• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengadilan afyon

Dalam dokumen Bagian 2 SAID baru. v a n (Halaman 167-172)

Seperti halnya di penjara tempat Nursi dan murid-muridnya diper-lakukan dengan kasar dan sewenang-wenang yang benar-benar berten-tangan dengan hukum, demikian pula dengan pengadilan hukum yang dirongrong dan dieksploitasi dengan tujuan pengadilan yang jelas, yaitu menyatakan Nursi bersalah tidak peduli apa pun kenyataan kasus tersebut.

Saat keadaan berubah menyerang mereka, pengadilan dan pemenjaraan merupakan upaya terakhir yang sia-sia untuk membungkam Nursi dan menghentikan banjir yang berbelok menuju Al-Qur’an dan Islam karena ajaran-ajaran Risalah Nur. Dalam keputusasaan yang nyata, mereka meng-ajukan lagi tuduhan-tuduhan yang sama kepada Nursi dan murid-murid-nya yang telah dimurid-murid-nyatakan tidak bersalah atas tuduhan-tuduhan tersebut (Nursi menggambarkan tuduhan-tuduhan itu sebagai “mengumpulkan air dari seribu sungai”). Tuduhan-tuduhan itu adalah “mengeksploitasi sen-timen agama dengan cara yang mungkin mengganggu ketertiban umum,”

“mendirikan komunitas rahasia untuk tujuan-tujuan politis,” “memben-tuk tarekat sufi baru,” “mengkritik Mustafa Kemal dan reformasinya,” dan

“menyebarkan gagasan-gagasan yang bertentangan dengan rezim.” Lalu Nursi dituduh lagi sebagai “nasionalis suku Kurdi,” tuduhan yang begitu jauh dari kebenaran sehingga hal itu benar-benar menunjukkan lamanya persiapan para penguasa untuk mendiskreditkan dia.

Dua penuntutan yang dibesar-besarkan berkenaan dengan “mengha-sut orang-orang dengan cara yang bisa mengganggu perdamaian” me-nyangkut 5. Su’a (Sinar ke-5), yang menjelaskan sejumlah Hadis yang me nyinggung Sufyan dan Dajjal dan kejadian-kejadian di hari Kiamat.

Para penguasa menafsirkan hal itu mengacu pada Mustafa Kemal. Sayang sekali hal ini mendapat dukungan dari kesaksian para ahli. Yang

berkait-an dengberkait-an hal ini adalah masalah “topi.” Bacaberkait-an-bacaberkait-an singkat dalam 25. Soz (Kalimat ke-25) yang menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an tentang pakaian dan warisan Islam dituduh bersifat provokatif, seperti di Peng-adilan Eskisehir. Tetapi jika terdapat suatu konspirasi, dia menjadi bume-rang. Karena alih-alih menimbulkan permusuhan terhadap Nursi, Risalah Nur, dan agama, pengadilan dan pemenjaraan yang dipublikasikan secara luas itu justru menimbulkan simpati. Sebetulnya, kemarahan publik pada perlakuan melanggar hukum, tidak manusiawi dan tidak mengenal belas ka sihan yang diderita Nursi dan murid-muridnya yang sama sekali tidak bersalah adalah sedemikian rupa sehingga diimplikasikan bahwa hal itu menyebabkan kekalahan Cumhuriyet Halk Partisi (Partai Rakyat Republik) pada pemilihan umum tahun 1950.25

Karena tuduhan-tuduhannya sama dengan tuduhan-tuduhan di Peng adilan Eskisehir dan Denizli, Nursi bisa menggunakan lagi seba-gian da ri pembelaannya sebelumnya hanya dengan mengubah sebaseba-gian susun an kalimatnya. Sekali lagi dia dengan jelas menolak tuduhan-tuduh-an tersebut dtuduhan-tuduh-an menunjukktuduhan-tuduh-an bahwa baik Risalah Nur maupun aktivitas murid-muridnya tidak melanggar hukum. Berikut ini adalah beberapa ku-tipan dari pidato-pidato pembelaannya. Yang pertama menjawab tuduh-an-tuduhan yang berhubungan dengan komunitas politik dan ketertiban umum:

Seratus tiga puluh bagian Risalah Nur semuanya ada untuk dipahami.

Karena memahami bahwa Risalah-risalah tersebut tidak mencari tujuan duniawi dan tidak mengikuti sasaran apa pun selain kebenaran iman, maka Pengadilan Eskisehir tidak berkeberatan dengannya kecuali de-ngan satu atau dua dari bagian-bagian itu. Pengadilan Denizli sama sekali tidak berkeberatan, dan meskipun berada dalam pengawasan te-rus-menerus selama delapan tahun, dinas kepolisian Kastamonu yang sangat besar tidak dapat menuduh seorang pun kecuali dua orang asis-ten saya dan tiga lainnya yang dituduh secara mengada-ada. Ini adalah bukti yang meyakinkan bahwa murid-murid Risalah Nur tidak mungkin merupakan sebuah komunitas politik.

