• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRESTASI DIRI DAN BELA NEGARA MENUJU DAYA SAING BANGSA DI ERA GLOBAL

Beragam budaya dan suku yang ada di Indonesia menunjukkan bahwa

PRESTASI DIRI DAN BELA NEGARA MENUJU DAYA SAING BANGSA DI ERA GLOBAL

A. Kompetensi dan Indikator

Bangsa Indonesia patut bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi Tanah Air yang indah, kaya, subur, serta penduduk yang beraneka ragam dengan segala macam budayanya. Kondisi ini merpupakan potensi yang dimiliki bangsa, yang sangat mendukung kelancaran dan pelaksanaan pembangunan nasional. Untuk kelangsungan pembangunan nasional, selain potensi yang ada, diperlukan pula prestasi agar pembangunan tersebut dapat berlangsung dengan baik.

Setelah mempeljari materi ini kompetensi yang diharapkan anda miliki adalah menampilkan prestasi diri sesuai dengan kemampuan demi keunggulan bangsa. Adapun indikator-indikatornya adalah:

1. menjelaskan pentingnya potensi diri bagi keunggulan bangsa;

2. mengenal potensi diri untuk berprestasi sesuai dengan kemampuan;

3. menampilkan peran serta dalam berbagai aktivitas untuk mewujudkan prestasi diri sesuai kemampuan demi keunggulan bangsa;

4. menjelaskan latar belakng pentingnya usaha pembelaan negara; 5. mengidentifikasi bentuk-bentuk usaha pembelaan negara; 6. menampilkan peran serta dalam usaha pembelaan negara. B. Uraian Materi

1. Pentingnya Prestasi Diri bagi Keunggulan Bangsa

Prestasi adalah hasil yang telah dicapai dari apa yang telah dikerjakan atau diusahakan. Seseorang akan dapat meraih prestasi melalui usaha/kerja keras dengan mengerahkan segala daya dan upaya baik kemampuan intelektual, emosional, spiritual, serta ketahanan diri dalam berbagai bidang kehidupan. Contoh: Sumardi petani asal Banyuwangi, Jawa Timur nekat meninggalkan desanya merantau ke Kabipaten ende, di pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Dengan kebulatan tekad dan kemauan bekerja keras, kini telah membuahkan hasil sebagai petani cabai dan tomat. Oleh pemerintah setempat, Sumardi ditetapkan sebagai petani ulet di Kabupaten Ende (Kompas, Senin 14 Juli 2008).

Sumardi t e l a h berhasil membuktikan, meskipun selama ini Propinsi NTT dikenal sebagai daerah gersang, terkebelakang, dan miskin yang kerap dijuluki sebagai daerah dengan “Nasib Tak Tentu” atau “Nunggu Tuhan Tolong”, ternyata dengan keuletan, kegigihan dan kerja keras, dapat dimanfaatkan dan menghasilkan keuntungan berlimpah dari hasil usaha tani berbsis tanaman sayur.

Prestasi diri adalah prestasi yang diraih oleh seseorang melalui usaha kerja keras. Setiap orang memiliki kelebihan-kelebihan yang ada kalanya tidak dimiliki oleh orang lain. Gesang seorang penggubah lagu-lagu keroncong yang memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Prestasi bukanlah sesuatu yang datang tanpa usaha kerja keras. Dari berbagai kisah hidup orang-orang yang berprestasi, dapat diketahui prestasi tersebut yang mereka raih adalah berkat usaha kerja keras, ketekunan, dan keuletan. Ilmuan-ilmuan besar adalah orang- orang yang tekun belajar dan bereksperimen. Meskipun mereka berulang kali mengalami kegagalan, tetapi mereka pantang menyerah dan putus asa. Kerja keras, keuletan, dan jiwa besar akhirnya mereka meraih prestasi gemilang.

Warga negara yang berprestasi sangat diperlukan bagi keunggulan bangsa. Berbagai prestasi yang telah diraih oleh putra- putri Indonesia baik di kancah nasional maupun internasional telah mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa. Minto seorang guru berhasil menciptakan kompor bertenaga surya yang sederhana dengan biaya hanya Rp. 75.000,-, telah mendapat penghargaan dari Menteri Energi dan Sumber Daya

Mineral Tahun 2002. Penemuan Minto menjadi salah satu alternatif dalam mengatasi krisis energi bahan bakar minyak Pelajar-pelajar Indonesia telah berhasil meraih berbagai kejuaran internasional dalam berbagai bidang seperti Matematika, Fisika, Kimia, dan lain sebagainya yang mengharumkan nama bangsa dan negara. Di bidang olah raga, Rudi Hartono, Christ John, Susi Susanti dan lainnya telah mengharumkan pula nama bangsa dan negara.

