• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA

Dalam dokumen MODUL PAI SMA KELAS XII (Halaman 77-82)

&rÛ

PENGERTIAN RUJUK

A. PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA

Agama Islam masuk ke Indonesia bukan dari pedagang India atau Persi, melainkan langsung datang dari Arab dan penyiarnya orang Arab Islam. Mengenai tempat-tempat seperti Cambay, Gujarat, dan Malabar itu hanya merupakan tempat persinggahan bagi para penyiar Islam ke Indonesia. Pada umumnya pembawa agama Islam ke Indonesia itu adalah pedagang. Mereka merasa berkewajiban menyiarkan agama Islam kepada orang lain, meskipun misi khusus mereka bukan menyiarkan agama Islam. Agama Islam masuk ke Indonesia dengan cara damai, tidak dengan kekerasan atau peperangan, dan tidak dengan paksaan. Adapun daerah di Indonesia yang mula-mula dimasuki Islam adalah Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Jawa Tengah. Kemudian lama-kelamaan agama Islam berkembang ke seluruh pelosok tanah air dengan pesatnya.

Pendapat beberapa ahli tentang waktu dan daerah yang mula-mula dimasuki Islam di Indonesia, antara lain sebagai berikut.

a. Drs. Juned Pariduri

Berdasarkan penyelidikannya terhadap sebuah makam Syaikh Mukaiddin di Tapanuli, makam tersebut berangka tahun 48 Hijriah (tahun 670 Masehi). Beliau berkesimpulan bahwa agama Islam masuk di Sumatera Utara (Tapanuli) pada abad ke-7 (tahun 670 Masehi).

b. Dr. Hamka

Beliau bcrpendapat bahwa agama Islam masuk ke Jawa pada abad ke-7 (tahun 674 Masehi). Raja Ta-Cheh mengirimkan utusan menghadap Ratu Sima dan menaruh pundi-pundi berisi emas di tengahtengah jalan dengan maksud untuk menguji kejujuran, keamanan, dan kemakmuran negeri itu. Menurut Dr. Hamka, Raja Ta-Cheh adalah Raja Arab Islam.

c. Zaina! Arifin Abbas

Beliau berpendapat bahwa agama Islam masuk di Sumatera Utara pada abad ke-7 (tahun 648 Masehi). Pada waktu itu telah datang di Tiongkok seorang pemimpin Arab Islam dan telah mempunyai pengikut Islam di Sumatera Utara.

Para ahli tersebut berpendapat bahwa agama Islam masuk di Indonesia pada abad ke-7. Sedangkan pada abad ke-I3 agama Islam sudah berkembang dengan pesatnya dan telah merata di seluruh Indonesia. Hal itu ditandai dengan adanya penemuan-penemuan batu nisan atau makammakam yang berciri khas Islam.

Contohnya antara lain sebagai berikut :

a. Di Leran (dekat Gresik) terdapat sebuah batu bersurat keterangan tentang meninggalnya seorang perempuan bernama Fatimah binti Maimun pada tahun 1082 Masehi.

b. Seorang Italia bernama Marco Polo mengadakan perjalanan dari Tiongkok ke Persia pada tahun 1292 dan singgah di Aceh. Di Perlak ia menjumpai penduduk yang beragama Islam dan pedagang Islam dari India yang menyebarkan agama Islam.

c. Di Samudera Pasai terdapat makam-makam raja Islam, di antaranya makam Sultan Malik as-Saleh yang meninggal tahun 676 Hijriah atau 1292 Masehi. Putranya, Malik at-Tahir, memerintah sampai tahun 1326 Masehi.

Dari kerajaan Samudera Pasai agama Islam menyebar ke seluruh Pulau Sumatera lalu menyebar ke Pulau Jawa. Setelah itu di Indonesia berdiri kerajaan-kerajaan Islam yang besar dan menjadi pusat penyebaran agama Islam. Kerajaan-kerajaan tersebut antara lain Demak, Banten, Cirebon, Aceh, Mataram, Pajang, Makassar, dan sebagainya.

1. Perkembangan Islam di Sumatera

Sudah kita ketahui bahwa agama Islam masuk ke Sumatera pada abad ke-7 Masehi. Pada waktu itu di Sumatera sudah berdiri kerajaan Buddha di Sriwijaya pada tahun 683-1030 Masehi sehingga Islam masuk ke daerah itu agak mengalami kesulitan. Setelah kerajaan Sriwijaya mendapat serbuan dari India, maka merupakan kesempatan yang baik bagi daerah-daerah sekitarnya untuk menyiarkan agama Islam, seperti Samudera Pasai sehingga berdirilah kerajaan Islam yang pertama kali di Pasai.