Apabila yang dimaksud dengan “komunitas” dalam tuduhan itu ada-lah sebuah komunitas yang peduli dengan keimanan dan hari akhirat, sebagai jawaban kami mengatakan: Jika nama komunitas diberikan ke-pada para mahasiswa dan para pedagang, nama itu mungkin juga ber-laku bagi kami.

Tetapi apabila Anda menyebut kami sebuah komunitas yang akan mengganggu ketertiban umum dengan mengeksploitasi sentimen aga-ma, sebagai jawaban kami mengatakan: Kenyataan bahwa tidak ada tem pat selama dua puluh tahun dalam waktu yang sangat sulit ini di ma na murid-murid Risalah Nur melanggar atau mengganggu ketertiban umum, dan kenyataan bahwa tidak ada insiden semacam itu yang ter-catat baik oleh pemerintah maupun pengadilan mana saja menyanggah tuduhan ini.

Apabila nama komunitas diberi makna komunitas itu bisa memba-hayakan ketenteraman umum di masa depan dengan mempertebal sen-timen agama, kami mengatakan: Pertama, Direktorat Urusan Agama dan semua pengkhotbah melakukan pengabdian yang sama. Kedua, murid-murid Risalah Nur melindungi bangsa dari anarki dengan semua kekuat-an dkekuat-an keyakinkekuat-an mereka dkekuat-an menjamin ketertibkekuat-an dkekuat-an ketenteramkekuat-an umum; murid-murid Risalah Nur tidak mengganggu mereka.

Ya, kami merupakan sebuah komunitas. Sasaran dan program ka-mi adalah menyelamatkan diri kaka-mi sendiri, kemudian bangsa kaka-mi dari kemusnahan abadi dan isolasi total yang kekal di alam pertengah-an (barzah), melindungi kawpertengah-an setpertengah-anah air dari pertengah-anarki dpertengah-an kekacaupertengah-an, melin dungi kami sendiri dengan kebenaran-kebenaran Risalah Nur yang kukuh melawan ateisme, yang merupakan sarana untuk menghancur-kan kehidupan kami di dunia ini dan di akhirat.26

Nursi sering menekankan dalam pidato-pidato pembelaannya bahwa sifat pengabdian mereka kepada Al-Qur’an melarang mereka mengambil bagian dalam politik; adalah mereka yang melawan hasil-hasil sosial yang konstruktif dan positif dari pengabdian ini yang berulang kali menuduh mereka terlibat dalam politik:

Kami murid-murid Risalah Nur tidak menjadikan Risalah Nur sebagai alat untuk aliran-aliran duniawi [politik], bahkan tidak untuk seluruh alam semesta. Selanjutnya Al-Qur’an melarang keras kami untuk ber-politik. Karena fungsi Risalah Nur adalah mengabdi pada Al-Qur’an me-lalui kebenaran-kebenaran iman dan meme-lalui bukti-bukti yang sangat kuat dan meyakinkan, yang di hadapan kekafiran mutlak yang meng-hancurkan kehidupan yang kekal dan juga mengubah kehidupan dunia ini menjadi racun yang mengerikan akan membuat bahkan para filsuf ateis yang paling keras kepala menjadi beriman. Oleh karena itu, kami tidak boleh menjadikan Risalah Nur sebagai alat untuk apa saja.

Pertama: Kami dilarang berpolitik agar kami tidak memberi gagasan yang salah tentang propaganda politik dan dengan demikian merendah-kan kebenaran-kebenaran Al-Qur’an yang bagaimerendah-kan intan permata men-jadi pecahan-pecahan kaca di mata orang-orang yang lalai.

Kedua: Belas kasih, kebenaran dan hak, serta hati nurani, yang me-rupakan dasar dari jalan Risalah Nur, melarang keras kami terlibat dalam politik dan mencampuri urusan pemerintahan. Karena, bergantung pada satu atau dua orang tidak beragama yang telah tercebur ke dalam kekafiran mutlak dan layak menerima tamparan dan malapetaka adalah tujuh atau delapan orang tidak berdosa—anak-anak, orang sakit, dan orang lanjut usia. Apabila tamparan dan malapetaka ditimpakan pada satu atau dua orang tersebut, mereka yang malang juga menderita. Oleh karena itu, hasilnya meragukan, kami dilarang mencampuri urusan ke-hidupan sosial melalui politik, yang akan merugikan ketertiban peme-rintah dan umum.

Ketiga: Lima prinsip yang diperlukan dalam saat yang aneh ini un-tuk melindungi kehidupan sosial negara dan bangsa dari anarki adalah:

hormat, belas kasih, menahan diri dari yang diharamkan, keamanan, memberhentikan kekacauan, dan ketaatan [kepada yang berwewenang].