2. Macam-macam Potensi Diri

Setiap manusia memiliki potensi diri, namun potensi tersebut antara orang yang satu dengan lainnya berbeda-beda. Ada yang memiliki fisik yang kuat sehingga jika dilatih dapat menjadi atlit olah raga yang mumpuni. Misalnya Chris John seorang petinju jura dulia kelahiran Banjar Negara Jawa Tengah yang telah mengharumkan nama bangsa. Yang lainnya memiliki potensi kecerdasan yang tinggi, dan ada pula yang memiliki kemampuan emosional dan berkomunikasi dan lain sebagainya. Secara umum potensi diri dapat dibagi menjadi lima macam, yaitu:

a) Potensi Fisik (Psychomotoric)

b) Potensi Mental Intelektual (potensi kecerdasan, menganlisis, menghitung, merencanakan sesuatu, dsb.)

c) Potensi Sosial Emosional (mengendalikan amarah, bertanggung jawab, motivasi, kesadaran diri, dsb.)

d) Potensi Mental Spiritual (intelektual, emosional, dan spiritual)

e) Potensi Ketahan malangan (keuletan, ketangguhan, dan daya juang yang tinggi). Orang yang berprestasi adalah orang yang dianggap sukses dalam bidang tertentu, karena memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Misalnya Prof. DR. B.J. Habibie, M.Eng. seorang ahli pembeuat pesawat terbang. William Shakespeare (1564-1616), lazim dianggap sebagai dramawan dan penyair Inggris yeng terbesar. Kehebatannya terletak pada kemampuannya memahami peri laku manusia sehingga tokoh-tokohnya terasa masih hidup sampai kini.

Selain itu ia juga ahli merangkai kata-kata Hernoyo, 1991: 572). Friedrich Silaban, seorang arsitek, perancang bangunan. Belian memenangkan tiga sayembara perencanaan, mesjid Istiqlal, Bank Indonesia, dan Monumen Nasional atau Monas (Ensiklopedi Indonesia, 1984: 3174).

Orang yang berperstasi umumnya mampu menagkap peluang yang ada, bertindak rasional, proporsional, efisien dan efektif. Orang- orang yang berprestasi pasti pernah mengalami kegagalan, tetapi berkat keuletan, ketangguhan tanpa mengenal menyerah akhirnya mampumengatasaikegalan-kegagalan tersebut. Tuhan telah memberikan berbagai potensi kepada setiap manusia untuk diberdayakan dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya.

Kreativitas dapat menjadi kekuatan yang besar untuk meraih prestasi. Agar menjadi orang yang kreatif, kita harus bersikap terbuka, berkeingintahuan yang tinggi, berani mencoba, dan tidak mudah menyerah. Contoh: Adam Malik (1917-1984), Wakil Presiden RI masa bakti 1978-1983. Beliau semasa hidupnya terkenal lincah bicaranya dan sering mendapat julukan “kancil”. Selain seorang wartawan pendiri Kantor Berita Antara beserta teman-temannya, Adam Malik adalah seorang politikus dan negarawan terkenal. Baliau pernah menduduki jabatan Ketua Sidang Umum PBB ke-26. Beliau juga termasuk perintis kemerdekaan. Dalam perjuangan diplomatik merebut Irian Jaya, kedudukan beliau sangat menentukan, sebab beliu adalah Ketua delegasi Indonesia dalam perundungan dengan Belanda di Washington. Adam Malik adalah seorang otodidak yang berhasil. Dalam banyak kesempatan, wartawan luar negeri menambahkan gelar Doktor di depan namanya tanpa ragu-ragu, meskipun Adam Malik Tidak pernah menamatkan pendidikan formalnya. (Hernoyo, 1991: 572).

Setiap manusia memiliki peluang untuk meraih prestasi dalam berbagai bidang. Misalnya dalam bidang politik, ekonomi, sosial,budaya, olah raga dan sebagainya.

Seorang pelajar, mahasiswa dengan penuh ketekunan, kerja keras, dan berdoa berupaya meraih prestasi yang terbaik. Untuk mencapai prestasi yang tinggi, seorang atlit harus berlatih dengan teratur, disiplin, dan kerja keras. Demikian pula dengan seorang pengusaha yang sukses, semua menuntut keuletan, ketekunan, dan displin yang tinggi. Untuk meraih prestasi, kita perlu aktif dalam berbagai bidang sesuai dengan minat, bakat masing-masing.

