• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

1.2. Identifikasi Masalah

bermusik yang dilakukan terapis bersama klien/pasien dengan menggunakan berbagai macam alat musik sebagai media untuk berinteraksi dengan klien/pasien. Sementara itu, pembelajaran musik adalah kegiatan bermusik yang dilakukan guru dan siswa dengan menggunakan alat musik tertentu.

1.2. Identifikasi Masalah

Nilholm (2000) melakukan penelitian tentang pemahaman anak Down

syndrome dengan menggunakan pendekatan kontekstual, dimana ia mengkritisi

bagaimana penelitian-penelitian yang dilakukan pada anak Down syndrome tidak

memperhitungkan karakteristik anak Down syndrome sebagai anak berkebutuhan

khusus (ABK) dan menggunakan ukuran perkembangan anak normal untuk melakukan penilaian. Thompson (2003) berusaha melakukan hal yang sebaliknya dengan melakukan penelitian pada anak-anak yang didiagnosa mengalami hambatan komunikasi, dan menuliskan hasil penelitian tersebut dalam bukunya “Supporting Children with Communication Disorders”. Ia menyimpulkan bahwa kemampuan komunikasi seorang anak tidak akan berkembang jika kemampuan berbicara dan kemampuan berbahasa belum terbentuk. Penemuan tersebut memperkuat hasil penelitian Kumin (1994) yang melakukan penelitian secara

khusus pada anak dengan Down syndrome, dan menyusun karakteristik

perkembangan bahasa anak dengan Down syndrome berdasarkan karakteristik

khusus mereka.

Karakteristik khusus dari anak dengan Down syndrome menyebabkan

kondisi dimana masih diperlukannya penelitian lebih lanjut yang dapat menjawab ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

17

kebutuhan anak Down syndrome agar dapat mengkomunikasikan kebutuhannya

melalui berbagai cara, dan tidak hanya melalui komunikasi verbal. Musik sebagai salah satu bahasa universal menjadi salah satu alternatif media komunikasi anak berkebutuhan khusus yang telah dicoba diteliti oleh beberapa peneliti (Atterbury, 1985; Collett, 1992; Edgerton, 1994; Welch, 2001; Teachout, 2005; Strait, dkk., 2010). Jadi dapat disimpulkan bahwa musik dapat menjadi media komunikasi

untuk anak dengan Down syndrome, terlebih lagi mengacu pada hasil penelitian

lain yang menemukan bahwa belajar memainkan suatu alat musik meningkatkan kemampuan otak untuk mengingat kata-kata (Chan, dkk., 1998). Artinya, kemampuan otak untuk mengingat kata-kata akan meningkat ketika seorang anak

berkebutuhan khusus seperti anak dengan Down syndrome belajar memainkan alat

musik tertentu. Hal ini juga dikarenakan dalam proses pembelajaran terjadi interaksi timbal balik antara guru dan siswa.

Penelitian sebelumnya menggunakan anak Down syndrome dengan rentang

usia rata-rata dua bulan sampai dengan tiga tahun enam bulan sebagai Subjek penelitian (Layton & Savino, 1996; Stoel & Gammon, 2001; Vilaseca & Rio, 2004; Legerstee & Fisher, 2008). Penelitian ini menggunakan anak dengan Down syndrome setara tingkat sekolah dasar, dan kemampuan kognitifnya dilihat dari perkembangan hasil belajar melalui rapor pertengahan dan akhir semester dari sekolah. Artinya, kondisi perkembangan kognitif Subjek penelitian ini dapat bervariasi dari sensorimotor sampai dengan operasional konkret. Peneliti melakukan modifikasi instrumen keyboard dengan menggunakan warna pada tuts keyboard yang digunakan sebagai media belajar. Artinya, selain dilakukan input

