• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mitos-Mitos Masa Kini

Dalam dokumen Mitologi Jawa Dalam Novel-Novel Kuntowijoyo (Halaman 124-135)

BAB V MITOLOGI JAWA DALAM NOVEL-NOVEL

5.2 Mitos-Mitos Masa Kini

Barthes mengemukakan teori tentang mitos dengan mengetengahkan konsep konotasi, yakni pengembangan segi signifie (petanda ‘makna’) oleh pemakai bahasa. Pada saat konotasi menjadi mantap, ia menjadi mitos, dan ketika mitos menjadi mantap, ia menjadi ideologi. Akibatnya, suatu makna tidak lagi dirasakan oleh masyarakat sebagai hasil konotasi.

Menurut Barthes (1995:89) sebuah ekspresi bisa memiliki beberapa isi atau konten yang terhubung melalui sebuah relasi tertentu. Ekspresi ditandai dengan

makna denotasi yang kemudian berkembang menjadi beberapa isi (konten) yang disebut sebagai makna konotasi.

Masyarakat Indonesia, baik masa lalu maupun masa kini, mengenal mitos dalam pengertian Barthes di atas. Mitos masa kini yang dimaksud penulis adalah berkaitan dengan makna mitos tersebut. Artinya, makna mitos tersebut yang baru (masa kini), bukan mitos itu yang baru. Ada beberapa fenomena budaya masa kini yang diberi konotasi oleh masyarakat luas, dan yang sudah mantap menjadi mitos. Fenomena tersebut antara lain: gotong royong, aja dumeh, reformasi, ramah tamah, dan mahasiswa sebagai kekuatan moral.

1. Gotong Royong

Gotong royong dianggap merupakan bagian dari tradisi masyarakat Jawa bahkan rakyat Indonesia selama bertahun-tahun. Dalam pemakaiannya mempunyai denotasi ‘bekerjasama dan saling membantu untuk mengerjakan sesuatu, khususnya untuk sesuatu yang bermakna secara sosial, seperti pembangunan mesjid, pembuatan jalan desa, atau pemadaman kebakaran.

Perhatikan kutipan berikut.

Kita mesti sanggup berbuat. Asal perbuatan baik, Jo. Kita mesti kuatkan jiwa kita. Hidup ini hanya sebentar, engkau dalam perjalanan jauh, dan hidup ialah sekadar mampir minum, sebentar saja...Korbankanlah dirimu untuk tujuan yang lebih besar. Dan masyarakat lebih berarti dari sekadar kesenanganmu (P:201).

Pak Mantri mewariskan budaya gotong royong pada Paijo dengan meyakinkannya bahwa kepentingan umum lebih penting di atas kepentingan pribadi.

Sikap rela berkorban ini menjadi cikal bakal lahirnya budaya gotong royong dalam masyarakat di Indonesia. Melalui kutipan tersebut, gotong royong merupakan sebuah ekspresi yang dimaknai oleh Pak Mantri dan Paijo sebagai ‘perbuatan baik’ (makna denotasi).

Pada kondisi sekarang, gotong royong sebagai ekspresi (expression) memperoleh isi (content) beberapa konotasi sesuai dengan pengalaman masyarakat. Ada dua konotasi yang penting, yaitu (1) kewajiban membantu tetangga yang sedang kesusahan dan (2) kewajiban bekerja untuk memperbaiki prasarana di desa. Intinya, konotasi dasarnya adalah “kewajiban”. Sebagai masyarakat yang kehidupannya masih komunal, kewajiban ini tidak dirasakan memberatkan (kewajiban yang berterima), khususnya bila tujuan gotong royong adalah membantu tetangga yang sedang berada dalam kesulitan. Di samping itu, relasi yang menghubungkan antara ekspresi dan isi tersebut adalah kondisi masyarakat. Perubahan pola hidup masyarakat memengaruhi pemaknaan terhadap gotong royong itu sendiri.

Pada sekelompok orang, misalnya di kota gotong royong sudah mempunyai konotasi ‘kewajiban yang memberatkan’ karena setiap orang sudah lebih banyak mempunyai kewajiban sendiri yang berbeda-beda. Dengan cara mengupas makna konotatifnya, telah terjadi pembongkaran semiologis (demontage semiologique).

Di dalam hal gotong royong dimaknai sebagai “kewajiban berterima”, dapat dilihat di sebuah desa atau kota bahwa ada pembayaran uang pengganti untuk mereka yang tidak ikut bergotong royong memperbaiki jalan, misalnya gotong royong tidak jarang dimaknai semacam “kerja paksa” yang kalau dilanggar dapat memberi akibat

pengucilan dan penghukuman. Mereka yang memaknai gotong royong sebagai “kewajiban berat” menghindari gotong royong dengan misalnya, pura-pura sakit atau bepergian dari lingkungannya.

