II. TINJAUAN PUSTAKA
2.2.1. Hubunga n Pertumbuhan dan Pemerataa n
2.2. Pertumbuhan dan Pemerataa n
2.2.1. Hubunga n Pertumbuhan dan Pemerataa n
Hubungan pertumbuhan dan pemerataan hingga kini masih menjadi
kontroversi. Di satu pihak, ada yang berpendapat bahwa pertumbuhan dan
pemerataan saling bertentangan, tetapi di pihak lain, ada yang berpendapat
sebaliknya. Kelompok yang terakhir ini di dunia internasional tergolong
minoritas, sebab jumlah negara yang berhasil memadukan pertumbuhan dan
pemerataan tidak banyak. Justru yang banyak adalah negara yang berhasil
menciptakan pertumbuhan tinggi, tetapi dibarengi dengan ketimpangan yang
semakin melebar. Namun tidak sedikit negara yang pertumbuhan ekonominya
rendah tetapi diikuti dengan ketimpangan yang terus melebar.
Untuk menganalisis pengaruh pembagian pendapatan terhadap investasi
(I), perlu dilakukan beberapa penyederhanaan seperti yang dilakukan Kaldor
(dalam Ismail, 1995). Misalkan bahwa pendapatan nasional (Y) didistribus ika n
dalam dua bentuk, yaitu yang diterima kelompok pekerja berupa upah (W) dan
yang diterima kelompok pengusaha berupa keuntungan (F). Apabila kedua
kelompok masyarakat tersebut mempunyai hasrat menabung yang berbeda (sw
sF) dimana sw = hasrat menabung pekerja dan sF hasrat menabung pengusaha),
maka tabungan nasional bisa ditulis menjadi:
S = sY =( swW + sFF). ... ( 2.10)
Dalam model makroekonomi keynesien sederhana, keseimbangan terjadi
apabila I=S, de ngan mensubstitusika n syarat keseimbangan ini dengan persamaan
(2.10) diperoleh:
I = (swW) + (sFF)
Jika W sama dengan Y dikurangi F, maka
I = sw ( Y – F) + (sFF)
= (sF – sw)F + (swY)
Bila ruas kiri dan ruas kanan dibagi dengan Y, diperoleh I Y = (sF – sw) F/Y + sw ... (2.11)
Ini berarti bahwa tingkat investasi (I/Y) merupakan fungsi dari tingkat
keuntungan (F/Y). Bila hasrat menabung dari kelompok buruh sama dengan nol
(biasanya terbukti di kebanyakan negara berkembang), maka tingkat investasi
ditentukan semata- mata oleh tingkat keuntungan, atau apabila dianggap bahwa
hasrat menabung ke lompok buruh lebih kecil daripada kelompok kapitalis
(biasanya terjadi di negara manapun), maka tingkat keuntungan tetap merupakan
faktor penting dalam menentukan tingkat investasi. Dengan demikian,
menurunkan proporsi keuntungan dalam pendapatan nasional untuk memperbaiki
distribusi pendapaan, mempunyai dampak negatif terhadap tingkat investasi.
Selanjutnya, persamaan (2.10) ditulis kembali menjadi: S s= Y = (SFF) (SwW ) f Y = sw + (sF – sw) F Y ... (2.12)
Dengan memasukka n persamaan (2.12) ke dalam formulasi pertumbuhan
Harrod-Domar (g = s/v, dimana s = hasrat menabung masyarakat, dan v= nisbah
sw (sF sw)(F / Y )
g= v ... (2.13)
Dari persamaan (2.13) jelas bahwa pertumbuhan dan pemerataan
merupakan dua hal yang bertentangan. Jika dikehendaki tingkat pertumbuhan (g)
yang tinggi, maka proporsi pendapatan nasional yang d iterima kelompok ka pitalis
(F/Y) harus cukup tinggi pula, begitu sebaliknya bila dikehendaki distribusi
pendapatan yang lebih merata, maka tingkat pertumbuhan akan rendah.
Dalam literatur, paling sedikit ada tiga konsep distribusi pendapatan,
yakni: (1) distribusi fungsional, (2) distribusi fungsional yang diperluas, dan (3)
distribusi personal. Distribusi fungsional berkaitan dengan pembagian pendapatan
yang diterima pemilik faktor produksi tradisional dalam proses produksi (tanah,
mod al, dan tenagakerja). Distribusi fungs ional yang diperluas merupaka n be ntuk
lain dari distribusi fungsional, misalnya pembagian pendapatan menurut wilayah,
menurut sektor ekonomi (antara sektor pertanian dan sektor industri dan jasa),
atau menurut teknik produksi dalam sektor tertentu (antara industri modern dan
industri tradisional). Sedangkan distribusi personal berkaitan dengan pembagian
pendapatan yang diterima oleh indifidu atau rumah tangga.
