Di malam Lailatul Qadar, yang di Turki pada umumnya dianggap jatuh pada Ramadan tanggal 27, dengan demikian mungkin bertepatan dengan tanggal 27 September, Nursi dibawa dari kantor polisi di depan rumahnya di Kastamonu dan diangkut bus menuju Ankara, sekitar 271 kilometer ke selatan. Dilaporkan dia telah berkata kepada polisi di sana,
“Katakan kepada Midhat [Gubernur Kastamonu] untuk meneruskan pida-to pembelaanku baik dalam huruf baru maupun huruf lama kepadaku!”88
Hal ini dilaporkan oleh Selahaddin Celebi, mengacu pada pembelaan Nursi dari Pengadilan Eskisehir yang telah diberikan Nursi kepada para petugas dan polisi ketika mereka menggeledah rumahnya.89
Seorang pegawai pemerintah dari Inebolu yang bernama Ziya Dilek, yang nantinya ditangkap dan dikirim ke Denizli, juga ada dalam bus terse-but. Kisahnya tentang perjalanan tersebut sebagai berikut:
Saya telah berada di dalam bus menuju ke tempat kerja saya di Ilgaz.
Bus dihentikan oleh para polisi dan jandarma (polisi militer) di Oluk-basi (letak kantor polisi tersebut) dan di bagian belakang dikosongkan tempat duduk untuk tiga orang. Mereka menempatkan Badiuzzaman Hoca Efendi di sana. Ketika bus mulai berjalan dia merasa tidak sehat;
Dia berusia tujuh puluh tahun dan sakit. Dia berkata: “Karena mereka meng anggap saya adalah tahanan politik, seharusnya saya dikirim de-ngan taksi pri badi.” Setelah itu tentara yang duduk di samping saya bang kit dan menawarkan tempat duduknya kepadanya. Mereka pun bertu kar tempat. Saya sangat takut dan tidak dapat berbuat apa-apa un-tuk membantunya. Ketika dia duduk di samping saya dia menanyakan siapa nama saya. Setelah saya mengatakan Ziya Dilek, dia berkata:
“Apakah Anda Ziya kami? Apakah Anda mengantarkan saya ke tempat keberangkatan mewakili penduduk Kastamonu?” Sembari menoleh ke polisi Safwet yang mengawal di belakangnya, dia berkata: “Safwet! Apa yang sedang aku baca di Al-Qur’an saat kamu menyerang rumahku?”
Setelah meminta secarik kertas, dia meminta saya menulis ayat, Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji
Tuhanmu (QS. ath-Thuur [52]: 48). Bukankah aku sedang membaca ayat ini?” dia menunjukkannya kepada Safwet dan yang lainnya. Dia berkata kepada saya:
“Ziya, katakan kepada teman-teman Anda agar jangan cemas. Kita tidak akan dihukum. Mereka mungkin akan mengadakan gencatan sen-jata atau merundingkan perdamaian,” Dia mengirim salam dan berita baik ini melalui saya kepada teman-temannya yang telah ditangkap.
Tetapi saya tidak menuju ke sana dan saya belum ditangkap!
Selanjutnya dia berkata: “Sudikah Anda menyuruh sopir untuk meng hentikan bus. Tidak ada paksaan dalam agama, tetapi saya mem-punyai sedikit nasihat untuk para penumpang.” Maka sopir menghenti-kan bus dan Hoca Efendi segera berkhotbah kepada para penumpang:
“Lailatul Qodar kemungkinan besar jatuh nanti malam. Apabila di-baca pada hari-hari lainnya, setiap huruf Al-Qur’an menghasilkan sepu-luh pahala; di bulan Ramadan setiap huruf menghasilkan seribu pahala, dan pada saat Lailatul Qodar, tiga puluh ribu pahala. Seandainya Anda diberi tahu akan diberi lima emas lira sebagai imbalan karena melaku-kan sesuatu, bersediakah Anda berusaha memperolehnya?” Para pe-numpang menjawab bahwa mereka bersedia, maka hoca melanjutkan,
“Anda menghabiskan kekuatan dan energi untuk memperoleh lima emas lira demi dunia fana ini; tidakkah Anda ingin menyiapkan per-bekalan untuk kantong perper-bekalan kehidupan kekal Anda?” Para pe-numpang menyatakan persetujuannya lagi. Maka, Nursi berkata: “De-ngan demikian, jika seorang Muslim membaca surat al-Ikhlas tiga kali, surat al-Fatihah satu kali, dan Ayat Kursi sekali, dia telah menyiapkan perbekalan untuk kantong kehidupan abadinya.”