Gotong royong telah kehilangan mitosnya sebagai fenomena budaya yang dilandasi nilai solideritas sosial. Ia telah mengalami pembongkaran semiologis dan dekonstruksi untuk memperoleh makna lain dan baru, sehingga mungkin menjadi mitos baru yang tidak menyenangkan. Masyarakat telah mengalami perubahan istilah gotong royong telah mengalami diversifikasi makna.

2. Aja Dumeh

Aja dumeh ‘jangan mentang-mentang’ adalah ajaran yang berkembang dalam tradisi lisan. Makna denotatifnya adalah ‘jangan suka mentang-mentang’ dan ‘jangan sombong’. Ini sudah menjadi mitos dalam masyarakat karena sudah dipandang sebagai cara yang baik dalam masyarakat. Namun, mitos ini sedang mengalami perubahan dalam kalangan tertentu. Para eksekutif muda dan para yupies banyak yang mempelajari mitos lain, yakni justru ‘harus berani menonjolkan kemampuan diri’ dan ‘harus memiliki kebanggaan akan diri sendiri (self system)’. Ini merupakan mitos lain dalam hal bersikap dalam masyarakat tertentu, yang merupakan mitos yang bersikap datang dari kebudayaan industri Barat. Bagi kalangan yang masih memegang mitos aja dumeh, mitos di kalangan para eksekutif muda dan yupies ini dipandang sebagai sesuatu yang buruk. Sebaliknya, aja dumeh dipandang sebagai hal

yang tidak mendorong kemajuan oleh para eksekutif muda dan yupies. Dua mitos itu bersama-sama hidup dalam masyarakat kita.

Di dalam novel MPU mitos ini juga hidup dalam diri tokohnya. Perhatikan kutipan berikut.

Pelajaran dari cerita ini ialah orang itu ojo dumeh, jangan mumpung. Jangan mumpung berkuasa, lalu sewenang-wenang. Jangan mumpung kaya, lalu menghambur-hamburkan uang (MPU:37).

...

Jangan dumeh sudah jadi orang besar. Maksudnya dielu-elukan orang banyak. Jangan mentang-mentang jadi dalang kondang. Mentang-mentang dekat koran ucapan-ucapan yang tak akan keluar dari mulut orang-orang yang kenal dia. Kata-kata yang diucapkan dengan penuh dendam, seolah-olah tak ada kebaikannya sama sekali. Terdengar jelas di telinga Abu (MPU:236).

Aja dumeh merupakan ekspresi (expression) yang dimaknai Abu Kasan Sapari memiliki beberapa isi (content) yang bermakna konotasi. Makna denotasi aja dumeh ‘jangan mentang-mentang’ berkembang menjadi ‘jangan mentang-mentang kaya’, ‘jangan mumpung berkuasa’, jangan mentang-mentang terkenal’, dan sebagainya menjadi makna konotasi akibat perkembangan pola pikir manusia. Perubahan makna tersebut terjadi karena ada relasi waktu yang menghubungkan keduanya. Mitos ini hidup dan berkembang terus seiring dengan perkembangan zaman. Meskipun terjadi pergeseran-pergeseran makna pada mitos tersebut, namun tetap saja mitos ini masih memberikan nilai yang positif bagi setiap individu.

Generasi baru di kota kalangan bisnis sedang mendekonstruksi aja dumeh yang memberi makna ‘tidak boleh maju’ dan ‘tidak boleh menonjolkan diri’. Ini merupakan hal yang menyebabkan aja dumeh menjadi tidak berterima karena menghambat kemajuan dalam masyarakat perkotaan.

3. Reformasi

Kata reformasi menjadi bagian dari tradisi lisan baru meskipun memasuki kosa kata bahasa Indonesia melalui buku-buku Barat yang dibaca oleh para cendikiawan. Reformasi mempunyai denotasi ‘perubahan radikal untuk perbaikan di bidang sosial, politik, ekonomi, atau agama di suatu masyarakat atau negara’. Dalam sejarah politik kita, reformasi terjadi pada bulan Mei 1998 dimulai dengan jatuhnya kekuasaan Presiden Soeharto. Setelah itu, berbagai perubahan kebiasaan dan bahkan perubahan nilai terjadi. Reformasi menjadi kata yang frekuensi pemakaiannya sangat tinggi. Ia menjadi bagian dari tradisi lisan “baru” dan pegangan moral dan harapan hidup masyarakat Indonesia. Namun, berbagai peristiwa yang terjadi memperlihatkan bahwa perubahan yang terjadi di bidang politik, hukum, dan sosial tidak dirasakan sebagai “perbaikan-perbaikan” oleh masyarakat awam. Reformasi akhirnya dewasa ini memperoleh konotasi ‘tindakan mengutuk Orde Baru’, ‘pergantian kekuasaan’, ‘perubahan kebijakan’, ‘boleh berbuat sesukanya’, ‘boleh mengkritik atasan, pemerintah, dan aparat’, serta ‘melakukan pembalasan terhadap pejabat dari zaman Orde Baru’.

