• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hotel Sehir

Dalam dokumen Bagian 2 SAID baru. v a n (Halaman 131-138)

Ketika Nursi dan murid-muridnya keluar dari pengadilan, penduduk Denizli menyambut mereka dengan sorakan dan teriakan, “Hiduplah ke-adilan!” dan mendampingi mereka menuju penjara tempat mereka me-ngumpulkan barang-barang. Area di luar pengadilan seperti sebuah fes-tival. Deretan sedan dengan kap terbuka dari kota menjemput mereka.

Mereka adalah tamu Denizli. Para penduduk membawa mereka dalam ke-lompok-kelompok kecil ke rumah-rumah dan memberi yang terbaik dari apa saja yang mereka miliki. Seorang pedagang bernama Haji Mustafa Ko-cayaka, dipilih oleh masyarakat, mempunyai banyak uang untuk dibagi-kan kepada murid-murid Nursi, tetapi tidak sepeser pun yang diterima.

Dan ketika mereka pergi ke stasiun, dia dan banyak orang terpandang kota itu membantu mereka dan melepas kepergian mereka di stasiun kereta api. Nursi dan Risalah Nur telah menaklukkan kota itu.34

Setelah meninggalkan penjara, Nursi pindah ke sebuah kamar de-ngan pemandade-ngan indah di lantai paling atas Hotel Sehir tempat dia akan tinggal selama satu setengah bulan. Dalam satu atau dua hari, semua muridnya telah tersebar, kembali ke kota-kota atau desa-desa asal mere-ka. Segera setelah dia menetap, banyak sekali orang datang mengun-junginya, pertama-tama sekitar lima ratus atau lebih. Sebagian mereka melan jutkan kunjungan mereka, salah seorang di antara mereka adalah penulis dan guru Nurudin Topcu.35 Dia pernah membuat murka Menteri Pendidikan, Hasan Ali Yujel, karena tulisan-tulisannya dan pernah diki-rim ke Denizli untuk dihukum. Sebagian kisahnya yang menarik menge-nai kunjungannya kepada Nursi di Hotel Sehir sebagai berikut:

Namanya menggaung di seantero kota; setiap orang membicarakan dia ... Setelah pembebasan tersebut, dia tinggal di sebuah kamar di lantai paling atas Hotel Sehir. Dia berada dalam pengawasan sangat ketat. Se-tiap orang yang mengunjunginya diikuti dengan cara yang sama dan na-manya dicatat. Mereka hanya bisa mengunjunginya sebentar saja dan harus segera pergi.

Nureddin Topcu biasa mengunjunginya selama waktu makan malam ketika tidak ada orang datang dan dia dapat tinggal selama sekitar sete-ngah jam. Dia juga kenal dengan dua orang guru yang ditunjuk untuk membuat laporan “ahli” untuk Pengadilan Denizli. Ternyata, mereka me-mang tokoh yang tidak disukai. Dia terkesan dengan Nursi yang memaaf-kan mereka, dan mengajak mereka kepada agama:

Nursi benar-benar orang yang hebat; dia berkata bahwa dia memaafkan mereka. Adalah kebajikan yang sangat besar untuk mampu memaafkan orang yang telah bertindak melawan dia dengan cara yang mungkin te-lah menyebabkan dia dihukum.

Dia adalah orang yang melaksanakan apa yang diucapkannya dan

penuh inisiatif. Dia biasa berbicara dengan setiap orang. Dia menjelaskan prinsipnya. Dia bukan orang yang kurang percaya diri atau ragu-ragu ...

Mereka membawa makan malam; hidangan yang berlimpah ruah.

