• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUKUM ISLAM

Dalam dokumen PENGANTAR HUKUM INDONESIA (Halaman 140-144)

A. Pengertian

Istilah “Hukum Islam” merupakan terminologi yang berbahasa Indonesia dari kata “hukum” dan "lslam”. Apabila kedua kata bersebut digabungkan sebagai frase “Hukum Islam”, secara sederhana bermakna hukum menurut agama Islam. Dengan perkataan lain hukum Islam adalah hukum yang bersumber pada Al Qur'an, Sunah dan Ijtihad

Lazimnya frase “Hukum Islam" dipergunakan sebagai terjemahan dan bahasa arab “syariah” atau “fiqih” merupakan dua istilah yang maknanya berbeda. Kedua konsep inilah merupakan kata-kata kunci apabila berbicara tentang hukum Islam.

B. Hukum Islam sebagai Bagian Kerangka Daaar Agama Islam

Islam merupakan agama samawi dengan sistem yang selaras dengan perintah Allah dan wahyu-Nya; yakni Al Qufan dan sejalan pula dengan tuntunan Nabi Muhammad dan sunnahnya. Sebagai agama wahyu yang terakhir, Islam mengandung 3 ajaran sebagai sistem yang total. Ketiga sub sistem ajaran tersebut adalah aqidah (keimanan), syari’ah (hukum), serta ahlak. Ketiga komponen tersebut merupakan kerangka dasar agama Islam yang mengatur segala tingkah laku manusia baik dalam hubungannya dengan Tuhan (habi Min Alloh) maupun dalam hubungan dengan seams mahluk (habi Min Annas).

Perkembangan lanjut dari kerangka dasar tersebut memunculkan sistem-sistem Islam, misalnya sistem hukum Islam, sistem pandidikan Islam, sistem politik Islam, sistem ekonomi Islam, dan lain-lain. Disebut sistem karena sebagai satu kesatuan, ia terdiri atas bagian-bagian yang saling menopang dan bekerja sama untuk mencapai satu tujuan, baik tujuan masing-masing sistem itu maupun tujuan sistem ajaran Islam secara keseluruhan.

C. Tujuan Hukum Islam

Apabila mempelajari dengan seksama ketetapan Alloh dan ketentuan Rasul- Nya yang berdapat di dalam Al Qur’an dan kitab-kitab hadist yang shahih, kita segera dapat, mengetahui tujuan hukum Islam. Secara umum sering dirumuskan bahwa tujuan hukum Islam adalah kebahagiaan hidup manusia di dunia ini dan di akherat kelak, dengan Jalan mengambil (segala) yang bermanfaat dan mencegah atau menolak yang mudarat, yaitu

yang tidak bermanfaat bagi hldup dan kehidupan. Dengan kata lain, tujuan hukum Islam adalah kemaslahatan hidup manusia, baik rohani maupun jasrmani, baik individual maupun sosial. Kemaslahatan itu tidak hanya untuk kehidupan di dunia ini saja, melalnkan juga untuk kehidupan kekal di akherat kelak.

Menurut Abu Ishaq al Sathibi, tujuan hukum lslam dapat dirumusknn dalam 5 (lima) tujuan, yaitu terpeliharanya 1). Agama, 2). Jiwa, 3). Akal, 4). Keturunan, 5). Harta. Kelima tujuan hukum Islam inilah yang dalam kepustakaan disebut al maqasid al khamsah atau al maqasid as syari'ah.

D. Pembldangan Hukum Islam

Pembidangan hukum Islam, apabila disusun menurut sistematika hukum barat yang membedakan hukum perdata (privat) dan hukum publi, maka dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Hukum Perdaba (privat) mellputl : a. Munakahat

b. wirasah, dan

c. muamalah dalam arti khusus. 2. Hukum Publik, meliputi :

a. jinayat

b. at ahkam as sulthaniyah, dan c. as siyar.

Hukum waris Islam dan hukum Perkawinan Islam belah diresepsi dan merupakan hukum positif bagi orang-orang Indonesia asli yang beragama Islam. Resepsi hukum artinya penerimaan unsur hukum asing sebagai unsur hukum sendiri.

E. Hukum Perkawinan

a. Perkawlian adalah suatu perjanjian antara mempelai lelaki di satu pihak dan wali dari mempelai perempuan di lain pihak, dalam mana si wali menyatakan pemasrahannya (ijab) yang disusul oleh (Qobul) dari bakal suami, pernyataan mana disaksikan oleh sedikit-sedikitnya dua saksi.

b. Syarat-syarat (rukun) perkawinan menurut Islam

1. mempelai perempuan dan mempelai lelaki harus termasuk orang yang tidak muhrim (haram)

1.a. karena nisab (ada pertalian famili dalam garis ke atas atau ke bawah) 1.b. karena musyaharah (misalnyn anak kawin dengan lbu/ayah tiri) 1.c. karena saudara setetek

1.d. karena wathi (bapak kawin dengan anak) .