Tokoh-tokoh dunia yang meraih prestasi yang tinggi dalam berbagai bidang, yang karya-karyanya dirasakan manfaatnya oleh umat manusia, antara lain:

a) Issac Newton (1642-1727) menemukan hukum gerak Newton.

b) William Shakespeare (1564-1616), seorang penulis drama sandiwara terkemuka dari Inggris, yang selama hidupnya telah menghasilkan 38 naskah drama, 154 sonata dan 3 atau 4 sajak panjang.

c) Adam Smith (1723-1790) ahli dalam bidang ekonomi. d) Robert Boyle (1627-1691) ahli kimia dan fisika

e) Sigmund Freud (1850-1939) Bsyokologi dan psykiatri modern, penemu metode psykoanalisa.

f) B.J. Habibie, ahli dalam membuat pesawat udara. g) Buya Hamka, sastrawan, dll.

3. Latar Belakang Pentingnya Usaha Pembelaan Negara

Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus Tahun 1945 telah melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun kemerdekaan bukanlah tujuan akhir, sebab bangsa Indonesia harus menegakkan dan mempertahankan kemerdekaannya untuk mencapai kehidupan yang dicita-citakan yaitu negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Pada awal kemerdekaan bangsa Indonesia sudah menghadapi keuatan sekutu yang diboncengi oleh tentara Belanda yang ingin kembali berkuasa di Indonesia. Bangsa Indonesia dengan gagah berani menghadang dan melawan Agresi Militer Belanda I pada tanggal 21 Juli 1947, dan Agresi Militer II tanggal 19 Desember 1948.

Selain ancaman dari luar negeri Indonesia harus pula menghadapi ancaman dari dalam negeri, yaitu kekuatan bersenjata yang melakukan makar, pemberontakan, dan teror yang bertujuan merongrong kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemberontakan tersebut antara lain, Pemberontakan PKI Madiun (18 September 1948) dipimpin oleh Amir Sjarifuddin dan Muso, dengan memproklamasikan Soviet Republik Indonesia, DI/TII., RMS, APRA, PRRI Semesta, GAM, GPM, dan lain-lainnya. Semua pemberontakan tersebut merupakan gerakan separatisme yang bertujuan memisahkan diri dari NKRI. Pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan oleh TNI dengan dukungan sepenuhnya dari rakyat Indonesia.

Usaha pembelaan negara adalah menjadi tanggungjawab setiap warga negara, sebagaimana yang diamanatkan dalam pasal 27 Ayat 3 UUD 1945 “ Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.”. Pembelaan negara adalah menjadi tanggung jawab setiap warga negara, yang harus dilaksanakan secara terus menerus untuk menjaga kelangsungan hidup dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

4. Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN)

Bentuk bela negara disesuaikan dengan dengan bentuk ancaman yang dihadapi pada masa itu. Jika pada masa awal kemerdekaan yang dihadapi adalah ageresi militer tentara Sekutu, tentara Belanda, dan tentara Jepang , maka bentuk bela negara adalah menggunakan kekuatan senjata. Pada masa 1949 sampai orde lama Indonesia menghadapi ancaman fisik, maka bentuk bela negara yang dilakukan bangsa Indonesia terarah pada fisik, teknik, strategi kemiliteran.

Pada zaman revolusi utntuk melawan kembalinya penjajah Belanda di Tanah Air, kekuatan pokok bersenjata yang dimiliki Republik Indonesia adalah Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang kemudian sesuai dengan tuntunan bahwa setiap negara harus memiliki angkatan perang, maka BKR kemudian berubah nama menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Tidak seberapa lama kemudia TKR berubah nama menjadi Tentara Republik Indonesia, yang akhirnya berubah nama menjadi Tentara Nasional Indonesia sampai saat ini.

Sebagai perwujudan partisipasi rakyat dalam bela negara, dimana-mana dibentuk badan-badan perjuangan atau badan-badankelaskaran bersenjata, antara lain: Tentara Pelajar, Corps pelajar Siliwangi, askar Wanita Indonesia, Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), dan lain sebagainya. Para pelajar/mahasiswa selain belajar, pada masa refolusi fisik turut ambil bagian secara langsung bergabung dengan TNI dalam berbagai medan pertempuran. Sebagai wadahnya dibentuk satu Brigade yang dikenal sebagai Brigade XVII. Pada tahun 1960 an para mahasiswa dilibatkan secara langsung untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM). Program ini ditujukan bagi mahasiswa yang telah meraih gelar Sarjana Muda dengan tugas sebagai guru di berbagai wilayah di Indonesia.

Dalam rangka melaksanakan Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Hankamrata) di lingkungan Perguruan Tinggi, dilaksanakan Wajib Latih Maha Siswa (Walawa). Pembentukan Walawa di dasarkan pada pemikiran, bahwa mahasiswa adalah calon pemimpin bangsa, karena itu mempunyai fungsi dan keududukan yang penting ditengah- tengah masyarakat. Walawa kemudian dikembangkan menjadi Resimen Mahasiswa (Menwa) sebagai wadah bagi mahasiswa yang berkeinginan ikut serta dalam usaha Perlawanan Rakyat (Wanra) dan Pertahanan Sipil (Hansip).

