penelitian ini menggambarkan tentang tata cara pengumpulan data yang diperlukan guna menjawab permasalahan yang ada dalam kegiatan ilmiah. Metodologi merupakan hal yang penting untuk menentukan secara teoritis teknik operasional yang dipakai sebagai pegangan dalam mengambil langkah-langkah penyelesaian dalam penelitian.

3.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di “Sir Salon” cabang Setiabudi simpang Dr. Mansyur no. 54, Medan, Sumatera Utara.“Sir Salon” merupakan salon pria dengan kelas premium , salah satu top Salon for man yang dengan konsep vintage/klasik yang memberikan kenyamanan untuk merapikan diri pelanggan serta ditangani oleh stylish profesional untuk menangani masalah rambut.

3.1.1. Sejarah “Sir Salon” Medan

Salon khusus pria, “Sir Salon” kini hadir memberikan perawatan yang berbeda kepada setiap customer dan melayani pelanggannya layaknya seperti

“seorang tuan”. Salon yang ini sudah memiliki 12 cabang di Medan, dan masing-masing 1 cabang di Marelan, Binjai, Stabat, Rantau Prapat, Sibolga, Kisaran dan 2 cabang di Tangerang dan 1 cabang Sir AcademyDengan tagline “We Serve You Like A Sir”, salon ini cukup sukses menarik pelanggan di Medan. Dengan segmen mencakup semua kalangan di antaranya, eksekutif muda, karyawan dan mahasiswa, “Sir Salon”

mampu melayani 50 sampai 100 pelanggan setiap hari untuk masing-masing cabang.

Selain mencukur rambut, di sini juga bisa mengecat rambut, hair tato dan creambath.

Dan berikut ringkasan mengenai Sir Salon.

3.1.2 Ringkasa Eksekutif

Gambar 3.1 Logo Sir Salon

Sir Salon didirikan pada tahun 2013 di Medan. Sir Salon merupakan tempat potong rambut dan perawatan rambut yang dikhususkan untuk pria. Sir Salon berkantor pusat di JL. M.H THAMRIN No. 75K, Pandau Hulu I, Medan. Dan saat ini telah memiliki 21 cabang milik sendiri, 12 cabang di Medan, 1 cabang masing-masing di Marelan, Binjai, Stabat, Rantau prapat, Sibolga, Kisaran dan 3 cabang franchise di Jakarta dan medan dan 1 Sir Academy.

Sir Salon menerima sambutan yang sangat baik dikarenakan Sir Salon mengusung konsep yang berbeda dengan salon pria pada umumnya. Sir Salon menggunakan tema vintage di dalam design interior salon.

Terciptanya design logo Sir Salon tersebut pada dasarnya terinspirasi dari gambar gunting dan sirir seperti tempat pangkas pada umumnya, namun Sir Salon ingin membuat tampilan yang berbeda dengan menampilkan gambar seorang stylish atau seroang tukang cukur dengan tampilan yang rapi dan menarik, namun tidak menghilangkan unsur adanya gunting dan sisir yang melambangkan sebagau tempat cukur rambut bagi pria.

3.1.2.1 Profil Usaha

3. Tempat dan Tanggal Lahir 4. Nomor Telepon

5. Alamat E-mail

3.1.3 Analisa Pasar Dan Pemasaran

3.1.3.1 Produk/Jasa Yang Dihasilkan

Pada jaman era baru,dunia fashion dan penampilan diri tidak hanya digemari oleh kaum wanita saja,tidak hanya wanita yang perhatian dengan tampilan gaya rambut. Saat ini, kaum pria juga sangat peduli dengan model gaya rambutnya. Untuk mendapatkan potongan rambut yang sempurna, para pria juga tidak ragu untuk pergi ke salon pangkas rambut pria atau barbershop.

Peluang ini juga yang ditangkap oleh SIRSALON,Medan. Usaha ini berdiri sejak tahun 2013, dan kini mereka telah memiliki total 21 gerai yang berlokasi di kota Medan dan franchaise di Jakarta. Guna membesarkan usaha dan nama, sejak januari 2014 SIRSALON mulai menawarkan kemitraan.

