PERTANIAN
DAN
PARIWISATA
DALAMPEREKONOMIAN
BALI:
ANALISIS
PERANAN
DAN
KETERKAITAN
ANTARSEKTOR
DISERTASI
I
MADE
ADNYANA
SEKOLAH
PASCASARJANA
INSTITUT
PERTANIAN
BOGOR
SURAT
PERNYATAAN
Saya
menyatakan
dengan
sebenar-benarnya
bahwa
segala
pernyataan
dalam
disertasi
saya
yang
berjudul:
PERTANIAN
DAN
PARIWISATA
DALAM
PEREKONOMIAN
BALI:
ANALISIS
PERANAN
DAN
KETERKAITAN
ANTARSEKTOR
merupakan
gagasan
atau
hasil
penelitian
disertasi
sendiri
dengan
pembimbingan
Komisi
Pembimbing,
kecuali
yang
dengan
jelas
ditunjukkan
dengan
rujukannya.
Disertasi
ini
belum
pernah
diajukan
untuk
memperoleh
gelar
pada
program
yang
sejenis
di
perguruan
tinggi
lainnya.
Semua
data
dan
informasi
yang
digunakan
telah
dinyatakan
dengan
jelas
dan
dapat
diperiksa
kebenarannya.
Bogor,
Januari
2012
I
Made
Adnyana
ABSTARACT
I
MADE
ADNYANA.
Agriculture
and
tourism
in
Balinese
Economy:
Analysis
of
the
Role
and
Intersectoral
linka
ges
(
D.S.
PRIYARSONO
as
Chaiman,
MANGARA
TAMBUNAN
and
MUHAMMAD
FIRDAUS
as
members
of
the
Advisory
Committee)
The
main
objectives
of
this
study
are
(1)
to
analyze
the
role
of
agriculture
and
tourism
sectors
as
measured
by
multiplier
effects
of
the
sectors
on
the
economy,
(2)
to
analyze
the
intersectoral
linka
ges
in
the
economy
especially
between
the
two
sectors
,
and
(3)
to
analyze
the
impacts
of
the
increase
of
the
final
demand
on
the
Economy’s
output,
employment,
and
income
distribution,
using
Social
Accounting
Matrix
approach,
this
study
mainly
shows
that
(1)
in
terms
of
output,
tourism
sector
contributes
greater
portion
to
the
Economy
than
what
agriculture
sector
does,
(2)
in
terms
of
income
distribution,
tourism
sector
generates
more
equal
income
distribution
than
what
agriculture
sector
does,
and
(3)
in
terms
of
employment,
however,
agriculture
sector
absorbs
labors
greater
than
what
tourism
sector
does.
These
findings
are
also
confirmed
by
the
results
of
the
simulation
analysis
of
the
increase
in
the
final
de
mand
o
f
the
Economy.
RINGKASAN
I MADE ADNYANA. Pertanian dan Pariwisata dalam Perekonomian Bali : Analisis Peranan dan Keterkaitan Antarsektor (di bawah bimbinga n D.S.
PRIYARSONO sebagai ketua, MANGARA TAMBUNAN dan MUHAMMAD
FIRDAUS masing- masing sebagai anggota komisi pembimbing).
Perkembangan ekonomi Provinsi Bali yang didominasi oleh sektor
pariwisata, tidak terlepas dari statusnya seba gai tujuan wisata dunia ba hwa Bali
merupakan destinasi utama, yang memiliki keindahan alam yang termasyur di
dunia serta diimbangi dengan agama dan budayanya. Berkembangnya ekonomi
provinsi Bali didorong oleh sektor pariwisata, dan sektor pertanian yang mendorong sektor pariwisata itu sendiri, sehingga dapat menciptakan
pembangunan antar kelompok masyarakat melalui output, lapangan kerja dan pendapatan. Pertumbuhan ekonomi Bali yang mengalami percepatan selama periode krisis keamanan yaitu bom Bali diawali oleh besarnya kontribusi sektor, meliputi sektor pertanian, sektor pariwisata dan sektor-sektor lainnya.
Perubahan ekonomi tersebut membawa perubahan mendasar baik bagi kesempatan kerja dan pemerataan ekonomi lainnya. Adanya perubahan ekonomi
tersebut akan memberikan dampak terhadap struktur perekonomian lainnya yang
meliputi struktur permintaan akhir barang dan jasa, struktur ekspor dan impor, struktur ketenagakerjaan, baik manurut sektor dan lapangan usaha dan distribusi
pendapatan.
Tujuan utama da lam studi ini adalah untuk menganalisis keterkaitan ke belakang dan kedepan sektor pertanian dan sektor pariwisata terhadap output, dan
tenaga kerja serta untuk mengetahui dampak multiplier terhadap distribusi
pendapatan dalam perekonomian Bali periode tahun 2007. Secara spesifik
bertujuan: (1) menganalisis peranan sektor pertanian dan sektor pariwisata
dalam pertumbuha n ekonomi dan kesempatan kerja di Provinsi Bali, (2)
menganalisis keterkaitan antarsektor dalam perekonomian Provinsi Bali,
terutama sektor pertanian dan pariwisata, dan (3) menganalisis dampak pertambahan permintaan akhir (final demand) terhadap output, tenaga kerja dan
distribusi pe ndapatan.
Analisis menggunakan pendekatan SAM (Social Accounting Matrix). Data yang digunakan untuk penelitian ini adalah data sekunder yang sebagian
besar bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) provinsi Bali. Adapun secara
spesifik data yang digunakan tersebut mencakup, data time series berupa PDRB, jumlah tenaga kerja, jumlah penduduk yang dipublikasikan oleh BPS provinsi Bali tahun 2007 yang terkait dengan analisis SAM untuk menjawab semua tujuan penelitian.
Hasil analisis menunj ukkan sektor pertanian dan sektor pariwisata
pariwisata adalah subsektor Industri Teksil, Pakaian Jadi, Alas Kaki & Barang dari Kulit, karena subsektor ini mampu untuk menarik sektor hulunya dan juga mampu
untuk mendorong sektor hilirnya.. Dampak pertambahan permintaan akhir terhadap pendapatan rumahtangga, dimana stimulus ekonomi di sektor pariwisata yang memberikan dampak paling tinggi terhadap pendapatan rumahtangga. Ketimpangan pendapatan rumahtangga stimulus ekonomi di sektor pariwisata mempunyai ketimpangan paling rendah.
