BAB VII REPRESENTASI NILAI BUDAYA JAWA DALAM NOVEL-
7.1 Nilai Budaya Jawa dalam Novel-Novel Kuntowijoyo
7.1.2 Hubungan Manusia dengan Alam
Alam bukan lagi lingkungan yang asing bagi manusia karena dalam memperoleh pemahaman, keduanya merupakan jalinan kesatuan. Untuk memahami tentang alam, ada dua komponen yang tergabung di sini yaitu, alam sebagai alam dan
alam sebagai budaya. Alam sebagai alam adalah sebagaimana ditentukan dalam pengalaman langsung, alam yang telah menghadirkan dan mendahului pemahaman. Namun, alam yang masuk ke dalam pemahaman itu adalah alam sebagaimana tertepis oleh cakrawala yang terikat pada sejarah kehadiran pemahaman itu sendiri, dan membentuk alam sebagai budaya.
Alam sebagai budaya adalah alam sebagai kumpulan gagasan yang menunjukkan proses penyelidikan terus-menerus bagi landasan tindakan pengetahuan. Alam ini adalah hasil upaya manusia untuk menghubungkan berbagai makna dalam pengalaman, dalam cara meneguhkan pengalaman-pengalaman yang bernilai serta dengan melakukan penyelidikan dan pengujian untuk menentukan apa yang terbukti yang akan terus bernilai (Leksono dalam Minsarwati, 2002:45).
Orang Jawa yakin bahwa manusia adalah bagian dari kodrat alam. Manusia dan kodrat alam senantiasa saling memengaruhi, sekaligus bahwa manusia harus sanggup melawan kodrat untuk dapat mewujudkan kehendaknya, cita-citanya, ataupun fantasi hidupnya agar selamat sejahtera dan bahagia lahir batin. Hasil perjuangan (melawan kodrat) berarti kemajuan atau pengetahuan bagi lingkungan atau masyarakatnya, maka terjalinlah kebersamaan yang disebut gotong-royong, hormat-menghormati, tenggang rasa (tepaselira), rukun, dan damai hingga mawas diri.
Menurut Minsarwati (2002:41) titik tolak hubungan manusia dan alam adalah kesatuan manusia dan alam semesta serta dunia yang dialami manusia, yang disebut
objektif tidak hanya merupakan bagian dari dunia saja, tetapi manusia mengetahui dirinya dan korelasinya dengan yang lain yang dihayati dalam dunia ini. Ini berarti bahwa refleksi manusia atas dirinya sendiri secara konkret dan menyeluruh merupakan pula refleksi atas dunia. Jadi, dunia tidak dapat dipakai tanpa manusia. Demikian juga sebaliknya, manusia dan dunia dapat saling mengimplikasikan.
a. Manusia yang Bersatu dengan Alam
Berhadapan dengan alam, manusia berusaha untuk sedapatnya membebaskan diri daripadanya dengan merohanikan atau menghaluskannya. Alam pada dirinya sendiri sejauh berada dalam keasliannya termasuk alam kasar. Alam asli bagi orang Jawa adalah angker, mengerikan, dan menakutkan, tempat kebuasan, kekacauan, penuh bahaya, dan penuh roh-roh yang tidak dikenal. Bagi orang yang mencari kesaktian, alam merupakan tempat tinggal sementara dan tempat untuk membuktikan diri.
Hubungan antara manusia dan alam sekelilingnya tidak bersifat eksploitatif agar dapat diperoleh keuntungan. Hubungan ini lebih bersifat saling menjaga sehingga terciptanya keselarasan. Masyarakat Jawa percaya bahwa siapa yang melanggar interaksi tersebut akan terkena hukuman baik dari warga maupun kekuasaan-kekuasaan yang lebih tinggi dan berasal dari alam adikodrati.
Hubungan antara aktivitas manusia dengan alam dijembatani oleh pola-pola kebudayaan. Dengan kebudayaan ini manusia menyesuaikan diri dan memanfaatkan lingkungan demi kelangsungan hidupnya. Dalam hal ini kebudayaan ditempatkan
sebagai sistem aturan-aturan atau pola-pola kompleks nilai yang bersumber dari etika dan pandangan (Minsarwati, 2002:48).