Dengan sistem managemen yang sudah terpola dan handal, ritme pengelolaan bisnis ini yang sudah cukup dikuasai dan sudah memiliki sir academy yang diajarkan tenaga ahli yang berpengalaman, maka Sir Salon saat ini juga manawarkan Sistem Kemitraan Franchise “SIRSALON premium barbershop”

yang tentunya tidak kalah bagusnya dengan Barbershop yang lain yang hanya fokus di pemotongan rambut/pangkas, namun Sir Salon memberikan nilai

SIR SALON

SALON FOR MAN / BARBERSHOP

JL. M.H THAMRIN No. 75K, Pandau Hulu I, Medan +6281261400572

layanan serta dekorasi tempat yang kreatif dengan di lengkapi mesin steril gunting untuk mensterilkan gunting agar tetap bersih dan nyaman serta mesin-mesin lainnya dan Sir Salon satu satunya yang memiliki sekolah pangkas sendiri. Itulah yang membedakan brand Sir Salon ini dengan brand-brand atau salon yang lain.

3.1.4 Gambaran Pasar

Salon untuk pria memiliki pasar yang sangat luas. Dengan konsep yang mengikuti Barbershop di Amerika, SIRSALON sebagai Salon For Men pertama di Medan yang menggabungkan konsep barberman dari barbershop dan stylish yang awalnya hanya digunakan oleh salon – salon pada umumnya. Keunggulan dari SIRSALON ini lah yang membawanya berkembang lebih pesat daripada salon / barbershop lainnya di Medan.

3.1.5 Segmen, Target dan Perkembangan Pasar Yang Dituju

SIRSALON yang awalnya mensegmentasikan pasar dari kalangan atas ke menengahdan menargetkan anak sekolahan ataupun mahasiswa dan eksekutif muda yang mengikuti trend tapii perlahan-lahan telah merambat dari anak kecil bahkan sampai orang tua berusia lanjut.

3.1.6 Analisa Usaha 3.1.6.1 Strength

Salon for Men pertama di Medan dengan penggabungan konsep stylish and barberman. SIRSALON telah memiliki brand yang marketable. Brand yamg sudah dikenal ini telah menghasilkan sejumlah loyal customeryamg hanya mempercayai SIRSALON untuk menata rambutnya.

3.1.6.2 Weakness

Peningkatan pesat permintaan kemitraan terhadap SIRSALON berefek terhadap keterbatasan jumlah SDM terlatih yang disediakan oleh pihak SIRSALON.

3.1.6.3 Opportunities

Trend Hairstyle yang terus-terusan berubah-ubah membuka peluang yang besar untuk SIRSALON untuk berkreasi dan mengikuti trend terbaru.

Training centre and Schooldilihat sebagai peluang besar untuk memajukan SDM dan meningkatkan kualitas servis serta produk SIRSALON.

3.2. Metode Penelitian

Metode pada dasarnya berarti cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan. Oleh karena tujuan umum penelitian adalah memecahkan masalah maka langkah-langkah yang akan ditempuh harus relevan dengan masalah yang akan dirumuskan (Nawawi, 2001: 65).

Metode korelasional menjadi pilihan dalam penelitian ini.

Metode korelasional memiliki tujuan untuk meneliti sejauh mana variasi pada faktor lain. Dalam penelitian ini, metode korelasional digunakan untuk meneliti sejauh mana pengaruh logo “Sir Salon”cabang Setiabudi Medan terhadap citra perusahaan di mata pelanggan.

3.3. Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2008:80) . Populasi yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah pelanggan “Sir Salon”cabang Setiabudi Medan rata-rata perbulan berjumlah 790 orang. Data yang didapat setelah melakukan penelitian secara langsung di “ Sir Salon”.

