Beragam budaya dan suku yang ada di Indonesia menunjukkan bahwa
A. Kompetensi dan Indikatotor 1 Kompetens
Mahasiswa memahami budaya politik sebagai salah satu variabel yang berpengaruh terhadap sistem politik Indonesia.
2. Indikator
a. Menjelaskan pengertian budaya politik b. Menjelaskan klasifikasi budaya politik
c. Menyebutkan ciri-ciri yang menonjol dalam budaya politik Indonesia d. Menjelaskan pengaruh budaya politik terhadap sistem politik B. Uraian Materi
Budaya Politik
1. Pengertian
Kehidupan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan.Sebab setiap masyarakat betapapun sederhananya mereka memiliki kebudayaan tertentu. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa kebudayaan merupakan sesuatu yang inheren dengan Masyarakat itu sendiri. Kebudayaan menurut Hoebel adalah integrasi sistem pola-pola perilaku hasil belajar yang merupakan ciri khas anggota suatu masyarakat dan yang bukan merupakan warisan biologis (Joyomartono, 1990:10). Sedangkan wujud kebudayaan itu diantaranya adalah kompleks ide, gagasan, nilai, norma, peraturan, dan sebagainya (Koentjaraningrat, 1997:5).
Dalam sistem politik, budaya politik merupakan variabel yang sangat penting, dan oleh karenanya menjadi bahasan yang pokok dalam kajian system politik di samping variabel penting lainnya. Budaya politik sering diartikan sebagai pola tingkah laku individu dan orientasinya terhadap kehidupan politik (Kantaprawira, 1983:29). Ada yang menyatakan bahwa budaya politik adalah seperangkat sikap, kepercayaan, dan perasaan warga negara terhadap system politik dan symbol-symbol yang dimilikinya. (Sjamsuddin, N, 1993: 90). Pendapat yang lain menyatakan bahwa budaya politik adalah orientasi yang khas dari warga negara terhadap system politik dan aneka ragam bagiannya. (Almond & Verba dalam: Sjamsuddin, 1993: 79).
Dalam budaya politik dapat ditemukan bagaimana orientasi atau pandangan individu terhadap system kekuasaan, negara, pemerintah, demikian pula orientasi tentang keberadaan dirinya sebagai bagian dari sebuah negara. Budaya poilitik melekat pada setiap masyarakat, baik masyarakat tradisional, transisional, maupun masyarakat modern.Budaya politik berkaitan erat dengan perilaku politik, yaitu tindakan manusia dalam situasi politik. Perilaku politik individu sangat ditentukan oleh pola orientasi umum (common orientation pattern) yang nampak secara jelas sebagai cermin budaya politik.
Budaya politik menjadi bahasan yang penting dalam system politik karena budaya politik sangat mempengaruhi bagaimana tampilan sebuah system politik. Pengenalan atas budaya politik merupakan salah satu informasi bagi pengenalan system politiknya. Dua system politik dengan struktur yang hampir sama menjadi sangat berbeda tampilannya karena adanya perbedaan dalam budaya politiknya. Oleh karena itu,untuk memahami sebuah system politik niscaya harus memahami bagaimana budaya politik masyarakatnya. Namun demikian bukan berarti bahwa persamaan budaya politik pasti membawa persamaan system politiknya,karena tampilan budaya politik masih dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya.
Indonesia misalnya, budaya politiknya belum banyak berubah dari waktu ke waktu, akan tetapi system politiknya telah berkali-kali mengalami perubahan, yaitu dari system politik Demokrasi Liberal ke sistem politik Demokrasi Terpimpin, dan kemudian Demokrasi Pancasila.Sebaliknya Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara persemakmuran, walaupun mereka memiliki budaya politik yang relative sama, akan tetapi system politiknya berbeda satu sama lain.