Implikasi kebijakan dalam studi ini, pertama, memberikan kebijakan- kebijakan yang nyata seperti kebijakan pupuk, pembinaan, pembibitan, modal
usaha, serta pemerintah tidak perlu melakukan impor produk-produk hasil pertanian.Kedua, memberikan kebijakan-kebijakan yang nyata untuk sektor
pariwisata terutama sub-subsektor Restoran, Rumah Makan dan Warung,
subsektor Hotel dan subsektor Travel Biro, dengan kebijakan perpajakan,
merasionalisasi struktur regulasi dan insentif. Ketiga, meletakka n agroindustri
sebagai prioritas berikutnya dalam mengejar industrialisasi, keempat, perlu
diupayakan kebijakan yang secara langsung memberikan bantuan peningkatan
pendapatan golongan rumah tangga berpenghasilan rendah, seperti bantuan tunai
langsung perlu diteruskan dan ditingkatkan,dengan catatan penggunaannya agar
©
Hak
cipta
milik
Institut
Pertanian
Bogor,
tahun
2012
Hak
cipta
dilindungi
Undang-Undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencatumkan atau menyebutkan sumber
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu
masalah
b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar Institut Pertanian
Bogor
2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
PERTANIAN
DAN
PARIWISATA
DALAM
PEREKONOMIAN
BALI:
ANALISIS
PERANAN
DAN
KETERKAITAN
ANTARSEKTOR
I
MADE
ADNYANA
Disertasi
Sebagai
salah
satu
syarat
untuk
memperoleh
gelar
Doktor
pada
Program
Studi
Ilmu
Ekonomi
Pertanian
SEKOLAH
PASCASARJANA
INSTITUT
PERTANIAN
BOGOR
Penguji Luar Komisi Ujian Tertutup
1. Dr. Ir. Heny K. Daryanto, M.Ec.
Staf Pengajar Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen,
Institut Pertanian Bogor
2. Dr. Luckytawati Anggraeni, SP, M.Si.
Staf Pengajar Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor
Penguji Luar Komisi Ujian Terbuka
1. Prof.(R). Dr.Ir. I Made Oka Adnyana, MS.
Peneliti Utama Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Badan
Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pertanian.
2. Dr. Ir. Bintang C. H. Simangunsong, M.Si.
Staf Pengajar Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut
Judul Penelitian : Pertanian dan Pariwisata dalam Perekonomian Bali: Analisis Peranan dan Keterkaitan Antarsektor
Nama Mahasiswa : I Made Adnyana
Nomor Pokok : H 361064044
Program Studi : Ilmu Ekonomi Pertanian
Menyetujui.
Komisi Pembimbing,
Ir.D.S. Priyarsono, Ph.D.
Ketua
Prof. Dr. Ir. Mangara Tambunan,M.Sc.
Muhammad Firdaus, SP,M.Si, Ph.D.
Anggota Anggota
Mengetahui,
2. Ketua Program Studi 3.DekanSekolahPascasarjana
Ilmu Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Bogor
Prof. Dr. Ir. Bonar M. Sinaga, MA. Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc. Agr.
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapka n puji da n syukur ke hadirat Allah Subhana Wataalla,
Yang Maha Pengasih lagi Penyayang, karena atas ridhonya disertasi ini akhirnya
dapat terselesaikan.Disertasi ini disusun dalam rangka untuk memenuhi salah satu
persyaratan penyelesaian pendidikan Program Doktor di Sekolah Pascasarjana,
Institut Pertanian Bogor.
Peranan sektor pertanian dan sektor pariwisata merupakan dua sektor
unggulan terhadap kontribusi PDRB Bali, penyerapan tenaga kerja dan distribusi
pendapatan dalam perekonomian Bali, menjadi gagasan dasar dari penyusunan
disertasi ini. Dari beberapa studi empiris tentang peranan sektor pariwisata yang
telah penulis pelajari hasilnya bahwa sektor pariwisata belum berpihak pada
masyarakat miskin (pro poor). Sehubungan dengan itu dalam disertasi ini
dianalisis keterkaitan antarsektor, dampak multiplier, analisis jalur dari subsektor
kepada kelompok rumahtangga dan distribusi pendapatan dalam perekonomian
Bali.
Disertasi ini diselesaikan secara layak atas bimbingan dari Bapak Ir. D.S.
Priyarsono, Ph.D, selaku Ketua Komisi Pembimbing, Bapak Prof. Dr. Ir. Mangara
Tambunan, M.Sc dan Bapak Muhammad Firdaus, SP, M.Si, Ph.D selaku Anggota
Komisi Pembimbing. Oleh karena itu sudah sepantasnya penulis mengucapkan
terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada beliau atas
kesungguhan, ketekunan, dan kesabaran dalam memberikan bimbingan.
Menghaturka n terima kasih kepada isteri tercinta, Ruhati dan anak-anak
pengertian, dan doanya serta dorongan moril yang tiada henti- hentinya sehingga
penulis dapat menyelesaikan disertasi ini. Ucapan terima kasih juga penulis
sampaikan kepada:
1. Bapak Rektor, Direktur Sekolah Pascasarjana, dan Ketua Program Studi
Ilmu Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Bogor yang telah memberikan
kesempatan dan fasilitas kepada penulis selama mengikuti pendidikan
Program Doktor di Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
2. Bapak Rektor dan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Nasional Jakarta
yang telah memberikan izin belajar dan membiayai secara penuh.
3. Bapak Direktur dan Ibu Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas
Nasional Jakarta yang telah mendorong penulis untuk menyelesaikan
pendidikan Program Doktor.
4. Bapak dan Ibu Dosen di lingkungan Program Studi Ilmu Ekonomi
Pertanian yang telah membimbing penulis selama mengikuti pendidikan
Program Doktor.
5. Bapak dan Ibu Pegawai Administrasi Program Pascasarjana Institut
Pertanian Bogor atas ke muda han ur usan administrasi yang mendukung
penulis pada masa pendidikan Program Doktor.
6. Bapak Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bali dan Pemerintah Daerah
Provinsi Bali yang telah membantu penulis mendapatkan izin dan
kemudahan dalam memperoleh data.
7. Rekan-rekan Dosen Fakultas Ekonomi yang telah memberikan dorongan
8. Adik-adikku yang selalu mendoakan dan memberikan dorongan moril
dalam masa pendidikan Program Doktor.
9. Rekan-rekan senasib sepenanggungan EPN 3 Khusus Institut Pertanian
Bogor, yang selalu memberi dorongan dan perhatian kepada penulis.
10. Dan kepada pihak-pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu
persatu atas bantuannya dalam penyusunan disertasi ini.
Penulis telah berusaha mengerjakan/menyelesaikan disertasi ini sebaik
mungkin sesuai kemampuan, akan tetapi keterbatasan sebagai manusia biasa
memungkinkan terjadinya kesalahan dan kekhilafan penulis dalam
menyelesaikannya. Oleh karena itu saran dan kritik penulis tetap perlukan demi
kesempurnaannya.Akhirnya, semoga disertasi ini dapat bermanfaat bagi pihak
yang memerluka nnya.
Bogor, Januari 2012
RIWAYAT HIDUP
Penulis merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara dari orang tua Bapak
I Ketut Sukadana (almarhum) dan Ibu Ni Cening Rukmi (almarhum).Penulis
dilahirkan pada tanggal 20 Juni 1956 di Sawan, Buleleng, Singaraja Bali.
Pada tahun 1969, penulis menamatkan pendidika n dasar di SD Negeri
Sawan, Buleleng, Singaraja Bali.Pada tahun 1972 menamatkan pendidikan
menengah di SMP Jana Yasa Sawan, Buleleng, Singaraja Bali dan pada tahun
1975 di SMEA Gajah Mada Singaraja Bali.Pada tahun 1978 penulis melanjutkan
pendidikan di Fakultas Eko nomi Jur usan Eko nomi Perusahaan (Manajemen)
Universitas Nasional yang dapat diselesaikan pada tahun 1985. Pada tahun 1994
penulis menerima Beasiswa dari Yayasan Administrasi Indonesia untuk
melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Persada Indonesia pada Program Studi
Magister Manajemen, dan dapat menyelesaikannya pada tahun 1996. Syukur
Alhamdulillah penulis masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan
Program Doktor sejak September 2007 dengan biaya yang bersumber dari
Universitas Nasional secara penuh.Sejak tahun 1986 sampai sekarang penulis
bekerja sebagai Dosen Tetap dengan pangkat akademik mulai dari Asisten Akhli
Madya hingga sekarang Lektor Kepala pada Fakultas Ekonomi Universitas
Nasional Jakarta.
