HASIL DAN PEMBAHASAN
4.5. Rekomendasi Pola Pekarangan untuk Konservasi Keanekaragaman Hayati Pertanian di Hulu DAS Kalibekasi Hayati Pertanian di Hulu DAS Kalibekasi
4.5.1. Identifikasi Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman
Dari pengamatan dan pembahasan yang telah dilakukan, didapatkan beberapa faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman terhadap keanekaragaman hayati pertanian di hulu DAS Kalibekasi. Berikut adalah penjabarannya:
a. Kekuatan (strength)
S1. Struktur tanaman multilayer
Susunan tanaman di pekarangan terdiri atas berbagai lapisan, mulai dari strata rendah sampai tegakan yang tinggi (Gambar 20). Christanty et al. (1986); Abdoellah (1991); dan Arifin et al. (1997) menyebutkan bahwa stratifikasi tanaman dapat memberikan keuntungan pemanfaatan ruang dan cahaya matahari yang optimal. Faktor ini berkaitan langsung dengan keanekaragaman hayati pertanian.
S2. Fungsi tanaman di pekarangan memenuhi 8 fungsi yaitu: penghasil pati, buah, sayur, bumbu, obat, industri, hias dan fungsi lain
Kedelapan fungsi utama tanaman ini ditemukan di pekarangan di setiap lokasi penelitian. Fungsi ini berkaitan erat dengan keanekaragaman hayati tanaman karena tanaman akan terus dipelihara oleh pemilik rumah selama tanaman tersebut dimanfaatkan. Seperti yang telah disebutkan oleh Seoemarwoto and Conway (1992); Arifin (1998); Trinh et al. (2003); Kehlenbeck et al. (2007); Galluzzi (2010); dan Vlkova et al. (2010), fungsi tanaman ditentukan oleh pemilik rumah sehingga tidak bisa dipungkiri bahwa terdapat hubungan antara keanekaragaman hayati pekarangan dengan aspek sosial budaya masyarakat.
S3. Terdapat beberapa jenis lokal tanaman
Penduduk di hulu DAS Kalibekasi masih menanam pisang nangka, ambon, angling, papan, uli, raja, kulo, lumut, tanduk dan angling di pekarangan mereka. Hal ini juga dilatarbelakangi oleh adanya pasar mingguan Pisang di Karang Tengah sekitar dua dekade yang lalu namun sekarang tidak berlanjut lagi. Di pekarangan juga dapat ditemukan beberapa varietas singkong, seperti apuy, mentega dan pareleg sehingga industri pengolahan aci cukup menjamur wilayah Babakan Madang. Selain itu juga ditemukan pekarangan dengan berbagai jenis pohon buah lokal seperti rambutan, jambu biji, limus, kecapi, jambu air, kelengkeng,
duku, alkesah dan mangga padahal beberapa kultivar dari spesies tersebut sudah sulit ditemui di Leuwijambe.
S4. Kebiasaan budidaya ternak dan ikan di pekarangan
Salah satu ciri pekarangan Sunda adalah memiliki kolam ikan (Arifin, 1998). Hal ini dikarenakan oleh melimpahnya sumber daya air di daerah ini. Faktor ini berkaitan langsung dengan keanekaragaman ikan di pekarangan.
S5. Pemanfaatan hasil pekarangan sebagai bahan makanan pelengkap atau subtitusi
Tanaman di pekarangan yang ditanam oleh para ibu berfungsi untuk kelengkapan dapur sebagai bumbu, sayur dan juga buah. Hal ini berkaitan dengan fungsi tanaman dan keanekaragaman tanaman di pekarangan.
S6. Ketersediaan sumber air di daerah atas berlimpah
Ketersediaan air di daerah atas merupakan faktor utama mengapa di daerah atas lebih banyak ditemukan kolam di pekarangan. Hal ini berpengaruh terhadap adanya budidaya ikan di pekarangan.
b. Kelemahan (weakness) W1. Fragmentasi lahan
Median luas area terbuka pekarangan di daerah atas adalah 204,1 m2, di daerah tengah 179,18 m2 dan di daerah bawah 94,25 m2 yang termasuk ke dalam luasan pekarangan sedang dan sempit (Arifin, 1998). Sebagai perbandingan, daerah kota memiliki median luas pekarangan 414,75 m2. Hal ini menunjukkan bahwa di pedesaan terdapat tren tapak pekarangan yang menyempit di daerah bawah daripada daerah atas hulu DAS Kalibekasi. Ukuran pekarangan di ketiga wilayah studi tidak begitu besar karena telah terjadi fragmentasi lahan akibat sistem pewarisan. Hal
tersebut serupa dengan penelitian Arifin et al. (1997). Luas lahan dapat mempengaruhi kekayaan dan keragaman spesies di pekarangan.
