rumahtangga Transfer Transfer Pen ru ta
IV. METODE PENELITIAN
4.1. Tahapan Membangun SAM Provinsi Bali
IV. METODE PENELITIAN
4.1. Tahapan Membangun SAM Provinsi Bali
Dalam studi ini analisis data dilakukan dari aspek ekonomi regional
dengan menggunakan Model Social Accounting Matrix (SAM) atau analisis
Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SAM). Dengan metode ini juga selanjutnya akan
dilakukan analisis simulasi kebijakan untuk mengetahui dampak kebijakan
pemerintah dalam pengembangan sektor pertanian dan sektor pariwisata terhadap
pertumbuhan ekonomi, kesempatan kerja, dan distribusi pendapatan rumahtangga
di Provinsi Bali.
Selain mampu menjelaskan perilaku dari seluruh variabel makro (dibagi
atas empat blok neraca), model SAM dapat juga menggambarkan berbagai
keterkaitan langsung dan tidak langsung antara variabel satu dengan variabel
lainnya yang dijabarka n da lam sebuah analisis yang disebut Structural Path
Analysis (SPA) da n Decomposition Analysis. Oleh karena pada saat penelitian ini
dilaksanakan masih belum tersedia Tabel Social Accounting Matrix (SAM) atau
Tabel Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SAM) Provinsi Bali, maka langkah awal
yang penting untuk dilakukan adalah membangun Tabel SAM Provinsi Bali.
Setelah Tabel SAM Provinsi Bali dibangun, baru kemudian dapat dilakukan
analisis pengganda dan analisis simulasi dari aspek ekonomi regional.
Konstruksi Tabel SAM Provinsi Bali dilakukan dalam beberapa tahap.
Pertama, menggunakan data Tabel Input-Output Provinsi Bali dan berbagai data
yang bersumber dari SUSENAS, SAKERNAS, SKTIR, dan data indikator
ekonomi Provinsi Bali tahun 2007, kemudian dilakukan pengisian sel-sel Tabel
SAM Provinsi Bali yang akan di bangun. Kedua, Tabe l SAM yang dihasilkan
tidak seimbang, sehingga perlu dilakukan balancing dengan menggunakan metode
seimbang (Lampiran 1). Dan ketiga, melakukan pengolahan data sesuai dengan
keperluan dalam studi ini.
Mengacu pada Kerangka Dasar SAM Indonesia seperti disajikan pada Tabel
3.3. Bab 3, prosen membangun SAM Provinsi Bali dilakukan. Tabe l SAM
Provinsi Bali yang dibangun dalam studi ini secara garis besarnya terdiri atas
dua neraca, yaitu endo gen da n eksogen. Dalam neraca endo gen terdapa t tiga
blok yakni blok faktor produksi, institusi dan aktifitas produksi. Setiap blok
akan didisagregasi menjadi beberapa neraca sesuai kerangka SAM Indonesia
yang menjadi acuan didalam menyusun Tabel SAM Provinsi Bali.
Simplifikasi tahapan penyusuna n Tabel SAM Provinsi Bali dijelaskan pada
Gambar 4.1. Kl asifikasi Tabel SAM Provi nsi Bali: 51 x 51 Pengumpulan Data: Data Sekunder
Data Tahun 2007, meliputi data :
Tabel Input-Output Provinsi Bali
Susenas untuk Provinsi Bali
Sakernas untuk Provinsi Bali
SKTIR untuk Prov insi Bali
Survei Industri Provinsi Bali
Indikator Ekonomi Provinsi Bali
Data terkait lainnya
Tabel SAM Provinsi Bali Tahun 2007
Metode Cross- Entrophy Tabel SAM Provinsi Bali Tahun 2007
Fak to rP rodu ksi T ena ga ke rj a L a inny a Sekto rPr od u k si Insti tusi
Gambar 4.1. Simplifikasi Tahapan Penyus unan Tabel SAM Provinsi Bali
Tabun 2007
Berdasarkan Gambar 4.1 dapat dinyatakan bahwa Tahap Pertama dalam
menyusun SAM Provinsi Bali adalah menentukan klasifikasi sektor. Dalam hal ini
dibangun Tabel SAM dengan klasifikasi 51 x 51 seperti terlihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Klasifikasi SAM Provinsi Bali Tahun 2007
Uraian Kode
Pertanian Penerima upah/gaji 1
Bukan penerima upah/gaji 2 Produksi, operator alat angkut, operator