Penulis menikah dengan Ruhati SH, pada tanggal 26 Desember 1980 dan
dikaruniai dua orang anak, yaitu Putu Ruth Adwishanty, SE, M.Si dan I Made
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ……… xiv
DAFTAR GAMBAR ………. xvii
I. PENDAHULUAN … ……… 1
1.1 Latar Belakang ….. ………. 1
1.1. Perumusan Masalah …. ……….. 2
1.2. Tujuan dan Manfaat Penelitian …..……… 3
1.3. Ruang Lingkup da n Keterbatasan Penelitian ….. ……… 11
II. TINJAUAN PUSTAKA ….. ……… 13
2.1. Teori Pertumbuhan ….. ……….. 13
2.1.1. Perspektif Neo Klasik ………. 16
2.1.2. Pandangan Keynesian Tentang Perumbuhan Ekonomi Wilayah 18 2.1.3. Analisis Harrod-Domar ………. 19
2.1.4. Teori Kutub Pertumbuhan ………. 20
2.1.5. Model Pertumbuhan Tidak Seimbang ……… 22
2.1.6. Teori Basis Ekspor ………. 25
2.2. Pertumbuhan dan Pemerataan ………. 26
2.2.1. Hubungan Pertumbuhan da n Pemerataan ………. 26
2.2.2. Distribus i Pendapa tan ……… 30
2.2.3. Strategi Industri Berbasis Pertanian ……… 32
2.2.4. Ekonomi Pariwisata ……….……… 34
2.3. Tinjauan Studi Terdahulu ….. ……… 37
III. KERANGKA TEORETIS …. ……… 43
3.1. Kerangka Pemikiran …..………. 43
3.2. Model SAM ….. ………. 48
3.2.1. Kerangka Dasar SAM ……… 48
3.2.2. Metode Analisis SAM ………... 56
IV. METODOLOGI PENELITIAN ….……… 67
4.1.Tahapan Membangun SAM Provinsi Bali……… 67
4.2. Metode Analisis …. ……… 79
4.2.1. Analisis Pengganda SAM ……….. 81 4.2.2. Analisis Simulasi …. ………. 84
V. PERANAN DAN KETERKAITAN SEKTOR PERTANIAN DAN SEKTOR PARIWISATA DALAM STRUKTUR
PEREKONOMIAN BALI
5.1. Struktur Perekonomian Provinsi Bali………. 86 5.1.1. Struktur Pereko nomian da n Jumlah Tenaga Kerja …… ……… 86
5.1.2. Sumber Pendapatan Rumahtangga ………. 88 5.1.3. Struktur Pengeluaran Rumahtangga ……….. 90 5.2. Peranan Sekor Pertanian dan Pariwisata Terhadap Pertumbuhan
Ekonomi, Kesempatan Kerja dan Distribusi Pendapatan ….. ………. 92 5.2.1. Pengaruh Output Bruto, Keterkaitan, Nilai Tambah dan Faktor
Produksi 92
5.2.2. Pengganda Pendapatan Rumahtangga ……….. 99 5.3.Analisis Dekompos isi …… ………. 103 5.4.Analisis Jalur Struktural ……. ………. 112
VI. DAMPAK STIMULUS EKONOMI TERHADAP OUTPUT, PENYERAPAN TENAGA KERJA DAN DISTRIBUSI
PENDAPATAN
6.1. Dampak Stimulus Ekonomi Terhadap Output Perekonomia n
….. …. 162
6.2. Dampak Stimulus Ekonomi Terhadap Tenaga Kerja ….. ………….. 167 6.3. Dampak Stimulus Ekonomi Terhadap Distribusi
Pendapatan Rumahtangga 171
VII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN ……… 178 7.1. Kesimpulan …. ………. 178
7.2 Implikasi Kebijakan …. ………. 180
DAFTAR PUSTAKA…… …………... 189
LAMPIRAN …..……….. 195
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Struktur Social Accounting Matrix...52
2. Kerangka Dasar SAM Indonesia ...53
1. Klasifikasi SAM Provins i Bali Tahun 2007……… 70
1. Struktur PDRB dan Jumlah Tenaga Kerja di Provinsi Bali ... 89
2. Sumber Pendapatan Rumahtangga di Provinsi Bali Tahun 2007.. 91 3. Struktur Penge luaran Rumahangga di Provinsi Bali Tahun 2007 .. 93
4. Koefisien Pengganda Output, Keterkaitan, Nilai Tambah dan
Faktorial di Provinsi Bali Tahun 2007... 95
5. Ranking Sektor Produksi Berdasarakan Koefisien Pengganda
Output Bruto, Keterkaitan dan Nilai Tambah di Provinsi Bali
Tahun 2007……….. 100 6. Rekapitulasi Sektor yang Memiliki Koefisien Pengganda
Output, Keterkaitan, Nilai Tambah dan Faktor Produksi
Terbesar di Provinsi Bali Tahun 2007……… 101
7. Koefisien Pengganda Pendapatan Rumahtangga di Provinsi
Bali Tahun 2007 103
8. Dekomposisi Pengganda Subsektor Tanaman Bahan Makanan … 106
9. Dekomposisi Pengganda Subsektor Peternakan……….. 108
10. Dekomposisi Pengganda Subsektor Industri Maka nan,
Minuman dan Tembakau
………
…
11. Dekomposisi Pengganda Subsektor Industri Tekstil, Pakaian
Jadi, Alas Kaki dan Barang dari Kulit ……….. 112 12. Pengaruh Global dan Pengaruh Total Subsektor Tanaman,
Bahan Maka nan, Menuju Rumahtangga Buruh Tani ……… 116
13. Pengaruh Global dan Pengaruh Total Subsektor Tanaman,
Bahan Maka nan, Menuju Pengusaha Pertanian ………. 118
14. Pengaruh Global dan Pengaruh Total Subsektor Tanaman, Bahan
15. Pengaruh Global dan Pengaruh Total Subsektor Tanaman,
Bahan Maka nan, Menuju Golongan Atas di Kota ……… 123
16. Pengaruh Global dan Pengaruh Total Subsektor Tanaman,
Bahan Maka nan, Menuju Institusi Perusahaan ………. 124
17. Pengaruh Global dan Pengaruh Total Subsektor Tanaman,
Bahan Maka nan, Menuju Institusi Pemerintah ………. 126 18. Pengaruh Global dan Pengaruh Total Subsektor Peternaka n,
Menuju Rumahtangga Buruh Tani ………. 129
19. Pengaruh Global dan Pengaruh Total Subsektor Peternakan,
Menuju Rumahtangga Pengusaha Pertanian ……….. 131 20. Pengaruh Global dan Pengaruh Total Subsektor Peternaka n,
Menuju Rumahtangga Golongan Atas di Desa ……….. 133
21. Pengaruh Global dan Pengaruh Total Subsektor Peternakan,
Menuju Rumahtangga Golongan Atas di Kota ……… 136
22. Pengaruh Global dan Pengaruh Total Subsektor
Peternaka n,Menuj u Institusi Perusahaan ……… 138 23. Pengaruh Global dan Pengaruh Total Subsektor Peternakan,
