Surat-surat ini ditulis untuk Hulüsi Yahyagil,42 “murid pertama Ri-salah Nur” yang kemudian mengabdi sebagai kapten dalam tentara yang ditempatkan di Egirdir dan pertama kali mengunjungi Nursi pada musim semi 1929. Dia berasal dari Elazig, Turki Timur dan melakukan pengabdian yang besar sekali kepada Risalah Nur ketika dia kembali ke sana 18 bulan kemudian. Dia menjalin ikatan yang erat dengan Nursi, menghubungkan diri sepenuhnya dengan Sozler, dan “semangat dan keseriusannya adalah faktor terpenting ditulisnya bagian Sozler yang terakhir, sebagian besar Mektubat, dan sebagian Lema’alar.43 Lebih daripada ini, Nursi mengang-gapnya sebagai penerus kemenakan laki-lakinya Abdurrahman.44
Ya, bersamaan dengan kesulitan yang dia derita saat ini, Nursi mendapat pukulan berat: kematian anak lelaki spiritual, sahabat, dan pembantunya, Abdurrahman. Mari kita mendengarnya dari pena Nursi sendiri:
Suatu ketika saya ditahan di Barla Provinsi Isparta dalam penahanan me-nyedihkan yang disebut pengasingan, dalam keadaan yang benar-benar sengsara karena menderita sakit dan usia tua serta jauh dari rumah, di sebuah desa sendirian tanpa seorang pun, dihalangi dari semua
hubung-an sosial dhubung-an komunikasi—ketika dalam rahmat-Nya yhubung-ang sempurna Allah Yang Mahakuasa mengaruniaiku cahaya yang memberi pencerah-an pada misteri-misteri halus dari Al-Qur’pencerah-an Ypencerah-ang Mahabijakspencerah-ana. Itu adalah hiburan bagi saya, dan dengannya saya berusaha melupakan ke-adaan saya yang menyedihkan. Saya bisa melupakan tanah asal saya, te-man-teman saya, dan kerabat saya, tetapi sayang sekali, ada satu orang yang tidak bisa saya lupakan dan itu adalah Abdurrahman. Dia adalah kemenakan laki-laki saya, anak spiritual saya, murid saya yang paling setia, teman saya yang paling berani yang telah berpisah dengan saya enam atau tujuh tahun sebelumnya ... Kemudian tiba-tiba seseorang memberi saya sebuah surat. Saya membukanya, dan saya melihat bahwa surat itu adalah dari Abdurrahman, ditulis dengan cara yang menun-jukkan dirinya yang sejati ... Ini membuat saya menangis dan ini ma-sih membuat saya menangis. Almarhum Abdurrahman menulis dengan serius dan tulus bahwa dia sangat benci pada kenikmatan-kenikmatan di dunia ini dan bahwa hasratnya yang paling besar adalah mendatangi saya dan mengurusi kebutuhan-kebutuhan saya di usia tua saya, seperti halnya saya telah mengurusi kebutuhan-kebutuhannya pada masa mu-danya. Dia juga ingin membantu saya dengan keterampilan pena yang dimilikinya dalam menyebarkan misteri-misteri Al-Qur’an, tugas saya yang sesungguhnya di dunia ini. Dia bahkan menulis dalam surat ini:
“Kirimi saya 20 atau 30 risalah dan saya akan menyalin 20 atau 30 salin-an untuk masing-masing risalah dsalin-an saya aksalin-an menyuruh orsalin-ang-orsalin-ang lain untuk menyalin salinan-salinan tersebut.” ...
Sebelum menulis surat tersebut dia telah memperoleh salinan Kata Kesepuluh, tentang keimanan tentang hari akhirat, dan itu merupakan obat baginya yang menyembuhkan semua luka spiritual yang dia terima selama enam atau tujuh tahun itu. Dia kemudian menulis kepada saya seakan-akan dia sedang menunggu kematiannya dengan iman yang sangat kuat dan bersinar. Satu atau dua bulan kemudian saya teringat seseorang lagi yang melewati kehidupan duniawi yang bahagia dengan Abdurrahman; kemudian, sayang sekali, saya tiba-tiba menerima kabar tentang kematiannya. Saya begitu terguncang hingga lima tahun kemu-dian saya masih terpengaruh oleh kematiannya ... Separuh kehidupan pribadi saya telah mati bersama matinya ibu saya, dan sekarang, dengan kematian Abdurrahman, separuh yang lainnya telah mati. Ikatan saya dengan dunia benar-benar terpotong.45
Sekali lagi Nursi menemukan pelipur lara melalui Al-Qur’an, kali ini
melalui ayat: Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan (QS. al-Qashash (28): 88), dan kalimat “Yang Mahakekal, Dia Yang Mahakekal.”