Kemudian berkembanglah agama Islam di daerah Aceh dan Sumatera Utara, dan berkembang pula agama Islam dari Pasai ke Malaka, Tapanuli, Riau, Minangkabau, Kerinci, dan ke daerah-daerah lainnya. Sri Ratu Aceh mcngirimkan mubalig ke Gowa di Sulawesi dan Pasai mengirimkan ulama ke Patani di Maluku untuk berdakwah.

Sedangkan agama Islam masuk ke Minangkabau melalui Pariaman, kota Tiku, dan Ulaka yang dibawa oleh muslimin dari Aceh. Dari Minangkabau masuk mendekati pusat Kerajaan Pagaruyung-yang masih berpegang

teguh pada adatnya dan agama Hindu. Setelah agama Islam berkembang di Minangkabau, bangunan seni Islam terpengaruh olehnya. Semula di antara pemcluk Islam dan kaum adat terjadi pertentangan yang sebenarnya kaum adat juga membenarkan perilaku agama, tetapi mereka cnggan mengubahnya lalu terjadi perang Padri (1821-1873 M). Di tengahtengah perang saudara, tiba-tiba berubah menjadi bersatu kembali untuk melawan kolonial Belanda. Akhirnya, Minangkabau menjadi benteng Islam di Indonesia. Kemudian agama Islam

berkembang ke Indragiri, Riau, Bangka, dan Belitung, Islam mengalami kemajuan yang pesat pada waktu Malaka mencapai kejayaannya.

Sedangkan suku Kerinci pada waktu itu juga sudah masuk Islam, hanya saja pengetahuan agama Islam baru sedikit sehingga dalam pengamalannya belum tertib. Agama Islam masuk ke Sriwijaya pada tahun 1440 Masehi yang disiarkan oleh Raden Rahmat, sebelumnya Sriwijaya adalah kerajaan Buddha. Adapun penyiaran agama Islam ke Lampung oleh anak negeri sendiri, yaitu Raja Minak Kumala Bumi dari Lampung. Mula-mula beliau belajar di Banten (abad ke-16 Masehi) lalu menunaikan ibadah haji ke Mekah, sepulang dari Mekah beliau menyiarkan agama Islam di Lampung.

2. Perkembangan Islam di Jawa

Agama Islam masuk ke Jawa Tengah pada masa pemerintahan Sima tahun 674 Masehi. Sedangkan masuknya Islam ke Jawa Timur terbukti dengan ditemukannya makam Fatimah binti Maimun pada tahun 1082 Masehi dan ditemukannya batu nisan bertuliskan Arab yang kemudian disebut "Batu Leran". Masuknya Islam ke Jawa Barat disiarkan oleh Haji Purba pada pemerintahan Prabu Mundingsari pada tahun 1190 Masehi.

Agama Islam dapat berkembang dengan pesat setelah Majapahit (Hindu) merosot kekuasaannya. Perkembangan agama Islam di Jawa tidak dapat lepas dari peranan dan andil Wali songo yang begitu gigih dalam menyiarkan agama Islam, sehingga dengan cepat agama Islam berkembang ke seluruh pulau Jawa.

Adapun nama-nama Wali songo itu antara lain sebagai berikut :

1. Maulana Malik Ibrahim dengan gelar "Maulana Magribi" atau "Jumadilkubra". Beliau berasal dari Kasyan Bangsa Arab, kemudian menyiarkan Islam di kota Gresik dan wafat pada tanggal 12 Rabiulawal tahun 852 Hijriah (9 April 1419 M).

2. Raden Rahmat (Sunan Ampel). Beliau adalah keturunan putri raja Aceh yang menikah dengan seorang penyiar Islam dari Arab. Beliau menyiarkan agama Islam di Ampel dan Surabaya, wafat tahun 1481 Masehi.

3. Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) putra Raden Rahmat. Beliau menyiarkan agama Islam yang berpusat di kota Tuban, lahir tahun 1463 Masehi dan wafat tahun 1525 Masehi lalu dimakamkan di Tuban. 4. Masih Makurat (Sunan Drajat), putra Radcn Rahmat. Beliau menyiarkan agama Islam di Sedayu, Jawa Timur. Wafat dan dimakamkan juga di Sedayu.

