• Tidak ada hasil yang ditemukan

6   KOMUNITAS IKAN DI HABITAT BERBEDA 71

6.4   PEMBAHASAN 83

6.4.4   Hubungan Panjang-Berat Hasil Tangkapan 93

Analisis biometri menyimpulkan bahwa semua jenis hasil tangkapan pada 3 (tiga) habitat bersifat allometrik negatif. Artinya pertambahan panjang ikan tidak secepat dengan pertambahan beratnya (Gambar 14 & 15, Lampiran 16).

Jenis hasil tangkapan yang menghampiri nilai b = 3 yaitu ikan biji nangka dan jenis ikan yang memiliki nilai b paling kecil yaitu ikan baronang lingkis. Hasil analisis biometri menunjukkan bahwa jenis ikan biji nangka, baronang lingkis, lencam, kuwe, dan baronang memiliki nilai b pada habitat lamun lebih tinggi bila dibandingkan dengan kedua habitat lainnya. Kemungkinan disebabkan karena pada daerah lamun cukup tersedia sumber makanan, sehingga tidak salah bila dikatakan bahwa daerah lamun sebagai tempat mencari makanan bagi ikan atau biota lainnya yang berasosiasi dengannya. Jenis ikan tersebut merupakan ikan-ikan karang. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Soadiq (2010) bahwa ikan- ikan karang yang tertangkap dengan fyke net di sekitar karang seperti famili

Serranidae, Lethrinidae, Lutjanidae, Mullidae, Nemipteridae, Plotoseidae, dan Haemulidae diduga tertangkap karena sifat ini bermigrasi keluar karang secara horizontal untuk mencari makanan .

Hubungan panjang-berat ikan kuniran yang ditemukan di perairan pantai

Pitumpanua Teluk Bone di habitat lamun tidak berbeda jauh yang ditemukan di perairan Demak yaitu allometrik negatif dengan nilai b = 2,918 (Saputra et al.

2009). Nilai b tersebut menghampiri nilai b = 3, artinya pertumbuhan panjang ikan kuniran di perairan pantai Pitumpanua Teluk Bone hampir seimbang dengan pertumbuhan berat tubuhnya. Berbeda yang ditemukan oleh Sjafei & Susilawati (2001) pertumbuhan ikan biji nangka yang didapatkan bersifat isometrik. Ikan- ikan lainnya yang didapatkan di perairan pantai Pitumpanua mempunyai nilai b jauh lebih kecil dari nilai 3. Hal ini bisa dijelaskan bahwa pertumbuhan ikan kurus atau pertumbuhan panjang lebih cepat dibanding beratnya.

Ikan kapas-kapas, pepetek, kerong-kerong, barakuda, dan udang putih mempunyai nilai b yang hampir seragam (sama) pada ketiga habitat. Artinya pertumbuhan jenis ikan tersebut tidak di pengaruhi oleh adanya faktor habitat. Berbeda dengan kepiting rajungan didapatkan pada habitat mangrove nilai b lebih besar dibanding dengan habitat lainnya. Kemungkinan hal ini terjadi karena kepiting rajungan di daerah mangrove masih pada tahap juvenil yang tertangkap sehingga pertumbuhan lebih cepat dibandingkan kepiting dewasa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa walaupun dari segi jumlah lebih banyak ditemukan di daerah mangrove tetapi berat total lebih kecil dibanding pada habitat lamun, sehingga bisa disimpulkan bahwa kepiting yang tertangkap di habitat mangrove adalah ukurannya hampir sama dengan ukuran yang kecil. Pernyataan ini dibenarkan oleh Adam (2006) bahwa semakin jauh dari pantai, ukuran tubuh dan bobot rajungan semakin meningkat. Lebih lanjut mempertegas bahwa kepiting rajungan pada fase juvenil sampai dewasa berada pada daerah estuaria dalam hal ini pantai.