Dalam perkembangan selanjutnya, semenjak tahun 1973/1974 pendidikan Wajib Latih Mahasiswa dihentikan, diganti menjadi (!) Pendidikan Kewiraan, dan (2) Pendidikan Perwira Cadangan (Pacad)

Berbeda halnya dengan masa orde baru dan reformasi, ancaman yang dihadapi bangsa Indonesia adalah berupa tantangan non fisik dan gejolak sosial. Gejolak sosial tibul disebabkan adanya kesenjangan dan ekonomi akibat dari berbagai bentuk ketidak adilan seperti kemakmuran yang hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Hasil pembangunan digerogoti oleh para koruptor, dan hukum gagal untuk membela nasib orang yang tertindas. Oleh karena itu diperlukan kesadaran setiap warga negara untuk bersama-sama memberantas berbagai ketidak adilan, tindakan korupsi, serta menghindari berbagai tindakan anrkhis yang dapat menghambat jalannya pembangunan.

Salah satu bentuk upaya untuk mengikutsertakan rakyat dalam upaya pertahanan keamanan negara dilakukan melalui Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN), sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sistem Pendidikan Nasional. Dalam pasal 39 (2) UU. No. 2 Tahun 1989 dinyatakan bahwa di setiap jenis, jalur, dan jenjang pendidikan, wajib memuat Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama, dan Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan Kewarganegaraan merupakan usaha untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubugan antar warga negara dengan negara, serta Pendidikan Pendahuluan Bela Negara. Tujuan bela negara adalah menumbuhkan rasa cinta tanah air, bangsa, dan negara. Untukmencapai tujuan tersebut bangsa Indonesia perlu mendapat pemahaman tentang wilayah negara dalam persatuan dan kesatuan bangsa. Selain itu perlu pula dipahami tentang ketahanan nasional, ketahanan bangsa dan negara sebagai kondisi dinamis yang terus dibina dan dikembangkan sebagai perekat dalam satu kesatuan yang utuh.

Setiap warga negara dapat berpartisipasi dalam usaha pembelaan negara sesuai dengan kedudukan dan fungsinya dalam masyarakat. Pembelaan Negara dapat dilakukan dengan melaksanakan tugas sesuai dengan profesi masing-masing. Seorang guru yang mengajar dengan baik dan bertanggung jawab, mahasiswa, pelajar yang

belajar dengan tekun, buruh yang bekerja dengan tekun dan penuh tanggung jawab adalah contoh-contoh bentuk pembelaan negara.

Pasal 30 ayat 1 UUD 1945 menegaskan “Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib turut serta dalam usaha pertahan dan keamannegara”. Usaha pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui satu sistem yang disebut Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata). Menurut Sishankamrata pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan oleh TNI dan Polri sebagai kekuatan utama, sedangkan rakyat

sebagai keuatan pendukung (pasa 30 yat 2 UUD 1845).

Usaha pertahanan dan keamanan Negara bagi setiap warga negara pada hakekatnya merupakan hak yang sekali gus juga sebagai kewajiban. Apabila negara dalam keadaan bahaya, adalah merupakan suatu kewajiban bagi setiap warga negara untuk aktif membelanya. Peran serta rakyat dalam upaya pertahanan dan keamanan negara dapat dilakukan melalui: TNI, Polri, Cadangan TNI, Rakyat Terlatih dan Perlindungan Masyarakat (Linmas).

C. Latihan

Untuk memperdalam pemahaman anda tentang materi di atas, jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!

1. Apakah yang dimaksud dengan prestasi?

2. Jelaskan apa saja persyaratan agar seseorang dapat meraih prestasi yang tinggi. 3. Apakah sebabnya negara memerlukan prestasi diri yang tinggi dari warga negaranya? 4. Jelaskan hubungan antara prestasi dengan kedisiplinan.

5. Sebutkan potensi-potensi yang dimiliki setiap orang yang memungkinkannya untuk meraik prestasi yang tinggi!

6. Jelaskan latar belakng pentingnya usaha bela negara !

7. Siapa sajakah yang bertanggung jawab melaksanakan bela negara ? 8. Jelaskan perkembangan pendidikan pendahuluan bela negara di Indonesia. 9. Bagaimanakah bentuk bela negara pada awal Indonesia merdeka?

10. Jelaskan bentuk-bentuk bela negara pada masa era reformasi ! D. Lembar Kegiatan

1. Susunlah materi pelajaran dengan stndar kompetensi: Menampilkan prestasi diri sesuai dengan kemampuan demi keunggulan bangsa. Tentukan pula indikator-indikatorna. 2. Susunlah materi pelajaran dengan standar kompetensi: menampilkan partisipasi

BAB IV