BAB VII REPRESENTASI NILAI BUDAYA JAWA DALAM NOVEL-
7.1 Nilai Budaya Jawa dalam Novel-Novel Kuntowijoyo
7.1.5 Hubungan Manusia dengan Dirinya Sendiri
Usaha pengenalan diri biasanya dilakukan orang Jawa dengan lima lelaku utama, yakni rila, nrima, sabar, temen, dan budi luhur. Rila merupakan kesanggupan untuk melepaskan hak milik dan kemampuan serta hasil-hasil pekerjaan sendiri apabila sudah menjadi tuntutan tanggung jawab atau nasib. Hal ini harus dipahami sebagai keutamaan positif.
Nrima berarti menerima segala sesuatu tanpa protes dan pemberontakan. Hal ini termasuk sikap Jawa yang paling sering dikritik karena disalahpahami sebagai kesediaan untuk menerima segala-galanya secara apatis. Sebenarnya nrima itu sikap
rasional dengan tidak berputus asa terhadap masalah yang dialaminya. Nrima ini menuntut kekuatan untuk menerima apa yang tidak dapat dielakkan dengan tidak membiarkan diri dihancurkan oleh keadaan. Sikap ini juga memberi daya tahan menghadapi segala hal terburuk yang dihadapi manusia.
Orang Jawa juga bersikap sabar. Sabar merupakan tanda seseorang itu adalah pemimpin yang baik. Sabar diyakini akan memberikan nasib yang baik pada manusia pada waktunya. Orang yang sabar akan memunculkan sikap-sikap positif lainnya dalam diri manusia sehubungan dengan interaksi terhadap sesamanya.
Selanjutnya, orang Jawa dituntut hendaknya selalu jujur (temen). Orang yang jujur dapat diandalkan janjinya dan akan bersikap adil. Orang Jawa percaya bahwa menepati janji merupakan prasyarat untuk bisa bertemu dengan Allah. Dengan demikian, orang Jawa itu harus bersikap sederhana (prasaja), bersedia untuk menganggap diri lebih rendah daripada orang lain (andhapasor), dan sadar akan batas-batas dalam berbuat (tepa selira).
Penerapan sifat-sifat tersebut akan mewujudkan sikap budi luhur. Sikap budi luhur ini merupakan rangkuman dari segala apa yang dianggap watak utama oleh orang Jawa. Orang yang berbudi luhur seakan-akan menyinarkan kehadiran Allah dalam diri manusia terhadap lingkungannya. Budi luhur sekaligus memuat sikap yang paling terpuji terhadap sesama. Orang yang berbudi luhur mengetahui bagaimana cara bersikap terhadap orang lain dengan, baik orang yang baik maupun orang yang jahat sekalipun.
Orang Jawa tidak menganggap bahwa sesama manusia sebagai obyek yang dipakai untuk memuaskan segala kebutuhannya, melainkan bahwa sesama merupakan suatu kebutuhan penting terhadap kelanjutan hidupnya. Dengan kata lain, kebersamaan itu adalah tujuan dari setiap diri manusia. Kenyataan ini sesuai dengan pepatah Jawa yang berbunyi : mangan ora mangan asal ngumpul (makan atau tidak makan, pokoknya kita bersama).Setiap masyarakat Jawa merasa berkepentingan untuk melindungi keselarasan dan keharmonisan dalam lingkungannya. Untuk itu, segenap pihak dituntut agar mampu menguasai diri, menjaga kerukunan, dan menyadari kedudukan masing-masing. Tuntutan itu sudah ditanamkan sejak kecil oleh masing-masing individu. Hal itu dimaksudkan agar tidak terjadi konflik dan menjaga keselarasan dalam masyarakat. Untuk menjaga keselarasan itu, maka dalam diri setiap individu dituntut untuk bersikap mawas diri. Akan dijelaskan sebagai berikut.
Mawas Diri
Soedjatmoko dalam Susetya (2007:25) mengungkapkan bahwa mawas diri (introspeksi) dapat diangkat dari tingkat moralisme ke tingkat pengertian psikologis dan historis perilaku manusia. Hal itu disebabkan moralitas termasuk rangkaian besar kebudayaan manusia yang harus diperjuangkan ke arah pengalamannya secara optimal. Terlebih dengan perkembangan zaman yang makin mengglobal maka proses dinamisasi, inovasi, emansipasi, serta humanisasi memerlukan proses mawas diri tersebut dalam masyarakat.
