• Tidak ada hasil yang ditemukan

vonis Pengadilan

Dalam dokumen Bagian 2 SAID baru. v a n (Halaman 178-182)

Setelah mengalami semua penundaan dan rintangan, pengadilan akhirnya menjatuhkan vonisnya pada 6 Desember 1948. Dengan meng-abaikan semua bukti yang ada, pengadilan menetapkan Nursi bersalah di bawah Pasal 163 Undang-Undang Pidana yaitu, “mengeksploitasi senti-men agama dan senti-menghasut orang-orang terhadap pemerintah.” Bahwa pengadilan hukum pasti telah membiarkan dirinya sendiri digunakan dalam kesalahan pengambilan keputusan yang terang-terangan ini adalah penistaan terhadap hukum itu sendiri dan merupakan episode yang me-malukan dalam sejarah hukum Turki.50 Pengadilan memberi Nursi “hu-kum penjara yang berat” selama dua tahun, yang dikurangi menjadi dua puluh bulan karena usianya. Ahmet Fauzi Kul, yang membuat pembelaan yang panjang, dijatuhi delapan belas bulan hukuman penjara, dan dua pu-luh orang murid Nursi yang lain masing-masing dijatuhi hukuman enam bulan penjara. Sebagian dari murid Nursi ini telah berada di penjara lama sebelas bulan, yang lainnya telah berada di penjara kurang dari se-belas bulan. Mereka yang telah menjalani masa hukumannya dibebaskan,

sedangkan mereka yang diadili tanpa ditangkap sekarang ditangkap dan dipenjara.

Kemudian, dimulailah perselisihan hukum berlarut-larut yang tidak mencapai kesimpulan akhir sampai 1956. Setelah keputusan peng adilan sementara itu, kasus tersebut segera dikirim ke pengadilan banding di Ankara, tetapi sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, jaksa penun-tut umum menunda pengiriman dokumen-dokumen tersebut, dan dia baru mengirimkannya setelah ada campur tangan dari ketiga pengacara tersebut.51 Sementara itu di penjara ketidakadilan terhadap Nursi terus berlanjut, atau bahkan semakin meningkat, karena pada saat ini cuaca menjadi begitu dingin dan dia dipindah dengan paksa ke bangsal lain.52 Baik dia maupun murid-muridnya menulis pembelaan-pembelaan dan pernyataan-pernyataan lebih jauh untuk dikirim ke pengadilan banding, yang memberikan keputusannya pada tanggal 4 Juni 1949: karena Said Nursi telah dinyatakan tidak bersalah atas dakwaan-dakwaan yang sama oleh Pengadilan Denizli, dan keputusan ini dikukuhkan oleh pengadilan banding, maka pengadilan banding membatalkan keputusan Pengadilan Afyon.

Meskipun Nursi dan murid-muridnya seharusnya telah dibebaskan pada saat ini, Pengadilan Afyon menyusun kembali kasus yang dikirim kembali kepadanya. Mereka ditanya tentang apa yang mereka inginkan.

Setelah mereka menjawab bahwa mereka menginginkan keputusan peng-adilan tersebut diberlakukan, pengpeng-adilan mengambil keputusan untuk mempertimbangkan persoalan tersebut lebih lanjut. Akhirnya, pengadil-an tidak mempunyai pilihpengadil-an kecuali setuju. Tetapi kemudipengadil-an, pada 31 Agustus 1949 diambil keputusan untuk mengadili ulang kasus tersebut, dan pemeriksaan dimulai sekali lagi. Dengan begini, dengan penundaan dan penangguhan yang terus-menerus, dan dengan cara yang benar-be-nar bertentangan dengan hukum, Nursi dipaksa menjalani hukuman se-lama dua puluh bulan penuh yang sejak semula telah dijatuhkan oleh pengadilan kepadanya. Mereka baru membebaskannya setelah dia me-nyelesaikan masa hukumannya. Murid-muridnya juga dibebaskan setelah menyelesaikan masa hukuman mereka. Dengan begini, jaksa penuntut umum yang zalim dan keras kepala itu telah melakukan sesuatu yang ti-dak kurang merupakan kejahatan terhadap hak orang-orang yang titi-dak bersalah ini sampai saat paling penghabisan yang bisa dilakukannya. Dan

ketika sampai pada saat pembebasan Nursi, mereka tidak mengizinkannya meninggalkan penjara pada jam-jam biasa, tetapi hanya sebelum subuh.

Kisah Pengadilan Afyon tidak berhenti di sini; pemeriksaan berlanjut dengan terdakwa in absentia, sampai amnesti umum diumumkan setelah kemenangan Partai Demokrat pada pemilihan umum tahun 1950. Tetapi meskipun demikian jaksa penuntut umum tidak membiarkan perkara itu berhenti; dia menuntut karya yang dipermasalahkan—Risalah Nur—agar dipisahkan dari pengadilan pidana dan kelanjutan dari kasus tersebut.

Oleh karena itu, pengadilan Risalah Nur berlanjut.

Pengadilan akhirnya mencapai sebuah keputusan bahwa salinan-sa-linan Risalah Nur harus disita. Kasus tersebut dikirim ke pengadilan ban-ding. Pengadilan banding membatalkan lagi keputusan Pengadilan Afyon.