1.e. karena perbedaan drajat, disebabkan karena kelahiran; pekerjaan; kedudukan atau agama

2. Wali

3. Sedikit-dikitnya dua orang saksi 4. Ijab qobul

c. Sebab-sebab putusnya perkawinan menurut hukum Islam, karena : 1. Talaq (perceraian)

d. 2, Kematian 2. Murtad

3. Chul(Chulu) = talak tebus 4. Fash/Chiyar

5. Liaan 6. Ila’ (lelaa) 7. Zihar

F. Hukum Warisan (Fara’id) menurut Hukum Islam

Dalam hukum warls tersangkut tiga hal yaitu :

1. Pewaris ialah orang yang meninggal dunia dan meninggalkan warisan

2. Ahli waris ialah orang-orang yang masih hidup yang berhak akan harta warisan 3. Harta warisan ialah harta benda yang ditinggalkan oleh pewaris

Kewajlban bagi ahli waris

Selain hak-hak yang belah diberikan oleh hukum kepada ahli.waris untuk menerima pembagian harta warisan, hukum juga memberi kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh para ahli “waris tersebut, antara lain :

1. Mengubur mayat, sesuai dengan syarat penguburan mayat

2. Membayar hutang mayat; kalau hutang mayat lebih besar dari pada harta warisan, maka ahli waris yang bertanggung-jawab

3. Melaksanakan wasiat, maksimal sepertiga dari harta warisan

5. Membagikan harta pusaka kepada semua ahli waris menuut ketentuan hukum.

Adapun bagi mereka yang beragarna Islam untuk melangsungkan perkawinan disamping diatur oleh Undang-Undang No. 1 tahun 1974 juga diatur dalam Undang- Undang No. 32 Tahun 1954 tentang Penetapan Berlakunya Undang-Undang RI No. 22 tahun 1946 tentang pencatatan nikah, talak, dan rujuk, di seluruh Indonesia.

Kemudian pada tanggal 10 Juni 1991 telah dikeluarkan Instruksi Presiden Republik Indonesia No. 1 tahun 1991 tentang kompilasi Hukum Islam. Yang isinya mengenai :

- Buku I tentang Hukum Perkawinan. - Buku II tentang Hukum Kewarisan. - Buku III tentang Hukum Perwakafan.

Kompilasi Hukum Islam mempakan pemujudan kesepakatan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

136

DAFTAR PUSTAKA

Abdulkadir Muhammad, 1984, “Hukum Dagang Tentang Surah-surat Berharga”, Alumni, Bandung.

Achmad Sanusi, 1997, “Pengantar Ilmu Hukum dan Pengantar Tata Hukum Indonesia”, Tarsim, Bandung.

A. siti Soetami, 1998, “Pengantar tata Hukum Indonesia”, Cet. 1, Liberty, Yogyakarta. Bushsan Mustafa, 1984, “Sistem Hukum Indonesia” Remaja Karya, Jakarta

C.S.T. Kansil, 1997, “Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia” PN. Balai Pustaka, Jakarta.

C.S.T. Kansil, 1989, “Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia” Cet. III. Balai Pustaka, Jakarta.

C.S.T. Kansil, 1986, “Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia”. Balai Pustaka, Cet. Ke-7, Jakarta.

Hartono Hadisoeprapto, 1988, “Pengantar Tata Hukum Indonesia” Cet. I, Liberty, Yogyakarta.

H. Kaelan, 2000, “Pendidikan disusun Berdasarkan SK Dikti No. 467/Dikti/KEP/199 segi

Yuridis dan Filosofis” Edisi ke 4, Paradigma, Yogyakarta.

Imam Soepomo, 1985, “Pengantar Hukum Perburuhan” Djambatan, , Cet.ke-7, Jakarta. Kusumadi Pudjosewojo, 1961, “Pedoman Pelajaran Tata Hukum Indonesia” PT. Penerbitan

Universitas, Jakarta.

Mardiadmo, 1988, “Perpajakan” Andi, Yogyakarta.

Mochtar Kusumaatmadja, 1989, “Pengantar Hukum Internasional” Bina Cipta, Cet. Ke-6, Jakarta.

R. Abdoel Djamali, 1983, “Pengantar Hukum lndonesia” Rajawali Pers, Jakarta. Samidjo, 1985, “Pengantar Hukum Indonesia”, Armico, Bandung.

Soerojo Wignyodipoero, 1967, “Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat”, Gunung Agung- Jakarta, Bandung.

SA. Markun, Moh. Mahfud, 1987, “Pokok-Pokok Hukum Administrasi Negara”, Liberty, Yogyakarta

Utrech, 1991, “Pengantar Dalam Hukum Indonesia”, PT. Penerbitan dan Balai Buku Ichtiar, Jakarta.

K. Wantjik Saleh & budiarto, 1992, “KUHAP Dengan Uraian Ringkas”, Ghalia Indonesia, Jakarta.

Dalam dokumen PENGANTAR HUKUM INDONESIA (Halaman 140-144)