W2. Anak-anak muda mencari pekerjaan ke kota
Hal ini erat kaitannya dengan isu sosial masyarakat. Anak-anak yang bekerja di kota akan memiliki pola pikir yang berbeda dengan para penduduk yang tinggal di desa dan mereka akan membawa pengaruh kota ini ke rumah. Hal ini termasuk dengan pengelolaan rumah dan pekarangannya. Seperti yang disebutkan Abu-Gazeh (2000) dalam artikelnya, pekarangan merupakan salah satu bentuk teritori pemilik atau penghuni rumah. Pengelolaan pekarangan akan tergantung dari karakter dan kondisi penghuni rumah tersebut.
W3. Menurunnya penggunaan bahan obat dari pekarangan
Dari observasi dan wawancara yang dilakukan, pengetahuan masyarakat desa akan fungsi obat menurun si setiap generasinya. Hal ini berkaitan langsung dengan fungsi tanaman di pekarangan.
c. Peluang (opportunity)
O1. Terdapat tanaman introduksi yang dapat dibudidayakan untuk meningkatkan pendapatan
Terutama untuk meningkatkan pendapatan, peluang ini cukup berpengaruh terhadap keanekaragaman hayati di pekarangan.
O2. Terbukanya akses menuju pasar, tempat rekreasi dan kota besar
Hai ini erat kaitannya dengan isu sosial masyarakat terutama dengan mudahnya arus informasi dan sirkulasi ke daerah lain. Sebagai peluang, terbukanya akses ini dapat dimanfaatkan pemilik rumah untuk mendistribusikan hasil pekarangannya ke tempat lain.
O3. Kebutuhan rekreasi dan meningkatnya perhatian masyarakat kota terhadap budaya tradisional
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni (Anonim, 2011). Budaya di setiap daerah tidak sama dan merupakan ciri dari daerah tersebut. Pekarangan merupakan salah satu bentuk budaya karena di bentuk oleh pemilik pekarangan tersebut dan pekarangan di setiap daerh tidak selalu sama, begitu pula dengan pekarangan di daerah ini.
Lokasi penelitian ini memiliki tujuan wisata Taman Wisata Alam Gunung Pancar dan Sentul City yang dikunjungi oleh wisatawan dari kota Jakarta dan Bogor. Dari beberapa penelitan, selain kebutuhan akan rekreasi diketahui bahwa wisatawan kota semakin tertarik dengan budaya masyarakat tradisional, salah satunya adalah kehidupan pedesaan. Peluang ini dapat ditangkap oleh masyarakat desa dengan mempertahankan karakter desa, salah satunya pekarangan.
O4. Kebutuhan produk segar dan produk organik dari masyarakat kota
Masyarakat kota, terutama kalangan menengah ke atas sudah mulai memprioritaskan isu kesehatan sebagai bagian dari gaya hidupnya. Salah satu yang mereka butuhkan adalah produk segar dan organik. Produk segar akan mudah didapatkan bila kita membudidayakan tanaman sendiri di pekarangan. Sedangkan kendala yang didapatkan oleh masyarakat kota adalah tidak adanya lahan yang cukup dan atau tidak adanya waktu untuk bercocok tanam. Hal ini merupakan peluang yang cukup bagus untuk masyarakat desa yang memiliki akses mudah ke kota.
d. Ancaman (threats)
T1. Terdapat fenomena urbanisasi pekarangan dengan munculnya perumahan modern dengan pola yang berbeda dengan pekarangan desa
Ancaman ini erat kaitannya dengan isu sosial karena sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan pola hidup masyarakat. Masyarakat desa cenderung untuk mengikuti gaya hidup masyarakat kota. Hal ini dapat mempengaruhi pengelolaan rumah dan pekarangan. Keanekaragaman hayati di pekarangan bisa berpengaruh, apalagi dari perhitungan yang
dilakukan sebelumya terlihat bahwa kekayaan dan keragaman tanaman di daerah desa lebih tinggi dari daerah kota (Tabel 18).
T2. Tanaman eksotis yang hanya berfungsi sebagai tanaman hias
Tanaman eksotis yang hanya berfungsi sebagai tanaman hias merupakan ancaman lanjutan dari urbanisasi karena pada 58,33% tanaman di pekarangan kota berfungsi utama sebagai tanaman hias.
T3. Penggunaan perkakas, perabotan dan alat rumah tangga buatan pabrik Perkakas dan perabotan rumah tangga tradisional berasal dari elemen yang mudah ditemukan di lokasi pengamatan, bahkan banyak juga yang sengaja ditanam di pekarangan. Contohnya adalah bambu, daun pisang dan kayu jati.
Dengan mudah didapatkannya perkakas, perabotan dan alat rumah tangga buatan pabrik yang terbuat dari styrofoam, plastik atau logam maka masyarakat desa cenderung beralih dari kegiatan membuat sendiri ke membeli. Hal ini dapat mempengaruhi fungsi tanaman dan dapat mengakibatkan hilangnya spesies-spesies tanaman tertentu di pekarangan. Selain itu, penggunaan bahan-bahan anorganik tersebut dapat berpengaruh terhadap degradasi lingkungan karena sulit terurai secara alami ketika dibuang. Sementara, bahan organik berdasarkan kearifan lokal yang berasal dari pekarangan lebih mudah terurai.
4.5.2. Pembobotan Faktor Internal dan Eksternal serta Penentuan Orientasi