• Tidak ada hasil yang ditemukan

INDONESIA ADALAH NEGARA HUKUM

Hukum adalah peraturan mengenai tingkah laku

PERUNDANG-UNDANGAN NASIONAL

1. INDONESIA ADALAH NEGARA HUKUM

Sebagaimana dirumuskan di dalam UUD 1945 pasal 1 ayat (3), bahwa “Negara Indonesia adalah negara hukum.” Indonesia sebagai negara hukum berarti negara Indonesia berdasarkan atas hukum dan bukan berdasarkan atas kekuasaan belaka. Hukum dalam hal ini diartikan sebagai semua peraturan terhadap tingkah laku manusia yang harus ditaati, bersifat mengikat, dan dipaksakan.

Disebut mengikat, karena semua orang atau warga negara tidak dapat menghindar dari ketaatan dan kepatuhan terhadap peraturan itu. Hukum berlaku umum untuk semua orang, baik warga biasa maupun pejabat negara. Hukum itu mengikat semua warga negara, semua penyelenggara negara, dan pelaksana pemerintahan. Hukum berlaku bagi pelaksana pemerintahan, baik di pemerintahan pusat (nasional), pemerintahan daerah, maupun pemerintahan desa. Hukum juga berlaku bagi perilaku warga negara dalam hidup sehari-hari, baik di masyarakat, di tempat kerja, di sekolah, maupun di keluarga. Peraturan hukum tidak pandang bulu dan berlaku dimana saja manusia berada.

Hukum dikatakan sebagai aturan yang memaksa, artinya siapa saja yang melanggar hukum akan dikenai sanksi atau hukuman. Jadi tanpa kecuali, warga negara harus tunduk, taat, dan patuh terhadap aturan hukum yang berlaku. Oleh sebab itu, setiap warga negara sama kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan. Setiap warga negara juga wajib menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan itu tanpa kecuali.

Menjunjung tinggi hukum mengandung maksud dan sejumlah konsekuensi, yaitu: a. setiap orang wajib mengerti hukum atau “melek hukum”, yakni mengetahui dan

memahami peraturan hukum yang mengatur perilakunya dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara;

b. sadar akan hak dan kewajibannya sebagai subjek hukum, yaitu sebagai pelaku yang bertanggung jawab atas terjaganya aturan hukum yang ada,

c. taat dan patuh terhadap semua aturan hukum yang ada, yaitu tidak sengaja melanggar hukum apapun alasannya; serta

d. bersedia bertanggung jawab di depan hukum apapun akibatnya, yaitu apabila melanggar hukum maka siap untuk menerima sanksi seberapa pun beratnya.

Suatu negara yang menyatakan sebagai negara hukum harus menganut prinsip- prinsip negara hukum yang berlaku secara universal. Prinsip-prinsip negara hukum ini berlaku bagi seluruh negara di dunia tanpa kecuali. Prinsip-prinsip ini merupakan unsur- unsur yang harus ada dan dimiliki oleh negara hukum, baik negara maju maupun negara berkembang, negara besar maupun negara kecil, negara yang baru merdeka maupun negara yang sudah lama merdeka.

Unsur-unsur pokok negara hukum itu antara lain: (1) menghormati dan melindungi hak-hak dasar kemanusiaan (HAM); (2) adanya suatu mekanisme kelembagaan negara yang demokratis; (3) adanya suatu sistem tertib hukum; dan (4) adanya kekuasaan kehakiman yang bebas (independen).

Uraian lebih lanjut mengenai prinsip-prinsip negara hukum ini dapat dicari rujukannya di dalam materi UUD 1945. Di dalam keseluruhan pasal-pasalnya dapat diketemukan unsur-unsur pokok negara hukum Indonesia tersebut.

a. Perlindungan terhadap hak-hak dasar (asasi) manusia, yaitu sebagaimana telah dirumuskan secara rinci dan tegas (eksplisit) di dalam pasal 28A sampai dengan pasal 28J.

b. Mekanisme kelembagaan negara yang demokratis dapat ditemukan di dalam pasal 22E tentang pemilihan umum dan pasal-pasal lainnya yang mengatur kelembagaan negara (tersebar di banyak pasal), termasuk di dalamnya pemerintahan daerah seperti termaktub pada pasal 18, 18A, dan 18B.

c. Sistem tertib hukum dapat dilihat pada pasal-pasal tentang sistem kostitusional pasal 1 ayat (2), perubahan UUD pasal 37, peraturan peralihan pasal I-III, serta peraturan tambahan pasal I dan II.

d. Adapun mengenai kekuasaan kehakiman yang bebas diatur dalam pasal 24, 24A-C, dan pasal 25.