Menuj u Institusi Pemerintah ……….. 140
24. Pengaruh Global dan Pengaruh Total Subsektor Industri
Makanan, Minuman dan Tembakau, Menuju Rumahtangga
Golongan Atas di Desa…….. 142
25. Pengaruh Global dan Pengaruh Total Subsektor Industri
Makanan, Minuman dan Tembakau, Menuju Rumahtangga
Golongan Bawah di Kota …145
26. Pengaruh Global dan Pengaruh Total Subsektor Industri
Makanan, Minuman dan Tembakau, Menuju Rumahtangga
Golongan Atas di Kota 147
27. Pengaruh Global dan Pengaruh Total Subsektor Industri Makanan, Minuman dan Tembakau, Menuju Institusi
Perusahaan 149
28. Pengaruh Global dan Pengaruh Total Subsektor Industri Makanan, Minuman dan Tembakau, Menuju Institusi
Pemerintah 151
29. Pengaruh Global dan Pengaruh Total Subsektor Industri
Tekstil, Pakaian Jadi, Alas Kaki dan Barang dari Kulit, Menuju Rumahtangga Golongan Bawah di Kota
……… ……… 153
30. Pengaruh Global dan Pengaruh Total Subsektor Industri Tekstil, Pakaian Jadi, Alas Kaki dan Barang dari Kulit,
Menuju Rumahtangga Golongan Atas di Kota ……… 156
31. Pengaruh Global dan Pengaruh Total Subsektor Industri Tekstil, Pakaian Jadi, Alas Kaki da n Barang da ri Kulit, Menuju Institusi
Perusahaan 158
32. Pengaruh Global dan Pengaruh Total Subsektor Industri Tekstil, Pakaian Jadi, Alas Kaki dan Barang dari Kulit,
Menuj u Institusi Pemerintah …………160
33. Dampak Stimulus Ekonomi Terhadap Output Perekonomian
Provinsi Bali... 164 34. Dampak Stimulus Ekonomi Terhadap Penyerapan Tenaga
Kerja Provinsi Bali... 168 35. Dampak Stimulus Ekonomi Terhadap Pendapatan
Rumahtangga Provinsi Bali... 172
DAFTAR GAMBAR
Nomor
Halaman
1. Perkembangan Kontribusi Sektor Pertanian, Pariwisata dan
Sektor Lainnya Terhadap PDRB di Provinsi Bali, Periode
2008-2010 ...2
2. Perkembangan Kontribusi Sektor Pertanian, Pariwisata dan
Sektor Lainnya Terhadap Kesempatan kerja di Provinsi Bali,
Periode 2008-2011 ……….. 3
1. Simplifikasi Kerangka Pemikiran Penelitian ...48
2. Proses Pengganda Antara Neraca Endogen SAM………... 60
3. Jalur Dasar dalam Analisis Jalur ………. 63
4. Sirkuit dalam Analisis Jalur ...
64
1. Simplifikasi Tahapan Penyus unan Tabel SAM Provinsi Bali
Tahun 2007……….. 69
1. Jalur StrukturalpadaSubsektor Tanaman, Bahan Makanan,
Menuju Rumahtangga Buruh Tani……….. 115
2. Jalur StrukturalpadaSubsektor Tanaman, Bahan Makanan,
Menuju Rumahtangga Pengusaha Pertanian ……….. 117
3. Jalur StrukturalpadaSubsektor Tanaman, Bahan Makanan,
Menuju Golongan Atas di Desa ...120
4. Jalur StrukturalpadaSubsektor Tanaman, Bahan Makanan,
Menuju Golongan Atas di Kota ………. 122
5. Jalur StrukturalpadaSubsektor Tanaman, Bahan Makanan,
Menuju Institusi Perusahaan ………. 124
6. Jalur StrukturalpadaSubsektor Tanaman, Bahan Makanan,
Menuju Institus i Pemerintah
... 126
7. Jalur StrukturalpadaSubsektor Peternaka n, Menuju
Rumahtangga Buruh Tani ……….. 128
8. Jalur StrukturalpadaSubsektor Peternaka n, Menuju
Rumahtangga Pengusaha Pertanian ……… 131
9. Jalur StrukturalpadaSubsektor Peternaka n, Menuju Golongan
Atas di
Desa………
…….. 133
10. Jalur StrukturalpadaSubsektor Peternaka n, Menuju
Rumahtangga Golongan Atas di Kota
...………136
11. Jalur StrukturalpadaSubsektor Peternakan, Menuju Institusi
Perusahaan ...138
12. Jalur StrukturalpadaSubsektor Peternaka n, Menuju Institusi
Pemerinta ………141
13. Jalur StrukturalpadaSubsektor Industri Maka nan, Minuman dan Tembakau, Menuju Rumahtangga Golongan Atas di
Desa …….. 142
14. Jalur StrukturalpadaSubsektor Industri Maka nan, Minuman
dan Tembakau, Menuju Rumahtangga Golongan Bawah di
Kota …… 145
15. Jalur StrukturalpadaSubsektor Industri Maka nan, Minuman
dan Tembakau, Menuju Rumahtangga Golongan Atas di Kota…….. 147
16. Jalur StrukturalpadaSubsektor Industri Maka nan, Minuman
dan Tembakau, Menuju Institus i Perusahaan……… 149
17. Jalur StrukturalpadaSubsektor Industri Maka nan, Minuman
dan Tembakau, Menuju Institusi Pemerintah……… 151
18. Jalur StrukturalpadaSubsektor Industri Tekstil, Pakaian Jadi dan Barang dari Kulit, Menuju Rumahtangga Golongan Bawah di
Kota ...153
19. Jalur StrukturalpadaSubsektor Industri Teks til, Paka ian Jadi
dan Barang dari Kulit, Menuju Rumahtangga Golongan Atas
di
Kota ...156
20. Jalur StrukturalpadaSubsektor Industri Tekstil, Pakaian Jadi
dan Barang dari Kulit, Menuju Institusi Perusahaan... ...158
21. Jalur StrukturalpadaSubsektor Industri Tekstil, Pakaian Jadi
dan Barang dari Kulit, Menuju Institusi Pemerintah
I.
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Bali merupakan salah satu provinsi yang memiliki peran penting dalam
perekonomian Indonesia, dengan sumbangan terhadap PDB nasional sebesar 8,47
persen (BPS, 2008). Kontribusi ini terutama berasal dari sektor pariwisata,
sebagaimana diketahui bersama bahwa pariwisata di Bali mernupakan unggulan
pariwisata nasional. Oleh karenanya pengembangan pariwisata di Bali tidak hanya
menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah, namun juga perlu mendapat
perhatian utama dari Pemerintah Pusat.