Sopir, Rizeli Lutfu, dan para penumpang mengucapkan terima kasih kepada Nursi, dan tidak lama kemudian tiba waktunya untuk berbuka puasa. Dia menghentikan bus di sebuah mata air terkenal di hutan pinus di gunung Ilgaz untuk istirahat. Di sana, Hoca Efendi memberikan ke-pada saya makanan yang diberikan oleh dewan kota keke-padanya dan saya memberi dia makanan saya, lalu kami berbuka puasa. Kami menunaikan shalat Maghrib berjemaah. Di Ilgaz saya meninggalkan Hoca Efendi dan pergi bekerja. Tetapi tidak lama kemudian mereka menangkap saya dan mengirim saya ke Denizli. Mereka masih belum membawa Hoca Efendi ke sana ketika saya tiba. Saat teman-teman di penjara dengan cemas bertanya kepada saya apakah saya telah melihat ustaz. Saya teringat ayat yang saya tulis atas perintahnya pada saat di bus dalam perjalanan menuju Ilgaz. Saya mengeluarkannya dan membacakannya untuk
me-reka serta menceritakan apa yang telah terjadi dalam perjalanan terse-but. Ini merupakan hiburan yang sangat besar bagi mereka, dan mereka sangat senang.90
Yang ditugaskan untuk mendampingi Nursi dari Kastamonu adalah seorang perwira jandarma (polisi militer) yang tidak diberi kekuasaan yang bernama Ismail Tuncdogan. Dia menyebutkan bahwa sesampainya di Ankara, dia dan Nursi menginap di sebuah hotel di daerah Samanpa-zari.91 Segera setelah tiba, benar-benar di luar dugaan, Nursi dipanggil Gubernur Ankara, Nevzat Tandogan. Setelah itu diikuti insiden yang, se-andainya bukan karena sikap tidak hormat yang sangat mengerikan yang ditunjukkan kepada Nursi, benar-benar menggelikan. Pria yang marah ini, yang merupakan salah satu orang terkemuka Cumhuriyet Halk Partisi (Partai Rakyat Republik) dan menjadi Gubernur Ankara selama tujuh be-las tahun, memanggil Nursi untuk memaksa dia melepaskan sorbannya dan mengenakan topi runcing “resmi.” Tentu saja, dia tidak berhasil. Nur-si berkata kepadanya, “Sorban ini hanya lepas bersama kepala ini!”92 Se-lain perwira jandarma (polisi militer) tersebut, yang menyebutkan bahwa pesuruh kantor keluar dari kantor gubernur sembari membawa topi run-cing, insiden tersebut juga disaksikan oleh murid Nursi dari Inebolu, Sela-haddin Celebi, yang telah ditangkap di Ankara beberapa hari sebelum nya dan dibawa setelah Nursi ke kantor-kantor pemerintah. Dia menggambar-kannya sebagai berikut ini:
Saat itu cuaca panas menjelang akhir bulan Ramadan. Saya berada di kantor Nevzat Bey. Para petugas membawa Nursi, dan mereka ma-suk ke kantor bersama-sama. Kemudian para petugas tersebut keluar, dan pintu ditutup. Terdengar suara marah-marah dari dalam. Kemudian bel berbunyi, dan seorang pelayan masuk lalu keluar lagi. Pada saat ini, Nursi berkata dengan marah kepada Tandogan, “Aku mewakili nenek moyangmu. Aku tinggal di tempat terpencil. Undang-undang pakaian tidak dapat dipaksakan kepada orang-orang yang tinggal dalam penga-singan. Aku tidak keluar. Kamu membawa aku dengan paksa. Aku harap kamu mendapatkan hukuman karenanya!” Pelayan kemudian kembali sambil membawa topi runcing seharga 25 kurus dan masuk ke kantor gubernur.93