angkutan dan buruh kasar
Penerima upah/gaji 3 Bukan penerima upah/gaji 4 Tata usaha, penjualan, jasa-jasa Penerima upah/gaji 5 Bukan penerima upah/gaji 6 Kepemimpinan, ketatalaksanaan, militer,
profesional dan teknisi
Penerima upah/gaji 7 Bukan penerima upah/gaji 8
Bukan Tenaga Kerja 9
RT Buruh Tani 10
RT Pengusaha Pertanian 11
RT Gol. Rendah di Desa 12
RT Penerima Pendapatan di Desa 13
RT Gol. Atas di Desa 14
RT Gol Rendah di Kota 15
RT Penerima Pendapatan di Kota 16
RT Gol. Atas di Kota 17
Perusahaan 18
Pemerintah 19
Tanaman bahan makanan 20
Perkebunan 21
Peternakan 22
Kehutanan 23
Perikanan 24
Pertambangan 25
Industri makanan, minuman dan tembakau 27 Industri tekstil, pakaian jadi, alas kaki dan barang dari kulit 28
Industri kayu 29
Industri kertas, barang dari kertas dan karton 30 Industri kimia, brg dr kimia, karet dan plastik 31
Bahan bakar minyak 32
Industri kerajinan dari bahan galian 33 industri karoseri dan alat angkuta 34
Industri barang perhiasan 35
Listrik dan Air minum 36
Bangunan 37
Perdagangan 38
Restoran, rumah makan, warung 39
Hotel bintang 40
Anghutan umum darat dan angkutan darat lainnya 41 Angkutan laut antar pulau/negara 42
Angkutan udara 43
Travel biro 44
Komunikasi, pos, giro 45
Perbankan 46
Jasa Pemerintahan Umum 47
Atraksi budaya 48
Neraca Kapital 49
Pajak Tidak langsung 50
Berdasarkan Tabel 4.1. dapat dijelaskan komposisi masing- masing neraca
sebagai berikut:
(1) Neraca Faktor Produksi
Neraca Faktor Produksi dikelompokkan menjadi faktor produksi tenaga
kerja dan faktor produksi bukan tenaga kerja. Terhadap faktor produksi tenaga
kerja dilakukan disagregasi sedangkan terhadap faktor produksi bukan tenaga
kerja tidak dilakukan disagregasi.
Faktor produksi tenaga kerja dapat dikelompokkan menurut jenis dan
status pekerjaan dari tenaga kerja, yakni (1) tenaga kerja yang bekerja disektor
pertanian, yang terdiri dari tenaga kerja yang bekerja subsektor perkebunan,
perikanan, kehutanan, perburuan dan penangkapan hewan serta usaha-usaha ya ng
berhubungan dengan sektor pertanian. Tenaga kerja di sektor ini dapat berupa
tenaga kerja yang bekerja sendiri atau pekerja keluarga, atau pekerja yang dibayar,
baik yang bekerja sebagai manajer, pengawas atau pun sebagai buruh biasa, (2)
tenaga kerja yang bekerja di sektor pariwisata, termasuk di dalam klasifikasi
tenaga kerja yang bekerja di sektor pariwisata adalah tenaga kerja yang bekerja
subsektor perdagangan, hotel, restoran, pengangkutan, komunikasi, keuangan,
persewaan dan jasa perusahaan, baik yang bekerja sendiri (pekerja keluarga) atau
pekerja yang dibayar baik sebagai manajer, pengawas atau pun sebagai buruh
biasa, (3) tenaga kerja yang bekerja di sektor industri pengolahan, termasuk dalam
klasifikasi ini adalah tenaga kerja yang bekerja di semua sektor industri
pengolahan, seperti ind ustri tekstil, industri garmen, ind ustri makanan da n
minuman dan sebagainya. Tenaga kerja di sektor ini dapat berupa tenaga kerja
manajer, pengawas atau pun buruh biasa, dan (4) tenaga kerja yang bekerja di
sektor lainnya, termasuk dalam klasifikasi ini adalah tenaga kerja yang bekerja
selain sektor pertanian, sektor pariwisata dan sektor industri pengolahan, seperti
sektor salon kecantikan, sektor olah raga, sektor pengangkutan informal dan
sebagainya. Tenaga kerja disektor ini dapat berupa tenaga kerja yang bekerja
sendiri atau pekerja keluarga dan pekerja yang dibayar, baik sebagai manajer,
pengawas, atau pun seba gai buruh biasa.