Menurut Ismail (1995) teori neo-keynesian dan juga teori distribusi
pendapatan lainnya, lebih menitik beratkan pada masalah distribusi fungsional.
Teori semacam ini tidak sepenuhnya relevan bila digunakan sebagai landasan
untuk merumuskan kebijakan distribusi pendapatan di negara berkembang. Hal ini
disebabkan oleh dua hal, pertama, penggolongan penerima pendapatan dalam
teori distribusi fungsional terlalu sederhana, yaitu hanya terbatas pada buruh dan
pemilik modal, dan umumnya hanya meliputi mereka yang tergabung dalam
kemiskinan dan ketimpangan di negara berkembang. Sebagian besar kelompok
miskin di negara berkembang bekerja secara marginal di sektor tradisional dan
informal, dan kegiatan mereka biasanya tidak dimasukkan ke dalam perhitungan
pendapa tan nasional. Karena itu kebijaka n yang diarahka n untuk mempe ngaruhi
pola pembagian pendapatan antara pekerja dan pengusaha yang didasarkan pada
teor i distribusi fungsional hanya aka n menyentuh lapisan menengah da n lapisan
atas dari kelompok pendapatan.
Kedua, teori distribusi pendapatan fungsional tidak banyak membahas
konflik sosial-politik-ekonomi. Dalam proses pembangunan konflik semacam ini
menonjol, dan biasanya hal ini berkaitan dengan strategi pembangunan yang
dipilih. Distribusi fungsional dapat mengungkap kepentingan politik jika konflik
itu bersumber dari pemilik faktor produksi. Ketidak mampuan teori distribusi
fungsional untuk menjelaskan fenomena di negara berkembang adalah karena
konflik sosial-eko nomi di negara tersebut buka n terletak semata- mata pada
konflik antara upah dan modal, tetapi lebih mengarah pada konflik, misalnya
antara desa dan kota, antara sektor industri dan jasa serta industri pertanian, antara
sektor yang dilindungi dan sektor yang tidak dilindungi, antara industri substitusi
impor dan industri untuk ekspor, dan sebagainya. Karena itu teori distribusi
fungsional mempunyai kemampuan yang terbatas untuk menjelaskan proses dan
fenomena jangka panjang dari ketimpangan pendapatan di negara berkembang.
Pertumbuhan utamanya berasal dari sektor moderen, yang umumnya
tingkat pertumbuhannya jauh lebih cepat daripada sektor tradisional. Ketika
terjadi pertumbuhan, hasilnya menyebar ke seluruh sektor ekonomi, tetapi ada
pertumbuhan tersebut. Hambatan-hambatan ini antara lain berupa renda hnya
tingkat pendidikan, sempitnya lahan yang dimiliki, rendahnya modal, dan
beberapa kebijakan ekonomi (fiskal dan moneter) yang melemahkan posisi
mereka. Karena orang miskin tidak bisa diserap untuk menjadi buruh disektor
modern, maka memburuknya pemerataan pendapatan pada awal pembangunan
tidak bisa dihindari.
2.2.2. Distribusi Pendapatan
Suatu studi untuk melihat berhasil tidaknya pembangunan ekonomi saat
ini tidaklah cukup hanya diukur berdasarkan laju pertumbuhan ekonomi dan
kenaikan pendapatan perkapita saja. Apakah artinya jika pertumbuhan ekonomi
tinggi dan pendapatan perkapita meningkat, namun distribusi pendapatan yang
terjadi tidak merata, dimana penduduk kaya yang berjumlah sedikit lebih banyak
menikmati kenaikan pendapatan tersebut, seda ngka n penduduk miskin yang
jumlahnya lebih banyak hanya sedikit menerima pendapatan. Dengan kata lain,
dalam kondisi ketimpangan semacam itu penduduk yang merasakan kenaikan
pertumbuhan ekonomi da n pe ndapaan pe r kapita tersebut hanyalah pe nduduk
kaya yang jumlahnya sedikit, sementara penduduk miskin yang jumlah lebih
banyak tidak mengalami perbaikan pendapatan. Sehubungan dengan itu
pemahaman mengenai distribusi pendapatan ini sangat penting, terutama sekali
bila ingin mengkaji keberhasilan suatu pembangunan ekonomi.
Adelman dan Morris (1973) dalam Arsyad (1999) mengemukakan delapan
penyebab ketidak merataan distribusi pendapatan sebagai berikut:
1. Pertambahan penduduk yang tinggi sehingga mengakibatkan menurunnya