Terlepas apakah mawas diri akan menjadi inti pokok kebudayaan atau tidak, tetapi yang jelas mawas diri merupakan bagian moralisme yang bisa dipahami sebagai perjuangan manusia untuk mempertinggi kualitas hidup manusia dalam kehidupannya. Dalam masyarakat Jawa, tema-tema instropeksi diri ini berkaitan dengan komunikasi antarsesama manusia dan lingkungan hidupnya serta perilakunya terhadap sesamanya tersebut. Proses interaksi manusia dengan sesamanya memakai aturan-aturan yang terdapat dalam budaya. Untuk mendukung interaksi yang baik dengan orang lain dibutuhkan pengkajian diri dalam diri setiap individu demi mencapai keharmonisan dalam kehidupan.
Pada novel P dapat dilihat hubungan ini, yaitu melalui tokoh Pak Mantri. Pak Mantri digambarkan sebagai orang Jawa ideal yang mengetahui tata krama, filosofi, dan psikologi orang Jawa. Pak Mantri sering mengkritik dan mengutuk dalam hatinya karena sering melihat sikap dan perilaku Pak Camat dan Kepala Polisi yang tidak sesuai dengan tata krama priyayi Jawa. Dalam pandangannya, seorang pemimpin harus bermental priayi yang mampu mawas diri dalam segala tindakan yang diambilnya.
Perhatikan kutipan berikut.
Orang bijaksana mesti tahu diri, kalau hatimu sedang risau jangan mengurus sesuatu yang sangat penting... Tetapi jangan berburuk sangka, itu tidak boleh. Usahakan menenangkan pikiran sebelum bertindak, memerlukan ketenangan jiwa. Sebab, bukankah Ciptoning, pikiran jernih juga, yang mengalahkan raksasa? Hanya hati yang bening mengalahkan si pemurka (P:41).
Akan tetapi, Pak Mantri bukan manusia sempurna. Sejak awal hal itu sudah dikabarkan pengarang, bahkan dianggap wajar. Pada bagian-bagian awal agaknya
Kuntowijoyo tengah melakukan semacam kritik halus terhadap perilaku priyayi (Pak Mantri) yang luput dari pengamatan dan kesadaran dirinya sendiri. Pak Mantri suka mengajari orang agar bersikap sopan, berpijak pada “rasa”, mawas diri, dengan penuh wibawa dan martabat. Ia rajin mengajari dan mengingatkan tindak-tanduk Paijo yang menurut tatakrama Jawa tidak pantas dilakukan. Ia mencela habis-habisan sikap dan perilaku Kasan Ngali, seorang pedagang yang sama sekali jauh dari tata krama kepriyayian. Diibaratkannya Kasan Ngali sebagai tikus yang bila dikasih daging tetap saja mencuri daging lainnya. Sayangnya, mawas diri Pak Mantri tidak terjadi pada dirinya, ia alpa mengoreksi sebagian sikap dan perilakunya sendiri. Inilah pangkal mula Pak Mantri menghadapi masalah dalam mengelola pasar.
Pak Mantri masih belum mampu mawas diri dan mengoreksi dirinya. Kematian burung-burung masih ditimpakan semata-mata pada kesalahan orang lain. Padahal burung-burung miliknyalah yang membuat pasar menjadi sepi. Burung- burungnyalah yang membuat bank pasar tidak menerima tabungan karena para pedagang pasar tidak memiliki uang. Sebuah kritik halus Kuntowijoyo bagi priayi yang tidak mampu mawas diri kepriayiannya, sesuatu yang sering dibanggakan para priayi.
Pak Mantri akhirnya menyerah dan meyadari keadaan. Meski kesadaran itu datangnya agak tiba-tiba, Pak Mantri rela menyedekahkan semua burungnya kepada siapa saja yang berhasil menangkapnya. Kandang-kandang burung di pasar dibongkar. Orang-orang menangkapi burung-burung itu. Dengan sikap penuh wibawa
ketika Kasan Ngali membeli burung-burung hasil tangkapan orang-orang untuk dilepaskan lagi setelah diberi tanda cat pada bulu-bulunya.
Kesadaran Pak Mantri telah mencapai apa yang dalam psikologi dan filosofi Jawa dikenal dengan “rasa” dan “mawas diri”. Rasa mengacu pada pengecapan (taste), perasaan (cinta), takut, marah, gelisah, dan sebagainya), sifat dasar (character), suara suci kodrat Illahi, kenikmatan terdalam (delight), halus dan mendalam yang merupakan “air”, atau “sari” buah-buahan dan tumbuhan. Sementara itu, mawas diri adalah kemampuan meneliti kenyataan-kenyataan diri sendiri yang akan membawa manusia pada pemahaman, penyerahan, dan penyadaran diri (Jatman, 1997:26 & 35).