(2) Neraca Institusi
Dalam kerangka SAM , pendapatan faktorial (yaitu pandapatan tenaga
kerja dan modal) didistribusikan kepada neraca institusi, yaitu: seperangkat
neraca rumahtangga, perusahaan, dan pemerintah. Semua pendapatan tenaga kerja
dalam bentuk upah dan gaji didistribusikan pada golongan rumahtangga,
sedangkan pendapatan modal didistribusikan pada golongan rumahtangga
sebagai penerimaan modal, pada perusahaan dan pemerintah sebagai
laba/keuntungan yang ditahan atau laba/ keuntungan yang tidak didistribusikan .
Selain pendapatan dari faktor-faktor produksi, institusi juga menerima
pendapatan dalam bentuk transfer dari neraca lainnya. Untuk rumahtangga
pendapatan bukan faktor ini terdiri dari transfer antar rumahtangga, transfer dari
perusahaan, transfer dari pemerintah, dan transfer langsung dari luar propinsi /
negeri. Untuk perusahaan, tipe pendapatan ini diperoleh dari transfer antar
perusahaan dan dari luar provins/negeri, yang datanya diperoleh dari SKTIR, Biro
Neraca Rumahtangga, BPS Jakarta. Total baris institusi rumahtangga merupakan
pendapatan rumahtangga. Dalam penelitian ini rumahtangga di golongkan
demikian, total pendapatan masing- masing golongan rumahtangga ini menjadi
kajian distribusi pe ndapatan institusional.
Di satu sisi rumahtangga memperoleh pendapatan, namun di sisi lain
rumahtangga juga melakukan pengeluaran atau konsumsi. Pengeluaran
rumahtangga akan barang-barang pangan dan bukan pangan diperoleh dari
Susenas 2007. Informasi tentang tabungan rumahtangga regional diperoleh
SKTIR 2007 Pengeluaran rumahtangga untuk pajak langsung pada pemerintah
regional/total diperoleh dari Susenas 2007, dan transfer golongan rumahtangga ke
luar propinsi / negeri dianggap sisa (residual). Proses penyesuaian perlu
dilakukan terhadap elemen-elemen pengeluaran, agar total kolom sama dengan
total baris yang berhubungan.
Untuk institusi pe rusahaan, pe ngeluaran perusahaan atas komoditas atau
sektor, pajak langsung dari perusahaan ke pemerintah, keuntungan yang tidak
dibagikan dan pembayaran perusahaan ke luar negeri diperoleh dari Survey
Perusahaan Industri 2007, Biro Industri, Badan Pusat Statistik Jakarta.
Untuk institusi pemerintah, pengeluaran pemerintah berisikan pengeluaran
rutin, pengeluaran untuk investasi atau tujuan konsumsi kapital, dan pengeluaran
pemerintah langsung ke masyarakat dalam bentuk Inpres- Inpres . Dengan
spesifikasi ini, diharapkan semua jenis pengeluaran pemerintah (pusat dan daerah)
sudah ditangkap oleh SAM Bali ini, dan simulasi kebijakan penge luaran
pemerintah dalam sebuah kerangka general equilibrium dapat dilakukan secara
lebih fleksibel dan benar.
Pengeluaran pemerintah rutin yang diperoleh dari Biro Keuangan Pemda
Pengeluaran pemerintah untuk investasi (Infrastruktur ekonomi, infrastruktur
sosial dan pelayanan umum), diperoleh dengan memilah- milah jenis kegiatan
setiap proyek Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara menurut sektor-sektor produksi. Hal sama juga
dilakukan untuk pengeluaran pemerintah dalam bentuk proyek-proyek Inpres.
Dimasukannya institusi wisatawan dalam SAM Bali ini adalah untuk
menangkap karakteristik perekonomian Bali yang menonjol sektor
pariwisatanya. Pola pengeluaran wisatawan untuk sektor-sektor ekonomi
menggunakan hasil penelitian Kantor Badan Pusat Statistik Bali yang bekerja
sama dengan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana tahun 2002, yang dianggap
lebih menyebar dari pada pola pengeluaran survey Dinas Pariwisata Bali tahun
2007. Dengan mengetahui total pengeluaran wisatawan (perkalian antara jumlah
kunjungan wisatawan dengan lama tinggal wisatawan dan pengeluaran wisatawan
per orang per hari), maka dapat dihitung total pengeluaran wisatawan yang
ditangkap oleh sektor-sektor ekonomi yang menjadi pendapatan sektor-sektor
yang be rsangkutan.