Menurut satu cerita, gubernur sendiri sebenarnya secara fisik mena-ruh topi ini di kepala Nursi; menurut cerita lain, dia mencobanya, tetapi
tidak bisa. Nursi kemudian dibawa ke stasiun dan diangkut dengan kereta api menuju Isparta. Namun demikian, Gubernur Tandogan belum menye-rah pada saat itu. Dia juga pergi ke stasiun bersama-sama dengan bebera-pa orang polisi dengan maksud menangkap basah Nursi. Tetapi tebebera-pat bebera-pada saat mereka akan menangkapnya, Nursi dengan cepat melepas sorbannya dan naik kereta api. Mereka berhenti dengan terheran-heran; bagaimana dia mengetahui mereka berada di sana dan apa yang ingin mereka laku-kan? Nursi kemudian berkata bahwa mereka telah dikalahkan oleh seekor kutu. Karena tepat pada saat dia hendak naik kereta api, seekor kutu hing-gap di kepalanya dan dia melepas sorbannya untuk menggaruk kepalanya!
Maka mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Nursi berkata itu bukan contoh keramet (karomah) dirinya sendiri, akan tetapi keramet Risalah Nur.
Menurut jandarma (polisi militer) Ismail Tuncdogan, banyak sekali orang yang berkumpul menyambut Nursi di Isparta. Dalam kereta itu juga ada salah satu muridnya selama dia berada di Barla, Caprazzade Abdul-lah. Dia datang dan berbicara dengan Nursi selama perjalanan itu, akibat-nya dia ditahan untuk diinterogasi selama dua hari di Isparta setibaakibat-nya di sana.94 Nursi dibawa dari stasiun menuju ke penjara tempat murid-murid Nur dari sejumlah daerah telah dibawa. Dia dipenjara dalam sel yang di-jaga ketat terpisah dari orang-orang lainnya. Selanjutnya dia dan murid-murid lainnya diinterogasi terus-menerus. Mereka tetap berada di Isparta kurang dari sebulan sebelum dipindah ke Penjara Denizli untuk diadili.
Menteri Kehakiman di Ankara menentukan Denizli, karena di sanalah pertama kalinya dilakukan penangkapan.
Catatan akhir
1. Nursi, Flashes, 333.
2. Çaycı Emin Bey, dalam Şahiner, Nurs Yolu, 100-103; Şahiner, Son Şahitler (edisi 1980), 1: 108-16.
3. Mehmet Feyzi Pamukcu, dalam Şahiner, Son Şahitler, 2: 158-64.
4. Nursi, Kastamonu Lahikası, 12.
5. Çaycı Emin Çayir, dalam Şahiner, Son Şahitler (edisi 1980), 1: 112.
6. Hilmi Sema, dalam Şahiner, Son Şahitler, 5: 202-3.
7. Çaycı Emin, dalam Şahiner, Son Şahitler (edisi 1980), 1: 119-11; Mehmet Munip Yalaz, dalam Son Şahitler, 2: 188.