6.4.5 Hubungan Berat Hasil Tangkapan dengan Parameter Lingkungan Sesuai dengan hasil analisis yang disajikan dalam Tabel (12) terlihat bahwa

suhu dan DO sangat dominan mempengaruhi total berat hasil tangkapan. Hasil tangkapan berat total ikan cenderung meningkat dengan menurunnya suhu

dan meningkatnya kadar DO. Hubungan yang menunjukkan meningkatnya berat total hasil tangkapan dengan menurunnya suhu mengindikasikan bahwa keseluruhan jenis ikan yang tertangkap dengan sero di sekitar pantai di lokasi penelitian kemungkinan lebih menyukai air yang bersuhu lebih rendah di sekitar muara sehingga populasinya meningkat ketika masukan air tawar yang lebih dingin banyak yang masuk ke wilayah pantai melalui aliran sungai. Sementara pengaruh kadar DO yang berbanding lurus dengan hasil tangkapan menunjukkan bahwa kadar DO yang lebih tinggi memungkinkan lebih banyaknya ikan dan juga berpengaruh langsung terhadap proses fisiologis respirasi ikan. Kondisi ini umum terjadi seperti didapatkan oleh Ridho (1999) di perairan pantai barat Sumatera bahwa tingginya keanekaragaman ikan dan keseragaman ikan demersal dipengaruhi oleh salinitas yang rendah serta kadar oksigen terlarut (DO) dan suhu yang tinggi. Sedangkan distribusi jenis-jenis ikan demersal di perairan Laut Cina Selatan dipengaruhi oleh faktor suhu, salinitas, kecerahan, dan kedalaman perairan (Ridho 2004).

Pengaruh parameter lingkungan yang dominan pengaruhnya terhadap berat hasil tangkapan nampak bervariasi diantara jenis ikan. Suhu dominan berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan kapas-kapas dan kuwe. Salinitas dan pH berpengaruh dominan terhadap ikan kerong-kerong. Kecepatan arus berpengaruh dominan terhadap ikan baronang lingkis, kapas-kapas, lencam dan kuwe. Klorofil a terlihat dominan pengaruhnya terhadap berat hasil tangkapan ikan biji nagka, kerong-kerong, kapas-kapas, dan lencam. Fitoplankton berpengaruh dominan terhadap ikan Kuwe sedangkan zooplankton berpengaruh dominan terhadap ikan kerong-kerong.

Hubungan yang signifikan antara berat hasil tangkapan dengan parameter lingkungan yang bervariasi pada setiap jenis ikan menunjukkan bahwa setiap jenis ikan memiliki respon dan prevarensi habitat berdasarkan karakteristik lingkungannya. Perlu diketahui bahwa hubungan linier yang signifikan yang

ditunjukkan dalam analisis tersebut dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Hubungan langsung yang paling mungkin terjadi secara teoritis adalah pengaruh parameter fisika kimia yang memang dapat berpengaruh langsung terhadap aktivitas biologis dan fisiologis setiap jenis ikan. Sementara pengaruh parameter biologi seperti klorofil-a, kelimpahan fitoplankton dan zooplankton dapat terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pengaruh tidak langsung dapat terjadi karena parameter biologi mempengaruhi makanan atau predator terhadap suatu jenis ikan. Sebagai contoh terlihat dari pengaruh dominan klorofil a terhadap ikan biji nangka sebagai ikan omnivor yang tidak mengkonsumsi langsung fitoplankton yang mengandung klorofil a. Mekanisme pengaruh tidak langsung klorofil a terhadap ikan biji nangka dapat saja terjadi karena klorofil a mempengaruhi kelimpahan zooplankton yang selanjutnya mempengaruhi salah satu makanan ikan biji nangka yaitu udang-udangan yang banyak mengkonsumsi zooplankton. Hal ini menyebabkan semakin meningkatnya jumlah ikan biji nangka dengan meningkatnya kandungan klorofil a dalam perairan. Hal serupa terjadi pada ikan kuwe yang menunjukkan pengaruh dominan zooplankton sedangkan ikan kuwe tidak mengkonsumsi langsung zooplankton.

Variasi pengaruh parameter lingkungan terhadap setiap jenis ikan dapat menjelaskan terjadinya variasi perbedaan jumlah dan berat hasil tangkapan berdasarkan waktu dan lokasi (habitat). Variasi lingkungan yang terlihat antara muaras sungai, lamun dan sekitar daerah mangrove mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung pertumbuhan dan kelangsungan hidup setiap spesies ikan yang tertangkap dengan sero

Pengaruh parameter lingkungan bukan saja dapat bervariasi antar spesies tetapi dalam spesies yang sama respon dan toleransi ikan dapat berbeda terhadap paremater lingkungan. Hal ini sangat mendukung sebagai alasan sehingga terlihat adanya variasi ukuran rata-rata hasil tangkapan yang relatif berbeda antar habitat pada beberapa jenis ikan yang didapatkan dalam penelitian ini. Fakta ini terlihat dari analisis hasil tangkapan yang menunjukkan jumlah tangkapan yang sama pada beberapa jenis ikan namun menunjukkan perbedaan dalam berat.