Disamping sektor pariwisata, sektor pertanian juga memainkan peranan
penting dalam perekonomian Provinsi Bali. Berdasarkan data Provinsi Bali Dalam
Angka tahun 2011 dapat diungkapkan bahwa kontribusi sektor pertanian terhadap
PDRB Provinsi Bali pada tahun 2010 sebesar 19 persen, menurun 1 persen
dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sektor pariwisata memberikan
kontribusi 33 persen terhadap PDRB Provinsi Bali pada tahun 2010, meningkat 1
persen dibandingkan sektor lainnya. Kontribusi sektor lainnya, merupakan
gabungan dari berbagai sektor, cukup tinggi, yakni sebesar 48 persen selama 3
sektor pariwisata dan sektor lainnya terhadap PDRB Provinsi Bali dapat dilihat
pada Gambar 1 berikut ini.
kontribusi sektor pertanian dalam menyerap tenaga kerja sebesar 36
persen, terus mengalami pernurunan dari tahun ke tahun, yakni menjadi sebesar
25 persen pada tahun 2010
100% 90%
80% 48% 48% 48%
70% 60% 50%
40% 32% 32% 33%
30% 20% 10%
20%
20%
19%
0%
2008 2009 2010
Pertanian Pariwisata Lainnya
Sumber: BPS Provinsi Bali (2011)
Gambar 1.1. Perkembangan Kontribusi Sektor Pertanian, Pariwisata dan Sektor
Lainnya Terhadap PDRB di Provinsi Bali, Periode 2008-2010
Sebaliknya kontribusi sektor pariwisata dan sektor lainnya cenderung
mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2008, kontrubusi sektor
pariwisata tarhadap PDRB Provinsi Bali sebesar 24 persen, secara persisten
mengalami peningkatan, yakni menjadi 27 persen pada tahun 2011. Selanjutnya,
kontribusi sektor lainnya terhadap PDRB Provinsi Bali pada tahun 2008 sebesar
menjadi 48%. Lebih jelasnya kontribusi sektor pertanian, sektor pariwisata dan
sektor lainnya terhadap penyerapan tenaga kerja Provinsi Bali dapat dilihat pada
Gambar 2 berikut ini.
Perkembangan ekonomi Provinsi Bali yang didominasi oleh sektor
pariwisata dari aspek pembentukan PDRB, tidak terlepas dari statusnya seba gai
tujuan wisata dunia bahwa Bali merupakan destinasi utama, yang memiliki
keindahan alam yang termasyur di dunia serta diimbangi dengan agama dan
budayanya, disamping letaknya yang cukup strategis.
100% 90%
80% 40% 42% 43% 48%
70% 60% 50% 40%
24% 24% 26% 27%
30%
20% 36% 34% 31% 25%
10% 0%
2008 2009 2010 2011
Pertanian Pariwisata Lainnya
Sumber: BPS Provinsi Bali (2011)
Gambar 1.2. Perkembangan Kontribusi Sektor Pertanian, Pariwisata dan Sektor Lainnya Terhadap Kesempatan kerja di Provinsi Bali, Periode
2008-2011
Hal ini dapat dilihat dari jumlah wisatawan mancanegara (wisman) dan
wisatawan domestik (wisdom) cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pada
tahun 2004 kunjungan wisman ke Bali mencapai 1,460,420 orang, sedangkan
tahun 2010 mencapai 2,576,142 orang atau meningkat 8.01 persen dari tahun
Bali memiliki pos isi cukup strategis dalam membangun perekonomian
nasional melalui pertanian dan pariwisata serta didukung oleh letak geografis
yang terdiri dari pulau besar yaitu pulau Bali, dan pulau-pulau kecil yang ada di
sekitarnya antara lain, Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Ceningan, Pulau Nusa
Lembongan, Pulau Serangan, dan Pulau Menjangan dengan keindahan alam yang
menjadi daya tarik untuk tempat berwisata. Dengan luas wilayah secara
keseluruhan sebesar 5.636,66 km2 atau sebesar 0,29 persen dari luas kepulauan
Indo nesia (BPS-Bali, 2008). Kepemerintahan Provinsi Bali saat ini terbagi
menjadi delapan kabupaten, yakni Jembrana, Tabanan, Badung, Gianyar,
Klungkung, Bangli, Buleleng, Karangasem, dan Kota Denpasar yang juga
merupakan Ibu Kota Provinsi. Masing- masing kabupaten mempunyai keunggulan
kompetitif dan keunggulan komparatif untuk menarik wisatawan.
Sementara itu, sektor pertanian memberikan kontribusi yang besar
terhadap pereko nomian Bali karena Bali dianugerahka n tanah yang subur dan
pertanian merupaka n way of life masyarakat Bali. Masyarakt Bali sejak jaman
dahulu telah menjadikan pertanian sebagai sumber mata pencaharian utama.
Segala sendi kehidupan termasuk budaya dan upacara keagamaan pada prinsipnya
terkait dengan aktivtitas pertanian. Sampai saat ini, pertanian masih tetap
dipertahankan di Provinsi Bali dan memberikan kontribusi yang besar terhadap
perekonomian. Tata cara pengelolaan usaha pertanian masih tetap memegang
teguh prinsip-pr insip yang telah berlaku sejak jaman da hulu. Seba gai contoh,
dalam pengelolaan air, para petani di Bali mempunyai organisasi desa yang
dikenal dengan SUBAK, sehingga masalah air dalam pertanian telah dibagi
kearifan lokal ini yang menjadikan sektor pertanian tetap tumbuh dan berkembang
sampai saat ini.
Berdasarka n uraian yang telah dijelaska n, terliha t ba hwa struktur
perekonomian Bali mempunyai ka rakteristik yang unik dibandingkan dengan
provinsi lainnya di Indonesia. Perekonomian Bali dibangun dengan mengandalkan
industri pariwisata sebagai leading sector dari aspek PDRB (pertumbuhan
ekonomi) dan sektor pertanian merupakan sektor yang dapat menyerap jumlah
Tenaga tenaga kerja yang cukup besar dan secara langsung dapat mendukung
industri pariwisata tersebut.
Mencermati besarnya kontribusi sektor pertanian dan sektor pariwisata
terhadap perumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja di Provinsi Bali, maka
sudah selayaknya Pemerintah Provinsi Bali memberikan proporsi yang lebih besar
terhadap investasi pada kedua sektor tersebut, termasuk mendorong masuknya
investasi swasta (investasi swasta domestik dan luar negeri). Berdasarkan Data
Provinsi Bali Dalam Angka (BPS Provinsi Bali, 2011), pada tahun 2004 investasi
domestik di Provinsi Bali sebesar Rp 952.12 miliar, meningkat menjadi Rp
4,210.16 miliar pada tahun 2010. Demikian juga dengan investasi luar negeri
meningkat dari Rp 66.14 miliar pada tahun 2004, menjadi Rp 1,787.12 pada
tahun 2010.
Hal menarik lain dari uraian sebelumnya adalah telah terjadi perubahan
struktural dalam perekonomian Bali, khus usnya dilihat dari kontribusi sektor
pertanian dan sektor pariwisata dari aspek kesempatan kerja. Pada tahun 2011,
dominasi sektor pertanian dari aspek kesempatan kerja pada tahun-tahun
kontribusi terhadap PDRB, kontribusi sektor pariwisata cenderung memperkokoh
dominasinya yang diperlihatkan oleh kontribusi terhadap sektor ini yang
cenderung mengalami peningkatan, sedangkan kontribusi sektor pertanian yang
cenderung mengalami penurunan. Djojohadikusumo (1994) struktur
pereko nomian suatu negara atau wilayah
terjadi apabila terjadi perubahan mendasar dari kontribusi sektoral baik dari aspek
kesempatan kerja maupun pertumbuhan eko nomi. Adanya perubahan ekonomi
tersebut akan memberikan dampak terhadap struktur perekonomian lainnya yang
meliputi struktur permintaan barang dan jasa, struktur ekspor dan impor, struktur
ketenagakerjaan, baik manurut sektor maupun lapangan usaha.