(3) Neraca Sektor Produksi
Neraca aktivitas produksi atau sektor produksi yang merupakan salah satu
neraca penting SAM Bali Tahun 2007 bersumber dari transaksi antara sektor
Tabe l I-O Provinsi Bali Tahun 2007. Namun agregasi sektor-sektor tabel transaksi
harus dilakuka n agar ko nsisten de ngan sektor-sektor pada neraca aktivitas
penyesuaian elemen-elemen transaksi agar tercapai keseimbangan total baris
(4) Neraca lainnya
Neraca ini meliputi marjin perdagangan dan pengangkutan, pajak tidak
langsung neto, ekspor dan impor, dan investasi swasta diperoleh langsung dari
Tabel I–O Bali Tahun 2007. Elemen-elemen penerimaan pemerintah, pinjaman
luar negeri pemerintah dan swasta diperiksa dari APBD dan APBN serta laporan-
laporan Bappeda Bali. Walaupun impor merupakan neraca residual, maka
diharapkan tidak jauh berbeda dengan impor kompetitif pada tabel I-O Bali
Tahun 2007.
Penerimaan dari neraca kapital datang dari tabungan rumahtangga regional,
tabungan perusahaan, dan tabungan pemerintah. Karena semua isian- isian
tersedia, maka penerimaan total dari neraca kapital swasta dapat ditentukan secara
mudah. Pengeluaran dari neraca swasta disalurkan melalui investasi swasta
sektoral dan pinjaman swasta luar propinsi/negeri.
Tahapan kedua adalah melakukan pengumpulan data dan mengisi sel-sel
transakti Tabel SAM mengacu pada Tabel SAM Indonesia. Secara garis besar sel-
sel transaksi yang akan diisi dapat dilihat Tabel 3.3 pada Bab 3. Sumber data
utama dalam membangun SAM bali adalah Tabel I-O Provinsi Bali tahun 2007.
Sel SAM Bali dimulai dengan memasukkan Tabel I-O Provinsi Bali ke dalam
matriks permintaan antara. Transaksi- transaksi lain yang membutuhka n infor masi
dari Tabel I-O Provinsi Bali Tahun 2007 adalah matriks: (1) kebutuhan institusi
terhadap barang dan jasa (permintaan domestik), (2) distribusi pendapatan dari
faktor produksi, (3) penyusutan barang modal, (4) jumlah formasi kapital, (5)
penerimaan pemerintah dari pajak tak langsung, (6) impor barang dan jasa dari
matriks-
matriks lainnya, sumber informasi lain dibutuhkan. Jadi ide dasar dalam mengisi
sel-sel SAM Bali adalah mengembangkan Tabel I-O Provinsi Bali.
Perincian matriks yang membutuhkan data tambahan untuk melengkapi
data utama adalah sebagai berikut. Matriks konsumsi rumahtangga dan institusi
lain terhadap barang dan jasa, dijabarkan dengan menggunakan informasi dari
Tabe l I-O Provinsi Bali Tahun 2007 dan pengeluaran konsumsi penduduk Bali
tahun 2007. penjabaran matriks distribusi pendapatan dari faktor (tenaga kerja),
membutuhkan informasi dari Tabe l I-O Bali Tahun 2007, Penduduk Bali Tahun
2007, Persentase penduduk asli Bali menurut lapa ngan usaha tahun 2007 dan
indikator kesejahteraan rakyat Bali tahun 2006. Sementara untuk mengisi sel
matriks transfer payment menggunakan informasi dari Survei Khusus Tabungan
dan Investasi Rumahtangga (SKTIR) tahun 2007, SAM Indonesia 2004 dan
Susenas tahun 2007.
Selanjutnya statistik keuangan Bali 2006/2007 dibutuhkan untuk mengisi
matriks transaksi sebagai berikut: (1) ransfer luar negeri ke pemerintah, diperoleh
dari bagian penerimaan pembangunan dari luar negeri, (2) matriks subsidi
pemerintah ke rumahtangga, diperoleh dari sebagian dana sosial pemerintah
daerah, dan (3) tabungan pemerintah, diperoleh dari selisih antara pendapatan dan
realisasi total pengeluaran pemerintah daerah. Menempatkan neraca pemerintah
(G) sebagai faktor endogen dalam Tabel SAM Provins i Bali.
Setelah seluruh sel Tabel SAM Provinsi Bali diisi akan menghasilkan
Tabel SAM Provinsi Bali yang tidak seimbang (unbalanced). Oleh karenanya
Pendeka tan Cross Entrophy (CE) dengan menggunakan program GAMS
digunakan.