Nursi melengkapi bagian ini, diambil dari Ihtiyarlar Risalesi (Risalah un-tuk Orang Lanjut Usia) dengan mengatakan bahwa Allah memberinya 30 Abdurrahman sebagai pengganti satu orang Abdurrahman yang telah diambil-Nya.
Salah satu murid baru paling penting ini adalah Hulûsi Yahyagil, yang pertama kali mengunjungi Nursi sekitar satu tahun setelah kema-tian Abdurrahman. Murid yang lainnya adalah Kuleonlu Mustafa yang di-dapati Nursi menunggu dia ketika dia pulang ke Barla setelah mendengar berita itu.46 Ada pula perwira-perwira tentara lain di samping Hulusi Bey, salah satu di antaranya adalah Re’fet Bey,47 seorang pensiunan kapten;
yang lainnya adalah Binbasi Asim Bey,48 yang meninggal saat mengalami interogasi di Isparta tahun 1935 ketika Nursi dan lebih dari 100 muridnya dikumpulkan dan ditahan. Juga ada Sentral Sabri, 49 penjaga pelabuhan di Desa Bedre Danau Egirdir, yang memainkan peran sentral dalam mendis-tribusikan bagian-bagian dari Risalah Nur ke desa-desa sekitarnya. Dia adalah seorang imam di masjid desa, dan berbagi “simbol persaudaraan”
dengan Nursi dalam bentuk jari kaki yang kedua dan ketiga dari salah satu kaki diikat. Dan ada Husrev50 dari Isparta, yang mempunyai tulisan tangan sangat indah dan mempersembahkan dirinya sepenuhnya untuk menya-lin samenya-linan-samenya-linan Risalah Nur dan pengabdian-pengabdian kepadanya.
Hubungan Nursi dengan murid-muridnya sangat dekat, tak seperti hubungan antara guru dan murid atau antara syekh dan pengikutnya yang biasanya formal dan dingin. Dia menganggap dirinya sendiri sebagai mu-rid Risalah Nur sama seperti mereka. Di samping mempunyai hubungan pribadi yang dekat dengan mereka, jujur terhadap keyakinannya dalam konsultasi, dia juga tukar pendapat dengan mereka berkenaan dengan penulisan dan penyebaran Risalah Nur. Dia adalah pribadi paling mena-kutkan dan mengagumkan serta sangat tidak mengenal kompromi di ha-dapan orang kafir dan musuh-musuh agama, namun kepada mereka yang mengabdi kepada kebenaran, dia adalah sosok yang paling ramah dan pe-nyayang. Nursi juga sangat sederhana dan sopan dengan para muridnya, dan secara pribadi tidak mau menerima posisi tertinggi, atau pujian dan sanjungan. “Saya tidak menyukai diri saya sendiri,” dia biasa berkata, “dan
saya tidak suka mereka yang menyukai saya!” Dia hanya mau menerima pujian sepanjang pujian itu milik Risalah Nur atau Al-Qur’an. Nursi juga senantiasa menjaga hubungan dengan para muridnya. Surat-surat tiada pernah henti mengalir di antara mereka. Ribuan surat ini dikumpulkan bersama dan membentuk bagian substansial dari Risalah Nur. Berikut ini adalah bagian dari koleksi surat yang ditulis ketika Nursi di Barla, Barla Lahikasi:
Saudara-saudaraku Husrev, Lutfi, dan Rustu,
Dalam satu hal—di luar hakku—kalian adalah murid-muridku, dalam satu hal lagi kalian adalah teman sesama muridku, dan dalam satu hal lainnya kalian adalah asisten sekaligus konsultanku. Saudara-saudara-ku yang tercinta! Guru kalian tidak luput dari kesalahan, adalah salah meng anggap dia bebas dari kesalahan. Sebuah apel busuk dalam sebuah kebun buah tidak merusak kebun buah itu, dan sebuah koin usang tidak meniadakan nilai kekayaan. Apabila nilai-nilai baik dianggap sepuluh dan nilai-nilai buruk dianggap satu, adalah adil untuk tidak merusak inti dan tujuan karena satu nilai buruk atau kesalahan tersebut di depan nilai-nilai baik ...