Aspek penting lainnya yang perlu dipertimbangkan dalam pembangunan
ekonomi adalah pemerataan pendapatan. Para pemikir aliran Strukturalis
menyatakan bahwa pemerataan pe ndapatan ya ng lebih adil di negara- negara
sedang berkembang tidak dapat dinomorduakan, karena hal tersebut merupakan
syarat yang harus dipenuhi guna menunjang pertumbuhan ekonomi. Hal ini
didasarkan pada pemikiran bahwa (Todaro, 2000): Pertama, kesenjangan yang
besar dan kemiskinan yang meluas telah menciptakan kondisi sedemikian rupa
sehingga masyarakat miskin tidak memiliki akses terhadap kredit, tidak mampu
membiayai pendidikan anak-anaknya dan memperoleh pelayanan kesehatan yang
baik. Kedua, masyarakat yang berpendapatan tinggi di negara-negara sedang
berkembang tidak dapat sepenuhnya diharapkan untuk menabung dan
menanamkan modalnya dalam perekonomian domestik. Seringkali banyak tuan
tanah, pengusaha, politisi korup dan golongan elit kaya lainnya melakukan
barang-barang impor yang serba mewah dan berpesiar ke luar negeri. Di samping itu
karena alasan-alasan keamanan mereka lebih suka menabung dan
menginvestasikan uang atau hartanya di luar negeri.
Ketiga, rendahnya pendapatan dan taraf hidup masyarakat miskin yang
terwujud berupa kondisi kesehatan yang buruk, kurang gizi dan pendidikan yang
rendah, justru menurunkan produktivitas mereka sehingga mengakibatkan
rendahnya pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Keempat, upa ya-upa ya
untuk menaikkan tingkat pendapatan penduduk miskin akan merangsang
permintaan terhadap produk-produk domestik daripada golongan masyarakat kaya
yang cenderung membelanjakan pendapatannya pada barang-barang impor yang
serba mewah. Dan kelima, terciptanya distribusi pendapatan yang lebih adil
melalui upaya- upaya pengentasan kemiskinan akan memberikan banyak insentif
materil dan psikologis sehingga mempercepat kemajuan ekonomi. Distribusi
pendapatan yang tidak merata akan membuat frustrasi dan sikap antipati terhadap
upa ya- upaya pembangunan, yang merupakan sebuah bom waktu yang siap
meledak setiap saat.
1.2. Rumusan mas alah
Besaran kontribusi sektor pertanian dan sektor pariwisata di Bali
berdasarkan perhitungan pangsa PDRB dan pangsa kesempatan kerja yang telah
dijelaskan di atas belum secara penuh dapat memberikan rekomendasi bahwa
kedua sektor tersebut merupakan sektor prioritas dalam pembangunan ekonomi
Bali. Secara teoretis, perhitungan kontribusi berdasarkan pangsa sektoral hanya
menggambarkan efek langsung (direct effect) dari pengembangan suatu sektor.
sektor prioritas (sektor andalan) diukur oleh total effect (efek total). Total efek
merupakan penjumlahan dari nilai direct effect dan indirect effect (efek tidak
langsung).
Sektor prioritas perlu ditetapkan dalam pembangunan ekonomi suatu
wilayah dalam rangka untuk menetapkan besarnya sumberdaya yang harus
dialokasikan (stimulus ekonomi oleh pemerintah) didasarkan pada pertimbangan
adanya constraint (keterbatasan) sumberdaya yang dimiliki. Untuk memahami
konsep ini, pendekatan teori unbalanced growth theory (teori pertumbuhan tidak
seimbang) yang dikemukakan oleh Hirschman digunakan. Teori pertumbuhan
tidak seimbang merupakan suatu strategi yang mengemba ngka n sektor yang
memiliki keterkaitan kuat, baik keterkaitan ke belakang (backward linkage)
maupun keterkaitan ke depan (forward linkage). Menurut Hirscman dalam Jhingan
(2003) da n Arief (1998) investasi pada industri atau sektor-sektor perekonomian
yang strategis dan berhubungan satu dengan yang lain melalui keterkaitan
(linkage) akan menghasilkan kesempatan investasi baru dan membuka jalan bagi
pembangunan ekonomi lebih lanjut.
Berdasarkan penjelasan ini dapat dinyatakan bahwa sektor pertanian dan
sektor pariwisata merupakan sektor andalah di Provinsi Bali masih merupakan
sebuah hipotesis. Oleh karenanya dalam penelitian ini perlu dipertanyakan apakah
benar sektor pertanian dan sektor pariwisata merupakan sektor andalan di
Provinsi Bali berdasarkan konsep unbalance growth theory? Hal ini dapat
dibuktikan dengan menghitung kontribusi sektor pertanian dan pariwisata terhadap
pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja di Bali dengan menghitung nilai total
Sektor pertanian merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang
perkembangannya juga didorong oleh sektor pariwisata dan sebaliknya, baik
secara langsung maupun secara tidak langsung. Hubungan langsung maupun tidak
langsung antara kedua sektor dapat dipandang sebagai hubungan yang bersinergi,
karena masing- masing sektor mempunyai keterkaitan ke depan dan keterkaitan ke
belakang terhadap pasar output dan pasar input. Di lain pihak kedua sektor juga
bisa berkompetisi, misalnya sehubungan dengan kompetisi penggunaan lahan.
Awalnya lahan diperuntukkan bagi lahan pertanian, namun letak lahan yang
strategis menyebabka n terjadi alih fungs i lahan menjadi restoran atau hotel.
Walaupun Pemerintah Provinsi Bali tidak mengizinkan terjadinya konversi lahan
yang subur menjadi sarana dan prasarana pariwisata, namun permasalahan tersebut
tetap saja terjadi. Oleh karenanya dalam penelitian ini perlu dipertanyakan berapa
besar tingkat keterkaitan antara sektor pertanian dan sektor pariwisata?
Mengacu pada pemikiran Aliran Strukturalis yang telah dikemukan
sebelumnya bahwa pembangunan ekonomi tidak hanya menekankan pada aspek
pertumbuhan semata, namun aspek distribusi pendapatan juga perlu mendapat
perhatian. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi yang dicapai hendaknya sejalan
dengan pemerataan pendapatan berbagai golongan masyarakat. Oleh karenanya
dalam penelitian ini perlu dipertanyakan bagaimana kontribusi pembangunan
sektor pertanian dan sektor pariwisata di Provinsi Bali terhadap distribusi
pendapatan masyarakat?
Untuk mempercepat pembanguna n ekonomi suatu wilayah maka intervensi
pemerintah merupakan suatu keniscayaan. Dengan adanya intervensi pemerintah
Intervensi pemerintah yang bersifat ekspansif dalam bentuk memberikan stimulus
ekonomi, khususnya pada sektor pertanian dan sektor pariwisata, diyakini akan
mampu meningkatkan kontribusi kedua sektor ini lebih besar daripada sektor-
sektor lainnya dari aspek pertumbuhan ekonomi dan penciptaan kesempatan kerja.
Disamping itu, kedua sektor ini diyakini memberikan kontribusi terhadap
pendapatan seluruh golongan masyarakat. Oleh karenanya dalam penelitian ini
perlu dipertanyakan bagaimana dampak stimulus ekonomi (investasi) pemerintah
pada sektor pertanian dan sektor pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi,
kesempatan kerja dan distribusi pendapatan masyarakat di Provinsi Bali?
