&rÛ
PENGERTIAN RUJUK
E. HUKUM TALAK DAN RUJUK
#ΤÎ
’
ω
Ÿ
ƒt
Ζ
3Å
x
ß
)Î
ω
—y
#ΡÏ
Šu
πº
&r
ρ÷
Βã
³
ôÎ
.x
πZ
ρu
#$9
Ҭ
#ΡÏ
‹u
πè
ω
Ÿ
ƒt
Ζ
3Å
s
ßγy
$!
)Î
ω
—y
#
β
A
&r
ρ÷
Βã
³
ôÎ
8
Ô
4
ρu
m
ãhÌ
Πt
Œs
≡9Ï
7
y
ãt
?n
’
#$9ø
ϑß
σ÷
ΒÏ
ΖÏ
⎫
⎦t
∪
⊂
∩
"Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mu'min. " (QS. An-Nuur: 3)
Akan tetapi kalau perempuan pezina tersebut sudah bertobat, halallah perkawinan yang dilakukannya.Sesuai dengan sabda Rasulullah J yang artinya ”Orang-orang yang bertobat dari
dosa-dosanya seolah-olah seperti orang yang tidak mempunyai dosa.”
Dengan demikian, secara lahiriah perempuan pezina kalau benar-benar bertobat, maka dapat kawin dengan laki-laki yang bukan pezina (baik-baik).
E. HUKUM TALAK DAN RUJUK
Talak artinya melepaskan ikatan. Dalam hubungannya dengan ketentuan hukum perkawinan. Talak berarti lepasnya ikatan pernikahan dengan ucapan talak atau lafal lain yang maksudnya sama dengan talak. Talak adalah hak suami. Artinya, istri tidak bisa melepaskan diri dari ikatan pernikahan kalau tidak dijatuhi talak oleh suaminya.
Talak itu menurut hukum asalnya adalah makruh. Demikian pendapat ulama Syafi'iah dan Hanbaliah. Pendapat mereka berasal dari sabda Rasulullah J . tentang perbuatan halal yang paling dibenci di atas.
Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa pada dasarnya talak adalah haram. Mereka beralasan dengan sabda Rasulullah saw yang artinya " mengutuk orang yang kawin hanya bermaksud mencicipi dan sering mencerai istri."
Di samping makruh sebagai hukum asalnya, talak dapat menjadi wajib, sunah, atau haram, karena alasan-alasan tertentu.
1. Wajib jika antara suami istri sering terjadi pertengkaran dan sudah diatasi dengan hakim atau wasit (juru damai) dari kedua belah pihak, namun proses perdamaian tidak berhasil mendamaikannya lagi. Akhirnya dicapai kesepakatan mengambil jalan terakhir, yaitu bercerai.
2. Sunah, jika suami tidak sanggup lag] memberikan nafkah atau istri tidak dapat menjaga kehormatannya.
3. Haram jika talak atau perceraian itu akan membawa kerugian bagi kedua belah pihak.
1. Macam-Macam Talak Ditinjau dari Segi Jumlah
Suami berhak menjatuhkan talak terhadap istrinya sampai tiga kali dalam tiga periode. Pada talak satu dan dua, suami berhak merujuk (kembali lagi) kepada istrinya sebelum habis masa iddahnya, atau kawin dengan akad baru apabila masa iddahnya sudah habis. Setelah talak tiga, suami tidak boleh merujuk dan tidak boleh nikah lagi sebelum bekas istrinya menikah dengan orang lain dan sudah dicampuri serta sudah dicerai oleh suami kedua secara normal.
Jadi, dari segi jumlah talak yang dijatuhkan, talak dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu : a. Talak satu, yaitu talak yang pertama kali dijatuhkan dan hanya dengan satu talak;
b. Talak dua, yaitu talak yang dijatuhkan untuk yang kedua kalinya atau untuk pertama kali, tetapi dengan dua talak sekaligus;
c. Talak tiga, yaitu talak yang dijatuhkan untuk yang ketiga kalinya atau untuk pertama kali, tetapi tiga talak sekaligus.
Para ulama sepakat bahwa talak dua atau talak tiga yang dijatuhkan dalam waktu yang berbeda akan jatuh talak dua atau talak tiga, tetapi mereka berbeda pendapat, apakah talak dua atau talak tiga yang dijatuhkan sekaligus jatuh talak dua atau talak tiga. Jatuh talak satu, atau talaknya tidak sah.
Jumhur ulama berpendapat bahwa talak demikian jatuh talak dua atau talak tiga. Sebagian ulama di antaranya Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayim, dan Asy-Syaukani, berpendapat bahwa talak demikian mengakibatkan hanya jatuh talak satu. Ulama lain di antaranya ulama Zahiriyah, herpendapat bahwa talak demikian tidak sah sehingga satu talak pun tidak jatuh.