Perubahan serupa juga dijelaskan Kuntowijoyo dalam novel MPU. Perhatikan kutipan kutipan berikut.

Tidak ada yang abadi kecuali perubahan. Sejarah sudah berubah. Dulu orang mencoba melupakan bahwa secara politis kita tertindas. Sekarang orang berusaha bagaimana bisa bertahan hidup di masa krisis. Abu berpikir untuk mengubah MPU jadi MPL (Masyarakat Penggemar Lingkungan)...Orang Jawa harus cepat mengerti meski sedikit saja dikatakan, dengan isyarat pula...Yang berubah itu zamannya, bukan orangnya (MPU:214).

Melalui kutipan tersebut dapat dimengerti bahwa tokoh Abu Kasan Sapari tanggap akan perubahan yang sedang berlangsung di zamannya. Ketika terjadi perubahan situasi politik di daerahnya maka ia pun mengadakan perubahan dengan mengganti nama organisasi MPU (Masyarakat Penggemar Ular) yang dipimpinnya menjadi MPL (Masyarakat Penggemar Lingkungan). Menurutnya orang Jawa harus cepat tanggap terhadap perubahan meskipun perubahan itu berupa isyarat sekalipun. Artinya reformasi pun harus berlaku pada masyarakat Jawa. Reformasi (ekspresi) dimaknai Abu Kasan Sapari sebagai makna konotasi, yaitu ‘cepat tanggap’(isi) yang terealisasi melalui relasi perubahan zaman.

Meskipun reformasi ‘lahir’ pada tahun 1998, namun telah lama terpendam di bawah permukaan kehidupan sosial politik bangsa kita. Reformasi sering berpasangan dengan demokrasi yang juga mengalami pemaknaan konotatif ‘kebebasan’ dan ‘keberanian melawan kekuasaan’. Ia juga sering berpasangan dengan demokrasi yang juga mengalami pemaknaan konotatif ‘kebebasan’ dan ‘keberanian melawan kekuasaan’. Ia juga sering berpasangan dengan civil society yang juga telah memasuki tradisi lisan karena banyak dibicarakan orang san memeroleh konotasi ‘masyarakat yang tidak dikuasai militer’, ‘masyarakat yang dikuasai oleh sipil’, ‘sipil menguasai militer’, dan ‘militer hanya alat negara dan berada di bawah kekuasaan pemerintah sipil’. Meskipun baru beberapa tahun, kedua kata itu – yang lahir dari lahirnya reformasi – sudah berkembang menjadi mitos. Sejumlah cendikiawan berusaha melakukan pembongkaran semiologis dengan mengetengahkan makna

sebenarnya, yakni denotasinya. Akan tetapi, dapat dilihat bahwa upaya itu tidak – atau belum? – berhasil sejauh ini.

Dekonstruksi atas mitos tersebut banyak dilakukan agar makna ‘perbaikan’ dan ‘sama rasa sama rata’ serta ‘kepatuhan terhadap etika dan hukum’ dapat menggantikan mitos buruk yang berkembang ke notasi salah kaprah itu.

4. Ramah Tamah

Tradisi lisan mengenal kata ramah-tamah yang dilekatkan pada sifat bangsa Indonesia. Ia juga merupakan bagian dari tradisi lisan dalam masyarakat. Ini bahkan sudah menjadi mitos. Dalam diri orang Jawa, ramah tamah ini sudah merupakan suatu ‘kewajiban’ dalam berinteraksi dalam masyarakat. Seperti kutipan berikut ini.

Maksud untuk sekadar menghabiskan waktu itu mengecewakan Zaitun. Mantri Pasar itu malahan menuduhnya. Hasil kunjungan ramah tamah yang istimewa (P:22).

Kunjungan yang dikakukan Siti Zaitun pada Pak Mantri merupakan cerminan ramah tamah orang Jawa yang menjadi ciri khasnya. Lazimnya, sikap tersebut dimulai oleh orang yang lebih muda terhadap orang yang lebih tua atau bawahan terhadap atasannya. Meskipun kadang-kadang sikap itu berpotensi untuk disambut dengan sikap sebaliknya, tetap saja sikap itu masih dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari.

Ramah tamah sebagai ekspresi (expression) dimaknai Pak Mantri dengan ‘sikap berpura-pura’. Sikap berpura-pura ini merupakan makna konotasi yang juga isi (content) yang terealisasi melalui relasi sikap atau tindakan Siti Zaitun.