8. Sadik Demirelli, dalam Şahiner, Son Şahitler, 2: 135-57.
9. Selahaddin Çelebi, dalam Şahiner, Son Şahitler (edisi 1980), 1: 136-38.
10. Nursi, Kastamonu Lahikası, 62.
11. Ibid., 72.
12. Ibid., 5.
13. Ibid., 10.
14. Ibid., 53.
15. Ibid., 48; juga, 10.
16. Nursi, Rays, 188. Sebuah terjemahan yang lebih dekat dari “keyakinan haqi-qi” (bahasa Türki, tahkiki; bahasa Arab, tahqiqi, iman) akan “teruji,” “dipasti-kan melalui penelitian,” “hasil dari penyelidi“dipasti-kan,” atau “membenar“dipasti-kan.”
17. Nursi, Kastamonu Lahikası, 25.
18. Nursi, Rays, 123.
19. Nursi, Sikke-i Tasdik-i Gaybi, 76.
20. Lihat Hanioglu, Young Turks in Opposition, 21.
21. Nursi, Rays, 133-34.
22. Nursi, Flashes, 380. Hadis: al-Ajluni, Kasyf al-Khafa, 1: 143; Ghazali, Ihya’u Ulum al-Din, 4: 409; al-Haytami, Majma’ al-Za’id, 1: 78.
23. Nursi, Kastamonu Lahikası, 171.
24. Ibid., 174-75.
25. Lihat, Nursi, Letters, 518ff.
26. Nursi, Kastamonu Lahikası, 171.
27. Nursi, Emirdag Lahikası, 1:68.
28. Hal ini diakui oleh Hamid Algar dalam artikelnya “Centennial Renew, 291-311.
29. Al-Hakim, al-Mustazrak; Abu Daud, Sunan (Kitab al-Malahim); al-Baihaqi, Shu’ab al-Iman.
30. Nursi, Kastamonu Lahikası, 133.
31. Hacı Hasan Sarıkaya, dalam Şahiner, Son Şahitler, 4: 357-58.
32. Mustafa Ramazanoglu, dalam Şahiner, Son Şahitler, 4: 225, 229.
33. Algar juga mencatat ini. Lihat Algar, “Centennial Renewer,” 303.
34. Lihat Nursi, Sikke-i Tasdik-i Gaybi, 41-42.
35. Dalam teks asli tidak ada
36. Şahiner, Son Şahitler (edisi 1980), 1: 234-35; 4: 351-54; Şahiner, Nurs Yolu, 111-13.
37. Nursi, Kastamonu Lahikası, 63.
38. Untuk Maulana Khalid, lihat Hourani, “Shaikh Khalid and the Naqshabandi Order,” 89-103; Algar, “Centennial Renewer,” 302-4.
39. Berikut ini definisi mujaddid yang diberikan murid-murid Nursi: “Para abdi agama tingkat tinggi yang dijelaskan dalam Hadis sebagai orang yang datang
pada setiap awal abad bukanlah penemu, mereka adalah pengikut. Dengan kata lain, mereka sendiri tidak menciptakan apa pun yang baru, mereka tidak membawa peraturan baru; mereka menyesuaikan dan memperkuat agama dengan cara mengikuti surat yang menjadi landasan dan peraturan agama dan Sunah Rasul; mereka memproklamasikan makna agama yang se-jati dan asli; mereka menghapus dan mengubah hal-hal tak berdasar yang telah mencemari agama; mereka menyangkal dan mengalahkan serangan-serangan yang dilancarkan kepada agama; mereka membangun perintah-perintah Ilahi, dan memproklamasikan dan menyiarkan kemuliaan dan keagungan peraturan ilahi. Namun tanpa merusak kedudukan dasar atau merusak semangat asli, mereka menjalankan tugas-tugas mereka melalui metode-metode persuasi baru yang sesuai dengan semangat zaman, dan dengan cara-cara serta detail-detail baru.” Nursi, Rays, 635.
40. Bruinessen, Agha, Shaikh and State, 223ff.; Mardin, Religion and Social Change, 57-59, 149.
41. Şamli Hafız mengutip tanggal ini dalam bentuk Hijriah; pada kenyataannya, menurut dokumen yang masih ada, tahun kelahiran Nursi adalah 1293 Rumi (1877).
