• Tidak ada hasil yang ditemukan

IDENTIFIKASI MASALAH DAN DIAGNOSA POTENSIAL

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori Persalinan

III. IDENTIFIKASI MASALAH DAN DIAGNOSA POTENSIAL

Menurut Prawiroharjo (2010; h. 359) diagnosa potensial yang terjadi pada ibu hamil dengan pre-eklampsia berat apabila tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat dan berlangsung akan menjadi : solusio plasenta, hipofibrinogenemia, hemolisis, kelainan mata, perdarahan otak, edema paru-paru, nekrosis hati, sindroma HELLP, kelainan ginjal, komplikasi lain antara lain lidah tergigit, trauma dan fraktur karena jatuh akibat kejang-kejang,

pneumonia aspirasi, DIC (disseminated intravascular coogulation),

prematuritas, dismaturitas, dan kematian janin intra uterin. IV. KEBUTUHAN TINDAKAN SEGERA

Pada kasus Pre-eklampsia Berat dapat dilakukan pemantauan terhadap ibu dan janin antara lain :

1. Tekanan darah secara rutin setiap 15 menit 2. Keseimbangan cairan/ resusitasi cairan

a. Kanula intravena harus dipasang pada semua ibu yang menderita pre-eklampsia berat untuk pemberian cairan

b. Pemberian cairan secara oral tetap dianjurkan 3. Pemantauan DJJ.

4. Kontrol ulang protein urine, dan edema

5. Kolaborasi dengan dr. SpOG untuk pemberian terapi dan tindakan persalinan (Chapman&Charles. 2013; h. 317).

53

V. INTERVENSI

Dx : Ibu : G ... P ..., UK... minggu, Inpartu Kala I/ II, Fase Laten/ Aktif dengan Pre-eklampsia Berat. Janin : Hidup/ mati, Tunggal/ kembar, Intra/ Ekstra Uteri, Presentasi Kepala/ Presentasi Bokong, Keadaan janin baik/ tidak Tujuan : Setelah dilakuakn Asuhan Kebidanan diharapkan Pre

Eklampsia dapat ditangani dan dapat dilakukan dengan persalinan normal sehingga kondisi ibu dan bayi lahir dengan sehat.

Kriteria hasil :

1. Keadaan umum : baik

2. TTV :

a. Tekanan darah menurun minimal sampai dengan 130/ 80 mmHg.

b. Nadi dalam batas normal (60-90 x/menit)

c. Pernapasan dalam batas normal (16-22 x/menit) d. Suhu 36,5-37,5

3. Edema pada muka, kaki, tangan berkurang.

4. Proteinuria (-). 5. Lama kala 2 ≤ 1 jam

6. Lama kala 3 ≤ 30 menit

7. DJJ dalam batas normal (140-160 x/menit) 8. Persalinan berjalan lancar dengan tindakan

54

Intervensi diagnosa

1. Berikan informasi kepada pasien tentang hasil pemeriksaan. R/ Pasien mengerti kondisi kesehatannya. (Sulistyawati, 2010). 2. Beri pasien makan dan minum sesuai dengan kebutuhan.

R/ Asupan nutrisi dan cairan yang cukup dapat membantu ibu dalam proses persalinan yaitu menambah kekuatan ibu dalam proses meneran. (Sulistyawati, 2010).

3. Observasi intake dan output pasien

R/ penderita pre-eklampsia berisiko tinggi terjadi edema paru dan oliguria 4. Lakukan pemasangan catheter folley

R/ upaya monitoring output pasien dan deteksi dini terjadinya oliguria 5. Observasi suhu setiap 2 jam pada fase laten dan 1 jam pada fase aktif,

serta nadi, DJJ dan kontraksi setiap 60 menit pada fase laten dan 30 menit pada fase aktif.

R/ Upaya memantau keadaan umum ibu dan kemajuan persalinan. (JNPK-KR, 2010)

6. Lakukan pemeriksaan dalam setiap 4 jam

R/ memantau perkembangan kemajuan persalinan pada persalinan dengan induksi. (Sulistyawati, 2010).

7. Observasi tekanan darah setiap 15 menit

R/ Deteksi dini komplikasi pada ibu pre-eklampsia 8. Anjurkan ibu untuk diit tinggi protein dan rendah garam

R/ protein membantu pertumbuhan jaringan tubuh. Pembatasan konsumsi garam dapat mencegah bertambahnya retensi garam atau air dalam jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah.

55

9. Anjurkan ibu untuk tidak meneran sebelum pembukaan lengkap dan kepala janin terlihat didepan jalan lahir

R/ mengejan involunter tidak boleh dianjurkan sampai bagian presentasi muncul di perineum.

Mengejan aktif dikontraindikasikan, sebab tindakan ini mencakup menahan nafas yang lama dan terarah serta mendorong yang akan mengubah frekuensi denyut jantung. (Chapman&Charles. 2013; h. 318). 10. Anjurkan ibu untuk tidak tidur dengan posisi terlentang

R/ menurut Sleep&Gueta (2004) dalam Chapman&Charles. (2013) posisi terlentang dapat menekan aorta disertai mengurangi aliran darah menuju uterus dan ekstremitas bawah.