Pengadilan Afyon sekarang tidak mempunyai pilihan kecuali menuruti penilaian dan pembebasan dari tuduhan terhadap Risalah Nur yang di-berikan pengadilan banding. Tetapi jaksa penuntut umum tidak mau me-nerima hal ini, dan dia mengirim keputusan ini ke hadapan pengadilan banding. Kali ini, pengadilan banding membatalkan keputusan terakhir Pengadilan Afyon karena alasan-alasan teknis. Kasus itu berlanjut. Ke-mudian Pengadilan Afyon memutuskan bahwa Risalah Nur harus dibe-baskan dari tuduhan dan salinan-salinannya dikembalikan kepada para pemiliknya. Setelah itu jaksa penuntut umum mengirim kasus tersebut ke pengadilan banding.

Kali ini pengadilan banding memutuskan bahwa seluruh Risalah Nur harus diperiksa ulang secara teliti oleh sebuah komite ahli, dan direk-torat urusan agama diinstruksikan untuk membentuk komite tersebut.

Komite baru itu menghasilkan sebuah kesaksian. Dan akhirnya, dengan berdasarkan kesaksian ini, pada Juni 1956, Pengadilan Afyon membebas-kan Risalah Nur dan memutusmembebas-kan bahwa semua salinan yang disita ha-rus dikembalikan kepada para pemiliknya. Kali ini jaksa penuntut umum mengakui kekalahannya, dan keputusan ini dinyatakan final.

Catatan akhir

1. Nursi, Rays, 370.

2. Ini mengacu pada pasal yang melarang penggunaan agama untuk tujuan politik seperti yang tercantum dalam aturan hukum (1949). Lihat Zurcher, Turkey, 260.

3. Ibrahim Fakazlı, dalam Şahiner, Son Şahitler, 5: 23.

4. Mehmet Kayıhan, dalam Şahiner, Son Şahitler (edisi 1980), 1: 19.

5. Nursi, Rays, 423, 510.

6. Ibid., 500.

7. Nursi, Flashes, 327.

8. Nursi, Rays, 405.

9. Selahaddin Çelebi, dalam Şahiner, Son Şahitler (edisi 1980), 1: 148.

10. Ibrahim Fakazlı, dalam Şahiner, Son Şahitler, 5: 30.

11. Ibid.; juga, Mustafa Sungur, dalam Şahiner, Aydınlar Konuşuyor, 382.

12. Hilmi Pancaroglu, dalam Şahiner, Son Şahitler, 3: 170; Şahiner, Nurs Yolu, 54-56.

13. Mustafa Acet, dalam Şahiner, Son Şahitler (edisi 1980), 1: 27-29.

14. Ibrahim Fakazlı, dalam Şahiner, Son Şahitler, 5: 33-34.

15. Jawsyan al-Kabir adalah permohonan yang terkenal yang disebut-sebut telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad; terdiri dari nama-nama Ilahi, konon memiliki banyak guna.

16. Ibrahim Fakazlı, dalam Şahiner, Son Şahitler, 5: 35-36.

17. Nursi, Rays, 569-70.

18. Kemal Bayraklı, dalam Şahiner, Son Şahitler, 4: 288-89.

19. Risale-i Nur Külliyati Müellifi, 193.

20. Mukjizat hanyalah khusus bagi para nabi, sementara bagi para wali dan lain-nya hal-hal ajaib seperti itu dikenal sebagai karomah (dalam bahasa Türki keramet).

21. Hasan Değirmenci, dalam Şahiner, Son Şahitler, 1: 31.

22. Hilmi Pancaroglu, dalam Şahiner, Son Şahitler, 3: 169-70.

23. Nursi, Rays, 481-82.

24. Ibid., 533.

25. Badıllı, Nursi, 2: 1551.

26. Nursi, Rays, 387.

27. Ibid., 371-72.

28. Ibid., 395 fn 16.

29. Nursi, Müdafaalar, 464.

30. Nursi, Rays, 444-45.

31. Ibid., 510.

32. Ibid., 515.

33. Ibid., 451.

34. Ibid., 380.

35. Ibid., 381.

36. Ibid., 103.

37. Ibid., 515.

38. Ibid., 423-25.

39. Ibid., 426-27.

40. Ibid., 482.

41. Nursi, Emirdağ Lahikası(edisi 1959), 1: 232-3; 2: 6, 2:9.

42. Ibrahim Mengüverli, dalam Şahiner, Son Şahitler, 3: 123.

43. Ahmet Hikmet Gönen, Şahiner, Son Şahitler, 3: 178-79.

44. Mustafa Acet, dalam Şahiner, Son Şahitler (edisi 1980), 1: 28.

45. Ibrahim Mengüverli, dalam Şahiner, Son Şahitler, 3: 123.

46. Mustafa Ezener, dalam Şahiner, Son Şahitler, 4: 180.

47. Nursi, Rays, 482.

48. Nihad Bozkurt, dalam Şahiner, Son Şahitler, 4: 248-49.

49. Nursi, Rays, 531.

50. Hal ini selanjutnya dibuktikan oleh kenyataan bahwasanya antara tahun 1949 hingga 1971 Risale-i Nur, dan khususnya 5. Şua (Sinar ke-5), yang dija-dikan dalih utama keputusan para hakim Afyon, dinyatakan tidak bersalah sekitar 105 kali di pengadilan-pengadilan Türki, dan buku-buku Risale-i Nur dikembalikan; lihat Berk, Türkiye’de Nurculuk Davasi, lembar terakhir.

51. Nursi, Rays, 532.

52. Ibid., 569-70.

53. Risale-i Nur Külliyati Müellifi, 475-77, 539; Badıllı, Nursi, 3: 1757-80.

Dalam dokumen Bagian 2 SAID baru. v a n (Halaman 178-182)