2. Klasifikasi Budaya Politik
Budaya politik senantiasa mengalami pergeseran seiring dengan perkembangan masyarakatnya. Ketika masyarakat menjadi semakin maju dan modern, budaya politiknyapun akan bergeser ke arah yang lebih maju dan modern pula. Sejalan dengan tingkat perkembangan masyarakat, budaya politik dapat dibedakan dalam 3 (tiga ) tingkatan yaitu:
a. Tingkatan kognitif, adalah tingkatan budaya politik dimana suatu masyarakat hanya memiliki pengetahuan saja tentang system politiknya, tanpa memiliki perasaan maupun penghayatan tertentu terhadap sistem politik tersebut.
b. Tingkatan afektif adalah tingkatan budaya politik dimana suatu masyarakat tidak hanya memiliki pengetahuan tetapi juga mempunyai perasaan dan penghayatan tertentu terhadap sistem politiknya.
c. Tingkatan evaluative adalah tingkatan budaya politik dimana masyarakat telah mampu memberikan penilaian terhadap sistem politik yang dimilikinya. Hal itu berarti bahwa masyarakat bukan sekedar mengetahui dan mampu menghayati hal-hal apa yang terdapat dalam sistem politiknya, akan tetapi jug mampu mengapresiasi dan menimbang mana yang dianggap baik dan mana yang kurang baik. Morton R. Davies and Vaughan A. Lewis dalam bukunya “Model of Political Syistem” mengklasifikasikan budaya politik sebagai berikut:
a. Budaya Politik Parokial ( Parochial Political Culture ) b. Budaya Politik Kaula ( Subject Political Culture ) c. Budaya Politik Partisipan ( Participant Political Culture)
Budaya politik parokial terdapat pada masyarakat yang masih tradisional, yang antara lain ditandai adanya spesialisasi dalam masyarakat yang sangat kecil, diferensiasi terbatas, orientasi politik sempit dari warga masyarakat, dan aktor politik sekaligus menjalankan berbagai peran yang lain.Belum terspesialisasinya masyarakat serta diferensi yang terbatas, maka kehidupan masyarakat menampakkan keadaan yang relatif homogen dan tidak banyak diwarnai perbedaan-perbedaan. Orientasi masyarakat hanya ditujukan pada obyek kehidupan yang ada di sekitarnya, dan belum memiliki cakrawala atau pandangan tentang obyek-obyek dalam jangkauan yang lebih luas. Warga masyarakat yang ditokohkan biasanya membawakan banyak peran, dan menjadi panutan dalam berbagai hal. Seorang tokoh agama misalnya, tidak hanya menjadi panutan dalam kehidupan keagamaan, akan tetapi juga dalam kehidupan politik dan kehidupan lainnya. Dalam masyarakat dengan budaya politik yang demikian masyarakat tidak menaruh harapan sama sekali terhadap sistem politiknya. Masyarakat menganggap masalah politik sebagai masalah yang menjadi urusan pemerintah, sedangkan bagi mereka sendiri yang penting dapat menikmati kehidupan yang aman, tenteram, terpenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik. Secara politis dengan cara apa kondisi yang demikian dapat terwujud, itu dianggap sebagai urusan pemerintah.
Budaya politik kaula terdapat dalam masyarakat yang sudah beranjak maju dari kehidupan yang tradisional. Dalam budaya politik politik yang demikian warga masyarakat telah memiliki perhatian dan kesadaran di bidang politik, namun terutama baru ditujukan pada segi output. Masyarakat telah memiliki harapan-harapan tertentu dari sistem politiknya, akan tetapi harapan itu hanya diarahkan pada terwujunya kebijakan pemerintah yang dianggap baik. Masyarakat kerasa hanya bisa menerima output tanpa dapat
mempengaruhi atau mengubah system. Oleh karena itu masyarakat menyerah pada kebijaksanaan dan keputusan dari pemegang kekuasaan.