Sikap kosmologis masyarakat Jawa terhadap lingkungan alam ini tercermin pada saat terjadinya letusan tanggal 22 November 1994 baik itu terjadi di Desa Purwobinangun, Turgo, Kepoharjo, Kaliadem,Umbulharjo, dan Kinahrejo. Di sini, tampak sekali bagaimana manusia selalu menyesuaikan diri dengan lingkungan alam Gunung Merapi. Mereka tidak mau meninggalkan daerahnya yang tertimpa bencana walaupun daerah itu sudah hancur lebur dilalap awan panas dan dijadikan sebagai daerah terlarang yang tidak layak huni. Kenyataan ini bisa dipahami sebagai sebuah sikap hidup atau sebuah kearifan atau kebijaksanaan hidup terhadap lingkungan alam dan budayanya yang selama ini dirasakan sebagai sesuatu yang berjiwa. Terjadinya letusan itu lebih dipaham sebagai sebuah takdir.
Keengganan masyarakat untuk meninggalkan daerah menurut pandangan masyarakat umum di Yogyakarta lebih didasari oleh kewajaran. Hal ini menyangkut eksistensinya sebagai masyarakat lereng Merapi yang berbudaya yang mampu hidup berdampingan secara serasi dan harmonis dengan alam.
Keberadaan Merapi tetap dipandang sebagai anugerah. Manusia selalu tunduk dan dikuasai oleh Gunung Merapi, hal ini bisa dilihat betapa masyarakat tidak berani menebang pohon seenaknya, berburu binatang di hutan, memindahkan batu-batu besar di tempat-tempat tertentu, mendirikan rumah menghadap ke arah Gunung Merapi, apalagi punya keberanian untuk membakar hutan.
Makna kosmologis ini tentunya bermanfaat besar dalam meningkatkan martabat manusia pada tingkat pertama, sampai yang terakhir karena setelah itu maka ada tugas manusia adalah memayu hayuning bawana. Konsep ini dipandang sebagai etika kosmologis. Artinya, berupa ajakan moral yang implisit dalam hukum alam. Manusia harus membuat seluruh isi alam menjadi tenteram dan damai, untuk itu manusia harus menyadarinya dengan cara menaati tatanan yang berlaku dan hidup harmonis dan selaras. Oleh karena itu, manusia harus menciptakan keharmonisan terhadap alam dengan berlaku hidup selaras, serasi, dan seimbang.
b. Manusia yang Menaklukkan atau Mendayagunakan Alam
Strauss (Minsarwati, 2002:46) menyatakan bahwa alam menjadi suatu pengalaman yang menentukan hidup. Ia meyakini bahwa manusia bukanlah makhluk di luar alam dan makhluk agresif terhadap alam, melainkan sebagai bagian dari alam; manusia sebenarnya bersahabat dengan alam yang menentukan hidup dan pikirannya. Manusia bukan subyek bebas, otonom, dan sadar, yang maha kuasa, melainkan ia memainkan peranan sebagai sarana dalam proses pemekaran diri alam itu.
Bagi orang Jawa alam adalah wilayah yang dibabat untuk memperoleh tanah yang memberi berkat bagi manusia. Hutan yang sebelumnya adalah tempat roh-roh dan binatang-binatang buas, kemudian dijadikan pemukiman bagi manusia. Dalam berhubungan dengan alam, orang Jawa berusaha menghaluskannya. Itu dilakukan melalui seni. Obyek penghalusan itu pertama-tama dari segi alamiah manusia itu sendiri, yaitu tubuhnya. Tubuh dihaluskan terutama melalui seni tari. Di situ termasuk
juga berbagai bentuk wayang, khususnya wayang kulit yang diukir indah dengan wujud berabstraksi tinggi. Termasuk juga orkes gamelan yang musiknya tidak pernah kehilangan sifatnya yang tenang. Seni batik pun termasuk di sini.
Pengaturan hubungan manusia dengan alam lahir membuka jalan untuk turun ke dalam batin sendiri, semakin dalam penghayatan tersebut akan menimbulkan kesadaran peersatuan dengan semua makhluk.
Tatanan kehidupan manusia modern sekarang ini, cenderung bangga bila menaklukkan dan menguasai alam. Tindakan tersebut bisa mengarah pada hal yang bersifat positif dan negatif. Pemanfaatan sumber daya alam dengan cara mempertahankan kelestarian alam maka manusia tidak akan mengalami kerugian. Sebaliknya, apabila pemanfaatan sumber daya alam tersebut dilakukan dengan cara- cara yang merusak maka hal itu akan menimbulkan kerugian pada manusia itu sendiri.