Tentang “rasa”, Pak Mantri berkhotbah sekaligus upaya mewariskan nilai dan filosofi Jawa kepada Paijo yang akan menggantikannya sebagai kepala pasar, sebagai berikut.
“Hidup kita pusatnya di sini, “Pak Mantri menunjuk jantungnya. “Hati. Yaitu bagaimana engkau memahami. Kita punya akal. Kita gunakan akal untuk mencari uang, untuk mencari pangkat. Tetapi ketahuilah itu baru syarat bagi hidup. Jangan campuradukkan antara pelengkap hidup dan hakikatnya. Yang penting ialah rasa. Rasa itu di sini letaknya. Pusat engkau bernafas. Pusat peredaran darahmu. Kalau kau takut engkau gemetar, di situlah rasa. Kalau kau senang engkau berdebar, sebab di ditulah rasa. Kebahagiaan adalah rasa itu. Bukan akal...”(P:157).
Masalah pentingnya mawas diri dan “rasa” bertebaran dalam berbagai peristiwa di novel ini. Rasa itu diyakini orang Jawa, sebagaimana tertulis dalam novel ini, lebih ampuh dan sekaligus mampu mengatasi akal. Bagi Pak Mantri akal harus tunduk kepada rasa dan orang akan bahagia.
Hal ini sejalan dengan pendapat Stange (1998:11) yang menyatakan bahwa rasa itu sebuah alat atau unsur psikologi manusia, dalam makna yang sama sebagai sebuah alat atau unsur psikologi. Rasa adalah alat yang digunakan untuk menangkap kebenaran-kebenaran alam batiniah.
Di dalam novel P , Pak Mantri mampu mengendalikan rasa yang dimilikinya. Dia mengakui bahwa tindakannya memelihara burung dara di pasar itu merupakan satu kesalahan. Untuk memperbaiki kesalahan yang telah diperbuatnya, akhirnya dia memutuskan untuk melepaskan burung-burung itu dan menyerahkan jabatan mantri pasar kepada Paijo. Hal itu dilakukannya karena rasa yang dimilikinya mampu mengendalikan pikirannya selama ini. Perhatikan kutipan berikut.
Paijo senang mendengar keputusan Pak Mantri. Perhitungannya bahwa dengan habisnya burung-burung dara pekerjaannya akan lancar memberi harapan baru baginya. Sayang Pak Mantri harus mengorbankan begitu banyak. Itulah yang menyedihkannya. Pak Mantri menjadi makhluk lain di matanya. Ternyata laki-laki tua benar mulia jiwanya. Begitu banyak yang dikorbankannya (P:200).
Rasa yang terbina dalam diri Pak Mantri memberi keuntungan bagi orang terdekatnya, yakni Paijo. Paijo merasa memiliki harapan baru dengan keputusan Pak Mantri, meskipun untuk itu Pak Mantri harus berkorban banyak. Pengorbanan Pak Mantri itu dipandang Paijo sebagai sesuatu perbuatan yang mulia.
Sementara itu, mawas diri dalam wilayah psikologi merupakan kegiatan manusia untuk menembus ke dataran religius etis (Jatman, 1997:61). Mawas diri dimulai dengan meneliti rasa senang dan susahnya sendiri yakni rasa orang dalam
hubungannya dengan benda, orang lain, dan gagasan. Dengan demikian, praktik mawas diri mencoba memahami keadaan diri dengan sejujurnya.
Jatman (1997:62) menambahkan bahwa dalam diri manusia memang terdiri dari ‘dua aku’; yaitu ‘aku tidak tetap’ dan ‘aku tetap’. ‘Aku tidak tetap ini menghadirkan diri sesuai dengan keinginannya dan sesuai dengan kenyataan di luar. Jatman kemudian memberikan istilah bahwa ‘ aku tidak tetap’ ini sebagai ‘aku kontekstual’, yang dalam bahasa Jawa disebut kradamangsa individual, artinya yang memusatkan pengalaman pada diri sendiri dan untuk diri sendiri. Dengan kata lain, seseorang tersebut merupakan ‘abdi keinginannya’. Sedangkan ‘aku tetap’ adalah ‘aku yang universal’, yang telah bebas dari catatan-catatannya sendiri, bahkan bisa mengawasi diri sendiri.