Tabel 3.1

Jumlah Populasi Pelanggan dalam Bulan Desember 2016

Hari Ke- Rata-rata Jumlah Pelanggan

Hari Ke- Rata-rata Jumlah Pelanggan Sumber: Data jumlah pelanggan “Sir Salon” Desember 2016

3.3.2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono,2008:81). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan rumus Taro Yamane untuk menentukan jumlah sampel. Jumlah sampel nya adalah 89 orang, setelah menggunakan rumus.

Adapun rumus Taro Yamane adalah sebagai berikut :

𝑛𝑛 =

𝑁𝑁(𝑑𝑑𝑁𝑁2)+ 1

Keterangan: n : jumlah sampel N : jumlah populasi

d : batas ketelitian yang diinginkan

berdasarkan rumus diatas, jumlah sampel yang dipilih adalah sebagai berikut:

𝑛𝑛 = 790

790(0,1)2 + 1 = 89 𝑜𝑜𝑜𝑜𝑜𝑜𝑛𝑛𝑜𝑜

3.3.3 Teknik Penarikan Sampel

Teknik yang digunakan dalam penarikan sampel ini adalah sebagai berikut :

• Accidental Sampling (Sampling Insidental)

Sampling insidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.

• Purposive Sampling

Sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Sampling purposive dilakukan dengan mengambil orang-orang yang terpilih betul oleh peniliti menurut ciri-ciri spesifik yang dimiliki sampel itu (Taher, 2009 : 67).

Adapun yang menjadi ciri-ciri spesifik yang akan menjadi sampel penelitian adalah pelanggan “Sir Salon “ cabang Setiabudi Medan.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data adalah teknik atau cara-cara yang dapaat digunakan periset untuk mengumpulkan data (Kriyantono, 2010: 95). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Penelitian Lapangan (Field Research)

Penelitian lapangan merupakan penelitian menggunakan penyebaran angket kepada responden. Angket yang disebarkan berupa pertanyaan-pertanyaan mengenai penelitian yang akan dijawab oleh responden.

2.Penelitian Kepustakaan (Library Research)

Penelitian kepustakaan ini merupakan suatu cara pengambilan data yang dilakukan melalui keputusan dengan membaca buku-buku literatur serta tulisan yang berkaitan dengan masalah skripsi peneliti.

3.5 Teknik Analisis Data 1. Analisis Tabel Tunggal

Analisis tabel tunggal merupakan suatu analisis yang dilakukan dengan membagi-bagikan variablepenelitian ke dalam kategori-kategori yang dilakukan atas dasar frekuensi.

Tabel tunggal merupakan langkah awal dalam menganalisa data yang terdiri dari dua kolom, yaitu sejumlah frekuensi dan kolom presentase untuk setiap kategori (Singarimbun,2008 : 273).

2. Analisis Tabel Silang

Analisis tabel silang merupakan teknik yang digunakan untuk menganalisis dan mengetahui variabel yang satu memiliki hubungan dengan variabel yang lainnya, sehingga dapat diketahui variabel tersebut positif atau negatif. (Singarimbun, 2008: 273)

3. Uji Hipotesis

Uji hipotesis yaitu pengujian data dan statistik untuk mengetahui data hipotesis yang diajukan dapat diterima atau ditolak. Untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel yang dikorelasikan, maka digunakan rumus Rank-Order (Spearman’s Rank-Order Correlations), yaitu sebagai berikut :

𝜌𝜌 = 1 −

𝑛𝑛(𝑛𝑛6Σd2−1)

Keterangan :

𝜌𝜌 : koefisien korelasi

1 : angka satu, bilangan konstan 6 : angka enam, bilangan konstan Σd : jumlah kuadrat selisih kedua ranking n : jumlah sampel

Untuk menentukan kekuatan hubungan dari hasil perhitungan di atas maka digunakan nilai koefisien korelasi sebagai berikut:

0 : tidak ada korelasi

<0,20 : korelasi rendah sekali 0,20 - 0,40 : korelasi rendah tapi pasti

0,41 - 0,70 : korelasi yang cukup berarti 0,71 - 0,90 : korelasi yang tinggi

0,91 - 1,00 : korelasi sangat tingi 1 : korelasi sempurna

Berdasarkan nilai rho (rs), untuk mengetahui pengaruh variabel X terhadap variabel Y maka dilakukan uji determinasi (Kriyantono, 2006:169). Pada penelitian ini, uji determinasi dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh logo “Sir Salon” cabang Setiabudi Medan terhadap citra perusahaan di mata pelanggan

