• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI KAJIAN TEORI

A. Deskripsi Teori

3. Humor beserta fungsinya

Humor atau lelucon merupakan kenyataan universal, dan digunakan oleh setiap orang di sepanjang hidupnya sebagai penghibur atau bumbu-bumbu percakapan. Dalam suasana yang kaku, humor difungsikan sebagai pemecah ketegangan, sehingga suasana kaku berubah menjadi tidak beku lagi. Dalam konteks sosial politik, humor digunakan sebagai peranti kontrol sosial dan sarana menyampaikan masukan. Dalam berbagai surat kabar dan majalah atau bulletin politik, sering kali dimunculkan

34

gambar yang bernuansa komikal. Dalam dunia pendidikan, humor juga dipercaya dapat digunakan sebagai alat untuk menyampaikan variasi-variasi pembelajaran.

Tetapi, ada kalanya humor dapat mengundang kemarahan. Dia menjadi pangkal kejengkelan dan perselisihan. Seseorang yang berselera humor rendah, dapat saja tersinggung ketika dirinya mendapat olok-olokan dari seorang teman. Maka dapatlah dikatakan bahwa sesungguhnya sosok humor itu bagaikan bilah-bilah pisau bermata tajam dua. Di satu sisi dia digunakan sebagai sarana pendukung komunikasi, di lain sisi berfungsi sebagai pemicu terjadinya ketidakmulusan komunikasi.35

Danandjaja dalam Darmansyah menyatakan bahwa humor adalah sesuatu yang dapat menimbulkan atau menyebabkan pendengarannya merasa tergelitik perasaan lucunya, sehingga terdorong untuk tertawa.36 Sheinowizt menyatakan bahwa humor dapat juga diartikan suatu kemampuan untuk menerima, menikmati dan menampilkan sesuatu yang lucu, ganjil atau aneh yang bersifat menghibur.37

Wijana mengatakan bahwa humor baik yang bersifat protes sosial, berfungsi sebagai pelipur lara, dan mampu membawa pembaca dari keadaan telis ke keadaan paratelis. Selain itu, humor juga dapat menyalurkan ketegangan bathin yang menyangkut ketimpangan norma masyarakat yang dapat dikendurkan melalui tawa.38

Sheinowizt dalam Darmansyah menyatakan bahwa humor dapat juga diartikan suatu kemampuan untuk menerima, menikmati dan menampilkan sesuatu yang lucu, ganjil atau aneh yang bersifat menghibur.39

35

Kunjana Rahardi, Dimensi-Dimensi Kebahasaan, (Jakarta: Erlangga, 2006), h. 93

36

Darmansyah, Strategi Pembelajaran Menyenangkan dengan Humor, (Jakarta : Bumi Aksara, cet.1, 2010), h. 68

37

Darmansyah, Strategi Pembelajaran Menyenangkan dengan Humor, h. 66

38

I Dewa Putu Wijana, Kartun : Studi tentang Permainan Bahasa, (Yogyakarta : Ombak, 2003),h. 3

39

Jadi, humor adalah wacana lisan maupun tulisan yang bisa menimbulkan tawa dan juga kemarahan, bergantung kepada jenis humor yang disampaikan. Ketika humor dapat menimbulkan tawa dan senyuman, maka humor tersebut berfungsi sebagai sebuah hiburan dan pelipur lara, menghilangkan stress serta kejenuhan. Sebaliknya apabila humor tersebut menimbulkan kejengkelan atau kemarahan maka akan mengakibatkan terjadinya pertengkaran maupun perselisihan.

Dalam sejarah kepelawakan kita sudah melihat Charlie Chaplin dan Mr. Bean dalam film-film serialnya yang hanya menampilkan gerak-gerik untuk memancing senyum atau tawa penonton. Pelawak-pelawak Indonesia dari Bing Slamet, Benyamin S. Bagio dan kawan-kawan, Bokir dan kawan-kawan, rombongan Sri Mulat, sampai yang terakhir rombongan Parto dengan Opera Van Javanya di stasiun televise. Menggabungkan gerak-gerik kostum yang aneh-aneh, dan ujaran-ujaran yang tidak lazim untuk memancing tawa penonton.40

Pradopo (1985) membeda-bedakan humor menjadi tiga jenis, yakni humor sebagai kode bahasa, humor sebagai kode sastra, dan humor sebaga kode budaya. Di dalam sastra, humor berfungsi sebagai pengikat tema dan fakta cerita. Sebagai kode budaya, humor merupakan hasil budaya masyarakat pendukungnya. Sebagai kode bahasa, ditemukan cara penciptaan humor, yakni dengan penyimpangan makna, penyimpangan bunyi, dan pembentukan kata baru.