Budaya politik partisipan terdapat dalam masyarakat yang sudah maju dan modern. Dalam budaya politik yang demikian setiap orang menganggap dirinya dan orang lain sebagai anggota aktif dalam kehidupan poltik. Setiap orang sadar akan hak dan kewajiban/tanggung jawabnya, dan setiap orang dapat memberikan penilaian secara menyeluruh atas system politiknya. Masyarakat dengan budaya politik partisipan memiliki orientasi terhadap system politik dalam keseluruhannya, baik menyangkut segi input, proses, dan output. Kepada masyarakat tidak cukup hanya disodorkan kebijakan pemerintah yang dianggap baik, akan tetapi masih harus ditunjukkan bahwa kebijakan semacam itu memang sesuai dengan aspirasi masyarakat, dan diproses melalui cara-cara yang demokratis. Masyarakat tidak ingin hanya menerima begitu saja kebijakan pemerintah, akan tetapi lebih dari itu menuntut dilibatkan dalam proses politik untuk menghasilkan kebijakan tersebut.
3. Budaya Politik Indonesia
Didalam system politik Indonesia dapat ditemukan adanya budaya politik Indonesia. Budaya politik Indonesia menunjukkan gejala kompleksitas. Variasi budaya kita yang begitu besar menyebabkan timbulnya banyak sub budaya politik yang berbeda satu sama lain. Dengan demikian apa yang disebut budaya politik Indoensia lebih merupakan kombinasi dari semua sub budaya politik yang diangkat ke tingkat nasional oleh para pelaku politik. Ini berarti bahwa di dalam budaya politik itu sering terjadi interaksi antara sub budaya politik yang terdapat didalamnya. Kelemahan yang sering muncul adalah bahwa inetraksi itu sering berupa persaingan antar sub budaya politik.
Walaupun agak sulit untuk mendeskripsikan secara tepat budaya politik Indonesia itu, akan tetapi setidak-tidaknya dapat dikemukakan garis besarnya dengan mengacu pada pandangan para pakar politik dan kebudayaan yang banyak menaruh perhatian dalam bidang tersebut. Sulitnya mendeskripsikan budaya politk Indonesia karena masyarakat Indonesia diwarnai oleh perbedaan suku, agama, dan kebudayaan daerah. Dengan demikian apa yang dinamakan budaya politik Indonesia pun menampakkan keanekaragaman unsur-unsur tersebut. Sesuatu yang sering dikatakan sebagai budaya poilitik Indonesia kadang-kadang masih mengundang pertanyaan apakah hal itu benar- benar merupakan budaya politik Indonesia ataukah budaya politik kedaerahan. Disamping itu,kerna kebudayaan selalu merupakan hasil interaksi antara nilai-nilai asli (endogenus) dan pengaruh yang datang dari luar, oleh karena itu apa yang dinamakan budaya politik Indonesia sulit untuk dilihat dengan batasan-batasan yang kaku.
Herbert Feith dalam sebuah tulisannya menyatakan bahwa di Indonesia terdapat 2 (dua) budaya politik yang dominant, yaitu budaya aristokrasi jawa,dan budaya wiraswatawan Islam (Sjamsudin, 1991:30). Apa yang dikemukakan oleh Feith lebih mengacu pada pengelompokan terbesar masyarakat Indonesia, dimana dari aspek kesukuan sebagian besar masyarakat Indonesia adalah suku Jawa, sedangkan dari aspek keagamaan adalah Islam.
Selanjutnya tanpa bermaksud memberikan batasan yang kaku tentang budaya politik Indonesia, Rusadi Kantaprawira menyebutkan adanya variabel-variabel yang dapat dianggap sebagai ciri budaya politik Indonesia. Variabel tersebut adalah sebagai berikut:
a. Konfigurasi sub kultur, yang artinya bahwa budaya politik Indonesia diwarnai oleh keanekaragaman sub budaya politik
b. Budaya politik Indonesia bersifat parochial-kaula disatu pihak, dan budaya politik partisipan dipihak lain. Artinya bahwa disatu segi massa masih ketinggalan dalam menggunakan hak-hak dan memikul tanggung jawab politik, sedangkan dipihak lain elit politiknya merupakan partisipan yang aktif.
c. Masih kuatnya ikatan primordial, yang dapat dikenali dari kuatnya sentiment kedaerahan, kesukuan, keagamaan dan sebagainya.
d. Masih kuatnya partenalisme dan patrimonial, yang nampak dari sikap bapakisme dan asal bapak senang.
e. Adanya dilemma antara introduksi modernisasi dengan nilai-nilai tradisional, dimana modernisasi dipersepsi sebagai westernisasi. (Kantaprawira, 1983:40-43).