4. Muhammad Syahid (Sunan Kalijaga). Beliau adalah putra Ki Tumenggung Wilatika. Wilatika ini adalah bupati dari kerajaan Majapahit di Tuban. Muhammad Syahid menyiarkan agama Islam dan herpusat di Demak. Beliau wafat di Demak dan dimakamkan di Kadilangu.

5. Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri). Beliau adalah keturunan putri dari Blambangan yang diperistri oleh Maulana Ishak. Beliau belajar agama Islam di Malaka selama 3 tahun. Kemudian pulang ke Jawa dan menyiarkan agama Islam yang bcrpusat di puncak Bukit Giri (dekat Gresik). Beliau wafat di Giri dan dimakamkan di sana.

6. Raden Umar Said (Sunan Muria). Beliau adalah putra Sunan Kalijaga dan beliau menyiarkan agama Islam yang berkedudukan di Kudus. Beliau wafat di Kudus dan dimakamkan di atas Gunung Muria.

7. Syekh Ja'far Shadiq (Sunan Kudus). Beliau keturunan dari All bin Abi Thalib dan menyiarkan agama Islam yang berpusat di Kudus. Beliau wafat dan dimakamkan di Kudus.

8. Fatahilah (Sunan Gunung Jati). Beliau adalah keturunan bangsa Arab yang lahir dan dibesarkan di Pasai (Aceh). Beliau pernah bclajar agama Islam di Mekah dan tahun 1521 Masehi Puking ke Demak. Beliau selain seorang ulama juga sebagai panglima perang dan raja Banten. Setelah tua beliau menctap di Cirebon dan menyiarkan agama Islam yang berpusat di Gunung Jati, la wafat dan dimakamkan di sana. Adapun jasa Wali songo dalam penyebaran agama Islam di Jawa adalah menycbarkan agama Islam kepada penduduk pedalaman pulau Jawa. Scbelum munculnya Wali songo, agama Islam hanya berkembang di dacrah pesisir. Raden Rahmat telah mengajak raja Majapahit untuk masuk Islam tetapi raja menolak. Kemudian raja Majapahit memberi kebebasan untuk menyiarkan agama Islam yang berpusat di Ampel dan Surabaya. Wali songo berhasil mendirikan beberapa kerajaan Islam di Pulau Jawa, seperti kerajaan Demak, Pajang, dan Banten.

Fatahilah telah berhasil menyelamatkan Pulau Jawa dari serangan Portugis yang ingin menjajah dan merampas kekayaan Pulau Jawa. Wali songo juga berhasil mengubah kesenian Jawa dari pengaruh Hindu kepada pengaruh Islam, seperti "kalima sada" menjadi "kalimat syahadat" dan perayaan "sekaten" yang diadakan di Solo dan Yogyakarta tiap satu tahun sekali pada bulan Rabiulawal berasal dari kata "syahadataini" yang berarti dua kalimat syahadat, disebut pula Syahadat Tauhid dan Syahadat Rasul.

Syahadat Tauhid berbunyi: Asyhadu anla ilaaha illallah, yang artinya: Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Syahadat Rasul berbunyi: Wa asyhadu anna Muhammadar

Rasulullah, artinya: Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Cara Wali yang Mengembangkan Islam di ,Jawa Tengah

Jawa Tengah merupakan salah satu pusat kegiatan agama Islam, setelah berdirinya kerajaan Islam Demak pada tahun 1500 Masehi. Adapun para wali yang mengembangkan agama Islam di Jawa Tengah adalah sebagai berikut.

a. Sunan Kalijaga

Beliau mengajarkan agama Islam dengan memasukkan hikayat Islam ke dalam cerita wayang yang dipertunjukkan kepada rakyat. Selesai menyaksikan wayang tersebut, penonton diharapkan man membaca kalimat syahadat.

b. Sunan Kudus

Beliau mengajarkan agama Islam dengan memperdalam ilmu agama dan mengikis habis pengaruh-pengaruh Hindu. Beliau berdakwah ke pesisir Jawa Tengah bagian utara.

c. Sunan Bonang

Beliau membentuk kader-kader Islam dengan mendirikan pondok pesantren. Pelajaran yang diberikan kepada murid-muridnya dibukukan dalam bahasa Jawa yang dipengaruhi bahasa Arab. Karena dengan bahasa Jawa, orang Jawa dapat dengan mudah untuk membaca dan mcmpelajarinya.

d. Sunan Muria

Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga. Beliau menikah dengan Dewi Sujinah, kemudian mempunyai seorang putra yang bernama Pangeran Santri. Untuk kepentingan dakwahnya, beliau menciptakan lagu "Sinom dan Kinanthi".