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

18

informasi melalui suara yang dikeluarkan keyboard dan rekaman lagu, juga dilakukan input informasi melalui pengamatan pada keyboard dan modul belajar. Lebih lanjut Piaget dan Inhelder (1969) menyatakan bahwa tahapan perkembangan kognitif anak-anak seharusnya digunakan sebagai landasan pembelajaran anak dengan memberikan kesempatan anak untuk mendengar, menyanyi, bermain dan bergerak mengikuti musik. Demikian pula halnya dengan teori pembelajaran musik yang disampaikan oleh Gordon (1997). Gordon menyarankan pengajaran musik diawali dengan pengenalan suara musik dan pola vokalisasi melodi, dan bertahap pada pengenalan notasi simbol pitch dan ritme. Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa tidak ada kepastian durasi pembelajaran musik yang dibutuhkan setiap individu dengan karakteristik kognitif dan kepekaan yang berbeda-beda, namun tetap dibutuhkan pengaturan target waktu pembelajaran dalam konteks pendidikan musik.

Campbell dan Kassner (2006) melakukan penelitian pada beberapa sekolah dasar yang memberikan pendidikan musik, dan merumuskan kurikulum dasar pembelajaran musik yang diterapkan di beberapa sekolah tersebut. Pembelajaran melodi diberikan selama sebulan untuk mengenali pergerakan nada rendah ke nada tinggi, sebulan untuk pengenalan harmoni nada, sebulan untuk mengenal ritme/ketukan, dan sebulan berikutnya secara bertahap mengenal berbagai macam jenis suara yang dikeluarkan oleh alat musik perkusi. Tahapan-tahapan lainnya adalah teori tentang musik sampai dengan menciptakan musik itu sendiri. Peneliti menggunakan rumusan kurikulum dasar Campbell dan Kassner (2006) untuk

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

19

menyusun rentang waktu pembelajaran musik pada anak dengan Down syndrome,

yaitu dengan menghilangkan bagian teori musik dan menciptakan musik.

Pembelajaran musik yang diberikan pada Subjek penelitian dalam penelitian ini tidak seperti kursus atau sekolah musik yang (berdasarkan hasil survei pada dua tempat kursus musik untuk ABK dan satu tempat kursus musik untuk non-ABK yang menerima rujukan dari dokter/psikiater/psikolog di Surabaya) menuntut calon siswanya sudah mampu berkonsentrasi, sudah mengikuti terapi, dan terbukti memiliki minat di bidang musik. Penelitian berupa pembelajaran musik yang diberikan dalam bentuk pembelajaran memainkan instrumen keyboard dengan menggunakan lagu yang mengandung empat nada saja, di sini

musik diajarkan pada anak dengan Down syndrome tanpa mempertimbangkan ada

atau tidaknya minat anak terhadap musik, sebab fokus utamanya adalah melihat bagaimana pengaruh pembelajaran musik tersebut terhadap kemampuan komunikasi interpersonal, terutama untuk mengungkapkan perasaan dan kebutuhannya agar dapat dipahami oleh orang lain. Sesuai dengan apa yang telah diuraikan pada bagian latar belakang masalah, bahwa musik dapat menstimulasi kemampuan mengingat (memori verbal) yang merupakan salah satu modal seseorang untuk dapat berkomunikasi. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa melalui pembelajaran musik dengan menggunakan instrumen piano ataupun keyboard dapat menstimulasi kemampuan integrasi dan koordinasi auditori, visual maupun motorik, dimana ketiga indera tersebut juga merupakan komponen dasar dari komunikasi. Sementara itu hasil pengamatan di ketiga tempat kursus musik di Surabaya (selama bulan Juni 2011), ABK yang belajar bermain musik (menyanyi

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

20

maupun bermain piano) menunjukkan peningkatan kemampuan pengendalian emosi setelah melalui tahapan berlatih pengenalan tempo (misal, ABK tampak lebih sabar menunggu giliran berbicara/bertanya, dan lebih ekspresif secara positif dalam mengungkapkan perasaannya).

Produk akhir penelitian tidak sekedar hasil uji empiris perbandingan pre dan post, melainkan juga analisis tentang pengaruh variabel pembelajaran musik maupun stimulasi kemampuan mengolah pendengaran terhadap kemampuan komunikasi dari keterkaitan masing-masing komponen. Penjelasan tentang pengaruh setiap komponen pembelajaran musik terhadap kemampuan mengolah pendengaran sehingga meningkatkan kemampuan komunikasi dianalisis secara kualitatif.