Khususnya setelah reformasi, terjadi banyak peristiwa yang membuat mitos ini menjadi luntur. Terlepas dari apa penyebabnya, kenyataan menunjukkan bahwa bangsa Indonesia telah kehilangan sifat ramah tamahnya. Bentrokan antaragama, antarsuku, terjadi di berbagai bagian negeri kita. Tawuran sudah menjadi bagian dari tradisi lisan baru. Tawuran terjadi di kalangan pelajar dan bahkan mahasiswa. Dalam bertetangga kita masih melihat keramahtamahan sebagian bangsa kita. Akan tetapi, begitu seseorang berada dalam kemudi mobil atau motor, ia menjadi orang lain yang sama sekali tidak ramah tamah. Mitos bangsa yang ramah tamah menjadi pudar dan sedang berproses menjadi mitos baru; ‘bangsa yang suka berkelahi’. Perkembangan budaya masyarakat memperlihatkan ingroupness menjadi menonjol.

Sikap ramah tamah terhadap bangsa asing juga pernah merupakan mitos dalam masyarakat kita. Mitos ini pun sudah memudar di berbagai tempat, kita mengamati terjadinya sikap tidak ramah terhadap kehadiran orang asing sehingga berpotensi merugikan peristiwa dan investasi asing. Mitos ini termasuk juga pudar karena berbagai peristiwa di tanah air yang tidak menunjukkan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang ramah tamah.

5. Mahasiswa Kekuatan Moral

Mahasiswa kekuatan moral dan harapan bangsa merupakan bagian dari tradisi lisan dalam masyarakat. Ini bahkan menjadi mitos. Namun, pengamatan memperlihatkan bahwa mitos ini terancam pudar. Perilaku mahasiswa sudah banyak berubah dan sering terbawa oleh arus permainan politik. Banyak di antara mereka

yang sudah terkena kebiasaan menggunakan narkoba dan terlibat dalam tawuran hanya akibat persoalan sepele. Perhatikan tawuran antarkampus dan bahkan antarfakultas dalam suatu kampus yang masih selalu terjadi. Makna mitis ‘generasi penerus dan calon pemimpin’ sedang terancam berubah menjadi ‘lost generation’ yang tidak lagi mempunyai kekuatan moral dan tidak menjadi harapan bangsa.

Menurut Hoed (2007:158) faktor di luar langage de culture de masse ‘bahasa kebudayaan massa’ dapat mengubah atau menggeser makna sebuah mitos. Faktor luar itu adalah kehidupan politik yang makin memberikan kemungkinan untuk melakukan banyak hal yang hampir tanpa batas. Di samping itu, kehidupan ekonomi yang mengacu pada individualisme dan cenderung mendorong berkembangnya hedonisme merupakan faktor luar yang mengubah makna mitos-mitos tersebut.

Akan tetapi, dalam novel MPU mitos ini belum bergeser. Kuntowijoyo masih memegang mitos bahwa mahasiswa adalah kekuatan moral dan harapan bangsa. Hal itu tergambar melalui tokohnya, yakni Abu Kasan Sapari.

Untuk jerih payah membuat uraian teoretik dan praktik mendalang Abu Kasan Sapari dinyatakan lulus. Sebenarnya, dia bisa cum laude, tapi tidak bisa karena tahun kuliah sudah melonjak...Hari wisuda datang. Orang tua Abu datang berdua. Setelah upacara selesai, seorang tukang foto mendekat dan mengambil gambar mereka di depan sekolah Tinggi (MPU:222-223).

Melalui kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa seorang mahasiswa tetap memiliki kelebihan yang khusus dibanding pemuda biasa yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Predikat cum laude masih menjadi kebanggaan seorang mahasiswa dalam menempuh pendidikan di bangku kuliah. Ekspresi (expression) mahasiswa

sebagai kekuatan moral masih dipegang teguh oleh Abu Kasan Sapari sebagai makna denotasi (content) dengan relasi perilaku mahasiswa.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa mitologi Jawa dalam novel- novel Kuntowijoyo tercermin dalam diri tokoh-tokohnya, antara lain Pak Mantri, Abu Kasan Sapari, dan Wasripin. Mitologi tersebut terwujud melalui serangkaian upacara tradisi dan ritual-ritual khusus yang terangkum pada sikap kosmologis dan pandangan hidup masyarakat Jawa. Pergeseran makna mitos juga terjadi dalam kehidupan masyarakat Jawa (bangsa Indonesia) seiring dengan perkembangan zaman. Perubahan pola hidup masyarakat dewasa ini menyebabkan perubahan makna mitos yang lama menjadi mitos-mitos masa kini.

Dalam dokumen Mitologi Jawa Dalam Novel-Novel Kuntowijoyo (Halaman 124-135)