Posisi ini juga memperpanjang kala 2, menyebabkan penurunan kadar oksitosin di dalam sirkulasi, menurunkan frekuensi dan kekuatan kontraksi, serta dapat menyebabkan abnormalitas JJ.

11. Kolaborasi dengan dokter SpOG untuk terapi dan tindakan selanjutnya R/ tepat obat,dosis dan tindakan.

12. Siapkan alat partus, set heacting, pakaian pasien dan pakaian bayi R/ persiapan dalam menolong kelahiran bayi. (Sulistyawati, 2010).

VI. IMPLEMENTASI

Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman. (Sulistyawati, 2010).

56

VII. EVALUASI

Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang telah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar telah dipenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana rencana tersebut dapat dianggap efektif dalam pelaksanaannya (Varney, 2004).

Data Perkembangan SOAP

S (Data subjektif) : ibu mengatakan ingin meneran. O (Data objektif) :

1. Pemeriksaan fisik

a. Abdomen : his adekuat (4X 10’. 45’’ –5X 10’. 50”)

b. Genetalia : terdapat blood slym 2. Pemeriksaan dalam

1) Pembukaan : 10 cm

2) Effacement : 100%

3) Ketuban : -

4) Bagian terendah janin : kepala janin

5) Denominator : UUK arah jam….

6) Molage : tidak ada/ada

7) Hodge : III

8) Bagian kecil di sekitar bagian terdahulu : ada/tidak 3. Pemeriksaan laboratorium

Protein urine≥ 5gr/L atau lebih

A : G..P..A..P..I..A..H,UK…Minggu, tunggal, hidup, intra uteri, letak

membujur, presentasi…, kesan / keadaan jalan lahir…, keadaan ibu dan janin….., inpartu kala ………, dengan Pre-eklampsia Berat.

57

P (Perencanaan) :

1. Atur posisi ibu dengan nyaman 2. Siapkan alat, obat dan diri

3. Pertolongan persalinan sesuai 58 langkah APN.

E. Landasan Hukum Kewenangan Bidan

Bidan mempunyai peran yang strategis dalam membantu program Pemerintah menurunkan AKI dan AKB. Pelayanan kebidanan pada wanita (KEPMENKES no 900 pasal 19) yang meliputi penyuluhan dan konseling, pemeriksaan fisik, pelayanan antenatal pada kehamilan normal, pertolongan kehamilan abnormal (meliputi abortus imminens, HG Grade I, PER, dan Anemia ringan), pertolongan persalinan, letak sungsang, KPD tanpa infeksi, perdarahan PP, laserasi jalan lahir (Wiknjosastro, 2006).

Permenkes No 938/ 2007 tentang Standart Asuhan Kebidanan (Dinkes RI, 2007).

1. Standart Kompetensi Bidan yaitu bidan mengenali secara tepat dan dini tanda dan gejala pre-eklampsia ringan, pre-eklampsia berat dan eklampsia.

Bidan akan mengambil tindakan yang tepat, memulai perawatan merujuk ibu dan melaksanakan penanganan kegawatdaruratan yang tepat. Kriteria Hasil: penurunan kejadian eklampsia, ibu hamil yang mengalami pre-eklampsia dan eklampsia mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat, ibu dengan tanda –

tanda pre-eklampsia ringan akan mendapatkan perawatan yang tepat waktu dan memadai serta pemantauan, penurunan kesakitan dan kematian akibat eklampsia.

58

2. Standar Pelayanan Bidan:

a. Kebijakan dan protokol nasional atau tempat yang mendukung bidan memberikan pengobatan awal untuk penatalaksanaan kegawadaruratan pre-eklampsia berat dan eklampsia.

b. Bidan melakukan perawatan antenatal rutin kepada ibu hamil termasuk pemantauan rutin tekanan darah.

c. Bidan secara rutin mementau ibu dalam proses persalinan dan selama periode postpartum terhadap tanda dan gejala pre-eklampsia termasuk pengukuran tekanan darah.

d. Bidan terlatih dan terampil untuk:

a. Mengenal tanda dan gejala pre-eklampsia ringan, pre-eklampsia berat dan eklampsia.

b. Mendeteksi dan memberi pertolongan pertama pada pre-eklampsia ringan, pre-eklampsia berat dan eklampsia.

c. Tersedia perlengkapan penting untuk memantau tekanan darah dan memberikan cairan IV (termasuk tensimeter air raksa, stetoskop, set infus dengan jarum berukuran 16 dan 18 G IV, Ringer Laktat atau NaCl 0,9%, alat suntik sekali pakai). Jika mungkin perlengkapan untuk memantau protein dalam air seni.

d. Tersedia obat anti hipertensi yang dibutuhkan untuk kegawatdaruratan misalnya Magnesium Sulfat, Kalsium Glukonas.

e. Adanya sarana pencatatan: KMS Ibu hamil/ Kartu Ibu, Buku KIA dan partograf (Wiknjosastro dkk, 2006; Nurmawati, 2010).

59

BAB III

Dokumen terkait