42. Nursi, Sikke-i Tasdik-i Gaybi, 14-16.
43. Nursi, Kastamonu Lahikası, 139.
44. Ibid., 57-58.
45. Ibid., 69-71, 73-7.
46. Ibid., 80-81.
47. Ibid., 84.
48. Ibid., 104.
49. Ibid., 108.
50. Zurcher, Turkey, 207-8.
51. Nursi, Kastamonu Lahikası, 167; uga, 99, 111, 148, 176-77.
52. Ibid., 106-7.
53. Ibid., 135.
54. Ibid., 186.
55. Ibid., 200.
56. Ibid., 190.
57. Ibid., 135.
58. Ibid., 102.
59. Ibid., 6-7.
60. Tahsin Aydın, dalam Şahiner, Son Şahitler, 3: 104-5.
61. Risale-i Nur Külliyati Müellifi, 284.
62. Nadir Baysal, dalam Şahiner, Son Şahitler, 4: 282-86.
63. Şahiner, Son Şahitler, 2: 193-95.
64. Risale-i Nur Külliyati Müellifi, 85.
65. Nursi, Kastamonu Lahikası, 82-83.
66. Ibid., 62.
67. Sebagai contoh, Nursi, Kastamonu Lahikası, 85.
68. Abdullah Yegin, dalam Şahiner, Son Şahitler (edisi 1980), 1: 370-71.
69. Ibid., 380.
70. Şahiner, Bilinmeyen (edisi ke-6), 309-10; Nursi, Kastamonu Lahikası, 157.
71. Nursi, Kastamonu Lahikası, 26-27.
72. Nursi, Sualar, 611, 625.
73. Nursi, Kastamonu Lahikası, 25-26.
74. Nursi, Müdafaalar, 156.
75. Nursi, Kastamonu Lahikası, 157.
76. Ibid., 106.
77. Ibid., 166-67.
78. Ibid., 74.
79. Nursi, Sikke-i Tasdik-Gaybi, 171.
80. Çaycı Emin Cayir, dalam Şahiner, Son Şahitler (edisi 1980), 1: 113-14.
81. Nursi, Müdafaalar, 97.
82. Çaycı Emin Cayir, dalam Şahiner, Son Şahitler (edisi 1980), 114-5; Mehmet Feyzi Pamukcu, dalam Son Şahitler, 2: 161; Risale-i Nur Külliyati Müellifi, 288.
83. Nursi, Kastamonu Lahikası, 203-4.
84. Nursi, Flashes, 333.
85. Risale-i Nur Külliyati Müellifi, 358.
86. Şahiner, Bilinmeyen (edisi ke-6), 335-36.
87. Nadir Baysal, dalam Şahiner, Son Şahitler, 4: 285-86.
88. Şahiner, Bilinmeyen (edisi ke-6), 338.
89. Lihat, Nursi, Kastamonu Lahikası, 203-4.
90. Şahiner, Bilinmeyen (edisi ke-6), 338-40.
91. Ismail Tunçdogan, dalam Şahiner, Son Şahitler, 3:101.
92. Nursi, Emirdağ Lahikası (edisi 1959), 2: 19.
93. Şahiner, Bilinmeyen (edisi ke-6), 340-41.
94. Beberapa biografi Nursi telah menunjukkan bahwa Nevzat Tandogan me-lakukan bunuh diri tiga tahun kemudian dengan menembak dirinya sendiri (9 Juli, 1946). Lihat Şahiner, Bilinmeyen (edisi ke-6), 340; Badıllı, Nursi, 2:
766.