Dia mengembalikannya kepada pelayan yang membawakannya dan menyuruhnya untuk memberikan hidangan itu kepada orang fakir. Dia mempunyai beberapa buah zaitun, dan memakannya dengan roti. Dia berkata kepada saya bahwa sepotong roti cukup baginya selama dua minggu. Dia mempunyai sebuah kendi teh Rusia yang dia gunakan un-tuk membuat teh, dan dia menawari saya teh. Dia baru saja dibebaskan dari penjara. Tidak ada apa-apa di dalam kamarnya, hanya karya-karya-nya, baik tulisan tangan maupun dalam bentuk cetakan percobaan. Ri-buan buku yang ditulis tangan diteruskan dari tangan ke tangan. Mereka sedang ditulis di mana, di desa-desa dan di kota-kota; di mana-mana salinan-salinan Risalah Nur sedang disalin kembali. Itu adalah saat yang menggembirakan; bagaikan saat terbitnya matahari.

Kira-kira pada saat itu saya pergi ke Desa Guvecli dekat Denizli. Kar-ya-karyanya sedang disalin di setiap rumah, di semua desa sekitarnya, pu luhan ribu halaman, yang dilakukan dengan penuh gairah dan se-mangat.

Dia jantan dan gagah. Keberanian dan keistimewaannya tiada ter-hingga. Kemudian hal-hal yang ditemukan pikirannya yang cerdas sung-guh luar biasa. Dia menghadapi bencana dengan kesabaran dan kepas-rahan. Dia menyerahkan dirinya pada Allah. Karya-karyanya memang merupakan hasil dari semua hal ini. Seluruh Denizli dipenuhi sema-ngat dan antusiasme. Teman dan lawan mengaguminya. Malam Denizli berubah menjadi siang. Dia telah menaklukkan kota itu.36

Meskipun demikian, Nursi merasa pahit karena dirinya berpisah de-ngan murid-murid dan saudara-saudaranya. Terutama, kematian Hafiz Ali di penjara menyebabkan dia sangat berduka. Hal pertama yang dia lakukan setelah bebas dari penjara adalah mengunjungi makamnya. Se-lahaddin Celebi hadir, dan dia ingat bagaimana setelah Al-Qur’an dibaca dan Nursi memanjatkan doa sedih, Nursi mengangkat tangannya dan ber-kata, “Syuhada ini adalah sebuah bintang.” Dengan enggan semua yang hadir mengangkat kepala mereka, dan di langit sebuah bintang bersinar terang.37

Nursi menggambarkan perasaannya sebagai berikut dalam Topik ke-10 Meyve Risalesi (Buah Keimanan):

Setelah pembebasan kami dari Penjara Denizli, aku tinggal di lantai atas Hotel Sehir yang terkenal. Tarian dedaunan, ranting dan batang ba nyak pohon Poplar yang gemulai dan halus di taman yang indah di depanku, masing-masing dengan gerakan yang sangat gembira dan suka cita se-perti lingkaran zikir melukai hatiku, yang sedang sedih dan berduka ka rena berpisah dengan saudara-saudaraku dan tetap sendirian. Tiba-tiba aku teringat musim gugur dan musim dingin, dan kelalaian menga-lahkan aku. Aku begitu kasihan pada Poplar-poplar gemulai itu dan makh luk-makhluk hidup yang bergoyang dengan kegembiraan sempur-na sehingga mataku berlisempur-nang air mata. Dengan mengingat perpisah-an ini dperpisah-an makhluk-makhluk tidak hidup di bawah tabir alam semesta yang penuh hiasan, kedukaan pada dunia yang penuh dengan kematian dan perpisahan ditimpakan atas diriku. Kemudian, tiba-tiba cahaya yang dibawa Muhammad SAW menolongku, mengubah kesedihan dan kedu-kaanku menjadi kegembiraan ... Cahaya itu mengangkat tabir itu; caha-ya itu tampak menggantikan kepunahan, ketiadaan, keterlupaan, keko-songan, kesia-siaan, dan perpisahan, makna dan contoh-contoh rahmat sebanyak jumlah daun Poplar, dan yang dibuktikan dalam Risalah Nur, hasil-hasil dan tugas yang bisa dibagi menjadi tiga jenis ...”38

Catatan akhir

1. Osman Yıldırımkaya, dalam Şahiner, Son Şahitler, 2: 209.

2. Şahiner, Bilinmeyen (edisi ke-6), 341.

