• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI KAJIAN TEORI

A. Deskripsi Teori

2. Penyimpangan Prinsip Kerja Sama

Apabila di dalam praktik bertutur sapa terdapat pihak tertentu yang menjawab pertanyaan secara berlebihan, tidak logis, tidak relevan, taksa, ambigu, dan berbelit-belit, maka akan timbul kelucuan dan kejenakaan. Sesungguhnya dapat dikatakan bahwa kejenakaan atau kelucuan dalam aktivitas bertutur dapat diperoleh, salah satunya dengan menyelewengkan maksim dalam prinsip kerja sama Grice.

a) Penyimpangan Maksim Kuantitas

Pertuturan dianggap menyimpang dari maksim kuantitas apabila peserta tutur memberikan informasi yang berlebihan dan tidak sesuai dengan yang dibutuhkan oleh mitra tutur.

Contoh :

(8) Anak pertama saya yang perempuan sudah melahirkan

Penambahan informasi seperti ditunjukkan pada tuturan (8) menyebabkan tuturan menjadi berlebihan, karena kehadiran kata

perempuan dalam (8) justru menerangkan sesuatu yang sudah jelas, hal ini

bertentangan dengan maksim kuantitas. Selain memberikan informasi yang berlebihan, percakapan dianggap menyimpang dari maksim kuantitas apabila penutur memberikan informasi tidak sesuai dengan kebutuhan lawan tutur.

(9) Doni : Siapa istri Mas Joko ? Joko : Mbakyu29

Joko dalam tuturan di atas telah menyimpang dari maksim kuantitas, karena memberikan jawaban yang tidak informatif dan sesuai dengan kebutuhan Doni. Dalam hal ini, Doni tidak menanyakan panggilan

29

(sapaan) yang umum digunakan untuk memanggil seorang perempuan yang berusia lebih tua (dalam bahasa Jawa), tetapi nama perempuan itu.

b) Penyimpangan Maksim Kualitas

Sebuah ujaran dikatakan menyimpang dari maksim kualitas, apabila peserta tutur memberikan informasi yang salah dan tidak logis.Dalam wacana humor, sering kali penyimpangan itu terjadi untuk menimbulkan sebuah kelucuan.

(10) Mamat : Din, kenapa kamu goyang-goyangin perut seperti itu ? Udin : Gue habis minum obat!

Mamat : Ya, kenapa ?

Udin : Tadi obatnya lupa dikocok. Jadi, gua kocok aja di perut sekarang.

(PKL=HD/CCJ: 64/183)

Ujaran (10) di atas, Udin telah memberikan jawaban yang menyimpang dari maksim kualitas, karena tidak mungkin jika dengan menggoyang-goyang perut sama saja dengan mengkocok obat. Obat akan dengan sendirinya larut ke dalam perut, tanpa dikocok terlebih dahulu.

c) Penyimpangan Maksim Relevansi

Agar pembicaraan selalu relevan, maka penutur harus membangun konteks yang kurang lebih sama dengan konteks yang dibangun oleh lawan tuturnya. Jika tidak, penutur dan lawan tutur akan terperangkap dalam kesalahpahaman.

(11) A : Pak, tadi ada tabrakan motor lawan mobil di depan kecamatan B : mana yang menang?

Komentar B terhadap pernyataan A tidak ada relevansinya, dengan demikian B telah menyimpang dari maksim relevansi. Sebab dalam peristiwa tabrakan tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah, kedua

pihak sama-sama mengalami kerugian. Di luar maksud melucu jawaban B pada pertuturan (11) di atas sukar dicari hubungan implikasionalnya.30

d) Penyimpangan Maksim Cara

Dalam maksim cara, peserta tutur hendaknya bertutur secara jelas, tidak ambigu, dan tidak kabur. Orang yang bertutur dengan tidak mempertimbangkan hal-hal di atas dapat dikatakan melanggar prinsip kerja sama Grice karena tidak mematuhi maksim cara.

(12) Ayu : Kamu datang ke sini mau apa? Desi : Mengambil hak saya

(13) Doni : “Ayo, cepat ditutup!”

Agus : “ Sebentar dulu, masih panas.”