1.3. Tujuan dan Manfaat Pe nelitian
Secara umum tujuan dari studi ini adalah untuk menganalisis peranan sektor
pertanian dan sektor pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi, kesempatan kerja,
dan distribusi pendapatan di Provinsi Bali. Secara spesifik tujuan dari pe nelitian ini
adalah untuk:
1. Menganalisis peranan sektor pertanian dan pariwisata dalam pertumbuhan
ekonomi dan kesempatan kerja di Provinsi Bali.
2. Menganalisis keterkaitan antarsektor dalam perekonomian provinsi Bali,
terutama sektor pertanian dan pariwisata.
3. Menganalisis peranan sektor pertanian dan pariwisata dalam distribusi
pendapatan masyarakat di Provinsi Bali.
4. Menganalisis dampak stimulus ekonomi (investasi) oleh pemerintah pada
sektor pertanian dan pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi,
5. Merumuskan implikasi kebijakan pembangunan sektor pertanian dan sektor
pariwisata yang mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan
kesempatan kerja yang tinggi serta distribusi pendapatan yang merata.
Manfaat hasil penelitia n ini adalah pema haman yang lebih
me ndala m bagi masyarakat mengenai peran sektor pertanian dan sektor
pariwisata dalam perekonomian Bali. Bagi pemerintah Daerah Bali, manfaat
hasil penelitian dapat digunakan sebagai masukan dalam menentukan prioritas
kebijakan pengembangan sektor pertanian dan sektor pariwisata yang lebih efektif
dalam mendorong perekono mia n Ba li itu send ir i.
1.4. Ruang Lingk up dan Keterbatas an Penelitian
Analisis dampak pengembangan sektor pertanian dan sektor pariwisata
dalam penelitian ini diarahkan pada pengembangan infrastruktur untuk ke dua
sektor tersebut, dengan menggunakan model Sistem Neraca Sosial Ekonomi
(SNSE) atau Social Accounting Matrix (SAM). Model ini digunakan untuk
menganalisis peranan sektor pertanian dan sektor pariwisata dalam
pembentukan output, kese mpatan kerja dan distr ibusi pendapatan serta
perannya dala m meningkatkan pendapatan sektor-sektor lain dalam
perekonomian Bali. Sektor pertanian didisagrgasi menjadi subsektor
Tanaman Bahan Makanan, subsektor Perkebunan, subsektor Kehutanan, sub
sektor Peternakan dan subsektor Perikanan, sedangkan sektor pariwisata
didisagregasi ke dalam subsektor Industri Makanan, Minuman dan Tembakau,
subsektor Industri Tekstil, Pakaian Jadi, Alas Kaki dan Barang dari Kulit, sub
Perhiasan, subsektor Restoran, Rumah Makan dan Warung, subsektor Hotel
Bintang, subsektor Travel Biro dan subsektor Atraksi Budaya. Disagregasi
sektor pariwisata dilandasi oleh besar dan ragamnya konsumsi yang paling
dominan dilakukan oleh wisatawan di Bali. Sela in itu dengan
me ngko mbinasikan model SNSE denga n data SUSENAS penelitian ini juga
menganalisis dampak kebijakan ekonomi di sektor pertanian dan sektor pariwisata
terhadap output, tenaga kerja dan distribusi pendapatan. Kebijakan ekonomi yang
dimaksud secara umum meliputi kebijakan: (1) peningkatan investasi di sektor
pertanian, (2) peningkatan investasi di sektor pariwisata, (3) redistribusi
pendapatan dari rumah tangga go lo nga n atas ke ruma h tangga golongan
rendah. Ana lis is juga d ilakuka n untuk mengetahui arah stimulus pada
sektor pertanian dan sektor pariwisata yang d itransmisikan ke rumah tangga.
Keterbatasan utama dari studi ini terutama berkaitan dengan
ketersediaan data untuk pe ndisagregasian sektor pertanian dan sektor pariwisata
serta keterbatasan dala m me lak ukan skenar io kebijaka n yang terkait
II.
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1. Teori Pertumbuhan
Tiap negara menginginkan adanya peningkatan standar hidup rakyatnya.
Ini berarti semua negara akan senantiasa berusaha melakukan kegiatan
pembangunan, yaitu dengan mencoba menginventarisasi potensi-potensi
sumberdaya ekonomi yang dimiliki dan yang mungkin diperoleh, menyusun
rencana-rencana pembangunan dan melaksanakannya melalui partisipasi
masyarakat untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi. Demikian pula halnya
pada tingkat wilayah (daerah), setiap daerah ingin meningkatkan taraf hidup
penduduk di daerahnya. Untuk itu pemerintah daerah akan berusaha mendorong
pertumbuhan aktivitas ekonomi di daerahnya.
Menurut Glasson dalam Yakub (1990), analisis pertumbuhan ekonomi
makro dapat digunakan sebagai model pertumbuhan ekonomi wilayah (regional).
Pertumbuhan ekonomi wilayah secara agregat ditentuka n oleh faktor-faktor
endo genous da n eksoge nous. Faktor- faktor endogenous merujuk kepada teori
pertumbuhan dari Clark dan Fischer dalam Adisasmita (2008), yang berpendapat
bahwa adanya pertambahan pendapatan per kapita di suatu wilayah
dari sektor primer (pertanian) ke sektor sekunder (industri) dan sektor tersier
(jasa).
Menurut Glasson dalam Ghalib (2005) pembangunan wilayah pada
dasarnya merupakan proses pengembangan lima strata ekonomi dengan urutannya
sebagai berikut: pertama, yang disebut strata ekonomi subsistence, di mana
ke luarga-keluarga berproduksi cukup untuk kehidupan sendiri, investasi dan
perdagangan relatif kecil. Penduduk pada umumnya bekerja di sektor pertanian
dan berorientasi pada lokasi sumber daya alam, kedua, di mana sektor transportasi
sudah berkembang, wilayah dapat mengembangkan perdagangan dan spesialisasi
produksi. Pada strata ini perekonomian mengembangkan usaha- usaha ind ustri
pedesaan bagi petani. Bahan baku dan tenaga kerja disediakan pedesaan, oleh
karena itu strata ini erat hubungannya dengan pengembangan dari strata satu,
ketiga, yaitu dengan berkembangnya peringkat kedua (meningkatnya
perdagangan), diikuti pula oleh meningkatnya permintaan dan produksi sektor
pertanian. Sektor pertanian dikembangkan secara ekstensif yaitu mengembangkan
usaha- usaha prod uks i biji-bijian, peternaka n, buah-buahan da n sebagainya,
keempat, dengan bertambahnya jumlah penduduk dan berkurangnya
pengembalian sektor pertanian, wilayah terpaksa mengalihkan harapan kepada
sektor perindustrian. Pengembangan sektor industri meliputi tiga tahap, yaitu (1)
mengemba ngka n industri pe ngolahan hasil- hasil pertanian, (2) mengembangkan
industri- industri lain yang spesifik, (3) akan menghadapi tekanan penduduk,
merosotnya taraf hidup penduduk, merosotnya ekonomi wilayah, dan kemunduran
ekonomi secara keseluruhan, da n kelima, perekonomian melakukan
barang-barang untuk tujuan ekspor. Wilayah yang mencapai ekonomi peringkat ini diberi
predikat sebagai wilayah maju, wilayah yang sudah sampai pada tahap
mengekspor modal, keahlian, keterampilan/rekayasa dan dapat membantu
manajemen pengelolaan wilayah-wilayah yang masih tertinggal. Proses
pertumbuhan da n usaha- usaha pengembangan di atas merupakan dasar bagi
pengembangan struktur organisasi industri. Proses ini memberikan perubahan-
perubahan, di mana terjadi pengurangan dalam jumlah perusahaan-perusahaan
kecil dan bertambahnya jumlah perusahaan-perusahaan yang besar dan kokoh,
serta terbentuknya pola lokasi usaha dalam wilayah, berpindahnya perusahaan-
perusahaan ke pusat-pusat pertumbuhan.