Bukti bahwa bila Risalah Nur memelihara kehidupan sosial yang dia bentuk dan memperkuat kelima prinsip ini dengan cara yang sangat kuat dan suci serta melindungi batu fondasi ketertiban umum adalah bahwa selama dua puluh tahun terakhir ini Risalah Nur telah membuat seratus ribu orang menjadi anggota yang tidak merugikan bahkan ber-guna bagi bangsa dan negara ini. Isparta dan Kastamonu memberikan kesaksian mengenai hal ini yang berarti bahwa mayoritas orang yang ke-beratan dengan Risalah Nur dengan sengaja atau tidak dengan sengaja mengkhia nati negara dan bangsa serta dominasi Islam karena anarki.27 Sebagai tanggapan atas tuduhan membentuk tarekat yang berulang-ulang diajukan, Nursi berkata:

Dasar dan sasaran Risalah Nur adalah keimanan yang hakiki dan haki-kat Al-Qur’an. Karena alasan ini, tiga pengadilan telah membebaskan dari tuduhan berkenaan dengan menjadi sebuah tarekat. Selanjutnya, selama dua puluh tahun ini tidak seorang pun berkata, “Said telah mem-beri saya pelajaran tarekat.” Juga, jalan yang mana sebagian besar nenek moyang bangsa ini telah terikat dengan jalan itu selama seribu tahun tidak dapat digunakan sebagai sesuatu untuk menuduh [anggota bangsa

ini]. Juga, mereka yang berhasil memerangi orang-orang munafik yang tersembunyi yang menyebut hakikat Islam sebagai tarekat dan menye-rang agama bangsa ini, mereka sendiri tidak mungkin dituduh sebagai sebuah tarekat.28

Dari semua tuduhan yang direkayasa, yang paling jelas palsu adalah tuduhan mengenai nasionalisme suku Kurdi. Nursi sebagai Said Lama telah berjuang untuk memelihara dan memperkuat kesatuan Usmani, dan sebagai Said Baru dalam tahun-tahun pengasingannya telah mengor-bankan dirinya lagi demi keselamatan bangsa Turki. Meskipun demikian, pengadilan menyatakan Nursi bersalah atas tuduhan ini—“darah nasio-nalisme suku Kurdi masih mengalir kental di dalam jiwanya.” Jelas ini me-rupakan penghinaan terhadap pengadilan atas nama hukum.

Dapatkah pengadilan mana saja di dunia ini menuduh saya seperti itu?

... Meskipun Said meninggalkan negeri asalnya dan kerabatnya serta mengorbankan jiwa dan hidupnya demi bangsa Turki yang religius dan bangsa Islam ini ... [dapatkah hal seperti ini dikatakan] pada seseorang yang, meskipun dihukum dan disiksa selama dua puluh tahun akan te-tapi persaudaraannya yang tulus dengan bangsa Turki tidak goyah se-dikit pun; dan kepada seseorang yang tidak ada pengadilan di dunia ini dapat menuduhkan hal ini; dan yang, karena rasialisme tidak mempun-yai makna yang sejati dan berbahaya bagi ukhuwah islamiah, selama 50 tahun telah berkata, “Nasionalisme Islam adalah sama dengan segala-galanya,” dan telah mendukung nasionalisme Islam itu; dan yang telah mengatakan, “Hentikan rasialisme dan gabunglah dengan kebangsaan Islam, yang mendapatkan 400 juta saudara!” dan yang selalu mengajar-kan hal ini?29

Pengadilan selanjutnya yang menuduh Nursi bersalah berhubungan dengan tentang sejumlah hukum Islam mengenai wanita. Dalam pembe-laannya kepada pengadilan banding, dia menulis dengan mempertahan-kan hal ini:

Satu alasan yang mereka berikan untuk menghukum saya adalah penaf-siran saya mengenai ayat-ayat Al-Qur’an yang eksplisit tentang jilbab, warisan, bacaan asma-asma Ilahi dan poligami, ditulis untuk mem-bungkam mereka yang berkeberatan dengan semua itu [atas nama] per-adaban ...

Saya mengatakan hal ini: jika ada keadilan di muka Bumi ini,

[Peng-adilan Banding] akan membatalkan keputusan ini yang menghukum se-seorang yang menjelaskan [ayat-ayat Al-Qur’an] secara terperinci yang setiap abad selama 1.350 tahun terjaga kesuciannya, dan merupakan prinsip-prinsip Ilahi yang benar dalam kehidupan sosial bagi 350 juta orang Islam, dan menjelaskan kepada mereka secara terperinci dengan berdasarkan pada permufakatan dan pengakuan dari 350.000 tafsir Al-Qur’an dan mengikuti [apa yang telah diimani] oleh nenek moyang kita selama 1.300 tahun. Seseorang yang menurut nalar dan pengetahuan tidak menerima hukum-hukum Eropa tertentu yang diterapkan untuk sementara waktu karena persyaratan-persyaratan tertentu zaman itu, seseorang yang meninggalkan politik dan menarik diri dari kehidupan sosial akan dihukum, karena penafsiran terhadap ayat-ayat itu. Bu-kankah ini penyangkalan Islam dan pengkhianatan pada jutaan nenek moyang kita yang heroik dan religius, serta penghinaan terhadap jutaan tafsir Al-Qur’an?30

Dalam dokumen Bagian 2 SAID baru. v a n (Halaman 167-172)