Pada novel MPU digambarkan juga tokoh Abu Kasan yang berpendidikan dan berkebudayaan modern, tetapi basis perasaan dan pemikirannya adalah alam dan lingkungan (agraris). Dengan mengacu pada ayat-ayat Al-Qur’an, melalui suara Abu Kasan, Kuntowijoyo menunjukkan bahwa pada surat 114 dalam Al-Qur’an semuanya merujuk kepada alam. Abu Kasan menolak paham orang Barat yang mengatakan bahwa peradaban manusia menundukkan alam. Bagi Abu Kasan “menundukkan” alam itu langkah yang salah. Malah itu sejenis kesombongan sebab yang benar manusia harus “berdamai” dengan alam. Di sini terlihat prinsip keselarasan (harmoni)
Melalui Abu Kasan, Kuntowijoyo mengungkapkan bukit, batu, langit, jin, manusia, kuda, angin, buaya, rempah-rempah, tebu, dan logam, yang tidak lain adalah alam itu sendiri, khususnya tentang bukit dan alam umumnya. Perhatikan kutipan berikut.
Tuhan memuliakan bukit. Ketika Tuhan akan menyebutkan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya didahuluinya dengan sumpah kepada buah Tin, pohon Zaitun, bukit Tursina, dan daerah yang penuh berkah. Nabi Musa ditunjukkan kekuasaan Tuhan dan menerima “Ten Commandment” di atas bukit. “Khotbah di Atas Bukit” Nabi Isa juga dikenang umat manusia (MPU:33).
Dapatlah kiranya ditegaskan bahwa posisi bukit (alam) menduduki tempat penting dalam renungan-renungan Abu Kasan Sapari yang agaknya tidak lain refleksi pandangan Kuntowijoyo sendiri.
Dengan berpijak pada sejarah, melalui renungan-renungan Abu Kasan, Kuntowijoyo ingin menunjukkan bahwa rempah-rempah (alam) dulu pernah menjadi amat penting di negeri ini sehingga orang-orang Eropa datang dan kemudian menjajah. Demikian pula dengan revolusi industri di Indonesia yang dimulai dari berdirinya pabrik-pabrik tebu (alam). Itulah yang membuat Indonesia mejadi bagian penting dalam perekonomian dunia. Kita dapat saja menambahkan apa saja yang disampaikan novel itu, mengingat hingga hari ini negeri kita merupakan negeri yang kaya dengan kekayaan alamnya (aneka tambang, ikan, minyak, gas, kayu, dan lain- lain). Tidak mengherankan bila Abu Kasan (Kuntowijoyo) berfilsafat tentang alam, tidak lain untuk menyadarkan semua orang bahwa alam amatlah penting; oleh karena itu, manusia harus menjaga dan berdamai bukan menundukkan.
Alam dan lingkungan menjadi tema pagelaran wayang Abu Kasan pada akhirnya, dan ular bagi Abu Kasan adalah simbol alam dan lingkungan. Oleh karena itu, ular seperti alam dan lingkungan, harus dijaga dan dilestarikan, bukan dibunuh, apalagi dijadikan sebagai abon ular untuk obat kuat sekaligus obat penyakit kulit.. ia melawan orang-orang yang suka membunuh dan memperjualbelikan ular. Cinta ular berarti cinta lingkungan, begitu pandangan Abu Kasan. Betapa pentingnya lingkungan, lihat kutipan berikut yang mengacu pada sejarah.
“....Zaman dahulu Gunung Kidul itu tertutup hutan. Air melimpah, tidak ada kekeringan. Tetapi karena ulah manusia sekali lagi karena ulah manusia, Gunungkidul menjadi gundul, sendang habis, sungai-sungai kering. Setiap musim kering sekarang untuk minum saja harus dikirim dari Yogya. Bukan tidak mungkin cucu-cucu kita akan mengalami hal yang sama. Prinsip melestarikan lingkungan ialah membiarkan sesuatu di tempatnya“ (MPU:55). Abu Kasan berhasil mengajak camat, lurah, dan masyarakat akan kesadaran pada alam dan lingkungan, juga pada ular. Maka dilukiskanlah seorang anak yang bermain-main di sawah dengan ular, orang-orang bertetangga dengan ular, bahkan ada ular bercanda dengan orang dengan cara mengambil topi yang sedang dijemur atau ular-ular nongkrong di pohon menyaksikan permainan sepak bola di lapangan kecamatan. Pelukisan ini memang agak tidak masuk akal, sedikit aneh, kocak, bahkan luar biasa, tidak lain karena ular oleh Abu Kasan Sapari dan pengarang ditempatkan sebagai sesuatu yang penting, tidak kalah penting dengan kedudukan manusia sendiri.