95. Bayram Yuksel, dalam Şahiner, Son Şahitler (edisi 1980), 1: 446.
96. Abdullah Caprazzade, dalam Şahiner, Son Şahitler, 2: 116; Şahiner, Bilinme-yen (edisi ke-6), 341.
13
D e n I z l I
Nursi masih sakit dan lemah karena pengaruh racun. Waktu itu ada-lah akhir bulan Ramadan. Dia sangat berduka karena kemalangan yang di tim pakan kepada Risalah Nur ini, di samping dirinya sendiri, hampir semua muridnya yang terkemuka telah ditangkap. Murid-murid tersebut dikumpulkan, diciduk dari rumah-rumah dan desa-desa mereka di Pro-vinsi Isparta dan di tempat lain, dan keluarga-keluarga mereka ditinggal tanpa dukungan dan perlindungan. Yang akan terjadi sudah jelas. Jika kondisi di Penjara Eskisehir buruk, kondisi di Denizli lebih buruk. Nursi mengatakan bahwa kesengsaraan yang dia derita selama sehari di Denizli sama dengan kesengsaraan yang dia derita selama sebulan di Eskisehir.
Namun sekali lagi, hal ini menghasilkan kemenangan: meskipun pada awalnya tampaknya seakan-akan serangan yang melumpuhkan telah di-arahkan pada Risalah Nur dan penyebarluasannya, tetapi peristiwa peng-adilan dan pemenjaraan Denizli, seperti Eskisehir sebelumnya dan Afyon sesudahnya, mengabdi pada kepentingan Risalah Nur dengan cara yang tidak terduga oleh siapa pun.
Pertama-tama terbit laporan positif yang dibuat oleh komite pakar di Ankara dan pernyataan tidak bersalah. Hal ini menyebabkan banyak pejabat dan orang lain membaca Ayet-ul Kubra (Tanda-tanda Agung) dan bagian-bagian lain Risalah Nur dengan hasil-hasil yang menguntungkan.
Kasus pengadilan dan pemenjaraan memublikasikan Risalah Nur dan
me-nimbulkan banyak simpati terhadap Nursi dan murid-muridnya serta mi-nat kepada Risalah Nur, yang mengimbangi kampanye propaganda mela-wan mereka yang dirancang oleh kalangan pemerintah.
Sebuah faktor yang menyebabkan pembebasan mereka adalah per-ubahan luar biasa yang terjadi pada banyak napi lain karena pengaruh Nursi dan murid-muridnya. Sedikit banyak demikian pula yang terjadi di Eskisehir, tetapi di Penjara Denizli bahkan para residivis pun belajar bagaimana melakukan shalat dan membaca Al-Qur’an. Sebagian mem-bantu murid-murid Nursi menyalin salinan-salinan Risalah Nur. Nursi ditahan dalam sel sempit, lembab, dan gelap. Dalam beberapa kesempat-an dia diracun lagi. Tidak diskesempat-angsikkesempat-an lagi, maksudnya adalah untuk me-lenyapkan Nursi dan sebagian muridnya yang terkemuka. Memang, ada dua orang muridnya yang meninggal dunia selama sembilan bulan mereka dipenjara. Meskipun demikian, Nursi berkeras hati melanjutkan perjuang-annya. Murid-muridnya dilarang mengunjungi atau berbicara dengan dia, maka dia menulis banyak catatan dan surat untuk mendorong, menghi-bur, membimbing mereka, dan mengarahkan penyalinan dan penggan-daan Risalah Nur. Kemudian dia menulis 11. Su’a (Sinar ke-11) Meyve Risalesi (Buah-buah Keimanan). Dia juga menulis petisi-petisi dan pidato-pidato pembelaannya. Karena dia dan murid-muridnya dituduh dengan
“kejahatan-kejahatan” yang hampir sama dengan saat di Eskisehir dan dia menyampaikan pembelaan yang sama di Pengadilan Afyon sekitar empat tahun berikutnya yaitu pada tahun 1948-1949, pengadilannya hanya akan digambarkan secara singkat dalam bab ini.