3. Perkembangan Islam di Sulawesi

Perkembangan agama Islam di Sulawesi tidak sebaik dan sepesat di Jawa dan Sumatera. Cara peng-Islaman di Sulawesi juga dengan cara damai, tanpa kekerasan, peperangan, atau paksaan. Kadang-kadang kerajaan yang satu dengan kerajaan yang lain (belum Islam) timbul pertentangan.

Pertentangan tersebut bukan karena masalah agama, akan tetapi masalah politik, misalnya kerajaan Gowa terhadap kerajaan Sopeng.

Adapun yang menyiarkan agama Islam di Sulawesi adalah Datuk Ribandang dan Datuk Sulaiman. Datuk Ribandang adalah murid Sunan Giri dan beliau mengajarkan agama Islam kepada rakyat dan para raja. Daerah pelopor pengembangan agama Islam adalah di Gowa-Tallo (dua kerajaan dl Sulawesi Selatan). Kedua kerajaan itu kemudian bcrgabung menjadi Makassar. Raja Gowa menjadi raja Makassar kemudian bergelar Sultan Alaudin. Sedangkan raja Tallo menjadi Mangkubumi dengan gclar Sultan Abdullah.

Kemudian keduanya, yaitu Sultan Alaudin dan Sunan Abdullah, sangat giat mcnyebarkan agama Islam. Sultan Alaudin sebagai orang yang taat beragama, beliau tidak menyetujui sikap Belanda yang ingin monopoli sehingga sering bertentangan antara Sultan dengan Bdanda. Setelah beliau wafat, hal itu juga dilanjutkan oleh putra-putranya, yaitu Sultan Muhammad Said dan Sultan Hasanuddin. Keduanya sangat gigih melawan Belanda. Sultan Muhammad Said mengirimkan angkatan perang Makassar ke Maluku untuk membantu orang-orang Maluku. Sedangkan pada tahun 1644 Masehi Sultan Hasanuddin berhasil menaklukkan Kerajaan Bone.

4. Perkembangan Islam di Kalimantan

Sekitar tahun 1550 di Banjar berdirilah kerajaan Islam dengan rajanya bergelar Sultan Suryanullah. Sejak itu pula rakyat Banjar banyak yang memeluk agama Islam. Begitu pula daerah-daerah di bawah kekuasaan Banjar, satu per satu masuk Islam sehingga agama Islam dengan cepat dan pesat bcrkembang di Kalimantan. Demak mcngirimkan para penghulu untuk mengajarkan agama kepada keluarga istana, para pejabat, dan akhirnya kepada rakyatnya.

Pengembangan Islam di Kutai dilakukan oleh dua orang muslim dari Makassar yang bernama Tuan di Bandang dan Tuan Tunggang Parangan. Dengan cepat agama Islam dapat berkembang di Kutai, tcrmasuk pula raja mahkota Kutai masuk Islam. Kemudian pengembangan Islam dilanjutkan ke daerah-dacrah pedalaman pada pemerintahan Aji di Langgar dan ditcruskan penggantinya menyiarkan Islam ke Muara Kaman. Pada tahun 1550 Masehi, di Sukadana (Kalimantan Barat) telah berdiri kerajaan Islam. Ini berarti jauh sebelum tahun itu rakyat telah memeluk agama Islam. Adapun yang meng-Islamkan daerah Sukadana adalah orang Arab Islam yang datang dari Sriwijaya. Di Sukadana sultan yang masuk Islam adalah Panembahan Giri Kusuma (1591) dan Sultan Hammad Safiuddin (1677).

Sebelum agama Islam masuk ke Dayak, suku Dayak menyembah berhala. Kemudian lama-lama mereka banyak yang memeluk agama Islam. Peng-Islaman di Dayak melalui jalan perdagangan, pernikahan, dan dakwah. Penyiaran Islam di Dayak dilakukan oleh pendatang dari Arab, Bugis, dan Melayu. Perkembangan Islam selanjutnya dilakukan oleh keturunan-keturunan mereka dengan penuh semangat.

Dalam dokumen MODUL PAI SMA KELAS XII (Halaman 77-82)