D = rs2

. 100%

Keterangan:

D : kekuatan determinan (kekuatan prediksi) rs : korelasi Spearman

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tahapan Pelaksanaan Penelitian

Dalam melaksanakan penelitian ini, peneliti melakukan beberapa tahapan mulai dari proses pengumpulan data hingga menganalisis data. Tahap-tahap yang dilakukan antara lain:

4.1.1 Pelaksanaan Pengumpulan Data

1. Pertama-tama yang dilakukan oleh peneliti ialah meminta izin kepada bagian pendidikan FISIP USU untuk memberikan surat izin penelitian yang nantinya akan berguna untuk membantu kelancaran penelitian. Surat izin tersebut ditujukan kepada OfficeSir SalonMedan. Surat izin ini bertujuan untuk mempermudah memperoleh data yang akan dicari , dan juga menerangkan bahwa peneliti resmi melakukan penelitian yang sudah disetujui dari FISIP USU.

2. Sebelum melakukan penelitian dan juga untuk menghemat waktu saat surat izin belum diberikan, peneliti membuat konsep pertanyaan-pertanyaan kuesioner yang nantinya akan disebarkan kepada setiap pelanggan Sir Salon Setiabudi Medan.

3. Setelah mendapat surat izin dan mendapat persetujuan untuk melakukan penelitian dengan menyebarkan kuesioner oleh dosen pembimbing. Peneliti langsung memberikan surat izin tersebut kepada Office Sir Salon Medan untuk melanjutkan penelitian.

4. Sebelumnya peneliti sudah terlebih dahulu mengumpulkan data untuk memperoleh populasi dan sampel. Setelah mendapatkan sampelnya, peneliti langsung melakukan penelitian dengan menyebarkan kuesioner kepada setiap pelanggan yang sedang berada di Sir Salon, lebih tepatnya pelanggan yang sedang mengantri atau pada saat sudah selesai mencukur rambut. Dalam membagikan kuesioner, peneliti tidak perlu melakukan secara acak kepada pelanggan, dikarenakan peneliti melakukan Accidental Sampling, dimana

setiap pelanggan yang berada di Sir Salon secara kebetulan adalah sampelnya.

Kurang lebih peneliti melakukan penelitian ± 1 minggu pada bulan Februari 2017.

5. Dalam proses penelitian, peneliti tidak terlalu banyak mendapat kendala dalam melakukannya. Setelah data-data mencukupi kebutuhan, peneliti mengolah data tersebut untuk menjadi acuan dalam penelitian ini. Pengolahan data terdiri dari beberapa proses, antara lain penomoran kuesioner, editing, pengkodean, inventarisasi tabel, tabulasi data, dan pengujian hipotesis.

4.1.2 Teknik Pengelolahan Data

Setelah memperoleh data, peneliti melakukan pengolahan data lewa beberapa tahapan.

Adapun tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Penomoran kuesioner

Penomoran kuesioner yaitu mengumpulkan kuesioner dan nomor urut pada setiap kuesioner yang telah diisi oleh responden sebagai tanda pengenal (01-89).

2. Editing

Editing yaitu proses pengeditan jawaban responden untuk memperjelas jawaban yang meragukan dan menghindari terjadinya kesalahan pengisian kotak kode yang telah disediakan.

3. Pengkodean

Pengkodean yaitu proses pemindahan jawaban-jawaban responden ke dalam kotak kode yang telah disediakan pada lembar kuesioner dalam bentuk angka (skor).

4. Inventarisasi tabel

Inventarisasi Variabel adalah data mentah yang diperoleh dimasukkan ke dalam lembar FC (Foltran Cobol) sehingga membuat seluruh data dalam satu kesatuan.