Ciri-ciri budaya tersebut agaknya cukup menggambarkan keadaan yang nyata dalam kehidupan masyarakat Indonesia.Sedangkan menyangkut keanekaragaman sub budaya politik di Indonesia, walaupun budaya politik kedaerahan banyak memberi warna didalamnya, akan tetapi dapat dikatakan bahwa buidaya politik Indonesia secar dominant dipengaruhi oleh budaya politik Jawa. Dengan demikian suku non- Jawa cenderung mengadaptasikan diri dengan nilai-nilai kejawaan atau menjadikan nilai-nilai budaya Jawa sebagai basis persepsi politik mereka (Muhaimin, dalam: Alfian dan Sjamsuddin, 1991:54). Bahwa budaya politik Jawa secara dominant mewarnai budaya politik Indonesia, antara lain nampak dari idiom- idiom yang sering digunakan dalam wacana perpolitikan Indonesia, baik dikalangan elit politik Jawa sendiri maupun elit politik dari suku- suku lain. Bahkan dengan sedikit kelakar sering dikatakan bahwa elit politik dari luar jawa pun banyak diantaranya justru lebih “njawani” dibandingkan dengan orang-orang Jawa. Sampai batas-batas tertentu kenyataan semacam itu kiranya bisa dipahami, mengingat bahwa orang Jawa meliputi sebagian besar dari keseluruhan penduduk Indonesia. Namun demikian issue jawanisasi agaknya juga perlu mendapatkan perhatian dalam rangka mengembangkan budaya politik Indonesia agar tidak menimbulkan kecemburuan.
Budaya Jawa yang sangat berpengaruh terhadap budaya politik Indonesia secara garis besar dapat disimak dalam uraian berikut. Tentunya bahasan tentang budaya Jawa pada bagian ini tidak dimaksudkan untuk mendeskripsikan kebudayaan Jawa secara lengkap dengan segala unsur-unsur kebudayaan didalamnya. Disamping karena terlalu kompleksnya ruang lingkup kebudayaan, juga tidak semua unsur kebudayaan itu cukup penting untuk dikaitkan dengan masalah budaya politik. Disini hanya akan dikupas sebagian pola perilaku masyarakat Jawa yabg kiranya cukup mewarnai tampilan sistem politik Indonesia. Yahya Muhaimin dalam tulisannya ”Persoalan Budaya Politik Indonesia” menunjukkan adanya sikap budaya Jawa yaitu sebagai berikut:
Pertama: Cenderung tidak berada dalam situasi konflik, tetapi mudah tersinggung. Kedua: Menjunjung tinggi ketenangan sikap.
Ketiga: Kuatnya rasa kebersamaa (sharing) termasuk dalam hal tanggung jawab (Muhaimin, dalam: Alfian dan Sjamsudin, 1991:54)
Sikap-sikap tersebut nampaknya cukup mewarnai bukan saja kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa, akan tetapi juga wacana serta budaya politik Indonesia. Kecenderungan untuk tidak berada dalam situasi konflik membawakan prinsip harmoni dalam wacana politik kita, dimana situasi politik yang dianggap ideal adalah situasim politik yang menggambarkan terdapatnya keseimbangan, keselarasan, dan keserasian. Berkenaan dengan ketidaksukaan berada dalam situasi konflik itu, masyarakat Jawa cenderung menilai tinggi perilaku yang “sa-madya”, yang kurang lebih maknanya adalah “yang sedang- sedang saja”. Mengapa demikian, karena perilaku yang ekstrim dianggap akan membawakan benturan-benturan, pertentangan-pertentangan atau konflik dengan pihak lain yang memiliki kepentingan yang berbeda. Sebaliknya perilaku yang bersifat “sa-madya” dianggap lebih luwes dalam menanggapi setiap perbedaan, lebih lentur, sehingga bisa menghindari pertentangan-pertentangan yang frontal. Dalam kehidupan politik pun agaknya sikap-sikap yang ekstrim dalam kehidupan politik kurang mendapatkan tempat dihati masyarakat.
