2. 3. 4. Peradilan Umum Peradilan Agama Peradilan Militer Peradilan Tata Usaha Negara PN PA PM PTUN PT PTA PM Tinggi PTTUN MA MA MA MA
Badan-badan pengadilan pada setiap lingkungan peradilan secara hierarkhis dapat digambarkan sebagai berikut.
PERADILAN UMUM PERADILAN TUN PERADILAN AGAMA
3. Peran Badan-Badan Peradilan
Berdasarkan uraian di atas maka Badan Peradilan di Indonesia secara garis besar ada 2, yaitu Peradilan Umum dan Peradilan Khusus. Masing-masing badan peradilan memiliki fungsi dan menjalankan perannya sesuai dengan jenis perkara dan pihak-pihak yang berperkara.
a.
Peradilan UmumPeradilan Umum adalah peradilan bagi rakyat pada umumnya baik mengenai perkara perdata maupun perkara pidana. Peradilan umum berfungsi memeriksa dan memutuskan semua perkara perdata dan pidana atau permohonan yang tidak menjadi kompetensi badan peradilan khusus (peradilan agama, militer, dan tata usaha negara). Jadi peran badan peradilan umum adalah menyelenggarakan peradilan perdata dan pidana bagi rakyat pada umumnya serta pada kasus-kasus hukum pada umumnya.
b.
Peradilan KhususPeradilan Agama, Militer, dan tata Usaha Negara merupakan peradilan khusus, karena mengadili pekara-perkara tertentu atau mengenai golongan rakyat tertentu. Peradilan khusus berfungsi untuk memeriksa dan memutuskan perkara di bidang tertentu atau mengenai golongan rakyat tertentu (lihat penjelasan Undang- Undang No.14/1970, pasal 10).
1) Peradilan Agama. Menurut UU No. 7 Tahun 1989, peradilan agama dijalankan oleh Pengadilan Agama pada tingkat pertama untuk memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara-perkara antara orang-orang yang beragama Islam di bidang perkawinan, kewarisan, wasiat, hibah, wakaf, dan sodaqoh berdasarkan hukum Islam. Pada tingkat banding dilaksanakan oleh Pengadilan Tinggi Agama, dan pada tingkat kasasi oleh Mahkamah Agung sebagai puncak peradilan agama. Pengadilan Syariat Islam di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam merupakan pengadilan khusus dalam lingkungan peradilan agama.
2) Peradilan Tata Usaha Negara. Menurut UU No. 9 Tahun 2004, Pengadilan Tata Usah Negara merupakan pelaksana peradilan tingkat pertama yang menyelesaikan sengketa tata usaha negara antara orang atau badan hukum Perdata dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara tentang Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara agar supaya Surat Keputusan tersebut dibatalkan. Selanjutnya perkara di tingkat banding ditangani oleh Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara dan di tingkat kasasi ditangani oleh Mahkamah Agung.
3) Peradilan Militer. Peradilan Militer diatur dalam Undang-Undang No. 31 Tahun 1997. Pengadilan Militer menjalankan peradilan pada tingkat pertama yang menyelesaikan perkara-perkara orang-orang yang berstatus militer atau orang yang dipersamakan dengan militer. Pada peradilan militer tingkat banding ditangani oleh Pengadilan Militer Tinggi, dan pada tingkat kasasi oleh Mahkamah Agung.
4. Proses Peradilan Perkara Pidana
Proses peradilan pidana dalam lingkungan peradilan sipil (umum) diatur dalam UU No. 8 tahun 1981 tentang KUHAP dengan tahap-tahap sebagai berikut.
a.
Penyidikan yang dilakukan oleh penyidik (penyidik polisi dan penyidik PNS). Tahap ini merupakan tahap awal yang dilakukan penyidik dalam penanganan perkara pidana. Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal menurut cara yang diatur dalam KUHAP untuk mencari serta mengumpulkan bukti, yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya. Dalam melakukan penyidikan semua POLRI diberi kewenangan oleh Undang-Undang (KUHAP), untuk melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, penyitaan, dan pemeriksaan surat.b.
