• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV AKIBAT HUKUM YANG TIMBUL SETELAH

B. Hukum Aborsi Dalam Hukum Positif Di Indonesia

Banyak kalangan terutama agamawan memandang aborsi sebagai yang bertentangan dengan nilai-nilai moral dan keagamaan. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa aborsi nyaris serupa dengan praktek pembunuhan. Hukum Positif Indonesia seperti KUHP juga memetakan aborsi dalam tindak pidana. Tarik ulur

tentang kebolehan aborsi dan tidaknya menempatkan praktek tersebut sebagai sesuatu yang sulit diketahui dan dilacak secara numerikal dengan pasti. Kendati demikian, aborsi di kalangan masyarakat benar-benar terjadi dan ada. Kesulitan mengestimasi angka praktek aborsi di lapangan secara akurat lebih dihadapkan pada kendala hukum dan norma-norma sosial.189

Persoalan aborsi tidak dapat dipandang secara sederhana. Dari sudut pandang agama, aborsi secara tegas dinyatakan sebagai praktek yang dilarang. Tidak jauh berbeda dengan perspektif agama, aborsi dari segi moral juga dinilai sebagai tindakan asusila, karena secara substansial aborsi tidak lebih dari bentuk pembunuhan janin yang tidak berdosa. Sementara itu, dari aspek kesehatan, aborsi dipandang sebagai langkah untuk menekan dan bahkan mencegah angka kematian ibu yang masih relatif tinggi terutama di Indonesia.190

Masalah aborsi dibahas dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan. Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), pasal mengenai pengguguran kandungan dimasukkan ke dalam bab menangani “kejahatan terhadap nyawa”. Dengan demikian secara emplisit berarti tindak pidana ini dilakukan terhadap korban yang berada “in rerum natura” atau berada dalam keadaan “in being” yang berarti pula bahwa ia harus berada dalam keadaan hidup. Di sini persoalan menjadi terkait dengan kapan janin mulai dianggap sebagai makhluk bernyawa.

189Istibsjaroh, http://istibsyaroh.files.wordpress.com/2008/02/buku-pornografi.pdf, diakses tanggal 29 Juni 2012, Jam 13.00.

190Ibid.

Perbedaan pandangan mengenai kapan kehidupan dimulai ini berakibat pada perbedaan tafsir mengenai ketentuan yang diatur dalam Kitab Undang-udang Hukum Pidana (KUHP) dan Undang-undang kesehatan. Jika melihat Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) itu sendiri, usia kandungan tidak menjadi persoalan hukum.

Satu hari, satu bulan, maupun empat bulan sama saja, karena ada janin yang dikeluarkan secara paksa.191 Namun tidak termasuk dalam Ketentuan di dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang aborsi terdapat pada Pasal 346, 347, 348, 349, dan 350.

1. Pasal 346 berunsurkan sebagai berikut:192 a) perempuan

b) dengan sengaja

c) menyebabkan gugur atau mati kandungannya d) menyuruh orang lain untuk itu

e) dihukum penjara selama-lamanya empat tahun

Perempuan yang sengaja menggugurkan atau membunuh kandungannya atau suruhan orang lain untuk itu, dikenakan pasal ini. Orang yang sengaja menggugurkan atau membunuh kandungan seorang perempuan dengan tidak izin perempuan itu dihukum menurut pasal 347, apabila dilakukan dengan izin perempuan itu, dikenakan pasal 348. Cara menggugurkan atau membunuh kandungan itu rupa-rupa, baik dengan obat yang diminum, maupun dengan

191Istibsjaroh, Op. Cit., hal. 56.

192Ibid.

alat-alat yang dimasukkan melalui anggota kemaluan. Menggugurkan kandungan yang sudah mati, tidak dihukum, demikian pula tidak dihukum orang yang untuk membatasi kelahiran anak mencegah terjadinya hamil. Jika seorang tabib, bidan atau ahli obat membantu kejahatan dalam pasal 347 dan 348, maka bagi mereka hukumannya ditambah dengan sepertiganya dan dapat dipecat dari jabatannya Pasal 349.

2. Pasal 347 berunsurkan:193 a) barang siapa

b) dengan sengaja

c) menyebabkan gugur atau mati kandungannya seorang perempuan d) tidak diizinkan oleh perempuan itu

e) dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun.

Ditambahkan dalam ayat 2, jika karena perbuatan itu perempuan mati maka dia dihukum penjara selama-lamanya lima belas tahun.

3. Pasal 348 berunsurkan:194 a) barang siapa

b) dengan sengaja

c) menyebabkan gugur atau mati kandungannya seorang perempuan d) dengan izin perempuan itu

e) dihukum penjara selama-lamanya lima tahun enam bulan.

193Ibid., hal. 57.

194Ibid.

Ditambahkan dalam ayat 2, jika karena itu perempuan mati, maka dia dihukum penjara selamalamanya tujuh tahun.