Sedangkan menjujung tinggi ketenangan sikap, disini dapat dikatakan bahwa dalam pandangan Jawa kekuatan dalam arti yang substansial justru akan muncul
dari sikap-sikap yang tenang, lemah lembut, dan bukan dari sikap-sikap yang kasar, yang menggambarkan amarah. Hal semacam itu tercermin dari ungkapan seperti, “sura, dira, jayaningrat, lebur dening pangastuti”, yang kurang lebih artinya adalah bahwa sikap dan perilaku yang kasar, kejam, keangkaramurkaan dan semacamnya, pada akhirnya akan kalah dengan sikap yang lemah lembut. Dalam dunia pewayangan sikap yang lemah lembut itu digambarkan dalam figure “satria” dengan tubuhnya yang ramping, wajah menunduk, dan gaya bicara yang halus. Karakter semacam itu dikontraskan dengan figer raksasa atau “buta” yang digambarkan dengan tubuhnya yang besar, wajah yang menyeramkan, serta bicaranya yang kasar. Namun dalam peperangan yang terjadi diantarakeduanya raksasa itu akhirnya kalah oleh satria. Warna semacam itu dalam kehidupan politik nampak dari pemikiran dan sikap yang menghendaki untuk sesedikit mungkin digunakan cara-cara kekerasan dalam menangani masalah. Kendatipun karena desakan kepentingan sesaat hal semacam itu sering nampak sebatas wacana dan tidak benar-benar diwujudkan dalam kenyataan.
Kuatnya rasa kebersamaan (sharing) menjadikan seseorang kurang memiliki kedirian. Dengan nilai budaya semacam itu, orang lebih suka meleburkan diri dalam kebersamaan dan kurang berani menunjukkan kedirian sebagai pribadi. Keadaan semacam itu juga nampak dari ketidaksukaannya untuk “tampil beda”, karena keadaan yang berbeda dari yang kebanyakan dipersepsi sebagai sebuah keganjilan walaupun sesungguhnya yang hendak dilakukan justru lebih baik dari orang-orang lain. Kebersamaan itu juga dalam hal tanggung jawab, dimana orang cenderung untuk berbagi tanggung jawab dengan orang-orang lain, dan kurang berani untuk mengambil tanggung jawab sendiri atas sesuatu yang dilakukannya. Kecenderungan untuk berbagi tanggung jawab juga dalam tindakan yang bersifat negative (seperti korupsi, misalnya). Tindakan semacam itu biasanya tidak dilakukan dan inikmati sendiri akan tetapi secara bersama-sama, karena dalam kebersamaan itu merekabisa berbagi beban dan tanggung jawab (barangkali juga berbagi rasa berdosa).
Disamping nilai-nilai budaya tersebut diatas, yang juga sangat nampak adalah menonjolnya “ewuh prekewuh”, sehingga orang cenderung untuk tidak menyatakan segala sesuatu secara terus terang. Dalam budaya Jawa ungkapan “sanepa” atau perumpamaan sering digunakan dalam pembicaraan, dengan maksud untuk menghindari pengungkapan sesuatu secara terus terang yang dikhawatirkan akan menyinggung perasaan pihak lain. Dalam wacana politik hal itu nampak sekali ketika kita memperhatikan pernyataan yang dilontarkan oleh elit politik, pejabat dan lain-lain. Pernyataan yang mereka lontarkan seringkali tidak cukup kalau kita hanya menangkap maknanya secara lugas tanpa mencermati makna yang tersirat. Begitu juga dalam menanggapi kritik. Dalam budaya poltik Indonesia kritik memang bukan sesuatu yang ditabukan. Akan tetapi kritik hendaknya tidak disampaikan secara terang-terangan, melainkan dikemas dengan ungkapan yang halus dan tidak terlalu “vulgar” agar tidak menyinggung perasaan.
C. Latihan
Indentifikasikan pengaruh budaya jawa dalam budaya politik Indonesia, dengan menampilkan sikap, perilaku, atau kebiasaan-kebiasaan yang terdapat pada pejabat- pejabat publik atau tokoh- tokoh politik.