Pahamilah hal ini saudara-saudara dan sesama muridku! Aku akan bahagia jika kalian memberitahu aku dengan bebas ketika kalian melihat kesalahan pada diriku. Jika kalian memang benar, aku akan mengatakan,
“Semoga Allah memberi ridha kepadamu!” Kepentingan-kepentingan lain hendaknya tidak dipertimbangkan dalam melindungi kepentingan kebenaran. Aku akan langsung menerimanya ... Ketahuilah bahwa saat ini tugas mengabdi kepada iman adalah tugas yang paling penting. Tu-gas ini tidak boleh dibebankan kepada orang malang dan lemah yang pikirannya tersebar ke segala arah; bantuan hendaknya diberikan ke-padanya sejauh mungkin. Ya, kebenaran-kebenaran yang jelas dan mut-lak muncul dan aku adalah sarana yang nyata, namun penataan, klarifi-kasi, dan penyusunan kebenaran-kebenaran itu tergantung pada sesama muridku yang berharga dan mahir.51
Saat membaca halaman-halaman ini, perlu diingat kesulitan luar bi-asa yang dialami Nursi beserta para muridnya. Kondisi ini muncul dari situasi ekonomi dan politik. Berkenaan dengan situasi ekonomi, kehidup-an di pedesakehidup-an skehidup-angat sulit; perkehidup-ang ykehidup-ang berlkehidup-angsung bertahun-tahun, kerusakan akibat perjuangan kemerdekaan, dan eksodus populasi Yunani yang cukup besar. Orang Yunani adalah pengusaha-pengusaha utama
daerah itu dan mengendalikan perdagangan dan transaksi keuangan, semuanya ini menyebabkan kesulitan bagi kehidupan di wilayah terpencil yang sebetulnya mempunyai potensi pertanian yang kaya. Kondisi ini se-makin parah terjadi akibat depresi dunia pada awal 1930-an.52
Reformasi ke arah sekuler memunculkan kebencian, lebih-lebih ka-rena Provinsi Isparta terkenal dengan jumlah madrasah dan ulama yang telah dihasilkannya.53 Meski demikian, tingkat melek aksara di kalangan rakyat biasa tidak tinggi; tingkat melek aksara di tahun 1927 pada umum-nya kurang dari sembilan persen.54 Tingkat pengabdian gerakan Nur dalam memperbaiki situasi yang menyedihkan ini akan menjadi jelas. Dengan penutupan madrasah dan tekke sufi, kemudian pelarangan huruf Arab, maka semua pendidikan keagamaan secara efektif dihentikan. Setelah ini, mereka yang tertangkap mengajar atau membaca buku-buku dalam alfabet lama diperlakukan sebagai penjahat, dan sering kali dipenjara, diasingkan, atau bahkan mati sebagai konsekuensinya. Demikian halnya dengan Al-Qur’an; pengajaran dan pembelajaran Al-Qur’an dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi. Dipenjara dan disiksa adalah nasib para hoca yang tertangkap karena mengajarkannya. Itu adalah mimpi buruk bagi rakyat Anatolia yang begitu terikat dengan agama nenek moyang mereka.
Teror dan penindasan dari pejabat ini semakin meningkat selama 1930-an dan 1940-an.
Dari surat-surat orang yang dimasukkan ke dalam Risalah Nur terli-hat jelas betapa besar manfaat yang mereka peroleh dari Risalah Nur. Ke-imanan mereka menjadi kukuh saat mereka membacanya. Mereka mem-peroleh kekuatan dan keberanian yang besar. Mereka juga mempunya i contoh tentang Nursi dengan keberanian dan kegigihannya yang terke-nal, sehingga mereka tahan dengan semua kesulitan, tidak menganggap penting penindasan, dan, seperti Nursi, mereka juga mempersembahkan diri seutuhnya untuk menyalin Risalah Nur dan menyampaikannya pada orang lain. Berikut ini adalah dua contoh surat untuk Nursi dari para mu-ridnya. Yang pertama dari Hüsrev sang “pena indah,” yang selama ber-tahun-tahun telah menyalin salinan Risalah Nur hingga tidak terhitung jumlahnya:
Guru saya yang tercinta dan terhormat!