4. Pasal 349 secara spesifik menentukan sanksi pidana bagi mereka yang melakukan aborsi dalam kerangka profesi mereka yakni membantu salah satu kejahatan yang tersebut dalam pasal 346, 347, dan 348, maka hukumannya dapat ditambah sepertiga dari yang terdapat dalam ketentuan yang dilanggar dan dapat dipecat dari jabatannya yang digunakan untuk melakukan kejahatan tersebut.195

Sebaliknya apabila dokter dan sebagainya itu menggugurkan atau membunuh kandungan untuk menolong jiwa perempuan, atau menjaga kesehatannya, tidak dihukum.

5. Pasal 350 pada waktu menjatuhkan hukuman karena makar mati, pembunuhan direncanakan atau karena salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 344, 347 dan 348, dapat dijatuhkan hukuman mencabut hak yang tersabut dalam pasal 35 Nomor 1-5.196

Dari rumusan yang ada yang disebut tindak pidana hanyalah yang berupa

“menyebabkan gugur atau mati kandungan” yang berarti tidak mempermasalahkan usia kandungan dan tidak mempermasalahkan cara melakukannya.197 Di dalam KUHP sendiri, istilah aborsi lebih dikenal dengan sebutan “pengguguran dan pembunuhan kandungan” yang merupakan perbuatan aborsi yang bersifat kriminal

195Ibid.

196Ibid., hal. 58.

197Ibid.

(abortus provokatus criminalis). Istilah kandungan dalam konteks tindak pidana ini menunjuk pada pengertian kandungan yang sudah berbentuk manusia maupun kandungan yang belum berbentuk manusia.198

Berdasarkan aturan-aturan yang terdapat dalam KUHP terlihat jelas bahwa tindakan aborsi disini merupakan suatu tindakan yang melanggar hukum karena perbuatan aborsi yang dilakukan tanpa alasan kesehatan/alasan medis yang jelas.

Pelaku melakukan perbuatan aborsi karena memang sejak awal tidak menginginkan keberadaan bayi yang akan dilahirkan, biasanya hal ini dilakukan karena kehamilan yang terjadi di luar nikah atau karena takut akan kemiskinan dan tidak mampu membiayai hidup anak tersebut kelak apabila telah lahir ke dunia. Selain itu, jika melihat pada ketentuan yang terdapat dalam KUHP, perbuatan aborsi (baik pengguguran maupun pembunuhan kandungan) harus dapat dipertanggungjawabkan secara pidana oleh wanita hamil yang melakukan aborsi maupun orang yang membantu proses aborsi tersebut. Dengan demikian, baik pelaku maupun yang membantu perbuatan aborsi dapat dikenakan sanksi pidana.199

Dari perundang-undangan yang berlaku di Indonesia hak aborsi dibenarkan secara hukum jika dilakukan karena adanya alasan atau pertimbangan medis atan kedaruratan medis. Dengan kata lain, tenaga medis mempunyai hak untuk melakukan aborsi bila dan pertimbangan medis atau kedaruratan medis dilakukan untuk

198Lysa Angrayni,

http://www.uinsuska.info/syariah/attachments/143_Lysa%20Angrayni%20Ok1.pdf, diakses tanggal 29 Juni 2012.

199Ibid.

menyelamatkan nyawa ibu hamil. Berdasarkan Undang-undang nomor 36 tahun 2009, Pasal 75 bahwa setiap orang dilarang melakukan aborsi dapat dikecualikan berdasarkan indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan dan aturan ini diperkuat dengan Pasal 77 undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan yang berisi pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 undang-undang kesehatan mengenai tindakan aborsi yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab secara bertentangan dengan norma agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan.200

Bagi beberapa orang, “tindakan medis tertentu” diartikan sebagai aborsi, tetapi di sisi lain pemerintah atau pengadilan bisa saja menafsirkan sebagai tindakan selain aborsi, sebab pada kalimat awal ditegaskan bahwa pengguguran kandungan atas alasan apapun dilarang. Yang boleh diambil adalah tindakan medis tertentu.201 Berdasarkan ketentuan UU Kesehatan tersebut, jika dikaitkan dengan aborsi KTD (kehamilan yang tidak diinginkan) akibat perkosaan, kita dapat menyimpulkan yang pertama, secara umum praktik aborsi dilarang. Yang kedua, larangan terhadap praktik dikecualikan pada beberapa keadaan, kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan.202

200Jimmy Tambunan, http://www.tubasmedia.com/berita/tentang-aborsi-kuhp-dengan-uu-kesehatan-berbeda/, diakses tanggal 29 Juni 2012, Jam 20.00 WIB.

201Istibsjaroh, Op. Cit., hal. 60.

202Sri Nelis, http://www.sumbaronline.com/berita-4240-aborsi-dan-hukumnya-di-indonesia--.html, diakses tanggal 29 Juni 2012, Jam 20. 05.

C. Akibat Hukum Yang Timbul Setelah Ditetapkan Fatwa Majelis Ulama