2. Macam-Macam Talak Ditinjau dari Segi Keadaan Istri
Ditinjau dari segi keadaan istri ketika suami menjatuhkan talak kepadanya, talak terbagi menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut.
a. Talak sunah, yaitu talak yang dijatuhkan kepada istri yang pernah dicampuri ketika ia: 1) dalam keadaan suci dan pada waktu suci belum dicampuri, atau
2) dalam keadaan hamil dan sudah jelas hamilnya.
b. Talak bid'ah, yaitu talak yang dijatuhkan kepada istri yang sudah pernah dicampuri ketika: 1) Ia dalam keadaan haid, atau
2) Ia dalam keadaan suci, tetapi pada waktunya suci itu sudah dicampuri. Talak bid'ah hukumnya haram.
c. Talak bukan sunah dan bukan bid'ah, yaitu talak yang dijatuhkan kepada istri yang: 1) belum pernah dicampuri, atau
2) tidak berdarah haid karena masih kecil atau sudah berhenti masa haidnya.
Sebagian ulama memasukkan talak yang ketiga ini ke dalam talak sunah, karena mereka membagi talak hanya kepada talak bid'ah dan talak sunah saja. Mereka mengatakan bahwa selain talak bid'ah adalah talak sunah. Talak bid'ah adalah yang dilarang tetapi talaknya sah. Sedangkan talak sunah adalah talak yang dibolehkan.
3. Macam-Macam Talak Ditinjau dari Segi Kebolehannya Rujuk atau Kawin Kembali
Ditinjau dari apakah suami boleh rujuk kembali dan apakah suami boleh kawin kembali dengan istri yang telah ditalaknya, talak terbagi dua, yaitu sebagai berikut :
a. Talak raj'i, yaitu talak yang boleh dirujuk kembali sebelum masa iddahnya berakhir. Talak satu dan talak dua kepada istri yang sudah pernah dicampuri. berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya "Talak (yang dapat rujuk) adalah dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi
dengan cara baik-baik atau menceraikannya dengan cara yang baik-baik pula." (QS. Al-Baqarah:
229)
b. Talak ba'in, yaitu talak yang menghalangi suami untuk rujuk kembali.
Talak ba'in ada dua macam, yaitu sebagai berikut :
1) Talak ba'in kubra, yaitu talak tiga. Pada talak ba'in kubra ini suami tidak boleh rujuk dan tidak boleh menikah lagi sebelum istrinya yang tertalak itu nikah dengan suami lain dan sudah dicampuri kemudian diceraikan oleh suami kedua. Firman dalam Al-Qur’an.
"Kemudian jika si suami menolaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan istri) untuk kawin
kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum ....
(QS. Al-Baqarah: 230)
2) Talak Win sugra, yaitu talak yang tidak boleh dirujuk lagi, tetapi mantan istri itu boleh dinikahi kembali dengan akad dan mas kawin baru dan perempuan itu tidak arus kawin dengan suami lain.
Termasuk talak ba'in sugra adalah sebagai berikut :
a. Talak yang dijatuhkan kepada istri yang belum pernah dicampuri.
b. Talak satu dan dua dijatuhkan kepada istri yang pernah dicampuri, tetapi dengan tebusan dari pihak istri (khulu') kepada yang ketiga termasuk ba'in kubra.
c. Talak satu dan dua yang jatuh karena terjadi persengketaan yang tidak dapat didamaikan itu iddahnya sudah habis.
d. Talak satu dan dua yang jatuh karena ia (sumpah).
Di samping macam-macam talak seperti yang telah dijelaskan di atas, ada satu jenis perceraian yang menghalangi suami untuk rujuk maupun kawin kembali dengan istri yang telah dicerainya, yaitu perceraian karena Wanita dan karena timbul sebab-sebab yang merusak akad nikah secara resmi, seperti akan diterangkan dalam pembicaraan mengenai fasakh.
4. Macam-Macam Talak Ditinjau dari Segi Cara Menjatuhkannya
Ditinjau dari cara menjatuhkannya apakah langsung dijatuhkan atau diisyaratkan dengan sesuatu, talak dapat dibagi menjadi dua macam yaitu sebagai berikut.
1) Talak ghairu mu'allaq, yaitu talak yang tidak dikaitkan dengan sesuatu yang lain, atau misalnya kata-kata suami kepada istriya, "Engkau telah saya talak", "Engkau tertalak", dan sebagainya. Setelah kata-kata itu diucapkan, maka sccara hukum talak telah jatuh. 2) Talak mu'allaq, yaitu talak yang dikaitkan dengan scsuatu syarat tertentu. Talak
Mu'allaq in] jatuh ketika syarat yang disehutkan itu terwujud. Misalnva, suami berkata "Engkau tertalak apabila engkau meninggalkan shalat" atau "Engkau tertalak apabila aku tidak memberimu uang belanja sebulan". Selanjutnya, talak itu jatuh pada saat istrinya meninggalkan shalat, atau genap scbulan lamanya suami itu tidak memberi uang belanja. Persyaratan yang dikaitkan dengan jatuhnya talak ini disebut ta'liq talak. Sudah dijelaskan bahwa perceraian (talak) itu hukumnya mubah (boleh), tetapi bukan merupakan Plan yang harus selalu ditempuh, perceraian adalah jalan terakhir apabila tidak ada jalan lain untuk damai. Selama masih ada jalan lain yang bisa ditempuh, sebaiknya perceraian tidak dilaksanakan. Sabda Rasulullah J .