3. Sadık Demirelli, dalam Şahiner, Son Şahitler, 2: 146.

4. Selahaddin Çelebi, dalam Şahiner, Son Şahitler (edisi 1980), 1: 145.

5. Ibrahim Fakazlı, dalam Şahiner, Son Şahitler (edisi 1980), 1: 178.

6. Selahaddin Çelebi, dalam Şahiner, Son Şahitler (edisi 1980), 1: 144.

7. Şahiner, Badiuzzaman Said Nursi’den Hapishane Mektuplari.

8. Suleyman Hunak, dalam Şahiner, Son Şahitler (edisi 1980), 1: 183-88; Sadik Demirelli, dalam Şahiner, Son Şahitler, 2: 135-57.

9. Mustafa Gül, dalam Şahiner, Son Şahitler, 4: 328.

10. Nursi, Rays, 253.

11. Risale-i Nur Külliyati Müellifi, 377.

12. Mehmet Feyzi Pamukçu, dalam Şahiner, Son Şahitler, 2: 163.

13. Selahaddin Çelebi, dalam Şahiner, Son Şahitler (edisi 1980), 1: 145.

14. Nursi, Rays, 298-99.

15. Ibid., 305-6.

16. Ibid., 312-13.

17. Mengenai anti-kristus dalam tradisi Islam, lihat Zeki Saritoprak, “The Legend of al-Dajjal (Anti-kristus).”

18. Nursi, Müdafaalar, 97.

19. Ibid., 97.

20. Ibid., 130.

21. Nursi, Rays, 321.

22. Ibid., 322.

23. Nursi, Flashes, 344.

24. Nusi, Rays, 340.

25. Nursi, Flashes, 334.

26. Nursi, Rays, 358-59.

27. Ibid., 362.

28. Ibid., 365.

29. Nursi, Müdafaalar, 151.

30. Nursi, Rays, 365-66.

31. Ibid., 367.

32. Nursi, Müdafaalar, 123-32.

33. Risale-i Nur Külliyati Müellifi, 348.

34. Lihat Selahaddin Çelebi, dalam Şahiner, Son Şahitler (edisi 1980), 1: 146;

Ibrahim Fakazlı, dalam Şahiner, Son Şahitler (edisi 1980), 1: 179.

35. Lihat Kara, Türkiye’de Islamcılık Düşüncesi, 3: 113-239.

36. Şahiner, Nurs Yolu, 123-27.

37. Selahaddin Çelebi dalam Şahiner, Son Şahitler (edisi 1980), 1: 148.

38. Nursi, Rays, 272-73.

14

e M I r D a G

Nursi telah berada di Hotel Sehir selama satu setengah bulan keti ka datang perintah dari Ankara yang menyatakan bahwa dia harus ting gal di Provinsi Afyon, masih di Anatolia Barat, sebelah timur laut Denizli. Se-buah surat tertanggal 31 Juli 1944, yang ditulis oleh seorang pengusaha Denizli, Hafiz Mustafa Kocayaka, kepada Sadik Demirelli, yang menya ta-kan bahwa Nursi telah berangkat pada hari itu didampingi oleh seorang inspektur polisi. Dia dalam keadaan sehat walafiat dan penuh harapan dengan kepindahan itu. Pemerintah menginstruksikan agar dia diberi uang perjalanan yang sangat banyak yaitu sebesar empat ratus lira.1 Nursi diinapkan di Hotel Ankara di Afyon selama tiga minggu kemudian di pe-rintahkan untuk menetap di Emirdag. Nursi pun tiba di kota sangat kecil yang terletak di lereng bukit ini pada paruh kedua bulan Agustus 1944.

Kota kecil ini akan menjadi tempat tinggalnya selama tujuh tahun ber-ikutnya, sampai Oktober 1951, kecuali selama dua puluh bulan yang dia habiskan di penjara Afyon mulai dari Januari 1948 sampai dengan Sep-tember 1949. Dia tiba di Emirdag pada bulan Sya’ban, sebelum tanggal 21 Agustus, saat dimulainya bulan Ramadan pada tahun itu.