5. Tabulasi data

Tabulasi data yaitu memindahkan variabel responden yang sudah melalui pengkodean dan inventarisasi variabel kedalam kerangka tabel. Adapun kerangka tabel yang digunakan oleh peneliti terdiri atas tabel tunggal dan tabel silang.

Selain disajikan dalam bentuk tabel, data juga dijelaskan dalam bentuk deskripsi teks untuk mempermudah pemahaman para pembaca.

6. Uji hipotesis

Pengujian hipotesis untuk mengetahui data manayang dapat diterima atau ditolak.

Untuk mengukur tinggi rendahnya hubungan antar variabel digunakan rumus Spearmank Rank. Peneliti menggunakan perangkat lunakStatistical Package for the Social Science (SPSS) dalam melakukan uji hipotesis ini.

4.2 Analisis Tabel Tunggal

Analisis tabel tunggal adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Tabel tunggal dalam pembahasan ini berjumlah sama dengan jumlah pertanyaan yang terdapat pada kuesioner, yaitu 28 pertanyaan. Data dalam tabel tunggal diperoleh dari jawaban responden yang berjumlah 89 orang.

4.2.1 Karakteristik Responden

Karakteristik responden perlu disajikan untuk mengetahui latar belakang responden.

Adapaun karakteristik yang dipakai adalah usia, pekerjaan responden, frekuesni mengunjungi Sir Salon Setiabudi Medan dalam waktu 6 bulan terakhir, pernah atau tidaknya responden melihat logo sir salon.

Tabel 4.1

Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

No. Uraian Frekuensi

(f)

Persentase (%)

1 16-18 tahun 13 14,6%

2 19-21 tahun 29 32,6%

3 21-25 tahun 40 44,9%

4 > 25 tahun 7 7,9%

Jumlah 89 100%

Sumber: P.1/FC.03

Berdasarkan data yang diperoleh dari tabel diatas, 40 dari 89 orang (44,9%) berada pada rentang usia 21 hingga 25 tahun. Kemudian, 29 dari 89 orang (32,6%) memiliki usia pada rentang 19 hingga 21 tahun. Selanjutnya terdapat 13 dari 89 orang (14,6%) berada pada

rentang usia 16 hingga 18 tahun, dan 7 dari 89 orang (7,9%) memiliki rentang usia diatas 25

Tabel diatas memuat karakteristik responden berdasarkan pekerjaan. Berdasarkan data yang diperoleh, pelajar/mahasiswa mendominasi pekerjaan responden yaitu 73 dari 89 orang (82,0%). Pegawai Negeri Sipil (PNS) menjadi pekerjaan 7 dari 89 orang responden yang memiliki presentase 7,9%. Dan selanjutnya responden dengan pekerjaan sebagai wiraswasta berjumlah 6 dari 89 orang dengan tingkat presentase 6,7% . Responden dengan presentase terkecil (3,4%) memiliki pekerjaan diluar opsi yang telah dibuat oleh peneliti, contohnya seperti freelance, job seeker , dan juga Pegawai BUMN berjumlah 3 dari 89 orang.

Tabel 4.3

Frekuensi Mengunjungi dalam 6 Bulan Terakhir

No. Uraian Frekuensi

Dari tabel ini menunjukkan jumlah kunjungan responden di Sir Salon Setiabudi Medan dalam waktu 6 bulan terakhir. Berdasarkan tabel diatas sebanyak 44 dari 89 orang datang ke Sir Salon Setiabudi Medan untuk melakukan perawatan/mencukur rambut sebanyak 2 kali dalam waktu 6 bulan terakhir dengan Persentasetase 49,4%. Selanjutnya, 31 dari 89 orang yang datang ke Sir Salon Setiabudi Medan dengan frekuensi 3 kali dan dengan presentase 34,8%. Dan untuk frekuensi terakhir ada 7orang dari 89 yang datang ke Sir Salon Setiabudi Medan sebanyak 5 kali, dan untuk diatas 5 kali terdapat juga 7 orang dari 89 orang yang datang ke Sir Salon Setiabudi Medan. Jadi untuk kedua frekuesni terakhir ini memiliki presentasi 7,9% masing-masingnya.