Humor dapat ditampilkan dengan melakukan penyimpangan kaidah pragmatik, seperti penyimpangan 2 jenis implikatur, yaitu implikatur konvensional dan implikatur pertuturan. Yang pertama menyangkut makna bentuk-bentuk linguistik, sedangkan yang kedua menyangkut elemen-elemen wacana yang menurut Grice (1975) dinamakan prinsip kerja sama. Humor yang berkembang dewasa ini bertumpu pada tiga teori utama, yakni teori ketidaksejajaran, teori pertentangan, dan teori pembebasan. Teori ketidaksejajaran dan pertentangan mengemukakan bahwa humor

40

secara tidak kongruen menyatukan dua makna atau penafsiran yang berbeda ke dalam suatu objek yang kompleks. Ketidaksejajaran atau ketidaksesuaian bagian-bagian itu dipersepsikan secara tiba-tiba oleh penikmatnya. Seperti contoh kartun di bawah ini yang menggabungkan dua konsep yang satu sama lain berbeda dengan satu kata yang secara kebetulan memiliki bunyi yang sama, yaitu lima.

13. A : Masak Peru ibu kotanya Lima, banyak amat? B : Bukan jumlahnya….tapi namanya.

Ketidaksejajaran atau pertentangan di dalam wacana kartun dikreasikan oleh para kartunis untuk menanggapi kondisi masyarakatnya atau sekadar bersenda gurau yang pada akhirnya diharapkan dapat melepaskan khalayak pembaca dari keseriusan dan berbagai beban kehidupan.

Sebagai pemerjelas perhatikan contoh di bawah ini :

14. A : Kau telah disemir oleh oknum-oknum itu, ya?

B : Bapak menghina saya, ya. Saya ini pejabat bukan sepatu.

Wacana kartun (14) memanfaatkan ambiguitas kata disemir. Secara

literal kata disemir bermakna „membersihkan sepatu atau rambut agar

mengkilat dengan cairan atau bahan tertentu‟, sedangkan secara figuratif

bermakna „diberi uang secara tidak legal untuk memperlancar atau mempermudah suatu urusan‟. Pengacauan antara pemakian yang bersifat

literal dan nonliteral itulah letak kejenekaan wacana kartun (14) di atas.

Humor merupakan teka-teki yang terpahami ketidaksejajarannya. Dalam kaitannya dengan pemahaman humor, para penikmat harus menemukan semacam kaidah kognitif (cognitive rule) ketidaksejajaran itu. Penemuan kaidah ditandai dengan penolakan salah satu rangsangan atau kemungkinan interpretasi yang disodorkan.41 Sifat-sifat khas wacana humor dapat juga didasarkan atas teori Hymes (1974) yang

41

mengemukakan bahwa ada 8 faktor yang menentukan wujud ujaran seseorang. Semua faktor tersebut diringkas menjadi SPEAKING.

1. Setting and Scene, yaitu berkenaan dengan waktu, tempat, situasi

tempat dan waktu, atau situasi psikologis pembicaraan.

2. Participants, yaitu pihak-pihak yang terlibat dalam pertuturan.

3. Ends, yaitu maksud dan tujuan pertuturan.

4. Act sequence, yaitu mengacu pada bentuk dan isi ujaran.

5. Key, yaitu mengacu pada nada, cara, dan semangat dimana suatu

pesan disampaikan.

6. Intrumentalities, yaitu jalur bahasa yang digunakan.

7. Norm of Interaction and Interpretation, yaitu mengacu pada norma

atau aturan dalam berinteraksi.

8. Genre, yaitu jenis bentuk penyampaian.42

Wacana humor bisa terbentuk melalui pemanfaatan berbagai aspek kebahasaan yang digunakan secara tidak semestinya. Berhubungan dengan ini, ragam bahasa informal cenderung lebih banyak digunakan sebagai sarana berhumor dengan sifat-sifatnya yang tidak terikat pada kaidah kebakuan sehingga ketaksaan, berlebihan, tidak logis, dan tidak relevan merupakan aspek penting dalam humor.

Dokumen terkait