Pendahuluan

Tiga setengah tahun pertama dari masa tinggal Nursi di Emirdag menjadi saksi peningkatan perjuangannya dengan kekuatan-kekuatan

yang menyamakan sekularisme dengan tidak beragama. Sampai saat ini kekuatan-kekuatan tersebut merasa mereka berada dalam posisi yang ti dak dapat dibantah. Pembebasan di Denizli benar-benar mengejut-kan mereka; dalam kalimat seorang penulis, dia bagaimengejut-kan bencana yang datang tiba-tiba, dan mereka tidak tahu apa yang telah menghantam me-reka.2 Itu adalah kemenangan yang nyata bagi Risalah Nur dan agama, juga merupakan awal kemenangan-kemenangan di masa berikutnya. Buah dari perjuangan tenang Nursi selama dua puluh tahun mulai tampak.

Sangat bertentangan dengan keinginan mereka yang telah mengha-sut kasus tersebut, publikasi yang meluas mengenai pengadilan-peng-adilan Denizli dan pemenjaraan Nursi serta murid-murid Risalah Nur secara langsung menyebabkan perluasan besar-besaran dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan Risalah Nur. Meskipun sampai saat ini kegiatan terutama dipusatkan di dua atau tiga wilayah, namun beribu-ribu orang di wilayah-wilayah lain di Turki menjadi murid Risalah Nur dan mulai mengabdi kepada Risalah Nur dan kepentingan Al-Qur’an dalam berbagai cara. Tujuan pokok musuh-musuh Nursi adalah membuat baik pe merintah setempat maupun Ankara merasa cukup khawatir de ngan Nursi dan pergerakan Nur akan bertindak melawan mereka lagi. Satu hasil dari hal ini adalah bahwa seluruh perhatian difokuskan pada Nursi sendiri dan batasan-batasan pada dirinya ditingkatkan. Jadi, meskipun pada ke-nyataannya dia telah dinyatakan tidak bersalah oleh Pengadilan Denizli dan Risalah Nur telah dibebaskan, pengawasan terhadap dirinya bahkan lebih ketat daripada sebelumnya, dan gangguan ilegal serta perlakuan buruk semakin parah. Namun demikian, Nursi menulis kepada murid-muridnya bahwa dia menerima ini “dengan kebanggaan,” karena yang dimaksudkan adalah diri pribadinya yang dijadikan pusat perhatian dan diganggu daripada Risalah Nur dan murid-murid Risalah Nur yang lain;

hal ini memungkinkan mereka meneruskan pengabdiannya relatif tanpa gangguan.3

Alasan lebih jauh untuk peningkatan tekanan ini, yang memuncak dengan penangkapan dan penahanan di penjara Afyon, berhubungan de-ngan perubahan-perubahan keadaan di Turki, dan mungkin disebabkan oleh pengaruh Amerika yang meningkat setelah akhir Perang Dunia Ke-dua serta gerakan-gerakan menuju demokrasi dan kemerdekaan yang lebih religius, para sekularis garis keras meningkatkan serangan-serangan

mereka dengan agak putus asa karena mereka merasa landasan yang sam-pai saat itu terasa kukuh mulai goyah.

Nursi menindaklanjuti manfaat yang dia peroleh dengan pembebasan Denizli dan kesan positif yang dibuat di kalangan pejabat oleh salin an-salinan Risalah Nur yang dikirim dari Denizli. Dia juga melakukannya dengan mengirim petisi ke berbagai pejabat tinggi dan anggota-anggota pemerintah memberi mereka informasi tentang semangat yang sebenar-nya dari perjuangan ini dan peran vital yang harus dimainkan Risalah Nur dalam menyelamatkan negara dari kekuatan-kekuatan, yang mendorong negara menuju anarki, yang bekerja untuk kepentingan-kepentingan ko-munis dan pendukung anti-agama yang lainnya, serta memberi informasi kepada mereka mengenai perlakuan ilegal yang sedang dideritanya di tangan beberapa pejabat.

Dalam dokumen Bagian 2 SAID baru. v a n (Halaman 131-138)