"Perbuatan yang halal yang paling dibenci adalah talak." (HR. Abu Daud dan Hakim).
Hadis ini mengisyaratkan jika timbul masalah dalam hubungan suami istri, sebelum ditempuh penyelesaian dengan perceraian, harus diusahakan pemecahan yang memungkinkan rukun kembali hubungan mereka. Sebelum jatuh talak, harus dipikirkan
terlebih dahulu secara matang, semua aspek keuntungan dan aspek kerugiannya, sisi manfaat serta sisi mudaratnya. Dengan demikian, diharapkan tidak terjadi penyesalan di kemudian hari.
Itulah prinsip yang harus dipegang dalam penyelesaian masalah yang mengancam kelangsungan atau keutuhan rumah tangga. Kadang-kadang terjadi pula, talak dijatuhkan setelah mempertimbangkan untung ruginya serta positif dan negatifnya, tetapi setelah bebcrapa waktu berlaku, timbul perkembangan baru yang membuat salah satu pihak menyesali perbuatannya.
Jika terjadi keadaan demikian, langkah untuk kembali mcnyambung ikatan perkawinan masih tersedia, yaitu rujuk, jika talaknya talak raj'i dan perempuan masih dalam masa iddah.
Dalam syariat tentang rujuk itu terkandung banyak manfaat, antara lain : a. Rujuk akan Mewujudkan Islah
lslah adalah perdamaian setelah terjadi perpecahan atau perselisihan, jatuhnya talak dalam suatu perkawinan berarti terjadinya perpecahan suami dan istri. Dengan rujuk perpecahan dapat diperbaiki kembali. Seperti diketahui, agama Islam menganut prinsip bahwa antarmukmin itu terjalin hubungan persaudaraan, termasuk suami dan istri. Jadi, tidaklah layak jika di antara sesama saudara itu terjadi perpecahan. Andaikata karena suatu sebab perpecahan itu tcrjadi juga, diusahakan kedua belah pihak melakukan islah atau perdamaian, sebagaimana diperintahkan dalam firman-Nya:
"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah kedua saudaramu, dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (Al-Hujaraat: 10)
b. Rujuk akan Menghindari Pecahnya Hubungan Kerabat
Di antara akibat buruk yang ditimbulkan perceraian adalah pecahnya ikatan kekeluargaan antarkeluarga dari pihak istri dan pihak suami. Dengan melakukan rujuk berarti terikat kembali hubungan kekeluargaan yang sempat retak akibat perceraian itu sehingga tercipta kembali untuk menciptakan persatuan dan persaudaraan di kalangan umat Islam.
c. Rujuk akan Menghindarkan Terbengkalainya Pendidikan Anak
Akibat buruk lain yang timbul karena perceraian adalah terbengkalainya pendidikan anak. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak contoh pendidikan anak-anak yang orang tuanya bercerai menjadi kurang terurus sebagaimana mestinya. Dengan rujuk kembali, berarti akan terhindar dari akibat buruk yang pengaruhnya akan terus sampai menjadi dewasa.
d. Rujuk akan Menghindarkan Gangguan Jiwa (Stres)
Perceraian walaupun dilakukan dengan pertimbangan matang, sedikit atau banyak pasti akan mengganggu ketenangan jiwa, baik bagi suami, istri, maupun anak-anak yang jiwanya tidak teratasi dengan baik akan membawa pengaruh terhadap diri yang bersangkutan. Pengaruh itu, seperti stres (tekanan jiwa), kekecewaan, dan kesedihan. Dengan rujuk akan terhindarlah kemungkinan timbulnya akibat buruk tersebut dan semua pihak yang bersangkutan akan mendapatkan kembali ketenteraman jiwanya.
e. Rujuk dapat Menghindarkan Perbuatan Dosa
Sudah dijelaskan bahwa di antara macam-macam talak ada yang hukumnya haram, yaitu talak bid'i, talak dijatuhkan ketika istrinya dalam keadaan haid atau dalam keadaan suci tapi telah dicampuri. Dengan adanya syariat rujuk, maka suami yang terlanjur menceraikan istrinya, dengan talak hid'i dapat merujuk kembali istrinya, kemudian menalaknya kembali dengan talak sunni atau bahkan meneruskan perkawinan. Dengan demikian, suami telah terhindar dari perbuatan dosa yang dilarang oleh agama.
f. Rujuk Memungkinkan Suami Menunaikan Kewajiban yang Ditinggalkan Karena Perceraian
Suami yang beristri lebih dari satu orang mempunyai kewajiban untuk memberikan giliran pada istri-istrinya dengan adil. Jika terjadi perceraian sebelum hak istrinya yang dicerai itu dipenuhi, berarti suami telah melalaikan kewajibannya, dan kewajiban ini tidak dapat ditunaikan lagi seandainya rujuk. Suami yang beristri lebih dari satu kemudian menalak salah satunva sebelum hak gilirannya dipenuhi wajib merujuknya kembali kemudian memenuhi kewajibannya memberikan giliran.
F. KETENTUAN PERKAWINAN UNDANG-UNDANG DI INDONESIA