Kedua tuturan (12) dan (13) di atas telah menyimpang dari maksim cara. Penutur Desi (12) tidak menaati maksim cara karena bersifat ambigu. Kata hak saya bisa mengacu pada hak sepatu bisa juga pada sesuatu yang menjadi miliknya.31 Begitu juga Tuturan Doni yang berbunyi : “Ayo cepat ditutup!” sama sekali tidak memberikan kejelasan tentang apa yang sebenarnya diminta oleh si mitra tutur. Kata „ditutup‟di atas mengandung

kadar ketaksaan dan kekaburan sangat tinggi dan maknanya pun menjadi sangat kabur. Demikian pula tuturan yang disampaikan oleh Agus (13),

yakni “Sebentar dulu, masih panas” mengandung kadar ketaksaan cukup tinggi. Kata „panas‟ pada tuturan itu dapat mendatangkan banyak

kemungkinan persepsi penafsiran karena di dalam tuturan itu tidak jelas apa sebenarnya yang masih panas.32

Untuk menjelaskan maksim-maksim tersebut, Grice membuat ilustrasi sebagai berikut :

30

Chaer, Kesantunan Berbahasa, h. 36

31 Ibid,. 32

a) Kuantitas: Jika anda membantu saya memperbaiki mobil, saya mengharapkan konstribusi anda sesuai kebutuhan, tidak lebih, tidak juga kurang. Misalnya, kalau pada saat tertentu saya memerlukan empat sekrup, saya ingin anda memberikan kepada saya empat sekrup bukannya dua atau enam.

b) Kualitas: Saya mengharapkan konstribusi anda sungguh-sungguh, bukan palsu. Kalau saya memerlukan gula sebagai bahan pembuat kue yang anda minta saya membuatnya, saya tidak mengharapkan anda memberikan garam kepada saya; kalau saya memerlukan sendok, saya ingin sendok sungguhan bukan sendok mainan yang terbuat dari karet.

c) Relasi: Saya menginginkan konstribusi pasangan saya sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan pada setiap tahapan transaksi, seandainya saya sedang membuat adonan kue, saya tidak mengharapkan diberi buku atau lampin walaupun konstribusi barang-barang ini mungkin sesuai untuk tahapan berikutnya.

d) Cara : Saya mengharapkan pasangan saya menjelaskan konstribusi apa yang diberikannya dan melaksanakan tindakannya secara beralasan.33

Ketika seseorang bertutur dalam suatu proses komunikasi dia mengharapkan tanggapan dari lawan tuturnya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Ketika penutur ingin meminta sesuatu, harapannya adalah sesuatu yang diminta akan diperoleh. Banyak faktor yang menyebabkan satu proses komunikasi menjadi gagal, di antaranya:

(1) Lawan tutur tidak mempunyai pengetahuan

Proses komunikasi atau pertuturan akan gagal apabila lawan tutur tidak mempunyai pengetahuan mengenai objek yang dibicarakan.

(2) Lawan tutur tidak sadar

Suatu proses pertuturan melibatkan penutur, lawan tutur dan pesan atau objek yang dituturkan; tetapi dengan syarat lawan tutur harus

33

dalam keadaan sadar atau menyadari adanya tuturan dari seorang penutur.

(3) Lawan tutur tidak tertarik

Proses pertuturan akan berlangsung dengan baik apabila informasi atau objek yang dibicarakan sama-sama diminati oleh penutur dan lawan tutur; atau lawan tutur juga mempunyai perhatian terhadap informasi yang disampaikan oleh penutur.

(4) Lawan tutur tidak berkenan

Proses pertuturan akan gagal kalau lawan tutur tidak berkenan atau tidak suka dengan cara penutur menyampaikan informasi tuturannya. (5) Lawan tutur tidak paham

Apabila lawan tutur tidak dapat memahami maksud dari tuturan penutur, maka komunikasi tidak akan berlanjut.

(6) Lawan tutur terkendala kode etik

Lawan tutur dapat menjawab permintaan penutur, tetapi kalau dijawab dia akan melanggar kode etik yang harus dipegangnya.34

Jadi, ketika kita melakukan proses komunikasi hendaknya berusaha untuk menerapkan dan mematuhi prinsip kerja sama Grice yang terdiri dari empat maksim, yaitu (1) maksim kuantitas; (2) maksim kualitas; (3) maksim relavansi; dan (4) maksim cara, agar pesan yang kita sampaikan atau maksud pembicaraan kita bisa tersampaikan dengan baik kepada lawan tutur.

Dokumen terkait