Di lain pihak, Hardjowirogo (1983:58) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan mawas diri ialah meninjau ke dalam, ke hati nurani guna mengetahui benar tidaknya suatu tindakan yang telah dilakukan. Secara teknis-psikologis, usaha tersebut dinamakan juga instropeksi. Pada dasarnya berarti pencarian tanggung jawab ke dalam hati nurani seseorang mengenai suatu perbuatan.
Bagi orang Jawa, karena ungkapan mawas diri berasal dari bahasa Jawa maka tidak begitu sulit dalam mempraktikkannya. Terlebih, ungkapan mawas diri tadi sudah dipakai dalam khasanah perbendaharaan bahasa Indonesia. Biasanya bagi orang Jawa, mawas diri tadi diterapkan untuk mendapatkan jawaban atas persoalan yang dihadapi. Apakah suatu perbuatan yang dilakukan atau tindakan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan secara moral. Hal itu dilakukan dengan cara menelaah
hati nurani. Praktik mawas diri begitu mendalam dihayati oleh orang Jawa hingga dimasukkan dalam kancah perspektif kebatinan dalam kebudayaan Jawa (kejawen), sebab di dalamnya mengandung nilai-nilai kerohanian yang mendalam pula.
Meski mawas diri merupakan persoalan yang amat penting, tetapi sayangnya tidak dapat dilihat secara konkret bagaimana hasil dari praktik mawas diri tersebut. Hal ini cenderung terkesan hanya bersifat formalitas sosial. Untuk itu, seorang pemimpin harus dituntut untuk mengajak anak buahnya agar melakukan mawas diri atau berintrospeksi disertai dengan praktik nyata dalam kehidupan. Salah satu aplikasi mawas diri menurut Susetya (2007:34), yakni dengan mengendalikan diri. Orang yang berusaha mngendalikan dirinya akan selalu menjaga sikap agar tidak menyakiti perasaan orang lain.
Di dalam novel P praktik mawas diri ini diyakini pak Mantri sebagai sebaik- baik perbuatan manusia. Proses interaksi antarmanusia dan makhluk hidup lainnya akan selaras jika sikap itu benar-benar dilakukan manusia dalam kehidupannya. Pemahaman mawas diri itu dimulai dari diri sendiri, barulah dapat ditularkan kepada orang lain.
Paijo telah membuka pintu dan jendela. Pak Mantri masuk, menghela nafas, duduk di kursi sambil melemparkan tas dan topi di meja...Mungkin Paijo biasa saja, hanya dia sendirilah yang mengira ada perubahan-perubahan pada orang. Sebaik-baik perbuatan ialah melihat diri sendiri, mawas diri (P:7). Pentingnya mawas diri pada Pak Mantri (selaku atasan dan orang yang lebih tua) sangat dibutuhkan untuk menjaga kerukunan dengan Paijo. Di samping masih muda, Paijo juga adalah bawahan dalam struktur jabatan pekerjaan, yang pengalaman
hidupnya masih sedikit bila dibandingkan dengan Pak Mantri. Jadi, tidak salah jika Pak Mantri harus lebih mawas diri dalam menghadapi sikap Paijo.
Mawas diri merupakan dasar yang harus dimiliki pribadi setiap individu agar tercipta keselarasan. Keselarasan akan terlaksana jika mawas diri dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Agar keselarasan tersebut dapat tercapai, ada dua keutamaan dasar etika Jawa yang harus ditanamkan dalam diri setiap individu. Keutamaan itu adalah untuk membatasi diri (sepi ing pamrih) dan kesediaan untuk memenuhi kewajiban masing-masing dengan setia (rame ing gawe). Dua keutamaan ini mempunyai ciri teoretis yang cukup menarik. Keutamaan-keutamaan itu bersifat formal dan negatif. Artinya, tidak dikatakan sikap mana yang dituntut, akan tetapi sikap mana yang harus dicegah. Yang dituntut adalah suatu kesediaan hati pada umumnya, bukan suatu sikap tertentu.
Dua keutamaan sikap ini menjadi landasan utama bagi Pak Mantri, Abu Kasan Sapari, dan Wasripin dalam membina hubungannya dengan Tuhan, alam, masyarakat, dan dengan orang lain. Ketiganya pada akhirnya memahami bahwa kedua sikap tersebut benar-benar dibutuhkan dalam mencapai kehidupan yang sempurna.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa representasi nilai budaya Jawa dalam novel-novel Kuntowijoyo menghasilkan sikap hidup positif yang didasarkan pada logika standar (standart logic) dan bukan logika standar (non standart logic) dalam diri manusia dalam menjaga hubungan dengan Tuhan, alam, masyarakat, orang lain, dan dengan diri sendiri.