Menurut teori negara hukum, negara pada prinsipnya tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machtstaat), tetapi harus berdasarkan atas hukum (rechtstaat). Menurut ajaran para pakar atau ahli hukum, bahwa negara berdasarkan hukum harus didasarkan atas hukum yang baik dan adil.

HUKUM YANG BAIK HUKUM YANG ADIL

Hukum yang baik adalah hukum yang demokratis yang didasarkan atas kehendak rakyat sesuai dengan kesadaran hukum rakyat.

Adapun hukum yang adil adalah hukum yang sesuai dan memenuhi maksud dan tujuan setiap hukum, yakni keadilan. Keadilan ditonjolkan agar hukum tidak diselewengkan atau dijadikan alat oleh penguasa untuk kepentingan tertentu diluar kepentingan seluruh rakyat.

Perlu diketengahkan pula, bahwa negara hukum Indonesia adalah negara hukum dalam arti luas atau sering disebut sebagai negara hukum kesejahteraan (welfare state). Di dalam negara hukum kesejahteraan ini, tugas pemerintah tidak sekedar menjaga

keamanan dan ketertiban rakyat semata-mata. Menjaga keamanan dan ketertiban merupakan hal penting, tetapi yang lebih menentukan adalah tugas pemerintah untuk mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat.

Ada sejumlah syarat tentang ada dan berlakunya suatu peraturan hukum. Artinya, setiap kebijakan pemerintah yang dituangkan dalam sebuah peraturan hukum akan bekerja secara efektif (sesuai dengan tujuan atau sasarannya) dalam masyarakat apabila memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat itu adalah:

Peraturan yang dibuat bukan sekedar keputusan-keputusan yang bersifat sementara. Misalnya peraturan tata-tertib sekolah tidak berlaku hanya untuk hari ini atau seminggu ini saja.

a. Peraturan yang telah dibuat tersebut harus diumumkan. Diumumkan artinya bukan sekedar dipasang di papan pengumuman. Diumumkan artinya dimuat dalam lembaran negara dan disebarluaskan kepada masyarakat, atau disosialisasikan. Sosialisasi adalah kegiatan pendidikan atau penyuluhan agar masyarakat paham dan sadar terhadap hak dan kewajibannya, serta akibat-akibat hukum yang ditimbulkan dari peraturan tersebut.

b. Peraturan tersebut tidak boleh berlaku surut. Artinya, peraturan tidak berlaku terhadap perbuatan yang dilakukan sebelum peraturan itu dibuat. Peraturan hukum hanya berlaku sekarang dan yang akan datang. Kalau berlaku surut, maka peraturan itu tidak dapat dijadikan pedoman tingkah laku manusia.

c. Peraturan harus dirumuskan dalam bahasa yang bisa dimengerti. Peraturan hukum haruslah jelas dan tegas. Tujuannya supaya tidak ditafsirkan dalam pengertian yang bermacam-macam (multi-tafsir). Hal ini untuk menjaga agar tetap ada kepastian hukum dalam masyarakat.

d. Peraturan tidak boleh mengandung ketentuan yang saling bertentangan. Isi sebuah peraturan harus saling terkait dan mendukung, sebab kalau saling bertentangan akan membingungkan dalam penerapannya.

e. Peraturan tidak boleh mengandung tuntutan yang melebihi apa yang dapat dilakukan. Peraturan dibuat untuk mengatur tingkah laku manusia, oleh sebab itu tidak boleh menuntut perbuatan yang melebihi apa yang dapat dilakukan manusia.

f. Peraturan harus cocok dengan kenyataan sosial budaya yang ada di dalam masyarakat. Peraturan itu sedapat mungkin sesuai dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan masyarakat. Oleh karena itu, dalam hal tertentu masih berlaku hukum adat.

g. Peraturan harus menjamin keadilan dalam pelaksanaannya. Suatu aturan akan dipatuhi apabila memenuhi prinsip keadilan yang berlaku dalam masyarakat. Peraturan tidak boleh diskriminatif, yaitu perlakuan yang berbeda terhadap individu dan kelompok masyarakat yang berbeda. Disamping itu dalam aturan harus pula menjamin pelaksana atau aparat penegak hukum tidak berlaku pilih kasih. Bahkan tak kalah pentingnya, adalah peraturan harus memuat pula sanksi bagi aparat hukum yang melanggar peraturan itu.