Setiap Söz Anda, yaitu risalah-risalah Anda, adalah obat yang sangat manjur. Saya menerima berkah yang sangat besar darinya. Begitu besar
sehingga semakin sering saya membacanya semakin ingin saya mem-bacanya; saya tidak dapat menggambarkan kegembiraan sangat indah yang saya rasakan setiap kali membacanya. Saya yakin bahwa siapa saja yang membaca meski satu dari Söz saja jelas akan merasa wajib menye-rah pada kebenaran; apabila dia kafir, dia akan merasa wajib mening-galkan jalan yang telah dia ambil; dan apabila dia seorang pendosa, dia akan merasa wajib bertobat.55
Surat kedua berasal dari Kuleonlu Mustafa, yang seperti disebutkan di atas mengunjungi Nursi setelah dia menerima kabar tentang kematian Abdurrahman, dan merupakan pelopor dari banyak murid yang bekerja keras yang akan mempersembahkan diri mereka kepada Risalah Nur se-bagai pengganti Abdurrahman. Di sini akan dicantumkan kutipan dari suratnya yang panjang. Sesuatu yang menarik dalam surat ini adalah dia sendiri menemukan “pembimbingnya” dalam Risalah Nur, bagaimana orang-orang lain seperti dia menanggapi Risalah Nur dengan cara yang sama dan mendapati bahwa Risalah Nur “menyembuhkan luka mereka,”
dan bagaimana para hoca, tidak diketahui kesiapan mereka menerima se-suatu yang baru, mengakui nilai khas Risalah Nur. Surat ini juga menekan-kan hal penting yaitu dirampasnya kesempatan orang-orang untuk bela-jar bahasa Arab, bahasa yang digunakan dalam pelaksanaan pengabela-jaran semua agama, Risalah Nur menggantikan madrasah-madrasah, mengajar-kan baik “kebenaran-kebenaran iman” maupun Al-Qur’an dalam bahasa Turki, dan dengan cara yang cocok untuk kebutuhan mereka:
Guru yang sangat terhormat!
Saya sedang mencari sebuah bimbingan sempurna ketika tiba-tiba terpikir bahwa saya sedang mencari bimbingan yang sangat jauh, se-dangkan Badiuzzaman ada di dekat saya. Maka saya mendekati Guru yang sangat terhormat, dan dia menyuruh saya menyalin risalah-ri-salah. Saya menyalin sekitar lima belas Sozler dan saya membacanya ...
Saya mulai mendapatkan manfaat yang besar sekali darinya ... Akhirnya orang-orang muda berkumpul di sekitar saya ... Guru saya yang sangat terhormat! Tulisan-tulisan Guru menyembuhkan luka-luka ratusan te-man saya. Kadang-kadang orang yang sedang terombang-ambing dalam keraguan datang, dan apabila murid Guru yang tidak berdaya ini mem-bacakannya satu bagian dari Risalah Nur, keragu-raguannya pun me-nguap dan lenyap ...
Murid Guru yang tidak berdaya ini tidak pernah belajar bahasa Arab
atau melihat bagian dalam madrasah. Dia dahulu biasa membaca buku-buku dalam bahasa Turki yang ditulis lama sekali dan tidak dapat me-nemukan obat untuk luka-luka materiel dan spiritualnya ... [Tetapi] saat Allah menciptakan pemecahan-pemecahan yang cocok untuk segala za-man dan menganugerahi obat yang cocok untuk segala luka, maka pada zaman kami tidak mempunyai madrasah, Dia menjadikan Risalah Nur ditulis oleh Guru kami yang sangat terhormat di Turki untuk mereka yang terluka seperti kami ... Syukur yang tidak terhingga kami panjatkan kepada Allah Yang Mahakuasa! Semoga Dia memberkahi Guru kami yang sangat terhormat keberhasilan dalam pengabdian kepada Al-Qur’an dan memuliakannya di dunia ini dan di akhirat. Amin! Meskipun saya tidak menerima pendidikan dalam bahasa Arab, juga tidak belajar selama 10 atau 15 tahun di madrasah, dan saya hanya menyalin risalah-risalah Risalah Nur dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, saya mera-sa bahwa mera-saya telah belajar di madramera-sah selama dua puluh tahun. Ini adalah alasannya: banyak guru bahasa Arab mendatangi orang malang dan hina serta tidak berdaya ini dan kagum dengan apa yang telah di-pelajari orang ini. Orang-orang yang telah dilatih dengan bimbingan-bimbingan sempurna juga datang dan terpesona dengan kata-kata yang mereka dengar dari saya. Banyak hoca datang dengan segala kerendahan hati dan menyuruh saya membacakan Risalah Nur. Seandainya suara saya cukup kuat saya akan berteriak kepada seluruh pemuda di Bumi ini:
“Menyalin Risalah Nur dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh jauh lebih baik dan jauh lebih bermanfaat daripada belajar di madrasah selama dua puluh tahun.”56