Penuntutan yang dilakukan oleh jaksa atau penuntut umum. Tahap ini dilakukan oleh jaksa sebagai penuntut umum atas perkara pidana yang telah selesai dilakukan penyidikan oleh penyidik. Penyidik setelah selesai melakukan penyidikan menyerahkan berkas perkara beserta tersangkanya kepada penuntut umum untuk dilakukan penuntutan. Penuntutan ini dilakukan oleh penuntut umum untuk melimpahkan perkara pidana ke pengadilan negari yang berwenang dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh hakim di sidang pengadilan.Dalam tahap ini penuntut umum menyusun surat dakwaan untuk perkara pidana yang bersangkutan berdasarkan hasil penyidikan yang diterima dari penyidik. Selama melakukan penuntutan, penuntut umum berwenang melakukan penahanan terhadap tersangka paling lama 20 hari dan dapat diperpanjang untuk waktu paling lama 30 hari.
c.
Pemeriksaan di depan sidang pengadilan oleh hakim.Untuk melakukan pemeriksaan, maka penuntut umum melimpahkan berkas perkara kepada ketua pengadilan negeri yang berwenang dengan memohon agar perkara
yang bersangkutan diperiksa dan diputuskan oleh hakim sidang pengadilan. Adapun prosedurnya sebagai berikut.
1) Hakim membuka sidang untuk umum, kecuali untuk perkara kesusilaan, atau terdakwanya anak-anak.
2) Yang diperiksa pertama kali adalah terdakwa.
3) Hakim Ketua Sidang mempersilahkan penuntut umum membacakan surat dakwaan. 4) Selanjutnya pemeriksaan terhadap saksi-saksi, baik saksi yang memberatkan
terdakwa maupun saksi yang meringankan terdakwa.
5) Setelah pemeriksaan dinyatakan selesai, penuntut umum mengajukan tuntutan pidana (Requisitor).
6) Kemudian terdakwa atau penasehat hukumnya mengajukan pembelaannya (pledoi). 7) Selanjutnya penuntut umum dapat mengajukan jawaban atas pembelaan terdakwa
atau penasehat hukumnya dan sebaliknya.
8) Jika acara tersebut telah selesai, hakim ketua sidang menyatakan pemeriksaan ditutup (musyawarah hakim).
9) Setelah itu sidang dibuka kembali dan terbuka untuk umum hakim ketua membacakan putusannya.
d.
Pelaksanaan putusan pengadilan oleh jaksa dan lembaga pemasyarakatan di bawah pengawasan ketua pengadilan yang bersangkutan. Setelah hakim menjatuhkan putusan kepada terdakwa dan jika putusan itu berupa putusan pemindanaan yang berarti kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan kepadanya terbukti secara sah dan meyakinkan maka jaksa dapat menahan terdakwa. Bila penahanan terdakwa sudah dilakukan maka segera terdakwa ke lembaga pemasyarakatan.Siapa saja pejabat yang menyelesaikan perkara pidana di Pengadilan Negeri? Siapa saja pihak-pihak yang terlibat? Bagaimana prosesnya? yang menyelesaikan perkara pidana di Pengadilan Negeri adalah Jaksa Penuntut Umum (JPU), Hakim, dan Panitera/Panitera Pengganti. Sedangkan pihak-pihak yang terlibat adalah Saksi/Tersangka/Terdakwa dan Penasihat Hukum (pembela). Adapun prosesnya secara ringkas sebagai berikut.
1. Berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP), hakim mengecek/memeriksa kebenaran identitas terdakwa;
2. Hakim menyuruh membacakan surat dakwaan kepada Penuntut Umum;
3. Hakim memeriksa saksi-saksi berikut barang buktinya dan menanyakan kebenarannya kepada terdakwa;
4. Hakim memberikan kesempatan kepada Penuntut Umum dan Penasehat hukum untuk bertanya, baik kepada saksi maupun kepada terdakwa.