Tabel 4.4

Frekuensi Responden dalam Melihat Logo Sir Salon

No. Uraian Frekuensi

(f)

Persentase (%)

1 Tidak pernah 2 2,2%

2 Jarang 28 31,5%

3 Sering 48 53,9%

4 Sangat sering 11 12,4%

Jumlah 89 100%

Sumber: P.4/FC.06

Tabel diatas berisi karakteristik responden berdasarkan frekuensi dalam melihat logo Sir Salon. Berdasarkan data yang diperoleh dari tabel diatas terdapat empat opsi yang peneliti uraikan, sebanyak 48 dari 89 orang responden yang sering melihat logo Sir Salon dengan Persentasetase 53,9%. Selanjutnya dengan frekuensi 28 dari 89 orang responden yang jarang melihat logo Sir Salon dengan Persentasetase sebesar 31,5%. Responden dengan

Persentasetase 12,4% dengan frekuensi sebanyak 11 dari 89 orang responden sangat sering melihat logo Sir Salon tersebut. Dan yang terakhir terdapat 2 dari 89 orang yang tidak pernah melihat logo Sir Salon dengan tingkat Persentasetase 2,2%.

4.3.2 Logo Sir Salon Sebagai Identitas Perusahaan

Tabel 4.5

Intensitas Responden dalam Memerhatikan logo Sir Salon

No. Uraian Frekuensi

(f)

Persentase (%)

1 Tidak pernah 6 6,7%

2 Jarang 40 44,9%

3 Sering 37 41,6%

4 Sangat sering 6 6,7%

Jumlah 89 100%

Sumber: P.5/FC.07

Berdasarkan tabel yang dimuat diatas tentang intensitas setiap responden dalam memerhatikan logo Sir Salon. Dari tabel yang tertera diatas diperoleh 44,9% Persentasetase dari 89 responden dengan jumlah 40 orang yang jarang memerhatikan logo Sir Salon. Tidak berbeda jauh dengan Persentasetase dan frekuensi sebelumnya, terdapat 37 orang responden dengan tingkat Persentasetasenya 41,6 dari 89 responden yang ada. 37 responden tersebut memberikan jawaban bahwa mereka sering memerhatikan logo Sir Salon, baik saat hendak mencukur rambut ataupun ditempat lain. Data yang diperoleh selanjutnya menunjukkan bahwa dua frekuensi terakhir memiliki jumlah yang sama. Sama-sama memiliki frekuensi 6 dari 89 orang responden yang memberikan jawaban, bahwa mereka ada yang tidak pernah dan juga sering memerhatikan logo Sir Salon tersebut, dengan tingkat Persentasetase yang sama juga yaitu 6,7%.

Tabel 4.6

Informasi Tentang Logo Sir Salon

No. Uraian Frekuensi

Berdasarkan data yang diatas bisa dilihat informasi atau pengetahuan setiap responden tetang logo Sir Salon,lebih tepatnya lagi darimana responden atau pelanggan tersebut mengetahui logo Sir Salon. Sebanyak 43 dari 89 orang pelanggan menjawab mereka mengetahui logo Sir Salon dari Sosial media, dengan tingkat Persentasetase 48,3%. Sosial media menjadi tempat paling banyak digunakan responden untuk mengetahui dan melihat logo Sir Salondan didukung dengan semakin berkembangnya zaman dimana setiap orang menggunakan gadgetmemudah responden untuk mengetahuinya melalui smartphone masing-masing. Di urutan kedua dengan Persentasetase 25,8% responden yang mengetahui logo Sir Salon menjawab diluar pilihan yang sudah disediakan oleh peneliti, beragam jawaban yang diberikan. Dari respon yang mereka berikan paling banyak menjawab mengetahuinya dari baliho yang berada di gerai Sir Salon itu sendiri, bahkan ada di tempat-tempat lainnya, dan juga banyak yang menjawab mereka mengetahuinya saat sedang melewati Sir Salon, bahkan ada yang mengetahuinya pada saat mereka sedang melakukan perawatan di Sir Salon dan melihatnya pada baju atau seragam yang digunakan oleh setiap stylish, dengan total responden tersebut berjumlah 23 dari 89 orang. Selanjutnya sebanyak 21 dari 89 responden menjawab bahwa mereka mengetahui logo Sir Salon melalui refrensi teman atau keluarga mereka masing-masing dengan tingkat Persentasetasenya 23,6%. Dan untuk yang terakhir dengan berjumlah hanya 2 dari 89 responden menjawab mereka mengetahui mengenai logo Sir Salonmelalui sebuah majalah yang mereka baca dan Persentasetase nya berjumlah 2,2%.