Faktor-faktor penentu pertumbuhan ekonomi suatu wilayah sama saja
dengan faktor- faktor pertumbuhan ekonomi nasional sebagaimana yang
terdefinisikan dalam mode l- model ekonomi makro. Model- mode l tersebut
berorientasikan penawaran, menjelaskan hubungan fungsional output wilayah
dengan faktor- faktor produksi wilayah, yang diformulasikan sebagai berikut:
On = fn (K, L, Q, Tr, T, So) ……… (2.1)
Dimana: On = output potensial wilayah n, K = modal, L = tenaga kerja, Q = lahan
(sumber primer), Tr = transportasi, T = teknologi, da n So = sistem sosial politik.
Samuelson (2001) menamakan model pertumbuhan ekonomi makro
dengan ”Aggregate Production Function (APF)”. Model APF ini menganalisis
kontribusi relatif dari empat faktor pertumbuhan ekonomi: modal, tenaga kerja,
teknologi, dan bahan baku terhadap pertumbuhan ekonomi suatu wilayah, yang
diformulasikan sebagai berikut:
F adalah simbol fungsi. Jika input-input moda l (K), tenaga kerja (L) dan sumber
daya alam (R) meningkat maka dapat diharapkan output nyata (Q) akan
meningkat. Begitu pula sebaliknya, output diperkirakan akan turun jika faktor
produksi tersebut berkurang. Teknologi (A) berfungsi menambah meningkatkan
produktivitas input- input. Kemajuan teknologi, dapat membawa kemajuan pada
ekonomi wilayah, dalam pengertian dengan jumlah input yang sama dapat
memproduksi output yang lebih banyak.
Dari pendapat-pendapat (Richardson, 1969; Temple, 1994; dan McCann,
2001 dalam Rusli Ghalib, 2005) disimpulkan: (1) pertumbuhan ekonomi wilayah
umumnya akan selalu bervariasi antara suatu wilayah dengan wilayah lainnya, (2)
suatu wilayah yang tertinggal akan mengalami pertumbuhan yang relatif cepat
bila dibuka perhubungannya dengan wilayah-wilayah yang relatif maju atau
dengan pusat-pusat perkembangan, (3) kota-kota (pusat-pusat pe ngemba ngan)
berperan sebagai penggerak pengembangan secara keseluruhan, (4) sedikit banyak
pertumbuhan ekonomi pada level nasional berbeda dengan level wilayah,
sehubungan dengan tingkat kebebasan bergerak sumberdaya-sumberdaya
ekonomi antar wilayah dibandingkan dengan antar negara, (5) pengembangan
suatu wilayah aka n mengakibatka n divergence da n convergence dalam jangka
panjang, dan (6) proses divergence da n convergence berkaitan erat dengan
aglomerasi dan urbanisasi.
McCann (2001) mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan
suatu proses yang kompleks, dan terkait dengan permasalahan pasar tenaga kerja
dan multiplier. Dia mengangkat dua perspektif analisis tentang pertumbuhan
2.1.1. Perspektif Neo Klasik
Teori pertumbuhan ini dikembangkan oleh Solow (1956) dan Swan
(1956). Menurut teori ini pertumbuhan ekonomi wilayah memiliki dua unsur
penting, yaitu (1) unsur yang berkaitan dengan alokasi dan migrasi faktor-faktor
produksi wilayah yang didasarka n pada dua kerangka analisis pula, yaitu analisis
”satu sektor” dan analisis ”dua sektor”, (2) unsur yang berkaitan dengan sifat-sifat
hubungan antar faktor- faktor produksi dan perubahan teknologi. Model ini
mengasumsikan bahwa perekonomian dalam kondisi persaingan, permintaan
terhadap faktor-faktor produksi telah ditentukan oleh produk marginalnya, yang
teralokasikan berdasarkan mekanisme pasar dan digunakan pada produktivitas
terbaiknya. Model satu sektor ini dikaitkan dengan alokasi dan migrasi faktor-
faktor produksi wilayah, di mana berlaku hukum penurunan tambahan hasil yang
semakin menurun (the law of diminishing marginal return), yang menentuka n
komposisi faktor produksi variabel terhadap sejumlah faktor produksi tetap.
Prinsip dasar teori ini berkaitan erat dengan penurunan produktivitas faktor-faktor
produksi. Model dua sektor ini dikaitkan dengan alokasi faktor produksi dan arus
faktor produksi yang tinggi langsung mengarah ke suatu wilayah yang disebabkan
oleh adanya perbedaan kondisi tertentu.
Model Solow mengasumsikan hubungan yang tidak berubah antara input
dan tenaga kerja serta output barang dan jasa. Tetapi mode l itu bisa dimodifikasi
untuk mencakup kemajuan teknologi yang merupakan variabel eksogen, yang
meningkatkan kemampuan masyarakat untuk berproduksi sepanjang waktu.
mengaitkan moda l total K dan tenaga kerja total L dengan output total Y. Jadi,
fungsi produksi itu adalah:
Y = F(K,L)
Kini ditulis fungsi produksi sebagai:
Y = F(K,L x E) ...(2.3)
Dimana E adalah variabel baru (dan abstrak) yang disebut Efisiensi tenaga kerja.
Efisiensi tenaga kerja mencerminkan pengetahuan masyarakat tentang metode-
metode produksi, ketika teknologi mengalami kemajuan, efisien tenaga kerja
meningkat. L X E mengukur jumlah para pekerja efektif. Perkalian ini
memperhitungkan jumlah pekerja L dan efisiensi masing- masing pekerja E.
Fungsi produksi yang baru ini menyatakan bahwa output total Y bergantung pada
jumlah unit moda l K dan jumlah pekerja efektif, L X E. Peningkatan efisiensi
tenaga kerja E, sebenarnya adalah seperti peningkatan angkatan kerja L, karena
adanya pengembangan dalam kesehatan, pendidikan atau keahlian angkatan kerja.
(Mankiw, 2003).
2.1.2. Pandangan Keynesian Tentang Pertumbuhan Ekonomi Wilaya h
Panda ngan-pandangan Keynesian tentang pertumbuhan ekonomi wilayah
merupakan pendekatan alternatif. Perekonomian suatu wilayah memiliki
keterkaitan ke dalam dan ke luar. Permintaan suatu wilayah meliputi permintaan
dari dalam dan dari luar wilayah, kedua-duanya akan membentuk arus pendapatan
dan multiplier wilayah. Ada kaitan antara arus investasi lokal dan pendapatan
wilayah. Sehubungan de ngan pa nda ngan tersebut mazhab Keynesian
banyaknya ada perbedaan antar pendapatan wilayah dan tingkat nasional. Arus
pengeluaran pemerintah lokal cenderung mengalir untuk mengimbangi
pendapatan wilayah dan aliran tersebut relatif bebas dibandingkan dengan pada
tingkat