Metode CE merupakan perluasan dari metode RAS, dimana metode CE
lebih fleksibel dan unggul untuk mengestimasi SAM ketika data scattered
(tersebar) dan tidak konsisten. Sementara itu metode RAS mengasumsikan bahwa
estimasi dimulai dari suatu SAM terdahulu yang konsisten dan hanya mengetahui
tentang total baris dan kolom. Kerangka CE mengacu pada rentang informasi
terdahulu yang lebih luas untuk digunakan secara efisien dalam estimasi
(Robinson et al., 1998). Mengacu pada pemikiran tersebut, maka dalam rangka
mendisagregasi SAM pada kondisi sebelum dan setelah krisis ekonomi di
Indonesia akan digunakan metode CE.
Ada dua pendekatan yang digunakan dalam penerapan model CE, yaitu
pendekatan deterministik dan stokastik. Pendekatan deterministik digunakan
apabila terdapat ketergantungan yang bersifat fungsional antara satu variabel
dengan variabel lainnya. Pendekatan stokastik digunakan apabila terdapat
ketergantungan yang bersifat random antara satu variabel dengan variabel lainnya
(Robinson et al., 1998; Robinson dan El-Said, 2000). Karena dalam penelitian ini
estimasi SAM hanya dilakukan pada tahun tertentu dan ketergantungan antara
satu variabel dengan variabel lainnya yang akan didisagregasi bersifat fungsional,
maka metode CE dengan pendekatan deterministik yang akan digunakan.
Langkah pertama mengestimasi SAM menggunakan metode CE dengan
pendekatan deterministik adalah mendefinisikan matriks T sebagai suatu matriks
transaksi SAM, dimana tij adalah aliran pengeluaran dari neraca kolom j ke naraca
Aij ……….(4.2) min I
Aij ln i j Aij
Aij ij
Aij ln A ………. (4.3) yi
tij
t ji ……… (4.1) j jPada suatu SAM, setiap jumlah baris ( yi ) harus sama de ngan jumlah
kolom ( y*
j ), dimana koe fisien matriks A dapat dibentuk dari setiap sel pada
matriks T dibagi denga n jumlah kolomnya. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut: tij y j
Kullback dan Leibler (1951) mengaplikasikan ukuran jarak cross-entropy
antara dua distribusi probabilitas dalam mengestimasi SAM. Hal ini dilakukan
untuk memperoleh satu set koe fisien matrik yang baru (A) dengan cara
meminimumkan jarak cross-entropy antara koefisien matriks yang baru dengan
koefisien matriks sebelumnya ( A) . Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut: A Aij ln A j j Dengan kendala:
Aij y j * j yi* ………(4.4) A
j ji 1 dan 0 A
ji 1
……… (4.5)Setelah dilakukan balancing menggunakan metode cross-entrophy dengan
seimbang (balance) sebagaimana dapat dilihat pada Lampiran 1. Tabel SAM
Provinsi Bali Tahun 2007 inilah yang kemudian dianalisis untuk menjawab
permasalahan da n tujuan pe nelitian yang akan dicapa i. 4.2.Metode Analisis
Kerangka SAM dapat digunakan sebagai kerangka data yang menjelaskan
mengenai (BPS, 1995 dan 1999): Pertama, kinerja pembangunan ekonomi suatu
negara, seperti Produk Domestik Bruto (PDB) atau Produk Domestik Regional
Bruto (PDRB), konsumsi, tabungan dan lainnya. Kinerja perekonomian antara
lain ditunjukkan dari nilai tambah yang ditimbulkan oleh berbagai sektor
ekonomi (T13 pada Tabel 3.3) yang memberikan gambaran mengenai besarnya
PDB nasional atas dasar harga faktor pada tahun tertentu. Bila ditambah dengan
pajak tidak langsung akan menghasilkan PDB atas dasar harga konstan. Kinerja
perekonomian nasional lainnya yang dapat ditunjukkan oleh kerangka SAM
adalah: (1) distribusi PDB menurut sektor-sektor ekonomi (supply side), (2)
distribusi PDB menurut penge luaran (demand side), (3) struktur input antara
(intermediate input) yang dapat dirinci menjadi sumberdaya domestik dan impor,
(4) investasi dan tabungan masyarakat, (5) hutang dan piutang negara, dan (6)
keboc oran nasional, yaitu besarnya pe nerimaan negara yang menga lir ke luar
negeri.
Kedua, distribusi pendapatan faktorial, yaitu distribusi pendapatan yang
dirinci menurut faktor-faktor produksi, seperti tenaga kerja dan modal. Distribusi
pendapatan faktorial dalam kerangka SAM ditunjukkan oleh baris neraca pertama