Tabel 4.7

Ketertarikan Pelanggan terhadap Bentuk Logo Sir Salon

No. Uraian Frekuensi

(f)

Persentase (%)

1 Tidak menarik 1 1.1%

2 Biasa saja 35 39,3%

3 Menarik 49 55,1%

4 Sangat menarik 4 4,5%

Jumlah 89 100%

Sumber: P.7/FC.09

Tabel diatas merupakan tingkat ketertarikan setiap repsonden terhadap bentuk logo Sir Salon. 55,1% dari 89 orang atau responden yang menjawab bahwa logo Sir Salon yang dilihat dan diperhatikan tersebut menarik perhatian setiap responden tersebut, dengan jumlah respondennya adalah 49 orang. Dandibeberapa respon pelanggan yang lain mereka menjawab bahwa bentuk dari logo Sir Salon memiliki daya tarik yang biasa saja, sebanyak 35 pelanggan menjawab respon tersebut dengan tingkat Persentasetase 39,3% dari jumalah 89 total responden yang ada. Selain merasa menarik dan biasa saja, ada pelanggan yang menjawab bahwa bentuk logo Sir Salon sangat menarik perhatian oleh 4 responden dari 89 repsonden yang ada (4,5%). Bentuk dari logo Sir Salon dinilai sifatnya tidak menarik oleh 1 responden yang merasakannya dengan tingkat Persentasetase 1,1% dari total 89 jumlah repsonden.

Tabel 4.8

Ketepatan Pemilihan Gambar pada Logo Sir Salon

No. Uraian Frekuensi

(f)

Persentase (%)

1 Tidak tepat 1 1.1%

2 Kurang tepat 7 7,9%

3 Tepat 69 77,5%

4 Sangat tepat 12 13,5%

Jumlah 89 100%

Sumber: P.8/FC.10

Data yang tampilkan diatas pada tabel tersebut menunjukkan tingkat ketepatan pemilihan gambar pada logo Sir Salon menurut pelanggan atau responden yang ada. Dimulai dari Persentasetase pertama sebesar 77,5% yang menunjukkan bahwa 69 dari 89 responden yang ada memberikan jawaban bahwa pemilihan gambar yang ada pada logo Sir Salon tersebut tepat. Dengan jumlah responden 12 orang dari 89, responden memiliha jawaban bahwa sangat tepat pemilihan gambar yang ada pada logo Sir Salon dari frekuensi itu dihasilkan Persentasetase sebesar 13,5% dalam pilihan ini. Dan dipilihan kedua terakhir ada beberapa responden yang menjawab bahwa mereka merasa pemilihan gambar kurang tepat, dengan jumlah pelanggan yang menjawab 7 dari 89 repsonden (7,9%) selanjutnya 1 responden yang menyatakan bahwa tidak tepat sama sekali pemilihan gambar pada logo Sir Salon 1,1% dari 89 responden.

Tabel 4.9

Ketertarikan Pemilihan Gambar pada Logo Sir Salon

No. Uraian Frekuensi

(f)

Persentase (%)

1 Tidak tertarik 5 5,6%

2 Kurang tertarik 13 14,6%

3 Tertarik 61 68,5%

4 Sangat tertarik 10 11,2%

Jumlah 89 100%

Jumlah 89 100%

Dalam dokumen IDENTITAS PERUSAHAAN DAN CITRA PERUSAHAAN (Halaman 44-0)