5. Penuntut Umum menyampaikan tuntutan hukuman (rekuisitor) tertulis atau lisan, dilanjutkan dengan pemberian kesempatan kepada terdakwa dan/atau Penasehat Hukum/Pembela untuk menyampaikan pembelaannya (pleidoi), dan;
6. Hakim memberikan/menjatuhkan putusan.
Proses penyelesaan perkara pidana di Pengadilan Negeri dapat digambarkan dengan bagan sebagai berikut.
Info Pe nting
• Penyidik adalah pejabat polisi negara RI atau pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan. • Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidikan dalam hal dan menurut cara
yang diatur dalam undang-undang untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.
• Penyelidik adalah pejabat polisi negara RI yang diberi wewenang oleh undang- undang untuk melakukan penyelidikan.
• Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang- undang.
• Jaksa adalah pejabat yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk bertindak sebagai penuntut umum serta melaksanakan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
• Penuntut umum adalah jaksa yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim.
• Penuntutan adalah tindakan penuntut umum untuk meyerahkan perkara pidana ke pengadilan negeri yang berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh hakim di sidang pengadilan.
• Hakim adalah pejabat peradilan negara yang diberi wewenang oleh undang- undang untuk mengadili.
• Mengadili adalah serangkaian tindakan hakim untuk menerima, memeriksa dan memutus perkara pidana berdasarkan asas bebas, jujur dan tidak memihak di sidang pengadilan dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang.
Tugas kelompok
1. Carilah informasi dari berbagai sumber dan diskusikan dalam kelompokmu pengertian dari istilah-istilah tersangka, terdakwa, laporan, pengaduan, saksi, keterangan saksi dan keterangan ahli. Buatlah laporannya!
2. Carilah contoh-contoh perkara yang dapat digolongkan dalam perkara pidana!
KEJAHATAN POLISI Pengusuta JAKSA Penuntu t Umum PENGADILAN NEGERI Memeriksa dan Mengadili PUTUSAN Dilepas dari segala t t t Dibebaska Dihukum
3. Apakah peranan polisi, jaksa, hakim, dan pembela dalam proses peradilan pidana dalam lingkungan peradilan umum?
4. Diskusikan dalam kelompok Anda mengenai kemungkinan putusan hakim: dihukum, dibebaskan, dan dilepas dari segala tuntutan!
5. Proses Peradilan Perkara Perdata
Perkara-perkara apa saja yang termasuk perkara perdata? Siapa saja pejabat yang menyelesaikan perkara perdata di Pengadilan Negeri? Siapa saja pihak-pihak yang terlibat? Bagaimana prosesnya?
Perkara-perkara perdata dapat timbul dalam perselisihan hukum seperti yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Adapun Kitab Undang-undang Hukum Perdata mengatur tentang orang, kebendaan, perikatan serta pembuktian dan daluwarsa.
Pejabat yang menyelesaikan perkara perdata di Pengadilan Negeri adalah hakim dan panitera/panitera pengganti. Hakim tugasnya memeriksa, mengadili, dan memutus perkara. Sedangkan tugas panitera adalah mengikuti semua sidang serta musyawarah Pengadilan. Panitera mencatat semua hal yang dibicarakan. Selain itu ia harus membuat berita acara sidang dan bersama-sama menandatangani dengan ketua sidang. Berita acara ini merupakan dasar untuk membuat keputusan.
Pihak-pihak yang hadir dan terlibat dalam proses persidangan perkara perdata di Pengadilan Negeri adalah penggugat/kuasanya, tergugat/kuasanya, penyumpah, dan saksi-saksi. Proses penyelesaian perkara perdata, dapat digambarkan dengan bagan berikut ini.
Tugas kelompok
1. Carilah informasi dari berbagai sumber dan diskusikan dalam kelompokmu pengertian dari istilah-istilah panitera/panitera pengganti, penggugat/kuasanya, penggugat/kuasanya, dan penyumpah. Buatlah laporannya!
2. Carilah contoh-contoh perkara perdata!
3. Diskusikan dalam kelompok Anda mengenai kemungkinan putusan hakim: tidak diterima, ditolak, dan dikabulkan!